Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
October 20, 2014
Menjadi Pemalu di Era Global
Written By Sjam Deddy on 20 October, 2014 | October 20, 2014
Jika seseorang mempunyai rasa malu maka hidupnya akan memperhatikan batasan yang berhubungan antara dirinya dan orang lain
APA jadinya jika manusia tidak mempunyai rasa malu?
Pastilah kebaikan akan lenyap seiring dengan banyaknya keburukan, karena
manusia bebas berbuat sesuai dengan kehendaknya.
Rasa malu tiada lain akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan,
karena rasa malu adalah hal positif bagi setiap insan. Karena itu, jika
semua manusia tidak malu lagi melakukan kemaksiatan dan tak takut lagi
melakukan kejahatan, pastilah kebinasaan dan penderitaan banyak orang.
Hilangnya rasa malu bisa kita temukan di sekeliling kita. Dewasa ini
ramai-ramai orang berbuat sesuatu atas nama kebebasan tanpa
memperhatikan rasa malu. Sebagai contoh, saat seseorang menyetel
televisi atau bermain musik sambil bernyanyi dengan suara kencang hingga
suaranya mengganggu tetangganya, perilaku seperti ini semata-mata
berdalilkan kebebasan karena televisi, radio, DVD atau alat musik itu
milik pribadi dan bukan milik tetangganya. Ia melakukan hal seperti itu
seolah sah, meski sudah menganggu dan menyinggung ketenangan tetangga.
Padahal, kebebasan kita terbatasi dengan kebebasan orang lain dan
tetangga.
Ibnu Kholdun mengatakan: “Kebebasan seseorang bisa menjadi terbatas dengan adanya kebebasan orang lain.”
Bebas belum tentu merdeka, akan tetapi merdeka sudah pasti bebas,
maka jadilah orang yang merdeka yaitu orang yang mengerti akan arti
kebebasan yang positif. Saat seseorang bersendirian bisa saja ia merasa
bebas dan bisa berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya sehingga
inilah yang diartikan kebebasan, namum jika sudah bergesekan dengan
kebebasan orang lain, maka sifat kebebasan itu menjadi terbatas, artinya
kebebasan kita jangan sampai mengganggu kebebasan orang lain, dalam
bahasa sederhana yang kita fahami adalah belajar memahami toleransi,
orang yang toleran adalah orang yang merdeka dan memerdekakan orang
lain.
Jika seseorang mempunyai rasa malu maka hidupnya akan memperhatikan
batasan yang berhubungan antara dirinya dan orang lain. Jika ingin
berbuat atau melakukan sesuatu maka ia akan melihat dampak yang akan
menimpa dirinya dan juga orang lain. Rasa malu inilah yang sejatinya
menjadi rem seseorang dalam berprilaku dan bertutur kata.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.
“Rasa malu itu seluruhnya adalah kebaikan seluruhnya.” [HR. Muslim, Abu dawud, Al Haitsami dan Ahmad]
“Tujuh puluh lima cabang, yang utama ialah kalimat La ilaha
illallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalanan,
dan malu itu satu cabang dari iman.” [HR. Muslim]
Rasa malu juga merupakan warisan para nabi, “Di antara yang bisa diperoleh manusia dari pesan para nabi terdahulu adalah kalau engkau tidak malu, silakan berbuat sesukamu.” [HR. Bukhari]
Jenis Rasa Malu
Dalam Islam dikenal macam-maca rasa malu.
Pertama, malu dari AllahTa’ala:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla malu jika seorang hamba
membentangkan kedua tangannya kepada-Nya seraya meminta kebaikan, lalu
ditolaknya dengan sia-sia.” [HR. Ahmad]
Kedua, malunya Rasulullah:
“Rasulullah itu lebih pemalu daripada seorang gadis dalam pingitannya.” [HR. Muslim, Bukhari dan Ibnu Hibban]
Rasa malu yang dimiliki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamadalah rasa malu melakukan kesalahan dan maksiat.
Ketiga, malunya seorang pemuda tampan pada Allah Ta’ala:
Firman Allah ta’ala di surat Yusuf ayat 23 :
وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ
الأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّهِ إِنَّهُ رَبِّي
أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita (Istri Al-Aziz) yang Yusuf tinggal di rumahnya
menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup
pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku
berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan
baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan beruntung.”
Keempat, malu ala gadis desa:
Firman Allah Ta’ala di surat Al Qashash ayat 25 :
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita
itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil
kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum
(ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan
menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata:
“Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim
itu.”
Kelima, malu kepada orang yang sudah meninggal:
Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasallam dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada Umar.” [HR: Ahmad]
Ummul Mu’minin ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Saya masuk ke dalam rumahku di mana Rasulullah Shallallau ‘alaihi wasallam dikubur di dalamnya dan saya melepas baju saya. Saya berkata mereka berdua adalah suami dan ayahku. Ketika Umar dikubur bersama mereka, saya tidak masuk ke rumah kecuali dengan busana tertutup rapat karena malu kepada Umar.” [HR: Ahmad]
Keenam, malu yang terpuji:
Dicontohkan wanita kaum Anshar yang tidak terhalang oleh rasa malu
untuk mempelajari agama Allah Ta’ala khususnya dalam masalah fiqih
kewanitaan dan yang berhubungan dengan keluarga (mudah-mudahan Allah
Ta’ala memberikan rahmat kepada wanita Anshar).
Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk bertanya tentang masalah agama.” [Shahih al-Bukhari, kitab ilmu)
Ketujuh, malu yang kurang baik:
Ada sedikit cerita dan ini adalah kisah nyata yang menimpa rekan saya
atau mungkin juga pernah menimpa anda atau rekan Anda. Singkat cerita
ia pernah mengeluh akan piutang dari temannya yang enggan membayar
hingga waktu yang amat lama dan belum ada ucapan ‘’maaf’’ atau
pemberitahuan jika belum mampu melunasi hutang. Sayangnya, ia malu untuk
menagih.
Malu tapi malah mengeluh, justru menjadi kurang baik. Rasa malu
seperti inilah yang harus dihindarkan. Yang terpenting adalah cara
penyampaiannya yang sopan tanpa harus menyinggung perasaan apalagi
menyakiti hati si peminjam uang. Toh manusia adalah makhluk berakal yang
bisa disentuh dengan bahasa hati dan kelemahlembutan sekeras apapun
dia.
Delapan, malu untuk menunda kebaikan dan mencegah kemunkaran
Sejatinya memiliki rasa malu itu bisa mendukung manusia untuk terus
berbuat kebaikan dimanapun ia berada, rasa malu senantiasa akan
menjadikan manusia terpuji dan mulia.
Adapun untuk konteks kekinian rasa malu itu bisa mendorong : penguasa
untuk adil, menteri untuk tunduk pada atasan dan bekerja maksimal,
anggota dewan menjadi tauladan bagi rakyat, elit politik bersatu
membangun negeri tanpa saling menjatuhkan satu sama lainnya.
Mau seperti ini akan menjadikan penegak hukum lebih amanah, pegawai
lebih disiplin, rakyat bersatu dan turut berperan aktif dalam membangun
negeri, orang kaya menjadi lebih peka dan gemar berbagi, pedagang
menjadi lebih jujur, wartawan lebih obyektif, dan menjadikan manusia
senantiasa berbuat baik
Nah, semoga rasa malu bisa menjadikan kita untuk menyegerakan kebaikan
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra
posted by @Adimin
Label:
OASE,
TOPIK PILIHAN
October 20, 2014
Imam Bukhari dan Uang Seribu Dinar
Apakah lebih baik saya kehilangan mutiara (Hadits Nabi) yang telah saya
kumpulkan sepanjang hidup daripada sejumlah uang dinar yang tidak
seberapa?
IMAM Bukhari (semoga Allah merahmatinya) suatu ketika menempuh rihlah (perjalanan) ilmiah dengan menaiki kapal laut untuk mencari Hadits. Beliau membawa uang sebesar seribu dinar.
Ada salah satu penumpang berusaha mengambil hati Imam Bukhari dengan
menunjukkan kepadanya cinta dan kekaguman. Selama perjalanan itu,
laki-laki itu sering duduk bersama untuk menemani sang Imam.
Dalam perjalanan yang panjang, persahabatan biasanya tumbuh lebih
cepat dari biasanya, dan selama perjalanan itu mereka meluangkan waktu
bersama-sama. Lalu Imam Bukhari memberitahu laki-laki itu bahwa ia
membawa uang sebesar seribu dinar.
Keesokan harinya, setelah bangun pria itu menangis, menjerit,
merobek-robek pakaiannya, dan menampar wajahnya sendiri, seolah-olah ia
baru saja mengalami musibah besar.
Seorang rekan perjalanannya bertanya padanya apa yang telah terjadi.
Pada awalnya ia tidak mau menjawab, seolah-olah ia masih mengalami
kegoncangan jiwa dan tidak mampu memberitahukan keadaannya. Setelah
mereka terus menerus mendesaknya akhirnya dia berkata, “Aku punya tas
berisi seribu dinar, dan tas itu hilang.”
Para awak kapal mulai mencari. Satu per satu penumpang digeledah.
Menyadari apa yang terjadi, setelah yakin tidak ada yang melihatnya,
Imam Bukhari melemparkan tas miliknya yang berisi uang dinar ke laut.
Ketika tiba gilirannya untuk digeledah, awak kapal tidak menemukan
tas yang dicari pada dirinya. Ketika seluruh bagian kapal dan semua
penumpang digeledah tas itu tidak ditemukan. Seorang dari awak kapal
yang berwenang kembali kepada laki-laki yang telah mengarang cerita itu.
Dia menegurnya untuk tidak membuat klaim palsu dan untuk tidak membuat
masalah. Begitu kapal tiba di pantai para penumpang turun. Sementara
itu, laki-laki itu datang kepada Imam Bukhari dan menanyakan tasnya.
“Aku melemparkannya ke laut,” jawab Imam Bukhari terus terang.
“Dan Anda sabar menerima kenyataan Anda baru saja kehilangan uang sebanyak itu?” tanya laki-laki dengan bingung.
“Oh begitu bodohnya,” kata Imam Bukhari.
“Tidak tahukah Anda, saya telah menghabiskan waktu seluruh hidup
untuk mengumpulkan Hadits Rasulullah (Sallalaahu alaihi wa Sallam) dan
dunia sekarang mengakui sifat amanah saya. Lalu apakah pantas bagi saya
untuk mendapatkan tuduhan pencurian? Dan apakah lebih baik saya
kehilangan mutiara yang berharga (Hadits Nabi) yang telah saya kumpulkan
sepanjang hidup daripada sejumlah uang dinar yang tidak seberapa?
(dari Siiratul Bukhari, Al-Mubaarakfuurii, hal 143-144).
posted by @Adimin
Label:
KISAH,
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
October 19, 2014
posted by @Adimin
Jazuli Juwaini Diamanahkan Jadi Ketua Fraksi PKS DPR RI
Written By Sjam Deddy on 19 October, 2014 | October 19, 2014
Anggota Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dari daerah pemilihan (dapil) Banten III Jazuli
Juwaini diamanahkan sebagai Ketua Fraksi PKS DPR RI periode 2014-2019
menggantikan Hidayat Nur Wahid yang terpilih sebagai Wakil Ketua Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Demikian keterangan dari Hidayat Nur
Wahid langsung, setibanya ia di tanah air dari Geneve, Swiss, usai
menghadiri Sidang Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-131, Sabtu (18/10).
Menurut Hidayat, penunjukan Jazuli berdasarkan hasil musyawarah pimpinan partai di tingkat pusat. "Penugasan kepada Pak Jazuli didasarkan karena pengalaman beliau yang sebelumnya telah dua periode di DPR dan juga aspek kepemimpinan yang menonjol," ujar Hidayat.
Hidayat meyakini, Jazuli yang juga dikenal sebagai mubaligh ini akan mampu mengawal suara rakyat yang dititipkan ke PKS pada Pemilu Legislatif (pileg) April 2014 lalu. "Fraksi PKS di bawah kepemimpinan Pak Jazuli pastinya akan tetap aspiratif, memperjuangkan hak-hak dasar rakyat dan insyaAllah makin menonjol mengingat ia juga adalah sosok yang dekat dengan masyarakat dan sering muncul di media," ujar Hidayat.
Kelengkapan pimpinan fraksi lainnya seperti wakil ketua, sekretaris dan bendahara, menurut Hidayat akan dimusyawarahkan secepatnya di FPKS sendiri.
Menurut Hidayat, penunjukan Jazuli berdasarkan hasil musyawarah pimpinan partai di tingkat pusat. "Penugasan kepada Pak Jazuli didasarkan karena pengalaman beliau yang sebelumnya telah dua periode di DPR dan juga aspek kepemimpinan yang menonjol," ujar Hidayat.
Hidayat meyakini, Jazuli yang juga dikenal sebagai mubaligh ini akan mampu mengawal suara rakyat yang dititipkan ke PKS pada Pemilu Legislatif (pileg) April 2014 lalu. "Fraksi PKS di bawah kepemimpinan Pak Jazuli pastinya akan tetap aspiratif, memperjuangkan hak-hak dasar rakyat dan insyaAllah makin menonjol mengingat ia juga adalah sosok yang dekat dengan masyarakat dan sering muncul di media," ujar Hidayat.
Kelengkapan pimpinan fraksi lainnya seperti wakil ketua, sekretaris dan bendahara, menurut Hidayat akan dimusyawarahkan secepatnya di FPKS sendiri.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
October 17, 2014
posted by @Adimin
PKS Tidak Akan Interupsi Saat Pelantikan Jokowi
Written By Sjam Deddy on 17 October, 2014 | October 17, 2014
Politisi Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan melakukan interupsi saat sidang
paripurna MPR pelantikan Joko Widodo. Menurut Sekretaris Fraksi PKS
Abdul Hakim pelantikan presiden merupakan forum terhormat.
"Sebaiknya untuk forum tersebut tidak perlu. Karena hanya pelantikan dan pengucapan sumpah. Tidak elok," kata Abdul Hakim di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (16/10/2014).
Hakim lalu menegaskan bahwa dalam sidang paripurna tersebut dihadiri tamu dari luar negeri. Sehingga tidak elok bila anggota MPR melakukan interupsi.
"Ini dilihat bukan saja bangsa kita tapi negara lain juga memberikan perhatian. Tunjukkan kita mengedepankan etika dan nilai luhur," ujar Abdul Hakim.
Tanpa instruksi, Hakim menegaskan anggota fraksi PKS dipastikan akan hadir dalam pelantikan Jokowi pada 20 Oktober 2014.
"Sebaiknya untuk forum tersebut tidak perlu. Karena hanya pelantikan dan pengucapan sumpah. Tidak elok," kata Abdul Hakim di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (16/10/2014).
Hakim lalu menegaskan bahwa dalam sidang paripurna tersebut dihadiri tamu dari luar negeri. Sehingga tidak elok bila anggota MPR melakukan interupsi.
"Ini dilihat bukan saja bangsa kita tapi negara lain juga memberikan perhatian. Tunjukkan kita mengedepankan etika dan nilai luhur," ujar Abdul Hakim.
Tanpa instruksi, Hakim menegaskan anggota fraksi PKS dipastikan akan hadir dalam pelantikan Jokowi pada 20 Oktober 2014.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
October 16, 2014
posted by @Adimin
Humas Tidak Sekadar Public Relation, Namun Juga Lahan Perjuangan Kader
Written By Sjam Deddy on 16 October, 2014 | October 16, 2014
Humas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) harus mengoptimalkan segenap
kemampuannya untuk memberikan pelayanan optimal terhadap masyarakat.
Humas tidak hanya sekadar sebagai public relation, namun Humas
juga sebagai lahan perjuangan kader. Demikian disampaikan Ketua Bidang
Koordinasi Humas Dewan Pengurus Pusat PKS, Mardani Ali Sera, Jumat
(10/10/2014) malam.
“Semua bidang kehumasan harus siap. Relawan digital, PKS TV,
fotografi dan kepenulisan semuanya siap, agar dakwah kokoh di
Indonesia,” katanya di Pendopo Mahan Agung, Bandar Lampung.
Public Relation (PR) Summit, katanya, harus mampu
menyusun dan menghasilkan suatu strategi dan kebijakan yang dapat
mengokohkan peran dan kontribusi Humas. Ia berharap selepas PR Summit nanti, langkah Humas semakin mantap untuk mewujudkan negeri yang aman dan tenteram.
“Selepas PR Summit ini kita mantapkan langkah mewujudkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
October 16, 2014
posted by @Adimin
KMP Akan Dukung Program Jokowi-JK, Kecuali yang Bermasalah
Menanggapi
munculnya isu bahwa Koalisi Merah Putih (KMP) akan menjegal pelantikan
Jokowi, dengan tegas Anggota DPR Abubakar Al-Habsyi membantahnya.
“Nggak ada, sebab KMP akan mengantar Jokowi jadi Presiden dan kita di
DPR akan menjadi penyeimbang Pemerintah. Artinya selama kepemimpinan
Presiden Jokowi berjalan baik dan program-programnya bagus, kami pasti
mendukungnya. Kecuali ada catatan dan masalah. Di situlah peran
pengawasan, budgeting dan legislasi DPR,” tegasnya.
Dia kembali menyatakan keyakinannya bahwa pelantikan Presiden akan
berjalan dengan baik dan bersama jajaran kabinetnya dapat menjalankan
roda pemerintahan dengan baik pula.
Terkait dengan pemilihan Pimpinan Alat Kelengkapan Dewan (AKD), sudah
dimusyawarahkan dan akan diputuskan dalam rapat paripurna. Saat
ditanyakan apakah KMP akan sapu bersih pimpinan AKD di DPR, Abubakar
mengatakan, “Soal sapu bersih atau tidak, itu tergantung musyawarahnya,”
katanya.
Terkait dengan investasi yang sempat menurun di Indonesia setelah
Pemilu 2014, Abubakar mengatakan, respons negatif pasar atas gejolak
politik di dalam negeri sebagai hal yang wajar.
“Itu konsekuensi logis dari pasar. Pasar itu sangat mengikuti
perkembangan apakah politik, cuaca, alam, atau apapun. Saya melihat
sebagai hal yang wajar dan berjalan tidak akan lama,” katanya, seusai
mengikuti Rapat Pimpinan DPR dengan Pimpinan Fraksi-fraksi, Selasa
(14/10).
Menurut politisi Fraksi PKS ini, setelah pertemuan Pimpinan MPR, DPR
dan DPD yang mempersiapkan pelantikan presiden, perekonomian akan
berjalan normal lagi.
Lebih lanjut dikatakan, investor pertimbangannya panjang dan respons
pasar yang negatif hanya berlangsung sebentar. “Setelah Jokowi dilantik
sebagai Presiden 20 Oktober mendatang dan diumumkan komposisi menteri,
maka itu akan terlihat bagaimana reaksi pasar,” ujarnya optimistis.
posted by @Adimin
Label:
TOPIK PILIHAN
October 14, 2014
Fenomena Syuro Whatsapp
Written By Sjam Deddy on 14 October, 2014 | October 14, 2014
Zaman akan terus berjalan. Seiring itu sikap dan perilaku manusia pun terpengaruh olehnya.
Ada satu hal yang ingin saya kritisi tentang sebuah alat fenomenal di zaman ini. Alat yang sudah sangat akrab dengan kehidupan dan rutinitas para cucu adam dan hawa. Alat yang posisinya nyaris sama dengan kebutuhan pokok sehari-hari. Yap! Alat komunikasi atau handphone.
Dewasa ini mayoritas kader dakwah sudah akrab dengan smartphone dengan fitur-fitur yang mendukung untuk berjalannya komunikasi yang baik bahkan jika terbentang jarak sejauh apapun.
Tentu kecanggihan smartphone diharapkan mampu mendukung komunikasi antar kader dakwah dalam mengemban amanah nya.
Beriring waktu, saat ini sudah ada pula istilah syuro online dan syuro offline. Syuro offline adalah syuro yang dilakukan dengan cara bertemu dan duduk bersama. Sedang syuro online mereka memaknainya dengan syuro via whatsapp. Kenapa sampai ada syuro via whatsapp? Alasannya adalah selain karna sudah adanya fasilitas seperti itu dalam tiap telepon genggam, juga karna kesibukan yang membuat kalangan ini sulit bertemu. Begitu kurang lebih.
Ikhwah fillah, jika kita mau berkaca pada pergerakan atau perjuangan dakwah senior-senior kita di masa lampau dengan kinerja kita saat ini, mungkin akan lebih kita lihat kinerja mereka jauh lebih baik dari pada kita. Padahal di zaman tersebut belum ada fitur-fitur modern seperti yang ada dalam genggaman kita saat ini. Berbeda dengan kita, sedikit sibuk saja tak ada kekhawatiran dalam benak kita jika tak bisa menghadiri rapat atau yang sering kita sebut syuro. Alasannya adalah, hasil rapat nanti bisa di sampaikan via whatsapp. Lagi-lagi ada yang mengganggu perasaan saya dalam hal ini.
Beberapa kali terjadi dan mengamati, hal ini ternyata bukan mendukung kinerja kita, tapi justru memperumit keadaan. Tak jarang ketika hasil rapat secara ofline di siarkan ke whatsapp, beberapa orang bertanya bahkan sempat mengkritik. Jika demikian bukankah lebih baik turut menghadiri rapat? Kurang lebih seperti itu.
Hal kedua adalah, meskipun istilah syuro online ini sudah ramai terdengar di kalangan kader dakwah, masih saja ada yang tidak ikut serta atau bahkan hanya sekilas dibaca pendapat-pendapat yang di lontarkan dalam sebuah grup whatsapp. Tanpa berkomentar apapun.
Lagi-lagi mari kita berkaca pada awa-il dalam perjuangan ini. Mereka dengan segala keterbatasannya mampu berbuat banyak untuk ummat. Mereka dengan segala keterbatasannya tetap bersikap profesional dalam apapun. Dakwah ini tidak pernah menuntut kita. Hanya saja, mari kita belajar bersama-sama memaknai nya. Mungkin dalam hal ini penulis sendiri pun tak jarang melakukan hal yang sama. Tapi semoga tulisan ini sama-sama menjadi tadzkiroh bagi kita semua.
by @fifah_afifah_
Ada satu hal yang ingin saya kritisi tentang sebuah alat fenomenal di zaman ini. Alat yang sudah sangat akrab dengan kehidupan dan rutinitas para cucu adam dan hawa. Alat yang posisinya nyaris sama dengan kebutuhan pokok sehari-hari. Yap! Alat komunikasi atau handphone.
Dewasa ini mayoritas kader dakwah sudah akrab dengan smartphone dengan fitur-fitur yang mendukung untuk berjalannya komunikasi yang baik bahkan jika terbentang jarak sejauh apapun.
Tentu kecanggihan smartphone diharapkan mampu mendukung komunikasi antar kader dakwah dalam mengemban amanah nya.
Beriring waktu, saat ini sudah ada pula istilah syuro online dan syuro offline. Syuro offline adalah syuro yang dilakukan dengan cara bertemu dan duduk bersama. Sedang syuro online mereka memaknainya dengan syuro via whatsapp. Kenapa sampai ada syuro via whatsapp? Alasannya adalah selain karna sudah adanya fasilitas seperti itu dalam tiap telepon genggam, juga karna kesibukan yang membuat kalangan ini sulit bertemu. Begitu kurang lebih.
Ikhwah fillah, jika kita mau berkaca pada pergerakan atau perjuangan dakwah senior-senior kita di masa lampau dengan kinerja kita saat ini, mungkin akan lebih kita lihat kinerja mereka jauh lebih baik dari pada kita. Padahal di zaman tersebut belum ada fitur-fitur modern seperti yang ada dalam genggaman kita saat ini. Berbeda dengan kita, sedikit sibuk saja tak ada kekhawatiran dalam benak kita jika tak bisa menghadiri rapat atau yang sering kita sebut syuro. Alasannya adalah, hasil rapat nanti bisa di sampaikan via whatsapp. Lagi-lagi ada yang mengganggu perasaan saya dalam hal ini.
Beberapa kali terjadi dan mengamati, hal ini ternyata bukan mendukung kinerja kita, tapi justru memperumit keadaan. Tak jarang ketika hasil rapat secara ofline di siarkan ke whatsapp, beberapa orang bertanya bahkan sempat mengkritik. Jika demikian bukankah lebih baik turut menghadiri rapat? Kurang lebih seperti itu.
Hal kedua adalah, meskipun istilah syuro online ini sudah ramai terdengar di kalangan kader dakwah, masih saja ada yang tidak ikut serta atau bahkan hanya sekilas dibaca pendapat-pendapat yang di lontarkan dalam sebuah grup whatsapp. Tanpa berkomentar apapun.
Lagi-lagi mari kita berkaca pada awa-il dalam perjuangan ini. Mereka dengan segala keterbatasannya mampu berbuat banyak untuk ummat. Mereka dengan segala keterbatasannya tetap bersikap profesional dalam apapun. Dakwah ini tidak pernah menuntut kita. Hanya saja, mari kita belajar bersama-sama memaknai nya. Mungkin dalam hal ini penulis sendiri pun tak jarang melakukan hal yang sama. Tapi semoga tulisan ini sama-sama menjadi tadzkiroh bagi kita semua.
by @fifah_afifah_
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
posted by @Adimin
Kisah Orangtua yang Mendurhakai Anaknya
Written By Sjam Deddy on 10 October, 2014 | October 10, 2014
Datanglah kala itu seseorang bersama anaknya kepada Umar bin
Khaththab. Dengan segera, sesaat selepas bertemu, ia mengadukan perihal
anaknya, “Wahai Umar, anakku ini telah berlaku durhaka kepadaku.”
Guna mengetahui duduk persoalannya, anak al-Khaththab ini bertanya
kepada sang anak, “Apakah engkau tidak takut kepada Allah Swt karena
telah durhaka kepada bapakmu, hai anak muda?” Umar menerangkan bahwa
berbakti kepada orangtua adalah hak yang layak diterimanya karena mereka
telah mengurus sang anak.
Sang anak yang merasa dituduh itu menukasi, “Wahai Amirul Mukminin,” katanya sebagaimana disebutkan dalam Tanbihul Ghafilin yang dikutip oleh Ahmad al-Habsi dalam buku Ada Surga di Rumahmu, Mukjizat Orangtua Sempurnakan Suksesmu. Lanjut anak itu, “Bukankah anak juga memiliki hak atas orangtuanya?”
Sosok yang terkenal dengan al-Faruq (Pembeda antara yang baik dan
buruk) itu menjawab singkat, “Kamu benar.” Anak itu lantas melanjutkan,
“Apa sajakah hak-hak anak atas orangtuanya itu, wahai Amirul Mukminin?”
Sahabat yang sekaligus menantu Rasulullah Saw ini pun menjelaskan.
Bahwa hak anak atas orang tuanya adalah dipilihkan ibu yang baik
baginya, diberikan nama yang bagus dan diajarkan al-Qur’an kepadanya.
Tepat seketika setelah Umar menerangkan, sang anak sudah menyiapkan
jawabannya, lugas. Kata anak itu, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan
ibu yang baik untukku,” lanjutnya, “Ibuku adalah seorang budak yang
dibeli di pasar dengan harga 400 dirham.” Berarti, hak pertama yang
disampaikan oleh Umar, telah dilanggar oleh ayahnya.
Tentang hak bahwa anak berhak diberikan nama yang baik, ia
melanjutkan pembelaannya, “Ia juga tidak memberikan nama yang baik
kepadaku. Dia menamaiku Ju’al.” Makna dari Ju’al adalah sejenis kumbang yang hidupnya akrab dengan kotoran hewan. Aduhai, malangnya sang anak ini.
Kemudian, tentang hak ketiganya, ia memungkasi lirih, “Dia juga tidak
mengajarkan al-Qur’an kepadaku, kecuali satu ayat saja.” Akhirnya,
semuanya jelas sudah.
Selepas pengakuan sang anak, Umar langsung menoleh kepada sang ayah,
kemudian menyampaikan, agak keras, “Kau bilang anakmu telah
mendurhakaimu?!” Hentinya sesaat, lantas melanjutkan, “Padahal, kau
telah mendurhakai anakmu sebelum ia mendurhakaimu.”
Bagi seorang anak, kisah ini adalah sebuah pengingat. Bahwa kelak, ia
juga akan menjadi orangtua. Maka, belajar amatlah penting agar tak
tergelincir karena ketiadaan ilmu. Dengan adanya ilmu, bahagia adalah
jaminan bagi seorang individu. Tentu, ini juga bukan sebuah “tiket” bagi
anak untuk menggugat orangtuanya. Sebab bisa jadi, banyak orangtua yang
tidak mengetahui, sehingga perlu diingatkan.
Bagi para orangtua, inilah ajaran yang mesti diamalkan sebelum
menuntut apa pun dari anak-anak kita. Sebab, alangkah meruginya ketika
dalam hisab kelak kita mengadu kepada Allah Swt bahwa anak-anak telah
mendurhakai kita, sementara ternyata, kita sudah terlebih dahulu
mendurhakai anak-anak kita itu
posted by @Adimin
Label:
Keluarga,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
posted by @Adimin
Keseimbangan Politik Membuat Dialektika Demokrasi yg Sehat
Presiden Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta mengatakan bersama Koalisi Merah
Putih (KMP), partainya berkomitmen membangun keseimbangan dalam
pemerintahan lewat kerja-kerja legislatif yang aspiratif. Saat ini,
tambah Anis, sebagai bangsa yang besar Indonesia membutuhkan "big minds" (pemikiran-pemikiran besar) dan kolaborasi untuk membangun bangsa yang kuat.
"Keseimbangan bukanlah sesuatu yang statis, keseimbangan politik
memastikan dialektika demokrasi yang sehat," tulis Anis dalam akun
twitternya @anismatta, Kamis (9/10).
Dialektika demokrasi di Indonesia sejak pemilihan legislatif,
pemilihan presiden hingga pembentukan pimpinan lembaga perwakilan,
menurut Anis, bermakna penting sebagai pelajaran demokrasi bagi bangsa
Indonesia.
Dia mengungkapkan, keseimbangan adalah suatu yang sunatullah. Allah
menciptakan alam semesta ini berpasang-pasangan untuk keseimbangan yang
berujung kemaslahatan. "Dengan keseimbangan politik yang dinamis,
demokrasi Indonesia akan tumbuh menjadi lebih kuat, Insya Allah,"
tegasnya.
Sementara itu, hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 pada PKS menurut
Anis, adalah hasil terbaik di tengah situasi yang penuh tantangan.
Perolehan 40 kursi yang sesuai dengan prediksi bawah, katanya bukan
hasil yang begitu saja "jatuh dari langit".
"Pada setiap kursi itu ada kerja keras, semangat, ketulusan dan doa
seluruh kader, simpatisan dan pemilih," ujarnya. Oleh karena itu, Anis
mengucapkan syukur dan terimakasihnya atas kepercayaan yang diberikan
kepada PKS untuk bersama-sama ikut memimpin lembaga legislatif, DPR dan
MPR setelah melalui proses yang intens.
PKS, tambah Anis, turut memberikan apresiasi kepada Ce Popong yang
telah berhasil memimpin sidang pertama yang sangat hangat. "Pengalaman
dan gaya komunikasi yang pas, Ce Popong telah menjadi batu penjuru yang
ikut menentukan wajah politik ke depan," imbuhnya.
Anis juga memberikan selamat kepada para pimpinan DPR dan MPR yang baru saja terpilih.
"Selamat menjalankan tugas memimpin MPR kepada saudara Zulkifli
Hasan, Hidayat Nur Wahid, Mahyudin, EE Mangindaan, dan Oesman Sapta juga
kepada saudara Setya Novianto, Fadli Zon, Agus Hermanto, Taufik
Kurniawan dan Fahri Hamzah yang akan mengawal aspirasi rakyat selaku
pimpinan DPR," pungkasnya
posted by @Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
posted by @Adimin
Gerhana Bulan, Perbanyak Istighfar dan Perbarui Taubat
pkspadang.com : Ketua Bidang
(Kabid) Kaderisasi Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP
PKS) KH. Musyaffa Ahmad Rahim mengimbau seluruh kader PKS khususnya dan
umat Islam umumnya, untuk perbanyak istighfar dan memperbarui taubat
karena adanya peristiwa gerhana bulan yang diprediksi akan terjadi pada
sore hari ini, Rabu (8/10). Diperkirakan gerhana bulan terjadi pada
kisaran mulai pukul 16.14 WIB.
"Dengan peristiwa ini, kita harus memperbanyak istighfar, memperkuat
dan memperbarui taubat serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,"
katanya di Jakarta, Rabu (8/10).
Musyaffa mengatakan dari peristiwa gerhana bulan ini, umat Islam
dapat mengambil hikmah bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya.
"Sebagaimana Allah SWT berkuasa menjadikan "tiga benda angkasa" ini
(bulan, bumi, matahari) berjalan pada garis edarnya masing-masing,
sehingga tidak terjadi tabrakan atau benturan," paparnya. Dia
menambahkan bahwa Allah SWT yang Maha Kuasa bisa saja menjadikan tiga
benda angkasa tersebut saling bertubrukan dan saling bertabrakan, dan
itu artinya, peristiwa kiamat itu mudah saja bagi Allah SWT.
Lebih lanjut Musyaffa menjelaskan dalam Islam ketika terjadi gerhana,
maka disunahkan untuk shalat gerhana. "Shalat gerhana memiliki hikmah
bahwa umat muslim berkumpul dalam ketaatan kepada Allah SWT, menerima
arahan serta taujih dan tadzkirah imaniyah dari khatib. Juga mendekatkan
diri, bertaqarrub ilallah," tuturnya. Menurutnya, Jika justru
yang terjadi adalah adzab atau bahkan kiamat, maka saat adzab dan kiamat
terjadi, umat muslim yang menunaikan sunah nabi shalat gerhana, sedang
dalam keadaan berkumpul dalam istighfar, bertaubat, bermunajat dan
shalat.
"Sehingga meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah," ujarnya.
Menyikapi peristiwa alam ini, Bidang Kaderisasi DPP PKS selain
memberi arahan kepada kader PKS, juga mengadakan shalat gerhana yang
akan diselenggarakan pada pukul 18.00 WIB.
"Shalat akan dimulai pukul 18.00 WIB sekira selesai pelaksanaan
shalat maghrib berjamaah, insya Allah akan bertindak sebagai Imam Ustad
Bagus Ferry Al-Hafiz dan khatib Ustad Iman Santoso, Lc. Al Hafiz,"
pungkasnya.
posted by @Adimin
Label:
Bingkai Berita,
OASE,
TOPIK PILIHAN
October 10, 2014
“Belanda Hitam” dan Fenomena Neo KNIL
Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi ‘tangan kanan asing’ dan
rela menjual dan menggadaikan Negererinya kepada pihak asing
DALAM setiap penjajahan selalu ada dari orang-orang bumi putera yang membantu dan melayani sang penjajah, termasuk di Indonesia.
Tidak mungkin Belanda negara yang begitu kecil dan sedikit
penduduknya bisa menjajah Indonesia ratusan tahun, tanpa bantuan
pribumi. Termasuk pasukan militer Belanda jaman dahulu seperti KNIL,
banyak menggunakan orang-orang Indonesia sendiri yang menjadi anggotanya
dan siap bertempur melawan saudaranya sendiri.
Fenomena seperti ini nampak masih berjalan meski kita sudah merdeka
hampir 70 tahun lamanya. Banyak warga Indonesia sendiri justru menjadi
‘tangan kanan asing’ dan rela menjual dan menggadaikan Negererinya
kepada pihak asing.
Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai sedemikian hebatnya sang
penjajah menggunakan tenaga manusia yang berasal dari negara jajahannya
sendiri?
KNIL singkatan dari Koninklijk Nederlands Indische Leger adalah tentara kerjaan Hindia Belanda yang melayani dan membantu Pemerintahan Hindia Belanda.
KNIL, lebih tepatnya serdadu belanda yang terdiri dari orang-orang
belanda, tentara bayaran dan sewaan dari negara lain serta warga pribumi
(Indonesia).
Tahun 1936 jumlah pribumi yang menjadi tentara KNIL mencapai 33 ribu
orang atau sekitar 77%. Tentu tidak mudah begitu saja diterima sebagai
tentara KNIL karena akan ditugaskan berperang melawan saudara
sebangsanya sendiri. Karena itulah harus melalui proses cuci otak dan
seleksi yang ketat, agar tidak terjadi senjata makan tuan.
Rupanya perkembangan zaman tidak membuat paradigma KNIL ini menjadi
lapuk. Bahkan sekarang ini kita dapatkan orang berlomba-lomba untuk
menjadi “Neo KNIL” dengan iming-iming materi, gengsi dan kehormatan,
mereka yang hari ini mentalitasnya Budak Penjajah justru merasa bangga
menjadi “Londo Ireng” (The Zwarte Hollanders/Belanda Hitam). Di
Negeri yang budaya feodalis belum hilang seperti ini, atribut materi,
pangkat, jabatan dan kedudukan menjadi supermasi. Jangan heran kalau
para budak penjajah menempati kedudukan yang terhormat di tengah-tengah
masyarakat feodal seperti ini.
Untuk itu marilah kita lihat seperti apa mentalitas Neo KNIL itu saat ini.
1. Inferior
Di antara mental seorang budak yang paling menonjol adalah mental
inferior (Rendah Diri). Merasa tidak punya apa-apa, tidak bisa apa,
tidak bisa berdiri dikaki sendiri, merasa belum siap untuk merdeka,
hanya dengan bantuan majikan merasa bisa hidup. Maka penghormatan kepada
majikan kaum imperialis sangat berlebihan semantara melihat bangsanya
sendiri penuh dengan kehinaan.
Indikator yang paling mencolok adalah ketidak mampuan mereka melihat
kejahatan majikan yang sedemikian jelasnya, sehingga tidak bisa
mengkritisi majikan, mungkin karena sudah banyak diberikan roti dan
keju. Sementara terhadap saudara sebangsanya sendiri sangat sinis,
terutama kepada para pejuang yang ingin memerdekakan bangsa ini dari
berbagai bentuk penjajahan.
Indikator lainnya adalah pembelaan kepada sang majikan kaum imprialis
sangat berlebihan dan over acting seperti orang yang sedang mencari
muka.
Padahal roti dan keju yang diberikan oleh majikan adalah hasil
rampasan dari berbagai kekayaan Negara si jongos tersebut. Tapi yang
namanya sudah mental budak tidak mau tahu, yang penting perut kenyang
bantuan dari majikan.
Kita juga menyaksikan apabila si jongos ketemu dengan si majikan
bahasa tubuhnya tidak bisa disembunyikan, terlihat dengan jelas mental
jongosnya, dengan membungkukkan badannya, sambil tangannya memegang
bagian bawah dekat kemaluanya. Saat terjadi dialog maka satu kata yang
haram keluar dari mulut si jongos tadi adalah kata “tidak”. Apa saja
yang diinginkan oleh simajikan harus dijawab dengan “Inggiih”
2. Shock Culture
Sifat Inferior membawa dampak seseorang menjadi sering norak atau
katro. Melihat kemajuan material, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di
kecuali harus ikut apa majikan kalau mau maju. Saat itulah otak menjadi
beku, kreatifitas mandeg, yang ada cuma copy paste, ikut, nurut, nunut, manut, ngekor, ngintil, jiplak, ngepek
seperti kerbau yang negara-negara imperialis semakin merasa tidak
berdaya lagi. Seolah tidak ada pilihan lain sudah cicocor hidungnya,
ditarik kemana saja mau ikut.
Menjadi tolak ukur kemajuan kalau dalam kesehariannya jika sudah bisa
mengikuti pola dan gaya hidup barat. Juga menjadi naik status sosialnya
jika bisa menyelenggarakan berbagai event, termasuk pesta perkawinan
dan seremonial laiinya dengan “Gaya Londo”. Kalau perlu anak dijadikan
obyek untuk meningkatkan status social orang tuanya melalui pesta
pernikahan tersebut. Belum lagi hari-hari yang dianggap besar, seperti
tahun baru, valentine day, april mop dan pesta-pesta lainnya, maka
berlomba-lombalah si Belanda Hitam untuk memamerkan atraksi ke”Norak”annya dengan sangat PD nya.
Semakin norak lagi dengan bangganya memamerkan hasil fikirannya yang
tidak lain cuma hasil jiplakan punya majikannya, tetapi merasa hasil
karyanya sendiri. Memang diantara ciri khas budak ialah tidak merasa
bahwa dirinya sedang diperbudak. Dengan bangganya mengabdi pada majikan
yang dianggap punya jasa besar terhadap dirinya.
3. Komprador Volunteer
Ketika noraknya sudah sedemikian rupa, sampai ia siap menjadi tenaga
sukarelawan untuk mempromosikan barang dagangan majikannya. Mulai dari
gaya hidup, budaya, seni, makanan, minuman, pakaian, assesoris, symbol,
lambing atribut dan sebagainya. Dengan media informasi yang dimiliki
majikannya, menjadi laris manis dagangan yang dijualnya. Jadilah bangsa
ini menjadi sangat konsumeris dan pengimpor besar barang-barang asing.
Rupiah terus anjlog terutama terhadap mata uang Negara-negara
Imperialis. Ekonomi tidak stabil, inflasi semakin tinggi. Pengangguran
semakin banyak. Produk asing semakin tidak terbendung, mulai dari
teknologi tinggi sampai tusuk gigi. Negara ini isinya 2/3 lautan tapi
garam bisa import dan tidak merasa malu. Tempe tahu kecap makanan
rakyat, tapi 80% kedelenya Impor.
Mereka-mereka yang berhasil mengimpor produk-produk asing terutama
seni dan budaya, bisa bertengger di papan atas, seperti pahlawan
lagaknya, karena berhasil mempekenalkan budaya asing ke tengah-tengah
anak bangsa ini. Sementara milyaran uang terus terkuras keluar, karena
kesukaannya terhadap produk-produk asing. Sementara kerusakan moral
akibat dari budaya Import tersebut sudah sedemikian besar, tidak bisa
dihitung lagi dampak kerugiannya.
Diantara ciri seni dan budaya Negara-negara Imprialis adalah
Kebebasan berekspresi kebinatangan atau mengumbar syahwat. Atas nama Hak
Asasi dan Kebebasan, ekspresi mereka tidak bisa dilarang. Karena nanti
akan dituduh Anti HAM dan akan diadukan kemajikannya. Sekarang ini
organisasi atau club-club yang menjadi kaki tangan Imprialis berada di
papan atas. Dengan pongah, sombong serta bangganya mereka terus
menjajakan barang dagangan milik majikannya ke tengah-tengah masyarakat
pribumil.
Sementara mereka yang mempertahankan kedaulatan Negara, menjaga
rupiah jangan sampai anjlog, menjaga budaya bangsa agar jangan sampai
dirusak, mengingatkan anak bangsa agar mencintai produk dalam negeri,
akan dicap sebagai orang yang menghalangi kebebasan berekpresi, tidak
mengerti HAM dan sebagainya. Ribuan orang pribumi tewas mereka akan
seperti orang buta, gagu dan budge, tidak bisa bicara. Tetapi andai satu
orang bule saja mati, maka geger dunia seperti kebakaran jenggot, media
gempar, ramai-ramai si jongos imperialis itu juga ikut teriak-teriak,
sambil menyalahkan saudaranya sendiri sesama pribumi.
4. Raja Tega
Seorang tentara KNIL dilatih, dididik, serta dicuci otaknya agar siap
berperang melawan pribumi atau saudaranya sendiri. Maka dimasukan resep
PIL yang bernama “Si Raja Tega”. Dengan demikian dia tidak akan
ragu-ragu lagi siap bertempur untuk mengganyang saudaranya sendiri.
Orang belanda menyebut panggilan pribumi yang berani melawan dengan
Istilah Extrimist. Orang yang sudah otaknya tercuci maka dia tidak punya
beban apapun ketika harus membantu majikan si Imperialis dalam
memberangus para pejuang kemerdekaan. Roti dan keju yang telah
membutakan hati si jongos tadi, sehingga tidak lagi terfikir bagaimana
Negara yang semakin hancur lebur ini.
Sementara sekarang Neo KNIL sudah berada di zaman modern yang serba
tehnologi. Bukan hanya cuci baju saja yang bisa pakai mesin otomatis,
tetapi cuci otak juga sudah bisa secara otomatis. Dengan sarana dan
fasilitas pengumbar nafsu syahawat yang semakin mudah, murah dan dekat
terjangkau, terjadilah proses cuci otak melalui “CANDUisasi”
dengan “pil syahwat” yang semakin lama semakin tinggi dosisnya sampai
dalam keadaan sakau yang terus menerus, tidak bisa dihentikan.
Dalam keadaan sakau yang terus menerus, maka setiap orang yang
memberikan pil candu tersebut akan diangkat sebagai majikan, sebaliknya
siapa saja yang mencoba menghentikan akan dianggap sebagai lawan. Di
situlah proses cuci otak terjadi. Hak Asasi diartikan kebebasan
mengumbar nafsu syahwat, sementara melarangnya berarti menentang HAM,
akan siap berhadapan dengan majikannya.
Secara otomatis otak sudah tercuci, “kawan dan lawan” diukur siapa
yang memberikan candu dan siapa yang melarang. Bagi yang memberi itu
kawan dan yang melarang itu lawan. Dalam keadaan sakau pula orang bisa
nekat yang penting bisa mendapatkan candu. Saat itulah seseorang bisa
jadi raja tega karena sudah hilang akal sehatnya dan sudah putus urat
malunya.
Seorang yang ingin mempertahankan kedaulatan negaranya, menjaga
kehormatan dan harga diri bangsanya, mengajak untuk bisa berdiri
sendiri, akan sangat bertentangan dengan keinginan Negara-negara
Imperialis yang menjadi majikan Neo KNIL tersebut. Mereka menginginkan
Negara jajahan terus berada dalam keadaan ketergantungan yang
terus-menerus, sehingga mudah dikendalikan.
Saat itulah dua kepentingan bertemu. Si majikan bagaimana bisa terus
menjajah, si Neo KNIL yang sudah sakau berkeinginan bagaimana roti dan
keju plus candu syahawat tadi tidak boleh putus. Ketika Negara
berdaulat, kehormatan dan harga diri terjaga disitulah nafsu liar yang
akan merusak negara sangat dibatasi, sehingga si Jongos tadi merasa
terancam kepentingannya
Oleh. M. Fuadz
posted by @Adimin
Label:
FAKTA,
INSPIRASI,
TOPIK PILIHAN










