Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
September 05, 2014
Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam lakukan ketika memanggil Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. “Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam memanggilku : ‘Wahai pemilik dua telinga’ (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059).
Namun, kala dewasa ternyata dari candaan ringan itu Anas Radhiyallahu Anhu benar-benar mampu menggunakan telinganya sebagai alat penerima pesan penting dari apa yang Rasulullah ucapkan. Jadi, tidak heran jika Anas menjadi sahabat yang termasuk banyak meriwayatkan hadits.
posted by @Adimin
Wahai Ayah, Bermainlah Bersama Anak-Anakmu
Written By Sjam Deddy on 05 September, 2014 | September 05, 2014
Rasulullah di tengah kesibukannya memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak
SEORANG ayah memang memiliki tanggung jawab
nafkah bagi keluarga, sehingga wajar jika umumnya para ayah sangat
sedikit memiliki waktu di rumah. Apalagi yang tinggal di kota besar
seperti Jakarta, Surabaya dan lainnya. Tentu selain sedikit, mungkin
kondisi fisik kala di rumah sudah sangat lelah.
Namun demikian, seorang ayah tidak boleh terbawa keadaan. Ada satu
kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan yang dipesankan Nabi Muhammad
Shallallahu Alayhi Wasallam, terutama ketika anak-anak masih balita.
Yakni bermain bersama anak-anak.
Sekalipun terkesan sederhana, jika tidak disadari dengan baik,
seorang ayah akan sangat kecil kemungkinan mengagendakan waktunya
bermain bersama anak-anak. Padahal, bermain bersama anak-anak, terutama
kala balita sangat baik untuk menguatkan hubungan bathin antara ayah dan
anak.
Tauladan Rasulullah
Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam sendiri di tengah kesibukannya
memimpin umat masih menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak.
Suatu riwayat menyebutkanRasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam
menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya
Al-Abbas Radhiyallahu anhu, untuk berbaris lalu berkata, “Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”
Anak-anak itu pun bergegas berlomba-lomba menuju beliau, kemudian
duduk di pangkuan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam, lalu
Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.
Dengan demikian para ayah jangan sampai tidak mengagendakan waktunya
untuk bermain bersama putra-putrinya. Tidak mesti ke taman bermain
sebagaimana umumnya orang melakukannya. Cukup di rumah saja; dengan
bermain kuda-kudaan, kejar-kejaran atau pun sekedar berjalan-jalan di
sekitar rumah sambil mengenalkan anak pada lingkungan sekitar.
Mengubah Emosi
Selain itu, bermain bersama anak bisa mengubah emosi anak. Misalnya,
seorang anak marah karena mainannya dipinjam oleh adik atau kakaknya.
Kemudian dia menjadi rewel dan mencari perhatian. Dalam kondisi itu
bermain bisa membuat emosi anak berubah seketika.
Ajak saja anak untuk berlari-lari, atau bersama anak masuk dalam
selimut untuk menutup badan bersama. Atau dengan bermain apa yang
disukai sang anak, insya Allah anak akan segera terpancing untuk ikut
bermain dan merelakan apa yang sebelumnya membuatnya tidak nyaman.
Tidak Monoton
Seorang ayah yang memiliki kebiasaan bermain dengan anak-anaknya akan
memiliki kemampuan komunikasi yang luwes, sesuai dengan tabiat
anak-anak. Tidak kaku sebagaimana orang dewasa. Hal ini tentu akan
sangat menyenangkan hati anak-anak.
Seperti yang Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam lakukan ketika memanggil Anas bin Malik Radhiyallahu anhu. “Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam memanggilku : ‘Wahai pemilik dua telinga’ (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/127, Abu Dawud dalam sunannya no. 4994, at-Tirmidzi dalam sunannya no. 2059).
Di sini tentu sangat menarik apa yang dilakukan oleh Rasulullah
Shallallahu Alayhi Wasallam. Bagaimana cara beliau bermin-main dengan
bercanda dengan memanggil Anas dengan sebutan ‘pemilik dua telinga.’
Tentu panggilan semacam itu sangat aneh dan mengundang kelucuan, sebab bagaimana mungkin Anas tidak memiliki dua telinga.
Namun, kala dewasa ternyata dari candaan ringan itu Anas Radhiyallahu Anhu benar-benar mampu menggunakan telinganya sebagai alat penerima pesan penting dari apa yang Rasulullah ucapkan. Jadi, tidak heran jika Anas menjadi sahabat yang termasuk banyak meriwayatkan hadits.
Jika para ayah mau meluangkan waktu bermain bersama anak-anaknya,
insya Allah anak-anak tidak akan merasa ‘gerah’ apalagi sampai tidak
betah berada di rumah. Ia akan senang dan nyaman di rumah bersama ayah
yang suka mengajaknya bermain.
Dan, dalam kondisi seperti itu, insya Allah anak lebih siap mendengar
nasehat dan lebih bisa merasuk dalam qalbunya. Seperti yang Rasulullah
Shallallahu Alayhi Wasallam teladankan kepada Anas Radhiyallahu Anhu.
Jika demikian, kenapa tidak kita lakukan?
Wallahu A’lam.*
Imam Nawawi
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
September 04, 2014
posted by @Adimin
Hidayat Janji Rakyat Tak Kecewa Pilih Anggota Dewan Dari PKS
Written By Sjam Deddy on 04 September, 2014 | September 04, 2014
Partai Keadilan
Sejahtera akan membekali seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat provinsi dan
kota/kabupaten dengan pengetahuan bidang legislasi, anggaran dan
pengawasan sesuai tugas utama anggota dewan.
Selain itu, para anggota dewan terpilih tersebut juga akan diminta menandatangani pakta integritas. Demikian disampaikan Ketua Bidang Kebijakan Publik Dewan Pengurus Pusat (BKP DPP) PKS, Hidayat Nur Wahid dalam keterangan pers tertulisnya di Jakarta, Senin (1/9).
"Materi sudah dipersiapkan dan panitia sudah dibentuk. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memaksimalkan potensi amanat bangsa yang sudah diberikan kepada PKS," kata Hidayat.
Acara akan diikuti 40 Anggota DPR terpilih, 160 Anggota DPRD tingkat Provinsi, dan 1.017 Anggota DPRD tingkat Kota/Kabupaten. Digelar pada Minggu ketiga di bulan September. Hidayat berharap dengan adanya acara ini, PKS bisa menghasilkan anggota dewan yang lebih berkualitas.
"Saya harap para peserta nantinya bisa melaksanakan perannya dengan lebih baik lagi, menghadirkan demokrasi yang lebih berkualitas, dan dakwah yang lebih berkualitas," ujar Hidayat.
Selain pembekalan mengenai tugas-tugas kedewanan, akan ada penandatanganan pakta integritas. Pakta Integritas, ujar Hidayat yang juga Ketua Fraksi PKS DPR ini, akan mewajibkan anggota DPR/D dari PKS untuk bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat, serta menghindarkan diri dari perilaku korupsi.
"Sebenarnya soal tersebut sudah diatur, namun pakta integritas ini untuk menegaskan kembali komitmen anggota dewan PKS untuk bekerja sungguh-sungguh untuk rakyat dan tidak korup," tambah Hidayat.
Dengan suksesnya pembekalan dan penandatanganan pakta integritas untuk anggota legislatif dari PKS ini, diharapkan dapat membawa manfaat bagi semua elemen bangsa.
"Semoga acaranya sukses dan membawa berkah bagi bangsa Indonesia. PKS ingin membuktikan kualitas anggota dewannya di pusat maupun di daerah. Kami tidak ingin membuat masyarakat menyesal telah memilih anggota dewan dari PKS," pungkas Hidaya
Selain itu, para anggota dewan terpilih tersebut juga akan diminta menandatangani pakta integritas. Demikian disampaikan Ketua Bidang Kebijakan Publik Dewan Pengurus Pusat (BKP DPP) PKS, Hidayat Nur Wahid dalam keterangan pers tertulisnya di Jakarta, Senin (1/9).
"Materi sudah dipersiapkan dan panitia sudah dibentuk. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memaksimalkan potensi amanat bangsa yang sudah diberikan kepada PKS," kata Hidayat.
Acara akan diikuti 40 Anggota DPR terpilih, 160 Anggota DPRD tingkat Provinsi, dan 1.017 Anggota DPRD tingkat Kota/Kabupaten. Digelar pada Minggu ketiga di bulan September. Hidayat berharap dengan adanya acara ini, PKS bisa menghasilkan anggota dewan yang lebih berkualitas.
"Saya harap para peserta nantinya bisa melaksanakan perannya dengan lebih baik lagi, menghadirkan demokrasi yang lebih berkualitas, dan dakwah yang lebih berkualitas," ujar Hidayat.
Selain pembekalan mengenai tugas-tugas kedewanan, akan ada penandatanganan pakta integritas. Pakta Integritas, ujar Hidayat yang juga Ketua Fraksi PKS DPR ini, akan mewajibkan anggota DPR/D dari PKS untuk bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat, serta menghindarkan diri dari perilaku korupsi.
"Sebenarnya soal tersebut sudah diatur, namun pakta integritas ini untuk menegaskan kembali komitmen anggota dewan PKS untuk bekerja sungguh-sungguh untuk rakyat dan tidak korup," tambah Hidayat.
Dengan suksesnya pembekalan dan penandatanganan pakta integritas untuk anggota legislatif dari PKS ini, diharapkan dapat membawa manfaat bagi semua elemen bangsa.
"Semoga acaranya sukses dan membawa berkah bagi bangsa Indonesia. PKS ingin membuktikan kualitas anggota dewannya di pusat maupun di daerah. Kami tidak ingin membuat masyarakat menyesal telah memilih anggota dewan dari PKS," pungkas Hidaya
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
September 04, 2014
Tapi apa hasilnya?
posted by @Adimin
Janganlah Seorang Berilmu seperti Himar
Ilmu itu dicap tak berguna, kalau akhlak pemiliknya tak seindah gelar
akademik yang disandang. Pengetahuan akan menjadi bumerang sekiranya
hatinya kian gelisah ketika ibadah
SUATU kali aku pernah mengunjungi Perpustakaan
Kongres, di kota Washington, Amerika. Di sana aku menjumpai tumpukan
buku hingga berbilang ratusan ribu jumlahnya. Semuanya tersedia. Dari
berbagai disiplin dan spesialisasi ilmu. Segalanya ada, hingga ke
literatur-literatur dan manuskrip-manuskrip kuno dari setiap generasi
dan lapisan masyarakat.
Ia juga menampung buku-buku yang terkait dengan seluruh agama, kebudayaan dan peradaban manusia.
Tapi apa hasilnya?
Rupanya bangsa Amerika yang seringkali berbangga dengan sebutan
Perpustakaan Terbesar di dunia itu tetaplah sebagai bangsa yang kafir
kepada Allah. Demikian dikisahkan Syeikh Aidh al-Qarni dalam karya
monumentalnya La Tahzan (Jangan Bersedih). Kisah ini ia sebutkan dalam Bab “Ilmu Bermanfaat dan Ilmu yang Mudharat”.
Ilmu bagi orang beriman adalah sebatas alat atau wasilah (sarana).
Ilmu bukan tujuan akhir yang membuat seorang Muslim lalu puas dan merasa
aman setelah meraihnya. Ibarat sebilah pisau tajam. Pisau itu
bermanfaat baik ketika dipakai untuk menyembelih hewan qurban.
Sebaliknya, ia berubah buruk, jika digunakan untuk sebuah perbuatan dosa dan kemaksiatan.
Sejatinya, tak ada yang keliru ketika seseorang berlomba-lomba
menuntut ilmu setinggi-tingginya. Hal itu bahkan menjadi perintah
mendasar dalam syariat Islam.
Amalan itu bisa benar jika ada ilmu yang menyertainya. Kira-kira
seperti itu maksud Muhammad bin Ismail bin al-Mughirah alias Imam
al-Bukhari, ketika merumuskan klasifikasi penyusunan hadits-haditsnya.
Salah satunya ialah bab “al-Ilmu Qabla al-Qaul wa al-Amal” (Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan).
Al-Qur’an juga memberi isyarat demikian. Adalah perintah (iqra) yaitu
“membaca” menjadi landasan wahyu pertama yang turun kepada Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Selanjutnya Allah berfirman;
يَا أَيّ يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“… Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah [58]: 11).
Ilmu itu disanjung ketika selaras dengan akhlak dan laku pemiliknya.
Ilmu itu mulia ketika berhasil medekatkan dirinya kepada Sang Pencipta
alam semesta. Allah bahkan tak segan mengangkat derajat kemuliaan orang
tersebut jika ia berhasil mengawinkan antara iman, ilmu, dan amal shalih
tersebut. Ia layak bergelar alim atau ulama, andai ketinggian ilmunya
sukses menjadikan ia kian rendah dan merasa takut di hadapan Zat Yang
Mahatinggi.
Lalu di mana celah keburukan ilmu itu? Inilah soalannya. Jika
pengetahuan yang sedikit itu justru membuatnya melambung dan berlaku
sombong kepada sesama. Memandang rendah orang lain atau menolak
kebenaran jika hal itu tak sesuai dengan “selera” dan keinginannya.
Ilmu itu berbalik makna, jika ia mengaku banyak ilmu tapi rupanya beramal shaleh sedikit saja.
Ilmu itu dicap tak berguna, kalau akhlak pemiliknya tak seindah gelar akademik yang disandang di belakang namanya.
Pengetahuan malah menjadi bumerang sekiranya hatinya kian gelisah
ketika ibadah. Fikirannya makin menyimpang dan perbuatannya makin jauh
dari tuntunan agama itu sendiri.
Layaknya seekor himar (keledai), binatang itu sibuk
mondar-mandir dengan tumpukan kitab di atas punggungnya. Tapi semua itu
tak bernilai sedikitpun. Kecuali semata-mata menanggung beban yang kian
berat. Ia pandai dan berilmu tapi ia tak mendapat manfaat kecuali
ancaman siksa di hari Kiamat kelak.
Seperti itu Allah mengisyaratkan;
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا
كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ
الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
الظَّالِمِينَ
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat,
kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa
kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang
mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang zalim.” (Surah al-Jumuah [62]: 5).
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima
Masykur Abu Jaulah
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
August 30, 2014
Untukmu Anggota Dewan (PKS)
Terbanglah..terbang..
Menyibak angin membelah langit
Jadilah kuat dan menguatkan
Jadilah besar dan membesarkan
Hotel mewah yang bakal kau singgahi
Adalah tanah becek perkampungan
tempat kami menebar brosur menawarkan nama
AC-nya yang dingin...
Tak sedingin malam yang pernah kami lewati
Ketika memasang spanduk bergambar wajahmu
Oh !.berpaculah bagai kuda perang
Jangan takut menyampaikan kebenaran
Jangan ketiduran di medan perjuangan
Oh !..melesatlah jauh laksana anak panah
Sejauh sampai menuju sasaran
Tapi jangan lupa pulang
Biarlah kami disini menunggumu dalam rindu
Sekedar mengenang kisah kita dahulu
Oleh: Antho Bandara
posted by @Adimin
Untukmu Anggota Dewan (PKS)
Written By Anonymous on 30 August, 2014 | August 30, 2014
Untukmu Anggota Dewan (PKS)
Terbanglah..terbang..
Menyibak angin membelah langit
Jadilah kuat dan menguatkan
Jadilah besar dan membesarkan
Hotel mewah yang bakal kau singgahi
Adalah tanah becek perkampungan
tempat kami menebar brosur menawarkan nama
AC-nya yang dingin...
Tak sedingin malam yang pernah kami lewati
Ketika memasang spanduk bergambar wajahmu
Oh !.berpaculah bagai kuda perang
Jangan takut menyampaikan kebenaran
Jangan ketiduran di medan perjuangan
Oh !..melesatlah jauh laksana anak panah
Sejauh sampai menuju sasaran
Tapi jangan lupa pulang
Biarlah kami disini menunggumu dalam rindu
Sekedar mengenang kisah kita dahulu
Oleh: Antho Bandara
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 30, 2014
Ba’da salam, tahmid wash shalawat.
posted by @Adimin
[Catatan Humas Dewan PKS] Dear Legislators
Ba’da salam, tahmid wash shalawat.
Yang kami hormati unsur DPP - Wilda Sumatera yang insyaallah akan segera hadir. Para ustadz ustadzah anggota dewan terpilih maupun khususnya yang telah dilantik. Para ustadz ustadzah yang berkenan hadir dalam forum ini. Sebelumnya terimakasih atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan pentingnya humas bagi aleg-anggota legislatif/ dewan.
Sesi ini perlu terus diingatkan bahwa humas sangat penting bagi anggota dewan. PR –Public Relation – humas yang cakupannya bukan hanya kliping koran atau –konyolnya – tukang antar surat, tapi humas yang mencoba menjadi jembatan informasi antara anggota dewan dengan stakeholders yang kepadanya ia harus melakukan komunikasi.
***
Jika kebutuhan untuk branding agak kelewat advance untuk dipahami, mari kita mulai terlebih dulu dari yang lebih praktis, yaitu bagaimana membangun komunikasi.
Kemarin, via whatsapp kami mengadakan survei kecil-kecilan persepsi kader tentang anggota dewan PKS. Pertanyaannya hanya 3. Pertama, apa persepsi yang tertangkap jika mendengar kata “anggota dewan PKS?”. Kedua, apakah persepsi tsb muncul karena – pilih salah satu: a. Kenyataannya memang demikian. Anda tahu betul keadaannya memang begitu, atau b. Sekedar mengira-ngira. Sejatinya tidak punya informasi yang cukup.
Untuk pertanyaan kedua ini – seperti diduga – sebagian besar menjawab b. Mereka tidak punya cukup informasi . Ketiga, apakah mereka setuju jika fraksi/anggota dewan PKS membangun komunikasi yang lebih intens dengan kader? Jika ya, apa saja bentuk perangkat komunikasi anggota dewan PKS dengan kader yang paling efektif. Saran-saran terkait poin ketiga ini luar biasa. Ada yang bahkan minta update harian via online dari para anggota dewan PKS se-Lampung.
Merujuk sepanjang 5 tahun yang lampau, kader yang kami survei menyatakan sepertinya ada keengganan, sepertinya, dari anggota dewan kita untuk berkomunikasi atau menyampaikan apa yang telah ia kerjakan kepada kader maupun publik. Sekali lagi ini mungkin asumsi yang tidak bisa gebyah uyah, tapi kita patut beranjak dari sini.
Mengapa enggan membangun komunikasi?
Mengapa masih muncul persepsi bahwa anggota dewan cenderung enggan membangun komunikasi dengan publik maupun kader? Ada tiga kemungkinan yaitu pertama, secara individual masih ada anggota dewan yang perlu di-upgrade dalam hal kemampuan berkomunikasi terutama dengan publik. Mengingat banyaknya sarana bimtek dsj, tentu upgrade kemampuan komunikasi publik – secara individual – bukan sesuatu yang terlalu rumit dilakukan anggota dewan. Secara praktis, kerja-kerja komunikasi publik juga dapat terbantu dengan menghire staf atau asisten yang punya kemampuan membuat rilis dan mengelola media sosial.
Kedua, korelasi antara keterbukaan dengan akses publik dan akuntabilitas. Alasan ini agaknya perlu digarisbawahi. Jadi, enggan membangun komunikasi bukan karena tidak mampu berkomunikasi, namun kuatir semakin besar akses publik pada ujungnya membuat tanggungjawabnya lebih besar. Kuatir ia lebih “mudah diganggu”. Namun toh, bukankah anggota dewan memang pejabat publik? Bukankah berkomunikasi dengan publik adalah sesuatu yang niscaya? Dapat terpilihpun tentu karena membangun komunikasi dengan masyarakat.
Ketiga, alasan keamanan dan strategi. Tentu saja tidak semua hal perlu disampaikan ke publik pun kader. Hal-hal yang strategis dan cenderung ‘berbahaya’ jika dipublikasi, tentu saja harus disimpan baik-baik. Benar bahwa humas bukan hanya bermakna bicara, sebar, dan sampaikan, namun juga harus pandai memilah mana yang tidak boleh dibicarakan, disebarkan, dan disampaikan.
Yang jadi soal jika semua hal terkait dewan menjadi top secret :D ... Sedangkan di sisi lain ada kader yang minta diberi info kegiatan dewan setiap pekan sebagaimana taklimat tarbawi :DD ... Ini tentu dua ekstrim yang berlebihan. Frekuensi bisa disepakati tri wulanan, atau semesteran, atau minimalisnya tahunan. Merujuk salah seorang al-akh yang menjawab survei kami, “Jangan sampai, sudah lima tahun begitu kami mau direct selling‘menjual’ anggota dewan, kami tidak tahu apa-apa karena memang tidak pernah menerima informasi tentang dewan yang mau diperjuangkan.”
Memilih untuk tidak mau berkomunikasi sudah menjadi bentuk komunikasi itu sendiri.
Demikianlah. Pilihan untuk tidak mau berkomunikasi justru menjadi sarana ampuh untuk mengomunikasikan bahwa memang “anggota dewan PKS sama saja dengan anggota dewan yang lain”. Publik secara sederhana membuat kesimpulan karena tidak ada diferensiasi pada anggota dewan PKS. “Kami sudah bekerja 5x lebih keras, mengapa masih dianggap sama saja dengan yang lain?” Sederhana, karena anggota dewan PKS enggan – atau tidak sempat? atau beranggapan tidak penting – untuk mengomunikasikan perbedaannya. Mohon maaf jika asumsi ini salah.
***
Titik Nadir Jembatan Informasi Dewan-Kader
Anggota dewan PKS setidaknya harus membangun komunikasi dengan 6 pihak yaitu (1) mitra – pemerintah maupun swasta, (2) tim intra fraksi (F-PKS) dan struktur partai, (3) anggota dewan lintas partai, (4) kader, (5) konstituen, dan (6) publik [dengan tidak mengurangi rasa hormat dan menafikan komunikasi dengan istri/suami/keluarga anggota dewan yang tentu juga sangat penting. Upaya menghadirkan istri/suami anggota dewan dalam pembekalan dewan kali ini pun patut diapresiasi).
Anggota dewan – terutama para petahana – tentu sangat mafhum dan lebih fasih soal bagaimana berinteraksi dengan keenamstakeholder tersebut. Terkait humas dewan, mari kita lebih merujuk pada komunikasi antara anggota dewan PKS dengan 3 unsur terakhir yaitu kader, konstituen, dan publik.
Ada pengalaman menarik ketika menemani beberapa akhwat direct selling (DS) di kampanye pemilu legislatif yang lalu. Jadi ada seorang bapak yang protes dengan menyebut dua anggota dewan kota dan seorang anggota dewan provinsi (dari PKS) yang saya sangat tahu bahwa yang beliau tuduhkan tidak benar. Paling tidak saat itu, sepanjang yang saya mampu jelaskan, saya bisa membela para anggota dewan yang disebut-sebut.
Tapi mari bayangkan ikhwan akhwat kita terjun DS lima tahun yang akan datang. Apakah mereka bisa berargumen dengan kondisi yang sama, yang didasari kepahaman karena memiliki informasi tentang para anggota dewan PKS sehingga bisa memberikan pembelaan? Dengan minimnya pemahaman akan pribadi maupun kinerja dewan, tentu sulit bagi kader untuk all out memperjuangkan anggota dewannya.
Hasil pemilu legislatif 2014 semakin membuktikan bahwa kader adalah mata tombak paling tajam pemenangan pemilu. Membangun optimisme bahwa kader pasti berhusnudzon dengan para qiyadah dan berharap mereka habis-habisan memperjuangkan anggota dewannya, namun tanpa bekalan info yang cukup, tentu amat naif.
Kader harus menjadi titik tekan bagaimana seharusnya humas dewan berperan. Ke depan, amat sangat dibutuhkan jembatan informasi berkala antara anggota dewan di semua level dengan kader. Ketika kader tahu bahwa anggota dewan sungguh-sungguh bekerja dan bersedia membuka jalur komunikasi, maka segala zhon tentang rumah baru, mobil baru, dsj insyaaLLah menjadi tidak relevan lagi. InsyaaLLah.
Dengan konstituen dan publik, anggota dewan perlu mengombinasikan seluruh sarana komunikasi baik tatap muka, media massa konvensional, maupun media sosial. Sarana komunikasi yang paripurna 360°. Sekedar catatan khusus tentang relasi anggota dewan PKS dengan pers, amat disayangkan jika di periode mendatang masih ada anggota dewan yang alergi berhubungan dengan pers/wartawan dengan alasan apapun termasuk alasan bahwa berita media massa tidak punya efek terhadap pemerolehan suara.
Belajar dari hantaman sepanjang 2013-2014 termasuk yang bertubi-tubi via media, di periode 2014-2019 ini hoping for the best but expecting the worst, kita tak berharap ada isu yang negatif keluar dari anggota dewan – pun pejabat publik PKS lainnya. Namun apabila kemudian ada yang negatif yang keluar dari pejabat publik kita, setidaknya kita sudah tahu harus melakukan apa. Jika perlu ada pelatihan mengelola isu negatif berdampingan dengan pelatihan humas lainnya.
Khatimah
Anggota dewan memang salah satu elemen saja dalam partai dakwah ini, namun ia masih merupakan etalase partai. Jika seluruh kader diposisikan sebagai humas, maka sesungguhnya anggota dewan PKS menempati posisi bersisian dengan pimpinan partai dalam hal representasi humas partai, bukan semata Ketua Bidang Humas :D. Anggota dewan sejatinya adalah humas partai itu sendiri.
Fungsionalisasi humas anggota dewan PKS – sebagaimana pemenuhan indikator kinerja dewan lainnya – secara ideal hendaknya diback-up oleh struktur. Idealnya, setiap fraksi PKS memiliki staf khusus yang menjalankan fungsi sebagai humas. Minimal fungsi-fungsi kehumasan dewan bisa dititipkan pada asisten/staf. Jangan sampai ada keraguan lagi bahwa anggota dewan PKS harus membangun komunikasi dengan publiknya.
Tentu masih bergelayut semua harapan pada anggota dewan. Namun saya setuju bukan saatnya lagi menambah beban anggota dewan dengan harapan-harapan yang hiperrealitas, harapan-harapan yang melampaui kemampuan anggota dewan untuk memenuhinya. Saatnya anggota dewan dibantu untuk dapat menggenapkan muwashofatnya dengan baik dan kelak mengakhiri amanahnya dengan husnul khotimah.
Wallahu ‘alam.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 30, 2014
PKS Ultimatum Anggota Dewan Terpilih
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memberikan waktu 3 bulan bagi anggota dewan terpilih untuk beradaptasi dengan tugas-tugas kedewanan. DPP PKS meminta anggota dewan terpilih dari PKS sudah bekerja secara maksimal pada Januari 2015.
posted by @Adimin
Hal itu disampaikan wakil ketua DPP PKS Wilda Sumatera Idris Luthfi pada konsolidasi struktur dan pembekalan anggota legislatif PKS periode 2014-2019 di Banda Aceh, Sabtu (30/08/2014).
Idris meminta anggota DPR Aceh dan kabupaten/kota yang sudah dilantik maupun yang akan dilantik dalam waktu dekat untuk terus belajar. PKS sendiri diakuinya akan terus membekali aleg-aleg terpilih agar mampu bekerja maksimal pada periode mendatang, menurutnya pembekalan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas anggota dewan.
“Untuk PKS Aceh ini adalah pembekalan pertama mereka sebagai Aleg, sebelumnya juga sudah dilakukan pembekalan saat masih bestatus caleg, pembekalan-pembekalan ini akan terus berlanjut, sehingga setiap anggota dewan memahami fungsinya”kata Idris.
Ia menambahkan membaiknya kinerja dari anggota dewan PKS akan berdampak pada pemilu berikutnya, menurutnya jika masyarakat puas dengan kinerja anggota dewan dari PKS maka PKS akan lebih mudah menatap pemilu mendatang, oleh sebab itu ia meminta agar anggota dewan terpilih dari PKS untuk menampilkan prestasi yang baik untuk kepentingan masyarakat Aceh.
Idris mengingatkan anggota dewan terpilih dari PKS di provinsi Aceh untuk menjaga jati diriya dan memahami betul fungsi mereka sebagai politisi yang juga akan mendapatkan amanah-amanah yang lebih besar kedepan, seperti calon Walikota, bupati bahkan calon gubernur, “Jadi menjadi anggota dewan ini bukan akhir dari karir mereka”lanjut Idris yang juga anggota DPR RI ini.
PKS Aceh bahas Koalisi untuk DPRA
Sementara itu ketua DPW PKS Aceh H. Ghufran Zainal Abidin mengatakan anggota dewan PKS dari seluruh Aceh yang terpilih pada pemilu legislatif 9 April lalu berjumlah 29 orang yang terdiri dari anggota DPRK di 23 kabupaten kota berjumlah 24 orang, DPR Aceh 4 orang dan DPR RI 1 orang.
“Anggota dewan terpilih ini sebagian besar merupakan wajah-wajah baru, tapi sebagian lainnya adalah incumbent, sebagian mereka ada yang sudah dilantik dan ada yang sedang menunggu pelantikan”ujar anggota DPR Aceh ini.
Ghufran menambahkan PKS Aceh sendiri saat ini sedang menjalin komunikasi dengan partai politik lainnya di DPR Aceh dalam rangka membentuk fraksi setelah pelantikan pada September mendatang, mengingat jumlah anggota dewan PKS di DPRA yang berjumlah 4 orang tidak cukup untuk membentuk satu fraksi penuh.
“Satu fraksi kalau di DPRA minimal 7 orang, sebelumnya kita fraksinya gabungan dengan PPP, dan saat ini juga sudah ada pembicaraan untuk melanjutkan fraksi PPP-PKS ini untuk periode berikutnya”ujar Ghufran.
Sama hal nya dikabupaten/kota, Ghufran mengatakan aleg-aleg PKS akan berkoalisi dengan partai lain, kecuali untuk kota Banda Aceh Aceh yang bisa membentuk satu fraksi penuh, “Jadi jumlah anggota dewan kita bervariasi, ada yang satu orang, ada yang empat orang. Ada daerah yang kita berkurang jumlah anggota dewannya dari periode sebelumnya tapi ada juga yang bertambah”jelasnya.[dm/humas pks aceh]
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 29, 2014
posted by @Adimin
Sosok Suhardi Bagi Anis Matta
Written By Sjam Deddy on 29 August, 2014 | August 29, 2014
Presiden Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) mengatakan bahwa almarhum Suhardi pantas jadi
tauladan pejuang politik. Hal ini disampaikannya saat melakukan takziyah
almarhum Suhardi di kantor DPP Partai Gerindra, Jumat (29/8) dini hari.
"Tulus, ikhlas dan punya kesediaan berkorban demi cita-cita besar,
rendah hati. Beliau pantas jadi teladan para pejuang politik di
Indonesia," ujar Anis.
Anis menjelaskan bahwa penilaiannya tentang sosok Suhardi
didapatkannya ketika melakukan perjalanan kampanye pilpres. "Saya
berjalan ke banyak tempat selama masa kampanye, itu salah satu sisi yang
saya kagumi di luar latar belakangnya sebagai seorang profesor,"
ungkapnya.
Anis menambahkan bahwa terjunnya Suhardi ke dunia politik perlu
diapresiasi, karena tidak banyak akademisi yang terjun ke dunia politik.
"Itu yang saya kagumi selain latarbelakang intelektual, akdemisi
beliau sebagai profesor, terjun ke dunia politik dan bekerja
habis-habisan sehingga sukses membawa Partai Gerindra menjadi pemen ang
ke-3," paparnya.
Almarhum Suhardi akan dikebumikan di kampung halamannya, Yogyakarta.
"Insyaallah besok dijemput oleh teman-teman DPW PKS Yogya," pungkasnya.
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
August 29, 2014
posted by @Adimin
Jenderal DS: Belajar Komitmen dari PKS
Pilpres telah usai, pun akhirnya masing masing partai politik kembali ke basis dan kesibukannya masing masing.
Tetapi bagi saya, tinggal dua buah kesimpulan besar untuk sebuah evaluasi dari seorang praktisi intelejen senior DS (Djoko Santoso)
Pertama, belajar komitmen dari PKS
"Kagum pada PKS, selalu totalitas didalam berjuang, cyber army nya menjadi prajurit terdepan di social media (socmed) untuk advokasi dan membangun opini yang baik kepada prabowo subianto."
"Bahkan ada fenomena tersendiri; ketika semua parpol koalisi masih telat panas dan setengah hati berjuang, PKS berjuang seolah prabowo adalah capres dari kadernya sendiri, yup prabowo ibaratnya kader bagi PKS"
"Bagi saya (DS) kalau fenomena itu terbangun di partai gerindra tentu sebuah hal yang tidak luar biasa. Tapi hal tersebut terjadi pada PKS, yang pada pileg kemarin bahkan menjadi lawan politik bagi gerindra"
"Di seluruh Indonesia, sebenarnya koalisi merah putih bisa bergerak diatas jalan yang telah dibangun PKS dan gerindra"
"Saya (DS) juga tahu bahwa pada sebelum tanggal 22 juli ketika keputusan KPU akan keluar; prabowo subianto justru lebih banyak telepon atau komunikasi kepada taufik ridho sekjen PKS dibandingkan kepada partainya sendiri gerindra"
"Bagi saya itu hal yang sangat jarang terjadi, seorang calon presiden dari sebuah partai tetapi justru merasa sangat dekat dengan partai lain yang hanya berposisi sebagai pendukung semata."
Kesimpulan kedua, PKS tak memiliki DNA pengkhianat
"Saya (DS) selama menjalani tugas di dalam team advokasi pembelaan merah putih; sebenarnya menemukan begitu banyak pengkhianat alias pembocor informasi."
"Didalam ibaratnya sebuah suasana perang, pembocor informasi lah yang membuat salah satu kubu bisa kalah"
"Dan bagi militer, pembocor informasi sama saja seorang pengkhianat. Karena begitu 'jelek' perbuatannya, dengan rela menjual segala informasi ke pihak lawan dengan harga tertentu."
"Dan menariknya; pembocor itu tidak ada di tubuh PKS. Pembocor itu justru banyak ada dan menyebar di semua partai kecuali PKS"
"Bagi saya yang seorang mantan panglima, dua hal utama itu sangat penting ada didalam membangun kekuatan paling kuat: KOMITMEN dan KESETIAAN"
Pantas saja sisi mantan seorang komandan macam prabowo (danjen dan pangkostrad) lebih 'memilih' dekat dan percaya kepada PKS
Walaupun PKS itu bukan partai miliknya sendiri
Dan prabowo bagi PKS sendiri bukanlah kader nya
Ibarat jiwa seorang komandan (prabowo) dengan jiwa para prajuritnya (PKS)
Itu dua kesimpulan yang saya dapatkan.
Tetapi ada sebuah kalimat,
"Perang boleh datang silih berganti; tetapi prajuritku tetaplah satu (sama)"
Perjuangan itu lahir dan ada dari sebuah kesulitan dan ketidakenakan; maka berjuanglah
Tetap berjuanglah kawan
Karena tidak ada kalimat legowo untuk ketidakadilan
Tetapi bagi saya, tinggal dua buah kesimpulan besar untuk sebuah evaluasi dari seorang praktisi intelejen senior DS (Djoko Santoso)
Pertama, belajar komitmen dari PKS
"Kagum pada PKS, selalu totalitas didalam berjuang, cyber army nya menjadi prajurit terdepan di social media (socmed) untuk advokasi dan membangun opini yang baik kepada prabowo subianto."
"Bahkan ada fenomena tersendiri; ketika semua parpol koalisi masih telat panas dan setengah hati berjuang, PKS berjuang seolah prabowo adalah capres dari kadernya sendiri, yup prabowo ibaratnya kader bagi PKS"
"Bagi saya (DS) kalau fenomena itu terbangun di partai gerindra tentu sebuah hal yang tidak luar biasa. Tapi hal tersebut terjadi pada PKS, yang pada pileg kemarin bahkan menjadi lawan politik bagi gerindra"
"Di seluruh Indonesia, sebenarnya koalisi merah putih bisa bergerak diatas jalan yang telah dibangun PKS dan gerindra"
"Saya (DS) juga tahu bahwa pada sebelum tanggal 22 juli ketika keputusan KPU akan keluar; prabowo subianto justru lebih banyak telepon atau komunikasi kepada taufik ridho sekjen PKS dibandingkan kepada partainya sendiri gerindra"
"Bagi saya itu hal yang sangat jarang terjadi, seorang calon presiden dari sebuah partai tetapi justru merasa sangat dekat dengan partai lain yang hanya berposisi sebagai pendukung semata."
Kesimpulan kedua, PKS tak memiliki DNA pengkhianat
"Saya (DS) selama menjalani tugas di dalam team advokasi pembelaan merah putih; sebenarnya menemukan begitu banyak pengkhianat alias pembocor informasi."
"Didalam ibaratnya sebuah suasana perang, pembocor informasi lah yang membuat salah satu kubu bisa kalah"
"Dan bagi militer, pembocor informasi sama saja seorang pengkhianat. Karena begitu 'jelek' perbuatannya, dengan rela menjual segala informasi ke pihak lawan dengan harga tertentu."
"Dan menariknya; pembocor itu tidak ada di tubuh PKS. Pembocor itu justru banyak ada dan menyebar di semua partai kecuali PKS"
"Bagi saya yang seorang mantan panglima, dua hal utama itu sangat penting ada didalam membangun kekuatan paling kuat: KOMITMEN dan KESETIAAN"
Pantas saja sisi mantan seorang komandan macam prabowo (danjen dan pangkostrad) lebih 'memilih' dekat dan percaya kepada PKS
Walaupun PKS itu bukan partai miliknya sendiri
Dan prabowo bagi PKS sendiri bukanlah kader nya
Ibarat jiwa seorang komandan (prabowo) dengan jiwa para prajuritnya (PKS)
Itu dua kesimpulan yang saya dapatkan.
Tetapi ada sebuah kalimat,
"Perang boleh datang silih berganti; tetapi prajuritku tetaplah satu (sama)"
Perjuangan itu lahir dan ada dari sebuah kesulitan dan ketidakenakan; maka berjuanglah
Tetap berjuanglah kawan
Karena tidak ada kalimat legowo untuk ketidakadilan
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 28, 2014
posted by @Adimin
Pemerintah Jangan Terus Berhutang untuk Mengatasi Defisit Anggaran
Written By Sjam Deddy on 28 August, 2014 | August 28, 2014
Anggota DPR RI,
Habib Nabiel Almusawa meminta Pemerintah agar jangan terus mengajari
generasi mendatang dengan berhutang untuk mengatasi defisit anggaran.
“Kalau Pemerintah yang lalu dan saat ini terus menumpuk hutang maka
sama saja dengan mengajari generasi mendatang untuk berhutang pula. Jika
terus demikian, kapan hutang Pemerintah akan lunas?” kata Habib
baru-baru ini.
Data di Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan
menyebutkan, total utang pemerintah Indonesia hingga Juli 2014 mencapai
Rp 2.500,94 triliun. Sementara itu pada nota keuangan RAPBN 2015
disebutkan pendapatan negara ditargetkan sebesar Rp 1.762,3 triliun.
Sedangkan total belanja negara sebesar Rp 2.019,9 triliun. Kekurangannya
akan ditutupi dengan hutang.
“Jadi selama ini, trennya Pemerintah yang lalu mewariskan hutang
kepada Pemerintah selanjutnya. Alih-alih melunasi hutang, Pemerintah
yang selanjutnya itu malah menambah hutang untuk diwariskan kepada
Pemerintah penerusnya. Tren ini harus dikurangi agar kelak negara tidak
terjebak pada hutang yang tidak terbayar,” ujar anggota legislatif yang
juga kader PKS itu.
Pemerintah, tambahnya, mesti berani untuk terus mengurangi hutang.
Pemerintah dituntut kreatif mengantisipasi dan mengatasi defisit
anggaran. Kalaupun terpaksa harus berhutang, lanjutnya, maka hutang yang
dibuat tersebut diusahakan harus sudah lunas di akhir masa pemerintahan
yang sedang berjalan sehingga tidak mewariskan tambahan hutang kepada
Pemerintah berikutnya.
“Kembalilah kepada kebijakan anggaran berimbang seperti yang pernah
dipraktekkan pada masa yang lalu, jika baik mengapa tidak dilakukan
kembali. Generasi mendatang harus diajari cara bayar hutang, jika tidak
demikian maka generasi mendatang akan tenggelam dalam hutang yang dibuat
oleh generasi sebelumnya,” pungkas Habib
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 28, 2014
IKHLAS, Sumber Kebahagiaan
Sepatutnya seorang Muslim senantiasa menimbang-nimbang aktivitas yang
dilakukannya selama ini. Apakah sudah murni karena Allah, ada interes
atau kepentingan semu lainnya?
KETIKA seseorang melakukan kebaikan namun tidak
diiringi dengan keikhlasan maka bisa dipastikan bahwa ia akan senantiasa
diliputi perasaan kecewa, lebih-lebih kala kebaikan yang dilakukannya
tidak diapresiasi orang lain.Ia bahkan akan mengalami penurunan motivasi
yang sangat drastis, hingga tidak ada lagi semangat sedikitpun untuk
melakukan kebaikan.
Sebaliknya, jika ada apresiasi dari orang lain, semangat melakukan
kebaikan akan kembali meningkat tajam disertai gairah yang sangat luar
biasa. Akan tetapi, motivasi yang demikian, sebenarnya tidak
mendatangkan apa-apa selain hanya menipu diri sendiri. Sebab, kita
beramal tidak lagi karena Allah tapi karena manusia.
Padahal, Allah Ta’ala, memerintahkan kita beramal baik hanya karena-Nya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan;
قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَّهُ دِينِي
“Katakanlah: “Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” (QS. Az-Zumar [39]: 14).
Mengenai bahasan ini, Syeikh Musthafa Masyhur dalam bukunya Fiqh
Dakwah Jilid I mengutip pendapat seorang inspirator dari negeri
piramida, Mesir, yakni Hasan Al-Banna.
Menurut Hasan Al-Banna, ikhlas itu adalah menunjukkan semua ucapan,
amal dan jihadnya hanya kepada Allah semata. Karena mencari ridha dan
kebaikan pahala-Nya, tapa mengharapkan keuntungan popularitas,
kehormatan, reputasi, kemajuan dan keterbelakangan. Dengan keikhlasan
ini seseorang akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah. Bukan pengawal
kepentingan dan keberuntungan.
Dengan demikian, maka sudah sepatutnya seorang Muslim senantiasa
menimbang-nimbang aktivitas yang dilakukannya selama ini, apakah sudah
murni karena Allah atau ada pretensi, interes, atau kepentingan semu
lainnya?
Sebab jika tidak, maka amat disayangkan, amal baik yang dilakukan
menjadi tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah Ta’ala. Sebagaimana yang
tergambar dalam satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam.
“Dan dari Abu Musa Abdullah bin Qays al-‘Asy’ari radhiyallahu
anhu berkata, ‘Rasulullah pernah ditanya tentang seseorang yang
berperang karena ingin dikatakan berani, fanatisme golongan dan riya’.
Manakah yang bernilai sabilillah? Rasulullah menjawab, ‘Barangsiapa yang
berperang agar kalimat Allah bisa ditegakkan maka sesungguhnya ia telah
berperang di jalan Allah.” (HR. Bukhari Muslim).
Dan, demikianlah sesungguhnya inti dari hidup ini, yakni ikhlas
karena mengharap ridha-Nya, bukan yang lain. Sebagaimana ditegaskan
Allah di dalam Al-Qur’an;
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَلِكَ دِينُ
الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan
yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS: Al-Bayyinah [98]: 5).
Tegas, Komitmen & Lemah Lembut
Apabila seorang Muslim memahami ikhlas dengan baik dan mengamalkannya
sepenuh hati, maka ia akan tampil sebagai sosok yang tegas, komitmen
dan lemah lembut. Hal inilah yang terjadi pada sosok Abu Bakar
radhiyallahu anhu.
Siapa tidak mengenal watak asli Abu Bakar, beliau adalah sosok
sahabat yang pemalu, mudah menangis kala mendengar ayat-ayat Al-Qur’an
dan sangat lemah lembut. Tetapi, kala ajaran Allah hendak dipisahkan,
yakni antara zakat dan sholat, ia berubah 180 derajat menjadi pribadi
Muslim yang sangat tegas.Bahkan, Sayyidina Umar yang terkenal sangat
tegas pun seketika tidak bisa memilih apapun selain tunduk pada
kebijakan khalifah pertama umat Islam itu.
Komitmen Abu Bakar terhadap kebenaran tidak tergoyahkan oleh apa pun
juga. Entah itu senioritas, keilmuan atau pun prestise lainnya yang
masih diyakini sebagian bangsa Arab. Jika ditanya, mengapa Abu Bakar
demikian, tidak lain karena keikhlasannya dalam menjalankan perintah
Allah.
Ikhlas seperti itulah yang diperlukan oleh setiap Muslim di negeri
ini, khususnya para pemimpin dan pemangku kebijakan. Jika hal itu mampu
diwujudkan, maka secara bertahap, segala permasalahan keumatan,
kerakyatan, kebangsaan dan kenegaraan akan bisa diatasi dengan
sebaik-baiknya.
Oleh karena itu, mari senantiasa perbaiki diri, terutama keikhlasan
diri kita dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Sebab, ikhlas inilah
sebaik-baik jalan bagi setiap Muslim untuk benar-benar bisa mencapai
kebahagiaan yang hakiki. Semoga Allah memberikan kekuatan diri kita
untuk terus ikhlas dalam amal sholeh, dakwah dan jihad fii sabilillah.
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
August 28, 2014
posted by @Adimin
Pilih Pimpinan Pansus, Koalisi Merah Putih Kalahkan PDIP dan PKB
Kekuatan koalisi saat Pilpres 2014, mulai terlihat di DPR. Koalisi Merah
Putih mengalahkan PDI Perjuangan dan PKB dalam pemilihan pimpinan
Panitia Khusus Perubahan Tata Tertib MPR, DPR, DPRD, dan DPD.
DPR telah menetapkan pimpinan pansus yang terdiri atas, Ketua Benny K Harman dari Fraksi Partai Demokrat. Kemudian Wakil Ketua dari Fraksi Partai Golkar, Azis Syamsuddin. Wakil Ketua dari Fraksi PKS Fahri Hamzah. Dan Wakil Ketua dari Fraksi PAN Toto Daryanto. Keempatnya merupakan perwakilan Koalisi Merah Putih. Pansus Tatib akan menyusun mekanisme pemilihan ketua dan alat kelengkapan di MPR, DPR, dan DPD.
Anggota pansus dari PKB, Abdul Malik Haramain mengatakan, PKB memang mempersoalkan komposisi pimpinan pansus. Pasalnya, pansus akan menyusun mekanisme penentuan pimpinan DPR periode 2014-2019.
Formasi pimpinan pansus yang ditetapkan, diisi oleh wajah lama. Yang hampir mirip dengan Pansus MD3. Menurut Malik, harusnya PDIP dan PKB memiliki hak untuk mendapatkan posisi sebagai pimpinan pansus. "Mbok yah susunan pimpinan pansus lebih moderat lah. Kalau yang kayak begini apa yah," kata Malik di gedung DPR, Rabu (27/8).
Harusnya, lanjut dia, dicarikan alternatif lain dalam pemilihan pimpinan pansus. Sehingga apa yang akan dikerjakan pansus tidak dipolitisasi untuk keuntungan satu kelompok saja. "Harusnya jangan politislah, harusnya lebih moderat," ungkap anggota Komisi II DPR tersebut.
Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso mengatakan, pemilihan pimpinan pansus berjalan cukup alot. Lantaran PDI Perjuangan dan PKB menginginkan posisi pimpinan. PDIP mencalonkan TB Hasanuddin, dan PKB mencalonkan Hanif Dhakiri.
"Jadi tadi memang agak alot, bahkan alot sekali. Tapi akhirnya diputuskan lewat mekanisme permusyawaratan karena tidak lazim untuk pilih pimpinan pansus dengan votting," kata Priyo.
Meski sudah ditetapkan, menurut Priyo, perubahan formasi pimpinan masih dimungkinkan. Hanya saja, untuk dilakukan perubahan pansus harus mendapat persetujuan dari pimpinan DPR. "Mana kala ada hal ihwal kepentingan yang dipandang perlu, dan lebih besar. Bisa dikocok ualang, diubah kepemimpinannya," jelas Priyo.
DPR telah menetapkan pimpinan pansus yang terdiri atas, Ketua Benny K Harman dari Fraksi Partai Demokrat. Kemudian Wakil Ketua dari Fraksi Partai Golkar, Azis Syamsuddin. Wakil Ketua dari Fraksi PKS Fahri Hamzah. Dan Wakil Ketua dari Fraksi PAN Toto Daryanto. Keempatnya merupakan perwakilan Koalisi Merah Putih. Pansus Tatib akan menyusun mekanisme pemilihan ketua dan alat kelengkapan di MPR, DPR, dan DPD.
Anggota pansus dari PKB, Abdul Malik Haramain mengatakan, PKB memang mempersoalkan komposisi pimpinan pansus. Pasalnya, pansus akan menyusun mekanisme penentuan pimpinan DPR periode 2014-2019.
Formasi pimpinan pansus yang ditetapkan, diisi oleh wajah lama. Yang hampir mirip dengan Pansus MD3. Menurut Malik, harusnya PDIP dan PKB memiliki hak untuk mendapatkan posisi sebagai pimpinan pansus. "Mbok yah susunan pimpinan pansus lebih moderat lah. Kalau yang kayak begini apa yah," kata Malik di gedung DPR, Rabu (27/8).
Harusnya, lanjut dia, dicarikan alternatif lain dalam pemilihan pimpinan pansus. Sehingga apa yang akan dikerjakan pansus tidak dipolitisasi untuk keuntungan satu kelompok saja. "Harusnya jangan politislah, harusnya lebih moderat," ungkap anggota Komisi II DPR tersebut.
Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Golkar, Priyo Budi Santoso mengatakan, pemilihan pimpinan pansus berjalan cukup alot. Lantaran PDI Perjuangan dan PKB menginginkan posisi pimpinan. PDIP mencalonkan TB Hasanuddin, dan PKB mencalonkan Hanif Dhakiri.
"Jadi tadi memang agak alot, bahkan alot sekali. Tapi akhirnya diputuskan lewat mekanisme permusyawaratan karena tidak lazim untuk pilih pimpinan pansus dengan votting," kata Priyo.
Meski sudah ditetapkan, menurut Priyo, perubahan formasi pimpinan masih dimungkinkan. Hanya saja, untuk dilakukan perubahan pansus harus mendapat persetujuan dari pimpinan DPR. "Mana kala ada hal ihwal kepentingan yang dipandang perlu, dan lebih besar. Bisa dikocok ualang, diubah kepemimpinannya," jelas Priyo.
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN









