Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
September 28, 2018
posted by @Adimin
Delapan Arahan Presiden PKS Sambut Tahun Politik 2019
Written By neobattosai on 28 September, 2018 | September 28, 2018
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman
memberikan delapan arahan khusus kepada kader dan simpatisan PKS dalam
menyambut tahun politik 2019.
Presiden PKS mengharapkan setiap kader dan simpatisan PKS memiliki
fokus untuk bergerak menyukseskan delapan agenda utama PKS untuk
menyambut Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.
Berikut delapan arahan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kepada seluruh anggota dan simpatisan PKS, memasuki tahun politik
ini, saya sebagai pimpinan PKS mengingatkan dan memerintahkan 8 hal
berikut ini:
- Peduli pada semua hal yang menjadi kebutuhan rakyat dan warga
masyarakat sehari-hari. Memberi perhatian khusus pada harapan anak-anak
muda dan keluarga. Memberi perhatian khusus pada apa yang diperjuangkan
setiap ibu dan ayah di keluarga Indonesia.
- Selalu hadir di tengah rakyat dan membantu mereka memecahkan
persoalan-persoalannya. Mendampingi rakyat mengakses para pembuat
kebijakan dan penguasa sumber daya ekonomi.
- Mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesempatan
kerja dan berusaha, serta kemudahan akses terhadap layanan pendidikan,
kesehatan dan perumahan yang layak.
- Memastikan setiap sen uang rakyat dan kekayaan alam Indonesia
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan mencegah
pemborosan.
- Menghindari korupsi dalam bentuk apapun dan dalam jumlah berapapun.
Siapapun yang terbukti terlibat korupsi akan ditindak sesuai dengan
ketentuan disiplin Partai.
- Mendorong tumbuhnya SDM berkualitas yang dapat bersaing di panggung nasional dan global serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha yang siap beroperasi dalam skala besar.
- Berpartisipasi aktif dalam menyumbang pemikiran dan keterlibatan dalam berbagai upaya pembangunan nasional dan daerah.
- Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya semua kegiatan yang bertujuan meningkatkan iman, taqwa, dan akhlak mulia.
Saya meminta seluruh anggota dan simpatisan PKS untuk bersungguh-sungguh menghayati dan melaksanakan kedelapan arahan di atas.
Partai kita memang bukan Partai yang punya banyak uang, bukan Partai yang punya media dan bukan Partai yang serba ada.
Tetapi insya Allah kita tunjukkan bahwa Partai kita adalah partai
yang terdepan dalam bekerja ikhlas, bekerja cerdas, bekerja keras, dan
bekerja tuntas.
Kita optimistis perjuangan kita akan mengantarkan pada kemenangan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoi cita-cita dan ikhtiar kita.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!
Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 26, 2018
posted by @Adimin
Mardani: PKS Siap Transparan Perihal Dana Kampanye
Written By neobattosai on 26 September, 2018 | September 26, 2018
Bogor (25/09) -- Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP)
Partai Keadilan Seajhtera (PKS), Mardani Ali Sera mengungkapkan PKS
akan terus berusaha menjadi Partai yang terbuka kepada masyarakat
perihal tranparansi dan akuntabilitas dana kampanye.
"Institusionalisasi Partai Politik harus dibangun dari Integritas
lembaga yang kuat dan PKS siap! itu bisa dibuktikan dari menjadi partai
pertama yang melaporkan dana kampaye nya ke KPU,” kata Mardani, Selasa
(25/09/2018).
Inisiator gerakan #2019GantiPresiden ini mengatakan, money politics masih menjadi masalah dalam sistem demokrasi Indonesia. Menurutnya, money politics dapat menghambat kemajuan Indonesia.
"Selama uang adalah segalanya dalam kontestasi demokrasi kita, maka
jangan bermimpi Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur,"
ujarnya.
Menurut Mardani, Partai Politik seharusnya menjadi salah satu
institusi yang dapat dipercaya oleh masyarakat, diawali dengan
transparansi dan akuntabilitas dana kampanye.
"Salah satu prinsip utama demokrasi adalah masalah akuntabilitas dan
tranparansi keuangan dana kampanye. PKS akan selalu mengupdate dana
kampanye dan dana bantuan politik setiap tahunnya di website
www.pks.id," lanjutnya.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini juga menjelaskan, PKS juga telah
bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membahas tentang
pelaporan dana kampanye Partai. Mardani berharap, hal ini dapat membawa
perbaikan dalam sistem demokrasi Indonesia kedepan.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 18, 2018
posted by @Adimin
Jangan Sampai Perbedaan Politik, Membuat Persatuan Tercabik
Written By neobattosai on 18 September, 2018 | September 18, 2018
Ironis hanya karena Pilpres lima tahunan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut
MELIHAT polarisasi anak bangsa yang begitu tajam
menjelang Pilpres 2019, perlu ada upaya serius baik dari pemerintah
maupun rakyat untuk saling bekerja sama untuk menyejukkan suasana.
Sedianya, pilihan politik dalam demokrasi merupakan perbedaan lumrah,
namun menjadi tak wajar ketika perbedaan tersebut menjadi
kontraporduktif sehingga bisa mencabik-cabik persatuan anak bangsa.
Suasana yang memanas ini, bisa dilihat di jagat media. Pilpres baru
berlangsung pada tahun 2019, namun panasnya sudah sampai saat ini.
Melalui media sosial, masing-masing kubu membela mati-matian pasangan
yang dibela. Seolah kubu A, pasti benar dan harus dibela mati-matian;
sementara kubu lain pasti salah dan harus dihujat dan dibully sedemikian
rupa demi kemenangan pasangan yang diusung; demikian juga sebaliknya.
Bila pembaca ditanya: bila dilihat dari skala prioritas
bangsa-negara, kepentingan mana yang jauh lebih utama dan diperjuangkan
antara Pilpres lima tahunan (yang pada realitanya menimbulkan riak-riak
perbedaan tajam yang bisa menggerus persatuan) atau persatuan dan
kesatuan anak bangsa? Tentu saja, semua menginginkan keduanya tak perlu
dinegasikan. Idealnya hajatan Pilpres walaupun berbeda-beda pilihan
tetap dalam kondisi sejuk dan damai.
Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin situasi tetap aman
terkendali, sehingga tak merusak kesatuan dan kerukunan? Mau tidak mau,
masing-masing dari kita sebagai anak bangsa (baik pemerintah maupun
rakyat) mempunyai andil dan peran untuk mengkondisikannya. Ketika
melihat fenomena-fenomena yang mengarah pada perpecahan, maka segera
diatasi dan dicari solusinya agar tidak menyebar luas.
Jangan sampai sejarah pilu yang merenggut persatuan anak bangsa
terulang kembali hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda. Contoh
berikut, yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Bambang Pranowo dalam “Memahami
Islam Jawa” (2011: 311-326) pada kasus di Tegalroso sebelum meletus
G30S-PKI. Di daerah ini, ada tiga partai politik yang membuat penduduk
terpolarisasi dengan tajam: PNI, PKI dan NU.
Polemik dan konflik antar-penduduk yang terjadi di desa ini, hampir
sama dengan kondisi saat ini di jagat media yang menggambarkan perbedaan
yang begitu meruncing. Bagi pendukung NU kala itu, PKI dianggap sebagai
partai atheis. Bagi PKI, partai NU dianggap terlalu memperdulikan
masalah keagamaan dan tidak ada program-progam konkret buat rakyat.
Sementara PNI dianggap sebagai partainya priyayi. NU dan PNI pun walau
relatif stabil hubungannya, tetap juga pernah saling sindir dan nyinyir.
Pak Sutar, salah satu orang bekas PKI yang diwawancarai Dr. Bambang
mengatakan kondisi saat itu, “Kita sudah tersedot ke dalam situasi di
mana kita, satu sama lain, saling memandang sebagai musuh. Orang PKI
melihat anggota PNI dan NU sebagai pembela tuan tanah. Orang PNI melihat
orang PKI sebagai kelompok anti-nasional yang berkiblat ke Peking dan
Moskow. Sementara anggota NU menganggap orang PKI sebagai orang yang
anti agama.”
Perbedaan tajam ini, yang banyak disebabkan membabi buta pada partai
yang dijunjung, tak jarang menimbulkan konflik fisik. Pada tahun 60-an,
Pak Alip, seorang aktivis Ansor mengenang keterlibatannya saat bentrok
fisik dengan PKI. Di desa Pucang, enam bulan sebelum meletus G30S-PKI di
Indonesia, digelar rapat terbuka PKI. Dalam acara itu, ada salah satu
anggota PKI yang menyitir ayat Al-Qur`an sesuai dengan kepentingan
politik mereka. Akibatnya, bentrok fisik tak terelakkan. Dan akhirnya
dibubarkan polisi.
Terlepas dari perbedaan tajam yang kemudian berbuntut keretakan
persatuan itu, kalau dilihat dari penuturan masing-masing pendukung
partai –yang diwawancarai oleh Dr. Bambang—ada fakta unik yang
sebenarnya bisa mereka gunakan untuk menjaga persatuan di antara mereka.
Mereka mayoritas muslim (meski PKI sekalipun). Bahkan, PNI yang
dianggap kurang peduli agama, mendirikan Djami’atul Muslimin Indonesia
(DMI) sebagai wadah untuk untuk mereka yang ingin tumbuh sebagai orang
muslim dan mereka juga tetap sembahyang.
Warga yang ikut PKI sekalipun jangan dikira paham dan mengerti
hakikat ideologi PKI. Sebagaimana penuturan Pak Sutar tadi, memilih PKI
hanya sebagai pertimbangan pragmatis rakyat kecil yang ingin perubahan
konkret. Meski Islam mereka abangan, tapi tetap Islam. Bahkan, mereka
tak tahu-menahu tentang kudeta PKI pada 1965. Meski begitu, mereka harus
menelan pil pahit: disiksa dan dipenjara pesca G30S-PKI.
Penulis yakin, setelah membaca wawancara Prof. Bambang mengenai
perbedaan yang terjadi di desa Tegalroso, jika di antara mereka lebih
mengedepankan prinsip tabayyun, menjaga kesejukan, menjalin komunikasi
yang baik, saling bertukar gagasan ideal untuk kepentingan yang lebih
luas, tidak fanatis dan membabi-buta terhadap partai yang didukung serta
menjadikan persatuan sebagai prioritas, maka perbedaan haluan politik
di antara mereka yang kemudian menimbulkan konflik yang kontraproduktif
bagi persatuand an kesatuan, tak akan terjadi.
Mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut, di era digital
ini, bertepatan dengan hajatan Pilres 2019 mendatang, alangkah indahnya
jika perbedaan-perbedaan itu tak sampai mencabik persatuan. Perbedaan
dikelola untuk menuangkan gagasan dan ide terbaik untuk kepentingan
bangsa dan negara. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mengolok-ngolok
pihak lain. Sehingga, tak muncul lagi istilah “cebong”, “kampret” dan
lain-lain di jagat media yang bisa merusak persatuan.
Di situasi semacam ini, kita benar-benar membutuhkan sosok pemersatu,
penyejuk, pendamai, peredam. Laksana Nabi Muhammad ﷺ yang tak jemu
membangun dan mengupayakan spirit persatuan di kalangan Muhajirin dan
Anshar yang selalu diadudomba oleh orang-orang munafik.
Kita sudah sama-sama maklum mengenai pribahasa, “Bersatu kita teguh,
bercerai kita runtuh.” Namun, menjadi sangat ironis jika hanya karena
Pilpres lima tahunan, lantaran tak dapat mengola perbedaan, keutuhan dan
kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut, yang pada gilirannya rawan
ditunggangi oleh orang-orang yang berkepentingan.*/Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 17, 2018
posted by @Adimin
Perkuat Jurkam, PKS Bekali Pelatihan
Written By neobattosai on 17 September, 2018 | September 17, 2018
Jakarta (16/9)- Menghadapi masa kampanye yang
makin dekat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bekali Ketua Umum Dewan
Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia dengan peningkatan kemampuan Public Speaking atau berbicara di depan publik, Ahad (16/9/2018) di Jakarta.
Selain Ketum-Ketum DPW, perempuan juru bicara partai juga mengikuti
acara yang menghadirkan seorang trainer profesional Ali Said Damanik.
Direktur Media Center TPP PKS Dedi Supriadi menyatakan acara ini
diselenggarakan sebagai lanjutan pelatihan yang sudah dijalani oleh
pimpinan PKS di tingkat wilayah tersebut.
"Public Speaking penting agar pengurus partai bukan hanya pandai
menyampaikan pesan, tapi juga agar mereka bisa menyerap dari masyarakat
untuk kemudian diperjuangkan untuk jadi kebijakan publik," ujar Dedi di
sela-sela acara.
Kegiatan yang digelar oleh Humas DPP PKS ini digelar sebagai bagian
dari penyiapan pendidikan politik PKS ke konstituen maupun masyarakat
umum terkait advokasi dan kebijakan publik oleh PKS.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 13, 2018
posted by @Adimin
Makna PKS Bagi Bakal Cawapres Sandi
Written By neobattosai on 13 September, 2018 | September 13, 2018
Bogor (10/9) - Partai Keadilan Sejahtera sangat bermakna di mata bakal calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno. Ia kagum dengan kaderisasi dan nyawa dakwah PKS.
"Kita patut bangga dengan kaderisasi PKS. Dulu saya di Gerindra dan sekarang saya jobless. Saya masih diundang di acara PKS kalau di Gerindra saya sudah tidak diundang he-he-he. Terima kasih PKS," kata Sandi.
Hal tersebut dikatakan Sandi saat mengisi Rapat Pimpinan Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).
Sandi melihat organisasi PKS berjalan dengan sangat rapi
"Yang saya lihat organisasi PKS sangat rapi. Terlebih kerja politik dan dakwahnya. Dakwahnya kencang sekali dan menginspirasi," ungkap dia.
"Banyak yang bertanya apa arti sekutu. Sekutu singkatan dari kau selamanya untukku. Itulah esensi dari Sandi Uno dan PKS," tutur Sandi, menambahkan.
Sebagai bentuk cinta kepada PKS, Sandi mengingatkan bahwa pemimpin itu harus lebih baik ke depan. Politik ke depan harus menjadi solusi dan kita hadirkan pilpres yang damai, teduh, sejuk dan menyejukkan. Bukan memecah belah.
"Dalam pilpres, saya mengingatkan untuk tidak mendoakan rupiah terus turun. Justru kita mendoakan agar rupiah agar terus stabil. Ini permasalahan bangsa bukan permasalahan politik," ungkap dia
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 12, 2018
posted by @Adimin
Bersama Habib Syech, Habib Salim Segaf Hadiri Surabaya Bersholawat
Written By neobattosai on 12 September, 2018 | September 12, 2018
Surabaya -- Ketua Majelis Syuro
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri Senin
malam 1 Muharram menghadiri Surabaya Bersholawat 6 yang diselenggarakan
di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya.
Acara yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir
Assegaf ini berlangsung mulai pukul 19.00 hingga selesai. Puluhan ribu
Syechermania dan warga kota Surabaya memadati area Tugu Pahlawan dan
sekitarnya sejak siang hari.
Surabaya Bersholawat ke-6 ini diselenggarakan dalam
rangka memperingati Tahun Baru Islam dan Milad Rabithah Alawiyah ke-90.
Dihadiri para Habaib dan Ulama. Juga didukung oleh Al-Khairiyah,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya.
Selama lebih dari dua jam, rangkaian shalawat dan
tausiyah dilantunkan, mengharu biru jama'ah yang hadir mengharap
fadhilah shalawat dan syafa'at Rasulullah Muhammad SAW.
Habib Syech dalam kesempatan tersebut mengajak kaum
muslimin untuk terus istiqomah dalam bersholawat. "Karena saya suka
bersholawat, saya juga pilih Presiden yang suka bersholawat," ujar Habib
Syech dengan senyuman khasnya.
Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri yang merupakan Mustasyar
Rabithah Alawiyah, menutup acara dengan doa untuk keselamatan bangsa
Indonesia khususnya warga Surabaya dan Jawa Timur.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 12, 2018
posted by @Adimin
Wajib Ain Caleg PKS Harus Kampanye Positif
Bogor (10/9) - Ketua Tim Pemenangan Partai Tingkat
Pusat PKS Chairul Anwar memberikan arahan kepada manajer dapil agar
calon anggota legislatif fokus kampanye positif. Sifat arahan tersebut
adalah wajib ain.
"Iya (fardhu 'ain) kita menghindari itu. Kita fokus
pada hal-hal yang sifatnya positif," kata Chairul pada Rapat Pimpinan
Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak
Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).
Hal itu menurutnya sesuai dengan arahan presiden PKS
Mohamad Sohibul Iman yang menekankan harus kampanye positif setiap
momen. Melalui media sosial maupun temu tokoh atau masyarakat. Agar
bangsa bisa menjadi lebih baik. "Bagaimana karya kader kita seluruh
Indonesia dan khidmat kita untuk masyarakat," kata dia.
Rapimnas tersebut sebagai upaya agar caleg PKS bekerja teratur, terukur dan terkendali dengan baik.
"Maka kita melakukan konsolidasi yang sifatnya
nasional. Kita mengumpulkan semua elemen pimpinan pemenangan. Kita
memberikan tips dan arahan yang nantinya bisa dibawa pulang," ungkap
dia.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 10, 2018
يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana. Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686. Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].
Merujuk kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar, namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah melebur dalam kekufuran.
Ada seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu saja bisa mengancam keselamatan imannya.
Di luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong, manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat dengan transaksi bisnis dan muamalah.
Hadits di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.
Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia, namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.
Nubuwat di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada syariat seperti mereka yang menggenggam bara.
Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,
بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’. [ HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]
Hadits di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya.
Nubuwat di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.*
Penulis buku-buku Akhir Zaman
posted by @Adimin
Akhir Zaman: Lebih Baik Kalah tapi Selamat
Written By neobattosai on 10 September, 2018 | September 10, 2018
Di hari-hari yang penuh fitnah masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran
Dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam:
يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يُخَيَّرُ فِيهِ الرَّجُلُ بَيْنَ الْعَجْزِ وَالْفُجُورِ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ فَلْيَخْتَرْ الْعَجْزَ عَلَى الْفُجُورِ
“Akan datang pada kalian semua suatu zaman di mana seorang laki-laki akan dihadapkan pada pilihan antara kondisi ketidakmampuan dan kemaksiatan di mana-mana. Barangsiapa yang mendapatkan zaman tersebut maka hendaknya dia memilih sebagai pihak yang tertekan daripada harus melakukan tindakan kemaksiatan. [HR. Ahmad, hadits no. 7686. Al-Haitsami menyatakan hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya‘la dari seorang syaikh yang sanadnya berakhir pada Abu Hurairah ra. Sedangkan para perawinya adalah orang-orang yang terkenal tsiqah. [Majma‘ Az-Zawâ’id (7/287)].
Merujuk kembali pada apa yang pernah dikatakan oleh Ahmad Thomson tentang jenis masyarakat ketiga, yakni masyarakat jahiliyah yang jauh dari syari’at dan jauh dari keselerasan alam semesta. Hidup dalam atmosfir peradaban Dajjal yang sistemik telah membuat banyak orang berada pada posisi yang dilematis. Larut dalam arus global kadangkala memang menjanjikan keuntungan duniawi yang besar, namun bersamaan dengan itu larut pula identitas keimanan kita karena telah melebur dalam kekufuran.
Ada seorang kawan yang curhat paska PHK yang menimpa dirinya. Demi menyambung hidupnya, ia memutuskan untuk menjual susu segar dengan membuka lapak / warung tenda di pinggir jalan. Malam itu pembelinya adalah dua orang pemuda dan pemudi yang hanya memesan segelas susu. Butuh satu jam lebih bagi keduanya untuk menghabiskan susu itu, lantaran di sela-sela menikmati susu itu keduanya juga sedang ‘menikmati’ dunia cinta mereka yang sedang merah jambu. Kawan penjual susu ini tentu saja merasa resah, satu jam lebih ia dipaksa menonton adegan pacaran konsumennya. Menjual susu segar tentu halal dan legal, namun bila setiap hari harus dipaksa menikmati ‘tayangan life’ pasangan muda-mudi semacam itu, tentu saja bisa mengancam keselamatan imannya.
Di luar sana, masih ribuan contoh lain yang menggambarkan kondisi dilematis seorang muslim saat harus berhadapan dengan system jahiliyah; suap, bohong, manipulasi, riba, maksiat dan kejahatan lainnya, terutama yang berkaitan erat dengan transaksi bisnis dan muamalah.
Hadits di atas memberikan isyarat terkait merajalelanya kezhaliman dan kemaksiatan di muka bumi dalam seluruh sendi kehidupan. Kondisi yang demikian itu mengakibatkan seorang muslim dihadapkan pada pilihan sulit.
Namun demikian, Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam mengingatkan agar seorang mukmin memilih yang lebih rendah, yaitu kondisi tertekan. Mungkin ia dianggap kalah secara dunia, namun sejatinya ia telah memenangkan akhiratnya.
Nubuwat di atas juga dikuatkan dengan hadits lain yang menggambarkan bukan hanya ujian eksternal saja yang akan dihadapi oleh seorang mukmin. Namun ada juga ujian internal dari dalam dirinya berupa sifat kikir dan mengikuti hawa nafsu. Inilah kombinasi ujian yang membuat seorang mukmin yang tetap sabar berpegang pada syariat seperti mereka yang menggenggam bara.
Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,
بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ
‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’. [ HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]
Hadits di atas menjelaskan bahwa di hari-hari yang penuh ekstra kesabaran (ayyamush shabr) tersebut masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah yang hidup dalam keterasingan yang yang dijanjikan keselamatan dan kemenangan. Mereka itu orang-orang yang akan mendapatkan pahala yang amat besar dari Allah Subhanahu Wata’ala sebagai balasan atas keteguhan mereka dalam memegang agamanya.
Nubuwat di atas memang bernada ancaman, namun di dalamnya juga mengandung bisyarah / kabar gembira yang menakjubkan. Jika di masa itu Allah mengkaruniakan kita kesabaran, maka itulah zaman dimana kita akan menuai kebajikan 50 kali lipat generasi para sahabat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari beratnya ujian di akhir zaman.*
Penulis buku-buku Akhir Zaman
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 09, 2018
posted by @Adimin
PKS Tuntut Polri Segera Ungkap Dalang Spanduk Khilafah
Written By NeoBee on 09 September, 2018 | September 09, 2018
Jakarta -- Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) meminta aparat kepolisian segera mengungkap
aktor pemasangan spanduk khilafah yang masih ditemukan.
Ketua DPP PKS Bidang Humas Ledia Hanifa
mengungkapkan, spanduk-spanduk fitnah PKS mendukung sistem khilafah
sudah muncul berbulan-bulan lalu. Tetapi, ujar dia, sampai muncul lagi
saat ini belum ada kemajuan berarti dari aparat kepolisian.
"Mabes Polri mengeluarkan pernyataan
akan mengusut ini sejak tiga bulan lalu. Teman-teman PKS Jakarta juga
sudah melaporkan spanduk fitnah khilafah ini ke polisi beberapa bulan
silam. Sampai sekarang muncul lagi, belum ada laporan perkembangan
kasus," papar anggota DPR RI ini di Jakarta, Jumat (7/9/2018).
Spanduk fitnah khilafah, papar Ledia,
sangat mengganggu situasi berbangsa di tengah permasalahan ekonomi
akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
"Spanduk-spanduk seperti ini wajib
diusut aktornya jelang tahun-tahun politik dan permasalahan ekonomi
seperti saat ini. Dampaknya jadi tidak kondusif," papar dia.
Terlebih, ujar Ledia, spanduk juga tidak
sesuai dengan visi PKS yang mewujud kan keadilan dan kesejahteraan dalam
bingkai NKRI. "Bagi PKS, NKRI harga mati. Anggota-anggota MPR dari PKS
selalu mensosialisasikan NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD
1945 sebagai empat pilar kebangsaan ke berbagai wilayah di Indonesia,"
paparnya.
Ledia juga menegaskan, PKS tidak
memiliki afiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). "Tidak ada
afiliasi PKS dengan Eks HTI termasuk saat dulu masih berdiri sebagai
HTI. Jadi clear," tegas Ledia.
Diketahui, muncul lagi spanduk fitnah
khilafah yang dialamatkan kepada PKS di beberapa titik di Depok, Jawa
Barat Jumat (7/9/2018) pagi. Kader PKS Depok pun langsung menurunkan
spanduk fitnah tersebut.
Ledia juga mengucapkan terima kasih
kepada pemerintah daerah di Depok, Bekasi dan Jakarta yang sigap turut
menurunkan spanduk-spanduk fitnah karena melanggar peraturan daerah
tentang pemasangan spanduk.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 08, 2018
posted by @Adimin
Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan (2)
Written By neobattosai on 08 September, 2018 | September 08, 2018
Alkisah, akhirnya Hurmuzan menghadap amirul mukminin, Umar Bin Khattab.
‘Umar memerhatikan
Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada
Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”
“Segala puji hanya
milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang
seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin,
berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan
janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena
sesungguhnya dunia ini pasti lenyap,” lanjut Khalifah Umar.
Salah satu utusan
berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”
“Tidak, sampai
semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya,” kata ‘Umar.
Setelah
Hurmuzan berganti dengan pakaian biasa, ‘Umar kemudian berkata,
“Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”
“Hai ‘Umar, kami
dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan
antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak
bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu,
kamu pun berhasil mengalahkan kami,” ujar Hurmuzan.
“Kamu dapat
mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu,
sementara kami berpecah belah.”
Beliau
melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”
Kata Hurmuzan,
“Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkan nya.”
“Tidak usah
takut.”
Hurmuzan meminta
air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia
berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum
dengan cangkir seperti ini.”
Kemudian,
dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia
memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh
ketika sedang minum.”
“Tidak apa-apa,
minumlah.”
Hurmuzan mulai
minum.
‘Umar berkata,
“Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia
masih haus.”
Tiba-tiba Hurmuzan
membuang air tersebut. Melihat hal itu Umar menyuruh seseorang agar
mengambilkan air dan memberikannya kepada Hurmuzan. “Jangan sampai kalian
membunuhnya dalam keadaan haus,” kata Umar.
Tapi ternyata
Hurmuzan menolak pemberian ‘Umar.
“Aku tidak butuh
air,” jawabnya. “Aku sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan jaminan
keselamatan darimu,” tandasnya dengan tenang.
“Kalau begitu, aku
akan membunuhmu sekarang juga,” kata ‘Umar.
“Tapi engkau telah
memberikan jaminan keselamatan padaku.”
“Engkau bohong,”
sahut ‘Umar.
Tiba-tiba Anas bin
Malik yang berada di tempat itu berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukminin,”
Anas membenarkan ucapan Hurmuzan. “Engkau telah memberinya jaminan
keselamatan,” lanjutnya.
“Celaka engkau
wahai Anas,” kata ‘Umar kepada Anas. “Mungkinkah aku memberikan jaminan
keselamatan kepada orang yang telah membunuh al-Barra’ bin Malik?, (yang tak
lain saudara kandung Anas bin Malik sendiri, red). Sebaiknya engkau
menjelaskannya. Kalau tidak, aku akan menghukummu,” tegas Umar kepada Anas bin
Malik.
“Pertama engkau
mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau meminumnya” kepada
Hurmuzan,” kata Anas menjelaskan. Engkau juga mengatakan, “tidak ada yang akan
menyentuhmu hingga engkau menceritakannya kepadaku.” Lanjut Anas mengingatkan
Umar.
Bahkan orang-orang
yang berada di situ juga membenarkan perkatan Anas.
Umar lalu
menghadap kepada Hurmuzan dan mengatakan, “Engkau telah menipuku,” katanya.
“Demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali engkau masuk agama Islam,” tambah
‘Umar.
Ternyata setelah
itu Hurmuzan menyatakan diri masuk Islam. Maka Umar pun memperlakukan Hurmuzan
dengan baik dan menyuruhnya menetap di Kota Madinah.
Sebagai penutup,
kata-kata bersejarah Umar yang dicatat oleh Sayyid bin Husain Al-‘Affani ini
patut untuk dijadikan renungan terkait betapa pentingnya nilai Izzah
bagi umat Islam:
“Kami adalah suatu
kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam.
Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita
hina.” (dalam buku Anwâr al-Fajr fî Fadhâ`ili Ahli Badr”,
2006:504)
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 07, 2018
posted by @Adimin
Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan
Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018
Kami
adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita
hina
ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna
dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an
misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin
menjadikan Izzah
sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54,
disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan
bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.
Dalam
bahasa Arab, kata “Izzah”
mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan
unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia
pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus
tersebut, ‘Izzah’
ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini
tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.
Salah
satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin
Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab
“al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata
bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami
oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”
Semua
orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’
ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan
pemerintahan sangat masyhur.
Umar
bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua.
Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah
Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.
Namun
siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja
Persia yang bernama Hurmuzan.
Tiga
orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf
bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan
Khalifah Umar.
Dikisahkan
bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan
menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada
Umar bin Khattab.
Menjelang
tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat
dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara.
Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan
pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.
Sepanjang
perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar
mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia.
Fikirannya sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui
sang Khalifah.
Kisah
pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh
nyata bagaimana karakter Izzah
ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.
Dalam
buku “Nizhâm al-Hukûmiyah
al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis
sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam
bab “Fîman Kâna Yudhrabu
bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang
yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).
Menukil
cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu
hebat Izzah
beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja
Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas-
untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).
Kebetulan,
saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga
ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur
bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini
-demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa
tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja
Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang
aku rasakan kehebatan –Izzah
nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”
Izzah yang dimiliki Umar benar-benar
membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat
yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya.
Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta
melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.
Hurmuzan
tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin
pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua
raksasa super power
dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).
Terkejutnya
Hurmuzan, pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja
dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati
sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka
rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah
Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.
‘Umar
baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara
merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan
kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi
terciptanya keadilan untuk rakyat.
Senada
dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964:
126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin
Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja
kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir
(Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas
pasir berbantalkan tongkat kecilnya.
“Orang
yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya
seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur
(nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja
kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab.
Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah
seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.
bersambung . . . . . . . .
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN










