Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
January 02, 2013
Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial
Tauhid Yang Membebaskan
Written By @Adimin on 02 January, 2013 | January 02, 2013
Di negeri ini proses pemiskinan -- baik pemiskinan
secara kultural maupun struktural tengah terjadi menggusur bangsa ini
-- yang, kesemuanya itu berujung pada proses 'peyatiman' bangsa --
ketika nasib rakyat dan umat ditelantarkan oleh negara. Maka, negara
dan elit-elitnya sesungguhnya telah terlibat dalam proses pendustaan
dan pengkhianatan terhadap nilai2 agama. Tragis memang....
Kenyataan-kenyataan tersebut, telah menjungkirbalikkan rakyat dan
umat menjadi tersubordinasikan pada titik nadir yang memprihatinkan.
Bangsa ini yang mayoritas masyarakat Muslim menjadi terpingggirkan oleh
silang sengkarut dinamika reformasi yang mandeg dan jalan di tempat.
Sehingga tidaklah mengherankan bahwa posisi umat Islam di Indonesia
berada pada posisi pheripheral -- yang secara sosiologis, itu sudah
menjadi karakteristik negara berkembang termasuk Indonesia yang
ditandai oleh ketidakmerataan ekonomi yang makin melebar. Padahal kita
tahu, bahwa masyarakat menjadi miskin bukan disebabkan karena mereka
tidak memiliki aspek kultural yang dinamis dan kreatif, tapi kerena
mereka dimiskinkan oleh suatu sistem struktural -- di mana mereka tidak
diberi peluang yang sehat dan memadai.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam itu bukan agama kebebasan
(sebagaimana orang-orang JIL menafsirkan). Tapi Islam itu adalah agama
pembebasan yang membebaskan dari ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan
serta pembebasan dari kesewenang-wenangan kekuasaan yang tiran. Dengan
missinya yang membebaskan tersebut, umat Islam diharapkan bisa ‘naik
kelas' posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Meskipun
dalam realitas sejarahnya, manusia modern saat ini kerap dihadapkan pada
problematikanya sendiri, di mana umat Islam berada di dalamnya.
Manusia yang asalnya merdeka dengan segala kemerdekaan dan
kebebasannya, yang selalu merasa menjadi pusat dari segala sesuatu,
kini telah diturunkan derajatnya oleh suatu sistem nilai kebudayaan
modern, manusia menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin. Dalam
masyarakat modern manusia tengah menghadapi dan mengalami mekanisasi
kerja. Proses seperti ini menyebabkan manusia kehilangan perspektifnya
(Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan,
1993).
Manusia di zaman modern ini -- telah terpasung oleh situasi zaman
yang menyertainya. Mereka mengalami keterpasungan dan keterbelengguan
oleh sistem kebudayaan modernitas itu sendiri. Dan ini terjadi pada
bangsa ini yang tengah mengalami fase akhir dari suatu masyarakat
agraris dan fase awal dari sebuah masyarakat industri. Di sini kerap
terjadi benturan antara nilai-nilai lama (Islam dan budaya) di satu
sisi, dan nilai-nilai baru di sisi yang lainnya. Yang pada ujungnya
manusia mengalami kegelisahan dan keterasingan.
Sedangkan pada sisi lainnya, pada bangsa ini pula -- sebagian besar
masyarakatnya tengah mengalami ketidakberdayaan oleh pelbagai sistem
struktural yang menyebabkan tidak memiliki daya tawar yang kuat. Mereka
menjadi masyarakat pinggiran yang terpinggirkan oleh sejarah dan
kekuasaan yang hampir tidak pernah berpihak kepada mereka.
Dari analisis tersebut, sesungguhnya kita menaruh harapan banyak pada
Islam. Tentu saja, di sini Islam mesti ditafsirkan secara cerdas dan
pintar oleh umatnya dengan tetap berpegang teguh pada diktum Islam
(Qur'an dan Sunnah) yang bersifat essensial dan eternal. Sejauhmana
Islam turut andil dalam memberikan perubahan dan pembebasan atas
pelbagai nasib manusia yang terhimpit oleh sistem ketidakadilan baik di
bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun aspek-aspek lainnya.
Tauhid dan Pembebasan: Sebuah Redefinisi
Istilah Tauhid dalam wacana umat Islam Indonesia kerap disebut
‘tauhid'. Menurut Nurcholish kata-kata tersebut merupakan kata benda
kerja aktif yang secara harfiah mengandung makna ‘menyatukan' dan
‘mengesakan' yang oleh para mutakallim dipahami sebagai upaya untuk
‘me-Maha-Esa-kan Allah'. Yang dengan ini, semangat tauhid akan
memberikan dampak pembebasan dalam hidup dan kehidupan manusia.
Pandangan ini muncul sebagai bagian dari dambaan setiap insan --
khususnya umat Islam terhadap pandangan hidupnya yang mampu membawa
pembebasan dari pelbagai belenggu zaman modern.
Senada dengan pandangan di atas, menurut Amien Rais (1991:13) bahwa
kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan esensial.
Formulasi paling pendek dari kalimat tauhid adalah: laa ilaha illa
Allah -- sebuah kalimat dalam bentuk negasi-afirmasi(nafy-itsbat). Di
mana seorang manusia-tauhid hanya memutlakkan Allah Yang Esa sebagai
Khaliq-nya, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya.
Komitmennya kepada Allah adalah total, kukuh, tulus, mencakup cinta dan
pengabdian, dan kemauan yang keras untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Dalam Islam, kalimat tauhid sesungguhnya telah menjadi tauhid
pembebasan bagi umat Islam. Karena dengan kalimat tauhid sesungguhnya
harus meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.
Yang menurut Amien, doktrin tauhid Islam sesungguhnya mengemban tugas
untuk melakukan tahrir al-nas min ‘ibadat al-'ibad ila ‘ibadatillah'
(membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah
Allah semata).
Dan hal itu sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad ‘Athiyah
al-'Ibrasyi (Ruh al-Islamy,Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiah, 1969, hal.
172). bahwa, Islam itu merupakan agama pembebasan, persaudaraan dan
persamaan (Al-Islamu dien al-huriyati wa al-ukhuwwti wa
al-musawati....). Yang dalam sejarahnya Islam telah melakukan upaya
liberasi bagi para hamba sahaya untuk dimerdekakan dan diangkat
derajatnya menjadi manusia yang merdeka, sejajar dan terhormat.
Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial
Bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena
sikap menutup diri dari keengganan untuk mengetahui kebenaran yang
diperkirakan nilainya akan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan oleh
keangkuhan yang sudah membelenggu diri manusia. Belenggu yang dimaksud
tiada lain adalah hawa nafsu atau vested interest (al-hawa). Inilah
sumber pribadi yang selalu menolak kebenaran. Hawa nafsu juga menjadi
sumber pandangan subyektif yang tidak berdasar (Lihat Qs. Al-Jatsiyah:
23).
Doktrin tauhid dalam Islam, menurut Cak Nur, sesungguhnya bisa
memberikan pembebesan diri (self-liberation). Hanya dengan dengan
self-liberation seorang manusia-tauhid akan mampu menangkap kebenaran,
dan hanya dengan menangkap kebenaran itulah seseorang akan bisa
membebaskan dirinya. Inilah sesungguhnya makna yang sangat esensial
dari kalimat tauhid. Di sinilah doktrin tauhid Islam memberikan
pembebesan pribadi, di mana seseorang menjadi merdeka sejati yang hanya
akan melihat setiap yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai
salah.
Oleh karena itu, manusia tauhid akan dengan bebas menentukan sendiri
pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat dan hati
nurani secara jujur tentang apa yang benar dan yang salah, ia tampil
berani dan elegan, penuh percaya diri, jujur dan adil serta memiliki
integritas yang kuat. Karena ia tidak terkungkung oleh keangkuhan
dirinya (lihat Qs. Al-Ma'idah: 8).
Dengan pembebasan diri yang kuat sebagai efek dari tauhid, maka
tauhid dalam Islam pula bisa memberikan efek bagi pembebasan sosial
sebagai kelanjutan dari pembebasan diri-individu. Dalam al-Qur'an
pandangan hidup bertauhid selalu berkaitan dengan penolakan terhadap
‘thagut' yang dipahami sebagai kekuatan sewenang-wenang atau apa-apa
yang melewati batas atau juga sebagai kekuatan tiranik. Yang menurutnya,
kesanggupan seorang pribadi untuk melepaskan diri dari belenggu
kekuatan tiranik -- itu dipahami sebagai efek dari pembebasan sosial
semangat tauhid (Qs. Al-Baqarah: 256).
Singkat kata, Islam sesungguhnya merupakan agama pembebasan bagi
manusia. Karena salah satu misi Islam yang paling besar adalah
melakukan pembebasan. Dalam konteks dunia modern, doktrin tauhid Islam
harus bisa membebaskan manusia dari kungkungan/belenggu pemikiran dan
juga dari sistem-sistem sosial, politik maupun ekonomi maupun
sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak bisa
mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.
Dengan demikian, bangunan tauhid Islam secara fungsional harus mampu
mentransformasikan setiap individu untuk melakukan upaya liberasi dari
pelbagai kungkungan sistem yang tidak manusiawi. Dan pada saat yang
bersamaan pula bangunan tauhid Islam mendorong kaum Muslimin untuk
menegakkan suatu tatanan sosial yang adil dan etis.
Dalam diktum Alquran, ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial dan
politik -- ini sesuatu yang sangat dikecam keras (lihat Qs. Al-Ma'un:
1-6 dan Al-Humazah: 1-6). Karena manakala ketimpangan dan ketidakadilan
tersebut dibiarkan, maka bisa mengakibatkan manusia menjadi buta
terhadap nilai-nilai luhur (lihat Qs. Ali- ‘Imran: 14; Yunus: 23).
Internalisasi Tauhid Sebagai upaya Pembebasan
Dalam realitas empirisnya, kita kerap menyaksikan bahwa ada orang
yang rajin shalatnya tapi juga rajin korupsinya, ada yang sudah
berkali-kali melaksanakan ibadah haji tapi rajin pula menindas
rakyatnya. Dalam perspektif ini, orang tersebut sama sekali tidak
bertauhid. Padahal nilai-nilai tauhid itu selalu hadir dalam situasi
dan kondisi apapun.
Untuk itu, upaya membumikan Islam dalam konteks Islam sejarah secara
apa adanya menjadi bagian penting yang mesti diwujudkan. Karena boleh
jadi, doktrin tauhid Islam yang selama ini diyakini dan dipahami
dipandang tidak cukup memberi implikasi pada jiwa-jiwa pribadi muslim.
Di sini, makna tauhid perlu di-internalisasi pada wilayah yang lebih
konkret - sebagai upaya untuk men-substansiasi Islam dalam konteks
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bahkan bernegara. Dengan
pemaknaan tauhid seperti ini diharapkan lebih mencerahkan dan
mencerdaskan. Salah satu kepentingan yang cukup signifikan -- mengapa
tauhid perlu dikedepankan untuk melakukan transformasi dan pembebasan,
baik sosial maupun individual? Karena sebagai doktrin tauhid, bagimana
Islam mampu mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visi Islam
itu sendiri. Sehingga Islam memberikan insight moral bagi masyarakat.
Dengan kata lain, meminjam pernyataan Kuntowijoyo -- tidaklah Islami
misalnya, jika masyarakat muslim bersikap apriori terhadap kondisi
struktural dan kultural masyarakatnya, sementara kita tahu kondisi
tersebut penuh kemunkaran dan kezaliman. Wallahu a'lam bi al shawwab...
sumber : persis.or.id
posted by Adimin
Label:
AQIDAH
December 31, 2012
10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru
Written By @Adimin on 31 December, 2012 | December 31, 2012
Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga,
para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.
Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang
hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka
dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah
pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah
mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat
ini bisa menjawabnya.
Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM
(sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai
kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional
Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain
kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli
astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu
dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan
orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung
sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun
45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga
memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada
bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam
kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM,
dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau
Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius
Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai
dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun
baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak
dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ
فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ
أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ
الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan
Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan,
‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang
Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu
hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum
muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar
meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini
adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar
perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan
sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum
muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul
Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan
secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara
periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi
dalam ied terkumpul beberapa hal:
- Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
- Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
- Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
- Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
- Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau
golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang
terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari
kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu
termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di
samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang
lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena
menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam
sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang
Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik
dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ
قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ
أُولَئِكَ »
“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ
وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ
لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ
وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian
sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika
orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh
lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob
(lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa
tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan
Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan
berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini
adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah
terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai
model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang
setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk
pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian,
penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil
Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]
Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang
kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara
orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada
malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia,
mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid.
Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada
manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh.
Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa
tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual
kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika
itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan
meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi
dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang
penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu
Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai
tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
“Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.
Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir
dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim
memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini
tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi
ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang
kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa
mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah
bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan
semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat
dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan.
Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita
mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan
perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat
semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan
selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina,
atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut.
Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang
mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada
seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas
mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]
Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk
menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini
diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari,
kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang
kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak
mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi
hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah
kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu
bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa
itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin
tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib
(shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar
dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain,
zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan
mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia
dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang
mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar.
Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti
orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput
darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya
sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat.
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi,
celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan
kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu.
Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13]
Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14]
Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari
oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena
bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga
malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut
namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan
mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang
tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau
berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak
suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin
melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat
shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul
orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah
kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur
lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu
yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita)
dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu
sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering
terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam
bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian
tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan
melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina.
Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ
مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا
الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا
الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى
وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini
suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah
dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah
dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina
kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan
berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau
mengingkari yang demikian.”[17]
Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan,
terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu
kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu
orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal
mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah
dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya
dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al
Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti
walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan
yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja
dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan
perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!
Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam
waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang
pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala
hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru
sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang
yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap
orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah
sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta
yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan,
kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb.
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan
janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah
menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan,
“Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang
benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang
menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang
keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan,
“Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam
berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk
berbuat kerusakan.”[20]
Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu
sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal
yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa)
menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu
akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat.
Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan
penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang
telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan
tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan
ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya.
Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah
cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup
untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang
kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah
mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil
yang bisa menjatuhkanmu.
Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru.
Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan
satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim
tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya
merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang
bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan
banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang
sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan
berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia.
Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih
baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah
semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan
seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku
masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan
(pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya
kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa
shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37
posted by Adimin
December 25, 2012
Peringatan Hari Ibu PKS Kota Padang
Written By @Adimin on 25 December, 2012 | December 25, 2012
Sepanjang kehidupan manusia, sosok ibu memang
tidak akan pernah bisa tergantikan dalam kehidupan kita sebagai seorang yang
penuh kasih sayang yang memberikan segalanya kepada keluarga tanpa mengharapkan balas jasa. Di indonesia
hari ibu jatuh pada tanggal 22 desember setiap tahunnya, PKS Kota Padang juga
ikut mengapresiasikan Hari Ibu, melalui bidang Perempuan PKS kota Padang.
GOR Kompleks Yayasan Adzkia taratak paneh Kota
padang Minggu 23 desember 2012, mulai ramai di datangi oleh ibu-ibu beserta keluarganya.
Mereka yang datang penuh dengan kecerian dan senyuman, Hari ini bidang
perempuan PKS kota padang menggelar acara semarak Hari Ibu, Kegiatan ini di
buka pada pukul 09.30 wib. Acara ini juga di hadiri oleh ketua DPD PKS Kota
Padang Drs. Muhidi, MM dan Wakil Walikota Padang H. Mahyeldi Ansyarullah, SPd.
Dalam sambutannya ketua Bidang Perempuan DPD
PKS Padang, Ronna Rosa, SS mengatakan “dalam menyemarakkan hari ibu, kami dari
bidang perempuan sangat mengapresiasikannya, untuk itu hari ini akan ada
beberapa perlombaan seperti Lomba menggambar, tebak kata, dan lomba lari. Selain
itu juga akan di kukuhkan pengurus Rumah Keluarga Indonesia Kota Padang.
Terakhir beliau sampaikan bahwa dalam kegiatan
yang berlangsung hari ini, juga di buka kesempatan bagi seluruh kader kota
padang yang memiliki anak untuk bisa mengikuti program bakat dan minat yang
telah di bentuk bidang perempuan PKS Kota Padang, ini sesuai dengan follow up dari
out bond anak kader beberapa waktu lalu. Program yang di buka adalah, Jurnalis,
Renang dan sepak bola. Dan tak lupa ucapan terimakasih kepada panitia yang
telah bekerja maksimal, sehingga acara hari ini bisa terlaksana dengan
baik, imbuhnya.”
Pada saat lomba di mulai, para peserta sangat
antusias mengikuti perlombaan. Seperti lomba menggambar dengan tema “ibu”, peserta
lomba ini adalah ayah dan anak sedangkan ibu memberikan semangat kepada mereka.
Tampak harmoni dan kompak sekali para keluarga yang mengikuti perlombaan. Dan
tak kalah serunya pada saat lomba lari, pesertanya para ayah dan anak. Dengan
menggendong anaknya para ayah saling berpacu untuk menjadi pemenang,
Meski cuaca
matahari cukup terik namun tidak menyulutkan para ayah untuk lari sekencang-kencangnya
dengan anak yang digendongnya. Para ibu pun dengan semangatnya meneriakkan
kepada para ayah yang sedang mengikuti lomba. Kegiatan yang diangkat bidang perempuan PKS Kota Padang ini sungguh berkesan bagi keluarga peserta, karena mereka bisa saling menyemangati, adanya kebersamaan kompak antara ayah, ibu, dan anak. Selain itu juga menambah eratnya silaturahim sesama kader dan simpatisan PKS Kota Padang
posted by Adimin
Label:
KIPRAH KAMI,
TOPIK PILIHAN
December 24, 2012
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
wallahu a'lam
Ahad, 23 Desember 2012
CATATAN (ed):
Hasil perhitungan Referendum tahap kedua: 6553 TPS dari total 6724 (97%) yang mendukung Konstitusi YES 71% (5,749,743) NO 29% (2,343,247). Pro Konstitusi dan Pro Mursi menang telak.
posted by Adimin
Sampah Sejarah
Written By @Adimin on 24 December, 2012 | December 24, 2012
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
Potongan ayat tsb menjadi acuan bahwa sejarah pasti akan terulang walau
dg pelaku dan tokoh yg berbeda. Pertarungan ideologi antara Fir'aun dan
Musa, pertempuran haq dan bathil yg ditokohkan Thalut dan Jalut atau yg
kita kenal dg GOLIAT sedang terjadi dan akan terus terjadi selama
panggung sejarah masih ada.
"Dan demikianlah hari-hari (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia...," kata Alloh (QS 3:140).
Pertarungan ideologi dan pertempuran haq dan bathil kini Alloh
perlihatkan di Mesir dg cara yg lain. Penguasa zhalim seperti Mubarak yg
berkuasa selama 30th akhirnya tumbang dg kehinaan. Selama masa
berkuasanya tidak pernah memihak kpd syariat Allah. Para pendakwah dan
aktifis islam menjadi bulan bulanan kekejamannya. Jangankan ikhwanul
muslimin yg menjadikan politik sbg salah satu bagian dari dakwahnya,
gerakan islam macam jamaah tabligh yg menekankan pembinaan akhlak atau
jamaah salafiah yg lebhi memfokuskan kajian kitab, saja tdk dibiarkan
bebas oleh mubarak dalam menjalankan misi dakwahnya.
Kini, ketika skenario sejarah sdg berjalan, Sang Sutradara kehidupan mengharuskan Mubarak mengakhiri perannya dg kehinaan -watanzi'ul mulka, wa tudzillu man tasya-.
Kekuasaan yg dibanggakan, kini tak ada apa-apanya. Usianya uzur yg
penyakitan harus mendekam dibalik jeruji besi. Itulah balasan bagi yg
memenjarakan dan menyiksa hingga mati para pewaris nabi. Harta benda yg
dikumpulkan dan dilarikan keluar negeri tdk ada artinya lagi, apalagi
kini mulai dibekukan aset ilegal tsb.
Bisa jadi, skenario yg sama yang sedang dimainkan Sang Sutradara
Kehidupan akan diberikan kpd pemeran utama bernama Mohamed El Baradei,
mantan ketua IAEA PBB yg tlah membuka jalan bagi AS utk menjajah Irak
dan mengeksekusi mati Saddam Hussein. Pemilik televisi swasta penebar
fitnah dan ketua partai dustur yg sekuler inipun tidak segan-segan
menjegal syariat Alloh ditegakkan dlm tataran negara. Bahkan Baradei tak
segan-segan mengundang AS dan Eropa utk menjegal pemberlakuan
konstitusi baru mesir yg pro syariah. Baradei berharap dapat menjadi
presiden Mesir stelah Morsi dapat digulingkan melalui kudeta
internasional.
Baradei tidak sendirian, tokoh sekuler, liberal, kroni mubarak, sosialis
nasseris, hingga kafir koptik spt Hamden Sabbahi, Amr Mousa, Tovik
Ukasyah bergandengan tangan menolak syariat islam.
Mereka bagaikan Haman dan para pembantu firaun lainnya yg
terang-terangan menolak dialog dan mengabaikan kebaikan yg disampaikan
Nabi Musa.
Sabtu 22 Desember 2012 (saat digelarnya Referendum terakhir) menjadi
saksi bagi rakyat mesir dan dunia internasional, bahwa publik mesir
masih menginginkan islam sbg aturan kehidupan bagi negaranya. Para
penolak syariat islam akan menjadi Sampah Sejarah dan dihinakan generasi
yg akan datang.
wallahu a'lam
Ahad, 23 Desember 2012
CATATAN (ed):
Hasil perhitungan Referendum tahap kedua: 6553 TPS dari total 6724 (97%) yang mendukung Konstitusi YES 71% (5,749,743) NO 29% (2,343,247). Pro Konstitusi dan Pro Mursi menang telak.
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita
December 24, 2012
Dakwah adalah sebuah keniscayaaan bagi para aktivis dakwah dimanapun mereka berada, dakwah membutuhkan ketawakalan dan kesabaran, karena tantangan dakwah kedepan bukan lebih mudah tetapi justru sebaliknya yaitu lebih sulit dan lebih kompleks sesuai dengan perkembangan zaman.
Diperlukan ketangguhan yang prima bagi para aktivis dakwah untuk menjalankan estafet dakwah bagi semua generasi. Untuk menjawab tantangan tersebut maka DPD PKS Kota Padang, membentuk RTD yaitu Regu Tangguh Dakwah . RTD merupakan program khas wilda Sumatera dengan tujuan membentuk kader dakwah yang tangguh yang nantinya mampu untuk menjawab tantangan dakwah kedepan.
RTD telah berjalan dengan baik dan dikerahkan di beberapa kecamatan di kota Padang. Dari beberapa pengalaman diadakannya RTD ternyata sambutan masyarakat yang didatangai pasukan RTD cukup baik. Banyak masyarakat berharap agar program program PKS lebih menyentuh masyarakat bawah sehingga eksistensi PKS lebih membumi dan masyarakat pastinya akan mendukung PKS. Tetapi ada juga sebagian masyarakat di Kalumbuk yang belum tahu sama sekali dengan PKS sehingga kader kader RTD lebih intensif mengenalkan apa dan siapa PKS itu.
Semoga dengan adanya RTD ini akan semakin menguatkan dakwah kedepan dan kader kader semakin tangguh didalam menghadapi tantangan dakwah. ALLAHU AKBAR
posted by Adimin
RTD Bertebaran dimana mana
Dakwah adalah sebuah keniscayaaan bagi para aktivis dakwah dimanapun mereka berada, dakwah membutuhkan ketawakalan dan kesabaran, karena tantangan dakwah kedepan bukan lebih mudah tetapi justru sebaliknya yaitu lebih sulit dan lebih kompleks sesuai dengan perkembangan zaman.
Diperlukan ketangguhan yang prima bagi para aktivis dakwah untuk menjalankan estafet dakwah bagi semua generasi. Untuk menjawab tantangan tersebut maka DPD PKS Kota Padang, membentuk RTD yaitu Regu Tangguh Dakwah . RTD merupakan program khas wilda Sumatera dengan tujuan membentuk kader dakwah yang tangguh yang nantinya mampu untuk menjawab tantangan dakwah kedepan.
RTD telah berjalan dengan baik dan dikerahkan di beberapa kecamatan di kota Padang. Dari beberapa pengalaman diadakannya RTD ternyata sambutan masyarakat yang didatangai pasukan RTD cukup baik. Banyak masyarakat berharap agar program program PKS lebih menyentuh masyarakat bawah sehingga eksistensi PKS lebih membumi dan masyarakat pastinya akan mendukung PKS. Tetapi ada juga sebagian masyarakat di Kalumbuk yang belum tahu sama sekali dengan PKS sehingga kader kader RTD lebih intensif mengenalkan apa dan siapa PKS itu.
Semoga dengan adanya RTD ini akan semakin menguatkan dakwah kedepan dan kader kader semakin tangguh didalam menghadapi tantangan dakwah. ALLAHU AKBAR
Label:
TOPIK PILIHAN
December 22, 2012
Oleh karena itu, IM-Salafy dan Poros Koalisi Kekuatan Islam bersepakat:
posted by Adimin
Fakta Bicara : Referendum Mesir, Bukti Kokohnya Mursi
Written By @Adimin on 22 December, 2012 | December 22, 2012
By: Nandang Burhanudin
***
Moursi-IM-Salafy-dan koalisi kekuatan Islam bisa "sedikit bernafas lega"
atas hasil referendum yang mengatakan 56,53 % rakyat menerima
"Amandemen Konstitusi" dan 43,47 % menolak. Sebaliknya kaum
Liberal-Sekuler yang didukung minoritas Koptic dan Muslim ambigu,
semakin "kebingungan" dan memikirkan langkah strategis agar kemenangan
kaum Islamiyun bisa dijegal di fase kedua referendum, juga pada
pemilihan anggota DPR dua bulan yang akan datang.
Selain menunjukkan kokohnya koalisi kekuatan Islam, suksesnya referendum
yang diraih kaum Islamiyun menjadi pertanda nyata semakin kuatnya
elektabilitas dan ketokohan Dr. Moursi, terutama di provinsi-provinsi
yang pada Pilpres pertengahan tahun 2012 tidak memilih Moursi.
catatan (ed):Di Propinsi Sharkiyyah menang 65,9 % padahal waktu pilpres kemarin Morsi kalah.
Juga di Propinsi Daqahliya (Manshurah); 55.1% Yes dan 44.9% No | dimana putaran 2 pilpres, Mursi kalah di propinsi ini.Anas Akram Syair (IM) mengatakan: "Sekarang (referendum tahap I) ibarat pertandingan tandang dan kita (pro) menang, apalagi nanti pertandingan kandang".Referendum tahap 1 diadakan di provinsi yang rata-rata menjadi lumbung suara Shafiq ketika Pilpres. Khususnya Cairo.Referendum tahap 2 (Sabtu, 22/12) akan berbeda dg tahap 1. Tahap 2 akan diadakan di provinsi-provinsi yg menjadi kantong suara kalangan Islamis.Referendum tahap 1 ibarat kemenangan 'tandang' 0-1 bagi mereka yg mengatakan "Iya". Kemenangan 'kandang' di tahap 2 akan lebih besar. Insya Allah.
(12 dari 18 propinsi yg akan bertarung pd putaran ke 2,merupakan basis gerakan islam)
Jika di Gel. 1 yg berkata "Iya" 56,53% dan "Tidak" 43,47%. Diperkirakan di Gel. 2 persentase "Iya" akan meningkat dan "Tidak" akan berkurang.
Sedangkan angka 43 % penolakan terhadap amandemen Konstitusi membuktikan
bahwa realitas masyarakat Mesir belum sepenuhnya FUTUH dan ini menuntut
kerja keras aktivis Islam (IM+SALAFY) untuk semakin gencar berdakwah
dengan langkah nyata, massif, dan terukur. Mengingat angka 41 % memberi
tanda adanya tiga kelompok besar rakyat Mesir yang:
1. Pro rezim Mubarak, yang merindukan era Mubarak kembali berkuasa.
Ini dimotori oleh para pejabat, kroni-kroni Mubarak, birokrasi, dan
aparat yang banyak menikmati hak-hak privilage. Bukti-bukti nyata sangat
mudah ditemukan, misalnya aparat polisi yang dimotori beberapa perwira
tinggi, pamen, dan perwira di lapangan yang cenderung memihak oposisi.
Dimana mereka MEMBIARKAN aksi anarkisme terhadap Syaikh Mahlawi,
pengepungan jamaah di masjid Asy-Syuhada Alexandria, penghancuran 28
kantor IM dan markaz-markaz Dakwah milik Salafy, pengeroyokan terhadap
wartawan koran FJP (afiliasi ke partai FJP-IM), dan anarkisme kepada
para pengikut Syaikh Hazim Ismail (pemimpin salafy Mesir). Namun pihak
aparat begitu CEPAT dan GALAK saat ada pengrusakan kantor Partai Wafd
(sekuler) dengan menuduh pelakunya adalah pengikuti Syaikh Hazim Ismail.
2. Kaum Oportunis yang menunggangi eksponen Revolusi 25 Januari.
Mereka diwakili kaum kaya dan borju, yang tidak menampakkan diri
MENENTANG Moursi, namun diam-diam mendanai aksi anti Moursi. Tidak ada
alasannya, selain alasan ekonomi dan kepentingan bisnis.
3. Kaum yang terkena propaganda.
Termasuk salah satunya adalah Kristen Koptic. Padahal Moursi dengan
keneragawanannya telah memberikan 9 jatah kursi di MPR Mesir (5 Kristen
Ortodox, 2 Kristen Protestan, 2 Kristen Katholik), 1 di Wakil Presiden, 3
di Kementrian, dan dalam draft Konstitusi yang diamandemen, Kristen
menjadi agama samawi minoritas yang dilindungi keberadaan dan
keberlangsungannya oleh negara. Tapi, Kristen Koptik terkecoh propaganda
hingga akhirnya tak sedikit Betrix, Pendeta, yang terhasut. Kebencian
terus menerus dihembuskan, bahkan Majalah Rozer Yousef milik Koptik
menyebut Moursi sebagai "FIR'AUN BERJANGGUT".
Termasuk yang terkena propaganda adalah umat Islam yang pikirannya
menerapkan Wahyu Ilahi, namun kakinya tidak berpijak di bumi. Seperti
mengawang. TIdak di langit tidak di bumi. Di saat seluruh elemen Muslim
lain berjibaku melawan koalisi SEkuler-Liberal, tipe muslim demikian
lebih memilih GOLPUT dan sibuk SENDIRI dengan konferensi-konferensi dan
seminar-seminar. Alhamdulillah, jumlah mereka tak terlalu signifikan.
Hingga tidak menggenapkan tidak juga mengganjilkan.
Di titik ini, kematangan dakwah IM+Salafy dan faksi-faksi Islam lain
dituntut. Benar yang dikatakan Asy-Syahid Hasan Al-Banna, "Tugas sebagai
dai bukan mencaci maki gubuk-gubuk akidah yang reyot dan usang. Tugas
kita bukan menjelek-jelekkan keadaan dan sistemnya yang usang. Namun
tugas kita adalah mendirikan istana akidah yang megah. Agar
mereka-mereka bisa masuk ke dalamnya dengan sukarela, dan gubuk-gubuk
akidah mereka yang reyot dan usang akan hancur oleh mereka sendiri,
bukan oleh kita."
Oleh karena itu, IM-Salafy dan Poros Koalisi Kekuatan Islam bersepakat:
- Bekerja sungguh-sungguh untuk menjadi pengawal Konstitusi dan produk-produknya yang konstitusional.
- Memberikan suara "YA" atas amandemen konstitusi agar Mesir mengakhiri masa turbulensi, fokus membangun negeri, dan memfungsikan kembali lembaga-lembaga negara.
- Melawan dengan TEGAS dan BERANI setiap aksi diktator yang anarkis dan merusak, baik merusak akhlak ataupun politik dengan cara-cara yang santun namun tetap tegas.
- Mengetuk hati-hati dari jiwa-jiwa yang masih memiliki nurani untuk turun menyelamatkan bangsa mesir menuju bangsa Terhormat, MERDEKA, ADIL, dan SEJAHTERA.
- Membuka DIALOG kepada seluruh parpol-elemen-tokoh-dan suku di Mesir untuk mencari solusi dari setiap perbedaan demi kesuksesan revolusi.
- Mendukung kebersihan hukum dan keberanian menindak setiap perilaku jahat yang merusak ketenteraman dan keadilan rakyat Mesir.
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN








