Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
July 11, 2017
posted by @Adimin
Ketua Fraksi PKS: Pemerintah Seharusnya Apresiasi Rohis Bukan Curigai
Written By NeO on 11 July, 2017 | July 11, 2017
Jakarta (10/7) -- Banyak pihak
menyayangkan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin, yang
meminta pihak sekolah untuk mengawasi Kerohanian Islam (rohis) di
sekolah-sekolah. Pernyataan itu dinilai tidak arif, karena seharusnya
pemerintah justru mengapresiasi rohis atas kiprahnya selama ini.
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini
menilai pernyataan itu (jika benar) tidak arif dan tidak mendidik
khususnya bagi para aktivis rohis.
"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017).
Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.
"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius.
Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu.
"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli.
Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan.
"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya.
Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli
"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017).
Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.
"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius.
Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu.
"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli.
Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan.
"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya.
Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli
posted by @Adimin
Label:
Berita Fraksi,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 10, 2017
Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS Hud: 42-43).
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS Al Anbiya: 87-88).
posted by @Adimin
Ramadhan 12 (HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG)
Written By NeO on 10 July, 2017 | July 10, 2017
HANYA KEPADAMU KAMI MINTA TOLONG
(وإياك نستعين)
(وإياك نستعين)
Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd
Ada
hakekat yang harus kita imani dan yakini dengan baik, yaitu kita adalah
makhluk yang lemah. Kesadaran inilah yang akan membuat kita selalu minta
tolong dan bergantung kepada Yang Maha Kuat, yaitunya Allah ta'alaa.
Ketika manusia lupa bahwa dia lemah, ketika itulah dia mulai tersesat.
Ketika manusia merasa bisa dan mampu sendiri, maka ketika itu pula dia
merasa tidak perlu dan tidak butuh kepada Allah.
Iblis tersesat
dan terkutuk serta diusir dari sorga karena merasa paling baik. Ia
membangkang terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam. Perasaan
hebatnya telah membuatnya angkuh. Akibatnya, ia dan pengikutnya menjadi
penduduk abadi di dalam neraka. Allah berfirman:
قَالَ اخْرُجْ مِنْهَا مَذْءُومًا مَدْحُورًا ۖ لَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنْكُمْ أَجْمَعِينَ.
Artinya: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi
terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu,
benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya". (QS
Al A'raf: 18).
Anak Nabi Nuh mati tenggelam dalam banjir besar
karena merasa mampu menyelamatkan diri sendiri. Ia enggan menerima
tawaran pertolongan dari sang Ayah yang Nabi. Ia menolak untuk beriman
kepada Allah. Akibatnya berakhir dengan tragis:
وَنَادَىٰ نُوحٌ
ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ
مَعَ الْكَافِرِين. قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ
قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ
وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ.
Artinya: ".... Dan Nuh memanggil anaknya (yaitu Kan`an) sedangkan
anaknya itu berada di tempat yang jauh) dari bahtera ("Hai anakku!
Naiklah bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang
kafir.
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan." (QS Hud: 42-43).
Qarun telah merasa hebat dengan ilmu dan seluruh
kekayaannya yang tak terkira. Akibatnya ia menjadi angkuh dan sombong,
merasa bisa melakukan apa saja dengan ilmu dan kekayaannya. Padahal
telah banyak orang-orang yang lebih kuat sebelumnya, dibinasakan oleh
Allah. Allah ta'alaa berfirman:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ
عِلْمٍ عِنْدِي ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ
قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ
جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ.
Artinya: Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya memperoleh harta itu,
karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya
Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat
daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu
ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka."
(QS Al Qashash: 78).
Setelah itu Allah binasakan dia dengan seluruh hartanya, tanpa mampu dia dan orang lain untuk membela dirinya:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ
يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ.
Artinya: "Maka Kami benamkan dia (Qarun) beserta rumahnya ke dalam
bumi. Maka tidak ada lagi baginya suatu golongan pun yang mampu
menolongnya (terhadap azab Allah) selain Allah. Dan tiadalah ia termasuk
orang-orang yang dapat membela dirinya (dari azab Allah)". (QS Al
Qashash: 81).
Begitu pula tragisnya nasib Firaun yang telah
merasa kuat, bahkan mengklaim diri sebagai Tuhan. Ia pun tewas tenggelam
di laut merah bersama pasukannya. Juga raja Abrahah dengan pasukan
bergajahnya. Merasa sangat kuat dan ingin berbuat sekehendaknya. Sampai
"rumah Allah" hendak dia runtuhkan dan dia tukar dengan tempat
peribadatan baru di kampungnya. Hanya dengan sangat sederhana, dengan
batu-batu kecil yang dibawa burung ababil, dia dan pasukannya pun musnah
tak bersisa.
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ.
Artinya: "(burung itu) Yang melempar mereka dengan batu berasal dari
tanah yang terbakar. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang
dimakan (ulat)." (QS Al Fiil: 4-5).
Sebaliknya, disaat seorang
hamba dalam puncak kelemahan dan ketidakberdayaannya, lalu berserah diri
dan meminta tolong kepada Allah, maka dia bisa berubah menjadi kuat,
selamat dan bangkit karena pertolongan dari Allah ta'laa.
Nabi
Adam bersama istrinya Hawwa, mengalami kesengsaraan yang tiada tara.
Yaitu saat dilempar dari sorga yang penuh nikmat dan fasilitas, ke dunia
yang penuh kesulitan, perjuangan dan duka cita. Namun keduanya berserah
diri kepada Allah. Sehingga Allah menjaga dan menguatkan keduanya dalam
kehidupan berat di dunia. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS Al
A'raf: 23-25:
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. 23
Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri
kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat
kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ .24
Artinya: Allah berkata, "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu
menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat
kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai
waktu yang telah ditentukan".
قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ. 25
Artinya: Allah berfirman, "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan".
Begitu juga Nabi Yunus yang sudah ditelan oleh ikan besar. Secara
logika manusia dia sudah tewas. Tak ada yang bisa menyelamatkannya.
Sampai hari kiamat dia akan berada dalam perut ikan tersebut. Namun,
karena dia meminta pertolongan kepada Allah, maka selamatlah dia sampai
kembali ke daratan.
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ
أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ
إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي
الْمُؤْمِنِينَ.
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (yaitu
Nabi Yunus bin Matta) ketika ia pergi dalam keadaan marah terhadap
kaumnya (sedangkan Nabi Yunus belum mendapat izin dari Allah untuk
pergi) lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mampu untuk menghukumnya.
Maka ia menyeru dalam tempat yang gelap gulita (gelapnya suasana dalam
perut ikan paus) "bahwa bahwasanya tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci
Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".
Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS Al Anbiya: 87-88).
Begitu juga Nabi Ayyub as, yang Allah
selamatkan dengan pertolonganNya dari musibah berat yang menimpanya dan
seluruh istri, anak-anak dan hartanya. Bahkan juga dari penyakit berat
yang menimpanya. Pertolongan itu datang karena Nabi Ayyub menyerahkan
diri kepada Allah SWT.
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي
مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83) فَاسْتَجَبْنَا
لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ
مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)
Artinya: "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya,"(Ya
Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah
Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun
memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada
padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah." (QS Al Anbiya:
83-84).
Dan Nabi Ibrahim as yang menghadapi raja yang bengis yang
mengklaim diri sebagai Tuhan. Tubuhnya sudah terikat dan terkurung
dalam kayu bakar yang sangat besar. Api besar akan segera melahap
sekujur tubuhnya. Namun Nabi Ibrahim menyerahkan sepenuhnya kepada
Allah. Hanya Dia yang mampu dan berkuasa menolongnya. Api yang sangat
besar itupun berubah menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim.
قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
(68) قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69)
وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ (70)
Artinya: Mereka berkata, "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian,
jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, "Hai api,
menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim, "mereka
hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu
orang-orang yang paling merugi." (QS Al Anbiya: 68-70).
Begitulah, dua situasi yang sangat kontradiktif. Di saat manusia merasa
kuat dan mampu, serta tak meminta tolong kepada Allah, justru saat
itulah dia menjadi sangat lemah. Sebaliknya, ketika manusia berada dalam
posisi paling lemah dan tak berdaya, tapi meminta tolong dan berserah
diri kepada Allah, justru ketika itulah dia menjadi kuat dan selamat.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ
حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ
قَدْرًا (3)
Artinya: ".... Barang siapa yang bertakwa kepada
Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang
bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
(QS Ath Thalaq: 2-3).
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 21, 2017
Ramadhan 11
15 IBADAH
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
Dalam menyembah Allah kita menggunakan 3 perangkat utama, yaitu: hati, lisan dan anggota badan. Sementara itu, hukum fiqh dalam Islam ada 5, yaitu: Wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.
Maka, ada 15 macam ibadah yang kita lakukan. Ibnul Qayyim menyatakan: "Pusaran ibadah itu ada 15 kaedah. Barang siapa yang menyempurnakannya, maka sempurnalah level ibadahnya.
Ibadah yang 15 itu adalah hasil pengalian dari 3 perangkat ibadah dengan 5 hukum fiqh untuk masing-masingnya. Jadilah totalnya 15 macam.
Maka hati kita, ia punya ibadah wajib kepada Allah, ibadah haram, yang sunat, yang makruh dan yang mubah.
Ibadah wajib dan sunat bagi hati dengan mengamalkannya. Sedangkan ibadah haram dan makruh bagi hati dengan meninggalkannya.
Ibadah wajib bagi hati adalah semua yang wajib dikerjakan oleh hati, karena tempatnya di hati. contohnya: ikhlas, tawakkal, mencintai Allah, takut dan harap kepadaNya.
Semua ibadah tersebut dikatakan wajib karena memang ada perintah Allah untuk itu:
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Artinya: Berkata Musa, "Hai kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri." (QS Yunus: 84).
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...". (QS Albayyinah: 5)
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ....
Artinya: "....karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran: 175).
Dan banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan amalan atau ibadah hati. Adapun yang haram bagi hati adalah antara lain: kafir, syirik, sombong, riya, ujub, hasad, nifaq, putus asa, senang dengan kesusahan kaum muslimin dan lain-lain. Bila hati kita menghindari dan bersih dari semua itu, maka hatinya telah beribadah kepada Allah.
Dan hati takkan pernah baik kecuali menjauhinya serta bertaubat segera bila hati terkena salah satu dari perbuatan tersebut.
Sebagian dari dosa-dosa hati ini bisa lebih besar dari pada dosa zina atau minum tuak, yaitu seperti dosa kafir, syirik dan nifaq. Sebagian lagi bisa menghabiskan pahala ibadah seperti hasad dan sombong.
Diantara yang wajib dan yang haram inilah beredar ibadah sunat, makruh dan mubah bagi hati. Seperti bahagia dengan kebaikan, bergembira di hari raya, bersedih saat musibah (tanpa meratap), senang dengan hal-hal yang halal dalam pakaian, makanan dan lain-lain.
Begitu juga dengan lisan, ia juga punya ibadah wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.
Ibadah wajib lisan antara lain adalah: mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca bacaan rukun dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud dan duduk, menjawab salam, amar makruf dan nahi munkar, bersaksi secara benar dan adil, dan lain-lain.
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا...
Artinya: "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS Albaqarah: 83).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil...." (QS Almaidah: 8).
Adapun yang haram bagi lidah adalah: mengucapkan kalimat kufur/murtad, kalimat-kalimat kotor dan porno, menuduh orang lain berbuat dosa besar, menfitnah dan mengadu domba, berbohong, dan lain-lain yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.
Rasulullah saw bersabda:
وإن العبد ليتكلم بالكلمة -من سَخَط الله- لا يُلْقِي لها بالاً، يهوي بها في جهنم.
Artinya: "Seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia bisa dilemparkan ke jurang neraka selama 70 tahun". (HR Bukhari dan Muslim).
فعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ) ، قلنا : بلى يا رسول الله ، قال : ( الإشراك بالله ، وعقوق الوالدين ) ، وكان متكئاً فجلس فقال : ( ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ، ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ) ، فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت " رواه البخاري ( 5631 ) ، ومسلم ( 87 ) .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Bakrah, bhw Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan dosa besar yang paling besar?". Para sahabat menjawab, "Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata: "Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua...". Waktu itu beliau berbaring, maka lalu Beliau duduk dan berkata: "Ketahuilah yaitunya perkataan bohong, dan kesaksian palsu.... kesaksian palsu... (Beliau ulang2). (HR Bukhari dan Muslim).
Diantara yang wajib dan yang haram inilah, ibadah2 sunat, makruh dan mubah bagi lisan. Contoh: tilawah Alquran, berdzikir, mengulang2 ilmu, terlalu banyak bicara, dan lain-lain.
Kemudian ibadah anggota badan, yang meliputi mata, telinga, hidung, tangan, kaki, kulit, dan lain-lain. Masing-masing dari anggota badan itu ada kewajiban kepada Allah, ada yang terlarang, dan ada yang diantara keduanya pada tingkatan sunat dan makruh serta mubah.
Mata wajib melihat mushaf, ayat-ayat Allah, membedakan antara yang halal dengan haram dan sebagainya. Mata haram melihat aurat orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, melihat ke lawan jenis dengan syahwat, melihat tulisan orang lain tanpa izin, dan lain-lain.
Telinga wajib mendengar ayat-ayat Allah, mendengar khutbah, adzan, bacaan imam dalam shalat, seruan dakwah dan lain-lain. Sebaliknya telinga haram mendengar kata-kata kotor, nyanyian maksiat, obrolan kekafiran dan lain-lain.
Adapun tangan, wajib baginya menyentuh suami atau istri, menyambut salam, menghentikan kemungkaran yang dibawah tanggung-jawabnya dan lain-lain. Sebaliknya haram baginya menganiaya orang lain, menyentuh yang bukan mahramnya, mencuri, mengisyaratkan kekafiran atau kesyirikan.
Sedangkan kaki, wajib baginya melangkah menuju masjid, menuju shalat jumat, thawaf dan sa'i, menegakkan hukum Allah dan lain-lain. Sebaliknya, haram baginya melangkah ke tempat maksiat dan dosa, menyakiti orang lain, berdiri untuk menyembah berhala dan lain sebagainya.
Begitulah, seluruh diri kita, mulai dari hati, lisan dan sampai ke seluruh anggota tubuh, ikut serta semuanya dalam beribadah kepada Allah.
Wallahu A'laa wa A'lam.
Ramadhan 11 (15 IBADAH) Oleh Irsyad Syafar Lc., MEd
Written By Sjam Deddy on 21 June, 2017 | June 21, 2017
Ramadhan 11
15 IBADAH
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar Lc., MEd
Dalam menyembah Allah kita menggunakan 3 perangkat utama, yaitu: hati, lisan dan anggota badan. Sementara itu, hukum fiqh dalam Islam ada 5, yaitu: Wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.
Maka, ada 15 macam ibadah yang kita lakukan. Ibnul Qayyim menyatakan: "Pusaran ibadah itu ada 15 kaedah. Barang siapa yang menyempurnakannya, maka sempurnalah level ibadahnya.
Ibadah yang 15 itu adalah hasil pengalian dari 3 perangkat ibadah dengan 5 hukum fiqh untuk masing-masingnya. Jadilah totalnya 15 macam.
Maka hati kita, ia punya ibadah wajib kepada Allah, ibadah haram, yang sunat, yang makruh dan yang mubah.
Ibadah wajib dan sunat bagi hati dengan mengamalkannya. Sedangkan ibadah haram dan makruh bagi hati dengan meninggalkannya.
Ibadah wajib bagi hati adalah semua yang wajib dikerjakan oleh hati, karena tempatnya di hati. contohnya: ikhlas, tawakkal, mencintai Allah, takut dan harap kepadaNya.
Semua ibadah tersebut dikatakan wajib karena memang ada perintah Allah untuk itu:
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ.
Artinya: Berkata Musa, "Hai kaumku! Jika kalian beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja jika kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri." (QS Yunus: 84).
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...
Artinya: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...". (QS Albayyinah: 5)
فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ....
Artinya: "....karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran: 175).
Dan banyak lagi dalil-dalil yang memerintahkan amalan atau ibadah hati. Adapun yang haram bagi hati adalah antara lain: kafir, syirik, sombong, riya, ujub, hasad, nifaq, putus asa, senang dengan kesusahan kaum muslimin dan lain-lain. Bila hati kita menghindari dan bersih dari semua itu, maka hatinya telah beribadah kepada Allah.
Dan hati takkan pernah baik kecuali menjauhinya serta bertaubat segera bila hati terkena salah satu dari perbuatan tersebut.
Sebagian dari dosa-dosa hati ini bisa lebih besar dari pada dosa zina atau minum tuak, yaitu seperti dosa kafir, syirik dan nifaq. Sebagian lagi bisa menghabiskan pahala ibadah seperti hasad dan sombong.
Diantara yang wajib dan yang haram inilah beredar ibadah sunat, makruh dan mubah bagi hati. Seperti bahagia dengan kebaikan, bergembira di hari raya, bersedih saat musibah (tanpa meratap), senang dengan hal-hal yang halal dalam pakaian, makanan dan lain-lain.
Begitu juga dengan lisan, ia juga punya ibadah wajib, sunat, mubah, makruh dan haram.
Ibadah wajib lisan antara lain adalah: mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca bacaan rukun dalam shalat, baik saat berdiri, rukuk, sujud dan duduk, menjawab salam, amar makruf dan nahi munkar, bersaksi secara benar dan adil, dan lain-lain.
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا...
Artinya: "... dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia..." (QS Albaqarah: 83).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ...
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil...." (QS Almaidah: 8).
Adapun yang haram bagi lidah adalah: mengucapkan kalimat kufur/murtad, kalimat-kalimat kotor dan porno, menuduh orang lain berbuat dosa besar, menfitnah dan mengadu domba, berbohong, dan lain-lain yang mendatangkan murka Allah dan RasulNya.
Rasulullah saw bersabda:
وإن العبد ليتكلم بالكلمة -من سَخَط الله- لا يُلْقِي لها بالاً، يهوي بها في جهنم.
Artinya: "Seorang hamba yang berbicara dengan satu kalimat yang dimurkai Allah, dia bisa dilemparkan ke jurang neraka selama 70 tahun". (HR Bukhari dan Muslim).
فعن أبي بكرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( ألا أنبئكم بأكبر الكبائر ؟ ) ، قلنا : بلى يا رسول الله ، قال : ( الإشراك بالله ، وعقوق الوالدين ) ، وكان متكئاً فجلس فقال : ( ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ، ألا وقول الزور ، وشهادة الزور ) ، فما زال يقولها حتى قلت لا يسكت " رواه البخاري ( 5631 ) ، ومسلم ( 87 ) .
Artinya: Diriwayatkan dari Abu Bakrah, bhw Rasulullah bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan dosa besar yang paling besar?". Para sahabat menjawab, "Iya wahai Rasulullah. Beliau berkata: "Berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua...". Waktu itu beliau berbaring, maka lalu Beliau duduk dan berkata: "Ketahuilah yaitunya perkataan bohong, dan kesaksian palsu.... kesaksian palsu... (Beliau ulang2). (HR Bukhari dan Muslim).
Diantara yang wajib dan yang haram inilah, ibadah2 sunat, makruh dan mubah bagi lisan. Contoh: tilawah Alquran, berdzikir, mengulang2 ilmu, terlalu banyak bicara, dan lain-lain.
Kemudian ibadah anggota badan, yang meliputi mata, telinga, hidung, tangan, kaki, kulit, dan lain-lain. Masing-masing dari anggota badan itu ada kewajiban kepada Allah, ada yang terlarang, dan ada yang diantara keduanya pada tingkatan sunat dan makruh serta mubah.
Mata wajib melihat mushaf, ayat-ayat Allah, membedakan antara yang halal dengan haram dan sebagainya. Mata haram melihat aurat orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, melihat ke lawan jenis dengan syahwat, melihat tulisan orang lain tanpa izin, dan lain-lain.
Telinga wajib mendengar ayat-ayat Allah, mendengar khutbah, adzan, bacaan imam dalam shalat, seruan dakwah dan lain-lain. Sebaliknya telinga haram mendengar kata-kata kotor, nyanyian maksiat, obrolan kekafiran dan lain-lain.
Adapun tangan, wajib baginya menyentuh suami atau istri, menyambut salam, menghentikan kemungkaran yang dibawah tanggung-jawabnya dan lain-lain. Sebaliknya haram baginya menganiaya orang lain, menyentuh yang bukan mahramnya, mencuri, mengisyaratkan kekafiran atau kesyirikan.
Sedangkan kaki, wajib baginya melangkah menuju masjid, menuju shalat jumat, thawaf dan sa'i, menegakkan hukum Allah dan lain-lain. Sebaliknya, haram baginya melangkah ke tempat maksiat dan dosa, menyakiti orang lain, berdiri untuk menyembah berhala dan lain sebagainya.
Begitulah, seluruh diri kita, mulai dari hati, lisan dan sampai ke seluruh anggota tubuh, ikut serta semuanya dalam beribadah kepada Allah.
Wallahu A'laa wa A'lam.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 21, 2017
Ramadhan 10 (IBADAH YANG PALING UTAMA) Oleh Irsyad Syafar, Lc., MEd
Ramadhan 10
IBADAH YANG PALING UTAMA
(إياك نعبد)
(إياك نعبد)
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., MEd
Kita tentunya ingin semaksimal mungkin beribadah kepada Allah. Akan
tetapi kita juga punya keterbatasan. Baik dari segi waktu, tenaga,
kemampuan dan sebagainya. Takkan mampu kita untuk mengambil semua
ibadah.
Pilihan kita kemudian tentunya mencari dan mengerjakan
ibadah-ibadah yang utama saja. Para sahabat Rasul yang mulia pun mereka
sering bertanya tentang mana ibadah yang paling utama, diantaranya:
• عن أبي هريرة قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الأعمال أفضل؟
قال: ((إيمانٌ بالله))، قال: ثم ماذا؟ قال: ((الجهاد في سبيل الله))، قال:
ثم ماذا؟ قال: ((حج مبرورٌ)).
Artinya: Diriwayatkan dari Abu
Hurairah, dia berkata: Rasulullah ditanya tentang amalan yang paling
utama? Beliau menjawab, "Iman kepada Allah". Orang itu bertanya lagi,
"Lalu apa?". Rasulullah menjawab, "Berjihad di jalan Allah". Orang itu
bertanya lagi, "Lalu apa lagi?". Rasulullah menjawab, "Haji yang
mabrur". (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits tentang pertanyaan
seperti ini lebih dari satu. Menunjukkan bahwa para sahabat juga
berambisi mencari ibadah-ibadah terbaik.
Dalam menentukan ibadah atau amalan terbaik, ada 4 macam pendapat atau pendekatan yang menjadi acuan.
Pendapat pertama, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama adalah
ibadah yang paling berat di hati. Alasannya, ibadah seperti itu sangat
jauh dari hawa nafsu. Dan itulah hakekat utama dari penghambaan diri.
Pendapat pertama ini berdasarkan kepada sebuah kaedah yang bukan
hadits: الإجر على قدر المشقة "Pahala sesuai tingkat kesulitan". Kaedah
ini tidak sepenuhnya benar. Sebab, kesulitan bukanlah tujuan dari
syariat Islam.
Namun bisa juga kita contohkan dalam kehidupan
yang sederhana. Misalnya orang miskin yang berinfaq bisa lebih banyak
pahalanya dari orang kaya yang berinfaq. Orang yang ke masjid berjalan
kaki bisa lebih banyak pahalanya dari pada yang berkendaraan.
Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa acuan ibadah yang paling utama
adalah totalitas, zuhud dari dunia dan menguranginya semaksimal mungkin.
Pendapat ini berlandaskan kepada dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan Akhirat terhadap dunia. Allah ta'alaa berfirman:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ.
Artinya: "Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS Al a'laa: 17)
Dalam ayat lain:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
Artinya: "Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan)." (QS Adh Dhuha: 4).
Dengan dalil-dalil di atas maka ibadah dan amalan akhirat menjadi
paling utama dibandingkan dengan amalan dunia. Sehingga, hati hanya
terpaut dengan akhirat. Sebagian malah menganggap bahwa zuhud terhadap
dunia lebih utama dari menuntut ilmu dan ibadah lainnya. Namun pendapat
kedua ini belum sepenuhnya tepat.
Pendapat ketiga, menyatakan
bahwa ibadah yang paling utama adalah yang paling luas manfaatnya atau
paling banyak faedahnya. Tidak sekedar dinikmati oleh pelakunya saja,
akan tetapi menyentuh banyak orang.
Maka mengayomi faqir miskin,
mendidik dan mengajarkan ilmu kepada banyak orang, membuatkan jalan dan
kubutuhan serta kepentingan umum, adalah ibadah yang paling utama.
Pendapat ini berlandaskan kepada beberapa dalil yang mengisyaratkan makna tersebut. Diantaranya dari sabda Rasulullah saw:
عن عبدالله بن عمر رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (أحب
الناس إلى الله أنفعهم للناس وأحب الأعمال إلى الله سرور تدخله على مسلم أو
تكشف عنه كربة أو تقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا. ولأن أمشي مع أخي
المسلم في حاجة أحب إلى من أن أعتكف فى هذا المسجد شهرا. ومن كف غضبه ستر
الله عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رضا يوم
القيامة. ومن مشى مع أخيه المسلم فى حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم
تزل الأقدام. وإن سوء الخلق ليفسد العمل كما يفسد الخل العسل). أخرجه ابن
أبى الدنيا فى كتاب قضاء الحوائج (ص 47، رقم 36) وحسنه الألباني).
Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, bahwa Raaulullah bersabda:
"Manusia yang paling Allah cintai adalah yang paling bermanfaat bagi
orang lain. Dan amalan yang paling utama adalah kebahagian yang anda
masukan ke dalam hati muslim lain, atau anda tuntaskan kesulitannya,
atau anda bayarkan hutangnya, atau anda hilangkan laparnya. Aku lebih
suka berjalan mengantarkan saudaraku muslim menuju kebutuhannya dari
pada aku beri'tikaf di masjid ini (masjid nabawi) selama sebulan. Barang
siapa yang menahan kemarahannya niscaya Allah akan menutupi auratnya.
Dan barang siapa yang menekan emosinya padahal dia sanggup untuk
melampiaskannya, niscaya Allah akan penuhkan hatinya dengan keredhaan
pada hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya muslim
menuju kebutuhannya sampai selesai, niscaya Allah akan kokohkan kakinya
pada hari tergelincirnya banyak kaki (hari kiamat). Dan seaungguhnya
akhlak yang buruk akan merusak amalan sebagaimana cuka bisa merusak
madu." (HR Ibnu Abi Ad Dunya, dihasankan Albany).
Hadits di atas
menyebutkan secara jelas pujian Allah dan pahala yang besar untuk amalan
yang memberi manfaat luas bagi orang lain. Bahkan bisa mengalahkan
pahala iktikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.
Masih banyak lagi
dalil lain yang menyebutkan keutamaan orang alim dari pada ahli ibadah
bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang, keutamaan
menunjuki orang lain ke jalan yang benar, keutamaan berdakwah dan
lain-lain. Intinya ibadah-ibadah tersebut mempunyai manfaat yang lebih
luas.
Pendapat keempat, menyatakan bahwa ibadah yang paling utama
adalah ibadah yang paling Allah redhai sesuai tuntutan waktu dan momen
seketika itu.
Misalnya, disaat datang seruan adzan, maka ibadah
yang paling utama adalah menyambut seruan itu dan bersegera ke masjid,
tinggalkan segala urusan yanh lain. Di saat ada orang miskin yang
meminta pertolongan dan bantuan, maka ibadah yang paling utama saat itu
adalah menolong orang tersebut. Di saat kedatangan tamu, maka ibadah
yang paling afdal adalah menghormati tamu, bukan shalat sunat. Dikala
sepertiga malam terakhir ibadah yang paling utama adalah bermunajat,
bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Ketika datang seruan jihad
yang sangat mendesak maka ibadah terbaik adalah berangkat berjuang ke
medan jihad. Di saat wukuf di arafah maka ibadah terbaik adalah
bersungguh-sungguh dengan doa dan dzikir.
Begitulah seterusnya,
standar ke empat ini betul-betul betul-betul mengacu kepada keredhaan
dan pilihan Allah yang menjadi acuan. Bukan pilihan-pilihan hamba.
Pada ramadhan yang mulia ini, tentunya ibadah yang paling utama adalah
shiyam di siang harinya dan qiyam di malam harinya. Dan bila 10 hari
terakhir ramadhan telah datang, maka iktikaf di masjid menjadi ibadah
yang paling utama dan mulia.
Imam Ibnul Qayyim menyatakan,
"Ibadah kriteria ke empat inilah yang ibadah mutlak. Sedangkan yang
sebelumnya masih terkait dengan yang lain."
Dan hamba yang
mengamalkan ibadah dengan acuan yang ke empat ini, "dialah yang
sebenarnya hamba. Yang beramal tidak berdasarkan kehendak pribadinya,
atau kesenangan dirinya, melainkan sesuai kehendak Rabbnya walaupun
bertentangan dengan keinginannya".
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 16, 2017
- - - - - - - - - Ramadhan 9 - CINTA DAN TUNDUK - - - - - - - - - -
Written By Sjam Deddy on 16 June, 2017 | June 16, 2017
Ramadhan 9
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
CINTA DAN TUNDUK
(إياك نعبد)
Imam Ibnul Qayyim
Aljauziyah menyebutkan bahwa "ibadah" yang sempurna itu harus menggabungkan
dua hal sekaligus secara bersamaan. Yang pertama adalah cinta dan yang kedua
adalah tunduk.
Artinya, kita
belum menjadi hamba Allah yang benar kecuali kita telah beribadah dengan penuh
cinta dan penuh ketundukan kepada Allah.
Ibnul Qayyim berkata,
"Bila engkau mencintai Allah tapi engkau tidak tunduk kepadaNya, maka
engkau bukanlah hambaNya. Jika engkau tunduk kepadaNya tapi engkau tidak
mencintaiNya, maka engkau bukanlah hambaNya. Engkau baru seorang hamba yang
benar bila mencintaiNya dan tunduk kepadaNya". (Madaariju As Salikin).
Bila seseorang
beribadah karena senang, tapi dia tidak patuh dengan aturan Allah, maka dia
belum beribadah dengan benar dan belum menjadi hamba yang benar. Dia hanya
sedang melakukan hobby atau kesukaannya. Ini biasanya terjadi dalam hal
ibadah-ibadah yang menyenangkan. Seperti ibadah haji, umrah dan lain-lain.
Sebaliknya bila
seseorang tunduk beribadah kepada Allah, tapi dia tidak senang dan mencintai
Allah, maka dia sedang terpaksa. Tidak tulus dan tidak ikhlas. Manusia saja
tidak suka dengan orang yang bekerja terpaksa. Apalagi Allah yang Maha Mulia.
Dalil-dalil yang
menunjukkan perintah mencintai dan juga tunduk kepada Allah sangat banyak di
dalam Al quran dan hadits Rasulullah saw.
Allah menegaskan
bahwa orang yang beriman itu tandanya adalah dia sangat amat cinta kepada
Allah. Sedangkan orang kafir mencintai tuhan-tuhan lain selain Allah:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: "Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al baqarah: 165).
Dalam ayat lain,
Allah memuji orang yang beriman, generasi pilihan, yang karakternya adalah
mencintai Allah dan Allah mencintai mereka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ...
Artinya: "Hai
orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai
mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap
orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang
berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka
mencela...." (QS Al maidah: 54).
Rasulullah saw
menyatakan bahwa kesempurnaan iman itu terletak pada cinta kepada Allah dan
RasulNya:
"ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان، من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلاَّ لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار".
Artinya:
"Tiga hal yg apabila dimiliki oleh seseorang niscaya dia akan merasakan
manisnya iman. Yaitu orang paling mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain
keduanya. Dan orang yg mencintai orang lain karena Allah. Dan orang yang tidak
mau kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak rela dilemparkan ke dalam
api neraka". (HR Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).
Dalam hal
ketundukan dan kepatuhan, Allah ta'alaa menegaskan perintahNya dengan sangat
jelas :
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ.
Artinya:
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS Ali Imran: 32).
Allah juga
menegaskan bahwa orang yang engkar (tidak patuh) kepadaNya, melanggar
batas-batas hukumNya, akan dimasukkan ke dalam neraka yang abadi:
وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ (14)
Artinya: "Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan." (QS An nisa:
14).
Dengan demikian,
kesempurnaan ibadah akan terwujud bila dikerjakan dengan cinta serta tunduk
kepada Allah.
Oleh : Irsyad Syafar, Lc., Med
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
June 16, 2017
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
- - - - - - - - - Ramadhan 8 - MENIKMATI IBADAH - - - - - - - - -
Ramadhan 8
MENIKMATI IBADAH
(إياك نعبد)
Adalah berbeda
antara orang yang menikmati ibadah dengan yang mengerjakan ibadah. Setiap orang
yang menikmati ibadah, pasti mengerjakannya. Sebaliknya tidak semua yang
mengerjakan ibadah menikmatinya.
Bila seseorang
menikmati sesuatu, maka dia akan senang bersamanya. Hatinya tenteram dan ingin
berlama-lama dengan sesuatu itu. Bila dia sedang bersamanya, maka waktu tak
terasa berlalu. Dan bila sudah berpisah dengannya, dia akan rindu untuk bertemu
kembali.
Sedangkan orang yang
mengerjakan sesuatu, biasanya ingin segera selesai dari sesuatu tersebut. Bila
cepat selesainya maka akan lebih baik. Dan cendrung pekerjaan itu menjadi beban
baginya.
Bagitu pula dalam
beribadah. Orang yang beriman menikmati ibadah, bukan sekedar mengerjakannya.
Ada kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan saat melakukannya. Betah dan rela
berlama-lama bersama ibadah tersebut.
Rasulullah saw
menyatakan bahwa shalat adalah penyejuk matanya (qurratu ainin). Beliau
bersabda:
و جعلت قرة عيني في الصلاة. أخرجه أحمد والنسائي والحاكم والبيهقي عن أبي هريرة.
Artinya:
"Dijadikan kecintaanku pada shalat". (HR. Ahmad, Nasa'i Baihaqi,
Hakim, shahih Albany).
Maksud dari hadits
di atas adalah Rasulullah saw sangat mencintai shalat. Hatinya tenang dan
tenteram dengan ibadah shalat tersebut. Bila ada beban yang berat, justru
Rasulullah saw meringankannya dengan shalat. Beliau pernah bersabda kepada
Bilal bin Rabah memerintahkannya untuk adzah: "Berdirilah wahai Bilal!
(maksudnya untuk adzan), rehatkan kami dengan shalat". (HR Abu Daud).
Sehingga dengan
shalat tubuh mereka menjadi dapat rehat dan kembali segar. Kebanyakan kita
berkata sebaliknya, "Ayolah kita segera shalat, setelah itu kita
istirahat...."
Begitu juga para
sahabat dan orang-orang shaleh. Mereka menikmati ibadah, sehingga mereka
berlomba-lomba melakukannya. Beribadah bagi mereka bukanlah rutinitas belaka,
bukan pula beban yang menghimpit apalagi sekedar hutang yang wajib dibayar.
Diceritakan dalam
hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, bahwa serombongan
kaum fuqara' dari para sahabat mengadukan kepada Rasulullah saw, betapa
beruntungnya orang-orang kaya. Mereka shalat dan puasa, sama seperti orang
miskin. Tapi mereka bisa berhaji, berumrah, berjihad dan besedekah, karena
harta yang mereka miliki.
Lalu, Rasulullah
saw menunjukkan amalan yang bisa menyamai pahala semua amalan tersebut, yaitu
bertasbih 33x, bertahmid 33x dan bertakbir 34x setiap selesai shalat. Maka
senanglah kaum miskin mendengarkan ibadah penyeimbang ini. Mereka pun pulang
dan bisa beribadah juga lebih banyak.
Namun tidak lama
setelah itu, kaum fuqara ini kembali lagi kepada Rasulullah saw. Mereka kembali
mengadu, bahwa hadits kemaren "bocor" pula kepada orang-orang kaya.
Maka mereka amalkan pula. Akhirnya Rasulullah saw mengomentari: "Itulah
karunia Allah yang Dia bagikan kepada orang2 yang Dia kehendaki".
Pertanyaan yang
muncul kemudian adalah, kenapa orang-orang shaleh bisa menikmati ibadahnya?
Sehingga mereka betah bahkan berlomba mengamalkannya? Dan tidak sekedar
"mengerjakan" ibadah saja? Jawabannya kita temukan dari petunjuk
Rasulullah saw yang bersabda:
عَنِ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ، مَنْ رَضِيَ بِالله رَبًّا، وَبِالإِسْلامَ دِيناً، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً». رواه مسلم.
Artinya: Dari
Abbas bin Abdul Muthalib, dia mendengar Rasulullah saw bersabda: "Yang
merasakan nikmatnya iman adalah orang yang redha Allah menjadi Tuhannya, Islam
menjadi agamanya dan Muhammad sebagai Rasulnya". (HR Muslim).
Maka orang yang
telah meredhai Allah yang wajib dia sembah dan agungkan, meredhai bahwa ajaran
Islam sebagai agama yang wajib dia amalkan, serta redha Nabi Muhammad adalah
Rasul yang wajib diikuti ajarannya, pasti akan merasakan nikmatnya beribadah.
Baginya, semua
ibadah adalah konsekwensi atas ketundukannya kepada Allah dan ajaranNya, bukti
penghambaan kepadaNya serta keselamatan hidupnya di dunia dan akhirat.
Dalam hadits lain
Rasulullah saw menjelaskan bahwa seseorang akan merasakan manisnya iman bila
dia memiliki tiga hal: pertama, Allah dan RasulNya paling dia cintai. Kedua dia
mencintai orang lain karena Allah. Dan yang ketiga dia tidak suka jatuh kembali
kepada dosa, sebagaimana dia tidak suka kalau dilemparkan ke dalam api neraka.
(dari HR Bukhari Muslim riwayat Anas bin Malik).
Pada bulan
ramadhan ini, kembali berbagai ibadah semarak dilakukan umat Islam. Shalat
berjamah, puasa wajib, shalat-shalat sunnat, tahajud atau qiyamullail,
bersedekah, tilawah Al Quran dan lain-lain. Kita mesti naik kelas dari sekedar
mengerjakan ibadah menuju kepada menikmati ibadah.
Tentunya
syarat-syarat yang dijelaskan Rasulullah saw di atas perlu dipenuhi. Agar semua
rangkaian ibadah tersebut betul-betul dinikmati, bukan sekedar dikerjakan sebagai
rutinitas. Akibatnya selepas Ramadhan tidak menimbulkan pengaruh dan perubahan
yang signifikan ke arah kebaikan.
Oleh : Irsyad Syafar
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN





