Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
July 16, 2017
Kemudian, N yang kedua adalah Nilai. Seorang pemimpin akan dihargai jika dia memiliki Nilai yang konsisten.
posted by @Adimin
5 Pembeda Antara Pemimpin dengan Pemimpi
Written By NeO on 16 July, 2017 | July 16, 2017
Terdapat lima perbedaan dari seorang pemimpin dengan pemimpi. Yakni, 5
N yang tidak sederhana. Hal ini diungkapkan oleh Presiden Partai
Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman dalam Sekolah Kepemimpinan
Partai (SKP) PKS Maluku pada Jumat (14/7/2017).
“N pertama yang harus diperhatikan oleh para calon pemimpin adalah
Niat. Seorang pemimpin, memiliki niat untuk kepentingan masyarakat.
Bukan untuk kepentingannya pribadi,” Terangnya.
Sehingga, menurut Sohibul segala sesuatu yang Ikhlas dilakukan karena Allah pasti akan mendapatkan pertolongan.
Kemudian, N yang kedua adalah Nilai. Seorang pemimpin akan dihargai jika dia memiliki Nilai yang konsisten.
“Setiap kader PKS akan dikenalkan sejak awal tentang Nilai-nilai
partai. Sehingga, seharunya kita harus sudah dapat menginternalisasikan
nilai-nilai tersebut didalam kehidupan kita. Kita melihat bahwa
tantangan diluar itu sangat luar biasa, sehingga kita memerlukan
tausiyah kolektif utuk menjaga-nilai tersebut. Semakin besar
kemepimpinan yang kita punya, maka harus semakin dekat kita dengan
orang-orang baik yang siap menasehati kita,” tegasnya.
Sebagai partai yang berlandakan Islam, Sohibul juga menekankan
pentingnya Nalar yang menjadi N pembeda selanjutnya. Sebagai seorang
pemimpin, harus memiliki kemampuan Nalar yang baik. Sehingga, dia dapat
mengelola kepemimpinannya.
N pembeda selanjutnya adalah Network atau jaringan. Seorang pemimpin
menurut Sohibul harus cakap membangun hubungan dengan berbagai pihak.
“Kemudian N terakhir adalah Nyali yang pas, karena jika berlebihan
tanpa dibekali dengan 4 N pertama adalah nekat. Sehingga Nyali ini dapat
pas jika 4N sebelumnya sudah terpenuhi,” terang Sohibul.
Sohibul berharap, pelatihan yang dilakukan oleh SKP ini dapat
melahirkan calon-calon Pemimpin yang berkualitas ditingkat nasional dan
lokal.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 15, 2017
posted by @Adimin
Sohibul Iman: Calon Pemimpin Perlu Kuasai Teknologi
Written By NeO on 15 July, 2017 | July 15, 2017
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman
mengajak kepada seluruh kader PKS agar mampu memanfaatkan perkembangan
teknologi. Hal ini disampaikan oleh Sohibul Iman dalam acara Sekolah
Kepemimpinan Partai (SKP) PKS di Maluku pada Jumat (4/7/2017).
Selain menjelaskan mengenai pentingnya memanfaatkan teknologi,
Sohibul Iman juga menerangkan mengenai tantangan yang harus dihadapi
oleh calon-calon pemimpin dimasa yang akan datang.
“Perkembangan teknologi akhir-akhir ini juga menyebabkan masalah
sosial yang kompleks. Kemudian, kemanjuan teknologi ini juga menyebabkan
pengawasan rakyat semakin ketat, sehingga semua masyarakat bisa
megevaluasi kepemimpinan siapapun. Maka, diera ini diperlukan pemimpin
yang uptodate terhadap perkembangan teknologi dan pemimpin yang
berprestasi,” terang Sohibul.
Menurut Sohibul, pembekalan yang dapat mengembangkan kemampuan dari
para calon pemimpin sangat diperlukan, khususnya pembekalan teknologi.
Selain itu, pembekelan yang diberikan melalui SKP juga untuk
menyatukan Visi bersama dari setiap calon pemimpin. Sehingga, cita-cita
besar yang dimiliki oleh PKS dapat diwujudkan bersama.
“SKP juga dapat menyatukan visi kolektif kita yang demikian luar
biasa. Yakni, mewujudkan cita-cita nasional yang ada dalam pembukaan
Undang Undang Dasar 45 yang dibahasakan dengan ‘Mewujudkan Masyarakat
Madani yang Adil dan Bermartabat,” ujarnya.
Sohibul juga berharap, SKP ini mampu mewujudkan pemimpin yang mampu
memberikan kebermanfaatan yang banyak kepada masyarakat dan bangsa.
Karena, menurut Sohibul PKS memiliki cita-cita yang mulia untuk
menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang berkontribusi terhadap
peradaban.
“Semoga, melalui kepemimpinan kita, kita dapat mewujdukan flatfrom
kolektif kita. Yakni, kita wujudkan Indonesia menjadi kontributor
peradaban dunia. Bukan menjadi negara konsumen peradaban.” Tutupnya.
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 14, 2017
posted by @Adimin
Poin Krusial Perppu Ormas versi PKS
Written By NeO on 14 July, 2017 | July 14, 2017
Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi PKS Almuzzammil Yusuf
menyampaikan poin-poin krusial Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan
Undang-Undang Ormas Nomor 17 Tahun 2003. Menurut Muzzammil Perppu ini
berpotensi kuat mengembalikan pemerintah Indonesia menjadi rezim
otoriter.
“Pertama, Perppu ini berpotensi membungkam ormas yang kritis terhadap
kebijakan penyelenggara negara/pemerintah yang tidak berpihak kepada
kepentingan rakyat," kata Ketua Bidang Politik, Hukum dan Keamanan
(Polhukam) DPP PKS ini di Jakarta, Jumat (13/7/2017).
Sebagai contoh, kata Muzzammil, jika pemerintah, sebagai
penyelenggara negara menaikan harga bahan pokok atau BBM, hakim memutus
perkara yang tidak adil, gubernur menggusur semena-mena warganya
kemudian ormas menyampaikan perlawanan melalui pernyataan sikap atau
aspirasi sehingga menimbulkan rasa kebencian publik kepada penyelenggara
negara maka ormas tersebut dapat dibubarkan dan dipidanakan.
"Jika ini terjadi maka pemerintah telah melanggar kebebasan berekspresi ormas yang dilindungi konstitusi," ujarnya.
Kedua, Kata Muzzammil, pertimbangan pemerintah mengeluarkan Perppu
karena mendesak yang disebabkan adanya aturan yang tidak komprehensif
sehingga terjadi kekosongan hukum adalah tidak berdasar.
"Faktanya tidak terjadi kekosongan hukum. Malah UU No. 17 Tahun 2013
telah mengatur mekanisme sanksi pelanggaran terhadap Ormas secara jelas
dan komprehensif," paparnya.
Sedangkan Perppu Keormasan yang dikeluarkan Pemerintah, kata
Muzzammil, telah menghapus 18 Pasal dalam UU No. 17 Tahun 2013 yang
mengatur tentang sanksi dan mekanisme sanksi yang diberikan kepada ormas
yang melanggar larangan.
"Termasuk, Perppu ini menghilangkan pasal penanganan secara persuasif
oleh pemerintah dan pemerintah daerah terhadap ormas yang melanggar
larangan dan menggantinya dengan pendekatan yang represif dengan cara
mencabut izin kegiatan, mencabut legalitas, dan membubarkan ormas
tersebut oleh Mendagri dan Menkumham," paparnya.
Perppu ini juga, terang Muzzammil, telah menghilangkan peran
pengadilan sebagai lembaga yudikatif untuk mengadili ormas yang
melanggar.
"Peran pengadilan dihilangkan dan digantikan oleh subyektifitas
pemerintah menilai ormas yang melanggar dengan hanya meminta
pertimbangan intansi dibawah Menkopolhukam," tuturnya
Menurut Muzzammil, Perppu ini juga berlebihan ketika memberikan
sanksi pidana seumur hidup kepada anggota atau pengurus ormas yang
sengaja atau tidak melakukan pelanggaran.
"Kami masih mengkaji secara mendalam. Kami sedang meminta masukan
Ormas-Ormas. Jika masukan Ormas-Ormas tersebut memperkuat kekha- watiran
kami bahwa Perppu telah mencederai prinsip-prinsip negara hukum,
demokrasi, dan hak partisipasi publik dalam pengawasan jalannya
pemerin- tahan, maka FPKS tidaklah akan ragu untuk menolak Perppu
tersebut," tegasnya.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 14, 2017
posted by @Adimin
YLBHI Protes Pemerintah Keluarkan Perppu Ormas
Setelah
mengikuti dan mengkaji dengan seksama, kata Asfinawati, Perppu tersebut
mengandung muatan pembatasan kebebasan untuk berserikat yang tidak legitimate.
Yayasan
Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan 15 LBH kantor se-Indonesia
menyatakan protes keras terhadap diundangkannya Perppu 2/2017 sebagai pengganti
UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).
Ketua
Umum Badan Pengurus YLBHI, Asfinawati mengatakan, sepintas penerbitan Perppu
tersebut didasarkan pada suatu niat yang baik, dimana pemerintah akan
memberikan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi warga negara
Seperti
di antaranya, kata dia, seolah akan melindungi warga negara dari
tindakan-tindakan diskriminasi atas dasar suku, agama, dan ras sehingga
pemerintah dinilai telah memberikan perlindungan terhadap hak warga negara.
Termasuk,
negara seolah-olah melindungi dasar negara Pancasila dengan menindak
ormas-ormas yang menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan
Pancasila.
Namun,
lanjutnya, setelah mengikuti dan mengkaji dengan seksama, Perppu tersebut
mengandung muatan pembatasan kebebasan untuk berserikat yang tidak legitimate.
“Pembatasan
kebebasan berserikat hanya bisa dibatasi apabila diperlukan dalam masyarakat
demokratis untuk kepentingan keamanan nasional dan keselamatan publik,
ketertiban umum, perlindungan kesehatan dan moral umum, atau perlindungan atas
hak dan kebebasan dari orang lain,” ujarnya di Jakarta, baru-baru ini, Asfinawati menambahkan,
Perppu Ormas dinilai melanggengkan pasal karet warisan zaman revolusi.
Karenanya,
terang dia, upaya negara menjaga kedaulatan bangsa dan falsafah negara ini,
harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan prinsip negara hukum
sebagaimana mandat konstitusi.
“Cara-cara
represif dalam sejarahnya telah menunjukkan tidak pernah berhasil mengubah
keyakinan seseorang, malah sebaliknya dapat membuat seseorang semakin keras
meyakini sesuatu,” ungkapnya.
“Kami
juga meyakini pelanggaran suatu hak akan menimbulkan pelanggaran hak lainnya,
karena Hak Asasi Manusia memiliki keterkaitan antara hak yang satu dengan hak
yang lain,” pungkasnya
hidayatullah.com
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 14, 2017
posted by @Adimin
Perppu Ormas Dinilai Dapat Dimaknai Pembungkaman Gagasan
Menurut
Rida, tumbuhnya apriori terhadap perjuangan menegakkan agama sebagai ikatan
norma kebaikan, bisa menjadi dampak lanjutan apabila penerapan Perpu Ormas
tidak diiringi dengan langkah pembinaan.
Analis
Sosial Budaya Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Rida HR Salamah
menilai, proses pembubaran ormas melalui Perppu ditengarai sebagai langkah
mencederai kekuasaan dalam ruang demokrasi negeri ini.
Ia
mengungkapkan, dengan kebijakan Perppu Ormas, secara tidak langsung masyarakat
sedang dididik untuk menurunkan kesadaran berkelompok, semangat berorganisasi
dalam rangka mewujudkan perubahan.
“Kesadaran
yang mestinya dibutuhkan oleh negara dalam membangun generasi bangsa beradab,”
ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Jakarta, baru-baru ini.
Rekayasa
sosial melalui langkah politis ini, kata Rida, menunjukkan kekuasaan dapat
membunuh gagasan suatu kelompok ormas secara tebang pilih.
“Konstruksi
ini dapat dimaknai sebagai pembungkaman terhadap gagasan yang dianggap
berpotensi berseberangan dengan penguasa,” paparnya.
Menurut
Rida, tumbuhnya apriori terhadap perjuangan menegakkan agama sebagai ikatan
norma kebaikan, bisa menjadi dampak lanjutan apabila penerapan Perpu Ormas
tidak diiringi dengan langkah pembinaan.
Atau
setidaknya dengan komunikasi partisipatif yang mendudukkan kelompok-kelompok
masyarakat sebagai mitra pemerintah dalam membangun sumber daya manusia.
“Kekhawatiran
dan ketakutan kolektif untuk mengikatkan diri dan kelompok dalam suatu ikatan
keagamaan juga dapat dipertimbangkan bahayanya,” ungkapnya.
Padahal,
Rida meyakini, generasi beradab hanya dapat lahir dengan keterikatannya
terhadap nilai-nilai yang diyakininya sebagai keimanan.
“Kecerobohan
dalam memutus ikatan ini berpotensi menjauhkan generasi bangsa dari peradaban
luhur yang menjadi cita-cita bersama,” tandasnya
Oleh : Yahya G Nasrullah
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 12, 2017
Sumber: https://muslim.or.id/30719-ilmu-didatangi-bukan-mendatangi.html
By dr. Raehanul Bahraen
posted by @Adimin
Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi
Written By NeO on 12 July, 2017 | July 12, 2017
Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi
Semoga kita bersemangat terus mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet
Sumber: https://muslim.or.id/30719-ilmu-didatangi-bukan-mendatangi.html
Ilmu Didatangi Bukan Mendatangi
Semoga kita bersemangat terus mendatangi majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang didapatkan di dunia maya atau internet
Istimewanya
Ilmu Agama
Ilmu
agama memang istimewa dan agak berbeda dengan ilmu dunia pada umumnya. Ilmu
agama berkaitan erat dengan berkahnya ilmu. Maksud berkahnya ilmu adalah
bagaimana ilmu tersebut bisa bermanfaat dan menjaga orang yang berilmu
tersebut. Mungkin untuk ilmu dunia, seseorang bisa jadi berilmu misalnya
menguasai dan pintar ilmu kedokteran, tetapi bisa jadi ilmu tersebut malah
membuatnya sombong dan angkuh. Ilmu agama berbeda, ilmu agama tidak akan berlama-lama
pada dada dan ingatan seseorang, jika orang yang memegang ilmu agama tersebut
tidak menjalankan dan mengamalkannya. Misalnya ia sombong dan berniat jelek
ketika menuntut ilmu agama, maka ilmu agama itu tidak akan bertahan lama, ia
akan hilang dan tidak akan betah pada orang tersebut.
Al-Ghazali
mengatakan,
طلبنا العلم لغير الله فأبى
أن يكون إلا لله
“Dahulu
kami menuntut ilmu dengan niat selain Allah, tetapi ilmu tersebut enggan (pada
kami) kecuali kami berniat hanya karena Allah.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyah 6/194,
Darun Nasry)
Perhatikan
Adab Dalam Menuntut Ilmu
Salah
satu cara agar ilmu agama tetap bertahan dan berkah adalah dengan memperhatikan
adab menuntut ilmu agama. Adab sangat penting dalam menuntut ilmu agama,
permisalannya seperti ini:
Jika
ada orang ingin minta bantuan misalnya minta makanan kepada kita, tapi adabnya
ketika meminta tidak sopan, semisal kasar meminta bahkan membentak, apakah kita
akan memberi? tentu tidak
Demikian
juga dengan ilmu agama, bagaimana kita bisa mendapatkan ilmu dan keberkahannya
jika cara dan adab menuntut ilmu tidak kita tunaikan.
Adab Penuntut Ilmu Adalah Mendatangi Sumber Ilmu
Adab menuntut ilmu di zaman ini yang mungkin
mulai hilang adalah mendatangi sumber ilmu yaitu mendatangi majelis ilmu. Tidak
heran, karena di zaman ini dengan kemajuan teknologi, internet dan sosial
media, manusia sangat mudah mendapatkan ilmu. Ada broadcast harian ilmu agama
yang datang tiap hari kepada kita. Ada pelajaran jarak jauh via sosmed dan
video-video kajian via youtube yang sangat banyak. Kita bersyukur ada
media-media ini karena sangat bermanfaat bagi mereka yang jauh tempat
tinggalnya dari majelis ilmu atau di daerahnya sangat sulit mendapatkan majelis
ilmu, akan tetapi bagi mereka yang mudah mendapatkan majelis ilmu atau rumahnya
dekat dengan majelis ilmu, sebaiknya lebih banyak menuntut ilmu di majelis ilmu
dibandingkan melalui internet dan sosial media. Ilmu itu kita datangi ke
majelis ilmu, bukan ilmu yang mendatangi kita melalui pesan broadcast, sharing
di grop-grop sosial media.
Ulama dahulu menjelaskan,
ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺆﺗﻰ ﻭ ﻻ ﻳﺄﺗﻲ
“Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang
mendatangi”
Semoga kita bersemangat terus mendatangi
majelis ilmu di dunia nyata tidak hanya mencukupkan diri total dengan ilmu yang
didapatkan di dunia maya atau internet.
6 Adab Yang Harus Dihindari Seorang Penuntut Ilmu
Ada banyak adab menuntut ilmu lainnya,
hendaknya kita benar-benar memperhatikan. Berikut contoh praktik menuntut ilmu
dengan adab yang kurang baik:
- Terlambat datang dan tidak minta izin dahulu, tetapi kalau gurunya terlambat langsung ditelpon atau SMS: “ustadz kajiannya jadi tidak?”
- Kalau tidak datang, tidak izin dahulu (untuk kajian yang khusus) dan kajian datang semaunya
- Duduk selalu paling belakang dan sambil menyandar (tanpa udzur)
- Ketika kajian terlalu banyak memainkan HP dan gadget tanpa ada keperluan
- Terlalu banyak bercanda atau ribut dalam majelis Ilmu
- Terlalu Fokus ke Ilmu saja tanpa memperhatikan adab, niatnya hanya ingin memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat serta lupa memperhatikan dan mencontoh adab dan akhlak gurunya.
Contoh adab dalam menuntut ilmu adalah tenang
dan fokus ketika di majelis ilmu. Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis
Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,
ﻛﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻣﻬﺪﻱ ﻻ يتحدث في ﻣﺠﻠﺴﻪ، ﻭﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻳﺒﺮﻯ ﻓﻴﻪ ﻗﻠﻢ، ﻭﻻ ﻳﺘﺒﺴﻢ ﺃﺣﺪ
“Tidak ada seorangpun berbicara di majelis
Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun
yang mengasah/ meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum.”( Siyaru A’lamin
Nubala’ 17/116)
Demikian semoga bermanfaat
By dr. Raehanul Bahraen
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 11, 2017
posted by @Adimin
Ketua Fraksi PKS: Pemerintah Seharusnya Apresiasi Rohis Bukan Curigai
Written By NeO on 11 July, 2017 | July 11, 2017
Jakarta (10/7) -- Banyak pihak
menyayangkan pernyataan Menteri Agama, Lukman Hakim Saefudin, yang
meminta pihak sekolah untuk mengawasi Kerohanian Islam (rohis) di
sekolah-sekolah. Pernyataan itu dinilai tidak arif, karena seharusnya
pemerintah justru mengapresiasi rohis atas kiprahnya selama ini.
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini
menilai pernyataan itu (jika benar) tidak arif dan tidak mendidik
khususnya bagi para aktivis rohis.
"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017).
Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.
"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius.
Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu.
"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli.
Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan.
"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya.
Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli
"Mudah-mudahan pernyataan Pak Lukman tentang rohis salah atau sekurang-kurang hanya kesalahpahaman saja. Tapi kalaupun benar mudah-mudahan segera diralat," kata Jazuli di Jakarta pada Ahad (9/7/2017).
Pemerintah dan semua pihak, kata Jazuli, seharusnya justru berterima kasih dan mendukung hadirnya rohis dengan berbagai aktivitas dan perannya yang sangat positif selama ini.
"Manfaat rohis itu nyata dalam membantu proses pendidikan akhlak di sekolah, bahkan aktivitasnya nyata dalam mencegah dekadensi moral dan budaya liberal di kalangan pelajar atau remaja. Saya tanya, mana ada aktivis rohis yang pakai narkoba, tawuran, seks bebas, atau pornografi?" tanya Jazuli serius.
Sebaliknya, lanjut Anggota Komisi I ini, program-program rohis justru kerap menjadi solusi atas permasalahan di atas dan faktanya sekolah mengandalkan rohis untuk mengatasi masalah-masalah aktual pelajar itu.
"Coba tunjukkan kerusakan apa yang ditimbulkan oleh aktivitas rohis? Justru manfaat besar yang kita petik. Maka, pemerintah perlu mengapresiasi rohis dengan mengokohkan perannya dan mensupport aktivitasnya, bukan sebaliknya," tegas Jazuli.
Kalaupun ada hal-hal yang dinilai masih kurang, menjadi tugas pemerintah dan sekolah untuk melakukan pembinaan melalui pendekatan yang asertif dan apresiatif, bukan pendekatan yang justru mendeskriditkan atau terkesan menyalahkan.
"Apalagi kalau masalahnya bersifat kasuistis lalu digenaralisasi. Ini tidak baik dan tidak mendidik bagi anak-anak kita khususnya yang menjadi aktivis rohis. Sikap yang tepat adalah mengapresiasi dan membesarkan hati mereka sehingga memotivasi untuk terus berkontribusi bagi kebaikan," katanya.
Untuk itu, Ketua Fraksi PKS ini mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan rohis, "Mari kita berterima kasih dan terus mensupport anak-anak (rohis) ini, yang secara langsung dan tidak langsung, membantu mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat Pasal 31 UUD 1945 dalam mewujudkan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa," pungkas Jazuli
posted by @Adimin
Label:
Berita Fraksi,
SLIDER,
TOPIK PILIHAN






