pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Doa dan Harapan Pimpinan DPR RI Untuk PKS

Written By Sjam Deddy on 22 April, 2015 | April 22, 2015


Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Setya Novanto secara khusus mengucapkan selamat hari ulang tahun (HUT) yang ke-17 kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Atas nama pribadi dan atas nama Pimpinan DPR RI, saya mengucapkan selamat ulang tahun PKS yang ke-17," kata Setya Novanto saat ditemui di ruangannya, di Gedung DPR RI, Senin (20/4).

Dalam kesempatan itu, politisi Partai Golkar ini juga memberikan doa dan harapannya agar PKS tetap menjadi partai politik yang selalu melayani rakyat. "Semoga PKS terus hadir dalam membantu dan melayani rakyat serta meraih kejayaan. Selamat dan sukses PKS!" pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, selain mengucapkan selamat ulang tahun juga berharap agar PKS dapat menjadi partai yang dirindukan dan dicintai oleh masyarakat Indonesia.

"Sebagai pribadi dan sebagai pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia, saya mengucapkan selamat hari ulang tahun ke-17 Partai Keadilan Sejahtera, dan semoga dalam usia ke-17 ini PKS nampak lebih manis, lebih lincah, lebih bersemangat, lebih energik, lebih populer, dan lebih dapat mendengar dan meneruskan aspirasi dari masyarakat Indonesia. Sehingga partai ini akan menjadi harapan, kerinduan, kecintaan, dan keinginan semua anggota masyarakat kita untuk memilihnya menjadi pemimpin di masa-masa yang akan datang," kata Fahri saat ditemui di ruangannya, di Gedung DPR RI, Senin (20/4).

piyungan

posted by @Adimin

Kultwit @anismatta tentang Milad #PKSweet17

Written By Anonymous on 21 April, 2015 | April 21, 2015

 
Alhamdulillah, hari ini PKS mencapai usianya yg ke-17.. Usia yg bisa dibilang muda dan perjalanan yg belum panjang.. #PKSweet17

PKS dibangun oleh komunitas dakwah yg ingin memberi warna bagi Indonesia yg sedang memulai reformasi dan demokratisasi..

PKS juga ingin menjadi saluran aspirasi politik Islam yg keluar dari dikotomi "tradisionalis" vs "modern"..

Di PKS ada yg punya akar tradisionalis, ada yg bertradisi Islam modernis..

Semua memberi warna dlm eksperimen memadukan keislaman dan keindonesiaan di ranah politik..

Politik bisa dibilang hanya salah satu ranah gerakan, karena kami juga berkiprah di pendidikan dan sosial..

PKS masih muda.. Baru 17 thn dan baru 4 kali ikut Pemilu (termasuk PK).. Ini saat yg tepat utk membuka diri thd masukan dari semua pihak..

Dgn kerendahan hati sy mohon kritik dan saran utk PKS yg lebih baik di masa mendatang.. Silakan mention akun saya dgn tagar #saranPKS

Kami perlu lbh banyak vitamin dan gizi utk bisa tumbuh lbh cepat dan lebih dewasa..

Nanti akan saya kompilasi dan bahas masukan dr Anda sekalian.. Terima kasih sebelumnya.. Jazakumullahu khairan katsira..

Terima kasih kritik dan sarannya.. Silakan disampaikan semua uneg2nya.. Jangan lupa pakai tagar #saranPKS utk memudahkan..



posted by @Adimin

PKS Minta KAA Bisa Bebaskan Palestina dari Penjajahan Israel

Written By Anonymous on 20 April, 2015 | April 20, 2015


JAKARTA (19/4) - Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq menilai, peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) akan memberikan relevansi dan signifikansi ketika semangat serta cita-citanya diwujudkan yaitu membebaskan anggotanya dari penjajahan. Salah satunya soal Palestina yang masih dijajah negara zionis Israel.

"Saat ini tersisa satu penjajahan yaitu Palestina, kita menunggu apa yang akan dihasilkan dari pertemuan KAA ini," kata Mahfudz dikutip dari Antara, Minggu (19/4).

Dia juga menjelaskan, relevansi dan signifikansi KAA juga diukur pada bagaimana agenda pembangunan dan kemakmuran negara-negara anggotanya bisa diwujudkan. Menurut dia, perwujudan pembangunan dan kemakmuran itu harus tanpa penjajahan ekonomi dan politik modern.

"Kemerdekaan yang hakiki harus diwujudkan dengan kemandirian dalam pembangunan dan kemakmuran meski tetap dalam kerangka kerja sama kawasan dan global," ujar Wasekjen PKS ini.

Mahfudz juga menilai relevansi dan signifikansi KAA juga bila dihasilkan resolusi konflik di negara-negara anggotanya. Hal itu, menurut dia, terkait yang mengarah pada disintegrasi atau bahkan de-eksistensi negara-negara anggotanya.

"Saya menilai konflik di kawasan Timur Tengah juga harus menjadi agenda serius dalam KAA tersebut," katanya.

Diketahui, Indonesia akan menjadi tuan rumah peringatan ke-60 Koferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang akan digelar dalam dua sesi.

Sesi pertama akan digelar di Jakarta pada 19-23 April 2015 dan sesi kedua dilaksanakan di Bandung pada 24 April 2015. Hingga Minggu (19/4) sudah ada 32 kepala negara atau kepala pemerintahan yang mengkonfirmasi kehadirannya dalam forum tingkat internasional tersebut. [http://www.merdeka.com]


posted by @Adimin

Sikap Muslim Ketika Banyak Musibah



Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, rentetan peristiwa penting tercatat dalam album sejarah bangsa Indonesia.

Hal paling mendasar yang patut menjadi renungan kita semua adalah rangkaian bencana dan musibah yang silih berganti menyambangi negeri ini.

Mulai dari puting beliung, banjir, tanah longsor, kebakaran, gunung meletus dan musibah lainnya yang bukan disebabkan faktor alam.

Ratusan bahkan mungkin ribuan jiwa menjadi korban dari berbagai musibah yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Di penghujung tahun 2014 saja, musibah banjir dan tanah longsor menjadi trending di beberapa media masa yang ada di Indonesia. Ditambah tragedi jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya – Singapura, menjadi musibah penutup tahun yang memilukan yang tidak saja dirasakan keluarga korban, tetapi boleh disebut duka nasional.

Bencana atau musibah biasanya diasumsikan sebagai sesuatu yang mengerikan dan selalu menyisakan duka bagi mereka yang ditimpa kemalangan.

Banyak orang yang kemudian berputus asa setelah dirinya ditimpa musibah, namun tidak jarang juga yang menjadikan musibah sebagai bahan instropeksi diri. Bahkan, mereka menghadapi musibah dengan keyakinan dan tekad yang kuat untuk merubah diri menjadi individu yang tegar dan kokoh.

Sebagai orang beriman, mestinya kita yakin dan percaya akan setiap kejadian mengandung hikmah yang berharga. Musibah yang terjadi di muka bumi ini boleh jadi merupakan azab Allah Subhanahu Wata’ala terhadap hamba-hambaNya yang ingkar. Namun tidak menutup kemungkinan musibah tersebut adalah bagian dari kecintaan Allah yang ingin menguji manusia pilihan-Nya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho terhadap ujian tersebut maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah terhadap ujian tersebut maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis tersebut secara gamblang menyampaikan bahwa metode ujian yang diberikan Allah kepada semua manusia ciptaan-Nya adalah dengan musibah. Bagi mereka yang ikhlas dan bijak menghadapi musibah sudah barang tentu ridho Allah akan selalu menyertainya.

Wajar jika ada yang menyebutkan bahwa manusia yang hebat tidak pernah lahir dari buaian kenikmatan, tetapi merupakan hasil tempaan dari beragam ujian dan cobaan.

Pastinya semua manusia yang hidup di dunia tidak akan luput dari berbagai macam ujian dan cobaan, baik berupa musibah maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullah yang berlaku bagi setiap insan sejak awal hingga akhir zaman, dan terjadi pada mereka yang beriman maupun orang kafir. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS: al-Anbiyaa [21]: 35).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat tersebut yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa.

Ayat tersebut juga telah menunjukkan jenis ujian Allah kepada setiap hamba-Nya, ada ujian kesenangan dan ada musibah. Ironisnya banyak manusia yang lupa diri dan meninggalkan Tuhannya ketika dirinya mendapat kesenangan dunia. Sementara ketika menghadapi musibah ia akan merengek-rengek meminta keadilan Tuhan. Dan banyak yang kemudian menyalahkan takdir ketika dirinya terjerumus dalam penderitaan karena musibah yang dialaminya.

Permasalahannya, seberat apa musibah yang sedang dihadapinya? Sehingga dirinya menduakan Allah yang telah menjamin hidup dan matinya kelak. Coba simak kisah disembelihnya nabi Yahya bin Zakariya.

Kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih. Kisah Imam Malik yang dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya. Kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup.

Sungguh mulia hidup orang-orang yang bersabar di jalan Allah meskipun musibah silih berganti menerpa kehidupannya. Orang yang beriman senantiasa menghadapi bencana dan musibah dunia fana ini tanpa mengeluh dan berputus asa. Keimanannya kepada Allah mengantarkan dirinya yakin bahwa apapun ketetapan-Nya ada kebaikan untuk kehidupannya di dunia dan kelak di akhirat.

Hikmah dalam Musibah

Sesungguhnya semua musibah yang menimpa orang-orang yang beriman senantiasa disertai dengan pahala yang besar dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Kewajiban sesama Muslim terhadap sesamanya yang terkena musibah selain berupaya meringankan beban juga memberi motivasi untuk bersabar. Nasehat dan motivasi untuk tetap sabar harus ditanamkan dalam diri setiap orang yang sedang ditimpa musibah, dengan harapan mendapat kebaikan dari musibah yang dialaminya.

Keyakinan ada Allah di balik setiap musibah merupakan modal dasar bagi seseorang yang ingin sukses lulus dari ujian dan cobaan Allah. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS: At-Taghâbun [64]: 11).

Dari ayat Allah tersebut, siapa pun yang ditimpa musibah harus meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala.

Maka bersabar dan mengharap petunjuk Allah agar mampu menjalani dan meraih keberkahan dari musibah yang dijalaninya. Selain itu, berserah diri kepada Allah semata-mata mengharap Allah akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Beberapa hikmah yang dapat diambil dari setiap musibah yang terjadi pada diri seorang Muslim di antaranya:

Pertama, musibah merupakan obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada diri manusia. Kotoran dan penyakit hati apabila tidak dibersihkan dapat mencelakakan seseorang karena menjerumuskan dirinya berbuat dosa.

Dengan adanya musibah orang yang berpenyakit tersebut dapat sadar diri dan mendekat kepada Allah untuk meraih pahala dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Wata’ala.

Kedua, menjadikan musibah sebagai tolak-ukur kepribadian seorang Muslim yang senantiasa berprasangka baik terhadap takdir Allah, baik itu dalam keadaan senang maupun susah.

Rasulullah bersabda, “Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Ketiga, musibah merupakan peringatan kepada setiap manusia atas apa yang telah diperbuatnya di muka bumi ini.

Banjir yang melanda desa maupun kota boleh jadi adalah teguran kepada pembuat kebijakan setempat yang mengatur wilayahnya agar tidak merusak lingkungan. Longsor juga demikian, mengingatkan manusia yang gemar menggunduli gunung untuk menghentikan kebiasaannya. Dengan peringatan tersebut, manusia harus menghambil ibrah bagaimana menjaga keseimbangan hidup dengan ekosistem apa adanya.

Dan masih banyak lagi hikmah yang terkandung dalam setiap peristiwa terutama musibah dan bencana yang pasti menyambangi perjalanan hidup anak manusia. Inilah alat yang menjadi bahan pertimbangan Allah untuk mengangkat derajat manusia, jika mereka sabar menghadapi musibah niscaya ada balasannya, sebaliknya jika mereka kufur karena musibah maka penderitaannya tidak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat kelak.
Semoga Allah menjadikan bumi Indonesia lebih baik di masa yang akan datang dan dijauhkan dari segala musibah yang di luar batas kemampuan rakyat Indonesia.

Dan bagi kita sebagai pemilik negeri ini, marilah bersama tingkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan tempat kita bermukim. Agar kehidupan yang harmonis dapat tercipta baik di antara kita sebagai sesama manusia maupun antara kita dengan lingkungan alam


Zainal Arifin

posted by @Adimin

Arwim El Ibrahimy: LPKD Sarana Penting untuk Kader Dakwah


Padang, sabtu (18/4) - Bidang Kepanduan dan Olahraga (BKO) PKS Kota Padang menggelar acara Latihan Pandu Kader Dasar (LPKD) tingkat kota padang. Kegiatan LPKD di pusatkan di areal perkebunan Air Dingin Kecamatan Koto Tangah.

Hadir dalam acara pembukaan LPKD Wakil Ketua DPD PKS Padang Ustad Arwim El Ibrahimy. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa sebagai kader dakwah, kegiatan ini merupakan bagian penting karena termasuk dalam Muwashofat kader.

“Sebagai kader kegiatan ini merupakan sarana penting yang harus diikuti, karena ini bagian dari muwashofat kader. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani), seorang kader harus memiliki fisik yang kuat. kegiatan seperti ini tidak semata menempah kekuatan fisik saja,” katanya.

“disini kita juga di tuntut bagaimana ruhiyah kita baik, tidak lalai dalam beribadah meski kita saat ini berada di areal perkebunan, kita tetap menjalankan ibadah dengan benar dengan sholat tepat waktu dan berjamaah,” lanjutnya.

“Kita juga di tuntun untuk bisa berjuang melawan hawa nafsu kita. Setiap kita memiliki kecendrungan pada yang baik dan yang buruk. Jadi kegiatan ini bagian dari perenungan kita, agar bisa mengendalikan hawa nafsu kita sesuai dengan ajaran Islam,” tambahnya.

Diakahir sambutannya, Arwim El Ibrahimy mengajak para peserta untuk menjaga kegiatan ini tetap dalam bingkai persaudaraan dan menghimbau agar peserta dapat menjaga lingkungan tempat diadakannya acara. [humas]


posted by @Adimin

Kader PKS Padang Ikuti Latihan Pandu Kader Dasar


Padang, Sabtu (18/4) - Bidang Kepanduan dan Olahraga (BKO) PKS Kota Padang menggelar acara Latihan Pandu Kader Dasar (LPKD) tingkat kota Padang. Kegiatan LPKD di pusatkan di areal perkebunan air dingin kecamatan Koto Tangah.

Ketua BKO PKS John Bahrian mengatakan tujuan kegiatan ini adalah sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kader agar selalu siap terjun untuk kemenangan Dakwah. 

"LPKD ini sebagai sarana wajib yang harus dimiliki oleh setiap kader karena merupakan salah satu muwashofat kader yaitu Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)," katanya.

"Selama dua hari kedepan (sabtu-ahad 18/19) peserta akan di gebleng untuk menjadi kader tangguh. Bukan hanya fisiknya saja tapi ruhiyahnya juga," tambahya.

"Peserta yang ikut LPKD ini berjumlah 70 orang, di bagi kedalam 10 kelompok. Masing-masing kelompok di pimpin satu orang ketua regu. Ketua regu bertanggung jawab penuh kepada regunya," ucap ketua BKO.

"Instruktur kita juga sudah siap untuk menggebleng para peserta selama dua hari kedepan. Instruktur yang kita libatkan sebanyak 10 orang dan memiliki spesifikasi yang berbeda-beda," ujarnya. [humas PKS Padang]


posted by @Adimin

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [2]




“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. janganlah begitu,  jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,  niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim.” (QS. At Takatsur (102) : 1-6).

Di tengah jutaan rakyat miskin masih banyak para pejabat yang gemar memamerkan kekayaan. Hilang pada diri mereka rasa prikemanusiaan dan rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Telah lenyap pada diri mereka kekhawatiran terhadap perhitungan yaumul hisab. Sesungguhnya keadaan ini telah diprediksi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam.

“Akan tiba bagi manusia  suata masa pada saat orang tidak lagi  peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram.”  (HR. Bukhari).

Pejabat tinggi melakukan korupsi secara besar-besaran. Pejabat kecil melakukan korupsi kecil-kecilan. Yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan. Kekayaan negara yang demikian melimpah hanya dinikmati oleh segelintir kecil orang. Rakyat kebanyakan harus rela hidup di bawah garis kemiskinan. Orang miskin tidak boleh sakit. Orang miskin tidak boleh pintar. Orang miskin tidak boleh bahagia. Terjadilah ketimpangan dalam distribusi wewnang dan hasil pembangunan. Bertolak dari sinilah terjadinya kehancuran berbagai negeri.

 “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al Hasyr (59) : 7).

Kita tidak boleh membiarkan ketimpangan sosial ini terus terjadi. Kita harus berjuang dengan cara mencerdaskan masyarakat kita, terutama para pejabat kita yang suka melakukan manipulasi angka-angka. Kita ajari mereka agar memiliki kecerdasan finansial sehingga kemakmuran rakyat yang menjadi cita-cita berdirinya negara Indonesia itu dapat terwujud. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan memperoleh ampunan dari Tuhan Yang Maha Pengampun).

Hidup di zaman sekarang ini memang berat. Semua serba uang. Mau melahirkan anak memerlukan uang. Mau makan, mau sekolah, bahkan mau ke WC di terminal pun harus mengeluarkan uang. Apalagi kalau sakit, mati pun mengeluarkan uang.

Hal ini sesuai dengan prediksi Rasulullah. “Pada akhir zaman kelak manusia harus menyediakan harta untuk menegakkan urusan agama dan urusan dunianya.” (HR. Thabrani).

Memang dengan harta yang cukup kita dapat memelihara harga diri kita dari meminta-minta, dan kita bisa menolong orang lain. Dengan harta yang cukup kita dapat makan dan minum yang halal dan thayib, bisa bersedekah dan bisa beribadah haji. Kita bisa makan kenyang, tidur pulas, menutup aurat dan tempat tinggal yang mapan.

Justru, orang yang rakus bermental miskin. Berapapun karunia yang diberikan oleh Allah SWT tidak dapat mengantarkannya bermental memberi. Islam mengajarkan, orang yang kaya itu bukanlah orang yang banyak saldonya di Bank. Orang yang kaya adalah orang yang kaya hati.
Orang yang kaya hati, senang berbagi dan memberi orang-orang yang membutuhkannya.


وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُومِ

“Dan dalam hartanya ada hak bagi peminta-minta, dan orang miskin yang menahan diri dari meminta”. 

Maksudnya, ia gemar bersedekah dan memberikan sebagian rizki yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepadanya untuk orang lain yang membutuhkan. Ia yakin dengan memberi sesungguhnya akan mendapat kan/memperoleh. Allah Subhanahu Wata’ala  akan menggantinya dan melipatgandakannya. Orang inilah yang bermental kaya. Sebaliknya, orang yang simpanannya banyak, tetapi merasa kurang terus, sehingga ia dihinggapi penyakit thoma’ (rakus), sesungguhnya ia bermental miskin. Semakin menumpuk kekayaan yang dimilikinya bagaikan minum air laut, semakin diminum semakin haus.

Orang bertakwa tidak terjangkiti penyakit materialis. Yaitu, ketika memberi selalu mempertimbangkan untung/rugi. Ada maksud tersembunyi dibalik pemberiannya itu. Ia khawatir jika ia memberi, jatuh miskin. Takut hartanya berkurang. Ia tidak percaya bahwa Allah Subhanahu Wata’ala  yang melapangkan dan menyempitkan rezeki seseorang.


Dengki (Hasud)

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama.

Beliau juga mengingatkan: “Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

Demikian bahayanya secara individu dan sosial, Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan kepada kita doa khusus agar terhindar dari penyakit dengki.

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Ssesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hasyr (59) : 10).


Takabur (Sombong)

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun. Karena keturunan (nasab), kedudukan (hasab), ketampanan (al Jamal), kekuatan (al Quwwah), kekayaan (harta), ilmu (pengetahuan), al atba’ (pengikut).

Tetapi, kesombongan yang paling dibenci adalah kesombongan yang dilampiaskan tanpa alasan. Yaitu, orang miskin yang sombong, orangtua yang berzina, dll. Seharusnya miskin harus tahu diri. Seharusnya orangtua itu lebih cenderung kepada ketaatan. Karena, usia yang dimilikinya semakin berkurang. Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi.

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan/kelemahan.

Di dalam diri manusia disamping ada sisi terang, pula ada sisi gelap. Manusia hanya berisi tong kotoran yang bersumber dari dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, lubang qubul dan lubang dubur. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun seberat atom.


Dendam

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, dan menderita, serta jatuh, agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup.

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam.

Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut:

Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka).

Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka).  

Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka…

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
 
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,  (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS: Ali Imran (3) : 133-134).

oleh Shalih Hasyim
 
posted by @Adimin

Bidpuan PKS Padang adakan Talk Show "Home Sweet Home"

Written By @Adimin on 19 April, 2015 | April 19, 2015


pkspadang.com : Bidpuan PKS Kota Padang dengan program RKI nya (rumah Keluarga Indonesia) mengadakan program acara talk show dengan tema "Home Sweet Home" dengan pembicara Ust. M Yasin, Lc dan ustazh Nuria Safitri. Acara di selenggarakan di halaman parkir markas dakwah DPD PKS Kota Padang pada hari minggu 19 April 2015. Talk show ini di tujukan untuk kalangan umum, simpatisan, dan kader yang ingin suasana rumahnya ibarat surga, sesuai dengan tuntunan nabi, Baiti jannati (rumahku adalah surgaku). Ketua Panitia acara dalam hal ini Ibu Elya Devinta berharap, dengan adanya acara ini, keluarga Indonesia akan tahan terhadap berbagai ujian, rintangan dan gocangan kehidupan. Apalagi Islam sangat menekankan pentingnya ketahanan rumah tangga selaku unit terkecil dari suatu bangsa.



Ust Yasin dalam paparannya menyebutkan bagaimana sepadang suami istri harus bisa berkomunikasi dengan baik dan berupaya untuk saling memahami antara satu dengan yg lain, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

Begitu juga dengan orang tua, selaku pembimbing dan pembina rumah tangga dan anak anak, harus bisa mengenali karakter dari masing masing anaknya, sehingga mampu menyesuaikan apa yang cocok yang sesuai dan yang seharusnya orang tua lakukan terhadap masing masing anaknya tersebut, karena masing masing individu dari anak tersebut mempunyai karakter dan punya ciri khas sendiri sendiri.



Lebih dalam Ust. Yasin juga menyampaikan, jika seorang anak lebih cenderung kenestetik atau suka bermain di alam terbnuka maka jangan kita selaku orang tua, menyekapnya didalam rumah dengan alasan agar lebih aman, karena mengekang anak yang lebih suka bermain di alam terbuka justru akan membuatnya stress. Dan situasi ini justru akan menekan potensi yang ada pada anak, dan bahkan yang lebih ekstrim juga bisa menyebabkan menurunnnya prestasi sang anak.

Acara berlangsung lancar dan santai, terlihat ibu ibu begitu antusias menyimak paparan dari para nara sumber. 

Semoga dengan adanya acara ini, lebih membuat kondisi keluarga di lingkungan kader PKS, simpatisan serta ummat pada umumnya, bisa lebih harmonis lebih berbahagia sehingga nantinya akan menumbuhkan generasi Islam yang berkontribusi untuk Islam dan ummat.   

 


posted by @Adimin

Tingkatkan Ekonomi Keluarga, Pos EKA Latansa Latih IRT Bikin Fried Chicken

Written By Anonymous on 18 April, 2015 | April 18, 2015


Padang, Jum’at (17/4) – Pos Ekonomi Keluarga (EKA) Latansa Belimbing adakan pelatihan buat ibu-ibu rumah tangga (IRT) membuat Fried Chicken (FC). Pelatihan ini diberikan dalam pertemuan bulanan di rumah Ibu Yayan di Jl. Manggis Kec. Kuranji.

Dalam pertemuan tersebut Ibu-ibu yang mengikuti pelatihan di tuntut untuk bisa membuat masakan fried chicken yang layak untuk dijual dengan tujuan untuk dijadikan sebagai peluang usaha yang dapat membantu perekonomian keluarga.

Tidak kurang dari tiga puluh orang IRT mengikuti pelatihan yang dimulai dari pukul 14:00 wib. Pos EKA yang dikelola oleh Ibu Nelly, Ibu Yayan Mulyani dan Ibu Endang ini sudah baik dalam mengelola Pos EKA yang di pimpinnya.

Saat ini Pos EKA Latansa sudah punya dana kas sosial. Tidak hanya itu, Pos EKA ini telah memiliki koperasi simpan pinjam yang simpanannya telah mampu memberikan modal usaha kepada para anggotanya.

Pos EKA Latansa melakukan kegiatan dalam setiap bulannya bervariasi. Contohnya pengajian, penyuluhan kesehatan dan lingkungan, keluarga dan pendidikan anak, keterampilan dan lain-lain. 

Pos EKA adalah pos ekonomi keluarga yang di bentuk oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di bawah Bidang Perempuan (BidPuan). Tujuan dibentuk Pos EKA adalah untuk membantu perekonomian keluarga menjadi lebih baik. [humas]


posted by @Adimin

Penyakit Takatsur, Penghalang Utama Berbagi [1]

Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong




SESUNGGUHNYA Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan 100 kasih sayang ketika menciptakan langit dan bumi. Satu rahmat daripada-Nya seluas langit dan bumi. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala turunkan salah satu rahmat itu ke bumi. Dengan itulah makhluk saling menyanggupi. Dengan itu ibu mengasihi anaknya. Dengan itu burung dan binatang buas meneguk air (dari satu lokasi). Dengan itu seluruh makhluk dapat hidup. (Dalam Kanzul ‘Ummal, hadits no. 10464).

Jika kita mencermati kehidupan berbangsa dan bernegara kita sekarang dengan bashirah (mata hati), maka hati kita akan tersayat. Seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Yaitu sosok manusia yang kehilangan jati dirinya sendiri. Kehadirannya bukan sebagai anugrah/mitra bagi orang lain. Tetapi, manusia yang menjadi ancaman/rivalitas bagi sesama. Muncullah sebuah pameo, hari ini makan apa, dan esok hari memangsa siapa ?. Banyak bermunculan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Manusia bagaikan srigala bagi yang lain.

Fakta membuktikan, bukankah kita seringkali menjumpai manusia sipil berwatak militer, manusia sehat secara pisik, ruhaninya sakit. Manusia maju, tapi ia primitive. Ia terasing dari kehidupan sosialnya.

Banyak orang  mengalami split personality. Ketika di masjid ia khusyuk beribadah, tapi ketika di tengah-tengah kehidupan sosial ia lihai menipu dan mengkhianati saudaranya.  Memalsukan angka-angka kwitansi.

Inilah sumber persoalannya. Agama dipandang sebagai urusan privasi. Allah tidak boleh mencampuri urusan sosial. Alangkah kejinya mereka memposisikan kedudukan Allah. Peran-Nya diberi ruang pada lorong yang pengap dan sempit.
Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain. Oknum partai politik tertentu mengancam pesaing politiknya, karena kalah dalam pemilihan pilkada.

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya?  Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?


Efek Virus Takatsur

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat (kasih sayang) pada diri manusia karena telah terjangkiti penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, berebut massa/pengikut (al Atba’), tidak untuk memenangkan kebenaran dinul Islam). Tetapi, untuk kepentingan perut dan di bawah perut.

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu. Penyakit-penyakit tersebut adalah pemicu pelanggaran pertama anak Adam di muka bumi ini dengan berbagai bentuk dan variasinya (hunna ashlul khathiah).

إيَّاكُمْ وَالْكِبْرَ فَإِنَّ إِبْلِيْسَ حَمَلَهُ الْكِبْرُ أَلاَّ يَسْجُدَ ِلآدَمَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحِرْصَ فَإِنَّ آدَمَ حَمَلَهُ الْحِرْصُ عَلَى أَنْ آكَلَ الشَجَرَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ ابْنَيَ آدَمَ قَتَلَ أَحَدُهُمَا اْلآخَرَ حَسَدًا هُنَّ أَصْلُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ (رواه ابن عساكر عن ابن مسعود رضي الله عنه)

“Waspada dan jauhi al-kibr (sombong), karena sesungguhnya Iblis terbawa sifat al-kibr sehingga menolak perintah Allah subhanahu wa ta’ala agar bersujud (menghormati) kepada Adam ‘alaihis salam. Waspada dan jauhi al-hirsh (serakah), karena sesungguhnya Adam ‘alaihis salam terbawa sifat al-hirsh sehingga makan dari pohon yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Waspada serta jauhi al-hasad (dengki), karena sesungguhnya kedua putra Adam ‘alaihis salam salah seorang dari keduanya membunuh saudaranya hanya karena al-hasad. Ketiga sifat tercela itulah asal segala kesalahan (di dunia ini).” (HR Ibnu Asakir dari Ibnu Masud, dalam Mukhtaru al-Ahadits).

Ketika virus ruhani tersebut penyebab pemiliknya salah dalam menempatkan dirinya, lupa kepada Pemilik Hakiki. Memandang wasilah (alat) sebagai ghoyah (tujuan). Ia salah kaprah dalam mempersepsikan harta, tahta, dan wanita. Ia tidak menyadari bahwa dunia adalah lahan untuk menanam benih kebaikan untuk dipanen di akhirat.


Serakah (thoma’)

Salah seorang ahli ilmu mengatakan: Induk dari semua dosa ada tiga, yaitu dengki, rakus dan sombong. Sombong itu asalnya dari Iblis ketika ia enggan (keberatan) bersujud (hormat) kepada Nabi Adam as sehingga ia terkutuk (terlaknat).

Rakus asalnya dari Adam ketika dikatakan kepadanya bahwa semua yang ada di dalam surga itu boleh dikonsumsi kecuali satu pohon. Namun sikap thoma’ menghinggapi dirinya sehingga ia memakannya lantas ia dikeluarkan dari surga. Sedangkan dengki berasal dari Qabil bin Adam ketika membunuh saudaranya (Habil) sehingga ia menjadi kafir dan kekal di neraka (dalam Tanbihul Ghafilin, jilid 1).

Ada dua macam rakus. Rakus yang tercela. Dan rakus yang tidak tercela. Rakus yang pertama melalaikan syariat Allah. Dan rakus yang kedua tidak sampai melupakan perintah dan larangan-Nya.

Jika, direnugkan maka rakus itu merugikan. Karena, apa yang ada ditangan kita tidak permanen. Timbul  dan tenggelam. Bisa saja, atas kuasa-Nya, yang ada digenggaman kita diambil oleh pemilik-Nya. Orang yang beriman tidak perlu mempertanyakan, apakah yang menjadi kepemilikan kita sudah resmi (formal), tetapi apakah karunia yang kita terima menambah barakah (tambahan kebaikan). Alangkah menyakitkan, jika yang kita usahakan dan kita peroleh justru secara bertahap membuat lubang kehancuran citra diri kita (istidraj).

Kita tidak akan memperoleh bagian rizki kecuali yang sudah ditentukan oleh-Nya. Ada rizki itu yang kita buru. Dan ada karunia itu yang memburu kita. Adapun kerja keras itu adalah dalam rangka ibadah kepada-Nya. Banyak sekali sumber rizki tidak berkaitan langsung dengan ikhtiar kita. Tidak menggunakan logika manusia. Misalnya, silaturrahmi, takwa, memperbanyak sedekah, dll. Yang menarik, binatang cecak yang menempel di dinding. Justru, sumber rizkinya binatang yang bisa terbang.


اَللَّهُمَّ لَامَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مَعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَالْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(Ya Allah tiada orang yang menghalangi terhadap apa yang telah Engkau berikan dan tiada orang yang memberi terhadap apa yang telah Engkau halangi dan kekayaan orang yang kaya itu tidak akan bisa menyelamatkan dia dari siksa-Mu)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam membaca Al Hakumut Takatsur .. hatta zurtumul maqabir (bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam liang lahat), kemudian beliau bersabda;  “Manusia selalu berkata, Hartaku, hartaku, dan bukanlah termasuk hartamu kecuali apa yang kamu makan lantas kamu habiskan, atau kamu pakai lalu kamu rusakkan, dan kamu sedekahkan lalu kekal (pahalanya) bagimu.”

Orang yang memiliki sifat rakus merasa tidak adil dalam memandang pembagian rizki dari Allah subhanahu wa ta’ala. Padahal, pengalaman empiris mengajarkan bahwa rakus tidak menambah jatah rizki seseorang.

Dan sifat qonaah tidak mengurangi rizki. Qonaah adalah kekayaan hati yang sangat mahal. Justru, dengan memelihara sifat tercela ini, bagaikan meminum air laut, semakin banyak yang diteguk, bertambah haus. Tidak akan sembuh penyakit yang berbahaya ini kecuali kematian. Jika manusia diberi satu lembah emas, maka ia akan mengharapkan tambahan satu lembah lagi, dst.

Adil itu tidak harus sama, tetapi proporsional. Meletakkan sesuatu pada tempatnya secara pas. Sedangkan zhalim adalah kebalikannya.

Suasana kehidupan sosial yang saling ta’aruf (kenal mengenal), tafahum (saling memahami), ta’awun (saling bersinergi), takaful (saling menanggung), tanashuh (saling memberi nasihat), taakhi (saling bersaudara), adalah karunia yang terbaik melebihi dari yang dikumpulkan manusia berupa kekayaan itu sendiri.

Karena, pada dasarnya karunia itu disamping yang bersifat lahiriyah pula berbentuk nikmat batiniyah. Kehidupan sosial yang menyeimbangkan kebutuhan ruhani dan jasmani, indikator kehidupan sosial yang sehat.

Orang yang memahami posisi harta, memiliki kecerdasan finansial. Ia tidak sekedar pandai mencari uang, tidak sekedar pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, tidak sekedar trampil membuka gembok-gembok rizki, tidak sekedar membuka pintu-pintu karunia. Tetapi, gemar pula berinfak, sebagai hak dari harta itu sendiri. Jadi kaya itu berkaitan dengan sikap mental.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam telah memberikan definisi yang jelas tentang orang yang mempunyai kecerdasan finansial.

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

“Yang disebut al-ghina (orang yang cerdas finansial) itu bukanlah mereka yang sekedar memiliki harta yang banyak, tetapi al-ghina itu mereka yang kaya jiwa.” (HR. Bukhari).

Bukan disebut cerdas finansial orang yang memiliki harta yang banyak tetapi serakah dan kikir. Apa gunanya memiliki banyak kekayaan tetapi tidak dibelanjakan. Seharusnya berapa pun yang diinfakkan tidak masalah. Satu rupiah pun pantang dibelanjakan  untuk maksiat.

Harta bagi orang yang terjangkiti virus ruhani kikir adalah segala-galanya. Semakin banyak yang ia terima, ia semakin rakus. Bagaikan meminum air laut, semakin banyak meminumnya semakin haus.  Ia mengira harta itu mengekalkan kehidupannya. Ia memandang harta sebagai hak milik, bukan hak pakai atau hak guna (titipan dari Allah Subhanahu Wata’ala).


Ancaman Allah pada Orang Yang Mengumpulkan Harta

Allah Subhanahu Wata’ala mengancam terhadap orang yang memiliki pandangan negatif/miring dengan harta.

 “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung [mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah], dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak!  Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.” (QS. Al Humazah (104) : 1-4).

Tidak termasuk cerdas finansial orang yang kaya raya tetapi serakah. Sekalipun kaya secara lahiriyah tetapi jiwanya miskin. Sekalipun kaya, tapi masih menginginkan harta orang lain dengan menghalalkan segala cara. Sekalipun hartanya banyak, tetapi tidak cukup.

Perhatikan, para koruptor itu bukanlah orang-orang miskin. Mereka bukan orang yang tidak punya duit. Mereka punya rumah besar, mobil mewah, dan harta berlimpah, tapi karena mereka serakah, masih saja tega merampok harta negara. Mereka terjangkiti penyakit “Takatsur” (menumpuk-numpuk harta, pengaruh, massa, pengikut, dll)

bersambung . . . . . . .

Oleh Salih Hasyim

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger