pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Delapan Arahan Presiden PKS Sambut Tahun Politik 2019

Written By neobattosai on 28 September, 2018 | September 28, 2018


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman memberikan delapan arahan khusus kepada kader dan simpatisan PKS dalam menyambut tahun politik 2019.

Presiden PKS mengharapkan setiap kader dan simpatisan PKS memiliki fokus untuk bergerak menyukseskan delapan agenda utama PKS untuk menyambut Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.

Berikut delapan arahan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada seluruh anggota dan simpatisan PKS, memasuki tahun politik ini, saya sebagai pimpinan PKS mengingatkan dan memerintahkan 8 hal berikut ini:
  1. Peduli pada semua hal yang menjadi kebutuhan rakyat dan warga masyarakat sehari-hari. Memberi perhatian khusus pada harapan anak-anak muda dan keluarga. Memberi perhatian khusus pada apa yang diperjuangkan setiap ibu dan ayah di keluarga Indonesia.
  2. Selalu hadir di tengah rakyat dan membantu mereka memecahkan persoalan-persoalannya. Mendampingi rakyat mengakses para pembuat kebijakan dan penguasa sumber daya ekonomi.
  3. Mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha, serta kemudahan akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan dan perumahan yang layak.
  4. Memastikan setiap sen uang rakyat dan kekayaan alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan mencegah pemborosan.
  5. Menghindari korupsi dalam bentuk apapun dan dalam jumlah berapapun. Siapapun yang terbukti terlibat korupsi akan ditindak sesuai dengan ketentuan disiplin Partai.
  6. Mendorong tumbuhnya SDM berkualitas yang dapat bersaing di panggung nasional dan global serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha yang siap beroperasi dalam skala besar.
  1. Berpartisipasi aktif dalam menyumbang pemikiran dan keterlibatan dalam berbagai upaya pembangunan nasional dan daerah.
  2. Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya semua kegiatan yang bertujuan meningkatkan iman, taqwa, dan akhlak mulia.
Saya meminta seluruh anggota dan simpatisan PKS untuk bersungguh-sungguh menghayati dan melaksanakan kedelapan arahan di atas.
Partai kita memang bukan Partai yang punya banyak uang, bukan Partai yang punya media dan bukan Partai yang serba ada.
Tetapi insya Allah kita tunjukkan bahwa Partai kita adalah partai yang terdepan dalam bekerja ikhlas, bekerja cerdas, bekerja keras, dan bekerja tuntas.
Kita optimistis perjuangan kita akan mengantarkan pada kemenangan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoi cita-cita dan ikhtiar kita.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!
Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

posted by @Adimin

Mardani: PKS Siap Transparan Perihal Dana Kampanye

Written By neobattosai on 26 September, 2018 | September 26, 2018


Bogor (25/09) -- Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Seajhtera (PKS), Mardani Ali Sera mengungkapkan PKS akan terus berusaha menjadi Partai yang terbuka kepada masyarakat perihal tranparansi dan akuntabilitas dana kampanye.

"Institusionalisasi Partai Politik harus dibangun dari Integritas lembaga yang kuat dan PKS siap! itu bisa dibuktikan dari menjadi partai pertama yang melaporkan dana kampaye nya ke KPU,” kata Mardani, Selasa (25/09/2018).

Inisiator gerakan #2019GantiPresiden ini mengatakan, money politics masih menjadi masalah dalam sistem demokrasi Indonesia. Menurutnya, money politics dapat menghambat kemajuan Indonesia.

"Selama uang adalah segalanya dalam kontestasi demokrasi kita, maka jangan bermimpi Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur," ujarnya.

Menurut Mardani, Partai Politik seharusnya menjadi salah satu institusi yang dapat dipercaya oleh masyarakat, diawali dengan transparansi dan akuntabilitas dana kampanye.

"Salah satu prinsip utama demokrasi adalah masalah akuntabilitas dan tranparansi keuangan dana kampanye. PKS akan selalu mengupdate dana kampanye dan dana bantuan politik setiap tahunnya di website www.pks.id," lanjutnya.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini juga menjelaskan, PKS juga telah bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membahas tentang pelaporan dana kampanye Partai. Mardani berharap, hal ini dapat membawa perbaikan dalam sistem demokrasi Indonesia kedepan.



posted by @Adimin

Jangan Sampai Perbedaan Politik, Membuat Persatuan Tercabik

Written By neobattosai on 18 September, 2018 | September 18, 2018

Ironis hanya karena Pilpres lima tahunan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut

 

MELIHAT polarisasi anak bangsa yang begitu tajam menjelang Pilpres 2019, perlu ada upaya serius baik dari pemerintah maupun rakyat untuk saling bekerja sama untuk menyejukkan suasana. Sedianya, pilihan politik dalam demokrasi merupakan perbedaan lumrah, namun menjadi tak wajar ketika perbedaan tersebut menjadi kontraporduktif sehingga bisa mencabik-cabik persatuan anak bangsa.

Suasana yang memanas ini, bisa dilihat di jagat media. Pilpres baru berlangsung pada tahun 2019, namun panasnya sudah sampai saat ini. Melalui media sosial, masing-masing kubu membela mati-matian pasangan yang dibela. Seolah kubu A, pasti benar dan harus dibela mati-matian; sementara kubu lain pasti salah dan harus dihujat dan dibully sedemikian rupa demi kemenangan pasangan yang diusung; demikian juga sebaliknya.

Bila pembaca ditanya: bila dilihat dari skala prioritas bangsa-negara, kepentingan mana yang jauh lebih utama dan diperjuangkan antara Pilpres lima tahunan (yang pada realitanya menimbulkan riak-riak  perbedaan tajam yang bisa menggerus persatuan) atau persatuan dan kesatuan anak bangsa? Tentu saja, semua menginginkan keduanya tak perlu dinegasikan. Idealnya hajatan Pilpres walaupun berbeda-beda pilihan tetap dalam kondisi sejuk dan damai.

Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin situasi tetap aman terkendali, sehingga tak merusak kesatuan dan kerukunan? Mau tidak mau, masing-masing dari kita sebagai anak bangsa (baik pemerintah maupun rakyat) mempunyai andil dan peran untuk mengkondisikannya. Ketika melihat fenomena-fenomena yang mengarah pada perpecahan, maka segera diatasi dan dicari solusinya agar tidak menyebar luas.

Jangan sampai sejarah pilu yang merenggut persatuan anak bangsa terulang kembali hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda. Contoh berikut, yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Bambang Pranowo dalam “Memahami Islam Jawa” (2011: 311-326) pada kasus di Tegalroso sebelum meletus G30S-PKI. Di daerah ini, ada tiga partai politik yang membuat penduduk terpolarisasi dengan tajam: PNI, PKI dan NU.

Polemik dan konflik antar-penduduk yang terjadi di desa ini, hampir sama dengan kondisi saat ini di jagat media yang menggambarkan perbedaan yang begitu meruncing. Bagi pendukung NU kala itu, PKI dianggap sebagai partai atheis. Bagi PKI, partai NU dianggap terlalu memperdulikan masalah keagamaan dan tidak ada program-progam konkret buat rakyat. Sementara PNI dianggap sebagai partainya priyayi. NU dan PNI pun walau relatif stabil hubungannya, tetap juga pernah saling sindir dan nyinyir.

Pak Sutar, salah satu orang bekas PKI yang diwawancarai Dr. Bambang mengatakan kondisi saat itu, “Kita sudah tersedot ke dalam situasi di mana kita, satu sama lain, saling memandang sebagai musuh. Orang PKI melihat anggota PNI dan NU sebagai pembela tuan tanah. Orang PNI melihat orang PKI sebagai kelompok anti-nasional yang berkiblat ke Peking dan Moskow. Sementara anggota NU menganggap orang PKI sebagai orang yang anti agama.”

Perbedaan tajam ini, yang banyak disebabkan membabi buta pada partai yang dijunjung, tak jarang menimbulkan konflik fisik. Pada tahun 60-an, Pak Alip, seorang aktivis Ansor mengenang keterlibatannya saat bentrok fisik dengan PKI. Di desa Pucang, enam bulan sebelum meletus G30S-PKI di Indonesia, digelar rapat terbuka PKI. Dalam acara itu, ada salah satu anggota PKI yang menyitir ayat Al-Qur`an sesuai dengan kepentingan politik mereka. Akibatnya, bentrok fisik tak terelakkan. Dan akhirnya dibubarkan polisi.

Terlepas dari perbedaan tajam yang kemudian berbuntut keretakan persatuan itu, kalau  dilihat dari penuturan masing-masing pendukung partai –yang diwawancarai oleh Dr. Bambang—ada fakta unik yang sebenarnya bisa mereka gunakan untuk menjaga persatuan di antara mereka. Mereka mayoritas muslim (meski PKI sekalipun). Bahkan, PNI yang dianggap kurang peduli agama, mendirikan Djami’atul Muslimin Indonesia (DMI) sebagai wadah untuk untuk mereka yang ingin tumbuh sebagai orang muslim dan mereka juga tetap sembahyang.

Warga yang ikut PKI sekalipun jangan dikira paham dan mengerti hakikat ideologi PKI. Sebagaimana penuturan Pak Sutar tadi, memilih PKI hanya sebagai pertimbangan pragmatis rakyat kecil yang ingin perubahan konkret. Meski Islam mereka abangan, tapi tetap Islam. Bahkan, mereka tak tahu-menahu tentang kudeta PKI pada 1965. Meski begitu, mereka harus menelan pil pahit: disiksa dan dipenjara pesca G30S-PKI.

Penulis yakin, setelah membaca wawancara Prof. Bambang mengenai perbedaan yang terjadi di desa Tegalroso,  jika di antara mereka lebih mengedepankan prinsip tabayyun, menjaga kesejukan, menjalin komunikasi yang baik, saling bertukar gagasan ideal untuk kepentingan yang lebih luas, tidak fanatis dan membabi-buta terhadap partai yang didukung serta menjadikan persatuan sebagai prioritas, maka perbedaan haluan politik di antara mereka yang kemudian menimbulkan konflik yang kontraproduktif bagi persatuand an kesatuan, tak akan terjadi.

Mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut, di era digital ini, bertepatan dengan hajatan Pilres 2019 mendatang, alangkah indahnya jika perbedaan-perbedaan itu tak sampai mencabik persatuan. Perbedaan dikelola untuk menuangkan gagasan dan ide terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mengolok-ngolok pihak lain. Sehingga, tak muncul lagi istilah “cebong”, “kampret” dan lain-lain di jagat media yang bisa merusak persatuan.

Di situasi semacam ini, kita benar-benar membutuhkan sosok pemersatu, penyejuk, pendamai, peredam. Laksana Nabi Muhammad ﷺ yang tak jemu membangun dan mengupayakan spirit persatuan di kalangan Muhajirin dan Anshar yang selalu diadudomba oleh orang-orang munafik.

Kita sudah sama-sama maklum mengenai pribahasa, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Namun, menjadi sangat ironis jika hanya karena Pilpres lima tahunan, lantaran tak dapat mengola perbedaan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut, yang pada gilirannya rawan ditunggangi oleh orang-orang yang berkepentingan.*/Mahmud Budi Setiawan




posted by @Adimin

Perkuat Jurkam, PKS Bekali Pelatihan

Written By neobattosai on 17 September, 2018 | September 17, 2018



Jakarta (16/9)- Menghadapi masa kampanye yang makin dekat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bekali Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia dengan peningkatan kemampuan Public Speaking atau berbicara di depan publik, Ahad (16/9/2018) di Jakarta.

Selain Ketum-Ketum DPW, perempuan juru bicara partai juga mengikuti acara yang menghadirkan seorang trainer profesional Ali Said Damanik.

Direktur Media Center TPP PKS Dedi Supriadi menyatakan acara ini diselenggarakan sebagai lanjutan pelatihan yang sudah dijalani oleh pimpinan PKS di tingkat wilayah tersebut.

"Public Speaking penting agar pengurus partai bukan hanya pandai menyampaikan pesan, tapi juga agar mereka bisa menyerap dari masyarakat untuk kemudian diperjuangkan untuk jadi kebijakan publik," ujar Dedi di sela-sela acara.

Kegiatan yang digelar oleh Humas DPP PKS ini digelar sebagai bagian dari penyiapan pendidikan politik PKS ke konstituen maupun masyarakat umum terkait advokasi dan kebijakan publik oleh PKS.
posted by @Adimin

Makna PKS Bagi Bakal Cawapres Sandi

Written By neobattosai on 13 September, 2018 | September 13, 2018


Bogor (10/9) - Partai Keadilan Sejahtera sangat bermakna di mata bakal calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno. Ia kagum dengan kaderisasi dan nyawa dakwah PKS.

"Kita patut bangga dengan kaderisasi PKS. Dulu saya di Gerindra dan sekarang saya jobless. Saya masih diundang di acara PKS kalau di Gerindra saya sudah tidak diundang he-he-he.  Terima kasih PKS," kata Sandi.

Hal tersebut dikatakan Sandi saat mengisi Rapat Pimpinan Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).

Sandi melihat organisasi PKS berjalan dengan sangat rapi
"Yang saya lihat organisasi PKS sangat rapi. Terlebih kerja politik dan dakwahnya. Dakwahnya kencang sekali dan menginspirasi," ungkap dia.

"Banyak yang bertanya apa arti sekutu. Sekutu singkatan dari kau selamanya untukku. Itulah esensi dari Sandi Uno dan PKS," tutur Sandi, menambahkan.

Sebagai bentuk cinta kepada PKS, Sandi mengingatkan bahwa pemimpin itu harus lebih baik ke depan. Politik ke depan harus menjadi solusi dan kita hadirkan pilpres yang damai, teduh, sejuk dan menyejukkan. Bukan memecah belah. 

"Dalam pilpres, saya mengingatkan untuk tidak mendoakan rupiah terus turun. Justru kita mendoakan agar rupiah agar terus stabil. Ini permasalahan bangsa bukan permasalahan politik," ungkap dia

posted by @Adimin

Bersama Habib Syech, Habib Salim Segaf Hadiri Surabaya Bersholawat

Written By neobattosai on 12 September, 2018 | September 12, 2018

 
Surabaya -- Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri Senin malam 1 Muharram menghadiri Surabaya Bersholawat 6 yang diselenggarakan di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya. 
 
Acara yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf ini berlangsung mulai pukul 19.00 hingga selesai. Puluhan ribu Syechermania dan warga kota Surabaya memadati area Tugu Pahlawan dan sekitarnya sejak siang hari. 
 
Surabaya Bersholawat ke-6 ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam dan Milad Rabithah Alawiyah ke-90. Dihadiri para Habaib dan Ulama. Juga didukung oleh Al-Khairiyah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya.
 
Selama lebih dari dua jam, rangkaian shalawat dan tausiyah dilantunkan, mengharu biru jama'ah yang hadir mengharap fadhilah shalawat dan syafa'at Rasulullah Muhammad SAW.
 
Habib Syech dalam kesempatan tersebut mengajak kaum muslimin untuk terus istiqomah dalam bersholawat. "Karena saya suka bersholawat, saya juga pilih Presiden yang suka bersholawat," ujar Habib Syech dengan  senyuman khasnya.
 
Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri yang merupakan Mustasyar Rabithah Alawiyah, menutup acara dengan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia khususnya warga Surabaya dan Jawa Timur.


posted by @Adimin

Wajib Ain Caleg PKS Harus Kampanye Positif


Bogor (10/9) - Ketua Tim Pemenangan Partai Tingkat Pusat PKS Chairul Anwar memberikan arahan kepada manajer dapil agar calon anggota legislatif fokus kampanye positif. Sifat arahan tersebut adalah wajib ain. 

"Iya (fardhu 'ain) kita menghindari itu. Kita fokus pada hal-hal yang sifatnya positif," kata Chairul pada Rapat Pimpinan Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).

Hal itu menurutnya sesuai dengan arahan presiden PKS Mohamad Sohibul Iman yang menekankan harus kampanye positif setiap momen. Melalui media sosial maupun temu tokoh atau masyarakat. Agar bangsa bisa menjadi lebih baik. "Bagaimana karya kader kita seluruh Indonesia dan khidmat kita untuk masyarakat," kata dia. 

Rapimnas tersebut sebagai upaya agar caleg PKS bekerja teratur, terukur dan terkendali dengan baik. 

"Maka kita melakukan konsolidasi yang sifatnya nasional. Kita mengumpulkan semua elemen pimpinan pemenangan. Kita memberikan tips dan arahan yang nantinya bisa dibawa pulang," ungkap dia.


posted by @Adimin

Akhir Zaman: Lebih Baik Kalah tapi Selamat

Written By neobattosai on 10 September, 2018 | September 10, 2018

Di hari-hari yang penuh fitnah masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran  
 
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam:
 
يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana. Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686. Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].
 
Merujuk kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar, namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah melebur dalam kekufuran.
 
Ada seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu saja bisa mengancam keselamatan imannya.
 
Di luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong, manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat dengan transaksi bisnis dan muamalah.
 
Hadits di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.
 
Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia, namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.
 
 
Nubuwat di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada syariat seperti mereka yang menggenggam bara.
Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda, 
 
بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’. [  HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]
 
 
 
Hadits di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya.
 
Nubuwat di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.*
Penulis buku-buku Akhir Zaman
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
posted by @Adimin

PKS Tuntut Polri Segera Ungkap Dalang Spanduk Khilafah

Written By NeoBee on 09 September, 2018 | September 09, 2018


Jakarta -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta aparat kepolisian segera mengungkap aktor pemasangan spanduk khilafah yang masih ditemukan.

Ketua DPP PKS Bidang Humas Ledia Hanifa mengungkapkan, spanduk-spanduk fitnah PKS mendukung sistem khilafah sudah muncul berbulan-bulan lalu. Tetapi, ujar dia, sampai muncul lagi saat ini belum ada kemajuan berarti dari aparat kepolisian.

"Mabes Polri mengeluarkan pernyataan akan mengusut ini sejak tiga bulan lalu. Teman-teman PKS Jakarta juga sudah melaporkan spanduk fitnah khilafah ini ke polisi beberapa bulan silam. Sampai sekarang muncul lagi, belum ada laporan perkembangan kasus," papar anggota DPR RI ini di Jakarta, Jumat (7/9/2018).

Spanduk fitnah khilafah, papar Ledia, sangat mengganggu situasi berbangsa di tengah permasalahan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

"Spanduk-spanduk seperti ini wajib diusut aktornya jelang tahun-tahun politik dan permasalahan ekonomi seperti saat ini. Dampaknya jadi tidak kondusif," papar dia.

Terlebih, ujar Ledia, spanduk juga tidak sesuai dengan visi PKS yang mewujud kan keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai NKRI. "Bagi PKS, NKRI harga mati. Anggota-anggota MPR dari PKS selalu mensosialisasikan NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945 sebagai empat pilar kebangsaan ke berbagai wilayah di Indonesia," paparnya.

Ledia juga menegaskan, PKS tidak memiliki afiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). "Tidak ada afiliasi PKS dengan Eks HTI termasuk saat dulu masih berdiri sebagai HTI. Jadi clear," tegas Ledia.

Diketahui, muncul lagi spanduk fitnah khilafah yang dialamatkan kepada PKS di beberapa titik di Depok, Jawa Barat Jumat (7/9/2018) pagi. Kader PKS Depok pun langsung menurunkan spanduk fitnah tersebut.

Ledia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah di Depok, Bekasi dan Jakarta yang sigap turut menurunkan spanduk-spanduk fitnah karena melanggar peraturan daerah tentang pemasangan spanduk.


posted by @Adimin

Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan (2)

Written By neobattosai on 08 September, 2018 | September 08, 2018


Alkisah, akhirnya Hurmuzan menghadap amirul mukminin, Umar Bin Khattab.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

“Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap,” lanjut Khalifah Umar.

Salah satu utusan berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya,” kata ‘Umar.

Setelah  Hurmuzan berganti dengan pakaian biasa,  ‘Umar kemudian berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

“Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami,” ujar Hurmuzan.

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”
Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkan nya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

Tiba-tiba Hurmuzan membuang air tersebut. Melihat hal itu Umar menyuruh seseorang agar mengambilkan air dan memberikannya kepada Hurmuzan. “Jangan sampai kalian membunuhnya dalam keadaan haus,” kata Umar.

Tapi ternyata Hurmuzan menolak pemberian ‘Umar.

“Aku tidak butuh air,” jawabnya. “Aku sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan jaminan keselamatan darimu,” tandasnya dengan tenang.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu sekarang juga,” kata ‘Umar.

“Tapi engkau telah memberikan jaminan keselamatan padaku.”

“Engkau bohong,” sahut ‘Umar.

Tiba-tiba Anas bin Malik yang berada di tempat itu berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukminin,” Anas membenarkan ucapan Hurmuzan. “Engkau telah memberinya jaminan keselamatan,” lanjutnya.

“Celaka engkau wahai Anas,” kata ‘Umar kepada Anas. “Mungkinkah aku memberikan jaminan keselamatan kepada orang yang telah membunuh al-Barra’ bin Malik?, (yang tak lain saudara kandung Anas bin Malik sendiri, red).  Sebaiknya engkau menjelaskannya. Kalau tidak, aku akan menghukummu,” tegas Umar kepada Anas bin Malik.

“Pertama engkau mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau meminumnya” kepada Hurmuzan,” kata Anas menjelaskan. Engkau juga mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau menceritakannya kepadaku.” Lanjut Anas mengingatkan Umar.

Bahkan orang-orang yang berada di situ juga membenarkan perkatan Anas.

Umar lalu menghadap kepada Hurmuzan dan mengatakan, “Engkau telah menipuku,” katanya. “Demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali engkau masuk agama Islam,” tambah ‘Umar.

Ternyata setelah itu Hurmuzan menyatakan diri masuk Islam. Maka Umar pun memperlakukan Hurmuzan dengan baik dan menyuruhnya menetap di Kota Madinah.

Sebagai penutup, kata-kata bersejarah Umar yang dicatat oleh Sayyid bin Husain Al-‘Affani ini patut untuk dijadikan renungan terkait betapa pentingnya nilai Izzah bagi umat Islam:

“Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina.”  (dalam buku Anwâr al-Fajr fî Fadhâ`ili Ahli Badr”, 2006:504)

 

posted by @Adimin

Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan

Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018

Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina

 

ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin menjadikan Izzah sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54, disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.

Dalam bahasa Arab, kata “Izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus tersebut, ‘Izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.

Salah satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab “al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”

Semua orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’ ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan pemerintahan sangat masyhur.

Umar bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua. Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.

Namun siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja Persia yang bernama Hurmuzan.

Tiga orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan Khalifah Umar.

Dikisahkan bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada Umar bin Khattab.

Menjelang tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.

Sepanjang perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia. Fikirannya  sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui sang Khalifah.

Kisah pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh nyata bagaimana karakter Izzah ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.

Dalam buku “Nizhâm al-Hukûmiyah al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam bab “Fîman Kâna Yudhrabu bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).

Menukil cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu hebat Izzah beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas- untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).

Kebetulan, saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini -demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang aku rasakan kehebatan –Izzah nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”

Izzah yang dimiliki Umar benar-benar membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya. Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.

Hurmuzan tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua raksasa super power dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).

Terkejutnya Hurmuzan,  pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.

‘Umar baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi terciptanya keadilan untuk rakyat.

Senada dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964: 126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir (Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas pasir berbantalkan tongkat kecilnya.

“Orang yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab. Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.

bersambung . . . . . . . .


 


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger