Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
October 13, 2018
posted by @Adimin
Memberantas Hoax Dimulai dari Elit Politik
Written By NeoBee on 13 October, 2018 | October 13, 2018
Para elit politik dan tokoh bangsa negeri ini bersama-sama bersinergi untuk memberantas hoax dengan memberi keteladanan
AKHIR zaman ditandai oleh menyebarnya
banyak kebohongan, kedustaan atau hoax.
Sabda nabi:
يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ، يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ، وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ
“Akan muncul di akhir zaman para Dajjal, Pembohong yang
mendatangkan kepada kalian hadis-hadis yang kalian sendiri tidak pernah
mendengarnya, demikian pula bapak-bapak kalian. Jauhkanlah diri kalian dari
mereka dan upayakan agar mereka menjauhi kalian. Jangan sampai mereka
menyesatkan kalian dan menggelincirkan kalian ke dalam fitnah.” (HR.
Muslim)
Dalam hadits tersebut, disebut kata “dajjāl” dan “kadzdzāb”, yang berarti
banyak berdusta, Ini menunjukkan betapa kebohongan sudah begitu massif. Sebelum
dajjal asli datang, memang terdapat tanda-tanda jelas yang mengiringinya:
banyak tipuan, orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang amanah
dianggap khianat dan yang khianat dianggap amanah. (HR. Ahmad)
Dalam kondisi yang penuh hoax dan ketidakjelasan tersebut, muncullah
orang yang disebut “Ruwaibidhah”
yaitu orang yang pandir serta tidak memiliki kualifikasi keahlian tapi
berbicara banyak hal yang tak dikuasinya. Akibatnya, banyak sekali orang yang
disesatkan akibat ulahnya.
Di era digital seperti saat ini, khususnya dalam negeri,
terlebih sejak kran kebebasan reformasi terbuka lebar, hoax laksana air bah yang
menghantam jagat media. Perbedaan haluan politik atau apapun bisa melahirkan hoax–hoax yang destruktif.
Bayangkan! Misalnya, adanya bencana –seperti di Lombok
dan Palu– bukan malah dijadikan evaluasi bersama untuk berbenah dan membantu
saudara, malah ada yang memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi dengan
menyebar berita hoax
yang meresahkan masyarakat.
Persoalan ini mengimbas hampir pada segenap lapisan
masyarakat. Dalam ranah sosial terjadi krisis tabayyun. Budaya asal share yang fasilitasnya
tersedia di berbadai aplikasi media sosial menyeruak begitu saja tanpa ada
klarifikasi. Yang penting diri, kelompok atau dukungannya senang, maka masa
bodoh dengan tabayyun.
Terlebih, dalam dunia perpolitikan nasional, khususnya
menjelang Pilpres, masing-masing dari kubu –bisa saja—terutama pendukung
fanatic, mempro duksi hoax
demi kepentingan pihak yang didukung. Ini bukan berarti semua politisi itu suka
menyebar hoax,
namun lebih kepada fakta di lapangan yang menunjukkan seringkali perbedaan
pendapat atau pandangan dijustifikasi dengan hoax.
Kasus baru-baru ini yang mengguncang media terkait hoax aktivis bernisial RS,
adalah bukti bahwa hoax
begitu subur, terutama bila menyangkut masalah politik. Dari sini, penulis
berpikir bahwa jika mau memberantas hoax,
maka –disamping peran aktivitas individu– harus dimulaik dari para elit atau
tokoh-tokoh politik. Jika mereka berada di garda depan dalam memberi
keteladanan untuk tidak menyebar hoax
dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarananya, maka masyarakat bisa
meneladaninya.
Persoalan hoax
ini sejatinya harus ditangani dan ditangkal secara bersama-sama. Menarik sekali
apa yang ditulis oleh Lukman Hakiem dalam buku “Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh Peristiwa”
(2017: 101, 102) Dulu, di tahun 1955, pimpinan PKI dan Masyumi bersama-sama
menanggulangi berita bohong (hoax)
yang berujung bentrok fisik.
Alkisah, pada tahun itu (1955) di Jawa Barat, ada orang
Masyumi yang meninggal dalam keadaan yang mencurigakan. Kabar burung,
desas-desus di masyarakat dengan cepat menyebar luas bahwa kematian orang
Masyumi itu dikaitkan dengan oknum PKI. Ironisnya, berita yang belum tentu
benar itu diekspos sedemikian oleh media yang membuat suasana semakin panas.
Menanggapi tuduhan itu, PKI langsung mengirim utusan
kepada Pimpinan Masyumi Jawa Barat dan Bandung (Rusjad Nurdin dan Suriatmadja).
Kemudian kedua partai ini melakukan penyelidikan bersama-sama. Ternyata,
menurut petunjuk pemeriksaan awal, korban meninggal itu bukan akibat pembunuhan
tapi mati normal.
Setelah diadakan tabayyun
dan klarifikasi secara baik oleh para pemimpin parta politik, masalah
desas-desus yang dipropagandakan media itu akhirnya bisa teratasi. Dan konflik
antara pengikut keduanya pun bisa dihindarkan dengan baik.
Dari contoh sejarah itu, penulis membayangkan, jika para
elit politik dan tokoh bangsa negeri ini bersama-sama bersinergi untuk memberantas
hoax dengan
memberi keteladanan yang baik berawal dari diri mereka sendiri, kemudian tak
turut menyebarkan berita hoax
demi keuntungan pribadi, lalu disediakan sarana dan prasarana anti hoax yang disosialisasikan
kepada masyarakat secara berkesinambungan, niscaya hoax tak menggurita di negeri ini. Minimal,
masing-masing masyarakat punya kesadaran dan filter terhadap merebaknya
berita-berita hoax
(bohong).
Ada pribahasa menarik terkait kebohongan yang diangkat
oleh Ahmad Mahmud Faraj dalam “Belajar Bersahabat: Petunjuk Nabi Agar Menjadi
Pribadi Menarik dan Menyenangkan” (2013:139) yang bisa direnungkan, “Orang yang
senang menyusu pada kebohongan, dia akan sulit menyapih dirinya.”*/Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
October 12, 2018
posted by @Adimin
Presiden PKS Intruksikan Kader Optimalkan Atribut Partai untuk Kampanye
Written By NeoBee on 12 October, 2018 | October 12, 2018
Menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang,
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman
mengintruksikan kepada seluruh pengurus, Anggota dan Calon Anggota Dewan
untuk menyatukan potensi kekuataan partai khususnya penggunaan atribut
partai dalam pelaksaanan kampanye.
Melalui Intruksi Presiden, Sohibul Iman memberikan sembilan arahan
yang berkaitan dengan penggunaan atribut kampanye. Sembilan arahan
tersebut adalah:
- Menggunakan/memakai atribut partai pada setiap hari Sabtu dan Ahad
- Menggunakan/memakai atribut partai bagi pengurus yang menghadiri undangan mewakili Partai
- Mengibarkan bendera merah putih sebanyak-banyaknya berdampingan dengan bendera PKS di kantor-kantor Partai
- Memasang atribut bendera PKS di setiap rumah anggota Partai
- Memasang atribut partai di setiap kendaraan bermotor yang dimiliki
- Memasang atribut partai di lingkungan sekitar rumah anggota
- Pemasangan atribut pada setiap event atau moment kegiatan Partai dengan pemasangan bendera, umbul-umbul atau spanduk
- Mengoptimalkan mobil pelayanan PKS dalam sebagai kegiatan aksi sosial maupun sebagai media iklan berjalan
- Menghimpun dana dalam bentuk tabungan atribut di setiap unit pembinaan
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
October 09, 2018
posted by @Adimin
Koordinator Relawan PKS: Terima Kasih Masyarakat Palu Barat
Written By Sjam Deddy on 09 October, 2018 | October 09, 2018
Palu (08/10) -- Koordinator Relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Agus
Tri mengungkapkan terima kasih kepada masyarakat Kelurahan Donggala
Kodi, Palu Barat, Sulawesi Tengah yang turut membantu kerja relawan.
"Terima kasih kepada masyarakat Donggala Kodi dan Palu Barat. Sungguh kami mendapati kerjasama yang luar biasa antara Relawan PKS Riau dan masyarakat di dapur umum. Tentu 1.200 porsi makanan siap santap tak akan bisa diselesaikan Relawan PKS yang ada tanpa bantuan masyarakat," ujarnya di Posko Khidmat PKS di Kelurahan Donggala Kodi, Minggu (07/10).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengucapkan terima kasih kepada DPW PKS Provinsi Riau yang telah mengirimkan relawannya di Posko ini.
"Kepada DPW PKS Riau, terima kasih telah menempatkan Relawan di Palu. Khususnya di Posko ini. Luar biasa kerjasama Relawan di Posko ini dengan masyarakat sekitar," sambung Agus.
Dalam kunjungannya ke Posko Khidmat PKS Palu Barat, Tim Koordinator Relawan DPP PKS juga memberikan arahan kepada para relawan untuk berkhidmat di masjid-masjid di sekitar posko. (ewa)
"Terima kasih kepada masyarakat Donggala Kodi dan Palu Barat. Sungguh kami mendapati kerjasama yang luar biasa antara Relawan PKS Riau dan masyarakat di dapur umum. Tentu 1.200 porsi makanan siap santap tak akan bisa diselesaikan Relawan PKS yang ada tanpa bantuan masyarakat," ujarnya di Posko Khidmat PKS di Kelurahan Donggala Kodi, Minggu (07/10).
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengucapkan terima kasih kepada DPW PKS Provinsi Riau yang telah mengirimkan relawannya di Posko ini.
"Kepada DPW PKS Riau, terima kasih telah menempatkan Relawan di Palu. Khususnya di Posko ini. Luar biasa kerjasama Relawan di Posko ini dengan masyarakat sekitar," sambung Agus.
Dalam kunjungannya ke Posko Khidmat PKS Palu Barat, Tim Koordinator Relawan DPP PKS juga memberikan arahan kepada para relawan untuk berkhidmat di masjid-masjid di sekitar posko. (ewa)
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
October 05, 2018
posted by @Adimin
PKS Sudah Terjunkan Lebih Dari Seratus Relawan ke Sulawesi Tengah
Written By Sjam Deddy on 05 October, 2018 | October 05, 2018
Palu (04/10) -- Partai Keadilan Sejahtera
terjunkan lebih dari seratus orang relawan untuk membantu korban gempa
dan tsunami di Sulawesi Tengah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang
Wilayah Dakwah (Wilda) Sulawesi DPP PKS, Aus Hidayat, Palu, Kamis
(04/10/2018).
"Sampai saat ini relawan yang ada sudah sekitar 80 orang relawan di
Posko Pusat dan disebar mencapai 40 relawan di Posko lainnya," terang
Aus.
Menurut Aus, jumlah tersebut akan terus bertambah, mengingat masih
banyaknya Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia yang akan
mengirimkan relawannya ke Sulawesi Tengah.
"Disini masih perlu banyak relawan. Beberapa relawan yang berasal
dari berbagai wilayah sedang disiapkan untuk datang dan membantu, kader
PKS siap menjadi relawan yang kompak untuk membantu masyarakat,"
ungkapnya.
Semangat para relawan PKS untuk membantu korban gempa dan tsunami di
Sulawesi Tengah ini, menurut Aus sejalan dengan semangat PKS yang selalu
siap berkhidmat untuk masyarakat.
"Mereka (relawan) adalah kader terbaik yang bekerja membangun kembali
mental rakyat Sulawesi Tengah yang runtuh karena gempa tsunami dan
tanah longsor. Semangat ini sama dengan PKS yang selalu berkhidmat untuk
masyarakat dan siap memenangkan partai dakwah dengan bermartabat,"
tutupnya.
Sementara itu pantauan di Posko Pusat DPW PKS Sulteng masih dibutuhkan beberapa bantuan logistik untuk pendirian posko.
Kebutuan logistik tersebut antara lain genset beserta alat listrik,
terpal, selimut, bahan bakar minyak, makan siap saji dan bahan makanan
pokok.
Kondisi stok barang-barang tersebut di kota Palu sangat langka
sehingga akan dibelanjakan di lokasi sekitar Sulteng seperti Mamuju,
Makasaar dan Majene.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 28, 2018
posted by @Adimin
Delapan Arahan Presiden PKS Sambut Tahun Politik 2019
Written By neobattosai on 28 September, 2018 | September 28, 2018
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman
memberikan delapan arahan khusus kepada kader dan simpatisan PKS dalam
menyambut tahun politik 2019.
Presiden PKS mengharapkan setiap kader dan simpatisan PKS memiliki
fokus untuk bergerak menyukseskan delapan agenda utama PKS untuk
menyambut Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.
Berikut delapan arahan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman:
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kepada seluruh anggota dan simpatisan PKS, memasuki tahun politik
ini, saya sebagai pimpinan PKS mengingatkan dan memerintahkan 8 hal
berikut ini:
- Peduli pada semua hal yang menjadi kebutuhan rakyat dan warga
masyarakat sehari-hari. Memberi perhatian khusus pada harapan anak-anak
muda dan keluarga. Memberi perhatian khusus pada apa yang diperjuangkan
setiap ibu dan ayah di keluarga Indonesia.
- Selalu hadir di tengah rakyat dan membantu mereka memecahkan
persoalan-persoalannya. Mendampingi rakyat mengakses para pembuat
kebijakan dan penguasa sumber daya ekonomi.
- Mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesempatan
kerja dan berusaha, serta kemudahan akses terhadap layanan pendidikan,
kesehatan dan perumahan yang layak.
- Memastikan setiap sen uang rakyat dan kekayaan alam Indonesia
dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan mencegah
pemborosan.
- Menghindari korupsi dalam bentuk apapun dan dalam jumlah berapapun.
Siapapun yang terbukti terlibat korupsi akan ditindak sesuai dengan
ketentuan disiplin Partai.
- Mendorong tumbuhnya SDM berkualitas yang dapat bersaing di panggung nasional dan global serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha yang siap beroperasi dalam skala besar.
- Berpartisipasi aktif dalam menyumbang pemikiran dan keterlibatan dalam berbagai upaya pembangunan nasional dan daerah.
- Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya semua kegiatan yang bertujuan meningkatkan iman, taqwa, dan akhlak mulia.
Saya meminta seluruh anggota dan simpatisan PKS untuk bersungguh-sungguh menghayati dan melaksanakan kedelapan arahan di atas.
Partai kita memang bukan Partai yang punya banyak uang, bukan Partai yang punya media dan bukan Partai yang serba ada.
Tetapi insya Allah kita tunjukkan bahwa Partai kita adalah partai
yang terdepan dalam bekerja ikhlas, bekerja cerdas, bekerja keras, dan
bekerja tuntas.
Kita optimistis perjuangan kita akan mengantarkan pada kemenangan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoi cita-cita dan ikhtiar kita.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!
Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 26, 2018
posted by @Adimin
Mardani: PKS Siap Transparan Perihal Dana Kampanye
Written By neobattosai on 26 September, 2018 | September 26, 2018
Bogor (25/09) -- Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP)
Partai Keadilan Seajhtera (PKS), Mardani Ali Sera mengungkapkan PKS
akan terus berusaha menjadi Partai yang terbuka kepada masyarakat
perihal tranparansi dan akuntabilitas dana kampanye.
"Institusionalisasi Partai Politik harus dibangun dari Integritas
lembaga yang kuat dan PKS siap! itu bisa dibuktikan dari menjadi partai
pertama yang melaporkan dana kampaye nya ke KPU,” kata Mardani, Selasa
(25/09/2018).
Inisiator gerakan #2019GantiPresiden ini mengatakan, money politics masih menjadi masalah dalam sistem demokrasi Indonesia. Menurutnya, money politics dapat menghambat kemajuan Indonesia.
"Selama uang adalah segalanya dalam kontestasi demokrasi kita, maka
jangan bermimpi Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur,"
ujarnya.
Menurut Mardani, Partai Politik seharusnya menjadi salah satu
institusi yang dapat dipercaya oleh masyarakat, diawali dengan
transparansi dan akuntabilitas dana kampanye.
"Salah satu prinsip utama demokrasi adalah masalah akuntabilitas dan
tranparansi keuangan dana kampanye. PKS akan selalu mengupdate dana
kampanye dan dana bantuan politik setiap tahunnya di website
www.pks.id," lanjutnya.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini juga menjelaskan, PKS juga telah
bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membahas tentang
pelaporan dana kampanye Partai. Mardani berharap, hal ini dapat membawa
perbaikan dalam sistem demokrasi Indonesia kedepan.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 18, 2018
posted by @Adimin
Jangan Sampai Perbedaan Politik, Membuat Persatuan Tercabik
Written By neobattosai on 18 September, 2018 | September 18, 2018
Ironis hanya karena Pilpres lima tahunan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut
MELIHAT polarisasi anak bangsa yang begitu tajam
menjelang Pilpres 2019, perlu ada upaya serius baik dari pemerintah
maupun rakyat untuk saling bekerja sama untuk menyejukkan suasana.
Sedianya, pilihan politik dalam demokrasi merupakan perbedaan lumrah,
namun menjadi tak wajar ketika perbedaan tersebut menjadi
kontraporduktif sehingga bisa mencabik-cabik persatuan anak bangsa.
Suasana yang memanas ini, bisa dilihat di jagat media. Pilpres baru
berlangsung pada tahun 2019, namun panasnya sudah sampai saat ini.
Melalui media sosial, masing-masing kubu membela mati-matian pasangan
yang dibela. Seolah kubu A, pasti benar dan harus dibela mati-matian;
sementara kubu lain pasti salah dan harus dihujat dan dibully sedemikian
rupa demi kemenangan pasangan yang diusung; demikian juga sebaliknya.
Bila pembaca ditanya: bila dilihat dari skala prioritas
bangsa-negara, kepentingan mana yang jauh lebih utama dan diperjuangkan
antara Pilpres lima tahunan (yang pada realitanya menimbulkan riak-riak
perbedaan tajam yang bisa menggerus persatuan) atau persatuan dan
kesatuan anak bangsa? Tentu saja, semua menginginkan keduanya tak perlu
dinegasikan. Idealnya hajatan Pilpres walaupun berbeda-beda pilihan
tetap dalam kondisi sejuk dan damai.
Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin situasi tetap aman
terkendali, sehingga tak merusak kesatuan dan kerukunan? Mau tidak mau,
masing-masing dari kita sebagai anak bangsa (baik pemerintah maupun
rakyat) mempunyai andil dan peran untuk mengkondisikannya. Ketika
melihat fenomena-fenomena yang mengarah pada perpecahan, maka segera
diatasi dan dicari solusinya agar tidak menyebar luas.
Jangan sampai sejarah pilu yang merenggut persatuan anak bangsa
terulang kembali hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda. Contoh
berikut, yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Bambang Pranowo dalam “Memahami
Islam Jawa” (2011: 311-326) pada kasus di Tegalroso sebelum meletus
G30S-PKI. Di daerah ini, ada tiga partai politik yang membuat penduduk
terpolarisasi dengan tajam: PNI, PKI dan NU.
Polemik dan konflik antar-penduduk yang terjadi di desa ini, hampir
sama dengan kondisi saat ini di jagat media yang menggambarkan perbedaan
yang begitu meruncing. Bagi pendukung NU kala itu, PKI dianggap sebagai
partai atheis. Bagi PKI, partai NU dianggap terlalu memperdulikan
masalah keagamaan dan tidak ada program-progam konkret buat rakyat.
Sementara PNI dianggap sebagai partainya priyayi. NU dan PNI pun walau
relatif stabil hubungannya, tetap juga pernah saling sindir dan nyinyir.
Pak Sutar, salah satu orang bekas PKI yang diwawancarai Dr. Bambang
mengatakan kondisi saat itu, “Kita sudah tersedot ke dalam situasi di
mana kita, satu sama lain, saling memandang sebagai musuh. Orang PKI
melihat anggota PNI dan NU sebagai pembela tuan tanah. Orang PNI melihat
orang PKI sebagai kelompok anti-nasional yang berkiblat ke Peking dan
Moskow. Sementara anggota NU menganggap orang PKI sebagai orang yang
anti agama.”
Perbedaan tajam ini, yang banyak disebabkan membabi buta pada partai
yang dijunjung, tak jarang menimbulkan konflik fisik. Pada tahun 60-an,
Pak Alip, seorang aktivis Ansor mengenang keterlibatannya saat bentrok
fisik dengan PKI. Di desa Pucang, enam bulan sebelum meletus G30S-PKI di
Indonesia, digelar rapat terbuka PKI. Dalam acara itu, ada salah satu
anggota PKI yang menyitir ayat Al-Qur`an sesuai dengan kepentingan
politik mereka. Akibatnya, bentrok fisik tak terelakkan. Dan akhirnya
dibubarkan polisi.
Terlepas dari perbedaan tajam yang kemudian berbuntut keretakan
persatuan itu, kalau dilihat dari penuturan masing-masing pendukung
partai –yang diwawancarai oleh Dr. Bambang—ada fakta unik yang
sebenarnya bisa mereka gunakan untuk menjaga persatuan di antara mereka.
Mereka mayoritas muslim (meski PKI sekalipun). Bahkan, PNI yang
dianggap kurang peduli agama, mendirikan Djami’atul Muslimin Indonesia
(DMI) sebagai wadah untuk untuk mereka yang ingin tumbuh sebagai orang
muslim dan mereka juga tetap sembahyang.
Warga yang ikut PKI sekalipun jangan dikira paham dan mengerti
hakikat ideologi PKI. Sebagaimana penuturan Pak Sutar tadi, memilih PKI
hanya sebagai pertimbangan pragmatis rakyat kecil yang ingin perubahan
konkret. Meski Islam mereka abangan, tapi tetap Islam. Bahkan, mereka
tak tahu-menahu tentang kudeta PKI pada 1965. Meski begitu, mereka harus
menelan pil pahit: disiksa dan dipenjara pesca G30S-PKI.
Penulis yakin, setelah membaca wawancara Prof. Bambang mengenai
perbedaan yang terjadi di desa Tegalroso, jika di antara mereka lebih
mengedepankan prinsip tabayyun, menjaga kesejukan, menjalin komunikasi
yang baik, saling bertukar gagasan ideal untuk kepentingan yang lebih
luas, tidak fanatis dan membabi-buta terhadap partai yang didukung serta
menjadikan persatuan sebagai prioritas, maka perbedaan haluan politik
di antara mereka yang kemudian menimbulkan konflik yang kontraproduktif
bagi persatuand an kesatuan, tak akan terjadi.
Mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut, di era digital
ini, bertepatan dengan hajatan Pilres 2019 mendatang, alangkah indahnya
jika perbedaan-perbedaan itu tak sampai mencabik persatuan. Perbedaan
dikelola untuk menuangkan gagasan dan ide terbaik untuk kepentingan
bangsa dan negara. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mengolok-ngolok
pihak lain. Sehingga, tak muncul lagi istilah “cebong”, “kampret” dan
lain-lain di jagat media yang bisa merusak persatuan.
Di situasi semacam ini, kita benar-benar membutuhkan sosok pemersatu,
penyejuk, pendamai, peredam. Laksana Nabi Muhammad ﷺ yang tak jemu
membangun dan mengupayakan spirit persatuan di kalangan Muhajirin dan
Anshar yang selalu diadudomba oleh orang-orang munafik.
Kita sudah sama-sama maklum mengenai pribahasa, “Bersatu kita teguh,
bercerai kita runtuh.” Namun, menjadi sangat ironis jika hanya karena
Pilpres lima tahunan, lantaran tak dapat mengola perbedaan, keutuhan dan
kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut, yang pada gilirannya rawan
ditunggangi oleh orang-orang yang berkepentingan.*/Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 17, 2018
posted by @Adimin
Perkuat Jurkam, PKS Bekali Pelatihan
Written By neobattosai on 17 September, 2018 | September 17, 2018
Jakarta (16/9)- Menghadapi masa kampanye yang
makin dekat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bekali Ketua Umum Dewan
Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia dengan peningkatan kemampuan Public Speaking atau berbicara di depan publik, Ahad (16/9/2018) di Jakarta.
Selain Ketum-Ketum DPW, perempuan juru bicara partai juga mengikuti
acara yang menghadirkan seorang trainer profesional Ali Said Damanik.
Direktur Media Center TPP PKS Dedi Supriadi menyatakan acara ini
diselenggarakan sebagai lanjutan pelatihan yang sudah dijalani oleh
pimpinan PKS di tingkat wilayah tersebut.
"Public Speaking penting agar pengurus partai bukan hanya pandai
menyampaikan pesan, tapi juga agar mereka bisa menyerap dari masyarakat
untuk kemudian diperjuangkan untuk jadi kebijakan publik," ujar Dedi di
sela-sela acara.
Kegiatan yang digelar oleh Humas DPP PKS ini digelar sebagai bagian
dari penyiapan pendidikan politik PKS ke konstituen maupun masyarakat
umum terkait advokasi dan kebijakan publik oleh PKS.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 13, 2018
posted by @Adimin
Makna PKS Bagi Bakal Cawapres Sandi
Written By neobattosai on 13 September, 2018 | September 13, 2018
Bogor (10/9) - Partai Keadilan Sejahtera sangat bermakna di mata bakal calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno. Ia kagum dengan kaderisasi dan nyawa dakwah PKS.
"Kita patut bangga dengan kaderisasi PKS. Dulu saya di Gerindra dan sekarang saya jobless. Saya masih diundang di acara PKS kalau di Gerindra saya sudah tidak diundang he-he-he. Terima kasih PKS," kata Sandi.
Hal tersebut dikatakan Sandi saat mengisi Rapat Pimpinan Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).
Sandi melihat organisasi PKS berjalan dengan sangat rapi
"Yang saya lihat organisasi PKS sangat rapi. Terlebih kerja politik dan dakwahnya. Dakwahnya kencang sekali dan menginspirasi," ungkap dia.
"Banyak yang bertanya apa arti sekutu. Sekutu singkatan dari kau selamanya untukku. Itulah esensi dari Sandi Uno dan PKS," tutur Sandi, menambahkan.
Sebagai bentuk cinta kepada PKS, Sandi mengingatkan bahwa pemimpin itu harus lebih baik ke depan. Politik ke depan harus menjadi solusi dan kita hadirkan pilpres yang damai, teduh, sejuk dan menyejukkan. Bukan memecah belah.
"Dalam pilpres, saya mengingatkan untuk tidak mendoakan rupiah terus turun. Justru kita mendoakan agar rupiah agar terus stabil. Ini permasalahan bangsa bukan permasalahan politik," ungkap dia
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 12, 2018
posted by @Adimin
Bersama Habib Syech, Habib Salim Segaf Hadiri Surabaya Bersholawat
Written By neobattosai on 12 September, 2018 | September 12, 2018
Surabaya -- Ketua Majelis Syuro
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri Senin
malam 1 Muharram menghadiri Surabaya Bersholawat 6 yang diselenggarakan
di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya.
Acara yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qodir
Assegaf ini berlangsung mulai pukul 19.00 hingga selesai. Puluhan ribu
Syechermania dan warga kota Surabaya memadati area Tugu Pahlawan dan
sekitarnya sejak siang hari.
Surabaya Bersholawat ke-6 ini diselenggarakan dalam
rangka memperingati Tahun Baru Islam dan Milad Rabithah Alawiyah ke-90.
Dihadiri para Habaib dan Ulama. Juga didukung oleh Al-Khairiyah,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kota Surabaya.
Selama lebih dari dua jam, rangkaian shalawat dan
tausiyah dilantunkan, mengharu biru jama'ah yang hadir mengharap
fadhilah shalawat dan syafa'at Rasulullah Muhammad SAW.
Habib Syech dalam kesempatan tersebut mengajak kaum
muslimin untuk terus istiqomah dalam bersholawat. "Karena saya suka
bersholawat, saya juga pilih Presiden yang suka bersholawat," ujar Habib
Syech dengan senyuman khasnya.
Habib DR. Salim Segaf Al-Jufri yang merupakan Mustasyar
Rabithah Alawiyah, menutup acara dengan doa untuk keselamatan bangsa
Indonesia khususnya warga Surabaya dan Jawa Timur.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 12, 2018
posted by @Adimin
Wajib Ain Caleg PKS Harus Kampanye Positif
Bogor (10/9) - Ketua Tim Pemenangan Partai Tingkat
Pusat PKS Chairul Anwar memberikan arahan kepada manajer dapil agar
calon anggota legislatif fokus kampanye positif. Sifat arahan tersebut
adalah wajib ain.
"Iya (fardhu 'ain) kita menghindari itu. Kita fokus
pada hal-hal yang sifatnya positif," kata Chairul pada Rapat Pimpinan
Nasional Tim Pemenangan Pemilu 2019 Partai Keadilan Sejahtera di Salak
Tower Hotel, Bogor, Senin (10/9/2018).
Hal itu menurutnya sesuai dengan arahan presiden PKS
Mohamad Sohibul Iman yang menekankan harus kampanye positif setiap
momen. Melalui media sosial maupun temu tokoh atau masyarakat. Agar
bangsa bisa menjadi lebih baik. "Bagaimana karya kader kita seluruh
Indonesia dan khidmat kita untuk masyarakat," kata dia.
Rapimnas tersebut sebagai upaya agar caleg PKS bekerja teratur, terukur dan terkendali dengan baik.
"Maka kita melakukan konsolidasi yang sifatnya
nasional. Kita mengumpulkan semua elemen pimpinan pemenangan. Kita
memberikan tips dan arahan yang nantinya bisa dibawa pulang," ungkap
dia.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN










