Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
September 08, 2018
posted by @Adimin
Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan (2)
Written By neobattosai on 08 September, 2018 | September 08, 2018
Alkisah, akhirnya Hurmuzan menghadap amirul mukminin, Umar Bin Khattab.
‘Umar memerhatikan
Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada
Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”
“Segala puji hanya
milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang
seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin,
berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan
janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena
sesungguhnya dunia ini pasti lenyap,” lanjut Khalifah Umar.
Salah satu utusan
berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”
“Tidak, sampai
semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya,” kata ‘Umar.
Setelah
Hurmuzan berganti dengan pakaian biasa, ‘Umar kemudian berkata,
“Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”
“Hai ‘Umar, kami
dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan
antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak
bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu,
kamu pun berhasil mengalahkan kami,” ujar Hurmuzan.
“Kamu dapat
mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu,
sementara kami berpecah belah.”
Beliau
melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”
Kata Hurmuzan,
“Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkan nya.”
“Tidak usah
takut.”
Hurmuzan meminta
air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia
berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum
dengan cangkir seperti ini.”
Kemudian,
dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia
memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh
ketika sedang minum.”
“Tidak apa-apa,
minumlah.”
Hurmuzan mulai
minum.
‘Umar berkata,
“Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia
masih haus.”
Tiba-tiba Hurmuzan
membuang air tersebut. Melihat hal itu Umar menyuruh seseorang agar
mengambilkan air dan memberikannya kepada Hurmuzan. “Jangan sampai kalian
membunuhnya dalam keadaan haus,” kata Umar.
Tapi ternyata
Hurmuzan menolak pemberian ‘Umar.
“Aku tidak butuh
air,” jawabnya. “Aku sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan jaminan
keselamatan darimu,” tandasnya dengan tenang.
“Kalau begitu, aku
akan membunuhmu sekarang juga,” kata ‘Umar.
“Tapi engkau telah
memberikan jaminan keselamatan padaku.”
“Engkau bohong,”
sahut ‘Umar.
Tiba-tiba Anas bin
Malik yang berada di tempat itu berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukminin,”
Anas membenarkan ucapan Hurmuzan. “Engkau telah memberinya jaminan
keselamatan,” lanjutnya.
“Celaka engkau
wahai Anas,” kata ‘Umar kepada Anas. “Mungkinkah aku memberikan jaminan
keselamatan kepada orang yang telah membunuh al-Barra’ bin Malik?, (yang tak
lain saudara kandung Anas bin Malik sendiri, red). Sebaiknya engkau
menjelaskannya. Kalau tidak, aku akan menghukummu,” tegas Umar kepada Anas bin
Malik.
“Pertama engkau
mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau meminumnya” kepada
Hurmuzan,” kata Anas menjelaskan. Engkau juga mengatakan, “tidak ada yang akan
menyentuhmu hingga engkau menceritakannya kepadaku.” Lanjut Anas mengingatkan
Umar.
Bahkan orang-orang
yang berada di situ juga membenarkan perkatan Anas.
Umar lalu
menghadap kepada Hurmuzan dan mengatakan, “Engkau telah menipuku,” katanya.
“Demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali engkau masuk agama Islam,” tambah
‘Umar.
Ternyata setelah
itu Hurmuzan menyatakan diri masuk Islam. Maka Umar pun memperlakukan Hurmuzan
dengan baik dan menyuruhnya menetap di Kota Madinah.
Sebagai penutup,
kata-kata bersejarah Umar yang dicatat oleh Sayyid bin Husain Al-‘Affani ini
patut untuk dijadikan renungan terkait betapa pentingnya nilai Izzah
bagi umat Islam:
“Kami adalah suatu
kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam.
Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita
hina.” (dalam buku Anwâr al-Fajr fî Fadhâ`ili Ahli Badr”,
2006:504)
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 07, 2018
posted by @Adimin
Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan
Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018
Kami
adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita
hina
ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna
dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an
misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah,
Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin
menjadikan Izzah
sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54,
disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan
bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.
Dalam
bahasa Arab, kata “Izzah”
mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan
unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia
pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus
tersebut, ‘Izzah’
ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini
tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.
Salah
satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin
Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab
“al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata
bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami
oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan
Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”
Semua
orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’
ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan
pemerintahan sangat masyhur.
Umar
bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua.
Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah
Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.
Namun
siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja
Persia yang bernama Hurmuzan.
Tiga
orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf
bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan
Khalifah Umar.
Dikisahkan
bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan
menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada
Umar bin Khattab.
Menjelang
tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat
dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara.
Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan
pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.
Sepanjang
perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar
mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia.
Fikirannya sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui
sang Khalifah.
Kisah
pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh
nyata bagaimana karakter Izzah
ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.
Dalam
buku “Nizhâm al-Hukûmiyah
al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis
sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam
bab “Fîman Kâna Yudhrabu
bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang
yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).
Menukil
cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu
hebat Izzah
beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja
Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas-
untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).
Kebetulan,
saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga
ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur
bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini
-demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa
tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja
Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang
aku rasakan kehebatan –Izzah
nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”
Izzah yang dimiliki Umar benar-benar
membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat
yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya.
Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta
melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.
Hurmuzan
tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin
pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua
raksasa super power
dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).
Terkejutnya
Hurmuzan, pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja
dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati
sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka
rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah
Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.
‘Umar
baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara
merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan
kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi
terciptanya keadilan untuk rakyat.
Senada
dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964:
126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin
Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja
kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir
(Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas
pasir berbantalkan tongkat kecilnya.
“Orang
yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya
seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur
(nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja
kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab.
Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah
seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.
bersambung . . . . . . . .
posted by @Adimin
Label:
OASE,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 06, 2018
posted by @Adimin
Ustaz Somad Mengaku Diintimidasi, PKS Minta Polri Berperan Aktif
Written By neobattosai on 06 September, 2018 | September 06, 2018
Jakarta (05/09) -- Ustaz Abdul Somad membatalkan sejumlah
rencana berceramah di beberapa daerah karena mengaku mendapat intimidasi
dan ancaman. PKS lantas menghubungkan kegiatan ceramah tersebut dengan
indeks demokrasi dan kebebasan berpendapat.
"Indonesia sejak 2013 indeks demokrasinya menurun, menurunnya nggak 1 atau 2 ranking, tapi dari 43 ke 63 artinya ada warning terkait dengan kebebasan berpendapat dan ada tekanan terhadap pers," kata Jubir DPP PKS Arya Sandhiyudha di Wisma Antara, Jl. Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (4/9/2018).
"Indonesia sejak 2013 indeks demokrasinya menurun, menurunnya nggak 1 atau 2 ranking, tapi dari 43 ke 63 artinya ada warning terkait dengan kebebasan berpendapat dan ada tekanan terhadap pers," kata Jubir DPP PKS Arya Sandhiyudha di Wisma Antara, Jl. Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (4/9/2018).
"Kita pakai indikator demokrasi sendiri ya hendaknya hal-hal
tersebut perlu diperhatikan karena ini bukan masalah politik praktis
yang merugikan pemerintah atau nggak, tapi kalau mood kita dirusak dengan suasana demokratis ya tentu merugikan semua pihak," jelasnya.
Dia menuturkan Indonesia, yang menganut sistem demokrasi,
seharusnya memfokuskan hal yang terjadi seperti kasus Ustaz Somad, yang
mendapat perlakuan intimidasi di negaranya.
"Para keamanan, terutama Polri, kan punya fungsi utama, yaitu mengamankan, mengayomi, terus melindungi masyarakat, dan ini masyarakat mana pun. Jadi sudah saatnya kita jaga fungsi aparat keamanan, terutama polisi, untuk mengarah segmen masyarakat," tutur Arya.
"Kita tidak indikator ala negara lain, misalnya freedom house kan nggak, kita pakai indikator demokrasi sendiri, ya hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan karena ini bukan masalah politik praktis," imbuhnya.
"Para keamanan, terutama Polri, kan punya fungsi utama, yaitu mengamankan, mengayomi, terus melindungi masyarakat, dan ini masyarakat mana pun. Jadi sudah saatnya kita jaga fungsi aparat keamanan, terutama polisi, untuk mengarah segmen masyarakat," tutur Arya.
"Kita tidak indikator ala negara lain, misalnya freedom house kan nggak, kita pakai indikator demokrasi sendiri, ya hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan karena ini bukan masalah politik praktis," imbuhnya.
Ustaz Abdul Somad mengaku mendapat ancaman dan intimidasi
terkait rencana berceramah di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Alhasil, Ustaz Somad membatalkan rencana ceramahnya.
Hal ini disampaikan Somad lewat akun Instagram miliknya. "Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap taushiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara, dan Semarang," tulis Somad.
Hal ini disampaikan Somad lewat akun Instagram miliknya. "Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap taushiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara, dan Semarang," tulis Somad.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 06, 2018
posted by @Adimin
Haji Agus Salim dan Kehormatan Diri
Meski kondisi melarat, tidak punya banyak harta benda, tetapi yang namanya izzah harus tetap dijunjung di mana pun berada
SETIAP muslim seharusnya memiliki “izzah” (kehormatan atau harga diri). Di dalam Al-Qur`an disebutkan, “izzah adalah kepunyaan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman,” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8) Lalu, apa yang dimaksud dengan “izzah”?
Merujuk pada bahasa Arab, kata “izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219).
Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dalam kamus tersebut, ‘izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.
“Keterhormatan,” tulisnya, “adalah tuntutan akan kelayakan. Sumbernya
adalah rasa percaya diri akan diri sendiri, namun kemudian diperkuat
oleh dorongan instinsik, atau naluri kepahlawanan yang membuatnya selalu
ingin melakukan perbuatan-perbuatan terhormat,” kata Anis Matta dalam
bukunya yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia” (2004 : 74)
Sosok Haji Agus Salim merupakan figur yang kaya akan keteladanan
terkait menjaga kehormatan diri. Bagi yang menulusiri kehidupannya
–baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia – figur yang dijuluki
Presiden Soekarno dengan subutan “The Grand Old Man” maka tak susah menemukan contohnya.
Sebelum Indonesia merdeka, sosok yang selama hidupnya dikenal melarat
ini datang menemui salah satu temannya di salah satu kantor milik orang
Belanda. Pada waktu itu, Salim diejek olehnya, “Tjoba kalau kau mau
bekerdja sama Belanda, tentu kau tidak seperti sekarang, tak punja
apa-apa.”
Tak lama setelah itu, tiba-tiba Cobee – salah seorang adviesur
Belanda—datang lalu menyalami Agus Salim dan memberi hormat kepadanya.
Setelah kejadian itu, dengan penuh izzah, sang diplomat jenaka
ini berkata kepada teman yang mengejeknya tadi, “Tjoba kala saja bekerja
sama Belanda, tentu seperti kau. Melihat madjikanmu datang, engkau
merasa ketakutan. Akan tetapi meskipun saja tidak bekerdja, namun dia
hormat kepada saja.” (Solichin Salam, 1964: 204)
Di sini terlihat bagaimana izzah seorang Agus Salim. Ia ingin menunjukkan kepada temannya, meski tidak begitu punya harta, asal punya izzah
hidup akan menjadi lebih terhormat dan mulia. Dibanding hidup
berkecupan dan bergelimang harta, tapi menjadi hina di bawah kuasa
penjajah.
Pasca kemerdekaan, tepatnya 3 Juni 1953, Presiden Soekarno mengutus
Agus Salim bersama Sri Paku Alam dan Duta Besar Indonesia ke Inggris
dalam acara penobatan Ratu Elizabeth II. Dalam acara itu Salim menghisap
rokok kreteknya. Ketika berhadapan dengan Pangeran Duke of Edinburg –
suami Ratu Elizabet – rupanya bau rokok mengganggu penciumannya dan
disebutnya sebagai bau busuk.
Bukan Agus Salim kalau tidak mampu menjawab ejekan ini. Bukan terutama masalah rokok yang menjadi masalah, tapi masalah “izzah”
(kehormatan dan harga diri). Ia menjawab dengan bahasa Inggris fasih
yang artinya demikian, “Paduka boleh tidak menjukai bau ini sekarang,
Jang Mulia. Akan tetapi djustru bau inilah dahulu yang menarik bangsa
Eropa pergi ke negeri saja.”
Sebagaimana jamak diketahui, para penjajah dahulu salah satu yang
diburu di nusantara adalah rempah-rempah, termasuk tembakau. Dengan
logika tajam ini seolah Salim ingin membalik omongan suami Ratu Inggris
itu bahwa barang yang direndahkannya ini adalah barang berharga yang
datang dari Indonesia. Kalau tidak berharga, buat apa negara-negara
Eropa –yang dulu sebagai penjajah Indonesia—sampai mencarinya.
Jawaban telak ini menunjukkan kaliber izzah Agus Salim.
Sebagai Muslim, negarawan dan bapak bangsa, dirinya tidak mau dihina
harga diri dan kehormatannya. Meski kondisi melarat, tidak punya banyak
harta benda, tetapi yang namanya izzah harus tetap dijunjung di
mana pun berada. Demikianlah sekelumit cerita menjaga kehormatan diri
yang bisa diteladai dari sosok Agus Salim.
Apa yang dilakukan oleh beliau persis seperti pepatah berikut:
“Pantang kutu dicukur, pantang manusia dihinakan.” Artinya, tiap orang
tak mau dihina, karena mempunyai harga diri atau gengsi. (Heroe Kasida
Brataatmadja, Kamus 2000 Pribahasa Indonesia, 118).*/Mahmud Budi Setiawan
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 05, 2018
mengatakan saat ini Indonesia belum bisa mengambil manfaat dari pelemahan rupiah, untuk mendorong kinerja ekspor nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini telah menembus ambang batas psikologisnya, sebesar Rp14.800. Kondisi ini akan semakin terus berlanjut, jika Turki dan Argentina terus terperosok dalam krisis ekonomi.
posted by @Adimin
Pelemahan Rupiah Sudah Lewati Ambang Psikologis
Written By NeoBee on 05 September, 2018 | September 05, 2018
Jakarta (4/9) - Sekretaris Bidang Ekonomi Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup (Ekuintek-LH) DPP PKS Handi Risza
mengatakan saat ini Indonesia belum bisa mengambil manfaat dari pelemahan rupiah, untuk mendorong kinerja ekspor nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini telah menembus ambang batas psikologisnya, sebesar Rp14.800. Kondisi ini akan semakin terus berlanjut, jika Turki dan Argentina terus terperosok dalam krisis ekonomi.
"Defisit neraca perdagangan masih
mengalami defisit. Pada bulan Juli 2018, defisit neraca perdagangan
Indonesia mencapai US$2,03 miliar sehingga secara kumulatif defisit
neraca perdagangan sampai Juli 2018 sudah lebih dari US$3 miliar. Jika
tidak ada kebijakan yang diambil Pemerintah, diperkirakan angka ini akan
terus bertambah," kata Handi di DPP PKS Jakarta Selatan, Selasa
(4/9/2108).
Saat ini, kata dia, nilai ekspor
Indonesia memang mengalami kenaikan. Nilai ekspor Indonesia pada Juli
2018 mencapai US$18,27%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada
2017, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2018 naik 19,33%. Jika
dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai ekspor Indonesia ini
mengalami peningkatan 25,19% yang terdiri dari kenaikan ekspor non-migas
sebesar 31,18% dan penurunan ekspor migas sebesar 15,06%.
Di sisi lain, kenaikan nilai impor terus
mengalami peningkatan, bahkan lebih tinggi dari ekspor. Data pada bulan
Juli 2018 menunjukkan, Impor mengalami kenaikan yang sangat signifikan.
Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017, nilai impor
Indonesia naik 31,56%. Kenaikan nilai impor ini akan terlihat jauh lebih
besar lagi jika dibandingkan dengan bulan sebelumya (mtm). Bila
dibandingkan dengan Juni, nilai impor Indonesia naik 62,17% yang terdiri
dari kenaikan impor migas 22% dan non migas 71%. Kenaikan impor
tersebut tidak hanya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah,
tetapi juga akibat volume impor yang juga mengalami kenaikan sangat
besar yaitu sekitar 51% dibanding satu bulan sebelumnya. Artinya
permintaan terhadap barang Impor makin tinggi.
"Akibatnya kondisi neraca perdagangan
terus tergerus. Bahkan kondisi ini telah dialami dalam beberapa tahun
terakhir, semenjak tidak adanya kebijakan industri yang kuat. Bahkan
boleh dikatakan kita mengalami deindrustrialisasi," kata Caleg DPR RI
Dapil Sumbar 1 itu.
Oleh sebab itu, lanjut dia, tidak ada
jalan lain bagi pemerintah selain membuat strategi yang akan
mengefektifkan menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan
menghilangkan defisit neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor.
Semenjak lemahnya kebijakan industri
nasional, tidak berorientasi kepada ekspor, telah berdampak terhadap
pertumbuhan ekspor Indonesia yang bisa dikatakan lamban. Bahkan 16 paket
kebijakan yang sudah dikeluarkan Pemerintah kurang efektif untuk
mendorong ekspor. Pemerintahan sepertinya lebih condong pada kebijakan
ekonomi yang berorientasi pada pembatasan impor. Dikhawatirkan kebijakan
yang berorientasi pada pembatasan impor justru akan menimbulkan
inefisiensi pasar yang berdampak pada daya saing produk dalam negeri
yang rendah.
"Kebijakan terakhir pemerintah juga
terlihat akan memperlakukan pembatasan impor. Jika kita memiliki
industri dalam negeri yang kuat maka kebijakan ini mungkin akan
membantu, tetapi jika tidak didukung oleh industri yang kuat maka
dikhawatirkan justru akan berdampak terhadap perekonomian nasional.
Berbeda dengan China yang memiliki industri yang kuat dan murah sehingga
siap menghadapi perang dagang (trade war)," ungkap dia.
Memang tidak mudah, menurutnya, tetapi
dalam beberapa waktu ke depan, pemerintah seharusnya lebih memilih
kebijakan yang berorientasi kepada pengembangan ekspor. Penguatan
kebijakan industri, dengan melakukan pembangunan sektor industri dan
perdagangan diarahkan pada pengembangan produk yang berorientasi pasar
ekspor, sehingga diharapkan akan bisa mengurangi defisit perdagangan,
bahkan juga akan memperkuat fundamental ekonomi nasional di masa yang
akan datang.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 03, 2018
Selama ini jika dicermati, menurutnya, gerakan #2019GantiPresiden lebih menyuarakan jeritan rakyat terkait kondisi perekonomian seperti harga-harga kebutuhan pokok yang semakin mahal hingga nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terus melemah.
"Berangkat dari situlah banyak lapisan masyarakat yang menginginkan ganti kepemimpinan Republik Indonesia tahun 2019 dengan presiden yang insyaallah lebih baik. Ini konstitusional, sama sekali bukanlah tindakan makar. Rakyat ingin ganti presiden lewat pemilu, bukan dengan jalan kekerasan," ungkapnya.
"Ternyata kita masih sangat perlu belajar hidup di alam demokrasi, sehingga perbedaan pendapat dapat dilakukan secara sehat, bukan dengan cara menghadang dan memaksa pulang seorang ibu-ibu," ucap Sukamta.
posted by @Adimin
Anggota Komisi I DPR: BIN Jangan Jadi Alat Politik Jokowi
Written By neobattosai on 03 September, 2018 | September 03, 2018
Jakarta
(28/08) -- Keterlibatan BIN dalam pengadangan aktivis
#2019GantiPresiden, Neno Warisman, terus menuai kritikan dari berbagai
pihak. BIN berkilah ikut campurnya Kepala BIN Daerah (Kabinda) Riau
dalam mengamankan Neno sebagai bagian tugas kenegaraan.
Namun, anggota Komisi I dari Fraksi PKS, Sukamta, berpendapat BIN telah melampaui kewenangan yang telah diatur dalam UU Intelijen Negara. Ia berharap BIN tidak menjadi alat politik pemerintah demi melanggengkan kekuasaannya.
Namun, anggota Komisi I dari Fraksi PKS, Sukamta, berpendapat BIN telah melampaui kewenangan yang telah diatur dalam UU Intelijen Negara. Ia berharap BIN tidak menjadi alat politik pemerintah demi melanggengkan kekuasaannya.
"Tugas
BIN seperti diatur dalam Undang-Undang Intelijen Negara adalah
penyelidikan, pengamanan dan penggalangan informasi. Dari sini kita
secara gamblang mengetahui bahwa yang dilakukan Kabinda di daerah
Pekanbaru telah melampaui kewenangannya. BIN harusnya tidak dijadikan
alat politik pemerintah (Jokowi) untuk kelanggengan kekuasaannya," ujar
Sukamta dalam keterangannya, Selasa (28/8).
Sukamta
menjelaskan, seharusnya pemerintah tidak perlu panik dan berlebihan
dalam menanggapi aksi #2019GantiPresiden. Sebab, gerakan tersebut murni
hanya untuk penyampaian pendapat yang dilindungi oleh konstitusi, bukan
gerakan makar seperti tudingan pemerintah.
Selama ini jika dicermati, menurutnya, gerakan #2019GantiPresiden lebih menyuarakan jeritan rakyat terkait kondisi perekonomian seperti harga-harga kebutuhan pokok yang semakin mahal hingga nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terus melemah.
"Berangkat dari situlah banyak lapisan masyarakat yang menginginkan ganti kepemimpinan Republik Indonesia tahun 2019 dengan presiden yang insyaallah lebih baik. Ini konstitusional, sama sekali bukanlah tindakan makar. Rakyat ingin ganti presiden lewat pemilu, bukan dengan jalan kekerasan," ungkapnya.
Politikus
PKS itu berharap, perbedaan pendapat tidak membuat pihak lain
dibenarkan dalam menjalankan aksi persekusi terhadap seseorang.
"Ternyata kita masih sangat perlu belajar hidup di alam demokrasi, sehingga perbedaan pendapat dapat dilakukan secara sehat, bukan dengan cara menghadang dan memaksa pulang seorang ibu-ibu," ucap Sukamta.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
September 02, 2018
posted by @Adimin
Presiden PKS: Perbanyak Kampanye Positif!
Written By neobattosai on 02 September, 2018 | September 02, 2018
Jakarta (31/8) - Presiden PKS Mohamad Sohibul
Iman menyerukan kadernya untuk mengkampanyekan hal-hal positif atau
positive campaign.
"Kampanyekan kelebihan-kelebihan diri kita maupun calon kita. Itu
yang lebih penting. Kita harus terus mengeksploitasi kemampuan diri
kita," kata Sohibul usai membuka Rakornas Humas PKS di Katulampa, Bogor,
Jumat (31/8/2018).
Tugas kader, kata dia, harus memasarkan produk yang baik dan
memasarkan produk sebaik mungkin. Jangan sampai menghasilkan hal yang
bernilai kampanye hitam (black campaign).
"Jika tidak, akhirnya kita mengorek kelemahan orang lain, negative
campaign, boleh asalkan ada buktinya. Lalukelebihan kita di mana?! Kita
harus banyak positive campaign," ungkap dia.
Sohibul mengatakan jika dalam kampanye pasti akan menemui fitnah.
Fitnah dalam perjuangan itu aksiomatik. Menurut dia tidak ada jalan yang
mulus untuk berjuang. Biasa-biasa saja dalam menyikapi fitnah.
"Maka sikapi dengan proporsional dan logis. Jangan baperan hingga tak
bisa tidur. Sebisa mungkin 80 persen kampanye kita adalah positive
campaign," ungkap dia.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
February 23, 2018
posted by @Adimin
Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Baru Tahun 2019
Written By neobattosai on 23 February, 2018 | February 23, 2018
Ketua
Departemen Politik DPP PKS Pipin Sopian menjelaskan berdasarkan survei
internal dan beberapa lembaga survei menunjukan mayoritas masyarakat
Indonesia ingin Presiden RI baru pada Pilpres 2019.
"Berdasarkan
hasil survei internal dan berbagai hasil lembaga survei menunjukan
mayoritas masyarakat Indonesia ingin Presiden RI baru pada 2019," kata
politisi muda PKS ini, Kamis (22/2/2018).
Alumnus
Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menerangkan masyarakat Indonesia
memandang Pemerintahan Jokowi-JK tidak berhasil meningkatkan
kesejahteraan dan rasa aman bagi masyarakat.
"Masyarakat
menilai hingga tahun keempat Pemerintahan Jokowi gagal mengentaskan
kemiskinan, darurat gizi buruk, mengurangi lapangan pekerjaan, menaikkan
daya beli masyarakat dan menegakkan hukum bagi semua," terangnya.
Bagi masyarakat bawah, menurut Pipin, yang sangat dirasakan adalah persoalan ekonomi dan penegakan hukum yang semakin terpuruk.
"Harga
bahan pokok yang melonjak, tarif listrik tinggi, adanya kriminalisasi,
penegakan hukum yang tidak adil dan ancaman orang gila dan isu PKI
kepada para ulama menjadi penilaian masyarakat," ujarnya
Untuk itu menurut Pipin pandangan masyarakat ini akan menjadi pertimbangan PKS dalam menentukan arah koalisi pada Pilpres 2019.
"Tentu
aspirasi dari masyarakat, simpatisan, ulama, tokoh, dan kader akan
menjadi pertimbangan PKS dalam menentukan mitra koalisi dan pasangan
capres pada Pilpres 2019," tegasnya.
Bagi
masyarakat yang ingin pergantian kepemimpinan Indonesia pada 2019, kata
Pipin, PKS menawarkan calon presiden hasil dari keputusan Majelis Syuro
PKS.
"PKS menawarkan 9 calon presiden yang kapasitas dan integritasnya sudah teruji dan memiliki basis massa," katanya.
Bakal
calon presiden dari PKS itu antara lain, Gubernur Jawa Barat, Ahmad
Heryawan; Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid; Mantan Presiden PKS,
Anis Matta; Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno; Presiden PKS,
Mohamad Sohibul Iman; Ketua Majelis Syuro PKS/Mantan Mensos, Habib Salim
Segaf Al Jufrie; Mantan Presiden PKS/Mantan Menkominfo, Tifatul
Sembiring; Pimpinan Fraksi PKS MPR RI, Almuzammil Yusuf dan Wakil Ketua
Komisi ll DPR RI, Mardani Ali Sera
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
February 20, 2018
posted by @Adimin
PKS Dapat Nomor Urut Delapan
Written By NeoBee on 20 February, 2018 | February 20, 2018
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan nomor urut delapan (8)
sebagai parpol peserta pemilu 2019 . Hal tersebut diumumkan di kantor
Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta Pusat, Ahad (18/2/2018).
"Semua nomor bagus dan berkah. Dulu kita mendapat nomor yang sama
yaitu 8. Sesuai dengan harapan yaitu nomor yang tidak terlalu besar,"
kata Sohibul.
Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman hadir di KPU bersama Sekjen Mustafa
Kamal, Wasekjen Abdul Hakim, Ketua Wilda Banjabar Tate Komaruddin,
legislator PKS Aboe Bakar Alhabsy dan pimpinan DPP lainnya.
Pengundian nomor urut partai politik peserta pemilu 2019 sekitar
pukul 20.00 WIB. Sebelum nomor urut, PKS mengambil antrean dengan nomor
sepuluh.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
February 18, 2018
hidayatullah.com
posted by @Adimin
Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa
Written By NeoBee on 18 February, 2018 | February 18, 2018
Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK), barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat.
Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Buya Hamka bergerilya di
hutan sekitar Medan. Kiprah Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang
1945-1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi
menentang kembalinya penjajah Belanda yang terus kian merebak di seluruh
Tanah Air.
Demikian dituturkan Guru Besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra dalam seminar nasional tentang Buya Hamka. Ia mengungkapkan, jasa-jasa Buya Hamka melewati batas-batas perjuangan politik dalam kehidupan umat dan bangsa Indonesia.
“Buya Hamka berjuang untuk memajukan umat dan negara-bangsa dalam
berbagai lapangan kehidupan sejak dari kesusastraan, pemikiran keagamaan
(terutama tasawwuf dan tafsir), pendidikan modern Islam, dakwah,
politik, dan perjuangan melawan kebatilan kolonialisme pra dan pasca
kemerdekaan,” tuturnya pada acara di Aula Buya Hamka, Masjid Agung
Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (15/02/2018) itu.
Azra menceritakan, pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi Ketua
Barisan Pertahanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin,
Rangkayo Rasuna Said, dan Karim Halim.
Selain itu, lanjut Azra, Hamka juga diangkat Wakil Presiden Mohammad
Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional yang merupakan
gabungan dari berbagai partai politik. Ketua Front ini adalah Bung Hatta
sendiri.
Selanjutnya, Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK)
yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera
Barat. Hamka sendiri sangat aktif bergerilya dan hampir tidak pernah
bisa ditemui di satu tempat tetap.
Sebagai sastrawan, kata Azra, Hamka memiliki intelektualisme yang
kosmopolitan melalui bacaannya atas karya sastrawan, filsuf, sejarawan,
ideolog, dan lain-lain seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas
al-Akkad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haykal, Albert Camus, William
James, Sigmud Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, Pierre
Loti, dan banyak lagi.
“Hamka dengan demikian memberikan contoh tentang keluasan bacaan,
tanpa prasangka yang kemudian dia refleksikan secara kritis,” ucapnya.
Sikap intelektual Hamka seperti ini, menurutnya, sangat relevan dan
sesuai dengan konteks tantangan kaum intelektual dan ulama Indonesia
masa kini dan mendatang, yang harus terus membuka perspektif dan horizon
intelektualisme kritis mereka di tengah lingkungan yang terus berubah
dan berkembang sangat cepat
hidayatullah.com
posted by @Adimin
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
February 12, 2018
posted by @Adimin
Presiden PKS Sambut Baik Anak Muda Terjun Politik
Written By neobattosai on 12 February, 2018 | February 12, 2018
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman
menyambut baik anak muda yang peduli dengan dunia politik. Ia menilai
tidak ada yang salah dengan politik.
"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan politik. Politik itu cara
bagaimana me-manage kehidupan bernegara ini," kata Sohibul di acara PKS
Muda Talks, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (9/2/2018).
Politik kemudian, nilai Sohibul, menjadi buruk kalau manusia teracuni atau mabuk politik. Kapan seseorang teracuni atau mabuk politik? "Yaitu ketika politik direduksi jadi semata soal perebutan kekuasaan," ungkapnya.
Politik kemudian, nilai Sohibul, menjadi buruk kalau manusia teracuni atau mabuk politik. Kapan seseorang teracuni atau mabuk politik? "Yaitu ketika politik direduksi jadi semata soal perebutan kekuasaan," ungkapnya.
Lebih lanjut ia mengatakan politisi yang menggunakan kekuasaan hanya
menjadi alat legitimasi berbuat apa saja dan semakin berkuasa semakin
leluasa melakukan apa saja.
"Yang ketiga, ia akan menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan," kata dia.
Berpolitik itu seharusnya mengelola dan pengabdian negara. Mengelola
pendidikan, ekonomi, teknologi dan sebagainya "Bukan untuk kepentingan
diri kita sendiri," ungkapnya.
Di acara PKS Muda Talks tersebut menghadirkan artis dan pesinetron Adly Fayruz yang bertindak sebagai pembawa acara.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN










