pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Anak Bangsa Wajib Menjaga Rumah Indonesia

Written By NeO on 11 August, 2017 | August 11, 2017


Segenap anak bangsa memiliki kewajiban untuk menjaga Indonesia sebagaimana menjaga rumahnya sendiri. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengibaratkan Indonesia adalah rumah yang dibangun oleh para bapak dan ibu bangsa, dipertahankan, dirawat dan dipercantik oleh anak bangsanya sendiri. Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS Mustafa Kamal di kantor DPP PKS di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (9/8/2017).
 
Menurut Mustafa, sebagai bagian dari bangsa Indonesia, PKS akan turut menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia (RI) tahun ini. “Bulan Agustus ibarat bulan mulia bagi bangsa Indonesia, kami bukan sekadar ingin merayarakan ulang tahun, tetapi justru ingin meneguhkan komitmen menjaga Indonesia sebagai rumah bagi seluruh anak bangsa yang sangat bhinneka ini,” ujar Mustafa.

PKS, menurut Mustafa Kamal, sangat berharap seluruh elemen bangsa bangkit dan melongok lagi kondisi bangsanya. Ibarat rumah, tuturnya, jangan sampai rumah kita diserang oleh pihak luar atau juga dirusak dari dalam. “Selain itu, kerusakan yang akibat faktor alam mesti diantisipasi agar penghuni rumah dapat nyaman tinggal di sana. Dan itu adalah tanggung jawab kita semua sebagai anak bangsa,” tegasnya.

Untuk itu, PKS seperti tahun-tahun sebelumnya juga akan memperingati detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 2017 dengan upacara bendera dan pembacaan naskah teks Proklamasi yang akan dipimpin oleh Presiden PKS. “Tahun lalu inspektur upacara, sekaligus yang membaca teks proklamasi adalah Ketua Majelis Syura, untuk tahun ini insyaAllah Presiden PKS Pak Sohibul Iman,” ujar anggota DPR dari daerah pemilihan Sumatera Selatan ini.

Upacara peringatan detik-detik Proklamasi, tambah Mustafa, juga akan diselenggarakan oleh struktur PKS di tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten. Selain hal itu, DPP PKS juga akan menggelar berbagai kegiatan selama bulan Agustus ini. “Kita akan gelar acara Ngaji Budaya bersama narasumber dari kalangan budayawan, juga pagelaran Wayang Golek, Final Lomba Baca Teks Naskah Proklamasi mirip Ir. Soekarno, donor darah, bingkisan untuk veteran RI, peluncuran PKS Muda dan syukuran dengan 72 tumpeng,” ujar Mustafa.

Ia juga meminta agar seluruh kader PKS berpartisipasi dalam kegiatan HUT RI yang diselenggarakan di lingkungan masing-masing. “Upayakan acara partai menyesuaikan agar tidak bentrok dengan acara 17-an di lingkungan,” pungkas Mustafa

posted by @Adimin

Keteladanan Melahirkan Manusia Beradab

Written By NeO on 10 August, 2017 | August 10, 2017

Abdullah Nasih Ulwan berpendapat, keteladanan merupakan kunci dari pendidikan akhlak seorang anak


Oleh: Arsyis Musyahadah


Abdurrahman an-Nahlawi dalam kitab Ushul at-Tarbiyah al-Islamiyah mengatakan, pengaruh yang tersirat dari sebuah keteladanan akan menentukan sejauh mana seseorang memiliki sifat yang mampu mendorong orang lain untuk meniru dirinya, baik dalam keunggulan ilmu pengetahuan, kepemimpinan atau ketulusan.

Dalam pendidikan, keteladanan pendidik merupakan faktor yang dapat melahirkan kepribadian bagi seorang anak didik. Keberhasilan anak didik adalah indikator kesuksesan seorang pendidik tersebut.

Keberhasilan yang dimaksud di sini bukan hanya dalam bidang intelektual, melainkan anak didik yang berhasil adalah yang memiliki akhlakul karimah (akhlak yang mulia).

Pendidikan yang sukses selalu melihat pada anak didik, sebagai objek pendidikan. Anak didik yang sukses merupakan produk dari pendidik yang sukses. Ketika ingin mengindentifikasi pendidik yang cerdas, maka lihatlah anak didiknya.

Ibn Sina mengatakan, guru yang baik adalah guru yang cerdas, mengetahui cara mendidik anak, dan cakap dalam mendidik anak.

Senada, Abdullah Nasih Ulwan berpendapat, keteladanan merupakan kunci dari pendidikan akhlak seorang anak.

Allah berfirman:
إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً
“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. An-Nisa’ [4]: 48).

Disayangkan, negeri yang telah memiliki enam Undang-Undang Pendidikan Nasional ini sedang mengalami krisis keteladanan.

Sebelumnya pernah dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anis Baswedan, kualitas guru di Indonesia sangat memprihatinkan.

Terbukti dengan banyaknya guru yang tidak mengembangkan potensi diri. Sebagiannya hanya memahami bahwa tugas sebagai pendidik tak lebih dari rutinitas  mengajar dan menuntaskan kriteria pembelajaran atau kurikulum yang dibebaninya.

Guru demikian, biasanya cenderung abai apakah muridnya paham atau tidak paham atas penyampaiannya. Mereka hanya peduli bahwa RPP dan materi pelajaran telah dipenuhi dan tuntas dilaksanakan.

Dalam pendidikan Barat sekular, guru hanya mengajarkan ilmu pengetahuan yang cukup diketahui dan tidak perlu diterapkan.

Guru tidak wajib memiliki kepribadian yang baik, sehingga pendidikan keteladanan tidak dapat berlangsung atau kurang maksimal.

Mirisnya kondisi di atas mulai merambat ke sebagian di negeri ini. Guru datang ke sekolah hanya mengajar dengan metode yang menjenuhkan.

Sekadar mengecek apakah muridnya mengerjakan tugas yang diberikan, kemudian menghukum murid yang mendapat nilai rendah dalam ujian.

Ketiadaan keteladanan berpengaruh pada kepedulian guru terhadap muridnya. Guru lebih gelisah ketika sang murid tak dapat menjawab soal ujian daripada muridnya yang sengaja meninggalkan shalat.

Tak banyak guru yang mengetahui bagaimana latar belakang dan perkembangan muridnya di kelas.

Sikap acuh seperti inilah yang dikhawatirkan oleh sebagian orang tua yang telah mengamanahkan anaknya untuk dididik di sekolah.

Terkadang, kepedulian guru hanya sebatas pada lingkungan sekolah. Jadi ketika seorang anak melakukan kenakalan di luar sekolah, guru pun tidak menunjukkan kepeduliannya.

Lebih jauh, kondisi di atas mengantar murid tidak bisa memahami urgensi dan tujuan dalam menuntut ilmu. Sehingga mereka cenderung meremahkan ilmu.

Padahal ilmu memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam. Kewajiban seorang murid bukan hanya untuk memahami ilmu, tapi juga mengamalkan ilmu yang dipahami.

Sorang murid harus memiliki adab terhadap guru dan aktivitas keilmuan. Karena dengan adab, murid itu bisa khusyuk kepada Allah.

Oehnya, jika seorang murid yang cerdas secara intelektual tapi berperilaku buruk. Maka tak bukan, itu difaktori dengan ilmu yang tak berkah.

Burhanuddin Az-Zarnuji pernah berkata, banyak dari para pencari ilmu yang sebenarnya mereka sudah bersungguh-sungguh menuntut ilmu, namun mereka tidak merasakan nikmatnya ilmu.

Hal ini disebabkan mereka meninggalkan atau kurang memperhatikan adab dalam menuntut ilmu.

Fenomena loss of adab (hilangnya adab) dalam pendidikan patut menjadi alasan kecemasan segenap orangtua dan para guru.

Berbagai kasus amoral kian merebak dan bertambah. Nyaris kejahatan tak beradab itu tak henti setiap hari.

Sebagai sosok pelajar atau mahasiswa, bisa dikata mustahil jika mereka tak mengetahui bahwa perbuatan biadab tersebut sangat dilarang dan haram hukumnya dalam Islam.

Pastinya, bukan untuk menyalahkan sepihak kepada guru atau orangtua di sekolah dan di rumah. Tapi perlu diingat, keduanya memegang peran yang sangat vital dalam proses pendidikan.

Oehnya, pendidikan yang sukses adalah bukan pendidikan yang sekadar ditopang dengan gedung megah dan fasilitas mewah serta kurikulum yang wah saja.

Pendidikan yang berhasil adalah ketika sng gukewajibannya sebagai pendidik. Yaitu mengajarkan ilmu dan menanamkan adab kepada murid-muridnya.

Bukan cuma memindahkan ilmu pengetahuan (transfer of knowldge) tapi juha memindahkan nilai dan kepribadian (transfer of value).  Dengan prinsip demikian, niscaya guru menjadi sosok teladan dan murid menjadi pribadi beradab

 

posted by @Adimin

Peran Pemuda untuk Realisasikan Pancasila dan Keutuhan NKRI


Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid menyampaikan bahwa sosialisasi Empat Pilar MPR RIdilaksanakan untuk melaksanakan perintah UU yaitu UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD menugaskan Pimpinan MPR untuk menyosialisasikan Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan salah satu tujuannya adalah untuk merespon aspirasi dari masyarakat.
 
Hidayat Nur Wahid mengatakan MPR tidak mungkin sendiri dalam melakukan sosialisasi sebab jumlah anggota MPR terbatas. Selain itu, MPR juga disibukan oleh aktivitasnya di DPR dan DPD sebab anggota MPR adalah anggota DPR dan DPD. Di kedua lembaga itu, menurut Hidayat Nur Wahid sangat luar biasa kesibukannya padahal yang perlu disosialisasikan adalah hal-hal yang mendasar.

Hidayat Nur Wahid mengungkapkan sejak dirinya menjadi Ketua MPR periode 2004-2009, sosialisasi ini sudah dilakukan. Pada saat itu namanya Sosialisasi Putusan MPR, kemudian periode 2009-2014 menjadi Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan tetapi setelah ada keputusan MK kini namanya Sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Hidayat berharap agar dalam sosialisasi ini pemerintah mengambil peran yang besar sebab jaring-jaring kekuasaan pemerintah hingga sampai daerah, sedangkan anggota MPR jumlahnya terbatas.

Perlunya keterlibatan pemerintah dalam mensosialisasikan Pancasila, keinginan itu telah disampaikan MPR pada masa pemerintahan Presiden SBY serta masa pemerintahan Presiden Jokowi. Dan saat ini Hidayat Mengapresiasi langkah Presiden Joko Widodo yang telah membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP). Lembaga ini membantu Presiden dalam pemantapan Pancasila. "Alhamdulilah telah terbentuk unit kerja itu,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat membuka dan menjadi narasumber acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan pengurus Yayasan Komunitas Insan Kreatif (KOMUNIKA) di Syailendra Convention Hall, Hotel Borobudur Indah, Kota Magelang, Sabtu (5/8/2017). Turut didampingi oleh anggota MPR Fraksi PKS Mardani Ali Sera Kepala Biro Pimpinan MPR RI Muhammad Rizal dan dihadiri 400 peserta sosialisasi dari Yayasan KOMUNIKA.

Dalam sosialisasi yang dihadiri oleh dan ratusan pelajar dan mahasiswa tersebut Hidayat Nur Wahid memaparkan sejarah dalam proses lahirnya Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dikatakan, sebenarnya Pancasila telah disepakati oleh para tokoh dan pendiri bangsa ini.
Pada saat ini banyak terjadi penyimpangan terhadap nilai-nilai luhur Pancasila yang menyebabkan terjadinya kegaduhan politik. Untuk itu dirinya berharap kepada generasi muda yang terhimpun dalam Yayasan KOMUNIKA untuk mempertahankan Pancasila dengan serius. “Penting sekali kaum muda untuk merealisasikan Pancasila agar dapat memperjuangkan keutuhan NKRI," ujar Hidayat yang juga sebagai Wakil Ketua Majelis Syuro PKS


posted by @Adimin

Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia (2)

Written By NeO on 09 August, 2017 | August 09, 2017

Mengenal dan mengendalikan diri sendiri ternyata lebih sulit daripada mengenal dan mengendalikan orang lain. Tidak aneh jika Islam menganggap bahwa mengenal diri sendiri dengan baik adalah wasilah untuk mengenal Allah (man ʿarafa nafsahu faqad ʿarafa Rabbah).


Hakikat dan sifat dualistikjiwa yang ada di dalam diri manusia menyebabkan manusia menjadi makhluk istimewa dan satu-satunya yang bisa mengemban amanat sebagai khilafah, yaitu tugas untuk mengatur dan memerintah.

Al-Attas menegaskan  bahwamengatur dan memerintah yang merupakan implikasi dari tugas khilafah bukan hanya berarti mengatur dan memerintah dalam pengertian sosial-politik, tetapi lebih penting dari itu, yaitu mengatur dan memerintah kerajaan diri sendiri (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism [Kuala Lumpur: ABIM, 1978; repr., Kuala Lumpur: ISTAC, 1993], 66).

Di sini kita bisa melihat bahwa cobaan dalam hidup sebenarnya datang dari diri kita sendiri. Di akhirat pun Allah akan meminta pertanggungjawaban amalan manusia sendiri-sendiri, tidak melibatkan orang lain dan negara.

Setan yang kelak akan disalahkan oleh manusia karena telah menyebabkan manusia durhaka pun akan berlepas diri dari perbuatan manusia. Sebab, pelaku sebenarnya segala perbuatan adalah manusia. Tugas setan hanya menggoda dan berbisik (QS Ibrāhīm [14]: 22).

Lalu, bagaimana agar manusia bisa mengenal dan mengendalikan diri sendiri? Jawabannya adalah pendidikan. Jiwa hewani harus senantiasa dididik oleh jiwa rasional, sedangkan jiwa rasional harus senantiasa menerima ilmu yang bermanfaat, sebuah proses yang harus dilakukan oleh manusia seumur hidup di sini sebenarnya arti dan tujuan pendidikan memiliki peran yang sangat penting.

Sebab, pemimpin-pemimpin zalim, anggota-anggota dewan yang tidak amanah, para koruptor, penista agama, hukum yang zalim dan lain sebagainya adalah cermin dari hasil pendidikan kita. Manusia-manusia seperti itu lahir bukan dari produk politik, ekonomi, dan sosial, tapi lahir dari proses panjang pendidikan. Dan tentu saja, berbicara tentang pendidikan adalah berbicara tentang manusia.

Setidaknya, fakta-fakta tentang keberhasilan pendidikan menjadi cara paling efektif untuk melahirkan manusia-manusia baik telah dilakukan oleh al-Ghazālī, sebagaimana telah dicatat dengan sangat detil oleh Mājid ʿIrsān al-Kīlānī dalam bukunya yang berjudul Hākadhā Zhahara Jīl alā al-Dīn wa Hākadhā ʿĀdat Al-Quds (Dar Al-Qalam, Uni Emirat Arab: 2002).

Dalam bukunya tersebut, al-Kīlānī menjelaskan dengan sangat rinci tentang usaha Al-Ghāzālī dalam memperbaiki manusia-manusia yang ada pada zamannya melalui jalur pendidikan. Sehingga, dari usahanya tersebut, lahir generasi alā al-Dīn al-Ayyūbī yang sangat tangguh.

Zaman yang dihadapi oleh al-Ghāzālī adalah zaman yang tidak menentu. Kondisi yang ada ketika itu sepertinya layak menyeret umat Islam ke dalam jurang kekalahan. Puncaknya, umat Islam kemudian dicabik-cabik dalam Perang Salib. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Islam pun lenyap ditelan gelombang kehidupan yang konsumtif dan destruktif. Para pejabat publik sibuk dengan kepentingan pribadi dan kelompok, kaum ilmuwan mengabdikan ilmunya untuk kepentingan-kepentingan sekular, umat Islam tercabik oleh perpecahan dan fanatisme buta, akhlak manusia hancur, kemiskinan ada di mana-mana, dan ilmu menjadi rusak.

Al-Ghāzālī kemudian memeriksa dan memberikan obat bagi penyakit-penyakit umat ketika itu. Berbagai buku yang ditulis oleh al-Ghāzālī sepanjang hidupnya menjadi bukti bagaimana tajamnya analisa yang dilakukan olehnya. Menjelang akhir hayatnya, analisa tersebut kemudian diterjemahkan oleh al-Ghāzālī melalui lembaga pendidikan dengan kurikulum yang dia rancang sendiri. Kelak, dari lembaga pendidikan tersebut muncul generasi-generasi tangguh seperti ʿAbd al-Qādir al-Jīlānī dan alā al-Dīn al-Ayyūbī. Jadi, alā al-Dīn al-Ayyūbī bukan sosok yang dilahirkan dari produk politik yang sementara,tapi lahir melalui proses kreatif panjang para ilmuwan, guru, ilmu, dan pendidikan.

Sebagai satu-satunya agama wahyu, Islam telah memberikan ajaran yang sempurna tentang asal, hakikat, tugas, dan masa depan manusia di dalam kehidupan ini. Bahkan, Islam menjadi satu-satunya agama yang memiliki sosok cerminan hidup yang seluruh kata dan perbuatannya menjadi contoh (uswah asanah) bagi seluruh manusia, seluruh umur, dan melintasi berbagai generasi.

Contoh tersebut kemudian dijelaskan dan diimplementasikan oleh pewaris-pewaris Nabi selama berabad-abad untuk kemudian membentuk tradisi dan peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.

Sebab,sepanjang sejarah umat manusia, permasalahan-permasalah besar yang melanda peradaban adalah karena manusia. Segala kerusakan yang bersifat eksternal (politik, ekonomi, dan sosial) merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia

 

posted by @Adimin

PKS: Tolak Perppu Ormas karena Tak Sesuai Pancasila dan UUD 1945

Written By NeO on 07 August, 2017 | August 07, 2017


“Fitnah politisi NasDem (Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut, terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif," kata Hidayat Nur Wahid.

Sejak awal, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengkritik Perppu Ormas karena banyaknya pasal karet dalam Perppu itu yang dapat menghadirkan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan prinsip HAM dan hukum.

Jelas Wakil Ketua Majelis Syura PKS Hidayat Nur Wahid (HNW). Korban pasal karet Perppu Ormas ini pun sudah banyak kata dia.

Seperti gerakan Pramuka yang pencairan dananya ditunda oleh Kemenpora karena Ketua Kwarnasnya dituduh terkait Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), atau orang yang demo Perppu Ormas dituding kroni HTI.

Hal itu ia sampaikan menyikapi tuduhan provokatif kader Partai NasDem, Viktor Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, awal Agustus lalu. Viktor menuduh PKS dan sejumlah partai lain menolak Perppu Ormas karena mendukung kelompok ekstremisme dan “negara khilafah”.

“Fitnah politisi NasDem (Viktor) di NTT, tapi malah didukung oleh kawan-kawannya di Nasdem tersebut, terbukti lagi bahwa Perppu itu memang pasal karet yang represif, karena mengasumsikan bahwa menolak Perppu berarti anti Pancasila dan NKRI dan jadi kroni HTI,” ujar HNW

Padahal, jelas HNW, PKS menolak Perppu Ormas justru karena tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Dan karena Perppu itu membahayakan NKRI.

Selain oleh PKS, tambahnya, Perppu Ormas juga ditolak oleh lembaga dan LSM peduli hukum dan HAM yang tak mendukung HT, seperti; LBH se-Indonesia, Komnas HAM, KontraS, PSHK, dan pusat-pusat kajian hukum di kampus-kampus, serta yang lain-lain.

“Sekalipun kami berbeda dengan HTI yang tolak demokrasi dan lain-lain. Kami justru pergunakan demokrasi sebagai wasilah sarana perjuangkan maslahat umat, dan jauhkan mereka dari madharrat termasuk madharrat Perppu pasal karet yang potensial disalahgunakan untuk kembalikan rezim yang dzalim dan otoriter,” jelas Wakil Ketua MPR RI ini.


posted by @Adimin

Masalah Bangsa: Masalah tentang Manusia

Oleh: Arif Munandar Riswanto
Segala kerusakan politik, ekonomi, dan sosial merupakan cermin dan ranting dari akar masalah yang besar, yaitu manusia

SAAT ini,  bangsa ini sedang menghadapi masalah-masalah besar. Penegakan hukum yang tidak adil, kesenjangan kehidupan kaya-miskin, penistaan agama, money politics, kezaliman penguasa, korupsi, dan lain sebagainya adalah sedikit contoh dari banyak fenomena bahwa bangsa ini memang sedang dilanda masalah-masalah besar.

Masalah-masalah besar tersebut akhirnya menyebabkan kegaduhan yang besar serta menghabiskan energi dan ongkos yang tidak sedikit. Sehari-hari bangsa ini pun disuguhi oleh kegaduhan yang seolah-olah tiada henti.

Apalagi di zaman perkembangan arus informasi yang seperti tanpa batas. Setiap orang bisa menulis, memberikan opini, menyebarkan berita, membentuk image, dan membuat kepalsuan dengan bebas. Sebuah fenomena yang akan merusak dan meruntuhkan otoritas.

Mungkin banyak di antara kita yang bertanya: apa akar penyebab dari masalah-masalah besar tersebut? Apakah ia disebabkan oleh iklim kehidupan politik yang tidak kondusif, kesenjangan ekonomi, atau nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik?Banyak orang yang berpendapat bahwa akar masalah dari bangsa ini adalah politik. Artinya, jika kehidupan politik sudah baik, maka bangsa ini akan menjadi baik. Jika masalah asasinya adalah politik, maka solusinya pun adalah politik.Pun begitu dengan orang-orang yang berpandangan bahwa akar masalahnya adalah ekonomi, sosial, atau nilai-nilai Pancasila dan Kebhinekaan yang tidak diamalkan dengan baik oleh masyarakat.

Jika kita renungkan lebih dalam, pada hakikatnya, akar masalah besar bangsa ini adalah manusia.Masalah bangsa ini adalah masalah tentang manusia. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan lain-lain hanyalah ranting yang mudah dilihat oleh semua orang dari pohon besar yang bermuara pada akar yang sama, yaitu manusia.

Masalah-masalah tersebut adalah cermin dari fenomena manusia Indonesia.Hal ini berarti juga, jika akar dari masalah-masalah besar bangsa ini tidak diperbaiki, masalah-masalah tersebut akan terus-menerus terulang. Mungkin bentuk dari masalah tersebut bisa berbeda dari satu generasi ke generasi lain, tapi hakikatnya selalu sama. Dengan kata lain, jika manusia-manusia Indonesia tidak dididik untuk menjadi manusia yang baik (al-insān al-ṣāliḥ), bisa dipastikan pemimpin-pemimpin zalim, para penista agama, dan koruptor-koruptor baru akan terus-menerus lahir dari satu generasi ke generasi lain.Siapa yang menyangka bahwa pergantian politik dari Orde Baru ke Reformasi justru tidak bisa membuat kehidupan bangsa menjadi lebih baik. Ia menunjukkan bahwa pemimpin yang baru tidak dijamin bisa menjadi lebih baik dari pemimpin sebelumnya.

Padahal, dalam iklim demokrasi seperti zaman sekarang, untuk mengganti seorang pemimpin saja pasti memerlukan ongkos yang sungguh sangat besar. Karena pemimpin baru ternyata tidak lebih baik dari pemimpin sebelumnya, lagu-lagu indah tentang pembangunan, perubahan, dan kebebasan ketika Orde Baru diturunkan mulai terasa seperti fatamorgana di tengah sahara. Akhirnya banyak individu yang ingin kembali ke zaman Orde Baru.

Hakikat Manusia
Di dalam Islam, hakikat tentang manusia (yang meliputi ajaran-ajaran tentang siapa dirinya, tujuan hidup di dunia, akhlak, dan kebahagiaan) termasuk ke dalam salah satu ajaran asasi agama.Bahkan,al-Attas memasukkan hakikat manusia ke dalam salah satu unsur penting metafisikaIslam, yang dalam banyak hal berkaitan sangat erat dengan psikologi jiwa manusia (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam [Kuala Lumpur: ISTAC, 2001], 143-176).Al-Attas adalah salah seorang ilmuwan Muslim besar yang memberikan perhatian besar terhadap manusia.

Dalam tradisi Islam,para ilmuwan yang memiliki perhatian besar terhadap hakikat manusia adalah ilmuwan-ilmuwan yang memiliki pandangan-pandangan besar dalam metafisika Islam (Filsafat, Kalam, dan Tasawuf).

Manusia diciptakan oleh Allah memiliki dua karakteristik: jiwa dan tubuh. Yang pertama merujuk kepada hakikat sebenar manusia ketika dia mengatakan “aku”dimana jiwa, kemuliaan, akhlak, dan kebahagiaan hakiki berasal, sedangkan yang kedua merujuk kepada potensi hewani. Para ulama menyebut hakikat jiwa pertama dengan jiwa rasional (al-nafs al-nāṭiqah) sedangkan yang kedua disebut jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah).Ini yang kemudian disebut oleh para ulama bahwa manusia adalah ḥayawān al-nāṭiq.Jiwa rasional adalah jiwa yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya dimana kemuliaan, akhlak mulia, dan kebahagiaan berasal, sedangkan jiwa hewani adalah jiwa yang betul-betul identik dengan hewan. Karena memiliki sifat hewani, jiwa hewani harus diatur oleh jiwa rasional dengan baik. Menurut Fakhr al-Dīn al-Rāzī, jiwa hewani yang harus diwaspadai oleh manusia wujud dalam tiga kekuatan: nafsu syahwat, nafsu amarah, dan nafsu kekayaan atau kekuasaan (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 32 vols. [Beirut, Dār al-Fikr, 1981]: 1: 258).

Agar berhasil dalam hidup, manusia harus mengatur kedua hakikat jiwa tersebut dengan baik. Jiwa rasional harus senantiasa ada di atas dan mengatur jiwa hewani. Namun sebaliknya, jika jiwa hewani justru yang lebih dominan untuk kemudian menjadi raja dalam kerajaan manusia, manusia akan berubah menjadi seperti hewan, bahkan bisa lebih buruk daripada hewan (QS al-Aʿrāf [7]: 179). Dalam kondisi seperti itu, maka akan lahir kesengsaraan (al-shaqāwah) dan akhlak yang hina dari manusia.

Karena memiliki kedua potensi jiwa tersebut, manusia layaknya seperti kerajaan, yaitu kerajaan kecil (microcosmos). Fakhr al-Dīn al-Rāzī misalnya menyebut bahwa manusia pada hakikatnyaseperti kerajaan; jiwa rasional seperti seorang raja; indera eksternal dan internal seperti tentara; anggota-anggota badan seperti warga negara; syahwat dan amarah seperti musuh yang selalu berusaha untuk menghancurkan kerajaan dan membunuh warga negara.

Jika raja mampu mengendalikan musuh, negara akan stabil dan jauh dari konflik (Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Kitāb an-Nafs wa ar-Rūḥ wa Syarḥ  Quwāhumā, ed. Muḥammad Ṣaghīr Ḥasan al-Maʿṣūmī [Islamabad, Islamic Research Institute: t.t.], 79-84).

Kedua hakikat jiwa yang ada di dalam diri manusia senantiasa tarik ulur dan berperang seumur hidup. Yang satu sering berusaha untuk mengalahkan yang lain.

Di sini kita bisa melihat bahwa pada hakikatnya seluruh manusia aktif dalam “politik”, yaitu politik untuk mengatur kerajaan diri sendiriyang berlaku seumur hidup dan disamakan dengan jihad paling besar (al-jihād al-akbar). Namun, karena semua orang memahami politik hanya sebatas hubungan manusia dengan negara, manusia banyak yang tidak menyadari dan gagal melaksanakan tugas-tugas politik untuk mengatur kerajaan diri sendiri. Ini yang kemudian menyebabkan kerusakan besar dimana-mana, termasuk bangsa Indonesia

posted by @Adimin

Berjargon “Saya Pancasila” tapi Mengumbar Ujaran Kebencian, Sindir HNW

Written By NeO on 05 August, 2017 | August 05, 2017

Oleh karena itu, menurut tokoh PKS ini, kasus Viktor tersebut tak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum dalam kasus ini.
 
Wakil Ketua Majelis Syura PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW), menyindir mereka yang sering berjargon “Saya Pancasila” dan “NKRI harga mati” tapi perilakunya bertentangan dengan jargon itu sendiri.
 
Sindiran itu menyikapi pidato provokatif kader Partai NasDem, Viktor Bungtilu Laiskodat, di Kupang, NTT, yang menuduh sejumlah partai “intoleran dan mendukung negara khilafah”.

“Kalau perilakunya semacam (Viktor) ini, jelas tidak menghadirkan kesatuan, tapi cerai-berai,” kata Wakil Ketua MPR RI ini, Jumat (04/08/2017).

“Mengumbar ujaran kebencian di depan publik itu potensial memecah belah sesama anak bangsa, menghadirkan kondisi ketidakamanan publik, dan bertentangan dengan prinsip Pancasila dan NKRI,” ungkapnya.

Oleh karena itu, menurut HNW, kasus Viktor tersebut tak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf. Tapi penting adanya penegakan hukum dalam kasus ini.

Diberitakan sebelumnya, dalam pidato provokatifnya, Viktor menuduh 4 partai secara eksplisit Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN sebagai partai pendukung berdirinya “negara khilafah” dan karena itu tidak boleh didukung. Bahkan pendukung khilafah disamakannya dengan PKI pada 1965 yang layak dibunuh.
“Mengerti negara khilafah? Semua wajib shalat,” tuding Viktor. “Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus shalat.”

“Saya tidak provokasi…,” klaim Ketua Fraksi NasDem DPR RI ini kemudian. Lalu berkata, “… nanti negara hilang kita bunuh pertama mereka sebelum kita dibunuh,” ungkapnya disambut tawa banyak hadirin di depannya.

“Ingat dulu PKI 1965? Mereka tidak berhasil, kita yang eksekusi mereka,” tambah politikus kelahiran Kupang ini.

Andi
 
posted by @Adimin

Kota Padang Kembali Raih Adipura

Written By NeO on 04 August, 2017 | August 04, 2017


Kota Padang kembalil meraih Piala Adipura untuk kategori kota besar, kota bersih dalam pengelolaan lingkungan perkotaan. Ini goresan prestasi dipentas nasional. Piala Adipura tersebut dibawa langsung Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah, SP  dan  Jumat pagi (4/8) di sambut di Bndara International Minangkabau (BIM), sebut  Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KLH) Kota Padang H. AL-Amin didampingi Kadis Kominfo Suardi, SH. Mhum.
 
          Setelah penyambutan Piala Adipura dan Adiwiyata Mandiri 2017 di BIM langsung diarak  menuju Balaikota Padang di Aie pacah melalui rute jalan Adinegoro, simpang kalumpang lanjut hingga kator Walikota Padang. Setiba di kantor Walikota disambut lagi rangkaian kegiatan yang menarik, tari pasaambahan dan lain sebagainya.

          Setelah itu, kata Al amin, juga dilakukan penyerahan Piala Adipura dari Walikota kepada tokoh masayarakat yang diwakili ketua DPRD Kota Padang. Lanjut penyerahan Piala Adiwiyata Mandiri  dari Kepala sekolah kepada Walikota Padang.

          Ini adalah hasil kerja keras bersama dan partisipasi masyarakat dalam mencintai kebersihan lingkungan. Kesadaran masayarakat terhadap kebersihan erat hubungan dengan kesehatan. Maka dari itu mari selalu ditingkatkan agar lingkungan selalu terjaga kebersihannya. Bersih itu indah menjadi idaman semua warga kota tercinta ini.  kota Padang meriah piala Adipura berdasarkan undangan yang dikirim oleh Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tersebut bernomor: UN.74/PSLB3/P5/PLB.0/7/2017, bertanggal 25 Juli 2017.

          Kota Padang tercatat 17 kali menerima piala Adipura dan terakhir diterima pada tahun 2009 sebelum gempa besar meluluh lantakan Padang kota tercinta ini. Untuk itu mari kita meriahkan secara bersama-sama penyambutan Piala Adipura yang dirah Kota Padang  kategori kota besar ini. Penyambutan ini sekaligus sebagai media memberitahukan kepada publik kota tercinta ini

posted by @Adimin

Masjid Al Aqsha, Jangan Hilang Fokus

Written By neobattosai on 03 August, 2017 | August 03, 2017

Hentikan perdebatan, tanyalah hati kita. Apa manfaat membantu saudara-saudara kita di Palestina?


SUATU teori terkenal, jadikan musuh bersama maka kalian akan bersatu dan kuat. Tapi fitnah akhir zaman teramat dahsyat. Jangankan kita menyatukan shaf-shaf ukhuwah, mengabaikan sekat-sekat khilafiyah, membangun persatuan demi hadirnya izzah.

Tentang Masjid Al-Aqsha saja, yang jelas musuhnya, yang jelas kezaliman atas mereka, hitamnya jelas benderang di atas putih, bahkan sudah jelaskan dikabarkan Allah dan Rasulnya, hari ini kita masih berdebat panas saling menyalahkan tentang mana sebenarnya Masjid Al-Aqsha.

Sudah lama energi umat Islam terbuang hanya dalam ranah ini. Kita kehilangan arah prioritas, energi habis kita tumpahkan disini. Ranah jagat media sosial ramai, berdebat tentang lokasi Masjid Al-Aqsha.

Padahal saudara kita di sana, dengan sekuat tenaga dan usaha. Bertahan di sekeliling tanah berkah ini, berteguh dihujam peluh dan darah, bertegap meneriakkan “Birruh, Biddam, Nafdika ya Aqsha” (dengan ruh, dengan darah, kami bela kau ya Aqsha).



Suara mereka merekah memecah setiap waktu walau datang gelapnya dinihari di pintu-pintu Masjid Al-Aqsha.

Kadang, di sini, perdebatan berakhir kasar dan panas. Tuduhan terkena konspirasi Yahudi yang ingin menghancurkan Masjid Al-Aqsha pun terlontarkan. Padahal sudah seminggu ini Baitul Maqdis menegangkan. Masjid Al-Aqsha diambang 2 kemungkinan; Masjid Al-Aqsha kita 100% diambil alih oleh penjajah Zionis Israel sehingga umat tak dapat lagi menegakkan shalat di dalamnya, atau kita, umat Islam bangkit bersatu bersama-sama membebaskannya untuk menjadi pusat turunnya rahmat dan berkah Allah Subhanahu Wata’ala ke seluruh alam.

Cobalah berfikir, tentang perdebatan ini. Adakah manfaat untuk diri kita, atau apakah dapat membantu saudara-saudara kita di Palestina?

Cobalah memahami satu sama lainnya, cobalah memilah mana prioritas yang harus kita kerahkan energi kepadanya.

Bagi yang kokoh menganggap Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Masjid besar; berkubah hitam), cobalah dengar pendapat saudaramu, yaitu; Seperti Ka’bah, dialah lambang ikonik Masjid Al-Haram. Walaupun disana ada Multazam, Maqam Ibrahim, Hajar Aswad dan Hijr Ismail.

Begitupun Masjid Al-Aqsha, ada Qubah Ash-Shakra (Dome of the Rock; berkubah emas) sebagai lambang ikoniknya, walaupun ada banyak bangunan di dalam komplek seluas 14,4 Hektar, termasuk Jami’ Al-Kabir (Masjid Besar; berkubah hitam).

Cobalah berfikir, bagi yang menyatakan Masjid Al-Aqsha hanyalah Jami’ Al-Kabir (Kubah hitam), terimalah yang berpendapat Qubah Ash-Shakra sebagai lambang ikonik, bukankah masjid yang dimaksud tercakup di dalam komplek itu?

Bagi yang punya pendapat sebaliknya, tak perlu menghabiskan waktu memperpanjang debat, menghabiskan energi yang ada, cukup berikan argumen Anda, dan tanyakanlah perkara yang paling penting.

Tanyalah diri kita: “Apa yang sudah kulakukan untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha?”

Permasalahan utama Masjidi Al-Aqsha itu tentang penjajahan, penjarahan dan penistaan. Peristiwa ini sudah berjalan selama 100 tahun, pertama oleh Inggris, dilanjutkan sejak 50 tahun oleh Zionis Israel.

Sudahkan doa-doa khuyu’ dan khusus kita tertuju ke tanah pusat berkah ini, sudahkah benar hati kita membenci kezaliman yang dilakukan atas mereka, sudahkah kita menyeberkan informasi ini, menginfakkan harta terbaik kita atau menyiapkan diri jika sewaktu-waktu Allah kondisikan kita untuk berjihad ke sana. Sungguh sekecil apapun, pembelaan adalah pertanggungjawaban kita.

Atau malah, kita aktif berdebat tentang mana Masjid Al-Aqsha sebenarnya. Tapi masih minum produk Nestle, makan di KFC atau McD, ngopi di Starbuck atau menikmati produk-produk penyokong zionis Israel lainya.

Sadarlah, detik-detik ini berjalan: Apakah Masjidil Alqsha akan ditutup dan diambil alih oleh penjajah selamanya, atau Allah izinkan kita ikut membebaskannya, selama-lamanya jadi berkah untuk seluruh dunia. Mari tulis sejarah kita dengan tinta emas, berikanlah yang terbaik: Doa, Lisan, Harta dan Jiwa. Amin

 

posted by @Adimin

Ratusan Ribu Warga Turki Hadiri Solidaritas utk Masjidil Aqsha & Muslimin Dunia

Written By neobattosai on 02 August, 2017 | August 02, 2017

Ismail Haniyah menegaskan, permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya permasalahan Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum Muslimin


Ratusan ribu orang dari berbagai etnis dan usia hari Ahad, (30/07/2017) berkumpul di  lapangan taman Yenikapı, İstanbul, Turki dalam Aksi  Solidaritas Rakyat Turki kepada Masjidil Aqsha dan umat Muslimin sedunia.

Warga turun jalan guna memprotes tindakan pengamanan yang dilakukan oleh penjajah Israel yang mencegah warga Palestina memasuki Masjidil Al Aqsha yang diduduki.

Pertemuan ini adalah aksi terbaru dalam serangkaian demonstrasi yang telah diadakan di Turki selama minggu terakhir menyusul pembatasan baru-baru ini yang dilakukan pihak penjajah Israel terhadap orang-orang Palestina yang memasuki Masjid Al Aqsha.

Meskipun acara yang diadakan oleh pemerintah kota Istanbul dijadwalkan pukul 17.00 sore, namun gelombang peserta telah datang pukul sudah sejak pukul 15.00 siang waktu Istanbul.

Salah satu peserta aksi menyampaikan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukanlah masalah rakyat Palestina saja tapi sudah menjadi kewajiban umat Muslim dunia.

Ia mengatakan bahwasanya umat Islam harus mengingat peristiwa yang tragedi terhadap kasus Mavi Marmara.

Dia menegaskan untuk berperan aktif membela Masjidil Aqsha minimal dengan memperkuat iman.

“Saya senang bisa sama-sama mengikuti acara ini,  yang mana kemeriahan dan aksi nyatanya belum saya rasakan di negara-negara Muslim lainnya.”

“Mereka (peserta aksi, red) adalah satu-satunya bangsa non-Arab yang punya komitmen dan kesungguhan dalam membebaskan Masjidil Aqsha. Dan gerakan mereka membekas di hati saya serta para hadirin lainnya. Dan saya menyayangkan perselisihan sebagian negara muslim yang terjadi beberapa waktu lalu,” kata Umar salah satu peserta yang datang dari Mesir.

Disela-sela orasi diserukan berbagai yel-yel, seperti: “Lawan lawan lawan lawan Israel”, juga  yel-yel  seperti, “Birruh, biddam nafdiika yaa Aqsha…!” (dengan ruh, dengan darah, kami bela kau ya Aqsha).

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Biro Politik Hamas yang baru, Ismail Haniyyah melalui video live.

Dalam siarannya melalui video live itu Ismail Haniyyah memberikan kabar gembira kepada kaum muslimin bahwasanya  umat Islam tengah meraih kemenangan dengan dibongkarnya pintu elektronik (detector logam) oleh pihak penjajah Israel di gerbang Masjidil Aqsha.

“Kaum muslimin di Palestina tidak gentar terhadap setiap situasi yang terjadi, dan akan terus bertahan di sana,” demikian kutipnya.

Haniyah juga menegaskan bahwasanya permasalahan Masjidil Aqsha bukan hanya permasalahan tentang Palestina ataupun kaum Arab, tetapi permasalahan kaum Muslimin seluruhnya.

Dan di akhir pidato, ia menutup dengan mendoakan kaum muslimin sedunia.

Di akhir aksi, pembawa acara membacakan doa untuk saudara-saudara semuslim di Palestina, Suriah, Iraq, Myanmar, dan kaum muslimin secara umum.

Sampai pukul 20.20 malam, acara ini ditutup dengan adzan maghrib dan sholat berjama’ah.

 

posted by @Adimin

Jadilah Muslim Terampil

Umat Islam tak boleh pengangguran, harus ada kemampuan yang dikuasai, sehingga dengan itulah bisa ikut dalam 'jihad' dan dakwah

ISLAM  mengajarkan umatnya untuk mendiri dan bekerja. Karenanya banyak pesan-pesan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam yang memerintahkan umatnya  bekerja,  memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri, bukan menjadi peminta-minta.

Bahkan pernah suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memerintahkan mencari kayu dan menjualnya di pasar itu lebih baik dari meminta-minta.

Makna secara lebih luas dari penekanan beliau bagi umat Islam tersebut dapat diartikan dengan dorongan; milikilah skill (keahlian) yang akan membuat dirimu terampil dalam skill praktis itu lebih baik diutamakan daripada berpikir untuk meminta-minta dan menyandarkan hidup pada manusia.

Mengapa demikian? Ternyata secara makro, banyaknya SDM yang menganggur akan berdampak buruk pada stabilitas sebuah bangsa dan negara.

Nicolas Wyman, CEO dari The Institute Workplace Skill and Innovation menegaskan bahwa sebuah negara yang penduduknya banyak menjadi pangangguran akibat pemutusan hubungan kerja akan mendorong sebuah negara pada masalah (ekonomi) yang gawat. Terlebih jika mayoritas penduduknya ternyata tidak memiliki practical skills yang dibutuhkan, jelas itu sangat berbahaya.

Dalam sebuah hadits Nabi menerangkan, “Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.” (HR. Baihaqi).

Jika kita perhatikan, Nabi Muhammad sejak kecil telah berusaha membekali diri dengan kemampuan praktis guna menunjang kebutuhan hidupnya. Mulai dari menggembala, berdagang, hingga menjadi pebisnis ulung di seluruh Jazirah Arab.

Demikian pula ketika kita perhatikan Nabi Ibrahim yang ahli dalam membangun, Nabi Musa yang juga ahli dalam menggembala, Nabi Daud yang memiliki kemampuan pandai besi, serta Nabi Yusuf yang ahli keuangan atau ahli ekonomi.

Artinya, tidak sepatutnya seorang Muslim membiarkan waktunya berlalu tanpa mengasah skill untuk menjadi terampil sehingga bisa hidup secara mandiri.
Lantas, apa yang harus dilakukan agar diri mampu menjadi insan terampil dan bermanfaat bagi sesama?

Pertama, ingat pesan Nabi bahwa belajar itu dari dalam kandungan hingga liang lahat. Artinya, jangan pernah mengenal kata stop dalam belajar alias menuntut ilmu.

Analoginya sederhana, setiap buah yang telah sampai pada titik kematangan, jika tidak dimanfaatkan dengan dikonsumsi segera, maka buah itu akan membusuk dan tidak bernilai guna bagi kehidupan. Demikian pula manusia, ketika dirinya merasa telah bisa dan berhenti belajar atau berinovasi, maka dirinya akan ditinggalkan zaman.

Kedua, mengenali talentaa diri dan mengasahnya
Beruntung jika diri telah mengetahui talenta yang dimiliki, tinggal mengasahnya setiap hari. Belajarlah dari pohon besar. Sekiranya pohon itu kala baru ditanam dipindah-pindah, tidak mungkin akan tumbuh besar dengan akar-akar yang besar. Demikian pun manusia, jika telah mantap dengan talenta yang dimiliki maka asahlah setiap hari.

Seorang Cristiano Ronaldo bisa menjadi bintang sepakbola, karena memang dalam 24 jam sepanjang hayatnya, akal dan kakiknya, bahkan perasaannya tidak bisa dilepaskan dari sikulit bundar.

Pertanyaannya bagaimana kalau belum tahu talentaa dirinya?
Kebanyakan orang memandang talenta adalah sesuatu yang bersifat genetika, sehingga itu sudah ada dari sononya. Padahal tidak.

Talenta dimulai dengan terjadinya pertemuan singkat dan kuat yang memicu dan memacu motivasi diri yang berhubungan dengan mungkin hobi atau kegemaran tertentu yang menjadi identitas diri dengan orang atau pun grup yang mendukung mood diri melejit, sehingga muncul kesadaran bahwa diri bisa melakukan sesuatu yang jika diteruskan dan ditajamkan akan menajamkan talenta yang tersembunyi di dalam diri.

Ketiga, jadikan skill diri sebagai media jihad dan dakwah
Di dalam Al-Qur’an perintah berjihad itu ada dua, pertama dengan harta dan kedua dengan jiwa. Dengan harta (amwal) artinya umat Islam tidak boleh jadi pengangguran, mesti ada kemampuan praktis yang dikuasai, sehingga dengan itulah dirinya bisa ikut serta dalam ‘jihad’ dan dakwah.

Ada yang sibuk bekerja dan karena itu tidak bisa berdakwah. Maka harta yang dimiliki bisa disumbangkan untuk dakwah, mendukung kiprah para dai dalam dakwahnya. Dan, mereka yang dianugerahi kekayaan berkat skill yang diasah sejak lama, maka dengan harta itulah bisa terlibat dalam jihad.

Dengan demikian, menjadi Muslim terampil pada dasarnya adalah kebutuhan, agar diri tak menjadi beban orang lain dengan hanya bisa berpangku tangan. Jadi, belajarlah dan asahlah skill yang ada pada diri untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala semata. Wallahu a’lam





 

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger