Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
August 25, 2014
posted by @Adimin
Islam dan Kepemimpinan
Written By Sjam Deddy on 25 August, 2014 | August 25, 2014
“Tidak ada
seorang hamba yang dipercaya memimpin rakyatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
lalu ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah haramkan Jannah
baginya.” (HR Bukhari)
Dalam ilmu
psikologi sosial, teori kepemimpinan sering digunakan dalam menganalisis
kelompok kecil (small groups). Dalam sosiologi umum, kepemimpinan dianalisis
sebagai pengaruh kekuasaan dalam kolektifitas sosial.
Max Weber (1946) menulis teorinya yang sangat terkenal tentang 3 tipe
kepemimpinan yang dihubungkan dengan perbedaan bentuk wewenang dan legitimasi.
Pemimpin karismatik menurutnya memimpin berdasarkan kekuatan pesona dari dalam
dirinya, sementara pemimpin tradisional memimpin berdasarkan adat atau status
kebangsawanan yang sudah diakui oleh masyarakatnya. Sementara pemimpin
legaladalah mereka yang memimpin berdasarkan keahlian dan sesuai dengan aturan
formal dalam masyarakat modern.
Dalam hadits di
atas, Islam memperingatkan kepada para pemimpin, siapapun dia dan dari kelompok
manapun dia dan berapa pun orang yang dipimpinnya agar hendaklah menjauhkan
diri sejauh-jauhnya dari menipu rakyat atau pun menipu bawahannya. Di dalam
hadits yang lain juga ditegaskan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa
setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas rakyat yang dipimpinnya
pada Hari Kiamat kelak.
Bahkan di dalam salah satu riwayat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia
malah menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam: “Ya Allah, siapa saja yang diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku
lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi
kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia.” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan
kebutuhan, kedukaan dan kemiskinanummat maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat
kelak.
Islam
menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi,
yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk
kelompok pertama yang dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala diantara 7
kelompok utama yang dinaungi-Nya pada Hari Kiamat kelak, ia pun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari
Kiamat. Dan pemimpin yang demikian akan senantiasa dicintai dan didoakan
oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya. Sehingga dalam salah satu haditsnya, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa
Sallam sampai menyatakan bahwa pemimpin yang demikian termasuk 3 golongan
manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping yang kedua
adalah orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang
menjaga dirinya dari meminta-minta.
Oleh karena itu
di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagaimana disebutkan
diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (tafsir QS An Nisaa’, 4: 59) dan
bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifatsebaliknya
maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati (dalam ayat di atas, sebenarnya juga disebutkan bahwa syarat taat
pada pemimpin adalahmu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam atau tidak, dimana
cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam jika terjadi perbedaan pendapat atau pun
perselisihan).
Sehingga pemimpin yang memiliki sifat demikian maka ia
sebenarnya telah menjadi pewaris nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang wajib
ditaati, sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa yang
taat kepadaku, maka sama dengan taat kepada Allah, dan barangsiapa yang tidak
taat kepadaku maka ia sama dengan tidak taat kepada Allah, barangsiapa yang
taat kepada pemimpin (yang sesuai dengan syariat) maka ia sama dengan taat
kepadaku dan barangsiapa yang tidak taat kepada pemimpin (yang sesuai dengan
syariat) maka ia sama dengan tidak taat kepadaku.”
Dan ketaatan
kepada pemimpin yang adil dan menjalankan syariat adalah wajib, barangsiapa
yang keluar dari ketaatan atas pemimpin yang demikian maka ia akan bertemu
Allah Subhanahu wa Ta’ala pada Hari Kiamat nanti tanpa punya alasan apapun
untuk membela dirinya. Tentang siapa pemimpin itu Islam tidak membatasi ia dari ras dan
kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati,
sekalipun ia adalah seorang yang berkulit sangat hitam yang kepalanya bagaikan
buah-buah anggur (saking hitamnya). Islam oleh karenanya tidakmembeda-bedakan
warna kulit, ras atau pun bahasa dalam masalah kepemimpinan, yang dinilai
adalah ketaqwaannya dalam menjalankan aturan dan syariat Allah dan kemampuannya
memimpin.
Dan bagi mereka yang meremehkan pemimpin yang adil dan menghinanya, maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan menghina dan meremehkannya.
Seorang
pemimpin yang adil tentunya akan memilih pembantu-pembantu, wakilwakil dan menteri-menteri
yang adil pula. Tidak mungkin seorang yang baik akan mengangkat atau memilih
wakil dan menteri yang merupakan para musuh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti
para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing (QS Al Mumtahanah,
60: 1). Karena tidak ada gunanya berpura-pura membela Islam atau seolah-olah
tiba-tiba menjadi Muslim yang sangat taat, karena kaum Muslimin yang cerdas
akan bisa menilai siapa saja teman-teman mereka dahulunya, dan siapa
orang-orang yang dekat dengan kelompok-kelompok mereka (sebelum ada maunya),
atau bagaimana sikap mereka terhadap para ulama serta hukum syariat.
Benarlah
pernyataan pemimpin abadi kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa,
maka Ia akan memberikan untuknya menteri-menteri yang jujur, (yaitu) yang jika
ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jika ia ingat maka selalu
dibantu/didorong. Dan jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keburukan
kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yang
jahat. Jika penguasa itu lupa, maka tidak diingatkan dan jika ia ingat maka
tidak didorong/dibantu.”
Hadits Riwayat: 1. Bukhari,
juz-XIII/112-113. 2. Muslim, juz III/1460, hadits no.21-22.
From Max Weber: Essay in
Sociology (1946), London, Routledge & Kegan Paul, edited by H.H Gerth &
C.W. Mills.
HR. Bukhari II/317 juga
XIII/100; dan Muslim no. 1829; dan Abu Daud no. 2928.
HR. Muslim no. 1828.
HR. Abu Daud no. 2948;
Tirmidzi no. 1332; Al Hakim IV/93-94; menurut Imam al-Mundziri sanad-nya shahih
karena ada syahid dari hadits Muadz Radhiyallahu ‘Anh yang diriwayatkan oleh
Ahmad V/238-239; demikian pula menurut Albani dalam Ash Shahihah no. 629.
HR. Bukari II/119 dan 124;
Muslim no. 1031.
HR. Muslim no. 1827; Nasa’i
VIII/221; Ahmad II/160.
HR. Muslim no. 1855.
HR. Muslim no. 2865.
HR. Bukhari XIII/109;
Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi no. 1707; Nasa’i VII/160.
HR. Bukhari XIII/99; Muslim
no. 1835; Nasa’i VII/154.
HR. Muslim no. 1851.
HR. Bukhari XIII/108.
HR. Tirmidzi no. 2225 dan
ia berkata hasan dan disepakati oleh Imam Al Mundziri; Ahmad V/42;
Thayalisi II/167.
HR. Abu Daud no. 2932,
dengan sanad yang baik menurut syarat Muslim; juga Nasa’i VII/159 dengan sanad
yang shahih.
Hadits Riwayat:
1. Bukhari, juz-XIII/112-113. 2. Muslim, juz III/1460, hadits no.21-22.
From Max Weber: Essay in
Sociology (1946), London, Routledge & Kegan Paul, edited by H.H Gerth &
C.W. Mills.
HR. Bukhari II/317 juga
XIII/100; dan Muslim no. 1829; dan Abu Daud no. 2928.
HR. Muslim no. 1828.
HR. Abu Daud no. 2948;
Tirmidzi no. 1332; Al Hakim IV/93-94; menurut Imam al-Mundziri sanad-nya shahih
karena ada syahid dari hadits Muadz Radhiyallahu ‘Anh yang diriwayatkan oleh
Ahmad V/238-239; demikian pula menurut Albani dalam Ash Shahihah no. 629.
HR. Bukari II/119 dan 124;
Muslim no. 1031.
HR. Muslim no. 1827; Nasa’i
VIII/221; Ahmad II/160.
HR. Muslim no. 1855.
HR. Muslim no. 2865.
HR. Bukhari XIII/109;
Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi no. 1707; Nasa’i VII/160.
HR. Bukhari XIII/99; Muslim
no. 1835; Nasa’i VII/154.
HR. Muslim no. 1851.
HR. Bukhari XIII/108.
HR. Tirmidzi no. 2225 dan
ia berkata hasan dan disepakati oleh Imam Al Mundziri; Ahmad V/42;
Thayalisi II/167.
HR. Abu Daud no. 2932,
dengan sanad yang baik menurut syarat Muslim; juga Nasa’i VII/159 dengan sanad
yang shahih.
posted by @Adimin
Label:
HADIST,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN
August 25, 2014
posted by @Adimin
Tukang Sapu & Tukang Sampah
Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”
Saya katakan, “Kita percaya bahwa
manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam
masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah
berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama
seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid.
Tetapi sayang, hal ini
tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan
dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”
“Tidak,” jawabnya.
Saya katakan, “Itu karena Anda tidak
peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah
melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian
menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria
ketika bertemu saudaramu.’ Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda
ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah
menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan,
karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia
merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak
seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara
dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia
akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu.
Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im
ia cari-cari dan dambakan.”
Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang
sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke
rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena
kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.
Oleh karena itu, negara berkewajiban
memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan.
Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang
disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika
kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan
masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk
memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan
akhlak.
Pada suatu hari saya berada di Masjid
Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa
ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang
pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.”
Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan
tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu
kan-nas (sama seperti manusia lain)?’” Sungguh, ini kata-kata spontan
belaka, yang kebetulan saja berlaku
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
August 25, 2014
by @SangPemburu99
posted by @Adimin
Upaya Pengucilan PKS pun Gagal

PKS
memang partai yang fenomenal. Salah satu buktinya, ia dimusuhi oleh mereka2 yang
secara ekstrem saling berlawanan. Ekstrem kanan dan kiri.
Dari
pihak "ekstrem kanan", yg cukup getol menghujat PKS antara lain
adalah kelompok Salafy (baik yg "jihadi" maupun
"madkhali"), HTI, dst.
Pokok
hujatan pihak "ekstrem kanan" kepada PKS terletak pada penerimaan PKS
terhadap sistem demokrasi, bahkan PKS ambil bagian di dalamnya.
Selain
itu, pihak "ekstrem kanan" selalu menuduh bahwa PKS hanya setengah2
memperjuangakan syariat Islam dan hanya mengejar kekuasaan.
Sedangkan
pihak "ekstrem kiri" yang memusuhi PKS antara lain adalah JIL dan
segala variannya, kelompok kiri sekuler, eks komunis, dkk.
Pokok
hujatan yg selalu dialamatkan pihak "ekstrem kiri" kpd PKS antara
lain PKS dituduh punya agenda tersembunyi. Agenda apa itu?
Yaitu
PKS dituduh memiliki agenda tersembunyi untuk mengubah ideologi negara
(Pancasila) menjadi negara berideologi Islam.
Mereka
menuduh bahwa penerimaan dan keterlibatan PKS dalam sistem demokrasi hanyalah
kedok sekaligus sarana u/ mencapai agendanya sendiri.
Mereka
begitu alergi dengan simbol2 Islam yang lekat dengan identitas PKS. Misalnya
jilbab panjang yg selalu dikenakan kader2 akhwatnya.
Mereka
(pihak "ekstrem kiri itu) selalu menuduh PKS sbg partai yg "sok
suci", "penjual agama", "penjual surga", dan sebutan2
sinis lainnya.
Jadi
menarik dicermati bahwa PKS selalu diserang dari kanan dan kiri. Yang kanan
bilang PKS sesat, bid'ah, bahkan kafir.
Sedangkan
yg kiri menganggap PKS membahayakan ideologi negara dan harus dipunahkan,
minimal dibonsai agar tidak tumbuh semakin besar.
Dalam
majelis2 (pengajian, taklim, dsb) di pihak kanan, PKS sering mjd bahan
gunjingan, aib2nya seakan jd "menu wajib" bagi mereka.
Di
radio, buletin, majalah, website, & media2 yg mereka kelola, tak bosan
menggunjingkan "kesesatan" PKS. Tdk semua, tapi banyak yg begitu.
Mereka
(pihak "ekstrem kanan" itu) selalu memandang sinis atas capaian
hasil2 dakwah yg dilakukan PKS baik di parlemen/birokrasi.
Bagaimana
dengan serangan pihak "ekstrem kiri"? Ini jauh lebih terstruktur,
sistematis, dan massif. Mereka jauh lebih militan dan all out!
Mereka
memandang PKS sebagai ancaman nyata di masa depan. Karenanya harus dibuat agar
PKS tidak pernah menjadi besar. Caranya? DIKUCILKAN!
Kalau
kita cermati, upaya pengucilan PKS semakin intensif 2 tahun menjelang pemilu
2014. Dan tumpuan kekuatan mereka adalah MEDIA.
Karena
secara "kebetulan", hampir semua media2 mainstream baik
cetak/ elektronik dikuasai oleh kelompok yg berafiliasi ke "kiri".
Puncak
bombardir media kepada PKS terjadi ketika pada awal 2013 menyeruak kasus impor
sapi yg menyeret nama Presiden PKS saat itu, LHI.
Pagi,
siang, sore malam, media2 maintream milik mereka berlomba2 meng- eksploitasi
kasus impor sapi LHI habis-habisan. Mereka berpesta pora.
Mereka
seakan menemukan amunisi berupa bom nuklir utk menghabisi PKS, sesuatu yg
selama ini mereka tunggu2 namun amat sulit mendapatkannya.
Bombardir
media kpd PKS itu tak berhenti hingga menjelang digelarnya Pemilu Legislatif
2014. Hanya intensitasnya saja yg fluktuatif.
Mereka
juga berkolaborasi dgn lembaga2 survey utama (yg juga "kebetulan"
dimiliki kelompok kiri) utk semakin menenggelamkan citra PKS.
Bahkan
menjelang Pileg 2014, di ranah media sosial (twitter) mendadak muncul ribuan
akun2 yg getol mengkampanyekan #TolakPartaiPoligami
Khusus
mengenai fenomena ini, saya pernah kultwit "Membongkar Akun2 Buzzer Pelaku
Black Campaign Terhadap PKS http://chirpstory.com/li/197213
Tujuan
besar dari semua upaya itu adalah agar PKS tidak lolos Parliamentary Threshold
(PT) 3,5% alias PKS angkat kaki dari parlemen!
Bila
PKS sudah tidak memiliki suara di parlemen, maka akan makin mudah bagi mereka
untuk menghabisi PKS. Namun upaya mereka gagal total.
Meski
dihajar badai bertubi2 tiada henti, dengan soliditas kader2nya yg loyal dan
militan, PKS berhasil mempertahankan eksistensinya.
Pada
Pileg 2014, PKS berhasil mempertahankan 8 juta lebih jumlah suaranya. Hanya
saja jml kursinya yg menurun dari 57 menjadi 40 kursi DPR.
Menurunnya
jml kursi PKS itu krn faktor kenaikan jml pemilih (dibanding 2009) dan makin
meratanya kekuatan parpol2 kontestan pemilu 2014.
Terkait
hal tsb saya pernah kultwit tentang "Catatan Penting atas Capaian PKS
dalam Pileg 2014" http://chirpstory.com/li/205532
Pasca
Pileg 2014, apakah upaya pengucilan pihak kiri dan para hater kpd PKS berhenti?
Tentu saja TIDAK. Ajang Pilpres mjd arena berikutnya.
Begitu
diketahui PKS lolos PT 3,5% & berhasil mengamankan 40 kursinya di DPR,
mulailah dilontarkan wacana baru utk mengucilkan PKS. Apa itu?
Mereka
melalui media2 besar yg dikuasainya melontarkan wacana agar jangan ada yg mau
berkoalisi dengan PKS. Krn PKS adalah problem maker!
Mereka
menunjukkan bukti "track record" PKS selama berkoalisi dgn SBY selama
10 tahun terakhir bhw PKS adlh "anak nakal".
Bahwa
PKS sering berseberangan dgn kebijakan partai penguasa (misal dlm kasus
Century, angket mafia pajak, dan kenaikan harga BBM).
Namun
upaya baru utk mengucilkan PKS itu kembali kandas. Salah satu capres terkuat
yaitu Prabowo justru yg terlebih dahulu "melamar" PKS.
Kegeraman
mereka bertambah ketika partai2 yg "berbau Islam" semuanya (minus PKB
nya Imin) bersama PKS merapat ke kubu Prabowo.
Target
mereka utk mengucilkan PKS scr politik gagal total. Bahkan PKS diterima dan
mendapatkan peran strategis dlm Koalisi Merah Putih (KMP)
Mereka--kaum
ekstrem kiri plus kelompok2 PKS hater lainnya (Syiah, Ahmadiyah dll)-- semuanya
bersatu mendukung Joko Dodo dlm Pilpres.
Tujuan
mereka jelas, mencegah Prabowo yg didukung mayoritas kekuatan politik Islam
termasuk PKS memegang tampuk kekuasaan.
Dengan
mengerahkan segala sumber daya yg mereka miliki dan (disinyalir) dibantu
kekuatan asing, akhirnya jago mereka Joko Dodo jd Presiden.
Lalu
setelah jelas bahwa Joko Dodo yg jadi Presiden, apakah upaya pengucilan kepada
PKS berhenti? Tentu saja tidak! Selalu ada amunisi baru.
Selalu
ada isu baru yg bisa mereka goreng untuk menyerang dan memojokkan PKS agar
terkucil secara politik shg lebih mudah dimarginalkan.
Dan
isu terbaru yg mereka lontarkan adlh bahwa PKS hanya memanfaatkan Prabowo untuk
mendapatkan keuntungan finansial. Ini upaya belah bambu.
Mereka
menuduh PKS hanya "morotin" duit Prabowo untuk mengisi kas partai yg
sebentar lagi akan jauh berkurang akibat tdk ada dlm kabinet.
Utk
mengolok2 PKS, di media sosial (twitter) mereka juga melakukan gerakan lucu:
membuat "Petisi" menolak PKS masuk Kabinet. #ngikik
Ttg
petisi konyol ini saya pernah membuat kultwit khusus: "Konyolnya Petisi
Menolak PKS Masuk Dalam Kabinet JKW" http://chirpstory.com/li/221133
Mereka
(yg sukses menunggangi kubu JKW) akan terus dan tanpa kenal lelah berupaya agar
PKS terkucil. Meski upaya itu selalu gagal dan gagal.
Mereka
kini khawatir PKS akan memainkan peran strategis dlm Koalisi Merah Putih yg
menguasai mayoritas kursi DPR.
Upaya2
mereka yg bernuansa "kiri" spt pencabutan Tap MPRS XXV/1966 tentang
Larangan Ajaran Komunis terancam kandas di DPR.
Dan
berbagai produk legislasi yang telah mereka susun sbg "tools" utk
menggolkan agenda2 kelompok kiri itu pun terancam terganjal di DPR.
Karenanya,
kini mereka sekuat tenaga berupaya memecah soliditas Koalisi Merah Putih dgn
mengiming-imingi kursi di kabinet.
Sasaran
mereka adalah partai2 yang masih terbuka kemungkinan utk membelot partai yg scr
internal juga kurang solid spt Golkar dan PPP.
Mereka
juga berupaya mengajak Partai Demokrat untuk keluar dari KMP. Dan ganjalan
mereka hanya satu: SBY. Krn PD itu sepenuhnya "milik SBY".
Hubungan
personal yg kurang harmonis antara Mamak Banteng dgn SBY masih menjadi hambatan
berat utk menarik PD masuk ke kubu mereka.
Sehingga
bbrp waktu ke depan sebelum pelantikan Presiden dan Kabinet baru, kita akan
menyaksikan pertarungan politik menarik di DPR.
Dan
kembali ke topik awal, upaya mereka untuk mengucilkan dan memarginalkan PKS
secara politik sejauh ini mengalami kegagalan.
Yg
terjadi justru PKS semakin "lengket" dengan Gerindra, partai juara
ke-3 Pileg 2014. Ini berkat kerja politik bersama memenangkan Prabowo.
Dan
bisa dipastikan, 2 partai ini (Gerindra dan PKS) dipastikan akan mjd partai
oposisi utama di parlemen.
Kita
berharap, semoga soliditas partai2 yg tergabung dlm Koalisi Merah Putih tetap
terjaga, tdk tergiur bujuk rayu kubu JKW krn itu racun!
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
August 23, 2014
7 Ancaman bagi Anggota Dewan
Written By @Adimin on 23 August, 2014 | August 23, 2014
Para wakil rakyat yang baru terpilih dalam Pileg 2014 sedang memulai hari-hari pertamanya menjadi wakil rakyat (terkecuali incumbent yang kembali terpilih). Ribuan pasang mata rakyat berharap-harap mendapat janji manis yang disampaikan saat kampanye.
Barangkali tidak ada profesi yang paling berbau ‘amanat’ melebihi profesi wakil rakyat. Hanya dua kemungkinan saat menjalaninya yaitu khianat atau amanat.
Disadari atau tidak bagi seorang mukmin yang memang sudah berikrar mau menjadi wakil rakyat amanat ini melekat kuat saat terpilih. Karena dirinya seolah representasi dari keinginan dan harapan rakyat maka wajar jika sorotan kepada mereka demikian kuat.
Di lain sisi, tantangan menjadi anggota dewan ternyata tidak mudah ditaklukkan, bahkan untuk seorang yang sangat idealis sekalipun seperti aleg PKS. Berikut ini 7 ancaman yang menanti mereka yang idealis (yang rusak tidak kami bahas) di kursi empuk wakil rakyat:
1. Bengkoknya Niat
Ada beberapa alasan yang bisa melegitimasi bengkoknya niat tulus anggota dewan al:
a) Tantangan kepentingan individu dan kelompok yang kuat.
b) Terbukanya pintu mendapatkan proyek dan komisi atas proyek.
c) Sulitnya mewujudkan program dan ide karena arus berhadapan dengan program dan ide anggota lain.
d) Banyaknya ‘tikus’ penggoda yang menawarkan aneka kenikmatan fasilitas anggotadewan.
2. Larut dalam Kebiasaan Busuk
Banyak yang menduga pembusukan lembaga perwakilan rakyat karena murni anggota DPR itu sendiri. Namun sesungguhnya ada yang lebih busuk dari mereka yaitu PNS yang bertugas menjalankan opersional anggota dewan. Mereka inilah calo-calo kebusukan yang menjadi mentor anggota dewan yang baru bergabung.
Anggota dewan yang baru bergabung pada akhirnya menyerah dan ikut arus busuk kebiasaan lama seperti mengambil uang rapat walau tidak hadir rapat, memakai fasilitas anggota dewan untuk kepentingan pribadi (kendara- an,mess,biaya kunjungan dst).
3. Hilangnya sifat Waraa
Seseorang yang wara’ (menjaga diri dari yang syubhat apalagi yang haram) akan luntur sikapnya saat menjadi anggota dewan. Hal ini banyak disebabkan karena anggota dewan yang berlindung kepada undang-undang yang dibuatnya sendiri.
Beredarnya amplop berisi uang yang tidak jelas asalnya sangat lumrah terjadi di tubuh lembaga perwakilan rakyat ini.
Sehingga anggota dewan yang tadinya sangat menjauhi hal-hal yang syubhat bisa tergelincir dan terbiasa menerima sesuatu yang ukuran halalnya adalah kesepakatan bersama mereka.
4. Menjauh dari Rakyat
Kesibukan rapat, kunjungan kerja dan hearing dst, yang notabene ada ‘uangnya’ akan menggoda DPR untuk mengutamakan kegiatan tersebut ketimbang ‘blusukan’ untuk mendengar langsung keluhan masyarakat.
Mereka kembali mendekat kelak menjelang pemilu yang tujuannya adalah membeli suara rakyat, bukan lagi pendidikan politik dan gerakan penyadaran. Akhirnya masyarakat terbiasa dengan politik transaksional semacam ini.
5. Hilangnya Sensitifitas
Sensitifitas hanya muncul pada orang yang mampu mengendalikan dunia. Bagi para pecundang, sering membuat berbagi alasan untuk melegitimasi tindakannya. Saat belum menjadi anggota dewan begitu sederhana hidupnya, namun setelah menjadi anggota dewan secara terang-terangan mulai mem- bangun kemakmuran pribadinya dengan membeli rumah, kendaraan, dan aset-aset lainnya.
6. Menjauh dari Nasihat
Sebutan anggota dewan yang terhormat sesungguhnya racun mematikan. Sebutan tersebut telah menempatkan individu yang lemah menjadi individu yang tertipu oleh bayangan kebesaran dirinya yang palsu.
Kondisi inilah yang sering menjadi penghambat anggota dewan mau menerima masukan atau nasihat. Terlebih banyak nasihat yang disampaikan dengan tidak santun membuta mereka kian jauh dari nasihat.
7. Meremehkan Kesehatan
Seringkali kegiatan anggota dewan adalah perpindahan dari satu jamuan ke jamuan lain. Makanan yang serba wah dan ‘enak’ semua masuk ke dalam tubuh mereka. Adapun kebiasaan duduk berlama-lam juga membuat aktivitas olah raga mereka menurun. Akibatnya? Beraneka ragam penyakit mengintai mereka.
Tak sedikit anggota dewan yang di ‘PAW’ bukan oleh partainya. Tetapi oleh penyakit berat yang dideritanya.
Nah, jika ancaman sedemikian berat di depan mata. Maka yang terbaik adalah memepersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Dan sebaik-baik bekal adalah TAKWA. Jadi nonsens jika ada anggota dwwan yang dapat sukses sementara ia tidak memahami TAKWA yang sebenar-benarnya.
Wallahua’lam
Oleh: Abu Ihsan
Barangkali tidak ada profesi yang paling berbau ‘amanat’ melebihi profesi wakil rakyat. Hanya dua kemungkinan saat menjalaninya yaitu khianat atau amanat.
Disadari atau tidak bagi seorang mukmin yang memang sudah berikrar mau menjadi wakil rakyat amanat ini melekat kuat saat terpilih. Karena dirinya seolah representasi dari keinginan dan harapan rakyat maka wajar jika sorotan kepada mereka demikian kuat.
Di lain sisi, tantangan menjadi anggota dewan ternyata tidak mudah ditaklukkan, bahkan untuk seorang yang sangat idealis sekalipun seperti aleg PKS. Berikut ini 7 ancaman yang menanti mereka yang idealis (yang rusak tidak kami bahas) di kursi empuk wakil rakyat:
1. Bengkoknya Niat
Ada beberapa alasan yang bisa melegitimasi bengkoknya niat tulus anggota dewan al:
a) Tantangan kepentingan individu dan kelompok yang kuat.
b) Terbukanya pintu mendapatkan proyek dan komisi atas proyek.
c) Sulitnya mewujudkan program dan ide karena arus berhadapan dengan program dan ide anggota lain.
d) Banyaknya ‘tikus’ penggoda yang menawarkan aneka kenikmatan fasilitas anggotadewan.
2. Larut dalam Kebiasaan Busuk
Banyak yang menduga pembusukan lembaga perwakilan rakyat karena murni anggota DPR itu sendiri. Namun sesungguhnya ada yang lebih busuk dari mereka yaitu PNS yang bertugas menjalankan opersional anggota dewan. Mereka inilah calo-calo kebusukan yang menjadi mentor anggota dewan yang baru bergabung.
Anggota dewan yang baru bergabung pada akhirnya menyerah dan ikut arus busuk kebiasaan lama seperti mengambil uang rapat walau tidak hadir rapat, memakai fasilitas anggota dewan untuk kepentingan pribadi (kendara- an,mess,biaya kunjungan dst).
3. Hilangnya sifat Waraa
Seseorang yang wara’ (menjaga diri dari yang syubhat apalagi yang haram) akan luntur sikapnya saat menjadi anggota dewan. Hal ini banyak disebabkan karena anggota dewan yang berlindung kepada undang-undang yang dibuatnya sendiri.
Beredarnya amplop berisi uang yang tidak jelas asalnya sangat lumrah terjadi di tubuh lembaga perwakilan rakyat ini.
Sehingga anggota dewan yang tadinya sangat menjauhi hal-hal yang syubhat bisa tergelincir dan terbiasa menerima sesuatu yang ukuran halalnya adalah kesepakatan bersama mereka.
4. Menjauh dari Rakyat
Kesibukan rapat, kunjungan kerja dan hearing dst, yang notabene ada ‘uangnya’ akan menggoda DPR untuk mengutamakan kegiatan tersebut ketimbang ‘blusukan’ untuk mendengar langsung keluhan masyarakat.
Mereka kembali mendekat kelak menjelang pemilu yang tujuannya adalah membeli suara rakyat, bukan lagi pendidikan politik dan gerakan penyadaran. Akhirnya masyarakat terbiasa dengan politik transaksional semacam ini.
5. Hilangnya Sensitifitas
Sensitifitas hanya muncul pada orang yang mampu mengendalikan dunia. Bagi para pecundang, sering membuat berbagi alasan untuk melegitimasi tindakannya. Saat belum menjadi anggota dewan begitu sederhana hidupnya, namun setelah menjadi anggota dewan secara terang-terangan mulai mem- bangun kemakmuran pribadinya dengan membeli rumah, kendaraan, dan aset-aset lainnya.
6. Menjauh dari Nasihat
Sebutan anggota dewan yang terhormat sesungguhnya racun mematikan. Sebutan tersebut telah menempatkan individu yang lemah menjadi individu yang tertipu oleh bayangan kebesaran dirinya yang palsu.
Kondisi inilah yang sering menjadi penghambat anggota dewan mau menerima masukan atau nasihat. Terlebih banyak nasihat yang disampaikan dengan tidak santun membuta mereka kian jauh dari nasihat.
7. Meremehkan Kesehatan
Seringkali kegiatan anggota dewan adalah perpindahan dari satu jamuan ke jamuan lain. Makanan yang serba wah dan ‘enak’ semua masuk ke dalam tubuh mereka. Adapun kebiasaan duduk berlama-lam juga membuat aktivitas olah raga mereka menurun. Akibatnya? Beraneka ragam penyakit mengintai mereka.
Tak sedikit anggota dewan yang di ‘PAW’ bukan oleh partainya. Tetapi oleh penyakit berat yang dideritanya.
Nah, jika ancaman sedemikian berat di depan mata. Maka yang terbaik adalah memepersiapkan bekal terbaik untuk menghadapinya. Dan sebaik-baik bekal adalah TAKWA. Jadi nonsens jika ada anggota dwwan yang dapat sukses sementara ia tidak memahami TAKWA yang sebenar-benarnya.
Wallahua’lam
Oleh: Abu Ihsan
posted by @Adimin
Label:
MUHASABAH,
TOPIK PILIHAN
August 23, 2014
posted by @Adimin
Sinyal sinyal Kematian
Suatu hari, Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, melihat bulu jenggotnya sudah putih. Ia pun berucap: “Ya
Allah, aku berlindung kepada Engkau dari perkara (petaka atau kematian)
secara mendadak. Kulihat kematian sudah menuntutku dan aku tak bisa
mengelak darinya.”
Kemudian, ia pun keluar menemui masyarakatnya, seraya berseru: “Wahai kaum Bani Tamim, aku sungguh sudah memberikan masa mudaku untuk kalian maka hendaknya kalian memberikan untukku di masa tuaku. Mengapa kalian tak bisa memperlihatkan kepadaku perihal krusial dan mendesaknya kebutuhan; kematian ini begitu dekat denganku.”
Kemudian, ia mengibaskan surbannya, menyendiri, lalu meminta izin kepada kaumnya untuk fokus beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak melibatkan diri dalam percaturan kekuasaan, hingga meninggal.
Sinyal-sinyal dari kerentaan usia, yang sekaligus merupakan salah satu indikasi dari dekatnya seseorang akan kematian, kerap hadir di hadapan kita.
Misalnya, anak-cucu yang sudah beringsut dewasa, kulit yang sudah mengeriput, gigi yang sudah mulai tanggal satu demi satu, tulang mengalami osteoporosis yang selanjutnya mengakibatkan nyeri, menurunnya daya pendengaran, indra pengecap, dan daya ingat (memori). Demikian pula dengan tumbuhnya uban di bulu-bulu kita.
Melalui narasi di atas, bagaimana Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, begitu cerdas menangkap sinyal-sinyal kematian itu dengan hadirnya uban di jenggotnya.
Maka, berbahagialah kita yang tersadarkan dengan segenap fase kehidupan yang mau tidak mau mesti kita jalani, sehingga babak kehidupan kita pun berakhir dengan indah. Sebaliknya, hati-hatilah, jika semua itu sama sekali tidak menorehkan keinsyapan pada kita, sehingga “makin tua justru makin jadi”.
Allah berfirman: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54).
Sedang, Nabi SAW bersabda: “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam, walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR Ibnu Hibban).
Gemerlap jabatan dan kekuasaan (al-jah) memang acap kali meninabobokan manusia, sehingga dia bebal untuk mengingat kematian. Itulah sebabnya mengapa banyak guru spiritual mewanti-wanti agar seseorang tidak tersandung dalam jebakan ini.
Bahwa, kekuasaan juga merupakan wahana bagi sang hamba untuk lebih banyak beramal saleh memang benar. Tapi, banyak tokoh politik dan pemimpin terkapar di dalamnya adalah fakta yang sulit dibantah, sehingga dia terpasung dalam janji-janji muluk yang diikrarkannya sendiri dan sifat amanah pun menjadi jauh sekali.
Sosok Iyas bin Qatadah sebagai pemimpin, moga bisa menginspirasi para tokoh politik kita, sehingga akhir hidupnya sungguh memesona, ia sukses dalam menjalin hubungan dengan sesama dan Rabb-nya
Kemudian, ia pun keluar menemui masyarakatnya, seraya berseru: “Wahai kaum Bani Tamim, aku sungguh sudah memberikan masa mudaku untuk kalian maka hendaknya kalian memberikan untukku di masa tuaku. Mengapa kalian tak bisa memperlihatkan kepadaku perihal krusial dan mendesaknya kebutuhan; kematian ini begitu dekat denganku.”
Kemudian, ia mengibaskan surbannya, menyendiri, lalu meminta izin kepada kaumnya untuk fokus beribadah kepada Rabb-nya, dan tidak melibatkan diri dalam percaturan kekuasaan, hingga meninggal.
Sinyal-sinyal dari kerentaan usia, yang sekaligus merupakan salah satu indikasi dari dekatnya seseorang akan kematian, kerap hadir di hadapan kita.
Misalnya, anak-cucu yang sudah beringsut dewasa, kulit yang sudah mengeriput, gigi yang sudah mulai tanggal satu demi satu, tulang mengalami osteoporosis yang selanjutnya mengakibatkan nyeri, menurunnya daya pendengaran, indra pengecap, dan daya ingat (memori). Demikian pula dengan tumbuhnya uban di bulu-bulu kita.
Melalui narasi di atas, bagaimana Iyas bin Qatadah, pemimpin Bani Tamim, begitu cerdas menangkap sinyal-sinyal kematian itu dengan hadirnya uban di jenggotnya.
Maka, berbahagialah kita yang tersadarkan dengan segenap fase kehidupan yang mau tidak mau mesti kita jalani, sehingga babak kehidupan kita pun berakhir dengan indah. Sebaliknya, hati-hatilah, jika semua itu sama sekali tidak menorehkan keinsyapan pada kita, sehingga “makin tua justru makin jadi”.
Allah berfirman: “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54).
Sedang, Nabi SAW bersabda: “Janganlah mencabut uban karena uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam, walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu derajat.” (HR Ibnu Hibban).
Gemerlap jabatan dan kekuasaan (al-jah) memang acap kali meninabobokan manusia, sehingga dia bebal untuk mengingat kematian. Itulah sebabnya mengapa banyak guru spiritual mewanti-wanti agar seseorang tidak tersandung dalam jebakan ini.
Bahwa, kekuasaan juga merupakan wahana bagi sang hamba untuk lebih banyak beramal saleh memang benar. Tapi, banyak tokoh politik dan pemimpin terkapar di dalamnya adalah fakta yang sulit dibantah, sehingga dia terpasung dalam janji-janji muluk yang diikrarkannya sendiri dan sifat amanah pun menjadi jauh sekali.
Sosok Iyas bin Qatadah sebagai pemimpin, moga bisa menginspirasi para tokoh politik kita, sehingga akhir hidupnya sungguh memesona, ia sukses dalam menjalin hubungan dengan sesama dan Rabb-nya
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
August 21, 2014
posted by @Adimin
Siapa Yang Gila . . . . .
Written By @Adimin on 21 August, 2014 | August 21, 2014
Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh,
karena persis jam 22.00 terdengar azan berkumandang dari sebuah mushalla
setempat lewat pengeras suara yang
berbunyi seperti suara oplet rusak.
Suara pengumandang azan yang tak kalah
gontai membuat warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski
mereka sudah tahu siapa yang melakukannya: Aki Dadang, yang umurnya
sudah menembus kepala 7. Yang membuat kepala warga dipenuhi pertanyaan:
mengapa Aki Dadang azan pada jam sepuluh malam?
Ketika warga sampai di pintu mushalla, Aki Dadang baru selesai azan dan mematikan sound system.
“Aki tahu jam berapa sekarang? ” cecar Pak RT sambil menunjuk jam dinding mushalla.
“Azan apa jam segini, Ki?”
“Jangan-jangan Aki sudah ikut aliran sesat,” sambar Mang Engkus dengan nada prihatin. “Sekarang banyak banget aliran macam-macam. Bahaya kalau kampung kita sudah kena.”
“Ah, dasar aki Dadang sudah gila,” sahut Joni, mantan preman yang sudah mulai insaf dan berusaha menghilangkan tato di pangkal lengannya dengan setrika panas. “Kalau nggak gila, mana mungkin azan jam segini?” sambungnya sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya ke arah warga yang riuh berkomentar macam-macam mengomentari laku aneh Aki Dadang.
“Kalian ini …,” jawab Aki Dadang tenang. “Tadi waktu saya azan Isya, nggak satu pun yang datang kemari. Sekarang saya azan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi. Siapa yang gila, coba?”
Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Aki Dadang
“Aki tahu jam berapa sekarang? ” cecar Pak RT sambil menunjuk jam dinding mushalla.
“Azan apa jam segini, Ki?”
“Jangan-jangan Aki sudah ikut aliran sesat,” sambar Mang Engkus dengan nada prihatin. “Sekarang banyak banget aliran macam-macam. Bahaya kalau kampung kita sudah kena.”
“Ah, dasar aki Dadang sudah gila,” sahut Joni, mantan preman yang sudah mulai insaf dan berusaha menghilangkan tato di pangkal lengannya dengan setrika panas. “Kalau nggak gila, mana mungkin azan jam segini?” sambungnya sambil menyilangkan jari telunjuk di keningnya ke arah warga yang riuh berkomentar macam-macam mengomentari laku aneh Aki Dadang.
“Kalian ini …,” jawab Aki Dadang tenang. “Tadi waktu saya azan Isya, nggak satu pun yang datang kemari. Sekarang saya azan jam 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi. Siapa yang gila, coba?”
Warga pun ngeloyor pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang melipir menjauh, perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Aki Dadang
posted by @Adimin
Label:
HUMOR,
TOPIK PILIHAN
August 21, 2014
posted by @Adimin
Prabowo : Becik Ketitik Ala Ketara
Calon presiden Prabowo Subianto menuliskan pepatah dalam bahasa Jawa
"Becik ketitik ala ketara" yang berarti segala sesuatu yang baik dan
buruk akan tampak, melalui akun Twitter-nya yang terverifikasi
@Prabowo08, Rabu.
"Becik ketitik ala ketara," tulis Prabowo dalam akun Twitter-nya, yang dikutip di Jakarta, Rabu malam.
Tidak diketahui pasti apa maksud mantan Danjen Kopassus itu
menuliskan pepatah Jawa tersebut. Tetapi yang jelas pepatah itu
dituliskannya menjelang sidang pembacaan putusan gugatan Pilpres oleh
Mahkamah Konstitusi, Kamis (21/8) besok.
Prabowo bersama pasangannya Hatta Rajasa dikabarkan tidak akan
menghadiri sidang putusan MK besok. "Menurut rencana, capres dan
cawapres (Prabowo-Hatta) absen di MK," ujar staf Hatta Rajasa, Fahmi,
saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu malam.
Fahmi mengaku belum menerima informasi apakah besok Prabowo-Hatta
akan berkumpul dengan petinggi partai koalisi atau menanti putusan MK di
kediaman masing-masing
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN





