Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
May 07, 2015
posted by @Adimin
Santri Cerdik dan Seekor Sapi
Written By @Adimin on 07 May, 2015 | May 07, 2015
Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid
jiddan (lumayan pintar). Dia pun berencana mengadu nasib di Jakarta.
Saat tiba di Stasiun Pasar Senen, dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan biasanya memang menjadi tontonan yang menarik, maka dia pun memutuskan untuk ikut menonton.
Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban dengan jelas, apalagi postur tubuhnya yang memang kecil. Jadi, jangankan mendekat, untuk melihat korban saja sulit. Berhubung karena merupakan santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.
"Saya keluarganya.. Saya keluarganya.. Minggir.. Tolong minggir !" katanya sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.
Orang-orang pun memandanginya, dan ternyata si santri memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada santri itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan. Dan, betapa terkejutnya ketia dia melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah seekor SAPI . . . . .!
Saat tiba di Stasiun Pasar Senen, dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan biasanya memang menjadi tontonan yang menarik, maka dia pun memutuskan untuk ikut menonton.
Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban dengan jelas, apalagi postur tubuhnya yang memang kecil. Jadi, jangankan mendekat, untuk melihat korban saja sulit. Berhubung karena merupakan santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.
"Saya keluarganya.. Saya keluarganya.. Minggir.. Tolong minggir !" katanya sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.
Orang-orang pun memandanginya, dan ternyata si santri memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada santri itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan. Dan, betapa terkejutnya ketia dia melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah seekor SAPI . . . . .!
posted by @Adimin
Label:
HUMOR,
TOPIK PILIHAN
May 07, 2015
Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih
posted by @Adimin
Pentingnya Jihad Bil Qalam
Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih
SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap
muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan
kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja.
Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wassallam bersabda; “Siapa
yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang
mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.”
(HR. Ibnu Majah)
Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu
disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk
berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih
efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok
dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan
ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri
sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak
khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah
dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena
kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.
Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis.
Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan
kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para
sahabat dan anak-anaknya. Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan
keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.
Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka
merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi
Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan,
pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban
mulia.
Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi
motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah
tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang
menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila
menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola
hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang
disebut dengan Jihad bil
qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan
membasmi kebodohan dengan tinta.
Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira
bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan
intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi
Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan
sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan
duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”
Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam
detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di
luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk
mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.
Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus
pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah
para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad
bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa.
Dalam alam pikiran kami, karomah
adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa
berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu
singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.
Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih
yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah
ini, mengatakan, “Karomah
mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun
silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan
mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih
terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.
Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang
bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan
ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan
sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah
dengan karya Kitabul
Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya,
Imam Syafi`i dengan Kitab
Ar-Risalah dan Al-Umm-nya,
dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis
dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan
yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam
timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang
sepanjang masa.
Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi
kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan
saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai
pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang
disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.”
Wallaahu A`lam Bis Showaab.*
Oleh: Ali
Akbar bin Aqil
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
May 07, 2015
Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]
Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami
ALANGKAH indahnya, jika
kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah
rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15
tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya
lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15
tahun.
Indahnya Bicara
Kitapun juga pasti ingin mendapatkan
pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan
perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini
penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam
rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat
untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan
sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah
yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka
pelaku utama tetap kita sendiri.
Pasangan yang saling terbuka membicarakan
keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan
yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk
melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi
hal buruk yang mungkin terjadi.
Mulailah Bicara
Namun demikian, untu jadi pasangan yang
tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda
fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah
yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam
surat Ar-Ruum [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”
Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih
sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya
untuk saling memahami.
Memahami perbedaan inilah yang akan
membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara
dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa
mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang
jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau
bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk
membujuk dan mendengarkannya bicara.
Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham
inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa
belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada
pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau
tangis yang menguatkan perasaan memiliki. Juga tidak ada hikmah yang
dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih
paham dan akhirnya berbaikan.
Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih
sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya
karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan
berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita
gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang
didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan
Kartika Ummu Arina
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
May 06, 2015
posted by @Adimin
Tulisan Anis M. "Jalan Sunyi Menuju Pencerahan Spiritual"
Written By Anonymous on 06 May, 2015 | May 06, 2015
JAKARTA (6/5) - Rabu, 6 Mei 2015 Indonesia kembali kehilangan salah satu seniman berbakatnya, Ferrasta Soebadri atau yang dikenal dengan nama Pepeng. Selama menderita penyakit Multiple Sclerosis (MS) sejak tahun 2005, Pepeng telah menginspirasi bangsa dengan tingkat kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi sakit.
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta pun mengapresiasi semangat dan kebesaran hati Pepeng. Pada Oktober 2014 Anis menulis bahwa perjalanan Nabi Ibrahim AS bisa digunakan untuk memaknai perjalanan sosok Pepeng. Berikut tulisan lengkap Anis Matta tentang hikmah dari perjuangan Pepeng “Jari-Jari”.
Jalan Sunyi Menuju Pencerahan Spiritual oleh Anis Matta
Menulis tentang sahabat saya Ferrasta Soebardi, atau yang akrab kita panggil Mas Pepeng, di tengah suasana Idul Adha membawa saya pada pertemuan dua peristiwa yang berujung pada satu konsep penting dalam ajaran Islam, yaitu percaya dan prasangka baik kepada keputusan Allah SWT.
Ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail AS, anak yang sudah lama didambakannya, ia sempat sedetik bertanya. Malah sang anaklah yang mengingatkan dan meneguhkan keyakinan ayahnya untuk senantiasa percaya dan berprasangka baik terhadap perintah dan keputusan Allah SWT.
Kita belajar, Ibrahim adalah seseorang yang sedari muda “mencari Tuhan”, menempuh jalan penuh gelisah untuk menemukan hakikat kemanusiaan, yaitu hadirnya Tuhan dalam hidup manusia. Ibrahim bertanya, apakah bulan, apakah matahari, yang merupakan Yang Maha Kuasa bagi manusia. Ternyata tidak. Ibrahim bahkan bereksperimen “membunuh Tuhan”—istilah yang dipopulerkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche—dengan menghancurkan berhala-berhala yang disembah lewat ayunan kapaknya, dengan risiko hukuman yang bisa menghilangkan nyawa.
Maha Besar Allah, Dia akhirnya menuntun Ibrahim untuk menemukan jalan tauhid, percaya pada Allah Yang Esa dan bersaksi bukanlah bulan atau matahari—sekalipun mempesona dan tampak adidaya—yang menjadi Maha Kuasa bagi hidup manusia. Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa. Dari perjalanan itu, dalam kajian filsafat dan sosiologi agama, Ibrahim diberi julukan “Bapak monoteisme umat manusia”.
Lalu, apa pelajaran dari perjalanan Ibrahim yang bisa gunakan untuk memaknai perjalanan sahabat kita Pepeng? Ternyata, perjalanan “mencari Tuhan” telah disediakan oleh—tak lain dan tak bukan—Allah SWT sendiri. Allah membukakan begitu banyak pintu-pintu menuju diri-Nya lewat pemaknaan jalan hidup yang ditempuh oleh masing-masing makhluk.
Kita mengetahui sudah cukup lama Pepeng diberi ujian berupa penyakit langka yang mungkin belum ada obatnya. Penyakit itu merampas mobilitasnya, sesuatu yang tentu sangat membuat sedih bagi seniman dunia hiburan seperti Pepeng. Saya masih ingat, ketika kampanye PKS di Gelora Bung Karno tahun 2004, Pepeng berdiri di panggung sebagai salah satu pembawa acara, membakar semangat sambil sesekali menggocek tawa.
Saya tetap ingin memandang Pepeng sebagaimana sang seniman panggung itu mengarahkan acara puncak kampanye PKS pada fase awal yang penting dalam demokratisasi Indonesia tersebut. Dia tampak gagah, tapi juga santai, percaya diri, namun tetap membumi dan rendah hati. Puluhan ribu kader PKS dan para undangan berteriak bersama, tertawa bersama, bernyanyi bersama, dan berbagi semangat bersama, di bawah komando sang dirigen acara: Pepeng.
Bahwa sekarang Pepeng sedang diminta untuk tidak terlalu banyak bergerak, itu adalah cara Allah menyediakan banyak waktu agar Pepeng dapat berkontemplasi, berbagi waktu dengan anak-anak, serta memperkuat rajutan kasih sayang bersama istri tercinta.
Mengapa saya bisa sampai pada kesimpulan itu? Karena saya ikut berbesar hati dengan cara Pepeng merespon kondisinya. Ia tetap berkarya, menerima bimbingan mahasiswa, bahkan merampungkan pendidikan S-2, sesuatu yang saya sendiri belum bisa mencapainya walaupun keinginan sudah lama ada. Dengar-dengar, bahkan Pepeng sedang siap-siap studi S-3! Kehadirannya kembali di layar kaca juga telah memberi inspirasi bagi banyak orang.
Dalam satu acara di TV saya ingat Pepeng berkata: Saya berdamai dengan penyakit ini. Saya terima dengan ikhlas agar yang dirasakan hanya sakitnya fisik, bukan jiwa. Kurang lebih begitu. Saya lupa kapan persisnya. Saya juga jarang mengingat apa yang saya tonton di TV, tetapi sepenggal kalimat Pepeng itu samar-samar masih saya ingat sampai sekarang. Agar yang sakit hanya raga, bukan jiwa. Pepeng berikhtiar keras agar ruhaninya tetap sehat. Itu bisa dilakukan karena Pepeng senantiasa percaya dan berprasangka baik atas keputusan Allah SWT.
Saya berdoa semoga keterbatasan fisik yang dirasakan Pepeng sekarang malah membuka ruang kontemplasi yang luas. Perenungan hanya bisa dilakukan di dalam kesunyian, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dituntun Allah pergi menyepi ke gua Hira dan kita manusia biasa diperintahkan untuk shalat tahajjud di hening malam.
Jika penyanyi Bimbo dan pujangga Taufiq Ismail punya kiasan “ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian, sampai ke tepi kuburan”, perkenankan saya menyebut perjalanan Pepeng ini sebagai “tahajjud panjang” yang tak berbilang rakaat. Inilah jalan sunyi ketika tafakur dan tadabbur dijalankan di tengah keheningan batin hingga berbuah tasyakur tak berujung. Itulah Pepeng.
Maha Besar Allah, Dia sedang menuntun sahabatku menuju pencerahan spiritual.
Jakarta, 7 Oktober 2014
Anis Matta
Keterangan Foto: Alm. Ferrasta Soebadri alias Pepeng. (Muhammad Hilal - Relawan PKS Foto)
[pks.id]posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 06, 2015
posted by @Adimin
Pepeng 'Jari-Jari', Kader PKS yang Tangguh
JAKARTA (6/5) - Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun, kabar duka menyelimuti dunia hiburan tanah air. Komedian senior Ferrasta Soebardi alias Pepeng dikabarkan meninggal dunia Rabu (6/5) pukul 10.02 WIB di RS. Puri Cinere, Depok. Komedian yang akrab disapa Pepeng Jari-Jari ini, sudah masuk ruang ICU RS Puri Cinere sejak pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut merasakan duka cita atas kepergian Pepeng, karena ia sendiri tercatat sebagai kader PKS semasa hidupnya.
Banyak kontribusi yang telah diberikan Pepeng dalam dunia hiburan tanah air yang diawali dengan lomba lawak mahasiswa pada tahun 1978 dan berhasil menggaet juara pertama. Lomba itulah yang membawa Pepeng ke dunia hiburan lebih jauh lagi bersama Krisna dan Nana Krip. Pepeng lalu membentuk grup lawak bernama Bahana Joke dan FKR 246. Selanjutnya juga pernah mendirikan grup musik humor Gerak Musik Seloroh (Gmselo).
Pada Pemilihan Umum tahun 2004, Pepeng adalah calon anggota legislatif DPRRI dari PKS di daerah pemilihan Madura, Jawa Timur. Ia pun aktif memberikan motivasi bagi kader-kader PKS semasa sehatnya. Pepeng juga pernah menerima PKS Award kategori Seniman pada tahun 2006 lalu. Pepeng mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan karena selama 10 tahun terakhir setelah diketahui menderita penyakit multiple sclerosis, yaitu penyakit kelainan peradangan pada otak dan sumsum tulang belakang. Meski begitu, selama sakit Pepeng selalu menghadirkan sosok yang tegar, sabar, dan selalu optimistis.
Dua bulan lalu saat Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini menjenguk Pepeng di kediamannya di Cinere, Depok, terlihat kesabaran dan ketangguhan yang luar biasa pada sosok Pepeng. Pada kesempatan itu, Jazuli mengatakan, ketangguhan Pepeng dipengaruhi oleh keimanan yang kuat, dan itu yang membuat almarhum begitu tegar.
"Membuat semuanya menjadi ringan tidak ada beban. Bahkan, pepeng bercerita ketika masuk rumah sakit tiba-tiba analisa dokter sudah hilang, dan Pepeng diminta pulang setelah menyadari bahwa nanti semuanya akan kembali kepada keimanannya," ujar Jazuli, usai menjenguk Pepeng di kediamannya saat itu.
Fraksi PKS mengucapkan turut berduka dan berterima kasih atas jasa-jasa Pepeng, dan juga kepribadiannya yang telah dihadirkan selama ini.
Keterangan Foto: Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini sedang menjenguk Pepeng dikediamannya, Cinere, Depok, Kamis (12/3).
[Fraksi PKS DPR-RI]posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 06, 2015
islamedia
posted by @Adimin
Wakil Ketua MPR: Lomba Menggambar Nabi Sangat Menodai Agama
Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid mengkritik keras lomba
karikatur Nabi Muhammad SAW yang digelar organisasi kebebasan berbicara,
American Freedom Defense Initiative (AFDI) di Texas, Amerika Serikat.
Hidayat mengatakan, lomba tersebut adalah bentuk tindakan intoleran yang
seharusnya tidak dilakukan oleh masyarakat Amerika, yang selama ini
sangat menyuarakan toleransi, multikulturalisme, dan kehidupan beragama
yang damai.
"Karena itu jelas sangat
menodai agama, dan tokoh-tokoh agama, sangat tidak toleran terhadap umat
Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia, itu
menteror kenyamanan pemahaman umat Islam terhadap nabi mereka," kata
Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/5).
Hidayat yang juga sebagai
Wakil Ketua MPR mengatakan, secara prinsip, jika memang sekelompok
masyarakat ingin memberantas radikalisme, seharusnya mereka tidak
melakukan tindakan-tindakan yang justru malah memancing orang untuk
malah menjadi radikal karena marah atas perilaku mereka yang tidak masuk
akal. Menurutnya, lomba tersebut bukanlah cara yang efektif untuk
menghadirkan moderasi dan untuk memberantas radikalisme.
"Karena anda secara radikal justru melakukan tindakan teror terhadap orang lain," ujarnya.
"Jadi kita di dunia ini
harus saling menjaga lah. Saling toleran dengan sebenar-benarnya. Kalau
anda tahu di agama saya tidak diperbolehkan menggambar Nabi Muhammad
SAW, jangan dong kemudian anda justru malah membuat lomba karikatur
nabi, itu kan sangat melecehkan keyakinan umat agama islam," kata
Hidayat lagi.
Ia pun mengapresiasi
langkah kepolisian setempat yang pada akhirnya membubarkan acara
tersebut meski terlanjur menyebabkan korban. "Meski sudah menghadirkan
korban, beberapa orang yang ditembak mati, dan padahal kegiatan itu
sendiri sudah ada kejelasan. Kan beragam kegiatan serupa sebelumnya dan
menghadirkan tindakan anarkis. Harusnya kan tidak dilanjutkan lagi,"
ujarnya
islamedia
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
May 04, 2015
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [1]
Written By dBisnis on 04 May, 2015 | May 04, 2015
Mendapatkan pasangan empatik adalah dambaan. Pasangan tak hanya
bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan, juga memberikan
perhatian dan hatinya
SEPERTI tidak ada waktu
bersama. Sepulang kantor sang suami langsung mandi, makan, kemudian
kembali sibuk dengan hp-nya; entah baca berita, ber-whatsapp atau chatting dengan fasilitas Blackberry Messenger
(BBM). Ibunya anak-anak pun terbelit dengan pekerjaan rumah tangga dan
aneka permintaan dari ananda. Akhirnya aktivitas hari itupun ditutup
dengan alasan yang selalu sama, “ngantuk”.
Rasanya awal pernikahan dulu, pasangan
bagaikan teman setia yang selalu menyediakan waktu untuk bicara. Selalu
tersedia waktu untuk curhat dan selalu ada teman lucu untuk hunting yang
seru. Tapi itu dulu. Sekarang, bisa bicara berdua untuk hal yang
penting pun langka. Lebih enak “ngobrol” dengan teman-teman di Whatsapp atau di BBM. Atau, lebih baik tidur setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.
Bertindak Membahagiakan
Tentu ini kondisi yang tidak diinginkan
oleh siapapun. Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu
adalah dambaan. Pasangan yang tak hanya bersedia memberikan “telinganya”
untuk mendengarkan apa yang kita katakan tetapi juga memberikan
perhatian dan hatinya untuk bisa membahagiakan. Seperti layaknya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Siti Khadijah yang selalu
menjadi teman untuk saling mendengarkan dan membahagiakan.
Mari kita tengok dialog yang terjadi saat
Rasulullah menceritakan peristiwa di Gua Hira pada Khadijah ra, “Ketika
aku bertemu dengan Khadijah, aku duduk di pahanya dan bersandar padanya.
Khadijah kemudian bertanya, ‘Hai Abu Qasim, dimana engkau berada?
Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka
tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab pertanyaan tersebut dengan
menceritakan semua hal yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah kemudian
berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan tegarlah. Demi Dzat yang
jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi
Nabi bagi umat ini.’” (Sirah Ibnu Hisyam: 198).
Kita dapat melihat tindakan yang luar
biasa dilakukan Khadijah manakala melihat suaminya pulang dalam keadaan
bergetar dan menanggung ketakutan. Ia menyediakan dirinya hingga
Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam dapat duduk dipangkuannya dan
bersandar padanya. Layaknya seorang anak yang merapat pada ibunya saat
merasa ketakutan. Kata-kata yang diucapkannya juga menenangkan dan
menegaskan kesediaan untuk menjadi pendukung Rasulullah menghadapi hal
yang besar. Padahal bila yang mendengar hal tersebut bukan Khadijah ra,
maka bukan tak mungkin yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam adalah tuduhan mengada-ada atau saran untuk tidak terlalu
memikirkannya.
Namun, Khadijah ra memang pendamping
pilihan. Ia tidak demikian. Dengan simpatinya yang luar biasa, ia
menyediakan dirinya mendengar bahkan memberikan posisi yang nyaman bagi
suaminya. Kemudian, dengan empati yang dalam, ia menenangkan, menghibur
bahkan memberi dukungan bagi sang suami. Tak hanya sekadar simpati dan
empati, Khadijah ra pun bertindak dengan mengkonfirmasi berita yang
diterima dari suaminya pada seorang keluarganya, Waraqah bin Naufal,
untuk mengukuhkan kebenaran tersebut. Setelah kebenaran itu nyata,
Khadijah-lah yang pertama kali mengimani kerasulan suaminya.
Ibnu Ishaq menceritakan dalam sirah-nya,
“Dengan masuknya Khadijah, Allah Ta’ala meringankan beban Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak
disukainya; baik itu penolakan atau pendustaan yang membuat hatinya
sedih, maka Allah Subhanahu Wata’ala menghilangkan kesedihan beliau
dengan pulang ke rumah dan menjumpai Khadijah. Khadijah binti Khuwailid
menyemangati beliau, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan
memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau
Kartika Ummu Arina
bersambung insyaALLAH . . . . .
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Ulama Yang Fakir
Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015
Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama Al-Qadhi Abu
Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah
seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib
al-Baghdadi).
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Kemudian, sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri
melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol asyik membicarakan satu
permasalahan dari satu bab fikih nikah.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).
Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.
Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).
Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.
Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.
Hingga, ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad:
2/13, al-Khatib al-Baghdadi). Apakah kita pernah mengalami kondisi
seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja
lapar?
Bahron Ansori
Bahron Ansori
posted by @Adimin
Label:
INSPIRASI,
OASE,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
posted by @Adimin
Wawako : Hardiknas, Pendidikan & Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan

PADANG - Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Sekaligus modal untuk mengelola potensi yang dimiliki. Bukan saja beorientasi pada kekayaan alam, tetapi juga mengembangkan sumber daya manusia yang berkuakitas.
Hal itu disampaikan Wakil Walikota Padang H. Emzalmi sebagai amanat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5).
Pada pelaksanaan upacara yang sempat diguyur hujan lebat di Lapangan Imam Bonjol itu, Emzalmi menegaskan, agar semua elemen peduli dengan gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila.
"Saya menghimbau seluruh insan peduli pendidikan agar mengambil bagian dan peran dari gerakan ini," kata Emzalmi.
Tema Hardiknas tahun ini, "Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila", maka sejalan dengan visi Pemko Padang mewujudkan Padang sebagai kota pendidikan, perdagangan dan pariwisata yang sejahtera, religius dan berbudaya.
Guna memperkuat visi tersebut Pemko Padang melahirkan kebijakan, mulai awal tahun pelajaran 2015/2016 maka semua peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan seluruh tingkatan di Kota Padang wajib memakai baju kurung basiba bagi perempuan dan baju taluak balango bagi pria.
"Dengan kebijakan ini diharapkan akan menanamkan kekuatan jati diri, ciri dan identitas kita sebagai suku bangsa yang berbudaya lujur dan mulia," pungkas Wawako.
Sementara itu, Pemko Padang juga memberikan penghargaan terhadap sejumlah guru, pengawas, kepala sekolah, serta siswa berprestasi pada peringatan Hardiknas tahun ini. [Humas dan Protokol Kota Padang]
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Tujuh Kalimat Mustajab
Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah
kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum
materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan
fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya.
Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.
Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.
Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya.
Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.
Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.
Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya.
Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah)
ketika selesai mengerjakan sesuatu. Hamdalah adalah kalimat pujian
seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai
pekerjaannya.
Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.
Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.
Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu.
Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan
kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji
Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.
Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.
Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak.
Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.
Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah” sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak.
Wallahu a'lam bishawab.
A. Khotimi Bahri
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
May 03, 2015
Pemblokiran Media Islam dan Jebakan Huntington [2]
Huntington, Bernard Lewis, dkk terus berkampanye agar Barat mengikuti
jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat,
setelah komunis
sambungan . . . .
DARI kasus doktrin ‘preemptive strike’
ini tampak bagaimana pola pikir ‘bahaya Islam’ atau ‘ancaman Islam’
yang dikembangkan ilmuwan seperti Huntington, berjalan cukup efektif.
Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran
langsung, meskipun tanpa melalui persetujuan PBB. Pola pikir Huntington,
bahwa ‘Islam’ lebih berbahaya dari ‘komunis’ juga tampak mewarnai
kebijakan politik dan militer AS tersebut.
Tentu saja, yang penting kemudian adalah
pendefinisian siapa yang dimaksud sebagai “musuh baru yang lebih bahaya
dari komunis?” Dalam Who Are We? Huntington menyebut, yang
disebut sebagai Islam militan bukan hanya Usama bin Ladin atau al-Qaida
group. Tetapi, banyak kelompok lain yang bersifat negatif terhadap AS.
Kata Huntington, sebagaimana dilakukan oleh Komunis Internasional dulu,
kelompok-kelompok Islam militan melakukan protes dan demonstrasi damai,
dan partai-partai Islam ikut bertanding dalam pemilihan umum. Mereka
juga melakukan kerja-kerja amal sosial.
Dengan definisi dan penggambaran seperti
itu, banyak kelompok Islam yang dimasukkan ke dalam kategori militan,
dan layak diserang secara dini. Tanpa menampilkan sebab-sebab dan fakta
yang komprehansif, misalnya, Huntington menulis, bahwa selama beberapa
dekade terakhir, kaum Muslim memerangi kaum Protestan, Katolik, Kristen
Ortodoks, Hindu, Yahudi, Budha atau Cina. (In recent decades, Muslims have fought Protestan, Catholic, and Orthodox Christians, Hindus, Jews, Buddhists, and Han Chinese). Ia
tidak menjelaskan, apakah dalam kasus-kasus itu kaum Muslim diperangi
dan dizalimi, atau Muslim yang memerangi. Dalam menyinggung kasus
Bosnia, misalnya, dia tidak memaparkan bagaimana kaum Muslim menjadi
korban kebiadaban yang tiada tara di Bosnia. Dan ketika itu, AS dan
sekutunya menjadi penonton yang baik atas pembasmian umat Muslim.
Samantha Power, dalam bukunya “A Problem from Hell: America and The Age of Genocide” (London:
Flamingo, 2003), membongkar habis-habisan sikap tidak peduli AS
terhadap praktik pembasmian umat manusia di berbagai tempat, termasuk di
Bosnia. Buku ini memenangkan hadiah Pulitzer tahun 2003.
Dalam kasus Bosnia, tulis Samantha, AS bukan hanya tidak berusaha
menghentikan pembasmian etnis Muslim, tetapi malah memberi jalan kepada
Serbia untuk melaksanakan kebiadaban mereka. (Along with its European allies, it maintained an arms embargo against the Bosnian Muslims from defending themselves). Untuk Bosnia, Samanta yang menjadi saksi berbagai kebiadaban Serbia di Bosnia, menulis judul “Bosnia: No More than Witnesses at a Funeral”.
Sebagaimana ilmuwan “neo-orientalis”
lainnya, seperti Bernard Lewis, Huntington juga tidak mau melakukan
kritik internal terhadap kebijakan AS yang imperialistik – sebagaimana
banyak dikritik oleh ilmuwan-ilmuwan seperti Noam Chomsky, Paul Findley,
dan Edward Said. Ia tidak mengakui bahwa kebijakan AS yang membabi buta
mendukung kekejaman dan penjajahan Israel adalah keliru dan menjadi
satu sebab penting tumbuhnya ketidakpuasan dan kemarahan kaum Muslim dan
umat manusia. Ia hanya mau menunjukkan bahwa Islam adalah potensi musuh
besar dan bahaya bagi Barat dan AS khususnya. Ia menampilkan polling-polling
di sejumlah negeri Islam yang menunjukkan, sebagian besar kaum Muslim
sangat tidak menyukai kebijakan AS. Misal, sebuah polling di sembilan
negara Islam, antara Desember 2001-Januari 2002, menampilkan realitas
opini di kalangan Muslim, bahwa AS adalah “kejam, agresif, sombong,
arogan, mudah terprovokasi dan bias dalam politik luar negerinya.”
Tetapi, Huntington tidak mau menampilkan
fakta bahwa kebencian masyarakat Barat (Eropa dan rakyat AS sendiri)
terhadap kebijakan-kebijakan politik AS juga sangat besar. Bahkan, jauh
lebih besar dari apa yang terjadi di kalangan Muslim. Di dunia Islam,
tidak ada demonstrasi besar-besaran diikuti ratusan ribu sampai jutaan
orang dalam menentang AS seperti yang terjadi di berbagai negara Eropa
dan di dalam AS sendiri. Banyak ilmuwan dan tokoh AS, seperti Prof.
Chomsky, William Blum, yang tanpa ragu-ragu memberi julukan AS sebagai ‘a leading terrorist state’, atau ‘a rogue state’.
Karena itu, sangatlah naif, bahwa ilmuwan seperti Huntington ini justru
mencoba menampilkan fakta yang tidak fair dan sengaja membingkai Islam
sebagai musuh baru AS. Bahkan ia menyatakan, “The rhetoric of
America’s ideological war with militant communism has been transferred
to its religious and cultural war with militant Islam.”
Huntington, Bernard Lewis, dan
kawan-kawannya terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga
mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh
utama Barat, setelah komunis. John Vinocur, dalam artikelnya berjudul “Trying to put Islam on Europe’s agenda”, (International Herald Tribune, 21 September 2004), mencatat, “But Huntington insists Europe’s situation vis-à-vis Islam is more acute.”
Skenario inilah yang dirancang kelompok “Neo-konservatif” di AS, yang
beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan
konfrontasionis. (Lihat buku The High Priests of War “ (Washington DC: American Free Press, 2004), karya Michel Colin Piper).
Tanpa pendefinisian yang jelas terhadap
“Islam militan”, maka itu akan menyeret kaum Muslim lainnya. Itu,
misalnya, menimpa Thariq Ramadhan dan Yusuf Islam, yang dilarang
memasuki AS. Begitu juga ribuan warga Muslim yang menerima perlakuan
tidak manusiawi. Dalam sub-bab berjudul “The Search for an Enemy”,
Huntington mencatat, bahwa pasca Perang Dingin, AS memang melakukan
pencarian musuh baru, yang kemudian menemukan musuh baru bernama “Islam
militan”, setelah peristiwa WTC. Huntington menulis: “Some
Americans came to see Islamic fundamentalist groups, or more broadly
political Islam, as the enemy, epitomized in Iraq, Iran, Sudan, Libya,
Afghanistan under Taliban, and to lesser degree other Muslim states, as
well as in Islamic terrorist groups such as Hamas, Hezbollah, Islamic
Jihad, and the al-Qaeda network… The cultural gap between Islam and
America’s Christianity and Anglo-Protestanism reinforces Islam’s enemy
qualifications. And on September 11, 2001, Osama bin Laden ended
America’s search. The attacks on New York and Washington followed by the
wars with Afghanistan and Iraq and more diffuse “war on terrorism” make
militant Islam America’s first enemy of the twenty-first century.”
Di sini, tampak, bahwa sangatlah sulit
dunia Islam menerima standar AS dalam soal Islam militan. Dunia Islam,
misalnya, secara keseluruhan tetap menolak memasukkan Hamas di
Palestina, sebagai kelompok teroris, sebab mereka melakukan perjuangan
membebaskan negeri mereka dari penjajahan Israel. Buku Who Are We? memang masih merupakan kelanjutan garis berpikir Huntington dalam soal Islam dari buku The Clash of Civilizations. Sebagaimana
Lewis, Huntington sudah jauh-jauh hari mengingatkan Barat agar mereka
waspada terhadap perkembangan Islam. Sebab, Islam adalah satu-satunya
peradaban yang pernah menggoyahkan dan mengancam peradaban Barat. (Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and it has done at least twice).
Karena itulah, Huntington memperingatkan,
pertumbuhan penduduk Muslim merupakan satu faktor destabilitas terhadap
masyarakat Muslim dan lingkungannya. Jumlah besar kaum muda Muslim
dengan pendidikan menengah akan terus memperkuat kebangkitan Islam dan
militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Hasilnya, pada awal-awal
abad ke-21, Barat akan menyaksikan kebangkitan kekuatan dan kebudayaan
non-Barat dan sekaligus benturan antar-masyarakat non-Barat atau dengan
Barat.
Sebagaimana buku The Clash of Civilizations, buku Who Are We? perlu
dicermati dalam konteks skenario politik global terhadap Islam, yang
sebenarnya merupakan satu upaya “viktimisasi Islam” untuk menutupi
berbagai kesalahan kebijakan AS dan sejumlah sekutunya.
Kini, silakan dicermati, mengapa situs-situs Islam itu diblokir? Allah Maha Tahu dan Allah tak pernah tidur.
DR Adian Husaini
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN



.jpg)



