pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Ketua Fraksi PKS: Pemerintah Seharusnya Apresiasi Rohis Bukan Curigai

Written By NeO on 11 July, 2017 | July 11, 2017


Jakarta (10/7) -- Banyak pihak menyayangkan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin, yang meminta pihak sekolah untuk mengawasi Kerohanian Islam (rohis) di sekolah-sekolah. Pernyataan itu dinilai tidak arif, karena seharusnya pemerintah justru mengapresiasi rohis atas kiprahnya selama ini. 
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini menilai pernyataan itu (jika benar) tidak arif dan tidak mendidik khususnya bagi para aktivis rohis.

"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017). 

Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan  mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.

"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius. 

Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu. 

"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli. 

Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan. 

"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya. 

Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli


posted by @Adimin

Ramadhan 12 (HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG)

Written By NeO on 10 July, 2017 | July 10, 2017


HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG
(وإياك نستعين)

Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd
Ada hakekat yang harus kita imani dan yakini dengan baik, yaitu kita adalah makhluk yang lemah. Kesadaran inilah yang akan membuat kita selalu minta tolong dan bergantung kepada Yang Maha Kuat, yaitunya Allah ta'alaa.

Ketika manusia lupa bahwa dia lemah, ketika itulah dia mulai tersesat. Ketika manusia merasa bisa dan mampu sendiri, maka ketika itu pula dia merasa tidak perlu dan tidak butuh kepada Allah.

Iblis tersesat dan terkutuk serta diusir dari sorga karena merasa paling baik. Ia membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Perasaan hebatnya telah membuatnya angkuh. Akibatnya, ia dan pengikutnya menjadi penduduk abadi di dalam neraka. Allah berfirman:

قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا ۖ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.
Artinya: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". (QS Al A'raf: 18).

Anak Nabi Nuh mati tenggelam dalam banjir besar karena merasa mampu menyelamatkan diri sendiri. Ia enggan menerima tawaran pertolongan dari sang Ayah yang Nabi. Ia menolak untuk beriman kepada Allah. Akibatnya berakhir dengan tragis:

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِين. قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ.
Artinya: ".... Dan Nuh memanggil anaknya (yaitu Kan`an) sedangkan anaknya itu berada di tempat yang jauh) dari bahtera ("Hai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS Hud: 42-43).

Qarun telah merasa hebat dengan ilmu dan seluruh kekayaannya yang tak terkira. Akibatnya ia menjadi angkuh dan sombong, merasa bisa melakukan apa saja dengan ilmu dan kekayaannya. Padahal telah banyak orang-orang yang lebih kuat sebelumnya, dibinasakan oleh Allah. Allah ta'alaa berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ.
Artinya: Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya memperoleh harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (QS Al Qashash: 78).

Setelah itu Allah binasakan dia dengan seluruh hartanya, tanpa mampu dia dan orang lain untuk membela dirinya:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ.
Artinya: "Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada lagi baginya suatu golongan pun yang mampu menolongnya (terhadap azab Allah) selain Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya (dari azab Allah)". (QS Al Qashash: 81).

Begitu pula tragisnya nasib Firaun yang telah merasa kuat, bahkan mengklaim diri sebagai Tuhan. Ia pun tewas tenggelam di laut merah bersama pasukannya. Juga raja Abrahah dengan pasukan bergajahnya. Merasa sangat kuat dan ingin berbuat sekehendaknya. Sampai "rumah Allah" hendak dia runtuhkan dan dia tukar dengan tempat peribadatan baru di kampungnya. Hanya dengan sangat sederhana, dengan batu-batu kecil yang dibawa burung ababil, dia dan pasukannya pun musnah tak bersisa.

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ.
Artinya: "(burung itu) Yang melempar mereka dengan batu berasal dari tanah yang terbakar. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (QS Al Fiil: 4-5).

Sebaliknya, disaat seorang hamba dalam puncak kelemahan dan ketidakberdayaannya, lalu berserah diri dan meminta tolong kepada Allah, maka dia bisa berubah menjadi kuat, selamat dan bangkit karena pertolongan dari Allah ta'laa.

Nabi Adam bersama istrinya Hawwa, mengalami kesengsaraan yang tiada tara. Yaitu saat dilempar dari sorga yang penuh nikmat dan fasilitas, ke dunia yang penuh kesulitan, perjuangan dan duka cita. Namun keduanya berserah diri kepada Allah. Sehingga Allah menjaga dan menguatkan keduanya dalam kehidupan berat di dunia. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS Al A'raf: 23-25:

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. 23
Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ .24
Artinya: Allah berkata, "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ. 25
Artinya: Allah berfirman, "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan".

Begitu juga Nabi Yunus yang sudah ditelan oleh ikan besar. Secara logika manusia dia sudah tewas. Tak ada yang bisa menyelamatkannya. Sampai hari kiamat dia akan berada dalam perut ikan tersebut. Namun, karena dia meminta pertolongan kepada Allah, maka selamatlah dia sampai kembali ke daratan.

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (yaitu Nabi Yunus bin Matta) ketika ia pergi dalam keadaan marah terhadap kaumnya (sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk pergi) lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menghukumnya. Maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita (gelapnya suasana dalam perut ikan paus) "bahwa bahwasanya tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS Al Anbiya: 87-88).

Begitu juga Nabi Ayyub as, yang Allah selamatkan dengan pertolonganNya dari musibah berat yang menimpanya dan seluruh istri, anak-anak dan hartanya. Bahkan juga dari penyakit berat yang menimpanya. Pertolongan itu datang karena Nabi Ayyub menyerahkan diri kepada Allah SWT.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya,"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS Al Anbiya: 83-84).

Dan Nabi Ibrahim as yang menghadapi raja yang bengis yang mengklaim diri sebagai Tuhan. Tubuhnya sudah terikat dan terkurung dalam kayu bakar yang sangat besar. Api besar akan segera melahap sekujur tubuhnya. Namun Nabi Ibrahim menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Hanya Dia yang mampu dan berkuasa menolongnya. Api yang sangat besar itupun berubah menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim.

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69) وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ (70)
Artinya: Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, "Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim, "mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi." (QS Al Anbiya: 68-70).

Begitulah, dua situasi yang sangat kontradiktif. Di saat manusia merasa kuat dan mampu, serta tak meminta tolong kepada Allah, justru saat itulah dia menjadi sangat lemah. Sebaliknya, ketika manusia berada dalam posisi paling lemah dan tak berdaya, tapi meminta tolong dan berserah diri kepada Allah, justru ketika itulah dia menjadi kuat dan selamat.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)
Artinya: ".... Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS Ath Thalaq: 2-3).

posted by @Adimin

Ramadhan 11 (15 IBADAH) Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd

Written By Sjam Deddy on 21 June, 2017 | June 21, 2017


Ramadhan 11
15 IBADAH
(إياك نعبد)

Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
 
Dalam menyembah Allah kita menggunakan 3 perangkat utama, yaitu: hati, lisan dan anggota badan. Sementara itu, hukum fiqh dalam Islam ada 5, yaitu: Wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.

Maka, ada 15 macam ibadah yang kita lakukan. Ibnul Qayyim menyatakan: "Pusaran ibadah itu ada 15 kaedah. Barang siapa yang menyempurnakannya, maka sempurnalah level ibadahnya.

Ibadah yang 15 itu adalah hasil pengalian dari 3 perangkat ibadah dengan 5 hukum fiqh untuk masing-masingnya. Jadilah totalnya 15 macam.

Maka hati kita, ia punya ibadah wajib kepada Allah, ibadah haram, yang sunat, yang makruh dan yang mubah.

Ibadah wajib dan sunat bagi hati dengan mengamalkannya. Sedangkan ibadah haram dan makruh bagi hati dengan meninggalkannya.

Ibadah wajib bagi hati adalah semua yang wajib dikerjakan oleh hati, karena tempatnya di hati. contohnya: ikhlas, tawakkal, mencintai Allah, takut dan harap kepadaNya.

Semua ibadah tersebut dikatakan wajib karena memang ada perintah Allah untuk itu:

وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Artinya: Berkata Musa, "Hai kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri." (QS Yunus: 84).

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...". (QS Albayyinah: 5)

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ....
Artinya: "....karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran: 175).

Dan banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan amalan atau ibadah hati. Adapun yang haram bagi hati adalah antara lain: kafir, syirik, sombong, riya, ujub, hasad, nifaq, putus asa, senang dengan kesusahan kaum muslimin dan lain-lain. Bila hati kita menghindari dan bersih dari semua itu, maka hatinya telah beribadah kepada Allah.

Dan hati takkan pernah baik kecuali menjauhinya serta bertaubat segera bila hati terkena salah satu dari perbuatan tersebut.


Sebagian dari dosa-dosa hati ini bisa lebih besar dari pada dosa zina atau minum tuak, yaitu seperti dosa kafir, syirik dan nifaq. Sebagian lagi bisa menghabiskan pahala ibadah seperti hasad dan sombong.

Diantara yang wajib dan yang haram inilah beredar ibadah sunat, makruh dan mubah bagi hati. Seperti bahagia dengan kebaikan, bergembira di hari raya, bersedih saat musibah (tanpa meratap), senang dengan hal-hal yang halal dalam pakaian, makanan dan lain-lain.

Begitu juga dengan lisan, ia juga punya ibadah wajib, sunat, mubah, makruh dan haram. 

Ibadah wajib lisan antara lain adalah: mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca bacaan rukun dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud dan duduk, menjawab salam, amar makruf dan nahi munkar, bersaksi secara benar dan adil, dan lain-lain.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا...
Artinya: "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS Albaqarah: 83).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil...." (QS Almaidah: 8).

Adapun yang haram bagi lidah adalah: mengucapkan kalimat kufur/murtad, kalimat-kalimat kotor dan porno, menuduh orang lain berbuat dosa besar, menfitnah dan mengadu domba, berbohong, dan lain-lain yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.

Rasulullah saw bersabda:

وإن العبد ليتكلم بالكلمة -من سَخَط الله- لا يُلْقِي لها بالاً، يهوي بها في جهنم.
Artinya: "Seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia bisa dilemparkan ke jurang neraka selama 70 tahun". (HR Bukhari dan Muslim).

فعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ) ، قلنا : بلى يا رسول الله ، قال : ( الإشراك بالله ، وعقوق الوالدين ) ، وكان متكئاً فجلس فقال : ( ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ، ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ) ، فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت " رواه البخاري ( 5631 ) ، ومسلم ( 87 ) .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Bakrah, bhw Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan dosa besar yang paling besar?". Para sahabat menjawab, "Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata: "Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua...". Waktu itu beliau berbaring, maka lalu Beliau duduk dan berkata: "Ketahuilah yaitunya perkataan bohong, dan kesaksian palsu.... kesaksian palsu... (Beliau ulang2). (HR Bukhari dan Muslim).

Diantara yang wajib dan yang haram inilah, ibadah2 sunat, makruh dan mubah bagi lisan. Contoh: tilawah Alquran, berdzikir, mengulang2 ilmu, terlalu banyak bicara, dan lain-lain.

Kemudian ibadah anggota badan, yang meliputi mata, telinga, hidung, tangan, kaki, kulit, dan lain-lain. Masing-masing dari anggota badan itu ada kewajiban kepada Allah, ada yang terlarang, dan ada yang diantara keduanya pada tingkatan sunat dan makruh serta mubah.

Mata wajib melihat mushaf, ayat-ayat Allah, membedakan antara yang halal dengan haram dan sebagainya. Mata haram melihat aurat orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, melihat ke lawan jenis dengan syahwat, melihat tulisan orang lain tanpa izin, dan lain-lain.

Telinga wajib mendengar ayat-ayat Allah, mendengar khutbah, adzan, bacaan imam dalam shalat, seruan dakwah dan lain-lain. Sebaliknya telinga haram mendengar kata-kata kotor, nyanyian maksiat, obrolan kekafiran dan lain-lain.

Adapun tangan, wajib baginya menyentuh suami atau istri, menyambut salam, menghentikan kemungkaran yang dibawah tanggung-jawabnya dan lain-lain. Sebaliknya haram baginya menganiaya orang lain, menyentuh yang bukan mahramnya, mencuri, mengisyaratkan kekafiran atau kesyirikan.

Sedangkan kaki, wajib baginya melangkah menuju masjid, menuju shalat jumat, thawaf dan sa'i, menegakkan hukum Allah dan lain-lain. Sebaliknya, haram baginya melangkah ke tempat maksiat dan dosa, menyakiti orang lain, berdiri untuk menyembah berhala dan lain sebagainya.

Begitulah, seluruh diri kita, mulai dari hati, lisan dan sampai ke seluruh anggota tubuh, ikut serta semuanya dalam beribadah kepada Allah.

Wallahu A'laa wa A'lam.

posted by @Adimin

Ramadhan 10 (IBADAH YANG PALING UTAMA) Oleh Irsyad Syafar, Lc., MEd

Ramadhan 10
IBADAH YANG PALING UTAMA
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
 
Kita tentunya ingin semaksimal mungkin beribadah kepada Allah. Akan tetapi kita juga punya keterbatasan. Baik dari segi waktu, tenaga, kemampuan dan sebagainya. Takkan mampu kita untuk mengambil semua ibadah.

Pilihan kita kemudian tentunya mencari dan mengerjakan ibadah-ibadah yang utama saja. Para sahabat Rasul yang mulia pun mereka sering bertanya tentang mana ibadah yang paling utama, diantaranya:

• عن أبي هريرة قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟ قال: ((إيمانٌ بالله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((حج مبرورٌ)).
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa?". Rasulullah menjawab, "Berjihad di jalan Allah". Orang itu bertanya lagi, "Lalu apa lagi?". Rasulullah menjawab, "Haji yang mabrur". (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits tentang pertanyaan seperti ini lebih dari satu. Menunjukkan bahwa para sahabat juga berambisi mencari ibadah-ibadah terbaik.

Dalam menentukan ibadah atau amalan terbaik, ada 4 macam pendapat atau pendekatan yang menjadi acuan.

Pendapat pertama, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling berat di hati. Alasannya, ibadah seperti itu sangat jauh dari hawa nafsu. Dan itulah hakekat utama dari penghambaan diri. 

Pendapat pertama ini berdasarkan kepada sebuah kaedah yang bukan hadits: الإجر على قدر المشقة "Pahala sesuai tingkat kesulitan". Kaedah ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, kesulitan bukanlah tujuan dari syariat Islam.

Namun bisa juga kita contohkan dalam kehidupan yang sederhana. Misalnya orang miskin yang berinfaq bisa lebih banyak pahalanya dari orang kaya yang berinfaq. Orang yang ke masjid berjalan kaki bisa lebih banyak pahalanya dari pada yang berkendaraan.

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa acuan ibadah yang paling utama adalah totalitas, zuhud dari dunia dan menguranginya semaksimal mungkin.

Pendapat ini berlandaskan kepada dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan Akhirat terhadap dunia. Allah ta'alaa berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ.
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al a'laa: 17)

Dalam ayat lain:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS Adh Dhuha: 4).

Dengan dalil-dalil di atas maka ibadah dan amalan akhirat menjadi paling utama dibandingkan dengan amalan dunia. Sehingga, hati hanya terpaut dengan akhirat. Sebagian malah menganggap bahwa zuhud terhadap dunia lebih utama dari menuntut ilmu dan ibadah lainnya. Namun pendapat kedua ini belum sepenuhnya tepat.

Pendapat ketiga, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah yang paling luas manfaatnya atau paling banyak faedahnya. Tidak sekedar dinikmati oleh pelakunya saja, akan tetapi menyentuh banyak orang. 

Maka mengayomi faqir miskin, mendidik dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang, membuatkan jalan dan kubutuhan serta kepentingan umum, adalah ibadah yang paling utama.

Pendapat ini berlandaskan kepada beberapa dalil yang mengisyaratkan makna tersebut. Diantaranya dari sabda Rasulullah saw:

عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم أو تكشف عنه كربة أو تقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا. ولأن أمشي مع أخي المسلم في حاجة أحب إلى من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا. ومن كف غضبه ستر الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم القيامة. ومن مشى مع أخيه المسلم فى حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزل الأقدام. وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل). أخرجه ابن أبى الدنيا فى كتاب قضاء الحوائج (ص 47، رقم 36) وحسنه الألباني).
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Raaulullah bersabda: "Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amalan yang paling utama adalah kebahagian yang anda masukan ke dalam hati muslim lain, atau anda tuntaskan kesulitannya, atau anda bayarkan hutangnya, atau anda hilangkan laparnya. Aku lebih suka berjalan mengantarkan saudaraku muslim menuju kebutuhannya dari pada aku beri'tikaf di masjid ini (masjid nabawi) selama sebulan. Barang siapa yang menahan kemarahannya niscaya Allah akan menutupi auratnya. Dan barang siapa yang menekan emosinya padahal dia sanggup untuk melampiaskannya, niscaya Allah akan penuhkan hatinya dengan keredhaan pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya muslim menuju kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan kokohkan kakinya pada hari tergelincirnya banyak kaki (hari kiamat). Dan seaungguhnya akhlak yang buruk akan merusak amalan sebagaimana cuka bisa merusak madu." (HR Ibnu Abi Ad Dunya, dihasankan Albany).

Hadits di atas menyebutkan secara jelas pujian Allah dan pahala yang besar untuk amalan yang memberi manfaat luas bagi orang lain. Bahkan bisa mengalahkan pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Masih banyak lagi dalil lain yang menyebutkan keutamaan orang alim dari pada ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang, keutamaan menunjuki orang lain ke jalan yang benar, keutamaan berdakwah dan lain-lain. Intinya ibadah-ibadah tersebut mempunyai manfaat yang lebih luas.

Pendapat keempat, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang paling Allah redhai sesuai tuntutan waktu dan momen seketika itu.

Misalnya, disaat datang seruan adzan, maka ibadah yang paling utama adalah menyambut seruan itu dan bersegera ke masjid, tinggalkan segala urusan yanh lain. Di saat ada orang miskin yang meminta pertolongan dan bantuan, maka ibadah yang paling utama saat itu adalah menolong orang tersebut. Di saat kedatangan tamu, maka ibadah yang paling afdal adalah menghormati tamu, bukan shalat sunat. Dikala sepertiga malam terakhir ibadah yang paling utama adalah bermunajat, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Ketika datang seruan jihad yang sangat mendesak maka ibadah terbaik adalah berangkat berjuang ke medan jihad. Di saat wukuf di arafah maka ibadah terbaik adalah bersungguh-sungguh dengan doa dan dzikir.

Begitulah seterusnya, standar ke empat ini betul-betul betul-betul mengacu kepada keredhaan dan pilihan Allah yang menjadi acuan. Bukan pilihan-pilihan hamba.

Pada ramadhan yang mulia ini, tentunya ibadah yang paling utama adalah shiyam di siang harinya dan qiyam di malam harinya. Dan bila 10 hari terakhir ramadhan telah datang, maka iktikaf di masjid menjadi ibadah yang paling utama dan mulia.

Imam Ibnul Qayyim menyatakan, "Ibadah kriteria ke empat inilah yang ibadah mutlak. Sedangkan yang sebelumnya masih terkait dengan yang lain."
Dan hamba yang mengamalkan ibadah dengan acuan yang ke empat ini, "dialah yang sebenarnya hamba. Yang beramal tidak berdasarkan kehendak pribadinya, atau kesenangan dirinya, melainkan sesuai kehendak Rabbnya walaupun bertentangan dengan keinginannya".

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -

Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017

Ramadhan 9
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)

Imam Ibnul Qayyim Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua adalah tunduk.

Artinya, kita belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.

Ibnul Qayyim berkata, "Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).

Bila seseorang beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.

Sebaliknya bila seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.

Dalil-dalil yang menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.

Allah menegaskan bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).

Dalam ayat lain, Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela...." (QS Al maidah: 54).

Rasulullah saw menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan RasulNya:

"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya: "Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Dalam hal ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat jelas :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya: Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).

Allah juga menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa: 14).

Dengan demikian, kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk kepada Allah.
 

Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med

posted by @Adimin

- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -




Ramadhan 8

MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)

Adalah berbeda antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang mengerjakan ibadah menikmatinya.

Bila seseorang menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu kembali.

Sedangkan orang yang mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban baginya.

Bagitu pula dalam beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya. Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela berlama-lama bersama ibadah tersebut.

Rasulullah saw menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau bersabda:

و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya: "Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi, Hakim, shahih Albany).

Maksud dari hadits di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal! (maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).

Sehingga dengan shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita istirahat...."

Begitu juga para sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka, bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.

Diceritakan dalam hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena harta yang mereka miliki.

Lalu, Rasulullah saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang dan bisa beribadah juga lebih banyak.

Namun tidak lama setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya. Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya? Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar "mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk Rasulullah saw yang bersabda:

عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).

Maka orang yang telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.

Baginya, semua ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.

Dalam hadits lain Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka. (dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).

Pada bulan ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail, bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.

Tentunya syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan yang signifikan ke arah kebaikan.


Oleh : Irsyad Syafar

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger