Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
August 09, 2017
posted by @Adimin
Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia (2)
Written By NeO on 09 August, 2017 | August 09, 2017
Mengenal
dan mengendalikan diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan
mengendalikan orang lain. Tidak aneh jika Islam menganggap bahwa mengenal diri
sendiri dengan baik adalah wasilah untuk mengenal Allah (man ʿarafa nafsahu faqad ʿarafa Rabbah).
Hakikat
dan sifat dualistikjiwa yang ada di dalam diri manusia menyebabkan manusia
menjadi makhluk istimewa dan satu-satunya yang bisa mengemban amanat sebagai
khilafah, yaitu tugas untuk mengatur dan memerintah.
Al-Attas
menegaskan bahwamengatur dan memerintah yang merupakan implikasi dari
tugas khilafah bukan hanya berarti mengatur dan memerintah dalam pengertian
sosial-politik, tetapi lebih penting dari itu, yaitu mengatur dan memerintah
kerajaan diri sendiri (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism
[Kuala Lumpur: ABIM, 1978; repr., Kuala Lumpur: ISTAC, 1993], 66).
Di
sini kita bisa melihat bahwa cobaan dalam hidup sebenarnya datang dari diri
kita sendiri. Di akhirat pun Allah akan meminta pertanggungjawaban amalan
manusia sendiri-sendiri, tidak melibatkan orang lain dan negara.
Setan
yang kelak akan disalahkan oleh manusia karena telah menyebabkan manusia
durhaka pun akan berlepas diri dari perbuatan manusia. Sebab, pelaku sebenarnya
segala perbuatan adalah manusia. Tugas setan hanya menggoda dan berbisik (QS
Ibrāhīm [14]: 22).
Lalu,
bagaimana agar manusia bisa mengenal dan mengendalikan diri sendiri? Jawabannya
adalah pendidikan. Jiwa hewani harus senantiasa dididik oleh jiwa rasional,
sedangkan jiwa rasional harus senantiasa menerima ilmu yang bermanfaat, sebuah
proses yang harus dilakukan oleh manusia seumur hidup di sini sebenarnya arti
dan tujuan pendidikan memiliki peran yang sangat penting.
Sebab,
pemimpin-pemimpin zalim, anggota-anggota dewan yang tidak amanah, para
koruptor, penista agama, hukum yang zalim dan lain sebagainya adalah cermin
dari hasil pendidikan kita. Manusia-manusia seperti itu lahir bukan dari produk
politik, ekonomi, dan sosial, tapi lahir dari proses panjang pendidikan. Dan tentu
saja, berbicara tentang pendidikan adalah berbicara tentang manusia.
Setidaknya,
fakta-fakta tentang keberhasilan pendidikan menjadi cara paling efektif untuk
melahirkan manusia-manusia baik telah dilakukan oleh al-Ghazālī, sebagaimana
telah dicatat dengan sangat detil oleh Mājid ʿIrsān al-Kīlānī dalam bukunya yang berjudul Hākadhā Zhahara Jīl Ṣalāḥ al-Dīn wa Hākadhā ʿĀdat Al-Quds (Dar Al-Qalam, Uni Emirat Arab:
2002).
Dalam
bukunya tersebut, al-Kīlānī menjelaskan dengan sangat rinci tentang usaha Al-Ghāzālī
dalam memperbaiki manusia-manusia yang ada pada zamannya melalui jalur
pendidikan. Sehingga, dari usahanya tersebut, lahir generasi Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī yang sangat tangguh.
Zaman
yang dihadapi oleh al-Ghāzālī adalah zaman yang tidak menentu. Kondisi yang ada
ketika itu sepertinya layak menyeret umat Islam ke dalam jurang kekalahan.
Puncaknya, umat Islam kemudian dicabik-cabik dalam Perang Salib. Nilai-nilai luhur yang
terkandung dalam Islam pun lenyap ditelan gelombang kehidupan yang konsumtif dan
destruktif. Para pejabat publik sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok,
kaum ilmuwan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan-kepentingan sekular, umat
Islam tercabik oleh perpecahan dan fanatisme buta, akhlak manusia hancur,
kemiskinan ada di mana-mana, dan ilmu menjadi rusak.
Al-Ghāzālī
kemudian memeriksa dan memberikan obat bagi penyakit-penyakit umat ketika itu.
Berbagai buku yang ditulis oleh al-Ghāzālī sepanjang hidupnya menjadi bukti
bagaimana tajamnya analisa yang dilakukan olehnya. Menjelang akhir hayatnya,
analisa tersebut kemudian diterjemahkan oleh al-Ghāzālī melalui lembaga
pendidikan dengan kurikulum yang dia rancang sendiri. Kelak, dari lembaga
pendidikan tersebut muncul generasi-generasi tangguh seperti ʿAbd
al-Qādir al-Jīlānī dan Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī. Jadi, Ṣalāḥ
al-Dīn al-Ayyūbī bukan sosok yang dilahirkan dari
produk politik yang sementara,tapi lahir melalui proses kreatif panjang para
ilmuwan, guru, ilmu, dan pendidikan.
Sebagai
satu-satunya agama wahyu, Islam telah memberikan ajaran yang sempurna tentang
asal, hakikat, tugas, dan masa depan manusia di dalam kehidupan ini. Bahkan,
Islam menjadi satu-satunya agama yang memiliki sosok cerminan hidup yang
seluruh kata dan perbuatannya menjadi contoh (uswah ḥasanah) bagi seluruh manusia, seluruh
umur, dan melintasi berbagai generasi.
Contoh
tersebut kemudian dijelaskan dan diimplementasikan oleh pewaris-pewaris Nabi
selama berabad-abad untuk kemudian membentuk tradisi dan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.
Sebab,sepanjang
sejarah umat manusia, permasalahan-permasalah besar yang melanda peradaban
adalah karena manusia. Segala kerusakan yang bersifat eksternal (politik,
ekonomi, dan sosial) merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar,
yaitu manusia
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2017
posted by @Adimin
PKS: Tolak Perppu Ormas karena Tak Sesuai Pancasila dan UUD 1945
Written By NeO on 07 August, 2017 | August 07, 2017
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif," kata
Hidayat Nur Wahid.
Sejak
awal, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik Perppu Ormas karena banyaknya
pasal karet dalam Perppu itu yang dapat menghadirkan tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan prinsip HAM dan hukum.
Jelas
Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid (HNW). Korban pasal karet
Perppu Ormas ini pun sudah banyak kata dia.
Seperti
gerakan Pramuka yang pencairan dananya ditunda oleh Kemenpora karena Ketua
Kwarnasnya dituduh terkait Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau orang yang demo
Perppu Ormas dituding kroni HTI.
Hal
itu ia sampaikan menyikapi tuduhan provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, awal Agustus lalu. Viktor menuduh PKS dan
sejumlah partai lain menolak Perppu Ormas karena mendukung kelompok ekstremisme
dan “negara khilafah”.
“Fitnah politisi NasDem
(Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut,
terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif, karena
mengasumsikan bahwa menolak Perppu berarti anti Pancasila dan NKRI dan jadi
kroni HTI,” ujar HNW
Padahal, jelas HNW, PKS
menolak Perppu Ormas justru karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945.
Dan karena Perppu itu membahayakan NKRI.
Selain
oleh PKS, tambahnya, Perppu Ormas juga ditolak oleh lembaga dan LSM peduli hukum
dan HAM yang tak mendukung HT, seperti; LBH se-Indonesia, Komnas HAM, KontraS,
PSHK, dan pusat-pusat kajian hukum di kampus-kampus, serta yang lain-lain.
“Sekalipun
kami berbeda dengan HTI yang tolak demokrasi dan lain-lain. Kami justru
pergunakan demokrasi sebagai wasilah sarana perjuangkan maslahat umat, dan
jauhkan mereka dari madharrat
termasuk madharrat
Perppu pasal karet yang potensial disalahgunakan untuk kembalikan rezim yang
dzalim dan otoriter,” jelas Wakil Ketua MPR RI ini.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 07, 2017
Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia
Oleh: Arif Munandar Riswanto
posted by @Adimin
Segala kerusakan politik, ekonomi, dan sosial merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia
SAAT ini, bangsa ini sedang menghadapi
masalah-masalah besar. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan
kehidupan kaya-miskin, penistaan agama, money politics, kezaliman
penguasa, korupsi, dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak
fenomena bahwa bangsa ini memang sedang dilanda masalah-masalah besar.
Masalah-masalah besar tersebut akhirnya menyebabkan kegaduhan yang
besar serta menghabiskan energi dan ongkos yang tidak sedikit.
Sehari-hari bangsa ini pun disuguhi oleh kegaduhan yang seolah-olah
tiada henti.
Apalagi di zaman perkembangan arus informasi yang seperti tanpa
batas. Setiap orang bisa menulis, memberikan opini, menyebarkan berita,
membentuk image, dan membuat kepalsuan dengan bebas. Sebuah fenomena
yang akan merusak dan meruntuhkan otoritas.
Mungkin banyak di antara kita yang bertanya: apa akar penyebab dari
masalah-masalah besar tersebut? Apakah ia disebabkan oleh iklim
kehidupan politik yang tidak kondusif, kesenjangan ekonomi, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan
baik?Banyak orang yang berpendapat bahwa akar masalah dari bangsa ini
adalah politik. Artinya, jika kehidupan politik sudah baik, maka bangsa
ini akan menjadi baik. Jika masalah asasinya adalah politik, maka
solusinya pun adalah politik.Pun begitu dengan orang-orang yang
berpandangan bahwa akar masalahnya adalah ekonomi, sosial, atau
nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik
oleh masyarakat.
Jika kita renungkan lebih dalam, pada hakikatnya, akar masalah besar
bangsa ini adalah manusia.Masalah bangsa ini adalah masalah tentang
manusia. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain hanyalah
ranting yang mudah dilihat oleh semua orang dari pohon besar yang
bermuara pada akar yang sama, yaitu manusia.
Masalah-masalah tersebut adalah cermin dari fenomena manusia
Indonesia.Hal ini berarti juga, jika akar dari masalah-masalah besar
bangsa ini tidak diperbaiki, masalah-masalah tersebut akan terus-menerus
terulang. Mungkin bentuk dari masalah tersebut bisa berbeda dari satu
generasi ke generasi lain, tapi hakikatnya selalu sama. Dengan kata
lain, jika manusia-manusia Indonesia tidak dididik untuk menjadi manusia
yang baik (al-insān al-ṣāliḥ), bisa dipastikan
pemimpin-pemimpin zalim, para penista agama, dan koruptor-koruptor baru
akan terus-menerus lahir dari satu generasi ke generasi lain.Siapa yang
menyangka bahwa pergantian politik dari Orde Baru ke Reformasi justru
tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih baik. Ia menunjukkan
bahwa pemimpin yang baru tidak dijamin bisa menjadi lebih baik dari
pemimpin sebelumnya.
Padahal, dalam iklim demokrasi seperti zaman sekarang, untuk
mengganti seorang pemimpin saja pasti memerlukan ongkos yang sungguh
sangat besar. Karena pemimpin baru ternyata tidak lebih baik dari
pemimpin sebelumnya, lagu-lagu indah tentang pembangunan, perubahan, dan
kebebasan ketika Orde Baru diturunkan mulai terasa seperti fatamorgana
di tengah sahara. Akhirnya banyak individu yang ingin kembali ke zaman
Orde Baru.
Hakikat Manusia
Di dalam Islam, hakikat tentang manusia (yang meliputi ajaran-ajaran
tentang siapa dirinya, tujuan hidup di dunia, akhlak, dan kebahagiaan)
termasuk ke dalam salah satu ajaran asasi agama.Bahkan,al-Attas
memasukkan hakikat manusia ke dalam salah satu unsur penting
metafisikaIslam, yang dalam banyak hal berkaitan sangat erat dengan
psikologi jiwa manusia (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam
[Kuala Lumpur: ISTAC, 2001], 143-176).Al-Attas adalah salah seorang
ilmuwan Muslim besar yang memberikan perhatian besar terhadap manusia.
Dalam tradisi Islam,para ilmuwan yang memiliki perhatian besar
terhadap hakikat manusia adalah ilmuwan-ilmuwan yang memiliki
pandangan-pandangan besar dalam metafisika Islam (Filsafat, Kalam, dan
Tasawuf).
Manusia diciptakan oleh Allah memiliki dua karakteristik: jiwa dan
tubuh. Yang pertama merujuk kepada hakikat sebenar manusia ketika dia
mengatakan “aku”dimana jiwa, kemuliaan, akhlak, dan kebahagiaan hakiki
berasal, sedangkan yang kedua merujuk kepada potensi hewani. Para ulama
menyebut hakikat jiwa pertama dengan jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) sedangkan yang kedua disebut jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah).Ini yang kemudian disebut oleh para ulama bahwa manusia adalah ḥayawān al-nāṭiq.Jiwa
rasional adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk
lainnya dimana kemuliaan, akhlak mulia, dan kebahagiaan berasal,
sedangkan jiwa hewani adalah jiwa yang betul-betul identik dengan hewan.
Karena memiliki sifat hewani, jiwa hewani harus diatur oleh jiwa
rasional dengan baik. Menurut Fakhr al-Dīn al-Rāzī, jiwa hewani yang
harus diwaspadai oleh manusia wujud dalam tiga kekuatan: nafsu syahwat,
nafsu amarah, dan nafsu kekayaan atau kekuasaan (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 32 vols. [Beirut, Dār al-Fikr, 1981]: 1: 258).
Agar berhasil dalam hidup, manusia harus mengatur kedua hakikat jiwa
tersebut dengan baik. Jiwa rasional harus senantiasa ada di atas dan
mengatur jiwa hewani. Namun sebaliknya, jika jiwa hewani justru yang
lebih dominan untuk kemudian menjadi raja dalam kerajaan manusia,
manusia akan berubah menjadi seperti hewan, bahkan bisa lebih buruk
daripada hewan (QS al-Aʿrāf [7]: 179). Dalam kondisi seperti itu, maka
akan lahir kesengsaraan (al-shaqāwah) dan akhlak yang hina dari manusia.
Karena memiliki kedua potensi jiwa tersebut, manusia layaknya seperti kerajaan, yaitu kerajaan kecil (microcosmos).
Fakhr al-Dīn al-Rāzī misalnya menyebut bahwa manusia pada
hakikatnyaseperti kerajaan; jiwa rasional seperti seorang raja; indera
eksternal dan internal seperti tentara; anggota-anggota badan seperti
warga negara; syahwat dan amarah seperti musuh yang selalu berusaha
untuk menghancurkan kerajaan dan membunuh warga negara.
Jika raja mampu mengendalikan musuh, negara akan stabil dan jauh dari konflik (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Kitāb an-Nafs wa ar-Rūḥ wa Syarḥ Quwāhumā, ed. Muḥammad Ṣaghīr Ḥasan al-Maʿṣūmī [Islamabad, Islamic Research Institute: t.t.], 79-84).
Kedua hakikat jiwa yang ada di dalam diri manusia senantiasa tarik
ulur dan berperang seumur hidup. Yang satu sering berusaha untuk
mengalahkan yang lain.
Di sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya seluruh manusia aktif
dalam “politik”, yaitu politik untuk mengatur kerajaan diri sendiriyang
berlaku seumur hidup dan disamakan dengan jihad paling besar (al-jihād al-akbar).
Namun, karena semua orang memahami politik hanya sebatas hubungan
manusia dengan negara, manusia banyak yang tidak menyadari dan gagal
melaksanakan tugas-tugas politik untuk mengatur kerajaan diri sendiri.
Ini yang kemudian menyebabkan kerusakan besar dimana-mana, termasuk
bangsa Indonesia
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 05, 2017
posted by @Adimin
Berjargon “Saya Pancasila” tapi Mengumbar Ujaran Kebencian, Sindir HNW
Written By NeO on 05 August, 2017 | August 05, 2017
Oleh karena itu, menurut tokoh PKS ini, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyindir
mereka yang sering berjargon “Saya Pancasila” dan “NKRI harga mati” tapi
perilakunya bertentangan dengan jargon itu sendiri.
Sindiran itu menyikapi pidato provokatif kader Partai NasDem, Viktor
Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, yang menuduh sejumlah partai
“intoleran dan mendukung negara khilafah”.
“Kalau perilakunya semacam (Viktor) ini, jelas tidak menghadirkan
kesatuan, tapi cerai-berai,” kata Wakil Ketua MPR RI ini, Jumat (04/08/2017).
“Mengumbar ujaran kebencian di depan publik itu potensial memecah
belah sesama anak bangsa, menghadirkan kondisi ketidakamanan publik, dan
bertentangan dengan prinsip Pancasila dan NKRI,” ungkapnya.
Oleh karena itu, menurut HNW, kasus Viktor tersebut tak cukup
diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum
dalam kasus ini.
Diberitakan sebelumnya, dalam pidato provokatifnya, Viktor menuduh 4
partai secara eksplisit Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN sebagai partai
pendukung berdirinya “negara khilafah” dan karena itu tidak boleh
didukung. Bahkan pendukung khilafah disamakannya dengan PKI pada 1965
yang layak dibunuh.
“Mengerti negara khilafah? Semua wajib shalat,” tuding Viktor. “Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus shalat.”
“Saya tidak provokasi…,” klaim Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini
kemudian. Lalu berkata, “… nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka
sebelum kita dibunuh,” ungkapnya disambut tawa banyak hadirin di
depannya.
“Ingat dulu PKI 1965? Mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka,” tambah politikus kelahiran Kupang ini.
Andi
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 04, 2017
posted by @Adimin
Kota Padang Kembali Raih Adipura
Written By NeO on 04 August, 2017 | August 04, 2017
Kota Padang kembalil meraih Piala Adipura untuk kategori kota besar,
kota bersih dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Ini goresan prestasi
dipentas nasional. Piala Adipura tersebut dibawa langsung Walikota
Padang H. Mahyeldi Ansharullah, SP dan Jumat pagi (4/8) di sambut di
Bndara International Minangkabau (BIM), sebut Kepala Dinas Lingkungan
Hidup (KLH) Kota Padang H. AL-Amin didampingi Kadis Kominfo Suardi, SH.
Mhum.
Setelah penyambutan Piala Adipura dan Adiwiyata Mandiri
2017 di BIM langsung diarak menuju Balaikota Padang di Aie pacah
melalui rute jalan Adinegoro, simpang kalumpang lanjut hingga kator
Walikota Padang. Setiba di kantor Walikota disambut lagi rangkaian
kegiatan yang menarik, tari pasaambahan dan lain sebagainya.
Setelah itu, kata Al amin, juga dilakukan penyerahan Piala
Adipura dari Walikota kepada tokoh masayarakat yang diwakili ketua DPRD
Kota Padang. Lanjut penyerahan Piala Adiwiyata Mandiri dari Kepala
sekolah kepada Walikota Padang.
Ini adalah hasil kerja keras bersama dan partisipasi
masyarakat dalam mencintai kebersihan lingkungan. Kesadaran masayarakat
terhadap kebersihan erat hubungan dengan kesehatan. Maka dari itu mari
selalu ditingkatkan agar lingkungan selalu terjaga kebersihannya. Bersih
itu indah menjadi idaman semua warga kota tercinta ini. kota Padang
meriah piala Adipura berdasarkan undangan yang dikirim oleh Dirjen
Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan tersebut bernomor: UN.74/PSLB3/P5/PLB.0/7/2017,
bertanggal 25 Juli 2017.
Kota Padang tercatat 17 kali menerima piala Adipura dan
terakhir diterima pada tahun 2009 sebelum gempa besar meluluh lantakan
Padang kota tercinta ini. Untuk itu mari kita meriahkan secara
bersama-sama penyambutan Piala Adipura yang dirah Kota Padang kategori
kota besar ini. Penyambutan ini sekaligus sebagai media memberitahukan
kepada publik kota tercinta ini
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 03, 2017
Hentikan perdebatan, tanyalah hati kita. Apa manfaat membantu saudara-saudara kita di Palestina?
posted by @Adimin
Masjid Al Aqsha, Jangan Hilang Fokus
Written By neobattosai on 03 August, 2017 | August 03, 2017
SUATU
teori
terkenal, jadikan musuh bersama maka kalian akan bersatu dan kuat. Tapi fitnah
akhir zaman teramat dahsyat. Jangankan kita menyatukan shaf-shaf ukhuwah,
mengabaikan sekat-sekat khilafiyah,
membangun persatuan demi hadirnya izzah.
Tentang
Masjid Al-Aqsha saja, yang jelas musuhnya, yang jelas kezaliman atas mereka,
hitamnya jelas benderang di atas putih, bahkan sudah jelaskan dikabarkan Allah
dan Rasulnya, hari ini kita masih berdebat panas saling menyalahkan tentang
mana sebenarnya Masjid Al-Aqsha.
Sudah
lama energi umat Islam terbuang hanya dalam ranah ini. Kita kehilangan arah
prioritas, energi habis kita tumpahkan disini. Ranah jagat media sosial ramai,
berdebat tentang lokasi Masjid Al-Aqsha.
Padahal
saudara kita di sana, dengan sekuat tenaga dan usaha. Bertahan di sekeliling
tanah berkah ini, berteguh dihujam peluh dan darah, bertegap meneriakkan “Birruh, Biddam, Nafdika ya Aqsha”
(dengan ruh, dengan darah, kami bela kau ya Aqsha).
Suara
mereka merekah memecah setiap waktu walau datang gelapnya dinihari di
pintu-pintu Masjid Al-Aqsha.
Kadang,
di sini, perdebatan berakhir kasar dan panas. Tuduhan terkena konspirasi Yahudi
yang ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsha pun terlontarkan. Padahal sudah
seminggu ini Baitul Maqdis menegangkan. Masjid Al-Aqsha diambang 2 kemungkinan;
Masjid Al-Aqsha kita 100% diambil alih oleh penjajah Zionis Israel sehingga
umat tak dapat lagi menegakkan shalat di dalamnya, atau kita, umat Islam
bangkit bersatu bersama-sama membebaskannya untuk menjadi pusat turunnya rahmat
dan berkah Allah Subhanahu
Wata’ala ke seluruh alam.
Cobalah
berfikir, tentang perdebatan ini. Adakah manfaat untuk diri kita, atau apakah
dapat membantu saudara-saudara kita di Palestina?
Cobalah
memahami satu sama lainnya, cobalah memilah mana prioritas yang harus kita
kerahkan energi kepadanya.
Bagi
yang kokoh menganggap Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Masjid besar; berkubah
hitam), cobalah dengar pendapat saudaramu, yaitu; Seperti Ka’bah, dialah
lambang ikonik Masjid Al-Haram. Walaupun disana ada Multazam, Maqam Ibrahim, Hajar Aswad dan Hijr Ismail.
Begitupun
Masjid Al-Aqsha, ada Qubah
Ash-Shakra (Dome of
the Rock; berkubah emas) sebagai lambang ikoniknya, walaupun ada
banyak bangunan di dalam komplek seluas 14,4 Hektar, termasuk Jami’ Al-Kabir (Masjid Besar;
berkubah hitam).
Cobalah
berfikir, bagi yang menyatakan Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Kubah
hitam), terimalah yang berpendapat Qubah
Ash-Shakra sebagai lambang ikonik, bukankah masjid yang dimaksud
tercakup di dalam komplek itu?
Bagi
yang punya pendapat sebaliknya, tak perlu menghabiskan waktu memperpanjang
debat, menghabiskan energi yang ada, cukup berikan argumen Anda, dan
tanyakanlah perkara yang paling penting.
Tanyalah
diri kita: “Apa yang sudah kulakukan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha?”
Permasalahan
utama Masjidi Al-Aqsha itu tentang penjajahan, penjarahan dan penistaan.
Peristiwa ini sudah berjalan selama 100 tahun, pertama oleh Inggris,
dilanjutkan sejak 50 tahun oleh Zionis Israel.
Sudahkan
doa-doa khuyu’
dan khusus kita tertuju ke tanah pusat berkah ini, sudahkah benar hati kita
membenci kezaliman yang dilakukan atas mereka, sudahkah kita menyeberkan
informasi ini, menginfakkan harta terbaik kita atau menyiapkan diri jika
sewaktu-waktu Allah kondisikan kita untuk berjihad ke sana. Sungguh sekecil
apapun, pembelaan adalah pertanggungjawaban kita.
Atau
malah, kita aktif berdebat tentang mana Masjid Al-Aqsha sebenarnya. Tapi masih
minum produk Nestle,
makan di KFC
atau McD, ngopi di Starbuck atau menikmati
produk-produk penyokong zionis Israel lainya.
Sadarlah,
detik-detik ini berjalan: Apakah Masjidil Alqsha akan ditutup dan diambil alih
oleh penjajah selamanya, atau Allah izinkan kita ikut membebaskannya, selama-lamanya
jadi berkah untuk seluruh dunia. Mari tulis sejarah kita dengan tinta emas,
berikanlah yang terbaik: Doa, Lisan, Harta dan Jiwa. Amin
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 02, 2017
posted by @Adimin
Ratusan Ribu Warga Turki Hadiri Solidaritas utk Masjidil Aqsha & Muslimin Dunia
Written By neobattosai on 02 August, 2017 | August 02, 2017
Ismail Haniyah menegaskan, permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya
permasalahan Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum
Muslimin
Ratusan
ribu orang dari berbagai etnis dan usia hari Ahad, (30/07/2017) berkumpul
di lapangan taman Yenikapı, İstanbul, Turki dalam Aksi Solidaritas
Rakyat Turki kepada Masjidil Aqsha dan umat Muslimin sedunia.
Warga
turun jalan guna memprotes tindakan pengamanan yang dilakukan oleh penjajah
Israel yang mencegah warga Palestina memasuki Masjidil Al Aqsha yang diduduki.
Pertemuan
ini adalah aksi terbaru dalam serangkaian demonstrasi yang telah diadakan di
Turki selama minggu terakhir menyusul pembatasan baru-baru ini yang dilakukan
pihak penjajah Israel terhadap orang-orang Palestina yang memasuki Masjid Al
Aqsha.
Meskipun
acara yang diadakan oleh pemerintah kota Istanbul dijadwalkan pukul 17.00 sore,
namun gelombang peserta telah datang pukul sudah sejak pukul 15.00 siang waktu
Istanbul.
Salah
satu peserta aksi menyampaikan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukanlah
masalah rakyat Palestina saja tapi sudah menjadi kewajiban umat Muslim dunia.
Ia
mengatakan bahwasanya umat Islam harus mengingat peristiwa yang tragedi
terhadap kasus Mavi Marmara.
Dia
menegaskan untuk berperan aktif membela Masjidil Aqsha minimal dengan
memperkuat iman.
“Saya
senang bisa sama-sama mengikuti acara ini, yang mana kemeriahan dan aksi
nyatanya belum saya rasakan di negara-negara Muslim lainnya.”
“Mereka
(peserta aksi, red) adalah satu-satunya bangsa non-Arab yang punya komitmen dan
kesungguhan dalam membebaskan Masjidil Aqsha. Dan gerakan mereka membekas di
hati saya serta para hadirin lainnya. Dan saya menyayangkan perselisihan
sebagian negara muslim yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Umar salah satu
peserta yang datang dari Mesir.
Disela-sela
orasi diserukan berbagai yel-yel, seperti: “Lawan lawan lawan lawan Israel”,
juga yel-yel seperti, “Birruh,
biddam nafdiika yaa Aqsha…!” (dengan ruh, dengan darah, kami
bela kau ya Aqsha).
Acara
ini juga dihadiri oleh Kepala Biro Politik Hamas yang baru, Ismail Haniyyah
melalui video live.
Dalam
siarannya melalui video
live itu Ismail Haniyyah memberikan kabar gembira kepada kaum
muslimin bahwasanya umat Islam tengah meraih kemenangan dengan
dibongkarnya pintu elektronik (detector logam) oleh pihak penjajah Israel di
gerbang Masjidil Aqsha.
“Kaum
muslimin di Palestina tidak gentar terhadap setiap situasi yang terjadi, dan
akan terus bertahan di sana,” demikian kutipnya.
Haniyah
juga menegaskan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya permasalahan
tentang Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum Muslimin
seluruhnya.
Dan
di akhir pidato, ia menutup dengan mendoakan kaum muslimin sedunia.
Di
akhir aksi, pembawa acara membacakan doa untuk saudara-saudara semuslim di Palestina,
Suriah, Iraq, Myanmar, dan kaum muslimin secara umum.
Sampai
pukul 20.20 malam, acara ini ditutup dengan adzan maghrib dan sholat
berjama’ah.
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
August 02, 2017
posted by @Adimin
Jadilah Muslim Terampil
Umat
Islam tak boleh pengangguran, harus ada kemampuan yang dikuasai, sehingga
dengan itulah bisa ikut dalam 'jihad' dan dakwah
ISLAM
mengajarkan
umatnya untuk mendiri dan bekerja. Karenanya banyak pesan-pesan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam
yang memerintahkan umatnya bekerja, memakan makanan yang lebih baik
dari hasil usaha tangannya sendiri, bukan menjadi peminta-minta.
Bahkan
pernah suatu hari Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassallam memerintahkan mencari kayu dan menjualnya di
pasar itu lebih baik dari meminta-minta.
Makna
secara lebih luas dari penekanan beliau bagi umat Islam tersebut dapat
diartikan dengan dorongan; milikilah skill
(keahlian) yang akan membuat dirimu terampil dalam skill praktis itu lebih baik diutamakan
daripada berpikir untuk meminta-minta dan menyandarkan hidup pada manusia.
Mengapa
demikian? Ternyata secara makro, banyaknya SDM yang menganggur akan berdampak
buruk pada stabilitas sebuah bangsa dan negara.
Nicolas
Wyman, CEO dari The
Institute Workplace Skill and Innovation menegaskan bahwa sebuah
negara yang penduduknya banyak menjadi pangangguran akibat pemutusan hubungan
kerja akan mendorong sebuah negara pada masalah (ekonomi) yang gawat. Terlebih
jika mayoritas penduduknya ternyata tidak memiliki practical skills yang dibutuhkan,
jelas itu sangat berbahaya.
Dalam
sebuah hadits Nabi menerangkan, “Hampir-hampir
kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.” (HR. Baihaqi).
Jika
kita perhatikan, Nabi Muhammad sejak kecil telah berusaha membekali diri dengan
kemampuan praktis guna menunjang kebutuhan hidupnya. Mulai dari menggembala,
berdagang, hingga menjadi pebisnis ulung di seluruh Jazirah Arab.
Demikian
pula ketika kita perhatikan Nabi Ibrahim yang ahli dalam membangun, Nabi Musa
yang juga ahli dalam menggembala, Nabi Daud yang memiliki kemampuan pandai
besi, serta Nabi Yusuf yang ahli keuangan atau ahli ekonomi.
Artinya,
tidak sepatutnya seorang Muslim membiarkan waktunya berlalu tanpa mengasah skill untuk menjadi
terampil sehingga bisa hidup secara mandiri.
Lantas,
apa yang harus dilakukan agar diri mampu menjadi insan terampil dan bermanfaat
bagi sesama?
Pertama, ingat pesan Nabi bahwa belajar itu
dari dalam kandungan hingga liang lahat. Artinya, jangan pernah mengenal kata
stop dalam belajar alias menuntut ilmu.
Analoginya
sederhana, setiap buah yang telah sampai pada titik kematangan, jika tidak
dimanfaatkan dengan dikonsumsi segera, maka buah itu akan membusuk dan tidak
bernilai guna bagi kehidupan. Demikian pula manusia, ketika dirinya merasa
telah bisa dan berhenti belajar atau berinovasi, maka dirinya akan ditinggalkan
zaman.
Kedua, mengenali talentaa diri dan
mengasahnya
Beruntung
jika diri telah mengetahui talenta yang dimiliki, tinggal mengasahnya setiap
hari. Belajarlah dari pohon besar. Sekiranya pohon itu kala baru ditanam
dipindah-pindah, tidak mungkin akan tumbuh besar dengan akar-akar yang besar.
Demikian pun manusia, jika telah mantap dengan talenta yang dimiliki maka
asahlah setiap hari.
Seorang
Cristiano Ronaldo bisa menjadi bintang sepakbola, karena memang dalam 24 jam
sepanjang hayatnya, akal dan kakiknya, bahkan perasaannya tidak bisa dilepaskan
dari sikulit bundar.
Pertanyaannya
bagaimana kalau belum tahu talentaa dirinya?
Kebanyakan
orang memandang talenta adalah sesuatu yang bersifat genetika, sehingga itu
sudah ada dari sononya. Padahal tidak.
Talenta
dimulai dengan terjadinya pertemuan singkat dan kuat yang memicu dan memacu
motivasi diri yang berhubungan dengan mungkin hobi atau kegemaran tertentu yang
menjadi identitas diri dengan orang atau pun grup yang mendukung mood diri melejit,
sehingga muncul kesadaran bahwa diri bisa melakukan sesuatu yang jika
diteruskan dan ditajamkan akan menajamkan talenta yang tersembunyi di dalam
diri.
Ketiga,
jadikan skill
diri sebagai media jihad dan dakwah
Di
dalam Al-Qur’an perintah berjihad itu ada dua, pertama dengan harta dan kedua
dengan jiwa. Dengan harta (amwal)
artinya umat Islam tidak boleh jadi pengangguran, mesti ada kemampuan praktis
yang dikuasai, sehingga dengan itulah dirinya bisa ikut serta dalam ‘jihad’ dan
dakwah.
Ada
yang sibuk bekerja dan karena itu tidak bisa berdakwah. Maka harta yang
dimiliki bisa disumbangkan untuk dakwah, mendukung kiprah para dai dalam
dakwahnya. Dan, mereka yang dianugerahi kekayaan berkat skill yang diasah sejak
lama, maka dengan harta itulah bisa terlibat dalam jihad.
Dengan
demikian, menjadi Muslim terampil pada dasarnya adalah kebutuhan, agar diri tak
menjadi beban orang lain dengan hanya bisa berpangku tangan. Jadi, belajarlah
dan asahlah skill
yang ada pada diri untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala semata. Wallahu a’lam
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 29, 2017
posted by @Adimin
Aliansi Rakyat Sumbar Untuk Palestina Selenggarakan Orasi & Longmarch
Written By neobattosai on 29 July, 2017 | July 29, 2017
Mensikapi perkembangan terakhir yang menimpa ummat Islam di Palestina, yang mana ummat Islam dilarang untuk menunaikan sholat berjamaah di Masjid Al Aqsa, itupun jika dibolehkan melalui proses pemeriksaan yang tidak manusiawi.
Maka Aliansi Masyarakat Sumatera Barat untuk Palestina menyelenggarakan Orasi dan Longmarch yang diikuti ribuan orang. Elemen elemen ummat Islam diantaranya KNRP, DDII, IKADI, KAMMI, MMI, MUI, FLSDK dan seluruh masyarakat peduli Palestina mengikuti acara dengan penuh khidmat.
Tokoh tokoh ormas berorasi dengan begitu luarbiasa menggugah peserta acara untuk peduli dengan apa yang terjadi di belahan bumi Palestina. Diantaranya Ketua KNRP Sumbar Ust. Ulyadi Lc, MA, Ust. Irsyad Syafar sebagai tokoh ulama Sumatera Barat sekaligus anggota DPRD Sumatera Barat, Ketua Umum IKADI Sumatera Barat Ust. DR Urwatul Wutsqo dan tokokh tokoh ormas yang tergabung dalam aliansi.
Semoga dengan dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Sumatera Barat akan di ijabah oleh ALLAH dan semoga rakyat Palestina segera lepas dari cengkraman penjajah zionis yahudi......
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN
July 29, 2017
posted by @Adimin
PKS Siapkan Strategi Pemenangan Pemilu 2019
Meski pemilu 2019 masih lama, PKS jauh-jauh hari sudah mempersiapkan strategi pemenangan.
Hal itu dilakukan Mardani Ali Sera,
Anggota DPR RI dari Fraksi PKS yang membuka Forum Group Discussion (FGD)
strategi pemenangan Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif 2019 di Ruang
Rapat Pleno Fraksi PKS, Komplek Senayan.
Mardani, dalam keterangan resminya,
Kamis (27/7), mengatakan agenda ini merupakan rangkaian program
pemenangan menyongsong Pemilu 2019 yang akan datang.
“Dua Tahun lagi kita menyongsong pesta
demokrasi tahunan. Yang menarik tahun nanti untuk pertama kali dalam
sejarah Indonesia menggelar pemilihan serentak sejak keputusan MK tahun
2013 lalu,” katanya.
Legislator Dapil Jabar VII itu
mengungkapkan menghadapi pemilu nanti diperlukan strategi yang jitu
mendorong agar seluruh struktur maupun calon legislator PKS memiliki
kemampuan pemataan dapil sebagai salah satu strategi pemilu.
Pihaknya pada Pemilu 2019 nanti
menargetkan perolehan suara nasional sebesar 12%. Menurutnya target
tersebut tidak mustahil bisa tercapai.
Ketua Tim Bidang Pemenangan Pemilu dan
Pemilukada (BP3) DPP PKS, Agoes Poernomo mengatakan pihaknya sudah
melakukan perhitungan secara mendalam terkait target PKS 2019 tersebut.
“Kami sudah melakukan perhitungan mendalam terkait target itu,” katanya
July 28, 2017
posted by @Adimin
Pilihan Konsisten PKS
Written By neobattosai on 28 July, 2017 | July 28, 2017
Apa kabar Senayan? Tepatnya hari Kamis
(20/7/2017) lalu PKS mengambil sikap tidak ikut dalam pengambilan
keputusan atas Rancangan Undang Undang (RUU) Pemilu di Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI). Kompleks Senayan pun riuh karena
bukan hanya PKS, tetapi tiga fraksi lainnya juga ‘walk out’, istilah
yang digunakan untuk meninggalkan persidangan.
PKS, Gerindra, Demokrat dan PAN
menganggap pengambilan keputusan untuk hal krusial terkait penentuan
ada-tidaknya batas elektoral parlemen dalam mengajukan pasangan calon
presiden dan wakil presiden, mestinya dibicarakan dengan jalan
musyawarah dan tetap berpedoman pada kerangka hukum yang ada.
Alasan lebih panjang lebar kenapa
keputusan menggunakan elektoral parlemen 20 persen dalam pemilihan
presiden dan wakil presiden 2019 melanggar Undang-Undang.
Prinsip utamanya adalah, jangan sampai
untuk sekadar memuluskan kemauan beberapa golongan, bangsa ini harus
menabrak berbagai aturan.
Selanjutnya dari Senayan kita juga
mendengar kabar bahwa Fraksi Partai Gerindra mundur dari Pansus Hak
Angket untuk KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Dengan mundurnya
Gerindra, praktis pengisi Pansus Angket untuk KPK kini diisi oleh lima
fraksi yang adalah dari partai-partai pendukung pemerintahan Joko
Widodo- Jusuf Kalla.
PKS? Sejak awal sudah menyatakan tidak
menyetujui pembentukan pansus Hak Angket karena PKS berpandangan bahwa
ada nuansa upaya pelemahan dalam Hak Angket tersebut.
PKS konsisten dalam pilihan untuk
pemberantasan korupsi hingga ke akar-akarnya dengan menjadikan KPK
sebagai salah satu institusi penting pemberantasan korupsi. Akan halnya
beberapa kelemahan yang masih ada di tubuh KPK, PKS merasa masih ada
cara lain untuk memperbaikinya diantaranya dengan menghadirkan lembaga
pengawas yang melekat di tubuh KPK dan juga transparansi dalam
penggunaan anggaran negara yang berasal dari rakyat.
PKS ingin publik bisa menilai bahwa
hiruk pikuk Senayan pasti ada benang utamanya. Rakyat bisa melihat peran
dan sepak terjang partai politik dalam setiap pengambilan keputusan di
DPR. Termasuk keinginan pemerintah yang dalam gerak dan agendanya mesti
mendapatan restu dari parlemen.
PKS ingin menunjukkan sebuah sikap
konsisten yang merdeka sesuai dengan garis mandat yang diberikan
masyarakat. Konsitensi PKS untuk membangun bangsa yang bermartabat, adil
dan sejahtera, kami serahkan pada mata hati dan jari publik di saat
Pemilu nanti
posted by @Adimin
Label:
SLIDER,
TOPIK PILIHAN












