pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Lima Langkah Memperkuat Ikatan Ukhuwah Islamiyah

Written By NeoBee on 13 October, 2018 | October 13, 2018



Siapa melapangkan kesulitan saudaranya di dunia ini, Allah akan melapangkan pula orang itu dari malapetaka hari kiamat


Rasulullah pernah membuat gambaran indah tentang persaudaraan antar pemeluk agama Islam. Beliau melukiskan bahwa persaudaraan dalam ikatan keislaman itu seperti satu tubuh. Beliau bersabda:

مثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمِهِمْ وتَعاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَداعَى لهُ سائِرُ الْجسدِ بالسهَرِ والْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang yang beriman, dalam saling mencintai, saling menyantuni sesama mereka, adalah laksana kesatuan tubuh. Apabila satu bagian dari tubuh itu menderita sakit, maka seluruh badan turut merasakannya.” (HR. Muslim)

Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Nabi. Betapa erat, dekat, dan akrab hubungan sesama muslim. Meski pun ada perbedaan: perbedaan mazhab, politik, warna kulit, suku dan bangsa, namun kita tetap satu tubuh, kita tetap harus saling bersaudara dalam ikatan keislaman. Inilah yang disebut ukhuwah islamiyah.

Ukhuwah Islamiyah mudah diucapkan, tapi yang sulit adalah praktik dan aplikasinya dalam berbagai situasi serta kondisi kehidupan sehari-hari. Namun, perlu disadari bahwa mewujudkan persaudaraan Islam dalam arti yang sebenarnya merupakan kewajiban setiap Muslim.

Meski tak ada pakta perjanjian tertulis, namun umat Islam karena ikatan keislamannya haruslah memandang sesama Muslim sebagai saudaranya atas dasar kesamaan pandangan hidup. Segala yang merusak ukhuwah Islamiyah harus dijauhi.

Setidaknya ada lima hal yang harus kita lakukan untuk membentengi persatuan kita sesama umat Islam. Kelima hal ini termasuk dalam hak dan kewajiban ukhuwah yang ditetapkan dalam Islam.

Pertama, menutup aib saudara seiman. Rasa-rasanya tidak ada manusia yang terbebas dan bersih dari aib, cacat dan kekurangan diri. Setiap orang pasti punya kelemahan. Karenanya, tidak selayaknya kita menjadi bak bunyi pepatah, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, namun kuman di seberang lautan tampak.”

Kita harus mampu menahan diri untuk tidak membuka aib saudara kita. Kita jaga kehormatan mereka. Kita tutupi kekurangan dengan saling melengkapi dan menyempurnakan. Tidak dengan mengumbar aib mereka yang dapat menimbulkan ketersinggungan hingga berujung pada permusuhan.

Rasulullah bersabda,
مَنْ رد عن عرض أخيه كان له حجابا من النار
“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya (sesama Muslim), maka hal itu menjadi penghalang untuknya dari api neraka.” (HR Tirmidzi). Sabda Nabi  berikutnya: “Adalah kejahatan bagi seorang Muslim mempermalukan saudara Muslim lainnya.” (HR Muslim).

Kedua, memaafkan saudara seiman. Langkah kedua ini diperlukan dalam hubungan kita sebagai makhluk sosial. Di sela interaksi sosial yang kita lakukan mungkin ada friksi dan hal-hal lain yang mengakibatkan kesalah-pahaman.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang lepas dari kesalahan. Karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun, sebaik-baik manusia yang berbuat salah adalah yang segera menyadari, meminta maaf, menerima maaf, dan bertaubat.

Rasulullah bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Ampunan Ilahi dilimpahkan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali yang menyimpan dendam kepada saudaranya. Tentang mereka dikatakan: Tunggu, tunggu, tunggu, sampai mereka berbaikan.” (HR Muslim)

Ketiga, melepaskan kesulitan sesama Muslim. Jika kita diminta untuk memilih antara kemudahan dan kesulitan, nyaris setiap kita lebih suka kemudahan dan tidak menginginkan kesulita. Namun, hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada rintangan dan hambatan yang membuat perjalanan hidup tidak seperti yang diharapkan.

Kesulitan yang timbul terkadang membuat sebagian orang kehilangan orang-orang yang disayangi. Musibah gempa bumi dan tsunami di Palu serta Donggala adalah potret buram tentang betapa kesulitan itu dalam sekejap menghilangkan apa yang dimiliki. Rumah, kendaraan, keluarga, bisa lenyap dalam hitungan detik. Hanya dalam sekejap semua luluh lantak. Semuanya lenyap digoncang gempa bumi, lenyap oleh hantaman tsunami. Innaa lillaah wa innaa ilaihi rooji’uun ..

Kewajiban kita sebagai sesama muslim yang saling bersaudara, adalah membantu mereka. Kita sisingkan lengan. Kita kenyangkan perut mereka yang lapar. Kita obati yang sakit. Kita kasihi mereka yang berduka. Kita hapus air mata kesedihan mereka. Kita bahagiakan dengan apa yang mampu kita berikan.
Duka mereka adalah duka kita. Kebahagiaan mereka juga kebahagiaan kita. Rasa sakit yang tengah mereka rasakan juga rasa sakit bagi kita. Kita seharusnya tidak merasa nyaman dengan apa yang menimpa dan menindih mereka. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda:

مَنْ فَرَّجَ عَنْ أَخِيهِ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيه، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة
“Siapa yang melapangkan kesulitan saudaranya dari kesulitan hidup di dunia ini, Allah akan melapangkan pula orang itu dari malapetaka hari kiamat. Allah tetap akan menolong seorang hamba, selama hamba itu sudi menolong saudaranya. Siapa yang menutup aib (malu) orang Islam, Allah akan menutupi aib orang itu di dunia dan akhirat.” (HR Muslim, Abu Daud, Turmidzi).

Keempat, berbaik sangka kepada sesama Muslim. Sikap baik sangka tidak berarti kita kehilangan kewaspadaan terhadap potensi kejahatan seseorang. Baik sangka adalah akhlak yang diajarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala kepada para hamba-Nya. Kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada saudara kita. Tidak mudah terjebak dalam buruk sangka yang bisa mengakibatkan gangguan dalam hubungan antara sesama kita.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (Al-Hujurat: 12).

Kelima, berdoa untuk sesama Muslim, baik semasa hidupnya maupun setelah wafat. Doa yang baik akan kembali kepada kita yang mendoakannya. Demikian pula sebaliknya. Kita doakan saudara-saudara kita yang dekat atau jauh. Kita kirimkan doa terbaik kita untuk seluruh umat Islam khususnya mereka yang sakit, terkena musibah, tertimpa kesulitan, maka kita pun akan mendapatkan kebaikan dan pahala dari doa kita sendiri.

Salah satu contoh doa yang diabadikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيم
“Tuhan! Beri ampun kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami; janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan! Engkau Maha Penyantun lagi Maha Pengasih.” (Al-Hasyr: 10).

Inilah lima langkah untuk membentengi dan memperkuat tali persaudaraan sesama pemeluk Islam. Persatuan tidak sebatas teori di atas kertas yang disampaikan dalam bentuk ceramah dan tulisan. Persatuan itu harus kita hadirkan dan kita wujudkan dalam bentuk membela serta kehormatan saudara-saudara kita. Kita realisasikan dengan saling memaafkan, saling tolong menolong, berbaik sangka, dan saling mendoakan. Wallaahu a’lam bis shawaab.*/Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
 

posted by @Adimin

Memberantas Hoax Dimulai dari Elit Politik

Para elit politik dan tokoh bangsa negeri ini bersama-sama bersinergi untuk memberantas hoax dengan memberi keteladanan



AKHIR zaman ditandai oleh menyebarnya banyak kebohongan, kedustaan atau hoax. Sabda nabi:

يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ، يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ، وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ
“Akan muncul di akhir zaman para Dajjal, Pembohong yang mendatangkan kepada kalian hadis-hadis yang kalian sendiri tidak pernah mendengarnya, demikian pula bapak-bapak kalian. Jauhkanlah diri kalian dari mereka dan upayakan agar mereka menjauhi kalian. Jangan sampai mereka menyesatkan kalian dan menggelincirkan kalian ke dalam fitnah.” (HR. Muslim)

Dalam hadits tersebut, disebut kata “dajjāl” dan “kadzdzāb”, yang berarti banyak berdusta, Ini menunjukkan betapa kebohongan sudah begitu massif. Sebelum dajjal asli datang, memang terdapat tanda-tanda jelas yang mengiringinya: banyak tipuan, orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang amanah dianggap khianat dan yang khianat dianggap amanah. (HR. Ahmad)

Dalam kondisi yang penuh hoax dan ketidakjelasan tersebut, muncullah orang yang disebut “Ruwaibidhah” yaitu orang yang pandir serta tidak memiliki kualifikasi keahlian tapi berbicara banyak hal yang tak dikuasinya. Akibatnya, banyak sekali orang yang disesatkan akibat ulahnya.

Di era digital seperti saat ini, khususnya dalam negeri, terlebih sejak kran kebebasan reformasi terbuka lebar, hoax laksana air bah yang menghantam jagat media. Perbedaan haluan politik atau apapun bisa melahirkan hoaxhoax yang destruktif.

Bayangkan! Misalnya, adanya bencana –seperti di Lombok dan Palu– bukan malah dijadikan evaluasi bersama untuk berbenah dan membantu saudara, malah ada yang memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi dengan menyebar berita hoax yang meresahkan masyarakat.

Persoalan ini mengimbas hampir pada segenap lapisan masyarakat. Dalam ranah sosial terjadi krisis tabayyun. Budaya asal share yang fasilitasnya tersedia di berbadai aplikasi media sosial menyeruak begitu saja tanpa ada klarifikasi. Yang penting diri, kelompok atau dukungannya senang, maka masa bodoh dengan tabayyun.

Terlebih, dalam dunia perpolitikan nasional, khususnya menjelang Pilpres, masing-masing dari kubu –bisa saja—terutama pendukung fanatic, mempro duksi hoax demi kepentingan pihak yang didukung. Ini bukan berarti semua politisi itu suka menyebar hoax, namun lebih kepada fakta di lapangan yang menunjukkan seringkali perbedaan pendapat atau pandangan dijustifikasi dengan hoax.

Kasus baru-baru ini yang mengguncang media terkait hoax aktivis bernisial RS, adalah bukti bahwa hoax begitu subur, terutama bila menyangkut masalah politik. Dari sini, penulis berpikir bahwa jika mau memberantas hoax, maka –disamping peran aktivitas individu– harus dimulaik dari para elit atau tokoh-tokoh politik. Jika mereka berada di garda depan dalam memberi keteladanan untuk tidak menyebar hoax dengan menyiapkan berbagai sarana dan prasarananya, maka masyarakat bisa meneladaninya.

Persoalan hoax ini sejatinya harus ditangani dan ditangkal secara bersama-sama. Menarik sekali apa yang ditulis oleh Lukman Hakiem dalam buku “Merawat Indonesia: Belajar dari Tokoh Peristiwa” (2017: 101, 102) Dulu, di tahun 1955, pimpinan PKI dan Masyumi bersama-sama menanggulangi berita bohong (hoax) yang berujung bentrok fisik.

Alkisah, pada tahun itu (1955) di Jawa Barat, ada orang Masyumi yang meninggal dalam keadaan yang mencurigakan. Kabar burung, desas-desus di masyarakat dengan cepat menyebar luas bahwa kematian orang Masyumi itu dikaitkan dengan oknum PKI. Ironisnya, berita yang belum tentu benar itu diekspos sedemikian oleh media yang membuat suasana semakin panas.

Menanggapi tuduhan itu, PKI langsung mengirim utusan kepada Pimpinan Masyumi Jawa Barat dan Bandung (Rusjad Nurdin dan Suriatmadja). Kemudian kedua partai ini melakukan penyelidikan bersama-sama. Ternyata, menurut petunjuk pemeriksaan awal, korban meninggal itu bukan akibat pembunuhan tapi mati normal.

Setelah diadakan tabayyun dan klarifikasi secara baik oleh para pemimpin parta politik, masalah desas-desus yang dipropagandakan media itu akhirnya bisa teratasi. Dan konflik antara pengikut keduanya pun bisa dihindarkan dengan baik.

Dari contoh sejarah itu, penulis membayangkan, jika para elit politik dan tokoh bangsa negeri ini bersama-sama bersinergi untuk memberantas hoax dengan memberi keteladanan yang baik berawal dari diri mereka sendiri, kemudian tak turut menyebarkan berita hoax demi keuntungan pribadi, lalu disediakan sarana dan prasarana anti hoax yang disosialisasikan kepada masyarakat secara berkesinambungan, niscaya hoax tak menggurita di negeri ini. Minimal, masing-masing masyarakat punya kesadaran dan filter terhadap merebaknya berita-berita hoax (bohong).

Ada pribahasa menarik terkait kebohongan yang diangkat oleh Ahmad Mahmud Faraj dalam “Belajar Bersahabat: Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan” (2013:139) yang bisa direnungkan, “Orang yang senang menyusu pada kebohongan, dia akan sulit menyapih dirinya.”*/Mahmud Budi Setiawan



 

posted by @Adimin

Presiden PKS Intruksikan Kader Optimalkan Atribut Partai untuk Kampanye

Written By NeoBee on 12 October, 2018 | October 12, 2018


Menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman mengintruksikan kepada seluruh pengurus, Anggota dan Calon Anggota Dewan untuk menyatukan potensi kekuataan partai khususnya penggunaan atribut partai dalam pelaksaanan kampanye.

Melalui Intruksi Presiden, Sohibul Iman memberikan sembilan arahan yang berkaitan dengan penggunaan atribut kampanye. Sembilan arahan tersebut adalah:

  1. Menggunakan/memakai atribut partai pada setiap hari Sabtu dan Ahad
  2. Menggunakan/memakai atribut partai bagi pengurus yang menghadiri undangan mewakili Partai
  3. Mengibarkan bendera merah putih sebanyak-banyaknya berdampingan dengan bendera PKS di kantor-kantor Partai
  4. Memasang atribut bendera PKS di setiap rumah anggota Partai
  5. Memasang atribut partai di setiap kendaraan bermotor yang dimiliki
  6. Memasang atribut partai di lingkungan sekitar rumah anggota
  7. Pemasangan atribut pada setiap event atau moment kegiatan Partai dengan pemasangan bendera, umbul-umbul atau spanduk
  8. Mengoptimalkan mobil pelayanan PKS dalam sebagai kegiatan aksi sosial maupun sebagai media iklan berjalan
  9. Menghimpun dana dalam bentuk tabungan atribut di setiap unit pembinaan

posted by @Adimin

Koordinator Relawan PKS: Terima Kasih Masyarakat Palu Barat

Written By Sjam Deddy on 09 October, 2018 | October 09, 2018


Palu (08/10) -- Koordinator Relawan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Agus Tri mengungkapkan terima kasih kepada masyarakat Kelurahan Donggala Kodi, Palu Barat, Sulawesi Tengah yang turut membantu kerja relawan.

"Terima kasih kepada masyarakat Donggala Kodi dan Palu Barat. Sungguh kami mendapati kerjasama yang luar biasa antara Relawan PKS Riau dan masyarakat di dapur umum. Tentu 1.200 porsi makanan siap santap tak akan bisa diselesaikan Relawan PKS yang ada tanpa bantuan masyarakat," ujarnya di Posko Khidmat PKS di Kelurahan Donggala Kodi, Minggu (07/10).

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengucapkan terima kasih kepada DPW PKS Provinsi Riau yang telah mengirimkan relawannya di Posko ini.

"Kepada DPW PKS Riau, terima kasih telah menempatkan Relawan di Palu. Khususnya di Posko ini. Luar biasa kerjasama Relawan di Posko ini dengan masyarakat sekitar," sambung Agus.

Dalam kunjungannya ke Posko Khidmat PKS Palu Barat, Tim Koordinator Relawan DPP PKS juga memberikan arahan kepada para relawan untuk berkhidmat di masjid-masjid di sekitar posko. (ewa)
 
posted by @Adimin

PKS Sudah Terjunkan Lebih Dari Seratus Relawan ke Sulawesi Tengah

Written By Sjam Deddy on 05 October, 2018 | October 05, 2018


Palu (04/10) -- Partai Keadilan Sejahtera terjunkan lebih dari seratus orang relawan untuk membantu korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Wilayah Dakwah (Wilda) Sulawesi DPP PKS, Aus Hidayat, Palu, Kamis (04/10/2018).

"Sampai saat ini relawan yang ada sudah sekitar 80 orang relawan di Posko Pusat dan disebar mencapai 40 relawan di Posko lainnya," terang Aus.

Menurut Aus, jumlah tersebut akan terus bertambah, mengingat masih banyaknya Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS se-Indonesia yang akan mengirimkan relawannya ke Sulawesi Tengah.

"Disini masih perlu banyak relawan. Beberapa relawan yang berasal dari berbagai wilayah sedang disiapkan untuk datang dan membantu, kader PKS siap menjadi relawan yang kompak untuk membantu masyarakat," ungkapnya.
Semangat para relawan PKS untuk membantu korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah ini, menurut Aus sejalan dengan semangat PKS yang selalu siap berkhidmat untuk masyarakat.

"Mereka (relawan) adalah kader terbaik yang bekerja membangun kembali mental rakyat Sulawesi Tengah yang runtuh karena gempa tsunami dan tanah longsor. Semangat ini sama dengan PKS yang selalu berkhidmat untuk masyarakat dan siap memenangkan partai dakwah dengan bermartabat," tutupnya.

Sementara itu pantauan di Posko Pusat DPW PKS Sulteng masih dibutuhkan beberapa bantuan logistik untuk pendirian posko.

Kebutuan logistik tersebut antara lain genset beserta alat listrik, terpal, selimut, bahan bakar minyak, makan siap saji dan bahan makanan pokok.

Kondisi stok barang-barang tersebut di kota Palu sangat langka sehingga akan dibelanjakan di lokasi sekitar Sulteng seperti Mamuju, Makasaar dan Majene.

posted by @Adimin

Delapan Arahan Presiden PKS Sambut Tahun Politik 2019

Written By neobattosai on 28 September, 2018 | September 28, 2018


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman memberikan delapan arahan khusus kepada kader dan simpatisan PKS dalam menyambut tahun politik 2019.

Presiden PKS mengharapkan setiap kader dan simpatisan PKS memiliki fokus untuk bergerak menyukseskan delapan agenda utama PKS untuk menyambut Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.

Berikut delapan arahan Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada seluruh anggota dan simpatisan PKS, memasuki tahun politik ini, saya sebagai pimpinan PKS mengingatkan dan memerintahkan 8 hal berikut ini:
  1. Peduli pada semua hal yang menjadi kebutuhan rakyat dan warga masyarakat sehari-hari. Memberi perhatian khusus pada harapan anak-anak muda dan keluarga. Memberi perhatian khusus pada apa yang diperjuangkan setiap ibu dan ayah di keluarga Indonesia.
  2. Selalu hadir di tengah rakyat dan membantu mereka memecahkan persoalan-persoalannya. Mendampingi rakyat mengakses para pembuat kebijakan dan penguasa sumber daya ekonomi.
  3. Mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesempatan kerja dan berusaha, serta kemudahan akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan dan perumahan yang layak.
  4. Memastikan setiap sen uang rakyat dan kekayaan alam Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan mencegah pemborosan.
  5. Menghindari korupsi dalam bentuk apapun dan dalam jumlah berapapun. Siapapun yang terbukti terlibat korupsi akan ditindak sesuai dengan ketentuan disiplin Partai.
  6. Mendorong tumbuhnya SDM berkualitas yang dapat bersaing di panggung nasional dan global serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha yang siap beroperasi dalam skala besar.
  1. Berpartisipasi aktif dalam menyumbang pemikiran dan keterlibatan dalam berbagai upaya pembangunan nasional dan daerah.
  2. Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat, khususnya semua kegiatan yang bertujuan meningkatkan iman, taqwa, dan akhlak mulia.
Saya meminta seluruh anggota dan simpatisan PKS untuk bersungguh-sungguh menghayati dan melaksanakan kedelapan arahan di atas.
Partai kita memang bukan Partai yang punya banyak uang, bukan Partai yang punya media dan bukan Partai yang serba ada.
Tetapi insya Allah kita tunjukkan bahwa Partai kita adalah partai yang terdepan dalam bekerja ikhlas, bekerja cerdas, bekerja keras, dan bekerja tuntas.
Kita optimistis perjuangan kita akan mengantarkan pada kemenangan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhoi cita-cita dan ikhtiar kita.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!
Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

posted by @Adimin

Mardani: PKS Siap Transparan Perihal Dana Kampanye

Written By neobattosai on 26 September, 2018 | September 26, 2018


Bogor (25/09) -- Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Seajhtera (PKS), Mardani Ali Sera mengungkapkan PKS akan terus berusaha menjadi Partai yang terbuka kepada masyarakat perihal tranparansi dan akuntabilitas dana kampanye.

"Institusionalisasi Partai Politik harus dibangun dari Integritas lembaga yang kuat dan PKS siap! itu bisa dibuktikan dari menjadi partai pertama yang melaporkan dana kampaye nya ke KPU,” kata Mardani, Selasa (25/09/2018).

Inisiator gerakan #2019GantiPresiden ini mengatakan, money politics masih menjadi masalah dalam sistem demokrasi Indonesia. Menurutnya, money politics dapat menghambat kemajuan Indonesia.

"Selama uang adalah segalanya dalam kontestasi demokrasi kita, maka jangan bermimpi Indonesia akan menjadi negara yang adil dan makmur," ujarnya.

Menurut Mardani, Partai Politik seharusnya menjadi salah satu institusi yang dapat dipercaya oleh masyarakat, diawali dengan transparansi dan akuntabilitas dana kampanye.

"Salah satu prinsip utama demokrasi adalah masalah akuntabilitas dan tranparansi keuangan dana kampanye. PKS akan selalu mengupdate dana kampanye dan dana bantuan politik setiap tahunnya di website www.pks.id," lanjutnya.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini juga menjelaskan, PKS juga telah bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membahas tentang pelaporan dana kampanye Partai. Mardani berharap, hal ini dapat membawa perbaikan dalam sistem demokrasi Indonesia kedepan.



posted by @Adimin

Jangan Sampai Perbedaan Politik, Membuat Persatuan Tercabik

Written By neobattosai on 18 September, 2018 | September 18, 2018

Ironis hanya karena Pilpres lima tahunan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut

 

MELIHAT polarisasi anak bangsa yang begitu tajam menjelang Pilpres 2019, perlu ada upaya serius baik dari pemerintah maupun rakyat untuk saling bekerja sama untuk menyejukkan suasana. Sedianya, pilihan politik dalam demokrasi merupakan perbedaan lumrah, namun menjadi tak wajar ketika perbedaan tersebut menjadi kontraporduktif sehingga bisa mencabik-cabik persatuan anak bangsa.

Suasana yang memanas ini, bisa dilihat di jagat media. Pilpres baru berlangsung pada tahun 2019, namun panasnya sudah sampai saat ini. Melalui media sosial, masing-masing kubu membela mati-matian pasangan yang dibela. Seolah kubu A, pasti benar dan harus dibela mati-matian; sementara kubu lain pasti salah dan harus dihujat dan dibully sedemikian rupa demi kemenangan pasangan yang diusung; demikian juga sebaliknya.

Bila pembaca ditanya: bila dilihat dari skala prioritas bangsa-negara, kepentingan mana yang jauh lebih utama dan diperjuangkan antara Pilpres lima tahunan (yang pada realitanya menimbulkan riak-riak  perbedaan tajam yang bisa menggerus persatuan) atau persatuan dan kesatuan anak bangsa? Tentu saja, semua menginginkan keduanya tak perlu dinegasikan. Idealnya hajatan Pilpres walaupun berbeda-beda pilihan tetap dalam kondisi sejuk dan damai.

Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin situasi tetap aman terkendali, sehingga tak merusak kesatuan dan kerukunan? Mau tidak mau, masing-masing dari kita sebagai anak bangsa (baik pemerintah maupun rakyat) mempunyai andil dan peran untuk mengkondisikannya. Ketika melihat fenomena-fenomena yang mengarah pada perpecahan, maka segera diatasi dan dicari solusinya agar tidak menyebar luas.

Jangan sampai sejarah pilu yang merenggut persatuan anak bangsa terulang kembali hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda. Contoh berikut, yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Bambang Pranowo dalam “Memahami Islam Jawa” (2011: 311-326) pada kasus di Tegalroso sebelum meletus G30S-PKI. Di daerah ini, ada tiga partai politik yang membuat penduduk terpolarisasi dengan tajam: PNI, PKI dan NU.

Polemik dan konflik antar-penduduk yang terjadi di desa ini, hampir sama dengan kondisi saat ini di jagat media yang menggambarkan perbedaan yang begitu meruncing. Bagi pendukung NU kala itu, PKI dianggap sebagai partai atheis. Bagi PKI, partai NU dianggap terlalu memperdulikan masalah keagamaan dan tidak ada program-progam konkret buat rakyat. Sementara PNI dianggap sebagai partainya priyayi. NU dan PNI pun walau relatif stabil hubungannya, tetap juga pernah saling sindir dan nyinyir.

Pak Sutar, salah satu orang bekas PKI yang diwawancarai Dr. Bambang mengatakan kondisi saat itu, “Kita sudah tersedot ke dalam situasi di mana kita, satu sama lain, saling memandang sebagai musuh. Orang PKI melihat anggota PNI dan NU sebagai pembela tuan tanah. Orang PNI melihat orang PKI sebagai kelompok anti-nasional yang berkiblat ke Peking dan Moskow. Sementara anggota NU menganggap orang PKI sebagai orang yang anti agama.”

Perbedaan tajam ini, yang banyak disebabkan membabi buta pada partai yang dijunjung, tak jarang menimbulkan konflik fisik. Pada tahun 60-an, Pak Alip, seorang aktivis Ansor mengenang keterlibatannya saat bentrok fisik dengan PKI. Di desa Pucang, enam bulan sebelum meletus G30S-PKI di Indonesia, digelar rapat terbuka PKI. Dalam acara itu, ada salah satu anggota PKI yang menyitir ayat Al-Qur`an sesuai dengan kepentingan politik mereka. Akibatnya, bentrok fisik tak terelakkan. Dan akhirnya dibubarkan polisi.

Terlepas dari perbedaan tajam yang kemudian berbuntut keretakan persatuan itu, kalau  dilihat dari penuturan masing-masing pendukung partai –yang diwawancarai oleh Dr. Bambang—ada fakta unik yang sebenarnya bisa mereka gunakan untuk menjaga persatuan di antara mereka. Mereka mayoritas muslim (meski PKI sekalipun). Bahkan, PNI yang dianggap kurang peduli agama, mendirikan Djami’atul Muslimin Indonesia (DMI) sebagai wadah untuk untuk mereka yang ingin tumbuh sebagai orang muslim dan mereka juga tetap sembahyang.

Warga yang ikut PKI sekalipun jangan dikira paham dan mengerti hakikat ideologi PKI. Sebagaimana penuturan Pak Sutar tadi, memilih PKI hanya sebagai pertimbangan pragmatis rakyat kecil yang ingin perubahan konkret. Meski Islam mereka abangan, tapi tetap Islam. Bahkan, mereka tak tahu-menahu tentang kudeta PKI pada 1965. Meski begitu, mereka harus menelan pil pahit: disiksa dan dipenjara pesca G30S-PKI.

Penulis yakin, setelah membaca wawancara Prof. Bambang mengenai perbedaan yang terjadi di desa Tegalroso,  jika di antara mereka lebih mengedepankan prinsip tabayyun, menjaga kesejukan, menjalin komunikasi yang baik, saling bertukar gagasan ideal untuk kepentingan yang lebih luas, tidak fanatis dan membabi-buta terhadap partai yang didukung serta menjadikan persatuan sebagai prioritas, maka perbedaan haluan politik di antara mereka yang kemudian menimbulkan konflik yang kontraproduktif bagi persatuand an kesatuan, tak akan terjadi.

Mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut, di era digital ini, bertepatan dengan hajatan Pilres 2019 mendatang, alangkah indahnya jika perbedaan-perbedaan itu tak sampai mencabik persatuan. Perbedaan dikelola untuk menuangkan gagasan dan ide terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mengolok-ngolok pihak lain. Sehingga, tak muncul lagi istilah “cebong”, “kampret” dan lain-lain di jagat media yang bisa merusak persatuan.

Di situasi semacam ini, kita benar-benar membutuhkan sosok pemersatu, penyejuk, pendamai, peredam. Laksana Nabi Muhammad ﷺ yang tak jemu membangun dan mengupayakan spirit persatuan di kalangan Muhajirin dan Anshar yang selalu diadudomba oleh orang-orang munafik.

Kita sudah sama-sama maklum mengenai pribahasa, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Namun, menjadi sangat ironis jika hanya karena Pilpres lima tahunan, lantaran tak dapat mengola perbedaan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut, yang pada gilirannya rawan ditunggangi oleh orang-orang yang berkepentingan.*/Mahmud Budi Setiawan




posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger