Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
August 07, 2017
posted by @Adimin
PKS: Tolak Perppu Ormas karena Tak Sesuai Pancasila dan UUD 1945
Written By NeO on 07 August, 2017 | August 07, 2017
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif," kata
Hidayat Nur Wahid.
Sejak
awal, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik Perppu Ormas karena banyaknya
pasal karet dalam Perppu itu yang dapat menghadirkan tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan prinsip HAM dan hukum.
Jelas
Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid (HNW). Korban pasal karet
Perppu Ormas ini pun sudah banyak kata dia.
Seperti
gerakan Pramuka yang pencairan dananya ditunda oleh Kemenpora karena Ketua
Kwarnasnya dituduh terkait Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau orang yang demo
Perppu Ormas dituding kroni HTI.
Hal
itu ia sampaikan menyikapi tuduhan provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, awal Agustus lalu. Viktor menuduh PKS dan
sejumlah partai lain menolak Perppu Ormas karena mendukung kelompok ekstremisme
dan “negara khilafah”.
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif, karena
mengasumsikan bahwa menolak Perppu berarti anti Pancasila dan NKRI dan jadi
kroni HTI,” ujar HNW
Padahal, jelas HNW, PKS
menolak Perppu Ormas justru karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Dan karena Perppu itu membahayakan NKRI.
Selain
oleh PKS, tambahnya, Perppu Ormas juga ditolak oleh lembaga dan LSM peduli hukum
dan HAM yang tak mendukung HT, seperti; LBH se-Indonesia, Komnas HAM, KontraS,
PSHK, dan pusat-pusat kajian hukum di kampus-kampus, serta yang lain-lain.
“Sekalipun
kami berbeda dengan HTI yang tolak demokrasi dan lain-lain. Kami justru
pergunakan demokrasi sebagai wasilah sarana perjuangkan maslahat umat, dan
jauhkan mereka dari madharrat
termasuk madharrat
Perppu pasal karet yang potensial disalahgunakan untuk kembalikan rezim yang
dzalim dan otoriter,” jelas Wakil Ketua MPR RI ini.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2017
Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia
Oleh: Arif Munandar Riswanto
posted by @Adimin
Segala kerusakan politik, ekonomi, dan sosial merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia
SAAT ini, bangsa ini sedang menghadapi
masalah-masalah besar. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan
kehidupan kaya-miskin, penistaan agama, money politics, kezaliman
penguasa, korupsi, dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak
fenomena bahwa bangsa ini memang sedang dilanda masalah-masalah besar.
Masalah-masalah besar tersebut akhirnya menyebabkan kegaduhan yang
besar serta menghabiskan energi dan ongkos yang tidak sedikit.
Sehari-hari bangsa ini pun disuguhi oleh kegaduhan yang seolah-olah
tiada henti.
Apalagi di zaman perkembangan arus informasi yang seperti tanpa
batas. Setiap orang bisa menulis, memberikan opini, menyebarkan berita,
membentuk image, dan membuat kepalsuan dengan bebas. Sebuah fenomena
yang akan merusak dan meruntuhkan otoritas.
Mungkin banyak di antara kita yang bertanya: apa akar penyebab dari
masalah-masalah besar tersebut? Apakah ia disebabkan oleh iklim
kehidupan politik yang tidak kondusif, kesenjangan ekonomi, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan
baik?Banyak orang yang berpendapat bahwa akar masalah dari bangsa ini
adalah politik. Artinya, jika kehidupan politik sudah baik, maka bangsa
ini akan menjadi baik. Jika masalah asasinya adalah politik, maka
solusinya pun adalah politik.Pun begitu dengan orang-orang yang
berpandangan bahwa akar masalahnya adalah ekonomi, sosial, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik
oleh masyarakat.
Jika kita renungkan lebih dalam, pada hakikatnya, akar masalah besar
bangsa ini adalah manusia.Masalah bangsa ini adalah masalah tentang
manusia. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain hanyalah
ranting yang mudah dilihat oleh semua orang dari pohon besar yang
bermuara pada akar yang sama, yaitu manusia.
Masalah-masalah tersebut adalah cermin dari fenomena manusia
Indonesia.Hal ini berarti juga, jika akar dari masalah-masalah besar
bangsa ini tidak diperbaiki, masalah-masalah tersebut akan terus-menerus
terulang. Mungkin bentuk dari masalah tersebut bisa berbeda dari satu
generasi ke generasi lain, tapi hakikatnya selalu sama. Dengan kata
lain, jika manusia-manusia Indonesia tidak dididik untuk menjadi manusia
yang baik (al-insān al-ṣāliḥ), bisa dipastikan
pemimpin-pemimpin zalim, para penista agama, dan koruptor-koruptor baru
akan terus-menerus lahir dari satu generasi ke generasi lain.Siapa yang
menyangka bahwa pergantian politik dari Orde Baru ke Reformasi justru
tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih baik. Ia menunjukkan
bahwa pemimpin yang baru tidak dijamin bisa menjadi lebih baik dari
pemimpin sebelumnya.
Padahal, dalam iklim demokrasi seperti zaman sekarang, untuk
mengganti seorang pemimpin saja pasti memerlukan ongkos yang sungguh
sangat besar. Karena pemimpin baru ternyata tidak lebih baik dari
pemimpin sebelumnya, lagu-lagu indah tentang pembangunan, perubahan, dan
kebebasan ketika Orde Baru diturunkan mulai terasa seperti fatamorgana
di tengah sahara. Akhirnya banyak individu yang ingin kembali ke zaman
Orde Baru.
Hakikat Manusia
Di dalam Islam, hakikat tentang manusia (yang meliputi ajaran-ajaran
tentang siapa dirinya, tujuan hidup di dunia, akhlak, dan kebahagiaan)
termasuk ke dalam salah satu ajaran asasi agama.Bahkan,al-Attas
memasukkan hakikat manusia ke dalam salah satu unsur penting
metafisikaIslam, yang dalam banyak hal berkaitan sangat erat dengan
psikologi jiwa manusia (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam
[Kuala Lumpur: ISTAC, 2001], 143-176).Al-Attas adalah salah seorang
ilmuwan Muslim besar yang memberikan perhatian besar terhadap manusia.
Dalam tradisi Islam,para ilmuwan yang memiliki perhatian besar
terhadap hakikat manusia adalah ilmuwan-ilmuwan yang memiliki
pandangan-pandangan besar dalam metafisika Islam (Filsafat, Kalam, dan
Tasawuf).
Manusia diciptakan oleh Allah memiliki dua karakteristik: jiwa dan
tubuh. Yang pertama merujuk kepada hakikat sebenar manusia ketika dia
mengatakan “aku”dimana jiwa, kemuliaan, akhlak, dan kebahagiaan hakiki
berasal, sedangkan yang kedua merujuk kepada potensi hewani. Para ulama
menyebut hakikat jiwa pertama dengan jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) sedangkan yang kedua disebut jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah).Ini yang kemudian disebut oleh para ulama bahwa manusia adalah ḥayawān al-nāṭiq.Jiwa
rasional adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk
lainnya dimana kemuliaan, akhlak mulia, dan kebahagiaan berasal,
sedangkan jiwa hewani adalah jiwa yang betul-betul identik dengan hewan.
Karena memiliki sifat hewani, jiwa hewani harus diatur oleh jiwa
rasional dengan baik. Menurut Fakhr al-Dīn al-Rāzī, jiwa hewani yang
harus diwaspadai oleh manusia wujud dalam tiga kekuatan: nafsu syahwat,
nafsu amarah, dan nafsu kekayaan atau kekuasaan (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 32 vols. [Beirut, Dār al-Fikr, 1981]: 1: 258).
Agar berhasil dalam hidup, manusia harus mengatur kedua hakikat jiwa
tersebut dengan baik. Jiwa rasional harus senantiasa ada di atas dan
mengatur jiwa hewani. Namun sebaliknya, jika jiwa hewani justru yang
lebih dominan untuk kemudian menjadi raja dalam kerajaan manusia,
manusia akan berubah menjadi seperti hewan, bahkan bisa lebih buruk
daripada hewan (QS al-Aʿrāf [7]: 179). Dalam kondisi seperti itu, maka
akan lahir kesengsaraan (al-shaqāwah) dan akhlak yang hina dari manusia.
Karena memiliki kedua potensi jiwa tersebut, manusia layaknya seperti kerajaan, yaitu kerajaan kecil (microcosmos).
Fakhr al-Dīn al-Rāzī misalnya menyebut bahwa manusia pada
hakikatnyaseperti kerajaan; jiwa rasional seperti seorang raja; indera
eksternal dan internal seperti tentara; anggota-anggota badan seperti
warga negara; syahwat dan amarah seperti musuh yang selalu berusaha
untuk menghancurkan kerajaan dan membunuh warga negara.
Jika raja mampu mengendalikan musuh, negara akan stabil dan jauh dari konflik (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Kitāb an-Nafs wa ar-Rūḥ wa Syarḥ Quwāhumā, ed. Muḥammad Ṣaghīr Ḥasan al-Maʿṣūmī [Islamabad, Islamic Research Institute: t.t.], 79-84).
Kedua hakikat jiwa yang ada di dalam diri manusia senantiasa tarik
ulur dan berperang seumur hidup. Yang satu sering berusaha untuk
mengalahkan yang lain.
Di sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya seluruh manusia aktif
dalam “politik”, yaitu politik untuk mengatur kerajaan diri sendiriyang
berlaku seumur hidup dan disamakan dengan jihad paling besar (al-jihād al-akbar).
Namun, karena semua orang memahami politik hanya sebatas hubungan
manusia dengan negara, manusia banyak yang tidak menyadari dan gagal
melaksanakan tugas-tugas politik untuk mengatur kerajaan diri sendiri.
Ini yang kemudian menyebabkan kerusakan besar dimana-mana, termasuk
bangsa Indonesia
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 05, 2017
posted by @Adimin
Berjargon “Saya Pancasila” tapi Mengumbar Ujaran Kebencian, Sindir HNW
Written By NeO on 05 August, 2017 | August 05, 2017
Oleh karena itu, menurut tokoh PKS ini, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyindir
mereka yang sering berjargon “Saya Pancasila” dan “NKRI harga mati” tapi
perilakunya bertentangan dengan jargon itu sendiri.
Sindiran itu menyikapi pidato provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, yang menuduh sejumlah partai
“intoleran dan mendukung negara khilafah”.
“Kalau perilakunya semacam (Viktor) ini, jelas tidak menghadirkan
kesatuan, tapi cerai-berai,” kata Wakil Ketua MPR RI ini, Jumat (04/08/2017).
“Mengumbar ujaran kebencian di depan publik itu potensial memecah
belah sesama anak bangsa, menghadirkan kondisi ketidakamanan publik, dan
bertentangan dengan prinsip Pancasila dan NKRI,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut HNW, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Diberitakan sebelumnya, dalam pidato provokatifnya, Viktor menuduh 4
partai secara eksplisit Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN sebagai partai
pendukung berdirinya “negara khilafah” dan karena itu tidak boleh
didukung. Bahkan pendukung khilafah disamakannya dengan PKI pada 1965
yang layak dibunuh.
“Mengerti negara khilafah? Semua wajib shalat,” tuding Viktor. “Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus shalat.”
“Saya tidak provokasi…,” klaim Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini
kemudian. Lalu berkata, “… nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka
sebelum kita dibunuh,” ungkapnya disambut tawa banyak hadirin di
depannya.
“Ingat dulu PKI 1965? Mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka,” tambah politikus kelahiran Kupang ini.
Andi
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 04, 2017
posted by @Adimin
Kota Padang Kembali Raih Adipura
Written By NeO on 04 August, 2017 | August 04, 2017
Kota Padang kembalil meraih Piala Adipura untuk kategori kota besar,
kota bersih dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Ini goresan prestasi
dipentas nasional. Piala Adipura tersebut dibawa langsung Walikota
Padang H. Mahyeldi Ansharullah, SP dan Jumat pagi (4/8) di sambut di
Bndara International Minangkabau (BIM), sebut Kepala Dinas Lingkungan
Hidup (KLH) Kota Padang H. AL-Amin didampingi Kadis Kominfo Suardi, SH.
Mhum.
Setelah penyambutan Piala Adipura dan Adiwiyata Mandiri
2017 di BIM langsung diarak menuju Balaikota Padang di Aie pacah
melalui rute jalan Adinegoro, simpang kalumpang lanjut hingga kator
Walikota Padang. Setiba di kantor Walikota disambut lagi rangkaian
kegiatan yang menarik, tari pasaambahan dan lain sebagainya.
Setelah itu, kata Al amin, juga dilakukan penyerahan Piala
Adipura dari Walikota kepada tokoh masayarakat yang diwakili ketua DPRD
Kota Padang. Lanjut penyerahan Piala Adiwiyata Mandiri dari Kepala
sekolah kepada Walikota Padang.
Ini adalah hasil kerja keras bersama dan partisipasi
masyarakat dalam mencintai kebersihan lingkungan. Kesadaran masayarakat
terhadap kebersihan erat hubungan dengan kesehatan. Maka dari itu mari
selalu ditingkatkan agar lingkungan selalu terjaga kebersihannya. Bersih
itu indah menjadi idaman semua warga kota tercinta ini. kota Padang
meriah piala Adipura berdasarkan undangan yang dikirim oleh Dirjen
Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan tersebut bernomor: UN.74/PSLB3/P5/PLB.0/7/2017,
bertanggal 25 Juli 2017.
Kota Padang tercatat 17 kali menerima piala Adipura dan
terakhir diterima pada tahun 2009 sebelum gempa besar meluluh lantakan
Padang kota tercinta ini. Untuk itu mari kita meriahkan secara
bersama-sama penyambutan Piala Adipura yang dirah Kota Padang kategori
kota besar ini. Penyambutan ini sekaligus sebagai media memberitahukan
kepada publik kota tercinta ini
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 03, 2017
Hentikan perdebatan, tanyalah hati kita. Apa manfaat membantu saudara-saudara kita di Palestina?
posted by @Adimin
Masjid Al Aqsha, Jangan Hilang Fokus
Written By neobattosai on 03 August, 2017 | August 03, 2017
SUATU
teori
terkenal, jadikan musuh bersama maka kalian akan bersatu dan kuat. Tapi fitnah
akhir zaman teramat dahsyat. Jangankan kita menyatukan shaf-shaf ukhuwah,
mengabaikan sekat-sekat khilafiyah,
membangun persatuan demi hadirnya izzah.
Tentang
Masjid Al-Aqsha saja, yang jelas musuhnya, yang jelas kezaliman atas mereka,
hitamnya jelas benderang di atas putih, bahkan sudah jelaskan dikabarkan Allah
dan Rasulnya, hari ini kita masih berdebat panas saling menyalahkan tentang
mana sebenarnya Masjid Al-Aqsha.
Sudah
lama energi umat Islam terbuang hanya dalam ranah ini. Kita kehilangan arah
prioritas, energi habis kita tumpahkan disini. Ranah jagat media sosial ramai,
berdebat tentang lokasi Masjid Al-Aqsha.
Padahal
saudara kita di sana, dengan sekuat tenaga dan usaha. Bertahan di sekeliling
tanah berkah ini, berteguh dihujam peluh dan darah, bertegap meneriakkan “Birruh, Biddam, Nafdika ya Aqsha”
(dengan ruh, dengan darah, kami bela kau ya Aqsha).
Suara
mereka merekah memecah setiap waktu walau datang gelapnya dinihari di
pintu-pintu Masjid Al-Aqsha.
Kadang,
di sini, perdebatan berakhir kasar dan panas. Tuduhan terkena konspirasi Yahudi
yang ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsha pun terlontarkan. Padahal sudah
seminggu ini Baitul Maqdis menegangkan. Masjid Al-Aqsha diambang 2 kemungkinan;
Masjid Al-Aqsha kita 100% diambil alih oleh penjajah Zionis Israel sehingga
umat tak dapat lagi menegakkan shalat di dalamnya, atau kita, umat Islam
bangkit bersatu bersama-sama membebaskannya untuk menjadi pusat turunnya rahmat
dan berkah Allah Subhanahu
Wata’ala ke seluruh alam.
Cobalah
berfikir, tentang perdebatan ini. Adakah manfaat untuk diri kita, atau apakah
dapat membantu saudara-saudara kita di Palestina?
Cobalah
memahami satu sama lainnya, cobalah memilah mana prioritas yang harus kita
kerahkan energi kepadanya.
Bagi
yang kokoh menganggap Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Masjid besar; berkubah
hitam), cobalah dengar pendapat saudaramu, yaitu; Seperti Ka’bah, dialah
lambang ikonik Masjid Al-Haram. Walaupun disana ada Multazam, Maqam Ibrahim, Hajar Aswad dan Hijr Ismail.
Begitupun
Masjid Al-Aqsha, ada Qubah
Ash-Shakra (Dome of
the Rock; berkubah emas) sebagai lambang ikoniknya, walaupun ada
banyak bangunan di dalam komplek seluas 14,4 Hektar, termasuk Jami’ Al-Kabir (Masjid Besar;
berkubah hitam).
Cobalah
berfikir, bagi yang menyatakan Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Kubah
hitam), terimalah yang berpendapat Qubah
Ash-Shakra sebagai lambang ikonik, bukankah masjid yang dimaksud
tercakup di dalam komplek itu?
Bagi
yang punya pendapat sebaliknya, tak perlu menghabiskan waktu memperpanjang
debat, menghabiskan energi yang ada, cukup berikan argumen Anda, dan
tanyakanlah perkara yang paling penting.
Tanyalah
diri kita: “Apa yang sudah kulakukan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha?”
Permasalahan
utama Masjidi Al-Aqsha itu tentang penjajahan, penjarahan dan penistaan.
Peristiwa ini sudah berjalan selama 100 tahun, pertama oleh Inggris,
dilanjutkan sejak 50 tahun oleh Zionis Israel.
Sudahkan
doa-doa khuyu’
dan khusus kita tertuju ke tanah pusat berkah ini, sudahkah benar hati kita
membenci kezaliman yang dilakukan atas mereka, sudahkah kita menyeberkan
informasi ini, menginfakkan harta terbaik kita atau menyiapkan diri jika
sewaktu-waktu Allah kondisikan kita untuk berjihad ke sana. Sungguh sekecil
apapun, pembelaan adalah pertanggungjawaban kita.
Atau
malah, kita aktif berdebat tentang mana Masjid Al-Aqsha sebenarnya. Tapi masih
minum produk Nestle,
makan di KFC
atau McD, ngopi di Starbuck atau menikmati
produk-produk penyokong zionis Israel lainya.
Sadarlah,
detik-detik ini berjalan: Apakah Masjidil Alqsha akan ditutup dan diambil alih
oleh penjajah selamanya, atau Allah izinkan kita ikut membebaskannya, selama-lamanya
jadi berkah untuk seluruh dunia. Mari tulis sejarah kita dengan tinta emas,
berikanlah yang terbaik: Doa, Lisan, Harta dan Jiwa. Amin
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 02, 2017
posted by @Adimin
Ratusan Ribu Warga Turki Hadiri Solidaritas utk Masjidil Aqsha & Muslimin Dunia
Written By neobattosai on 02 August, 2017 | August 02, 2017
Ismail Haniyah menegaskan, permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya
permasalahan Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum
Muslimin
Ratusan
ribu orang dari berbagai etnis dan usia hari Ahad, (30/07/2017) berkumpul
di lapangan taman Yenikapı, İstanbul, Turki dalam Aksi Solidaritas
Rakyat Turki kepada Masjidil Aqsha dan umat Muslimin sedunia.
Warga
turun jalan guna memprotes tindakan pengamanan yang dilakukan oleh penjajah
Israel yang mencegah warga Palestina memasuki Masjidil Al Aqsha yang diduduki.
Pertemuan
ini adalah aksi terbaru dalam serangkaian demonstrasi yang telah diadakan di
Turki selama minggu terakhir menyusul pembatasan baru-baru ini yang dilakukan
pihak penjajah Israel terhadap orang-orang Palestina yang memasuki Masjid Al
Aqsha.
Meskipun
acara yang diadakan oleh pemerintah kota Istanbul dijadwalkan pukul 17.00 sore,
namun gelombang peserta telah datang pukul sudah sejak pukul 15.00 siang waktu
Istanbul.
Salah
satu peserta aksi menyampaikan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukanlah
masalah rakyat Palestina saja tapi sudah menjadi kewajiban umat Muslim dunia.
Ia
mengatakan bahwasanya umat Islam harus mengingat peristiwa yang tragedi
terhadap kasus Mavi Marmara.
Dia
menegaskan untuk berperan aktif membela Masjidil Aqsha minimal dengan
memperkuat iman.
“Saya
senang bisa sama-sama mengikuti acara ini, yang mana kemeriahan dan aksi
nyatanya belum saya rasakan di negara-negara Muslim lainnya.”
“Mereka
(peserta aksi, red) adalah satu-satunya bangsa non-Arab yang punya komitmen dan
kesungguhan dalam membebaskan Masjidil Aqsha. Dan gerakan mereka membekas di
hati saya serta para hadirin lainnya. Dan saya menyayangkan perselisihan
sebagian negara muslim yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Umar salah satu
peserta yang datang dari Mesir.
Disela-sela
orasi diserukan berbagai yel-yel, seperti: “Lawan lawan lawan lawan Israel”,
juga yel-yel seperti, “Birruh,
biddam nafdiika yaa Aqsha…!” (dengan ruh, dengan darah, kami
bela kau ya Aqsha).
Acara
ini juga dihadiri oleh Kepala Biro Politik Hamas yang baru, Ismail Haniyyah
melalui video live.
Dalam
siarannya melalui video
live itu Ismail Haniyyah memberikan kabar gembira kepada kaum
muslimin bahwasanya umat Islam tengah meraih kemenangan dengan
dibongkarnya pintu elektronik (detector logam) oleh pihak penjajah Israel di
gerbang Masjidil Aqsha.
“Kaum
muslimin di Palestina tidak gentar terhadap setiap situasi yang terjadi, dan
akan terus bertahan di sana,” demikian kutipnya.
Haniyah
juga menegaskan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya permasalahan
tentang Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum Muslimin
seluruhnya.
Dan
di akhir pidato, ia menutup dengan mendoakan kaum muslimin sedunia.
Di
akhir aksi, pembawa acara membacakan doa untuk saudara-saudara semuslim di Palestina,
Suriah, Iraq, Myanmar, dan kaum muslimin secara umum.
Sampai
pukul 20.20 malam, acara ini ditutup dengan adzan maghrib dan sholat
berjama’ah.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 02, 2017
posted by @Adimin
Jadilah Muslim Terampil
Umat
Islam tak boleh pengangguran, harus ada kemampuan yang dikuasai, sehingga
dengan itulah bisa ikut dalam 'jihad' dan dakwah
ISLAM
mengajarkan
umatnya untuk mendiri dan bekerja. Karenanya banyak pesan-pesan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam
yang memerintahkan umatnya bekerja, memakan makanan yang lebih baik
dari hasil usaha tangannya sendiri, bukan menjadi peminta-minta.
Bahkan
pernah suatu hari Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam memerintahkan mencari kayu dan menjualnya di
pasar itu lebih baik dari meminta-minta.
Makna
secara lebih luas dari penekanan beliau bagi umat Islam tersebut dapat
diartikan dengan dorongan; milikilah skill
(keahlian) yang akan membuat dirimu terampil dalam skill praktis itu lebih baik diutamakan
daripada berpikir untuk meminta-minta dan menyandarkan hidup pada manusia.
Mengapa
demikian? Ternyata secara makro, banyaknya SDM yang menganggur akan berdampak
buruk pada stabilitas sebuah bangsa dan negara.
Nicolas
Wyman, CEO dari The
Institute Workplace Skill and Innovation menegaskan bahwa sebuah
negara yang penduduknya banyak menjadi pangangguran akibat pemutusan hubungan
kerja akan mendorong sebuah negara pada masalah (ekonomi) yang gawat. Terlebih
jika mayoritas penduduknya ternyata tidak memiliki practical skills yang dibutuhkan,
jelas itu sangat berbahaya.
Dalam
sebuah hadits Nabi menerangkan, “Hampir-hampir
kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.” (HR. Baihaqi).
Jika
kita perhatikan, Nabi Muhammad sejak kecil telah berusaha membekali diri dengan
kemampuan praktis guna menunjang kebutuhan hidupnya. Mulai dari menggembala,
berdagang, hingga menjadi pebisnis ulung di seluruh Jazirah Arab.
Demikian
pula ketika kita perhatikan Nabi Ibrahim yang ahli dalam membangun, Nabi Musa
yang juga ahli dalam menggembala, Nabi Daud yang memiliki kemampuan pandai
besi, serta Nabi Yusuf yang ahli keuangan atau ahli ekonomi.
Artinya,
tidak sepatutnya seorang Muslim membiarkan waktunya berlalu tanpa mengasah skill untuk menjadi
terampil sehingga bisa hidup secara mandiri.
Lantas,
apa yang harus dilakukan agar diri mampu menjadi insan terampil dan bermanfaat
bagi sesama?
Pertama, ingat pesan Nabi bahwa belajar itu
dari dalam kandungan hingga liang lahat. Artinya, jangan pernah mengenal kata
stop dalam belajar alias menuntut ilmu.
Analoginya
sederhana, setiap buah yang telah sampai pada titik kematangan, jika tidak
dimanfaatkan dengan dikonsumsi segera, maka buah itu akan membusuk dan tidak
bernilai guna bagi kehidupan. Demikian pula manusia, ketika dirinya merasa
telah bisa dan berhenti belajar atau berinovasi, maka dirinya akan ditinggalkan
zaman.
Kedua, mengenali talentaa diri dan
mengasahnya
Beruntung
jika diri telah mengetahui talenta yang dimiliki, tinggal mengasahnya setiap
hari. Belajarlah dari pohon besar. Sekiranya pohon itu kala baru ditanam
dipindah-pindah, tidak mungkin akan tumbuh besar dengan akar-akar yang besar.
Demikian pun manusia, jika telah mantap dengan talenta yang dimiliki maka
asahlah setiap hari.
Seorang
Cristiano Ronaldo bisa menjadi bintang sepakbola, karena memang dalam 24 jam
sepanjang hayatnya, akal dan kakiknya, bahkan perasaannya tidak bisa dilepaskan
dari sikulit bundar.
Pertanyaannya
bagaimana kalau belum tahu talentaa dirinya?
Kebanyakan
orang memandang talenta adalah sesuatu yang bersifat genetika, sehingga itu
sudah ada dari sononya. Padahal tidak.
Talenta
dimulai dengan terjadinya pertemuan singkat dan kuat yang memicu dan memacu
motivasi diri yang berhubungan dengan mungkin hobi atau kegemaran tertentu yang
menjadi identitas diri dengan orang atau pun grup yang mendukung mood diri melejit,
sehingga muncul kesadaran bahwa diri bisa melakukan sesuatu yang jika
diteruskan dan ditajamkan akan menajamkan talenta yang tersembunyi di dalam
diri.
Ketiga,
jadikan skill
diri sebagai media jihad dan dakwah
Di
dalam Al-Qur’an perintah berjihad itu ada dua, pertama dengan harta dan kedua
dengan jiwa. Dengan harta (amwal)
artinya umat Islam tidak boleh jadi pengangguran, mesti ada kemampuan praktis
yang dikuasai, sehingga dengan itulah dirinya bisa ikut serta dalam ‘jihad’ dan
dakwah.
Ada
yang sibuk bekerja dan karena itu tidak bisa berdakwah. Maka harta yang
dimiliki bisa disumbangkan untuk dakwah, mendukung kiprah para dai dalam
dakwahnya. Dan, mereka yang dianugerahi kekayaan berkat skill yang diasah sejak
lama, maka dengan harta itulah bisa terlibat dalam jihad.
Dengan
demikian, menjadi Muslim terampil pada dasarnya adalah kebutuhan, agar diri tak
menjadi beban orang lain dengan hanya bisa berpangku tangan. Jadi, belajarlah
dan asahlah skill
yang ada pada diri untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala semata. Wallahu a’lam
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 29, 2017
posted by @Adimin
Aliansi Rakyat Sumbar Untuk Palestina Selenggarakan Orasi & Longmarch
Written By neobattosai on 29 July, 2017 | July 29, 2017
Mensikapi perkembangan terakhir yang menimpa ummat Islam di Palestina, yang mana ummat Islam dilarang untuk menunaikan sholat berjamaah di Masjid Al Aqsa, itupun jika dibolehkan melalui proses pemeriksaan yang tidak manusiawi.
Maka Aliansi Masyarakat Sumatera Barat untuk Palestina menyelenggarakan Orasi dan Longmarch yang diikuti ribuan orang. Elemen elemen ummat Islam diantaranya KNRP, DDII, IKADI, KAMMI, MMI, MUI, FLSDK dan seluruh masyarakat peduli Palestina mengikuti acara dengan penuh khidmat.
Tokoh tokoh ormas berorasi dengan begitu luarbiasa menggugah peserta acara untuk peduli dengan apa yang terjadi di belahan bumi Palestina. Diantaranya Ketua KNRP Sumbar Ust. Ulyadi Lc, MA, Ust. Irsyad Syafar sebagai tokoh ulama Sumatera Barat sekaligus anggota DPRD Sumatera Barat, Ketua Umum IKADI Sumatera Barat Ust. DR Urwatul Wutsqo dan tokokh tokoh ormas yang tergabung dalam aliansi.
Semoga dengan dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Sumatera Barat akan di ijabah oleh ALLAH dan semoga rakyat Palestina segera lepas dari cengkraman penjajah zionis yahudi......
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 29, 2017
posted by @Adimin
PKS Siapkan Strategi Pemenangan Pemilu 2019
Meski pemilu 2019 masih lama, PKS jauh-jauh hari sudah mempersiapkan strategi pemenangan.
Hal itu dilakukan Mardani Ali Sera,
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang membuka Forum Group Discussion (FGD)
strategi pemenangan Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2019 di Ruang
Rapat Pleno Fraksi PKS, Komplek Senayan.
Mardani, dalam keterangan resminya,
Kamis (27/7), mengatakan agenda ini merupakan rangkaian program
pemenangan menyongsong Pemilu 2019 yang akan datang.
“Dua Tahun lagi kita menyongsong pesta
demokrasi tahunan. Yang menarik tahun nanti untuk pertama kali dalam
sejarah Indonesia menggelar pemilihan serentak sejak keputusan MK tahun
2013 lalu,” katanya.
Legislator Dapil Jabar VII itu
mengungkapkan menghadapi pemilu nanti diperlukan strategi yang jitu
mendorong agar seluruh struktur maupun calon legislator PKS memiliki
kemampuan pemataan dapil sebagai salah satu strategi pemilu.
Pihaknya pada Pemilu 2019 nanti
menargetkan perolehan suara nasional sebesar 12%. Menurutnya target
tersebut tidak mustahil bisa tercapai.
Ketua Tim Bidang Pemenangan Pemilu dan
Pemilukada (BP3) DPP PKS, Agoes Poernomo mengatakan pihaknya sudah
melakukan perhitungan secara mendalam terkait target PKS 2019 tersebut.
“Kami sudah melakukan perhitungan mendalam terkait target itu,” katanya
July 28, 2017
posted by @Adimin
Pilihan Konsisten PKS
Written By neobattosai on 28 July, 2017 | July 28, 2017
Apa kabar Senayan? Tepatnya hari Kamis
(20/7/2017) lalu PKS mengambil sikap tidak ikut dalam pengambilan
keputusan atas Rancangan Undang Undang (RUU) Pemilu di Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI). Kompleks Senayan pun riuh karena
bukan hanya PKS, tetapi tiga fraksi lainnya juga ‘walk out’, istilah
yang digunakan untuk meninggalkan persidangan.
PKS, Gerindra, Demokrat dan PAN
menganggap pengambilan keputusan untuk hal krusial terkait penentuan
ada-tidaknya batas elektoral parlemen dalam mengajukan pasangan calon
presiden dan wakil presiden, mestinya dibicarakan dengan jalan
musyawarah dan tetap berpedoman pada kerangka hukum yang ada.
Alasan lebih panjang lebar kenapa
keputusan menggunakan elektoral parlemen 20 persen dalam pemilihan
presiden dan wakil presiden 2019 melanggar Undang-Undang.
Prinsip utamanya adalah, jangan sampai
untuk sekadar memuluskan kemauan beberapa golongan, bangsa ini harus
menabrak berbagai aturan.
Selanjutnya dari Senayan kita juga
mendengar kabar bahwa Fraksi Partai Gerindra mundur dari Pansus Hak
Angket untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dengan mundurnya
Gerindra, praktis pengisi Pansus Angket untuk KPK kini diisi oleh lima
fraksi yang adalah dari partai-partai pendukung pemerintahan Joko
Widodo- Jusuf Kalla.
PKS? Sejak awal sudah menyatakan tidak
menyetujui pembentukan pansus Hak Angket karena PKS berpandangan bahwa
ada nuansa upaya pelemahan dalam Hak Angket tersebut.
PKS konsisten dalam pilihan untuk
pemberantasan korupsi hingga ke akar-akarnya dengan menjadikan KPK
sebagai salah satu institusi penting pemberantasan korupsi. Akan halnya
beberapa kelemahan yang masih ada di tubuh KPK, PKS merasa masih ada
cara lain untuk memperbaikinya diantaranya dengan menghadirkan lembaga
pengawas yang melekat di tubuh KPK dan juga transparansi dalam
penggunaan anggaran negara yang berasal dari rakyat.
PKS ingin publik bisa menilai bahwa
hiruk pikuk Senayan pasti ada benang utamanya. Rakyat bisa melihat peran
dan sepak terjang partai politik dalam setiap pengambilan keputusan di
DPR. Termasuk keinginan pemerintah yang dalam gerak dan agendanya mesti
mendapatan restu dari parlemen.
PKS ingin menunjukkan sebuah sikap
konsisten yang merdeka sesuai dengan garis mandat yang diberikan
masyarakat. Konsitensi PKS untuk membangun bangsa yang bermartabat, adil
dan sejahtera, kami serahkan pada mata hati dan jari publik di saat
Pemilu nanti
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 26, 2017
posted by @Adimin
Taujih Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman: Menjadi Pemimpin Bukan Pemimpi
Written By NeO on 26 July, 2017 | July 26, 2017
MENJADI PEMIMPIN, BUKAN PEMIMPI
TAUJIH PRESIDEN PKS MOHAMAD SOHIBUL IMAN, Ph.D.
(Disampaikan di Provinsi Maluku pada Sekolah Kepemimpinan Partai 3
untuk Wilayah Dakwah Indonesia Timur pada Tanggal 14 Juli 2017)
Assalamulaikum Wr Wb,
- Ada dua tantangan yang melatar belakangi kenapa kita mengadakan SKP 3 ini. Pertama, karena perubahan lanskap ekonomi, politik, dan sosial di tingkat global, regional dan nasional. Hal yang paling mencolok adalah perubahan yang sangat pesat di sisi Teknologi. Terobosan dalam dunia teknologi, terutama dalam teknologi informasi telah mampu mendekonstruksi tatanan-tatanan yang sudah ada selama ini sehingga memunculkan tantangan-tantangan baru.
- Jika kita lihat, perkembangan teknologi yang pesat ini mendorong terjadinya proses demokratisasi dalam artian terjadinya ledakan partisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial mereka. Sebelumnya, partisipasi perubahan hanya di tingkat elit namun saat ini proses perubahan melibatkan ledakan partisipasi masyarakat. Perkembangan teknologi ini telah memberikan peluang dan tantangan bagi kita semua dalam konteks kepemimpinan.
- Tantangan pertama ini menyebabkan permasalahan yang muncul di masyarakat menjadi semakin kompleks. Adanya perkembangan teknologi awalnya ingin memudahkan kehidupan kita. Namun dalam perkembangannya teknologi menimbulkan side effect yang sifatnya tidak menentu dan unpredictable. Sekarang orang melihat perkembangan teknologi informasi bukan hanya memberikan manfaat tapi juga efek-efek negative.
- Information Communication Technology (ICT) awalnya memberikan kemudahan-kemudahan dalam mengakses informasi dan komunikasi. Namun saat ini juga mulai terlihat dampak sampingnya dengan munculnya tindakan kekerasan dan terror melalui ICT. Kita menyaksikan sekarang bagaimana petunjuk merakit bom bisa dengan mudah diperoleh di ICT. Gerakan tindak kekerasan dan tindakan kriminal juga dengan mudah disebar dan bekerja sangat cepat di dunia digital.
- ICT juga menjadi medium berkembangnya nilai-nilai dan ideologi yang merusak nilai-nilai dan budaya kita sebagai bangsa yang beragama. Sebagai contoh, dimana gerakan kampanye pro-LGBT dan narkoba sangat marak dan berkembang luar biasa di dunia maya. Ini memberikan tantangan yang tidak mudah untuk kita semua. Tidak hanya itu, kemajuan teknologi juga menciptakan kondisi kesenjangan atau gap kesejahteraan karena ada digital divided antara kelompok kaya dan miskin dalam memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi.
- Mengatasi permasalahan yang semakin kompleks membutuh kapasitas kepemimpinan yang semakin canggih juga. Tidak mungkin kompleksitas masalah bisa ditangani oleh kepemimpinan yang sederhana atau biasa-biasa saja.
- Tantangan Kedua yakni dengan semakin tingginya tingkat partisipasi masyarakat dan bergulirnya demokratisasi di berbagai bidang maka hal tersebut menjadi semakin terbukanya peluang-peluang kepemimpinan di seluruh sektor. Demokratisasi membuka lebar kran rekruitmen kepemimpinan dan disaat yang sama kontestasi merebut kepemimpinan juga semakin kompetitif. Itu juga kita rasakan di sektor politik. Kontestasi di sektor politik dari tingkat local hingga nasional menjadi sangat ketat. Bahkan bukan hanya semakin ketat, tapi juga semakin mahal, jika kita lihat dari praktek demokrasi di Indonesia.
- Kalau kita amati apa yang terjadi saat ini, di kemudian hari kepemimpinan yang lahir nanti adalah kepemimpinan yang up to date dengan perkembangan zaman, terutama perkembangan teknologi. Terutama mereka-mereka yang memiliki digital literacy yang mumpuni. Siapa yang menguasi teknologi digital,dia yang akan menguasai kepemimpinan mendatang. Singapura contohnya. Dulu mantan Direktur Telkom almarhum Cacuk Sudaryanto pernah menyampaikan di awal tahun 2000. Dia bilang Singapura bisa mengetahui waktu produksi dan panen hasil-hasil tanaman di Indonesia dengan teknologi yang dimilikinya. Sehingga mereka lebih maju dalam memenangkan persaingan.
- Demokratisasi dengan perkembangan teknologi menyebabkan ledakan partispasi masyarakat yang luar biasa. Sehingga ini mendorong masyarakat lebih kritis dan proaktif dalam melakukan evaluasi kepada para pemimpinnya. Semua orang yang terhubung dalam dunia digital bisa mengevaluasi seluruh pimpinan dari berbagai jenjang dari tingkat local,nasional bahkan internasional. Bahkan, kritiknya pun terkadang sangat keras bahkan dengan kata-kata yang kasar.
- Ini realitas baru yang sedang kita hadapi. Sehingga kepemimpinan saat ini tidak bisa lagi menjadi pemimpin yang feodal, yang dia berjarak dengan yang dipimpinnya dan menikmati singgasana kepemimpinannya. Kepemimpinan yang baru adalah kepemimpan yang dekat dan terkoneksi dengan yang dipimpinnya. Pemimpin-pemimpin yang tidak baik, dan tidak mampu membaca perubahan ini biasanya tidak akan berumur panjang.
- Di sisi lain, disamping ada tantang-tantangan tapi juga ada peluang- eluang. Pertama, kita sebagai Partai dan individu memiliki banyak peluang posisi kepemimpinan. Dulu sebelum era demokrasi kita tidak pernah terpikirkan bahwa aktivis-aktivis dakwah akan menjadi pemimpin publik baik di daerah maupun di tingkat nasional. Tapi demokrasi telah membuka kesempatan tersebut.
- Kedua, saat ini kita juga lebih mudah dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri untuk menjadi seorang pemimpin. Karena sumber informasi tersedia melimpah ruah di dunia digital sehingga kita bisa akses itu semua untuk kemudian kita serap sebagai pengetahuan.
- Ketiga, ada peluang sebagai pemimpin untuk memecahkan berbagai permasalahan di masyarakat dengan menggunakan teknologi atau technology based-management. Karena itu sebagai pemimpin dan calon pemimpin, kita semua harus melek dan ahli dalam memanfaatkan teknologi dalam memecahkan berbagai macam persoalan yang sedang kita hadapi. Sekarang sudah ada teknologi Geo-Spatial Information System, kita bisa memantau pergerakan arus barang di tengah-tengah masyarakat.
- SKP ini penting diadakan karena untuk merespon berbagai tantangan yang semakin kompleks sehingga kita bisa menghasilkan kepemimpinan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Di samping itu, SKP ini penting dijalankan sebagai ajang untuk merealisasikan visi-misi kolektif kita sebagai partai.
- Apa visi kita? Dalam AD/ART PKS disebutukan bahwa visi PKS adalah menjadi pelopor dalam mewujudkan cita-cita nasional yang termaktub dalam pembukaan konstitusi UUD NRI 1945 di paragraf keempat. Yang kemudian kita bahasakan dengan bahasa lain dalam platform kebijakan pembangunan PKS yakni ingin mewujudkan masyarakat madani yang adil, sejahtera dan bermartabat. Maju secara peradaban material maupun secara spiritual.
- Visi yang besar dan mulia tersebut membutuhkan kepemimpinan yang mumpuni. Karena itu SKP ini diselenggarakan untuk merespon kebutuhan tersebut. Karena kita ingin melahirkan para PEMIMPIN bukan para PEMIMPI. Jangan sampai kita hanya punya mimpi yang besar tapi tidak punya kapasitas kepemimpinan.
- Apa yang membedakan PEMIMPIN dan PEMIMPI? Bedanya di huruf – N –nya. Ada 5-N yang membedakan seorang PEMIMPIN dengan PEMIMPI.
- N – yang pertama adalah NIAT yang tulus. NIAT yang ikhlas. NIAT yang bersih. Untuk apa kita menjadi seorang pemimpin? Bukan untuk diri kita! Bukan untuk kepentingan diri sendiri. Tapi untuk kepentingan dakwah. Untuk kepentingan kolektif umat. Untuk kepentingan masyarakat luas. Ini ujian pertama bagi seorang pemimpin. Kalau dari langkah awal saja seseorang itu salah dan melenceng, seperti ada niat untuk gagah-gagahan secara pribadi, mengambil keuntungan materi dan popularitas semata, maka ini sudah salah harus diluruskan.
- Karena itu mari kita luruskan dan bersihkan NIAT. Jangan sampai niat menjadi pemimpin justru ternodai dan melenceng karena hanya sekedar ingin meraih untuk kepentingan dan keuntungan pribadi semata. Kalau kita bisa ikhlas insyAllah akan mendapat pertolongan dari Allah Swt dari jalan-jalan yang tidak disangka-sangka. Kalau niat kita ikhlas, insyAllah kita semua akan ditolong oleh Yang Maha Ikhlas. Itu harus benar-benar diyakini oleh seluruh kader PKS. Tidak boleh ada keraguan sedikit pun.
- N-yang kedua adalah NILAI yang kokoh. Seorang pemimpin memegang teguh terhadap nilai-nilai yang kokoh. Apa nilai-nilai kita? Sebagai partai dakwah kita sudah mendapatkannya dalam materi-materi Training Orientasi Partai, materi-materi tarbiyah dalam halaqah dan usar kita. Tinggal bagaimana menjadikan nilai-nilai tersebut terinternalisasi dan teraktualisasi dalam perilaku. Jika nilai-nilai ini dipegang secara kokoh, InsyAllah kita akan tetap terjaga dari godaan-godaan. Kalau kita sebagai pejabat publik, kita lihat godaan mulai dari harta, tahta dan wanita benar-benar adanya. Karena itu, bagi seorang pemimpin memiliki nilai yang kokoh menjadi keniscayaan sebagai cara kontrol diri kita agar tidak tergelincir.
- Taushiyah kolektif perlu lagi dihidupkan sebagai penjaga moralitas dan nilai-nilai kita. Tidak benar jika dengan alasan kesibukan, para pejabat publik PKS justru jarang hadir dalam liqoat usar. Justru karena semakin besar amanah kita sebagai pejabat publik maka kebutuhan terhadap taushiyah kolektif dalam liqoat-liqoat kita semakin besar. Semakin butuh dalam lingkaran orang-orang yang sholih.
- Liqoat usar adalah point of return kita, tempat kembali kita merengkuh kembali nilai-nilai spiritual kita. Sepekan kita beraktivitas penuh, maka di liqoat usar adalah tempat kita untuk kembali menghidupkan kembali ruhiyah dan nilai-nilai spiritual kita.
- N-yang ketiga adalah NALAR yang mumpuni. Seorang pemimpin harus bisa mengarahkan bawahannya untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, sebagai pemimpin kita harus mampu menjadikan nilai-nilai subyektif partai kita sebagai nilai-nilai yang bisa diterima oleh masyarakat luas. Dengan NALAR yang mumpuni kita bisa melakukan obyektifikasi nilai-nilai ISLAM dalam kebijakan publik.
- Nalar yang mumpuni sangat diperlukan karena semua pemimpin akan menhadapi berbagai permasalahan yang membutuhkan keputusan dan respon yang cepat dan tepat. Keputusan tersebut pun harus bisa melihat secara jauh kedepan dan dampak yang diakibatkan dari hasil keputusan tersebut. Oleh karena seorang pemimpin harus memiliki kemampuan berpikir strategis (strategic thinking capability). Sehingga keputusan-keputusan yang dibuatnya memberikan hasil yang optimal dan berdampak positif bagi kemajuan organisasi dan masyarakat.
- N-yang keempat adalah NETWORK yang luas. Seorang pemimpin harus memiliki jaringan dan pergaulan yang luas. Kenapa demikian? Pertama, karena kita tidak mungkin bisa menyelesaian permasalahan di tengah-tengah masyarakat sendirian. Kita butuh orang lain yang bisa diajak bergandengan tangan bekerjasama menyelesaikan masalah. Kedua, dengan pergaulan yang luas akan memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat luas tentang apa visi, nilai-nilai yang sedang kita perjuangkan. Semakin luas pergaulan kita akan semakin memperkecil kesalahpahaman orang-orang terhadap PKS. Bangun komunikasi dengan semua kalangan akan memberikan kesempatan kita semua untuk bisa menunjukkan siapa diri kita dan terjalin hubungan yang baik dengan kalangan luar.
- Network kalau dalam bahasa kita kan sebenarnya silaturahim. Kita meyakini bahwa silaturahim itu akan memanjangkan usia, banyak kawan yang akan membela dan memperbanyak rizki. Kalau dalam bahasa politik mungkin akan memperkuat daya dukung sumber daya-sumber daya.
- N-yang kelima adalah NYALI yang pas. N-yang kelima ini sifatnya bersyarat. Jika keempat N-sebelum-sebelumnya sudah terpenuhi. Kenapa disebut Nyali yang PAS? Karena kalau nyalinya berlebihan juga bermasalah. Kalau nyalinya berlebihan tapi tidak punyakeempat N-yang sebelumnya maka namanya bukan NYALI tapi NEKAT. Jadi seorang pemimpin mengambil keputusan bukan hanya karena gagah-gagahan, ingin popular, tapi memang mengambil keputusan karena memang harus berani memutuskan secara tepat dan akurat. Situasinya harus dibaca dengan teliti dan seksama. Jangan sampai salah baca situasi. Boleh jadi dalam kondisi tertentu bukan menunjukkan keberanian secara terbuka tapi justru yang dibutuhkan adalah sikap kerendah hatian.
- N-yang kelima ini nakarnya harus hati-hati dan pintar. Takarannya harus proporsional. Nyali yang pas inilah yang menjadi penentu dalam merealisasikan kerja-kerja politik kolektif kita. Nyali yang pas itu bisa kita mulai dari skala yang rendah ke yang tinggi, dari skala kepemimpinan local hingga nasional dan global. Kita menjalaninya secara terukur. Dengan seperti itu, secara bertahap kita akan mampu meraih apa-apa yang kita cita-citakan bersama sebagaimana yang telah kita sepakti bersama dalam AD/ART Partai dan Platform Kebijakan Pembangunan PKS. InsyAllah.
Wassalamualaikum Wr Wb.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN












