Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
September 10, 2013
Dua Karakter Da’i: “Cerdas dan Bersih”
Written By @Adimin on 10 September, 2013 | September 10, 2013
Agar da’wah kita berhasil maka seorang da’i harus memiliki dua sifat ini: “cerdas dan bersih.”
Yang saya maksud adalah cerdas akalnya
dan bersih hatinya. Saya tidak mensyaratkan kecerdasan yang brilian.
Cukuplah apabila dapat memandang segala sesuatu secara proporsional,
tidak ditambah atau diku-rangi. Sebab, saya menyaksikan sebagian orang
memiliki pola pikir yang kacau. Tidak tepat ketika mempersepsi realita,
sehingga menganggap adat sebagai ibadah, sunah sebagai hal wajib, dan
penampilan fisik sebagai hal yang utama. Hal inilah yang dapat
mengacaukan terapi penyelesaian kasus-kasus yang timbul dan menyebabkan
da’wah mengalami kegagalan yang serius.
Sifat “bersih” menyangkut kondisi hati
yang saya kehendaki bukanlah seperti “bersihnya malaikat” tetapi hati
yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain. Tidak bersuka ria di
atas kesalahan dan penderitaan orang lain. Bahkan, merasa sedih atas
kesalahan mereka dan berharap agar mereka mendapat jalan kebenaran.
Saya pernah didatangi oleh seorang
mahasiswa yang memberitahukan bahwa beberapa orang akan mengada-kan
pentas musik. ia bersama teman-temannya akan mencegah pentas ini dengan
jalan apa pun, termasuk dengan cara kekerasan. Saya katakan padanya,
“Saya sepakat dengan kalian dalam menghentikan pesta ini.
Tetapi, sampaikanlah pendapat dan
nasihatku ini kepada mereka. Tidak pantas bersuka ria di saat banyak
peristiwa menyedihkan, baik lokal maupun internasional.
Bagaimana kita bernyanyi-nyanyi
sementara puluhan ribu kaum Muslimin terbunuh, terluka, dan terusir.
Bencana Palestina dan Afghanistan masih terus berlangsung dan masa depan
Islam di kedua negara tersebut masih suram. Sementara itu perang
saudara di Somalia telah menelan korban ratusan kali lipat daripada
perang saudara di Yugoslavia. Musibah banjir besar telah merenggut
korban di Iskan-daria, serta musibah-musibah lain di berbagai tempat.
Lalu untuk apa kita bernyanyi-nyanyi? Apakah hati kita sekeras batu?”
“Mereka tidak akan menerima saran ini!” ujar mahasiswa tersebut.
Lalu saya katakan, “Coba tanya mereka,
apa yang akan dinyanyikan? Apakah syair cinta murahan dan lagu selera
rendah? Kalau memang demikian berarti masyarakat ini sedang sakit
perasaannya dan tidak akan memunculkan sesuatu kecuali keburukan.
Seharusnya pada masa-masa krisis yang sedang mengepung kita ini, kita
menjauhi suara-suara yang tidak berguna.”
“Saya tidak akan mengatakan seperti yang
Anda anjurkan tadi, tetapi akan saya katakan kepada mereka, bahwa Allah
telah mengharamkan nyanyian dan kami akan bubarkan pesta itu di depan
panitia penyeleng-gara!” jawab mahasiswa tersebut.
Kemudian saya katakan kepadanya, “Kamu
ini masih tergolong baru di kancah da’wah, mengapa tidak mengambil
pelajaran dari pengalaman para pendahulumu? Apalagi Islam banyak
mempunyai musuh yang sedang menanti, jadi jangan tunjukkan kepada mereka
kekurangpahaman dan keburukan tmdakan kita!”
Ternyata ia menolak dan tetap pada prinsip semula. Akhirnya mereka ditangkap polisi dan sebagian masuk penjara.
Saya selalu memberi nasihat kepada
aktivis Islam untuk senantiasa bersikap bijaksana dalam da’wah. Saya
tekankan agar tidak memberi peluang kepada musuh-musuh Islam untuk
menyerang dan memojok-kan Islam maupun para da’i hanya gara-gara
semangat yang dibarengi sikap ceroboh.
Hendaklah tujuan utamanya adalah
pembinaan aqidah, akhlak, dan ibadah. Adapun masalah-masalah khilafiyah,
tidak ada hubungannya dengan da’wah dan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Nabi
Daud ‘Alaihis Salam dan Sulaiman ‘Alaihis Salam saja tidak berselisih
dalam masalah tanaman yang dirusak dan dimakan kambing.
Sebagian ulama, ada yang berpendapat
bahwa menyusui sewaktu besar sama hukumnya dengan ketika masih kecil.
Bila timbul khilaf, hendaknya dibahas pada bidangnya (pada masalah
fiqihnya saja). Adapun menga-lihkannya ke bidang da’wah merupakan
kesalahan besar.
Seorang da’i yang tidak memiliki
kecerdasan akal dan kebersihan hati, akan membuat problem yang rumit di
tengah perkembangan Islam. Saya pernah pergi ke Kanada dan Amerika
Serikat —ketika saya menjadi utusan Rabithah Alam Islami— . Di sana
banyak da’i yang meletakkan “bebatuan” di tengah-tengah jalan Islam,
yang mereka ambil dari lingkungan hidup zaman dahulu agar laju
perkembangan da’wah berhenti di tengah-tengah dunia baru. Mereka marah
karena membela madzhab dan kepentingannya dengan mengatasnamakan Islam.
Tetapi Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka memperlukan orang yang
dapat menyinari akal pikiran mereka dan membersihkan hatinya.
Muhammad Al Ghazali
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
September 10, 2013
Jika Akhirnya Harus Dikenal
Menyembunyikan amal tidaklah
mudah. Karena keinginan
manusia agar eksistensinya diakui, dikenal banyak orang, apalagi dizaman
informasi dimana kepopuleran atau keterkenalan seseorang sering berbanding
lurus dengan kemakmuran seseorang. Ditambah lagi dengan rongrongan hawa
nafsu. Tetapi ini bukan berarti kita harus meninggalkan amal shalih dan kebaikan karena
takut diketahui orang lain.
Fudhail bin iyadh mengatakan “beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah syirik, Ikhlas adalah engkau selamat dari keduanya”. Maka selama niat di awal sudah benar setiap orang harus berusaha meluruskan niat itu sepanjang amal dan setelahnya. Bukan dengan cara meninggalkannya. Orang yang meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas, maka ia meninggalkan keikhlasan dan meninggalkan amal itu sendiri. Karena itu mungkin saja ada amal-amal shalih yang terlihat dan akhirnya dikenal atau bahkan terkenal dengan keshalihannya. Dan ini sebenarnya juga bukan suatu kekurangan. Karena tak mungkin pula semua amal shalih harus disembunyikan tanpa publikasi dan tidak diketahui orang lain.
Fudhail bin iyadh mengatakan “beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah syirik, Ikhlas adalah engkau selamat dari keduanya”. Maka selama niat di awal sudah benar setiap orang harus berusaha meluruskan niat itu sepanjang amal dan setelahnya. Bukan dengan cara meninggalkannya. Orang yang meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas, maka ia meninggalkan keikhlasan dan meninggalkan amal itu sendiri. Karena itu mungkin saja ada amal-amal shalih yang terlihat dan akhirnya dikenal atau bahkan terkenal dengan keshalihannya. Dan ini sebenarnya juga bukan suatu kekurangan. Karena tak mungkin pula semua amal shalih harus disembunyikan tanpa publikasi dan tidak diketahui orang lain.
Amal-amal baik dalam
kondisi tertentu bahkan harus dilakukan secara massif dan massal bersama sama.
Ini terjadi ketika kita berada dalam situasi dimana gema dan arus amal-amal
shalih dituntut untuk bisa menyaingi gelombang amal-amal keburukan. Bahkan bila
perlu arus amal baik bisa melahap dan menelan gelombang amal amal keburukan.
Kita memerlukan gerakan massal dan dan kekuatan besar untuk menghadang serangan
keburukan yang merajalela.
Perjuangan personal saja tidak cukup. Kebaikan harus
terhimpun dalam sebuah kekuatan massal yang dapat menggetarkan lawan lawannya.
Artinya amal kebaikan harus tampil dan turut mempengaruhi masyarakat untuk
meminimalisir keburukan yang juga tampil dan mempengaruhi masyarakat. Beribadah
bsecara rahasia dan sembunyi sembunyi adalah untuk memperkaya batin dan ruhani
kita. Agar lebih kokoh dan tegar, sehingga tidak terombang ambing oleh pesona
dan gemerlapnya dunia. Tapi sekali lagi itu hukaan berarti kita tidak
diperbolehkan mendeklarasikan dan menampilkan amal amal Islami dihadapan banyak
orang. Terlebih pada saat arus keburukan makin menggelombang dan arus kebaikan
masih sangat lemah. Memang sudah tabiat manusia setiap orang lebih membutuhkan
contoh langsung dan ajakan konkrit yang sudah disaksikan prakteknya ketimbang
hanya slogan dan pidato belaka. Manusia memerlukan dorongan utk melakukan
kebaikan melihat orang melakukan amal shalih akan menumbukan semangat kompetisi
yang positif dalam kebaikan.
Tentu saja orang yang dikenal
dengan amal baiknya menjadi harus lebih hati hati memelihara dan menjaga diri
dari berbagai penyimpangan niat. Salahsatu penyeimbang hati utk tidak
terjerumus pada ketidakikhlasan adalah adalah denagn tetap memelihara amal-amal
rahasia lainnya kepada ALLAH SWT. Seperti banyak dilakukan para sahabat ra.
Drs. Muhidi, MM
posted by @Adimin
Label:
HIKMAH
September 10, 2013
Dalam beberapa poster dan baliho
yang terakhir beredar di Kota Padang, ada tulisan 10 M. 10 M dapat
berarti nomor 10 untuk Mahyeldi-Emzalmi. 10 M dapat juga diartikan
sebagai: 1 untuk Satu, 0 untuk Putaran dan M untuk Menang. Satu Putaran Menang untuk Mahyeldi-Emzalmi
Sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/09/09/mahyeldi-pks-berpeluang-memenangi-pilkada-kota-padang-591080.html
posted by @Adimin
Mahyeldi (PKS) Berpeluang Memenangi Pilkada Kota Padang
Pilkada Kota Padang sudah di depan
mata, hanya beberapa hari saja yang tersisa bagi para kandidat untuk
menarik simpati dari masyarakat. Sepuluh pasangan bertarung, bersaing
untuk menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat Kota Padang. Sebentar
lagi, setelah 30 Oktober Padang akan memiliki walikota yang baru.
Dari segi jumlah pasangan calon,
maka ini menjadi pilkada paling ramai. Ada duapuluh wajah dengan senyum
manis yang akan terpampang di kertas suara. Semuanya ingin menjadi
walikota-wakil walikota, tapi tidak semuanya yang akan menang. Mari kita
baca peluang mereka berdasarkan nomor urut, dan pada akhirnya hanya
akan tersisa satu pemenang.
1. Emma Yohana-Wahyu Iramana Putra
Emma Yohana adalah anggota DPD RI dari Sumatera Barat sedangkan Wahyu
Iramana Putra adalah Ketua DPD Partai Golkar Kota Padang. Mereka diusung
oleh koalisi Partai Golkar dan PBB.
Peluang pasangan ini tidak terlalu besar untuk menang, kemungkinan hanya
akan memperoleh peringkat 3 atau 4. Hal ini dikarenakan oleh beberapa
sebab :
- Meskipun diusung partai sebesar Golkar, diyakini suara Golkar tidak akan bulat untuk pasangan ini karena Asnawi Bahar dan Kandris Asrin yang juga merupakan fungsionaris Golkar juga akan maju sebagai calon walikota dari jalur independen. Suara Golkar dipastikan akan terpecah-pecah.
- Emma Yohana belum menunjukkan prestasi yang gemilang sebagai anggota DPD RI.
- Wahyu Iramana Putra tidak terlalu menonjol dalam perpolitikan Kota Padang.
- Kepemimpinan seorang perempuan belum bisa diterima dalam kultur mingkabau (Padang)
2. Muhammad Ichlas El Qudsi-Januardi Sumka
Muhammad Ichlas El Qudsi (michel) merupakan anggota DPR RI, sama seperti
Emma Yohana ia juga turun gunung untuk mengelola Kota Padang. Sedangkan
Januardi Sumka adalah Ketua Partai Demokrat Kota Padang. Mereka diusung
oleh koalisi Partai Demokrat dan PAN. Kemungkinan pasangan ini akan
menjadi runner-up, mereka sulit untuk menjadi pemenang pertama karena :
- Selama menjadi anggota DPR RI, tidak banyak kiprah Michel yang kita dengar. Kalaupun namanya muncul di televisi itu hanya saat Dahlan Iskan meminta maaf kepadanya, selain itu tidak ada.
- Suara PAN akan terpecah dalam mendukung pasangan ini karena Maigus Nasir mantan ketua DPRD Kota Padang dari PAN juga maju sebagai calon walikota dari jalur independen. Maigus Nasir juga akan mengantongi banyak suara dari Muhammadiyah, sehingga suara PAN untuk Michel tidak akan bulat lagi.
- Januardi Sumka yang menjadi pasangan Michel bukanlah tokoh yang bisa menarik banyak suara, satu-satunya kekuatannya hanyalah Partai Demokrat. Tapi sayang, kita sama-sama tahu Partai Demokrat adalah bintang yang sedang meredup dan menunggu mati.
3. Desri Ayunda-James Hellyward
Desri Ayunda dan James Hellyward maju dari jalur independen, tetapi
didukung oleh PDI-P. Pasangan ini berpeluang menjadi kuda hitam yang
akan melangkahi banyak pasangan lain dari jalur independen. Diantara
nama-nama dari jalur independen, pasangan ini cukup top. Beberapa waktu
lalu PDI-P juga telah mendatangkan Jokowi, sekalian untuk menjadi
“maskot” bagi pasangan ini. Strategi yang sama dengan yang PDI-P lakukan
di daerah lain, namun jarang berhasil. Kemungkinan pasangan ini akan
menjadi peringkat 3 atau 4 dalam Pilkada Kota Padang.
4. Asnawi Bahar-Surya Budhi
5. Ibrahim-Nardi Gusman
6. Kandris Asrin-Indra Dwipa
7. Maigus Nasir-Armalis
8. Indra Jaya-Jefri Hendri Darmi
9. Syamsuar Syam-Mawardi Nur
Dari nomor urut 4-9 semuanya merupakan pasangan calon dari jalur
independen. Dalam sejarah Pilkada di Indonesia calon dari jalur
independen sangat sulit untuk memenangi Pilkada karena berbagai
keterbatasan, hanya satu dua yang menang seperti aceng fikri. Kalaupun
ada calon independen yang menang dalam Pilkada pastilah calon itu sangat
populer, punya rekam jejak yang baik, didukung oleh dana yang memadai
dan tidak ada calon dari parpol benar-benar buruk sekali.
Dalam Pilkada Kota Padang,
nama-nama dari calon independen tidak ada yang populer. Rekam jejak
mereka juga tidak ada yang terlalu membanggakan, semua biasa-biasa saja.
Satu hal lagi, dalam Pilkada Kota Padang, masih ada calon dari Parpol
dengan kualitas yang bagus, seperti pasangan calon dari nomor urut 10.
10. Mahyeldi-Emzalmi
Mahyeldi merupakan kader PKS yang
sekarang sedang menjabat sebagai Wakil Walikota Padang. Sedangkan
Emzalmi adalah mantan Sekretaris Daerah Kota Padang. Mereka diusung oleh
koalisi PKS dan PPP. Pasangan ini berpeluang untuk memenangi Pilkada
Kota Padang karena:
- Pasangan ini lebih berpengalaman dalam memimpin Kota Padang dibanding calon yang lain, sehingga masyarakat lebih menaruh kepercayaan kepada mereka. Hal ini juga dikarenakan isu perubahan yang diusung oleh calon lain tidak begitu jelas.
- Pasangan ini lebih dekat dengan masyarakat, bandingkan dengan calon lain yang selama ini berada jauh di pulau sana.
- Meskipun diterpa badai ditingkat pusat, kader-kader PKS di Kota Padang tetap solid. Kita tahu bahwa kekuatan kader PKS yang militan ini sangat berperan dalam memenangkan setiap calon PKS.
- Suara PKS Kota Padang dijamin akan bulat untuk Mahyeldi, tidak akan terpecah seperti partai-partai lain.
Sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/09/09/mahyeldi-pks-berpeluang-memenangi-pilkada-kota-padang-591080.html
posted by @Adimin
Label:
Pilkada
September 09, 2013
posted by @Adimin
Bersatu Memenangkan MAHYELDI-EMZALMI
Written By @Adimin on 09 September, 2013 | September 09, 2013
pkspadang.com - Seluruh kader dan
simpatisan serius untuk memenangkan pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota
Padang Mahyeldi dan Emzalmi. Ini terlihat di posko utama Jalan Sudirman sabtu
malam.(7/9)
Seluruh kader mulai dari struktur
DPC hingga DPRa turun untuk memasang tanda gambar. Hal ini disampaikan oleh Ketua
Tim Pemenangan,Muharlion.
Muharlion juga mengatakan malam
ini seluruh kader akan turun di seluruh kecamatan “Malam ini Insya Allah kader
semua akan turun keseluruh kecamatan di Padang. Semua kader yang hadir saat ini
sekitar 200 orang,” ujarnya.
“Target kita malam ini di seluruh
Kecamatan sudah terpasang gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor
urutnya, karena memang semenjak pengundian nomor urut di Inna Muara kemarin
Gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urut belum terpasang, jadi
malam ini kita serentak bersama kader, pengurus DPC hingga DPRa memasang tanda
gambar tersebut,” tambahnya. (Rm/Adm)
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOPIK PILIHAN
September 09, 2013
posted by @Adimin
MAHYELDI Ikut Serta Dalam Persiapan Pemasangan Tanda Gambar
pkspadang.com – Mahyeldi Calon Walikota Padang nomor urut sepuluh turut
serta bersama Pengurus DPC, DPRa PKS dan
kader serta juga simpatisan dalam kegiatan pemasangan tanda gambar pada seluruh
kecamatan di Posko Utama Mahyeldi Emzalmi Jalan Sudirman, sabtu (7/9).
Mahyeldi didampingi Ibu Nely
mahyeldi tiba sekitar pukul 21:00 Wib di Posko dan langsung bergabung bersama
kader dan simpatisan yang tengah bersiap untuk turun di masing-masing kecamatan.
Mahyeldi juga berdiskusi bersama kader yang sedang bekerja mempersiapkan tanda
gambar.
Selain Mahyeldi, tampak hadir
Ketua DPD PKS Muhidi dan Ketua Tim Pemenangan Mahyeldi Emzalmi Muharlion. Muharlion
menyampaikan bahwa, “Seluruh kader mulai dari struktur DPC hingga DPRa turun
untuk memasang tanda gambar,” ujarnya.
Muharlion juga mengatakan malam
ini seluruh kader akan turun di seluruh kecamatan. “Malam ini Insya Allah kader
semua akan turun keseluruh kecamatan di Padang. Semua kader yang hadir saat ini
sekitar 200 orang,” katanya.
“Target kita malam ini di seluruh
Kecamatan sudah terpasang gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor
urutnya, karena memang semenjak pengundian nomor urut di Inna Muara kemarin
Gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urut belum terpasang, jadi
malam ini kita serentak bersama kader, pengurus DPC hingga DPRa memasang tanda
gambar tersebut,” tambahnya. (Rm/Adm)
mahyeldi-emzalmi.com
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOPIK PILIHAN
September 07, 2013
pkspadang.com, Pendidikan modern kata Mohammad Iqbal, tidak mengajarkan air mata pada mata dan kesejukan di hati, inilah prahara dunia pendidikan kontemporer, kata Iqbal
Pendidikan yang Melembutkan Hati Anak-anak Kita! (1)
Written By @Adimin on 07 September, 2013 | September 07, 2013
pkspadang.com, Pendidikan modern kata Mohammad Iqbal, tidak mengajarkan air mata pada mata dan kesejukan di hati, inilah prahara dunia pendidikan kontemporer, kata Iqbal
ADA pesan orang bijak, "pandai-pandailah melihat
masa lalu." Menengok masa lalu kita perlukan untuk mencermati timbul dan
tenggelamnya pendahulu kita. Dengan cara demikian, kita mengambil
referensi (rujukan) kehidupan untuk meraih keberhasilan masa sekarang
dan masa depan. Dan kita bisa menyikapi diri kita dan memandang jasa
pendahulu kita. Sesungguhnya kehidupan manusia hanya dibingkai oleh masa
lalu, kini dan hari esok.
Jika kita tidak berhasil mengambil ibrah pada masa silam, kita
kehilangan rujukan kehidupan dan kita akan memulai kehidupan ini dari
nol. Alangkah sulitnya jika kita memulai kehidupan dari awal. Demikian
pula kita tidak tepat dalam menempatkan diri dan menyikapi orang lain.
Sedangkan ilmu, pengalaman, umur seseorang memiliki masa ajal. Setiap
person dan umat diliputi oleh berbagai keterbatasan.
Ada ungkapan Arab berbunyi: Al Afdhalu lil mubtadi walau ahsanal muqtadi (keutamaan itu bagi perintis, sekalipun pelanjut itu lebih baik). Pun dalam ungkapan lain disebutkan: Al Bidayatu ahsanu min kulli syaiin (perintis itu lebih baik dari setiap aspek, karena telah memulai separo perjalanan lebih).
Karena itu Rasulullah bersabda, ”Tidak termasuk golongan kami yang tidak menghormati generasi tua dan tidak menyayangi yang kecil.”
Di lembaga pendidikan informal India ada kejadian menarik, seorang guru menegur dengan menjewer
muridnya dan kabur pulang, namun yang menarik, bapak-ibunya bersikeras
mengantarkan putranya untuk kembali ke lembaga pendidikan tersebut. Ia
tidak memilih untuk memprotes gurunya. Ia tunjukkan hubungan yang akrab,
dekat dan erat dengan guru anaknya. Terkadang, anak usia 10 tahun tidak
shalat, boleh dipukul dengan pukulan yang mendidik. Ia menyadari
pendidikan bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya tidak berjalan
tanpa pendidikan.
Selain India, ada kisah dari Singapura, negara kecil tapi paling maju
di Asia. SIngapura sangat konsern dengan bidang pendidikan. Sekalipun
seorang perdana mentri dan pejabat tinggi Negara, tetap antri di ATM.
Bahkan jika mereka bersamaan dengan seorang guru ia mendahulukan guru.
Dan public telah memaklumiknya. Ia sadar, sekiranya guru terlambat masuk
sekolah, bagaimanakah nasib anak-anaknya.
Kontak Batin Orangtua Dan Guru
Bercermin dari kisah diatas, betapa penting mengambil ‘ibrah,
hikmah di balik keberhasilan santri tadi dalam meniti karir
kehidupannya setelah dewasa. Dan betapa besar pengaruh pendidikan yang
diserap dari pola transaksi spiritual (mu’asyarah bil ma'ruf)
yang menyejukkan, yang pernah dibangun antara orangtuanya dengan
gurunya serta pengasuh anak-anaknya. Tidak sekedar transaksi
administratif, formal, yang kering dari makna kehidupan. Pola hubungan al Mawaddah fil Qurab
(kedekatan kekeluargaan) ini dibangun karena tugas kita dalam mendidik
anak tidak sekedar menttransfer ilmu tetapi mentransformasikan nilai.
Alangkah ironisnya, karena merasa bisa membayar mukafaah/bisyarah
kepada guru, kemudian mengecilkan pola interaksi yang baik, dengan cara
bersikap tidak patut kepada pahlawan tanpa tanda jasa itu.
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا
يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ
رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ .
قَوْلٌ
مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ
غَنِيٌّ حَلِيمٌ
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian
mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan
menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si
penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Perkataan yang baik dan pemberian maaf [menolak dengan cara yang baik
dan memaafkan perilaku yang kurang sopan dari penerima] lebih baik dari
sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si
penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS: Al Baqarah (2) : 262-263)
Hubungan kedua orangtua dengan anak, juga santri/murid dengan guru,
sesungguhnya berpijak/bertumpu pada nilai-nilai adab islami yang saling
memuliakan. Sayangnya, itu kurang terjadi di zaman seperti ini.
Banyak kita temukan seorang santri yang cerdas di pondok, setelah
lulus menjadi orang biasa. Kiprah yang diperankan di tengah-tengah
masyarakat tidak menonjol. Sedangkan banyak pula santri yang belajarnya
tidak teratur, bahkan sering remidi, dia hanya mengabdikan diri secara all out (mati-matian) berkhidmat
untuk kebutuhan pondok, patuh dan hormat kepada para guru, memelihara
nilai-nilai keikhlasan, berorientasi pada amal shalih, bukan jabatan,
setelah pulang ke kampungnya hidup di tengah-tengah masyarakat berhasil
mendirikan pondok sendiri dan memiliki ilmunya begitu bermanfaat. Salah
satu di antara rahasia keberkahan rizki dan kehidupnya adalah ikatan
batin orangtua dengan para gurunya.
Pentingnya Ilmu
Adalah Khalifah Islam ke-4, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu yang
menyadari betapa pentingnya ilmu. Begitu pentingnya menjaga dan
menghormati para pendahulu kita yang mengajarkan ilmu, hingga Ali bin
Abi Thalib pernah mengatakan: “Ana ‘abdun liman ‘allamani harfan.” (saya siap menjadi budak kepada orang yang mengajariku satu huruf).
Jika tidak mengerti huruf, maka tidak mengerti kata, jika tidak
mengerti kata, maka tidak mengerti kalimat. Jika ketiganya tidak
dimengerti secara baik, berarti tidak mendapatkan ilmu sedikitpun.
Padahal ilmu memiliki arti sesuatu yang jelas dan terang.
Jika kehidupan ini tanpa disinari oleh ilmu, maka akan tetap dalam
keadaan gelap. Penghuninya gelap mata dan gelap pikiran dan hatinya.
Bukankah perilaku yang buruk berawal dari pikiran yang buruk pula.
Karena tidak trampil memililah-milah, memetakan, mengurai masalah dan
memutuskan. Orang bodoh biasanya menyelesaikan problem dengan adu otot,
bukan adu otak. Orang bodoh suka mengamuk dan mengkambinghitamkan orang
lain. Maka kehadiran orang bodoh bagian dari masalah, bukan bagian dari
solusi.
Banyak santri selalu mendoakan guru-gurunya dalam sujud terakhirnya untuk kebaikan para gurunya setelah meninggal.
Adalah Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H), salah satu ulama madzhab 4,
berasal dari Bagdad, ulama yang dikenal amat tegas terhadap hukum ini
sangat tawadhu’ dan hormat dengan gurunya, Imam Syafi’i. Meski banyak
berbeda pendapat, beliau terus mendoakan gurunya sampai 40 tahun lama di setiap doanya. Subhanallah.
Untuk mempunyai keturunan yang shalih, kita harus menjadi anak yang
shalih terhadap orangtua kita. Mustahil kita dikaruniai anak shalih jika
kita tidak berhasil menjadi anak shalih untuk bapak ibu kita. Dan Bapak
dan Ibu mertua kita. Jadi, keberhasilan dan keberkahan kehidupan kita
berbanding lurus dengan hubungan yang baik dengan sesepuh kita.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “ Jadilah kamu
orang ‘alim, atau pelajar, atau senang mendengarkan kajian keilmuan,
atau mencintai orang berilmu dan pelajar, janganlah kamu menjadi orang
nomer lima, maka kamu kelak akan hancur.” (al Hadits).
Ada ungkapan pendidikan yang menarik, ”Qaddimil khidmah qablal ‘ilmi (dahulukan pengabdian sebelum berilmu). Ada proses spiritual yang dijalankan sebelum otaknya diisi dengan ilmu pengetahuan.
Itulah sebabnya para ulama dan kiai punya cara untuk ‘menjinakkan’ hatinya santri-santrinya dengan riyadhoh, mujahadah
(latihan batin), dengan menunjukkan pengabdian tanpa pamrih. Sehingga
ketia mereka siap diterjunkan di tengah umat, ia sudah siap bekerja
tanpa pamrih apapun, kecuali ridho Allah Subhanahu wata’ala.
Banyak santri di pondok pesantren mendapatkan tambahan “Ta’limul Muta’allim” (Kode Etik Pelajaran), dan kitab-kitab akhlak karya ulama mashur. Bacaan mereka adalah Safinatun Najah (perahu keselamatan), Sullamut Taufiq (tangga menuju taufiq), Tafsirul Jalalain (Tafsir Kebahasaan Disusun Dua Imam Jalaluddin), ‘Uqudul Lajin (Ikatan Suami Istri), Tanbigul Ghafilin (peringatan bagi yang lalai), Ta’limul Muta’allim dan masih banyak lagi yang isi sebenarnya adalah untuk ‘melembut’ kan hati mereka.
Pelajaran seperti ini selalu diulang-ulang dengan niat mengamalkan agar setelah lulus ilmu mereka bisa lebih barakah (menambah kebaikan). Agak berbeda dengan pendidikan di sekolah-sekolah jaman sekarang.
Bergantu menteri dan berganti kurikulum, tetap tidak bisa melahirkan
generasi yang memeliki hati yang “lembut”. Banyak sekolah dengan
gedung-gedung bagus, namun hasilnya ternyata menyimpan prahara (tsunami)
agama. Yakni, miskinnya adab, akhlaq dan krisis moralitas.
Bedakan dengan referensi yang diterima murid-murid zaman sekarang,
kemungkinan niat mencari ilmu supaya nanti dapat kerjaan yang layak dan
dapat ijazah, ilmu hanya sebagai kekayaan kognitif. Boleh jadi karena
ini kehidupan mereka kurang barakah.
Pendidikan modern, kata Mohammad Iqbal tidak mengajarkan air mata
pada mata dan kesejukan di hati. Inilah prahara dunia pendidikan
kontemporer.
Murid-murid yang lahir oleh pendidikan modern, tidak berdaya meluluskan pelajar yang salimul aqidah (aqidahnya steril dari syirik), shahihul ibadah (ibadahnya benar dan lurus), karimul akhlak (mulia akhlaknya), mujahid lidinihi (pejuang bagi agamanya), multazimun bil Imamah wal Jama’ah (memiliki keterikatan yang kuat dengan pola kepemimpinan imamah dan jama’ah), shalihun linafsihi wa nafi’un lighoirihi (sholih untuk dirinya dan memberikan manfaat untuk orang lain).*
Oleh: Sholih Hasyim
posted by @Adimin
Label:
Keluarga
September 06, 2013
pkspadang.com, Perceraian di negeri ini kecenderungannya masih meningkat. Data perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) tahun 2012 mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Data Badilag, tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. (Republika online, Selasa 24/1/2012).
Data tersebut hanya sampel sederhana dari data seluruh negeri. Tetapi, hal itu sudah cukup untuk menjadi warning, pelajaran, dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga. Sebab hakikat dasar perceraian bukan semata-mata ekonomi. Terbukti, kalangan menengah ke atas juga tidak ada yang selamat dari badai perceraian ini.
Apalagi, di kalangan selebriti. Perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, faktor utama yang melatarbelakangi kasus perceraian selain ekonomi adalah rendahnya komitmen untuk membina rumah tangga sebagaimana diajarkan Baginda Nabi.
Padahal, perceraian adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh-Nya.
Sempurnakan Akhlak
Di tahun-tahun belakangan ini, kasus perceraian pasangan di Indonesia ternyata lebih banyak diajukan atas inisiatif sang istri dibandingkan oleh suami. Hal ini terlihat dari data 346.446 pasangan yang bercerai di sepanjang 2012 yang diambil dari pengadilan agama di seluruh Indonesia.
"Tahun 2012 pengadilan agama termasuk mahkamah syariah menangani perkara 476.961 kasus. Perkara ini naik 11,52 persen dari tahun sebelumnya yang menerima 363.041 perkara," demikian lansir Mahkamah Agung (MA) dalam siaran persnya. (Detiknews.com, Kamis, 14/3/2013).
Banyaknya angka perceraian akibat gugatan dari pihak istri sungguh mengherankan. Dari bentuk sifat wanita yang lembut, sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri merasakan kelembutan dan keindahan akhlak suami.
Kecil kemungkinan sang istri menggungat sang suami, manakala suaminya orang tidak bermasalah. Oleh karena itu, banyak disebutkan dalam nash, tugas utama suami adalah menyempurnakan akhlaknya, terkhusus terhadap istri dan keluarga. Jika suami tidak bermasalah, kecil kemungkinan istri dan anak-anak mereka bermasalah.
Rasulullah pernah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian maka pencegahan terbaik dari terjadinya perceraian adalah dengan menyempurnakan akhlak. Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan akhlak, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan. Misalnya, suami dan istri berlomba untuk selalu berkata benar, peduli dan peka terhadap pasangan.
Dengan cara seperti itu maka tidak akan ada ruang bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan. Sebaliknya akan tercipta budaya saling jaga dan saling bela antara suami dan istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat pada saat ijab qabul akan semakin menghujam ke dalam hati seiring dengan perjalanan waktu hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.
Hal itulah yang terjadi pada rumah tangga Nabi bersama Siri Khadijah. Perbedaan dalam umur dan status tak membuat keduanya gagal membina keharmonisan rumah tangga.
Sebaliknya, justru kian harmonis, mesra dan membahagiakan. Rasul berkata, Khadijah adalah wanita terbaik. Ia mempercayai Nabi ketika orang mendustakanya. Ia membela Nabi ketika orang mencacinya.
Khadijah juga sangat mulia akhlaknya. Terhadap Nabi ia selalu hadir sebagai obat. Ia selalu mampu hadir menenangkan kegelisahan suami, bahkan meneuhkan keyakinan dan langkah-langkah suami. Khadijah selalu menyebut kebaikan-kebaikan suaminya kala bertatap muka. Maka, wajar jika Nabi tak pernah bisa lupa dengan Khadijah meskipun telah ada Aisyah. Mengapa, lebih karena akhlaknya.
Jika kesempurnaan akhlak keluarga Muslim negeri mewujud sedemikian rupa, tentu perceraian tidak akan terjadi seperti jamur di musim hujan. Ali adalah suami yang tidak memiliki kekayaan materi, malah sangat kekurangan. Tetapi Fatimah tak pernah menggugat suaminya apalagi untuk bercerai.
Demikian pula dengan Salman Al-Farisi. Beliau juga orang yang hidup sangat sederhana. Tetapi istrinya tidak pernah menggugat cerai. Mengapa, karena keduanya sebagai suami senantiasa menyempurnakan akhlaknya. Jadi, jelas tangkal segala keburujan dengan akhlak mulia. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak," demikian ungkap Nabi.
Berkata Baik
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, "Berkata baik atau diam." Hadits ini wajib diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sebagai media awal selalu mampu berkata baik dalam pergaulan masyarakat.
Dalam hal memanggil nama saja Rasulullah selalu memanggil dengan sebutan Ya humairah (wahai yang kemerah-merahan pipinya, red). Berbeda dengan kebanyakan suami yang memanggil istrinya dengan sekedar menyebut nama pendeknya. Tetapi setidaknya, sebagai suami hendaknya kita tidak memanggil istri sendiri seperti teman-teman memanggilnya.
Dalam konteks lebih umum, suami-istri hendaknya membiasakan diri berkata baik. Misalnya selalu mengucapkan perkataan yang membahagiakan pasangan. Dan, jika memang benar-benar tidak suka, sebaiknya diam dan bersegera berkata baik pada hal lainnya.
Lebih dari itu suami istri wajib berkata baik kepada orang lain perihal pasangan sendiri. Tidak berkata buruk tentang pasangan kita kepada siapa pun. Karena selain akan merugikan pasangan sebenarnya hal semacam itu sama sekali tidak memberi manfaat apa pun. Kecuali kita bercerita untuk kepentingan membina keluarga menjadi lebih harmonis kepada orang yang ahli dalam soal keluarga.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, "Apa hak istri salah seorang di antara kita?" Beliau menjawab, 'Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya) (HR. Ahmad).
Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 59)
Artinya seorang istri tidak boleh dihina, dicaci, atau dikatakan kepadanya perkataan yang buruk. Termasuk dilarang berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu'. Istri haruslah dimuliakan agar ia juga memuliakan kita.
Dengan demikian maka tidak pantas suami istri yang sudah saling percaya menerapkan perilaku buruk dalam berumah tangga. Sebaliknya, suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan. Jika itu dapat direalisasikan, Insya Allah pertengkaran apalagi perceraian akan jauh dari tali pernikahan yang lama dibina dan didamba membahagiakan.*/Imam Nawawi
Muliakan Istrimu agar Engkau Dimuliakan!
Written By @Adimin on 06 September, 2013 | September 06, 2013
Saling menjaga dan memuliakan pasangan,
adalah kunci utama keutuhan rumah-tangga
pkspadang.com, Perceraian di negeri ini kecenderungannya masih meningkat. Data perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) tahun 2012 mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Data Badilag, tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. (Republika online, Selasa 24/1/2012).
Data tersebut hanya sampel sederhana dari data seluruh negeri. Tetapi, hal itu sudah cukup untuk menjadi warning, pelajaran, dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga. Sebab hakikat dasar perceraian bukan semata-mata ekonomi. Terbukti, kalangan menengah ke atas juga tidak ada yang selamat dari badai perceraian ini.
Apalagi, di kalangan selebriti. Perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, faktor utama yang melatarbelakangi kasus perceraian selain ekonomi adalah rendahnya komitmen untuk membina rumah tangga sebagaimana diajarkan Baginda Nabi.
Padahal, perceraian adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh-Nya.
Sempurnakan Akhlak
Di tahun-tahun belakangan ini, kasus perceraian pasangan di Indonesia ternyata lebih banyak diajukan atas inisiatif sang istri dibandingkan oleh suami. Hal ini terlihat dari data 346.446 pasangan yang bercerai di sepanjang 2012 yang diambil dari pengadilan agama di seluruh Indonesia.
"Tahun 2012 pengadilan agama termasuk mahkamah syariah menangani perkara 476.961 kasus. Perkara ini naik 11,52 persen dari tahun sebelumnya yang menerima 363.041 perkara," demikian lansir Mahkamah Agung (MA) dalam siaran persnya. (Detiknews.com, Kamis, 14/3/2013).
Banyaknya angka perceraian akibat gugatan dari pihak istri sungguh mengherankan. Dari bentuk sifat wanita yang lembut, sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri merasakan kelembutan dan keindahan akhlak suami.
Kecil kemungkinan sang istri menggungat sang suami, manakala suaminya orang tidak bermasalah. Oleh karena itu, banyak disebutkan dalam nash, tugas utama suami adalah menyempurnakan akhlaknya, terkhusus terhadap istri dan keluarga. Jika suami tidak bermasalah, kecil kemungkinan istri dan anak-anak mereka bermasalah.
Rasulullah pernah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi).
Dengan demikian maka pencegahan terbaik dari terjadinya perceraian adalah dengan menyempurnakan akhlak. Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan akhlak, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan. Misalnya, suami dan istri berlomba untuk selalu berkata benar, peduli dan peka terhadap pasangan.
Dengan cara seperti itu maka tidak akan ada ruang bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan. Sebaliknya akan tercipta budaya saling jaga dan saling bela antara suami dan istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat pada saat ijab qabul akan semakin menghujam ke dalam hati seiring dengan perjalanan waktu hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.
Hal itulah yang terjadi pada rumah tangga Nabi bersama Siri Khadijah. Perbedaan dalam umur dan status tak membuat keduanya gagal membina keharmonisan rumah tangga.
Sebaliknya, justru kian harmonis, mesra dan membahagiakan. Rasul berkata, Khadijah adalah wanita terbaik. Ia mempercayai Nabi ketika orang mendustakanya. Ia membela Nabi ketika orang mencacinya.
Khadijah juga sangat mulia akhlaknya. Terhadap Nabi ia selalu hadir sebagai obat. Ia selalu mampu hadir menenangkan kegelisahan suami, bahkan meneuhkan keyakinan dan langkah-langkah suami. Khadijah selalu menyebut kebaikan-kebaikan suaminya kala bertatap muka. Maka, wajar jika Nabi tak pernah bisa lupa dengan Khadijah meskipun telah ada Aisyah. Mengapa, lebih karena akhlaknya.
Jika kesempurnaan akhlak keluarga Muslim negeri mewujud sedemikian rupa, tentu perceraian tidak akan terjadi seperti jamur di musim hujan. Ali adalah suami yang tidak memiliki kekayaan materi, malah sangat kekurangan. Tetapi Fatimah tak pernah menggugat suaminya apalagi untuk bercerai.
Demikian pula dengan Salman Al-Farisi. Beliau juga orang yang hidup sangat sederhana. Tetapi istrinya tidak pernah menggugat cerai. Mengapa, karena keduanya sebagai suami senantiasa menyempurnakan akhlaknya. Jadi, jelas tangkal segala keburujan dengan akhlak mulia. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak," demikian ungkap Nabi.
Berkata Baik
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, "Berkata baik atau diam." Hadits ini wajib diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sebagai media awal selalu mampu berkata baik dalam pergaulan masyarakat.
Dalam hal memanggil nama saja Rasulullah selalu memanggil dengan sebutan Ya humairah (wahai yang kemerah-merahan pipinya, red). Berbeda dengan kebanyakan suami yang memanggil istrinya dengan sekedar menyebut nama pendeknya. Tetapi setidaknya, sebagai suami hendaknya kita tidak memanggil istri sendiri seperti teman-teman memanggilnya.
Dalam konteks lebih umum, suami-istri hendaknya membiasakan diri berkata baik. Misalnya selalu mengucapkan perkataan yang membahagiakan pasangan. Dan, jika memang benar-benar tidak suka, sebaiknya diam dan bersegera berkata baik pada hal lainnya.
Lebih dari itu suami istri wajib berkata baik kepada orang lain perihal pasangan sendiri. Tidak berkata buruk tentang pasangan kita kepada siapa pun. Karena selain akan merugikan pasangan sebenarnya hal semacam itu sama sekali tidak memberi manfaat apa pun. Kecuali kita bercerita untuk kepentingan membina keluarga menjadi lebih harmonis kepada orang yang ahli dalam soal keluarga.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, "Apa hak istri salah seorang di antara kita?" Beliau menjawab, 'Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya) (HR. Ahmad).
Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 59)
Artinya seorang istri tidak boleh dihina, dicaci, atau dikatakan kepadanya perkataan yang buruk. Termasuk dilarang berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu'. Istri haruslah dimuliakan agar ia juga memuliakan kita.
Dengan demikian maka tidak pantas suami istri yang sudah saling percaya menerapkan perilaku buruk dalam berumah tangga. Sebaliknya, suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan. Jika itu dapat direalisasikan, Insya Allah pertengkaran apalagi perceraian akan jauh dari tali pernikahan yang lama dibina dan didamba membahagiakan.*/Imam Nawawi
posted by @Adimin
Label:
Keluarga
September 06, 2013
Fathanah: Uang 1M untuk Bayar Cicilan Mobil, Bukan untuk LHI
Terdakwa perkara suap dan pencucian uang, Ahmad
Fathanah menegaskan bahwa uang sejumlah Rp 1 miliar yang dibawanya
ketika tertangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di
Hotel Le tanggal 29 Januari 2013 lalu, bukan diperuntukkan ke eks
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq.
Sebaliknya, Fathanah menegaskan bahwa uang tersebut untuk membayar cicilan mobil mewah yang dibelinya dari PT William Mobil, yaitu Mercy seri C 200 sekitar seharga Rp 760 juta, pada Desember 2012.
"Saya hanya menegaskan uang yang Rp 1 miliar bukan untuk ustad Lutfhi Hasan Ishaaq tetapi untuk cicilan Mercy," kata Fathanah ketika menanggapi keterangan saksi Felix dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/9).
Dalam kesaksiannya, Felix memang mengakui bahwa diminta datang ke Hotel Le Meredien pada tanggal 29 Januari 2013 oleh Fathanah yang berniat untuk membayar cicilan mobil Mercy.
Tetapi, ditunggu sekitar lima sampai enam jam, Fathanah tidak terlihat. Namun, Felix mengaku tidak tahu bahwa saat itu Fathanah ditangkap oleh penyidik KPK.
Sebelumnya, saksi Felix mengakui bahwa Fathanah membeli tiga buah mobil dari showroom mobil tempatnya dulu bekerja.
Tiga mobil tersebut adalah Toyota Alphard yang dibayar tunai seharga Rp 800 juta yang dibeli bulan September 2012, Mercy C 200 seharga Rp 760 juta yang dibayar melalui leasing (kredit) pada Desember 2012, FJ Cruiser seharga Rp 1,1 miliar yang dibeli melalui leasing juga pada bulan Januari 2013.
Seperti diketahui, Fathanah yang orang swasta didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena menerima uang Rp 1,3 miliar dari PT Indoguna Utama, uang yang tak pernah sampai ke tangan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq. (suarapembaruan.com)
Sebaliknya, Fathanah menegaskan bahwa uang tersebut untuk membayar cicilan mobil mewah yang dibelinya dari PT William Mobil, yaitu Mercy seri C 200 sekitar seharga Rp 760 juta, pada Desember 2012.
"Saya hanya menegaskan uang yang Rp 1 miliar bukan untuk ustad Lutfhi Hasan Ishaaq tetapi untuk cicilan Mercy," kata Fathanah ketika menanggapi keterangan saksi Felix dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/9).
Dalam kesaksiannya, Felix memang mengakui bahwa diminta datang ke Hotel Le Meredien pada tanggal 29 Januari 2013 oleh Fathanah yang berniat untuk membayar cicilan mobil Mercy.
Tetapi, ditunggu sekitar lima sampai enam jam, Fathanah tidak terlihat. Namun, Felix mengaku tidak tahu bahwa saat itu Fathanah ditangkap oleh penyidik KPK.
Sebelumnya, saksi Felix mengakui bahwa Fathanah membeli tiga buah mobil dari showroom mobil tempatnya dulu bekerja.
Tiga mobil tersebut adalah Toyota Alphard yang dibayar tunai seharga Rp 800 juta yang dibeli bulan September 2012, Mercy C 200 seharga Rp 760 juta yang dibayar melalui leasing (kredit) pada Desember 2012, FJ Cruiser seharga Rp 1,1 miliar yang dibeli melalui leasing juga pada bulan Januari 2013.
Seperti diketahui, Fathanah yang orang swasta didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena menerima uang Rp 1,3 miliar dari PT Indoguna Utama, uang yang tak pernah sampai ke tangan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq. (suarapembaruan.com)
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita
September 05, 2013
posted by @Adimin
Kasih Sayang Orang Tua, Kebutuhan Terpenting Anak
Written By @Adimin on 05 September, 2013 | September 05, 2013
pkspadang.com, Kebutuhan
seorang anak dalam sebuah keluarga adalah kasih sayang dari kedua orang
tuanya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Perempuan DPD PKS Kota
Semarang Rini Tri Utami, Rabu (24/07)
Rini mengungkapkan jika
anak merupakan titipan dari Allah swt yang harus dijaga dan di rawat.
Maka menjaga dan merawat anak melalui kasih sayang yang tulus merupakan
wujud menunaikan amanah dari Allah SWT tersebut.
"Anak adalah
titipan dari Allah swt, dengan menyayanginya dengan tulus maka
sebenarnya kita sedang menunaikan amanah yang Allah titipkan," kata Rini
Tri Utami
Selanjutnya Rini menjelaskan kasih sayang dapat diwujudkan dengan sering
memanjakan anak berupa memberikan pelukan, kecupan sayang serta
penghargaan kepada sang anak.
Menurutnya dengan memberikan kemanjaan seperti ini dapat mempengaruhi
kesehatan jiwa sang anak. Pernyataan beliau ini berdasar atas penelitian
dari Psikolog AS Prof. Darcia Narvaes.
"Menurut Pakar Psikologi dari Amerika Darcia Narvaes dengan memanjakan
anak dengan cara yang baik maka akan mempengaruhi kesehatan jiwa dan
otak anak, sehingga anak dapat tumbuh lebih cerdas" jelas istri dari
Djohan Rifai ini.
Lebih lanjut Rini menyampaikan kasih sayang juga dapat diwujudkan dengan
menerima anak dengan apa adanya. Baik menerima kelebihannya ataupun
menerima kekurangannya.
"Memberikan kasih sayang dapat juga diwujudkan dengan menerima mereka
apa adanya baik itu kelebihan ataupun kekurangannya" lanjut Rini.
Selain itu, menurut Rini Tri Utami orang tua juga diharapkan dapat
memberikan teladan yang baik bagi anak. Hal ini dikarenakan perilaku
sang anak pada dasarnya mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya.
Bahkan, kadang orangtua sendiri tidak sadar setiap tindakan yang
dilakukan orang tua diamati serta ditiru oleh anaknya.
"Maka dari itu orang tua tetap harus hati-hati dan senantiasa menjaga perilaku dihadapan anak-anaknya" himbau Rini.
Lebih lanjut Rini menyampaikan jika pola pendidikan anak bisa berhasil
ketika orang tua berhasil memberikan keteladanan yang baik bagi
anak-anaknya. (suaramerdeka)
posted by @Adimin
Label:
Keluarga
September 04, 2013
*http://www.mahyeldi-emzalmi.com/read/96/wawako-padang-mahyeldi--%E2%80%9Cpns-sebagai-unsur-utama-sdm-aparatur-negara%E2%80%9D.html
posted by @A.history
Wawako Padang, Mahyeldi : “PNS sebagai Unsur Utama SDM Aparatur Negara”
Written By Unknown on 04 September, 2013 | September 04, 2013
Pegawai Negeri Sipil merupakan unsur utama sumber daya manusia aparatur Negara yang memiliki peran aktif dalam menentukan keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.
Disampaikan Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah, SP dalam kata sambutannya pada acara pembukaan Diklat kepemimpinan tingkat IV angkatan XV di lingkungan pemerintah Kota Padang, Senin (2/9).
Mahyeldi katakan sosok seorang PNS harus mampu memainkan peran tersebut adalah PNS yang mempunyai kompetensi yang di indikasikan dari sikap dan perilakunya penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Negara, bermoral, bermental baik, profesional, sadar akan tanggung jawab sebagai pelayan public serta mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa.
Jadi, dalam upaya membentuk PNS maka perlu dilaksanakan pembinaan melalui jalur diklat yang mengarah kepada upaya peningkatan pertama sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan tanah air.
Kedua, kompetisi teknis, manejerial dan kepemimpinan, dan ketiga, efisiensi, efektifitas dan kualitas pelaksanaan tugas yang dilakukan dengan semangat kerjasama dan tanggung jawab sesuai dengan lingkungan kerja dan organisasi, ujar Wakil Walikota Padang.
Lebih jauh, Mahyeldi katakan Diklat PIM ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan struktural secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai dengan kebutuhan instansinya, tambah Mahyeldi.
Selanjutnya, Kepala Badan Diklat Kepemimpinan Provisi Sumatera Barat, H. Rosman Effendi, SE, SH. MM katakan bahwa Diklat PIN ini diadakan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas Jabatan Struktural Eselon IV secara professional dilandasi kepribadian dan etika PNS sesuai kebutuhan instansi.
Jadi jelas bahwa aparatur Negara, harus bersikap dan berperilaku yang baik kepada masyarakat sehingga pemerintah mempunyai arti sangat penting di mata masyarakat, ujar Rosman.
Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia Penyelenggara Diklat Kepemimpinan TK. IV angkatan XV di lingkungan Pemerintah Kota Padang Tahun 2013, Ir. Asnel. M.Si. melaporkan, jumlah peserta sebanyak 40 orang terdiri dari 26 orang laki-laki dan 14 orang perempuan, berasal dari SKPD di lingkungan Kota Padang.
Waktu pelaksanaan dari tanggal 2 September sampai 23 Oktober 2013, bertempat di Diklat Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Propinsi Sumatera Barat, “ bertemakan “ Melalui Dikla PIM Tingkat IV Kita Tingkatkan Kinerja dan Pelayanan Publik Guna mewujudkan Kepemerintahan yang baik.”
Dia menambahkan, metode yang digunakan dalam program Diklat PIM Tk. IV yaitu Andragogi merupakan proses belajar mengajar yang berorientasi pada peserta diklat yang di tuntut untuk berpatisipasi saling asih, asuh dan saling yang asah serta bersifat saling belajar dari pengalaman, ujar Asnel.(Rm/Adm)
*http://www.mahyeldi-emzalmi.com/read/96/wawako-padang-mahyeldi--%E2%80%9Cpns-sebagai-unsur-utama-sdm-aparatur-negara%E2%80%9D.html
posted by @A.history
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
September 03, 2013
Setiap bangsa, negara dan daerah pasti memiliki penyebutan sendiri
untuk angka-angka dari satu, dua sampai dengan sepuluh. Misalnya angka
tiga kita menyebutnya di Indonesia tapi di negara lain ada yang
menyebutnya tri, three, san, tolu dan lain sebagainya.
1 = Satu
Begitu juga dengan Dua dan Delapan, Tiga dan Tujuh kemudian Empat dan
Enam. Terurut sampai dengan angka Lima. Lima dijumlah dengan dirinya
sendiri juga hasilnya sepuluh.
Hebatnya Angka 10 (Sepuluh)
Written By @Adimin on 03 September, 2013 | September 03, 2013
Ternyata angka atau bilangan dengan menggunakan bahasa Indonesia
memiliki struktur atau pola yang unik dan mungkin tidak akan ditemukan
di bangsa lain. Hanya di Indonesia.
Setiap bangsa, negara dan daerah pasti memiliki penyebutan sendiri
untuk angka-angka dari satu, dua sampai dengan sepuluh. Misalnya angka
tiga kita menyebutnya di Indonesia tapi di negara lain ada yang
menyebutnya tri, three, san, tolu dan lain sebagainya.
Bahkan bila ada yang masih ingat angka-angka tersebut dalam bahasa
daerah teman-teman masing-masing dari satu sampai sepuluh maka kadang
ada angka yang penyebutannya sama dan ada pula yang berbeda dengan
Bahasa Indonesia. Mungkin tergantung dari enaknya di lidah atau di
telinga.
Langsung saja. Di sini saya bukan mengajarkan Anda berhitung tapi coba perhatikan deretan angka-angka di bawah ini.
1 = Satu
2 = Dua
3 = Tiga
4 = Empat
5 = Lima
6 = Enam
7 = Tujuh
8 = Delapan
9 = Sembilan
Ternyata setiap bilangan mempunyai saudara ditandai dengan huruf awal yang sama. Bila kedua saudara ini dijumlahkan angkanya, maka hasilnya pasti sepuluh. Contohnya Satu dan Sembilan. Mempunyai huruf awal yaitu S dan bila djiumlahkan satu dan sembilan hasilnya adalah sepuluh.
Begitu juga dengan Dua dan Delapan, Tiga dan Tujuh kemudian Empat dan
Enam. Terurut sampai dengan angka Lima. Lima dijumlah dengan dirinya
sendiri juga hasilnya sepuluh.
Tidak sampai di situ, ternyata huruf awalnya juga punya peranan
penting terbentuknya bilangan itu. Misalnya Satu dan Sembilan sama-sama
huruf awalnya adalah S yang secara kebetulan berada pada urutan 19 dalam
alpabet. Bila angka satu dan sembilan dijumlahkan kemudian dibagi dua
untuk mencari rata-ratanya maka hasilnya adalah 5. Bentuk angka 5 sangat
identik dengan huruf S. Yang pernah membaca Matematika Alam Semesta,
perlu ditambahkan bahwa 19 adalah angka TUHAN.
Kemudian Dua dan Delapan. Huruf awalnya adalah D yang urutan keempat.
Bila delapan dibagi dua maka hasilnya adalah empat (pembenaran).
Selanjutnya Empat dan Enam. Huruf awalnya adalah E yang urutan kelima. Lima berada diantara Empat dan Enam (pembenaran lagi).
Sedangkan angka Lima huruf awalnya adalah L. Dimana L digunakan untuk
simbol angka lima puluh dalam perhitungan Romawi (pembenaran yang masih
nyambung).
Pola unik ini mungkin hanya bisa ditemukan di Indonesia. Lalu
bagaimana dengan di Malaysia yang juga memakai bahasa yang sama?
Ternyata di Malaysia angka 8 tidak disebut sebagai Delapan tapi Lapan.
Jadi pola ini hanya milik Indonesia. Jangan sampai diklaim juga sama
mereka
Nah karena begitu unik dan luar biasanya angka 10 (sepuluh) ini, maka kami anjurkan untuk memilih calon yang bernomor urut 10 (Sepuluh).
posted by @Adimin
Label:
Pilkada,
TOPIK PILIHAN







