pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Pengangguran

Written By Anonymous on 08 May, 2015 | May 08, 2015

Penulis: Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat) dimuat dalam Harian Singgalang edisi 6 Mei 2015.
Dulu, suatu ketika seorang teman bertanya kepada Moyardi Kasim (alm).”Uda dima karajo (kakak bekerja dimana)?”
“Ambo ndak karajo doh, manganggur (saya tidak bekerja, menganggur),” jawab Moyardi Kasim. Teman yang bertanya tadi menjadi heran, karena Moyardi adalah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), menurut perkiraannya pastilah beliau telah menjadi seorang pejabat di suatu instansi pemerintah dengan jabatan cukup penting, ndak mungkin ia menganggur. “Ambo cuma manggaleh ketek-ketek (saya cuma berjualan kecil-kecilan),” lanjut Moyardi.
Tentu saja kawan yang bertanya tadi tidak tahu siapa Alm. Moyardi Kasim. Ia adalah putra Sutan Kasim, pemilik PT. Sutam Kasim, dealer kendaraan Mitsubishi terbesar di Sumatera Barat. Yang dimaksud Moyardi dengan manggaleh tadi adalah menjadi dealer (berjualan) mobil.
Ini adalah contoh sederhana, bagaimana umumnya orang Minang mendeskripsikan sebuah pekerjaan atau profesi. Umumnya, dari dulu hingga kini seseorang dikatakan bekerja, jika ia menjadi pegawai di kantor pemerintah. Jika tetangga bertanya, anak yang beberapa waktu lalu tamat kuliah, sekarang bekerja dimana? Pertanyaan itu masih jamak dijawab dengan mengatakan belum bekerja, cuma berkolam ikan, sambil menunggu lamarannya bekerja diterima. Atau bekerja bersama keluarga berjualan di pasar.
Pada hal tak jarang penghasilan yang dia peroleh berjualan atau  usaha kolam ikan jauh lebih besar dibandingkan menjadi pegawai, namun ia tetap saja dikatakan menganggur atau tidak bekerja.
Dalam mendiskripsikan profesi dan memilih jalur profesi, masyarakat etnis Minang memang mempunyai keunikan tersendiri. Orang Minang secara umum cendrung lebih menyukai profesi sebagai pedagang kaki lima misalnya dibandingkan menjadi buruh bangunan, buruh pabrik  atau pembantu rumah tangga. Hal ini diduga dipengaruhi sifat masyarakat Minang yang egaliter. Etnis Minang memang terkenal sebagai kelompok yang campin berdagang.
Oleh karena itu perlu pendekatan yang spesifik pula untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat Minang. Di daerah lain membuka lapangan kerja bisa dilakukan pendekatan usaha padat karya. Dengan membuka satu pabrik yang padat karya saja, misalnya, langsung bisa menyerap ribuan tenaga kerja sekaligus.
Namun hal serupa belum tentu juga sukses dilakukan di Sumatera Barat. Buktinya perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan pola padat karya di Sumatera Barat umumnya gagal. Sebut saja contohnya PT. Sumatex Subur, PT. Asia Biskuit, PT. Poliguna dan lain-lain sejenisnya gagal bertahan lama. Jika ada pekerja kasar pada suatu usaha di Sumatera Barat, umumnya pekerja tersebut didatangkan dari luar Sumatera Barat.
Sejumlah pengamatan dan pengalaman, membuka lapangan kerja di Sumatera Barat harus dilakukan dengan pendekatan khusus. Usaha yang cocok dikembangkan di Sumatera Barat adalah usaha industri rumah tangga (home industri) dengan pola UMKM (usaha Kecil Mikro dan Menengah) bagi pengusaha pemula.
Usaha keluarga lainnya yang bisa dikembangkan adalah pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Dengan bahasa sederhana orang Minang lebih memilih profesi sebagai pengusaha (meski awalnya kecil) dibandingkan menjadi buruh. Potensi yang dimiliki masyarakat Minang sebagai enterpreneur (pengusaha) harus dioptimalkan.
Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat beserta Pemerintah Kabupaten dan Kota, dengan pendekatan tersebut  telah berhasil menurunkan tingkat pengangguran di Sumatera Barat. Menurut data Biro Pusat Statistik Sumatera Barat Tingkat Pengangguran Terbuka di Sumatera Barat pada tahun 2015 adalah 6,5 persen, angka ini 0,5 persen di atas rata-rata nasional.
Namun dari segi persentase jumlah penduduk miskin, Sumatera Barat menempati peringkat 7 dengan jumlah persentase penduduk miskin terkecil di Indonesia. Sedangkan di Sumatera, Sumatera Barat menempati peringkat ke 3 setelah Jambi dan Lampung.
Namun apakah benar tingkat pengangguran di Sumatera Barat memang benar  seperti hasil survai, perlu ditelaah dan dianalisa lagi. Karena seperti dicontohkan di atas, deskripsi menganggur/tidak bekerja bagi masyarakat Sumatera barat berbeda dengan deskripsi yang berlaku umum. Begitu juga untuk status kemiskinan, dalam menyatakan status harta, orang Minang biasanya lebih suka merendah.
Kita sering mendengar kata-kata: ”Mampirlah ke gubuk kami.” Padahal kenyataannya gubuk yang dimaksud adalah sebuah rumah bertingkat yang mentereng. Harus lebih hati-hati dalam mengidentifikasi tingkat kemiskinan di Sumatera Barat. 
Sumber: http://irwan-prayitno.com


posted by @Adimin

Penyakit Hati Orang "Sukses"



Tiada godaan terhebat dari seorang yang sukses rizkinya, jabatannya, popularitasnya, ilmunya, dan keturunannya kecuali bangga, kagum pada dirinya sendiri, pongah, dan akhinya merendahkan orang lain.

Merasa paling hebat, paling pintar, paling benar, paling suci. Inilah penyakit hati orang sukses termasuk orang seperti abang ini.

Begini begitu kan kesannya saja padahal aib kekurangan seabrek abrek, untungnya saja aib abang dan kita semua masih ditutupi Allah.

Kalau dibuka pasti sangat malu dan hina. “Jangan kamu terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang terlalu membanggakan diri” (QS Al-Qashash 76).

“Maka jangan kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) paling mengetahui orang yang bertakwa” (QS An-Najm 32).

Rasulullah mengingatkan mengulang sampai tiga kali, "Takutlah kalian pada al uzba" yaitu bangga kagum pada diri sendiri. Nasehat ini beliau arahkan pada para sahabat sahabat beliau yang shaleh dan hafal Alquran.

Memang dosa ujub ini lebih halus dari langkah semut, bisa jadi kesannya tawadhu tetapi di hati ingin dipuji, marah dihina ternyata karena berharap dipuji.

Inilah "dho'ful aqli wal iimaani" tanda lemahnya akal dan iman. Padahal sangat rugi, sudah cape-cape beramal dihancurkan kemudian dengan ujub.

Jadi, seringlah duduk di majlis Ilmu dan Zikir. Saat menengadah menatap wajah guru, rontoklah kebanggaan dirinya. Duduklah bersama faqir miskin, yatim piatu, orang-orang susah.

Ziarahilah kuburan, perkuat puasa sunnah, tadabburkan Alqur'an, perhebat istigfar. Dan selalu harus sempatkan diri secara khusus muhasabah diri selesai sholat malam, "siapa aku, darimana, dimana, dan mau kemana akhirnya aku?"

Sungguh tidak pantas bangga diri kecuali hanya Allah Maha Terpuji.
Sungguh ini abang tulis untuk diri abang yang banyak dosa ini, dan kalian sahabatku tercinta.

Allahumma ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang Kau ridhoi minal mukhlishiin, berilah kami rizki teragung yaitu sifat ikhlas, dan bersihkan hati kami dari riya, sum'ah, ujub, dan semua penyakit hati... Aaamiin

M. Arifin Ilham

sumber : republika

posted by @Adimin

Santri Cerdik dan Seekor Sapi

Written By @Adimin on 07 May, 2015 | May 07, 2015



Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan (lumayan pintar). Dia pun berencana mengadu nasib di Jakarta.

Saat tiba di Stasiun Pasar Senen, dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan biasanya memang menjadi tontonan yang menarik, maka dia pun memutuskan untuk ikut menonton.

Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban dengan jelas, apalagi postur tubuhnya yang memang kecil. Jadi, jangankan mendekat, untuk melihat korban saja sulit. Berhubung karena merupakan santri berotak cemerlang, maka dia tidak kurang akal dan langsung berteriak-teriak sambil pura-pura panik.

"Saya keluarganya.. Saya keluarganya.. Minggir.. Tolong minggir !" katanya sambil mengacungkan jari dan mendesak maju menerobos kerumunan orang-orang tersebut.

Orang-orang pun memandanginya, dan ternyata si santri memang berhasil. Mereka langsung memberi kesempatan kepada santri itu untuk menghampiri korban kecelakaan. Santri itu pun langsung mendekati korban kecelakaan. Dan, betapa terkejutnya ketia dia melihat dengan jelas korban kecelakaan yang diakuinya sebagai keluarganya itu ternyata adalah seekor SAPI . . . . .!



posted by @Adimin

Pentingnya Jihad Bil Qalam




Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih

SALAH satu tugas dan tanggungjawab setiap muslim adalah berdakwah. Dakwah artinya mengajak, menyeru dan menunjukkan jalan kebenaran. Dakwah bukan tugas Kiai, Ustadz, Dai, Mubalig, dan penceramah saja. Dakwah adalah tugas bagi semua orang sesuai kemampuannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda; Siapa yang menunjukkan jalan hidayah ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikuti seruan dakwahnya, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

Dakwah tidak sebatas pada kemampuan mengolah kata, lalu disampaikan secara lisan kepada khalayak. Beragam metode bisa kita tempuh untuk berdakwah. Dakwah lewat tulisan salah satunya. Dakwah lewat tulisan jauh lebih efektif dan mampu menjangkau sasaran secara luas, menyebar hingga pelosok dunia. Menulis akan membuat kita mampu mengemas apa yang sudah kita dengar dan ketahui dari kebaikan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus bagi orang lain. Keengganan mencatat setiap membaca, menyimak khutbah, kuliah, dan ceramah, akan membuat hikmah-hikmah yang kita sudah dapatkan, menguap begitu saja. Padahal, Allah telah mengajarkan penggunaan pena kepada manusia yang memiliki sifat lupa ini.

Dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, beliau selalu berupaya menyerdaskan umat lewat baca-tulis. Dalam suatu peristiwa usai perang Badar, Nabi memberikan tawaran kebebasan kepada sebagian para tawanan dengan syarat mengajarkan baca-tulis kepada para sahabat dan anak-anaknya.  Baca-tulis sebagai syarat kebebasan merupakan keputusan langka bahkan termasuk pertama kali yang pernah ada.

Hasilnya? Para sahabat menjadi “gila” menulis. Mereka merasa bersalah jika tidak menulis wahyu atau hadis yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Bangsa Arab yang mengalami kemunduran di berbagai bidang kehidupan, pelan namun pasti, beranjak menjadi bangsa yang maju dan memiliki peradaban mulia.

Kalau tidak karena sikap Nabi yang tidak pernah memberi motivasi menulis dan membaca kepada para sahabat, tentu kita tidak akan pernah tahu seperti apa ayat dan surat dalam Al-Quran, karena tidak ada yang menuliskanya. Kalau bukan karena usaha Nabi untuk membuat sahabatnya gila menulis tentu kita akan buta tentang hadis-hadis yang berisi ajaran dan pola hidup Nabi Muhammd Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.
Dakwah dengan pena bagian dari jihad. Inilah yang disebut dengan Jihad bil qalam yang artinya berjuang dengan pena, berjuang mengusir dan membasmi kebodohan dengan tinta.

Seorang ulama pernah berujar, “Apakah seseorang mengira bahwa dengan sibuk mengumpulkan harta di siang hari dan melakukan hubungan intim di malam hari, ia akan menjadi golongan ahli fiqh? Tidak mungkin. Demi Allah tidak mungkin, hingga ia menjadikan buku dan tinta sebagai kawannya dan sikap wara`, selalu mencari ilmu di sepanjang hari, bersabar dalam suka dan duka, dan bersabar dalam menanti cucuran rahmat.”

Pernah dikisahkan, ada seorang ulama yang ketika dalam detik-detik kemangkatannya meminta sesuatu kepada muridnya. Permintaannya di luar dugaan si murid. Sang guru memintanya untuk mengambilkan pena untuk mencatat suatu ilmu. Padahal ia dalam kondisi sakaratul maut.

Suatu kali, guru saya Habib Shalih bin Ahmad Alaydrus pernah menyampaikan suatu pertanyaan, “Apa karomah para Imam Empat Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Ahmad bin Hanbal)?” Kami, santri di Pesantren Daruttauhid Malang, diam seribu bahasa. Dalam alam pikiran kami, karomah adalah hal-hal luar biasa yang terjadi di luar nalar manusia. Seperti, bisa berjalan di atas air, berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dalam waktu singkat, atau merubah air menjadi sesuatu yang lain.

Setelah tahu tidak ada yang bisa menjawab, Habib Shalih yang merupakan Alumni Pesantren milik Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki-Makkah ini, mengatakan, “Karomah mereka adalah ilmu mereka yang bermanfaat. Mereka sudah wafat ratusan tahun silam namun sampai detik ini, jutaan umat Islam masih mengikuti ajaran dan mengamalkan ilmu yang mereka sampaikan. Inilah karomah terbesar,” kata-kata beliau masih terngiang kuat dalam pikiran saya sampai detik ini.

Ilmu bermanfat adalah karomah. Para Imam ini memiliki ilmu yang bermanfaat dikarenakan, pertama, anugerah Allah dan kedua mereka menuliskan ilmu-ilmu yang telah mereka raih. Semua imam tersebut memiliki karangan sehingga kita mudah melacak, mempelajari, dan mengamalkannya. Imam Abu Hanifah dengan karya Kitabul Fiqhul Akbar-nya, Imam Malik bin Anas dengan Kitab Muwattho`-nya, Imam Syafi`i dengan Kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya, dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan Musnad-nya. Seandainya mereka tidak menulis dari mana kita akan bisa memelajari ilmu mereka? Semuanya meninggalkan warisan yang tak ternilai. Meski pun tubuh telah terbalut kafan dan terkubur dalam timbunan tanah beratus-ratus tahun lamanya, namun karya tulisnya terkenang sepanjang masa.

Jihad bil qalam harus menjadi kebiasaan dan tradisi kita. Dunia selalu tergoncang dengan pena sebagai karya yang abadi. Niatkan saat hendak menulis untuk ibadah dakwah agar tiap huruf yang tersusun bernilai pahala di sisi Allah Subhnahahu Wata’ala. Milikilah prinsip, “Menulis apa yang disampaikan dan menyampaikan apa yang ditulis.”

Wallaahu A`lam Bis Showaab.*

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

 


posted by @Adimin

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [2]



Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami

ALANGKAH indahnya, jika kita pun bersikap layaknya Rasulullah Saw dan Khadijah ra. Bukankah rentang waktu pernikahan mereka hingga kerasulan telah menjejak waktu 15 tahun? Namun, jika melihat apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat mengadu pada istrinya dan apa yang istrinya lakukan, maka kita bisa mengetahui indahnya komunikasi mereka selama 15 tahun.


Indahnya Bicara

Kitapun juga pasti ingin mendapatkan pasangan yang bersedia menjadi teman “curhat” yang mau menyediakan perhatian dan hatinya. Mengapa pasangan yang mau diajak bicara ini penting? Karena, yang tahu persis problem-problem yang terjadi dalam rumah tangga adalah pasangan itu sendiri. Sehingga yang paling tepat untuk melakukan evaluasi plus menyepakati solusi tentu adalah pasangan sendiri. Bukan orang lain yang tidak mengetahui secara pasti masalah yang sesungguhnya dan pastinya bilapun menjadi bagian dari solusi, maka pelaku utama tetap kita sendiri.

Pasangan yang saling terbuka membicarakan keinginan dan kekhawatiran mereka, biasanya akan tumbuh menjadi pasangan yang saling mendukung. Sehingga mereka dapat tumbuh bersama termasuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka berdua dan mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.


Mulailah Bicara

Namun demikian, untu jadi pasangan yang tumbuh bersama, semuanya justru diawali oleh perbedaan. Dari mulai beda fisik, beda kebiasaan, bahkan bisa jadi beda pemahaman keislaman. Inilah yang luar biasa bila memperhatikan firman Alah Subhanahu Wata’ala dalam surat Ar-Ruum  [30]: 21, “…supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang.”

Bagaimana mungkin jadi tumbuh rasa kasih sayang kalau begitu berbeda? Karena berbeda itulah, semestinya berupaya untuk saling memahami.

Memahami perbedaan inilah yang akan membuat kita memahami bahwa waktu bicara dengan suami atau waktu bicara dengan istri sangat berbeda. Bicara dengan suami butuh pengertian bahwa mereka butuh waktu untuk dirinya lebih dahulu dan butuh verbalisasi yang jelas. Sehingga istri memang tidak dianjurkan merajuk atau bertele-tele. Sedangkan bicara dengan istri pasti butuh kesabaran untuk membujuk dan mendengarkannya bicara.

Rasa dan upaya untuk bisa mencapai paham inilah yang akan membuahkan kasih sayang. Bila langsung paham tanpa belajar dan mengelola perasaan maka tentu tidak akan ada pengalaman-pengalaman indah yang dapat dikenang. Tidak ada canda atau tangis yang menguatkan perasaan memiliki.  Juga tidak ada hikmah yang dapat diambil bersama dan tidak ada saat-saat manis setelah berselisih paham dan akhirnya berbaikan.
 
Akhirnya, dengan berbekal iman dan kasih sayang, semoga kita termasuk orang yang diridhai Allah dan Rasul-Nya karena berjuang mengikuti sunnah. Sebagaimana Rasulullah menyampaikan berita gembira untuk Khadijah ra, “Aku diperintahkan menyampaikan berita gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara) yang didalamnya tidak ada teriakan keras dan kelelahan


Kartika Ummu Arina

posted by @Adimin

Tulisan Anis M. "Jalan Sunyi Menuju Pencerahan Spiritual"

Written By Anonymous on 06 May, 2015 | May 06, 2015

JAKARTA (6/5) - Rabu, 6 Mei 2015 Indonesia kembali kehilangan salah satu seniman berbakatnya, Ferrasta Soebadri atau yang dikenal dengan nama Pepeng. Selama menderita penyakit Multiple Sclerosis (MS) sejak tahun 2005, Pepeng telah menginspirasi bangsa dengan tingkat kesabarannya yang tinggi dalam menghadapi sakit.
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta pun mengapresiasi semangat dan kebesaran hati Pepeng. Pada Oktober 2014 Anis menulis bahwa perjalanan Nabi Ibrahim AS bisa digunakan untuk memaknai perjalanan sosok Pepeng. Berikut tulisan lengkap Anis Matta tentang hikmah dari perjuangan Pepeng “Jari-Jari”.
Jalan Sunyi Menuju Pencerahan Spiritual oleh Anis Matta
Menulis tentang sahabat saya Ferrasta Soebardi, atau yang akrab kita panggil Mas Pepeng, di tengah suasana Idul Adha membawa saya pada pertemuan dua peristiwa yang berujung pada satu konsep penting dalam ajaran Islam, yaitu percaya dan prasangka baik kepada keputusan Allah SWT.
Ketika Nabi Ibrahim AS menerima perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail AS, anak yang sudah lama didambakannya, ia sempat sedetik bertanya. Malah sang anaklah yang mengingatkan dan meneguhkan keyakinan ayahnya untuk senantiasa percaya dan berprasangka baik terhadap perintah dan keputusan Allah SWT.
Kita belajar, Ibrahim adalah seseorang yang sedari muda “mencari Tuhan”, menempuh jalan penuh gelisah untuk menemukan hakikat kemanusiaan, yaitu hadirnya Tuhan dalam hidup manusia. Ibrahim bertanya, apakah bulan, apakah matahari, yang merupakan Yang Maha Kuasa bagi manusia. Ternyata tidak. Ibrahim bahkan bereksperimen “membunuh Tuhan”—istilah yang dipopulerkan oleh filsuf Friedrich Nietzsche—dengan menghancurkan berhala-berhala yang disembah lewat ayunan kapaknya, dengan risiko hukuman yang bisa menghilangkan nyawa.
Maha Besar Allah, Dia akhirnya menuntun Ibrahim untuk menemukan jalan tauhid, percaya pada Allah Yang Esa dan bersaksi bukanlah bulan atau matahari—sekalipun mempesona dan tampak adidaya—yang menjadi Maha Kuasa bagi hidup manusia. Allah Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa. Dari perjalanan itu, dalam kajian filsafat dan sosiologi agama, Ibrahim diberi julukan “Bapak monoteisme umat manusia”.
Lalu, apa pelajaran dari perjalanan Ibrahim yang bisa gunakan untuk memaknai perjalanan sahabat kita Pepeng? Ternyata, perjalanan “mencari Tuhan” telah disediakan oleh—tak lain dan tak bukan—Allah SWT sendiri. Allah membukakan begitu banyak pintu-pintu menuju diri-Nya lewat pemaknaan jalan hidup yang ditempuh oleh masing-masing makhluk.
Kita mengetahui sudah cukup lama Pepeng diberi ujian berupa penyakit langka yang mungkin belum ada obatnya. Penyakit itu merampas mobilitasnya, sesuatu yang tentu sangat membuat sedih bagi seniman dunia hiburan seperti Pepeng. Saya masih ingat, ketika kampanye PKS di Gelora Bung Karno tahun 2004, Pepeng berdiri di panggung sebagai salah satu pembawa acara, membakar semangat sambil sesekali menggocek tawa.
Saya tetap ingin memandang Pepeng sebagaimana sang seniman panggung itu mengarahkan acara puncak kampanye PKS pada fase awal yang penting dalam demokratisasi Indonesia tersebut. Dia tampak gagah, tapi juga santai, percaya diri, namun tetap membumi dan rendah hati. Puluhan ribu kader PKS dan para undangan berteriak bersama, tertawa bersama, bernyanyi bersama, dan berbagi semangat bersama, di bawah komando sang dirigen acara: Pepeng.
Bahwa sekarang Pepeng sedang diminta untuk tidak terlalu banyak bergerak, itu adalah cara Allah menyediakan banyak waktu agar Pepeng dapat berkontemplasi, berbagi waktu dengan anak-anak, serta memperkuat rajutan kasih sayang bersama istri tercinta.
Mengapa saya bisa sampai pada kesimpulan itu? Karena saya ikut berbesar hati dengan cara Pepeng merespon kondisinya. Ia tetap berkarya, menerima bimbingan mahasiswa, bahkan merampungkan pendidikan S-2, sesuatu yang saya sendiri belum bisa mencapainya walaupun keinginan sudah lama ada. Dengar-dengar, bahkan Pepeng sedang siap-siap studi S-3! Kehadirannya kembali di layar kaca juga telah memberi inspirasi bagi banyak orang.
Dalam satu acara di TV saya ingat Pepeng berkata: Saya berdamai dengan penyakit ini. Saya terima dengan ikhlas agar yang dirasakan hanya sakitnya fisik, bukan jiwa. Kurang lebih begitu. Saya lupa kapan persisnya. Saya juga jarang mengingat apa yang saya tonton di TV, tetapi sepenggal kalimat Pepeng itu samar-samar masih saya ingat sampai sekarang. Agar yang sakit hanya raga, bukan jiwa. Pepeng berikhtiar keras agar ruhaninya tetap sehat. Itu bisa dilakukan karena Pepeng senantiasa percaya dan berprasangka baik atas keputusan Allah SWT.
Saya berdoa semoga keterbatasan fisik yang dirasakan Pepeng sekarang malah membuka ruang kontemplasi yang luas. Perenungan hanya bisa dilakukan di dalam kesunyian, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dituntun Allah pergi menyepi ke gua Hira dan kita manusia biasa diperintahkan untuk shalat tahajjud di hening malam.
Jika penyanyi Bimbo dan pujangga Taufiq Ismail punya kiasan “ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian, sampai ke tepi kuburan”, perkenankan saya menyebut perjalanan Pepeng ini sebagai “tahajjud panjang” yang tak berbilang rakaat. Inilah jalan sunyi ketika tafakur dan tadabbur dijalankan di tengah keheningan batin hingga berbuah tasyakur tak berujung. Itulah Pepeng.
Maha Besar Allah, Dia sedang menuntun sahabatku menuju pencerahan spiritual.
Jakarta, 7 Oktober 2014
Anis Matta
Keterangan Foto: Alm. Ferrasta Soebadri alias Pepeng. (Muhammad Hilal - Relawan PKS Foto)
[pks.id]


posted by @Adimin

Pepeng 'Jari-Jari', Kader PKS yang Tangguh

JAKARTA (6/5) - Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun, kabar duka menyelimuti dunia hiburan tanah air. Komedian senior Ferrasta Soebardi alias Pepeng dikabarkan meninggal dunia Rabu (6/5) pukul 10.02 WIB di RS. Puri Cinere, Depok. Komedian yang akrab disapa Pepeng Jari-Jari ini, sudah masuk ruang ICU RS Puri Cinere sejak pukul 02.00 WIB dini hari tadi. Keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut merasakan duka cita atas kepergian Pepeng, karena ia sendiri tercatat sebagai kader PKS semasa hidupnya.
Banyak kontribusi yang telah diberikan Pepeng dalam dunia hiburan tanah air yang diawali dengan lomba lawak mahasiswa pada tahun 1978 dan berhasil menggaet juara pertama. Lomba itulah yang membawa Pepeng ke dunia hiburan lebih jauh lagi bersama Krisna dan Nana Krip. Pepeng lalu membentuk grup lawak bernama Bahana Joke dan FKR 246. Selanjutnya juga pernah mendirikan grup musik humor Gerak Musik Seloroh (Gmselo).
Pada Pemilihan Umum tahun 2004, Pepeng adalah calon anggota legislatif DPRRI dari PKS di daerah pemilihan Madura, Jawa Timur. Ia pun aktif memberikan motivasi bagi kader-kader PKS semasa sehatnya. Pepeng juga pernah menerima PKS Award kategori Seniman pada tahun 2006 lalu. Pepeng mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan karena selama 10 tahun terakhir setelah diketahui menderita penyakit multiple sclerosis, yaitu penyakit kelainan peradangan pada otak dan sumsum tulang belakang. Meski begitu, selama sakit Pepeng selalu menghadirkan sosok yang tegar, sabar, dan selalu optimistis.
Dua bulan lalu saat Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini menjenguk Pepeng di kediamannya di Cinere, Depok, terlihat kesabaran dan ketangguhan yang luar biasa pada sosok Pepeng. Pada kesempatan itu, Jazuli mengatakan, ketangguhan Pepeng dipengaruhi oleh keimanan yang kuat, dan itu yang membuat almarhum begitu tegar.
"Membuat semuanya menjadi ringan tidak ada beban. Bahkan, pepeng bercerita ketika masuk rumah sakit tiba-tiba analisa dokter sudah hilang, dan Pepeng diminta pulang setelah menyadari bahwa nanti semuanya akan kembali kepada keimanannya," ujar Jazuli, usai menjenguk Pepeng di kediamannya saat itu.
Fraksi PKS mengucapkan turut berduka dan berterima kasih atas jasa-jasa Pepeng, dan juga kepribadiannya yang telah dihadirkan selama ini.
Keterangan Foto: Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini sedang menjenguk Pepeng dikediamannya, Cinere, Depok, Kamis (12/3).
[Fraksi PKS DPR-RI]


posted by @Adimin

Wakil Ketua MPR: Lomba Menggambar Nabi Sangat Menodai Agama



Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid mengkritik keras lomba karikatur Nabi Muhammad SAW yang digelar organisasi kebebasan berbicara, American Freedom Defense Initiative (AFDI) di Texas, Amerika Serikat. Hidayat mengatakan, lomba tersebut adalah bentuk tindakan intoleran yang seharusnya tidak dilakukan oleh masyarakat Amerika, yang selama ini sangat menyuarakan toleransi, multikulturalisme, dan kehidupan beragama yang damai.

"Karena itu jelas sangat menodai agama, dan tokoh-tokoh agama, sangat tidak toleran terhadap umat Islam yang jumlahnya lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia, itu menteror kenyamanan pemahaman umat Islam terhadap nabi mereka," kata Hidayat di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/5).

Hidayat yang juga sebagai Wakil Ketua MPR mengatakan, secara prinsip, jika memang sekelompok masyarakat ingin memberantas radikalisme, seharusnya mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang justru malah memancing orang untuk malah menjadi radikal karena marah atas perilaku mereka yang tidak masuk akal. Menurutnya, lomba tersebut bukanlah cara yang efektif untuk menghadirkan moderasi dan untuk memberantas radikalisme.

"Karena anda secara radikal justru melakukan tindakan teror terhadap orang lain," ujarnya.

"Jadi kita di dunia ini harus saling menjaga lah. Saling toleran dengan sebenar-benarnya. Kalau anda tahu di agama saya tidak diperbolehkan menggambar Nabi Muhammad SAW, jangan dong kemudian anda justru malah membuat lomba karikatur nabi, itu kan sangat melecehkan keyakinan umat agama islam," kata Hidayat lagi.

Ia pun mengapresiasi langkah kepolisian setempat yang pada akhirnya membubarkan acara tersebut meski terlanjur menyebabkan korban. "Meski sudah menghadirkan korban, beberapa orang yang ditembak mati, dan padahal kegiatan itu sendiri sudah ada kejelasan. Kan beragam kegiatan serupa sebelumnya dan menghadirkan tindakan anarkis. Harusnya kan tidak dilanjutkan lagi," ujarnya


islamedia
 
posted by @Adimin

Mendengar, Resep Menguatkan Rumah Tangga [1]

Written By dBisnis on 04 May, 2015 | May 04, 2015

Mendapatkan pasangan empatik adalah dambaan. Pasangan tak hanya bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan, juga memberikan perhatian dan hatinya



SEPERTI tidak ada waktu bersama. Sepulang kantor sang suami langsung mandi, makan, kemudian kembali sibuk dengan hp-nya; entah baca berita, ber-whatsapp atau chatting dengan fasilitas Blackberry Messenger (BBM). Ibunya anak-anak pun terbelit dengan pekerjaan rumah tangga dan aneka permintaan dari ananda. Akhirnya aktivitas hari itupun ditutup dengan alasan yang selalu sama, “ngantuk”.

Rasanya awal pernikahan dulu, pasangan bagaikan teman setia yang selalu menyediakan waktu untuk bicara. Selalu tersedia waktu untuk curhat dan selalu ada teman lucu untuk hunting yang seru. Tapi itu dulu. Sekarang, bisa bicara berdua untuk hal yang penting pun langka. Lebih enak “ngobrol” dengan teman-teman di Whatsapp atau di BBM. Atau, lebih baik tidur setelah seharian berjibaku dengan rutinitas.


Bertindak Membahagiakan

Tentu ini kondisi yang tidak diinginkan oleh siapapun. Mendapatkan pasangan yang simpatik dan empatik tentu adalah dambaan. Pasangan yang tak hanya bersedia memberikan “telinganya” untuk mendengarkan apa yang kita katakan tetapi juga memberikan perhatian dan hatinya untuk bisa membahagiakan. Seperti layaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Siti Khadijah yang selalu menjadi teman untuk saling mendengarkan dan membahagiakan.

Mari kita tengok dialog yang terjadi saat Rasulullah menceritakan peristiwa di Gua Hira pada Khadijah ra, “Ketika aku bertemu dengan Khadijah, aku duduk di pahanya dan bersandar padanya. Khadijah kemudian bertanya, ‘Hai Abu Qasim, dimana engkau berada? Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Makkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab pertanyaan tersebut dengan menceritakan semua hal yang dialaminya di Gua Hira. Khadijah kemudian berkata, ‘Saudara misanku, bergembiralah dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap kiranya engkau menjadi Nabi bagi umat ini.’” (Sirah Ibnu Hisyam: 198).

Kita dapat melihat tindakan yang luar biasa dilakukan Khadijah manakala melihat suaminya pulang dalam keadaan bergetar dan menanggung ketakutan. Ia menyediakan dirinya hingga Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam dapat duduk dipangkuannya dan bersandar padanya. Layaknya seorang anak yang merapat pada ibunya saat merasa ketakutan. Kata-kata yang diucapkannya juga menenangkan dan menegaskan kesediaan untuk menjadi pendukung Rasulullah menghadapi hal yang besar. Padahal bila yang mendengar hal tersebut bukan Khadijah ra, maka bukan tak mungkin yang dihadapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tuduhan mengada-ada atau saran untuk tidak terlalu memikirkannya.

Namun, Khadijah ra memang pendamping pilihan. Ia tidak demikian. Dengan simpatinya yang luar biasa, ia menyediakan dirinya mendengar bahkan memberikan posisi yang nyaman bagi suaminya. Kemudian, dengan empati yang dalam, ia menenangkan, menghibur bahkan memberi dukungan bagi sang suami. Tak hanya sekadar simpati dan empati, Khadijah ra pun bertindak dengan mengkonfirmasi berita yang diterima dari suaminya pada seorang keluarganya, Waraqah bin Naufal, untuk mengukuhkan kebenaran tersebut. Setelah kebenaran itu nyata, Khadijah-lah yang pertama kali mengimani kerasulan suaminya.
 
Ibnu Ishaq menceritakan dalam sirah-nya, “Dengan masuknya Khadijah, Allah Ta’ala meringankan beban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika beliau mendengar perkataan yang tidak disukainya; baik itu penolakan atau pendustaan yang membuat hatinya sedih, maka Allah Subhanahu Wata’ala menghilangkan kesedihan beliau dengan pulang ke rumah dan menjumpai Khadijah. Khadijah binti Khuwailid menyemangati beliau, meringankan beban beliau, membenarkan beliau, dan memandang remeh tanggapan manusia terhadap beliau

Kartika Ummu Arina

bersambung insyaALLAH . . . . .


posted by @Adimin

Ulama Yang Fakir

Written By dBisnis on 03 May, 2015 | May 03, 2015


Hari ini, tentu tak ada orang yang mau hidup dalam kefakiran. Tapi, itu tidak berlaku bagi para ulama terdahulu.
 
Lihatlah sikap seorang ulama besar Islam bernama Al-Qadhi Abu Abdillah Syarik Ibnu Abdillah an-Nakha’i al-Kufi. Dia adalah salah seorang ulama besar pada zamannya (Tarikh Baghdad 9/288, al-Khatib al-Baghdadi).

Suatu hari, saat sahabatnya, Umar Ibnu Hayyaj Ibnu Sa’id al-Hamdani, berkunjung ke rumahnya pada pagi hari ia disambut oleh Al-Qadhi Syarik dalam keadaan tidak memakai pakaian sembari membawa bubur.
Kemudian, sahabatnya itu berkomentar, “Engkau telah banyak menyelesaikan masalah hukum, namun keadaanmu masih seperti ini.”

Mendengar hal itu, Al-Qadhi menjawab, “Bajuku dicuci kemarin, hingga sekarang belum juga kering. Aku masih menunggunya sampai kering. Silakan duduk, duduklah!”
Keadaannya yang seperti itu tidak membuatnya mengurungkan diri melayani sahabatnya. Mereka tetap mengobrol asyik membicarakan satu permasalahan dari satu bab fikih nikah.

Apa yang dialami Al-Qadhi dialami juga oleh seorang ulama besar, tsiqah, petualang dari negeri timur (Khurasan) hingga Mesir untuk mencari hadis, seorang yang sangat zuhud. Dialah Zaid Ibnul Hubbab al-Khurasani.

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar darinya dalam menjalani kefakiran. Aku banyak mengambil hadis darinya. Bahkan, muridnya sering datang berguru dengannya, namun ia tidak mau menemui mereka di hadapannya karena ia tidak mempunyai baju yang mampu menutupi auratnya. Sehingga, ia hanya menyampaikan ilmu dari balik pintu dan dengan suatu penghalang.” (Siyar A’lamin Nubala’ : 9/393, al-Hafidz adz-Dzahabi).

Imam Ahmad sendiri ketika berada di Yaman selama dua tahun tidak mempunyai uang sepeser pun. Ia pernah ditawari sejumlah uang oleh Abdurrazzaq ash-Shan’ani (gurunya), tapi ia menolaknya dengan halus. Untuk menjaga wara’-nya, ia menggadaikan sandalnya kepada tukang roti sebagai jaminan atas roti yang ia butuhkan.

Bahkan, pakaian-pakaian yang biasa digunakannya untuk belajar semuanya habis karena dicuri orang sehingga saat itu ia tidak bisa menghadiri majelis ilmu. Mendengar kejadian itu, gurunya menangis sedih jika disebut nama Ahmad bin Hanbal. (Thabaqatul Hanabilah: 1/209, al-Qadhi Ibnu Abi Ya’la).

Kefakiran juga pernah dialami Imam Bukhari dalam perjalanannya mencari ilmu. Umar Ibnu Hafsh al-Asyqar menceritakan, suatu saat semua orang di Basrah kehilangan Imam Bukhari dari majelis ilmu mereka.

Lalu, mereka mencarinya dan mendapatkannya ada di sebuah rumah dalam keadaan tidak berpakaian. Kemudian, mereka mengumpulkan sejumlah dirham guna membeli pakaian untuknya.

Hingga, ia kembali mengajarkan ilmu kepada mereka. (Tarikh Baghdad: 2/13, al-Khatib al-Baghdadi). Apakah kita pernah mengalami kondisi seperti para ulama panutan umat di atas? Pernahkah kita sehari saja lapar?

Bahron Ansori

posted by @Adimin

Wawako : Hardiknas, Pendidikan & Kebudayaan Sebagai Gerakan Pencerdasan


PADANG - Manusia yang terdidik dan tercerahkan adalah kunci kemajuan bangsa. Sekaligus modal untuk mengelola potensi yang dimiliki. Bukan saja beorientasi pada kekayaan alam, tetapi juga mengembangkan sumber daya manusia yang berkuakitas.

Hal itu disampaikan Wakil Walikota Padang H. Emzalmi sebagai amanat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Sabtu (2/5).

Pada pelaksanaan upacara yang sempat diguyur hujan lebat di Lapangan Imam Bonjol itu, Emzalmi menegaskan, agar semua elemen peduli dengan gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila.

"Saya menghimbau seluruh insan peduli pendidikan agar mengambil bagian dan peran dari gerakan ini," kata Emzalmi.

Tema Hardiknas tahun ini, "Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Generasi Berkarakter Pancasila", maka sejalan dengan visi Pemko Padang mewujudkan Padang sebagai kota pendidikan, perdagangan dan pariwisata yang sejahtera, religius dan berbudaya.

Guna memperkuat visi tersebut Pemko Padang melahirkan kebijakan, mulai awal tahun pelajaran 2015/2016 maka semua peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan seluruh tingkatan di Kota Padang wajib memakai baju kurung basiba bagi perempuan dan baju taluak balango bagi pria.

"Dengan kebijakan ini diharapkan akan menanamkan kekuatan jati diri, ciri dan identitas kita sebagai suku bangsa yang berbudaya lujur dan mulia," pungkas Wawako.

Sementara itu, Pemko Padang juga memberikan penghargaan terhadap sejumlah guru, pengawas, kepala sekolah, serta siswa berprestasi pada peringatan Hardiknas tahun ini. [Humas dan Protokol Kota Padang]


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger