pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

PKS Tuntut Polri Segera Ungkap Dalang Spanduk Khilafah

Written By NeoBee on 09 September, 2018 | September 09, 2018


Jakarta -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meminta aparat kepolisian segera mengungkap aktor pemasangan spanduk khilafah yang masih ditemukan.

Ketua DPP PKS Bidang Humas Ledia Hanifa mengungkapkan, spanduk-spanduk fitnah PKS mendukung sistem khilafah sudah muncul berbulan-bulan lalu. Tetapi, ujar dia, sampai muncul lagi saat ini belum ada kemajuan berarti dari aparat kepolisian.

"Mabes Polri mengeluarkan pernyataan akan mengusut ini sejak tiga bulan lalu. Teman-teman PKS Jakarta juga sudah melaporkan spanduk fitnah khilafah ini ke polisi beberapa bulan silam. Sampai sekarang muncul lagi, belum ada laporan perkembangan kasus," papar anggota DPR RI ini di Jakarta, Jumat (7/9/2018).

Spanduk fitnah khilafah, papar Ledia, sangat mengganggu situasi berbangsa di tengah permasalahan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah.

"Spanduk-spanduk seperti ini wajib diusut aktornya jelang tahun-tahun politik dan permasalahan ekonomi seperti saat ini. Dampaknya jadi tidak kondusif," papar dia.

Terlebih, ujar Ledia, spanduk juga tidak sesuai dengan visi PKS yang mewujud kan keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai NKRI. "Bagi PKS, NKRI harga mati. Anggota-anggota MPR dari PKS selalu mensosialisasikan NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945 sebagai empat pilar kebangsaan ke berbagai wilayah di Indonesia," paparnya.

Ledia juga menegaskan, PKS tidak memiliki afiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). "Tidak ada afiliasi PKS dengan Eks HTI termasuk saat dulu masih berdiri sebagai HTI. Jadi clear," tegas Ledia.

Diketahui, muncul lagi spanduk fitnah khilafah yang dialamatkan kepada PKS di beberapa titik di Depok, Jawa Barat Jumat (7/9/2018) pagi. Kader PKS Depok pun langsung menurunkan spanduk fitnah tersebut.

Ledia juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah di Depok, Bekasi dan Jakarta yang sigap turut menurunkan spanduk-spanduk fitnah karena melanggar peraturan daerah tentang pemasangan spanduk.


posted by @Adimin

Izzah Islam; Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan (2)

Written By neobattosai on 08 September, 2018 | September 08, 2018


Alkisah, akhirnya Hurmuzan menghadap amirul mukminin, Umar Bin Khattab.

‘Umar memerhatikan Hurmuzan dan pakaian yang dikenakannya lalu berkata, “Aku berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari api neraka dan aku memohon pertolongan-Nya.”

“Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menghinakan orang-orang seperti ini dan para pengikutnya dengan Islam. Wahai kaum muslimin, berpegangteguhlah kamu dengan agama ini, ikutilah petunjuk Nabi kalian dan janganlah dunia ini membuat kalian jadi sombong dan congkak, karena sesungguhnya dunia ini pasti lenyap,” lanjut Khalifah Umar.

Salah satu utusan berkata, “Ini adalah Raja Ahwaz, berbicaralah dengannya!”

“Tidak, sampai semua perhiasan yang dipakainya itu disingkirkan darinya,” kata ‘Umar.

Setelah  Hurmuzan berganti dengan pakaian biasa,  ‘Umar kemudian berkata, “Hai Hurmuzan, kamu lihat bagaimana hasil pengkhianatanmu dan ketetapan Allah?”

“Hai ‘Umar, kami dan kamu sebelum ini hidup dalam kejahiliahan. Waktu itu, Allah membiarkan antara kami dan kamu lalu kami mengalahkan kamu, karena ketika itu Dia tidak bersama kami dan tidak pula bersama kamu. Namun, ketika Allah bersama kamu, kamu pun berhasil mengalahkan kami,” ujar Hurmuzan.

“Kamu dapat mengalahkan kami di masa jahiliah, tidak lain adalah karena kalian bersatu, sementara kami berpecah belah.”
Beliau melanjutkan, “Apa alasanmu melanggar perjanjian berkali-kali?”

Kata Hurmuzan, “Aku takut kau membunuhku sebelum aku menerangkan nya.”

“Tidak usah takut.”

Hurmuzan meminta air, lalu segera diberikan padanya dengan sebuah cangkir yang buruk, tetapi dia berkata, “Andaikata aku mati kehausan pasti aku tidak akan mungkin dapat minum dengan cangkir seperti ini.”

Kemudian, dibawakan kepadanya air dalam cangkir lain yang disukainya. Ketika dia memegangnya, tangannya bergetar hebat dan dia berkata, “Aku takut dibunuh ketika sedang minum.”

“Tidak apa-apa, minumlah.”

Hurmuzan mulai minum.

‘Umar berkata, “Berikan lagi, dan janganlah kamu jatuhkan hukuman mati padanya, padahal dia masih haus.”

Tiba-tiba Hurmuzan membuang air tersebut. Melihat hal itu Umar menyuruh seseorang agar mengambilkan air dan memberikannya kepada Hurmuzan. “Jangan sampai kalian membunuhnya dalam keadaan haus,” kata Umar.

Tapi ternyata Hurmuzan menolak pemberian ‘Umar.

“Aku tidak butuh air,” jawabnya. “Aku sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan jaminan keselamatan darimu,” tandasnya dengan tenang.

“Kalau begitu, aku akan membunuhmu sekarang juga,” kata ‘Umar.

“Tapi engkau telah memberikan jaminan keselamatan padaku.”

“Engkau bohong,” sahut ‘Umar.

Tiba-tiba Anas bin Malik yang berada di tempat itu berkata, “Dia benar wahai Amirul Mukminin,” Anas membenarkan ucapan Hurmuzan. “Engkau telah memberinya jaminan keselamatan,” lanjutnya.

“Celaka engkau wahai Anas,” kata ‘Umar kepada Anas. “Mungkinkah aku memberikan jaminan keselamatan kepada orang yang telah membunuh al-Barra’ bin Malik?, (yang tak lain saudara kandung Anas bin Malik sendiri, red).  Sebaiknya engkau menjelaskannya. Kalau tidak, aku akan menghukummu,” tegas Umar kepada Anas bin Malik.

“Pertama engkau mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau meminumnya” kepada Hurmuzan,” kata Anas menjelaskan. Engkau juga mengatakan, “tidak ada yang akan menyentuhmu hingga engkau menceritakannya kepadaku.” Lanjut Anas mengingatkan Umar.

Bahkan orang-orang yang berada di situ juga membenarkan perkatan Anas.

Umar lalu menghadap kepada Hurmuzan dan mengatakan, “Engkau telah menipuku,” katanya. “Demi Allah aku tidak akan tertipu kecuali engkau masuk agama Islam,” tambah ‘Umar.

Ternyata setelah itu Hurmuzan menyatakan diri masuk Islam. Maka Umar pun memperlakukan Hurmuzan dengan baik dan menyuruhnya menetap di Kota Madinah.

Sebagai penutup, kata-kata bersejarah Umar yang dicatat oleh Sayyid bin Husain Al-‘Affani ini patut untuk dijadikan renungan terkait betapa pentingnya nilai Izzah bagi umat Islam:

“Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina.”  (dalam buku Anwâr al-Fajr fî Fadhâ`ili Ahli Badr”, 2006:504)

 

posted by @Adimin

Izzah Islam : Antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan

Written By neobattosai on 07 September, 2018 | September 07, 2018

Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari Izzah pada selainnya, maka Allah akan menjadikan kita hina

 

ISLAM sebagai agama penutup yang sempurna dan paripurna, mengajarkan kepada pemeluknya untuk memiliki karakter “Izzah”. Dalam al-Qur`an misalnya –Surah Al-Munafiqun [63]: 8- termaktub bahwa Izzah itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Maka sudah seharusnya, setiap mukmin menjadikan Izzah sebagai karakter pribadinya. Bahkan, dalam Surah Al-Ma’idah [5] ayat 54, disebutkan bahwa ciri orang beriman adalah bersikap Izzah (tegas) kepada orang-orang kafir dan bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada sesamanya.

Dalam bahasa Arab, kata “Izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219) Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom kamus bahasa Indonesia. Dalam kamus tersebut, ‘Izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.

Salah satu sosok legendaris yang patut diteladani dalam masalah Izzah adalah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Al-Hafidz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam kitab “al-Bidâyah wa al-Nihâyah” (1998: VII/70) mencatat dengan baik kata-kata bersejarah khalifah kedua ini yang menggambarkan kapasitas Izzahnya yang diilhami oleh Islam, “Kami adalah kaum yang dimuliakan (diberikan Izzah) oleh Allah dengan Islam. Maka, kami tidak akan mencari alternatif (Izzah) selain (yang dianugerahkan) Allah.”

Semua orang mengenal ‘Umar bin Khattab, salah satu Khulafa’ ar-Rasyidin. Keadilan dan ketegasannya dalam menjalankan pemerintahan sangat masyhur.

Umar bin Khattab terkenal dengan keadilannya ketika menjabat Khalifah ar-Rasyidin kedua. Semasa kekuasaanya wilayah Islam sudah meliputi seluruh wilalah Jazirah Arabiyah, sebagian Asia kecil, Afrika Utara, bahkan sampai ke Eropa.

Namun siapa sangka, bahwa suatu kali Umar pernah tertipu saat berbicara dengan Raja Persia yang bernama Hurmuzan.

Tiga orang kepercayaan Khalifah Umar –Anas Bin Malik, Mughirah bin Syu’bah dan Ahnaf bin Qais– mendatangi negeri Hurmuzan dan berhasil menangka pnya atas permintaan Khalifah Umar.

Dikisahkan bahwa dalam salah peperangan pasukan Islam berhasil menaklukkan Persia dan menangkap Hurmuzan. Dia kemudian dibawa ke kota Madinah untuk dihadapkan kepada Umar bin Khattab.

Menjelang tiba di Kota Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan baju kebesarannya yang terbuat dari sutra yang telah dipenuhi dengan perhiasan emas, permata, dan mutiara. Setelah itu barulah mereka masuk ke kota Madinah bersama Hurmuzan dengan pakaian lengkapnya dan langsung mencari rumah Amirul Mukminin.

Sepanjang perjalanan, sang tawanan membayangkan alangkah megah dan hebatnya istana Umar mengingat daerah kekuasaannya yang begitu luas meliputi dua pertiga dunia. Fikirannya  sang Kisra merasa rendah diri (inferor) ketika hendak menemui sang Khalifah.

Kisah pertemuan antara Hurmuzan dan Umar bin Khattab berikut adalah di antara contoh nyata bagaimana karakter Izzah ini benar-benar tercermin dalam diri sahabat yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dijuluki Al-Faruq ini.

Dalam buku “Nizhâm al-Hukûmiyah al-Nabawiyyah” (II/250) Muhammad Abdul Hayyi Al-Kattani menulis sepenggal kisah antara Umar bin Khattab dan Hurmuzan. Kisah ini ditulis dalam bab “Fîman Kâna Yudhrabu bihi al-Matsal fi al-Haibah min al-Shahâbah” (Bab tentang orang yang dijadikan percontohan dari kalangan sahabat terkait masalah kemuliaan).

Menukil cerita Sya’bi, dikisahkan bahwa tongkat kecil Umar bin Khattab –karena begitu hebat Izzah beliau- lebih ditakuti daripada pedang Hajjaj. Suatu hari saat Hurmuzan (Raja Khurasan) menjadi tawanan yang dibawa beberapa sahabat –di antaranya Anas- untuk menemui langsung orang nomer satu umat Islam kala itu (‘Umar).

Kebetulan, saat sampai di Madinah, Umar tidak ada di rumah. Kemudian beliau dicari hingga ditemukan di salah satu masjid Madinah. Saat itu posisinya sedang tidur bersandar tongkatnya. Melihat fenomena demikian, Hurmuzan berseloroh, “Ini -demi Allah- adalah raja yang baik. Anda telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (dengan nyenyak). Demi Allah, sesungguhnya aku telah melayani empat Raja Kisra (Persia) yang memiliki mahkotah, tidak ada satu pun di antara mereka yang aku rasakan kehebatan –Izzah nya- melebihi orang yang sedang tidur beralas tongkat ini.”

Izzah yang dimiliki Umar benar-benar membuat Hurmuzan terkagum-kagum. Sosok nomer satu yang memimpin pasukan hebat yang bisa mengalahkan Imperium Persia ini ternyata jauh dari yang dibayangkannya. Dalam benaknya, ‘Umar ini pasti raja hebat yang memiliki istana mega, harta melimpah, penjagaan yang super ketat dan lain sebagainya.

Hurmuzan tidak yakin berhadapan dengan seorang pria sederhana, khalifah besar, pemimpin pasukan Islam yang menguasai Timur dan Barat, yang mampu menjatuhkan dua raksasa super power dunia kala itu, kekuasaan Persia dan Byzantium (Rum/Romawi Timur).

Terkejutnya Hurmuzan,  pemimpin besar umat Islam ini gaya hidupnya begitu bersahaja dan tanpa penjagaan. Sebuah fenomena aneh yang belum pernah Hurmuzan dapati sebelumnya. Namun, Hurmuzan menyadari bahwa salah satu kunci yang bisa membuka rasa penasaran terkait kehebatan dan izzah Umar adalah keadilan yang ditegakkan oleh Umar bin Khattab.

‘Umar baru bisa tidur nyenyak ketika keadilan ditegakkan dan didistribusikan secara merata kepada rakyatnya. Sebuah tipikal pemimpin yang lebih mementingkan kehidupan rakyat daripada diri dan kerabat; lebih memilih hidup melarat demi terciptanya keadilan untuk rakyat.

Senada dengan kisah Hurmuzan, Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam buku “Minhâj al-Muslim” (1964: 126) menceritakan bagaimana utusan Kaisar Romawi yang kagum kepada Umar bin Khattab. Saat sampai Madinah, dia bertanya kepada para penduduk, “Dimana raja kalian?” Oleh penduduk dijawab, “Kami tidak memiliki raja, tapi Amir (Pemimpin). Ternyata setelah dicari-cari, Umar ditemukan sedang tidur di atas pasir berbantalkan tongkat kecilnya.

“Orang yang seluruh raja goncang kerajaannya karena kehebatannya ternyata keadaannya seperti ini. Tapi, wahai Umar engkau telah berbuat adil, sehingga bisa tidur (nyenyak). Sedangkan raja kami berbuat zalim. Tidak mengherankan jika (raja kami) selalu merasa takut dan tidak bisa tidur malam.” Demikianlah contoh dari izzah Umar bin Khattab. Bagi para pemimpin yang ingin memiliki izzah seperti Umar, maka jadikanlah keadilan sebagai pusat perhatian.

bersambung . . . . . . . .


 


posted by @Adimin

Ustaz Somad Mengaku Diintimidasi, PKS Minta Polri Berperan Aktif

Written By neobattosai on 06 September, 2018 | September 06, 2018


Jakarta (05/09) -- Ustaz Abdul Somad membatalkan sejumlah rencana berceramah di beberapa daerah karena mengaku mendapat intimidasi dan ancaman. PKS lantas menghubungkan kegiatan ceramah tersebut dengan indeks demokrasi dan kebebasan berpendapat.

"Indonesia sejak 2013 indeks demokrasinya menurun, menurunnya nggak 1 atau 2 ranking, tapi dari 43 ke 63 artinya ada warning terkait dengan kebebasan berpendapat dan ada tekanan terhadap pers," kata Jubir DPP PKS Arya Sandhiyudha di Wisma Antara, Jl. Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (4/9/2018).
"Kita pakai indikator demokrasi sendiri ya hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan karena ini bukan masalah politik praktis yang merugikan pemerintah atau nggak, tapi kalau mood kita dirusak dengan suasana demokratis ya tentu merugikan semua pihak," jelasnya. 
Dia menuturkan Indonesia, yang menganut sistem demokrasi, seharusnya memfokuskan hal yang terjadi seperti kasus Ustaz Somad, yang mendapat perlakuan intimidasi di negaranya.

"Para keamanan, terutama Polri, kan punya fungsi utama, yaitu mengamankan, mengayomi, terus melindungi masyarakat, dan ini masyarakat mana pun. Jadi sudah saatnya kita jaga fungsi aparat keamanan, terutama polisi, untuk mengarah segmen masyarakat," tutur Arya. 

"Kita tidak indikator ala negara lain, misalnya freedom house kan nggak, kita pakai indikator demokrasi sendiri, ya hendaknya hal-hal tersebut perlu diperhatikan karena ini bukan masalah politik praktis," imbuhnya.
Ustaz Abdul Somad mengaku mendapat ancaman dan intimidasi terkait rencana berceramah di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Alhasil, Ustaz Somad membatalkan rencana ceramahnya.
Hal ini disampaikan Somad lewat akun Instagram miliknya. "Beberapa ancaman, intimidasi, pembatalan, dan lain-lain terhadap taushiyah di beberapa daerah seperti di Grobogan, Kudus, Jepara, dan Semarang," tulis Somad.

posted by @Adimin

Haji Agus Salim dan Kehormatan Diri

Meski kondisi melarat, tidak punya banyak harta benda, tetapi yang namanya izzah harus tetap dijunjung di mana pun berada

 
SETIAP muslim seharusnya memiliki “izzah” (kehormatan atau harga diri). Di dalam Al-Qur`an disebutkan, “izzah adalah kepunyaan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman,” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8) Lalu, apa yang dimaksud dengan “izzah”?

Merujuk pada bahasa Arab, kata “izzah” mengandung beberapa makna, yaitu: kuat, keras, menang, tinggi, menahan diri dan unik atau langka (Murtadha, Tâj al-‘Arûs, XV/219).

Di dalam bahasa Indonesia pun, rupanya kata ini sudah masuk idiom KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Dalam kamus tersebut, ‘izzah’ ditulis ‘izah’ yang bermakna: kehormatan, harga diri dan kekuasaan. Arti ini tentu tidak menyimpang dari bahasa asalnya.

“Keterhormatan,” tulisnya, “adalah tuntutan akan kelayakan. Sumbernya adalah rasa percaya diri akan diri sendiri, namun kemudian diperkuat oleh dorongan instinsik, atau naluri kepahlawanan yang membuatnya selalu ingin melakukan perbuatan-perbuatan terhormat,” kata Anis Matta dalam bukunya yang berjudul “Mencari Pahlawan Indonesia” (2004 : 74)
 
Sosok Haji Agus Salim merupakan figur yang kaya akan keteladanan terkait  menjaga kehormatan diri. Bagi yang menulusiri kehidupannya –baik sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia – figur yang dijuluki Presiden Soekarno dengan subutan “The Grand Old Man” maka tak susah menemukan contohnya.
Sebelum Indonesia merdeka, sosok yang selama hidupnya dikenal melarat ini datang menemui salah satu temannya di salah satu kantor milik orang Belanda. Pada waktu itu, Salim diejek olehnya, “Tjoba kalau kau mau bekerdja sama Belanda, tentu kau tidak seperti sekarang, tak punja apa-apa.”

Tak lama setelah itu, tiba-tiba Cobee – salah seorang adviesur Belanda—datang lalu menyalami Agus Salim dan memberi hormat kepadanya. Setelah kejadian itu, dengan penuh izzah, sang diplomat jenaka ini berkata kepada teman yang mengejeknya tadi, “Tjoba kala saja bekerja sama Belanda, tentu seperti kau. Melihat madjikanmu datang, engkau merasa ketakutan. Akan tetapi meskipun saja tidak bekerdja, namun dia hormat kepada saja.” (Solichin Salam, 1964: 204)

Di sini terlihat bagaimana izzah seorang Agus Salim. Ia ingin menunjukkan kepada temannya, meski tidak begitu punya harta, asal punya izzah hidup akan menjadi lebih terhormat dan mulia. Dibanding hidup berkecupan dan bergelimang harta, tapi menjadi hina di bawah kuasa penjajah.

Pasca kemerdekaan, tepatnya 3 Juni 1953, Presiden Soekarno mengutus Agus Salim bersama Sri Paku Alam dan Duta Besar Indonesia ke Inggris dalam acara penobatan Ratu Elizabeth II. Dalam acara itu Salim menghisap rokok kreteknya. Ketika berhadapan dengan Pangeran Duke of Edinburg – suami Ratu Elizabet – rupanya bau rokok mengganggu penciumannya dan disebutnya sebagai bau busuk.

Bukan Agus Salim kalau tidak mampu menjawab ejekan ini. Bukan terutama masalah rokok yang menjadi masalah, tapi masalah “izzah” (kehormatan dan harga diri). Ia menjawab dengan bahasa Inggris fasih yang artinya demikian, “Paduka boleh tidak menjukai bau ini sekarang, Jang Mulia. Akan tetapi djustru bau inilah dahulu yang menarik bangsa Eropa pergi ke negeri saja.”

Sebagaimana jamak diketahui, para penjajah dahulu salah satu yang diburu di nusantara adalah rempah-rempah, termasuk tembakau. Dengan logika tajam ini seolah Salim ingin membalik omongan suami Ratu Inggris itu bahwa barang yang direndahkannya ini adalah barang berharga yang datang dari Indonesia. Kalau tidak berharga, buat apa negara-negara Eropa –yang dulu sebagai penjajah Indonesia—sampai mencarinya.

Jawaban telak ini menunjukkan kaliber izzah Agus Salim. Sebagai Muslim, negarawan dan bapak bangsa, dirinya tidak mau dihina harga diri dan kehormatannya. Meski kondisi melarat, tidak punya banyak harta benda, tetapi yang namanya izzah harus tetap dijunjung di mana pun berada. Demikianlah sekelumit cerita menjaga kehormatan diri yang bisa diteladai dari sosok Agus Salim.

Apa yang dilakukan oleh beliau persis seperti pepatah berikut: “Pantang kutu dicukur, pantang manusia dihinakan.” Artinya, tiap orang tak mau dihina, karena mempunyai harga diri atau gengsi. (Heroe Kasida Brataatmadja, Kamus 2000 Pribahasa Indonesia, 118).*/Mahmud Budi Setiawan

posted by @Adimin

Pelemahan Rupiah Sudah Lewati Ambang Psikologis

Written By NeoBee on 05 September, 2018 | September 05, 2018


Jakarta (4/9) - Sekretaris Bidang Ekonomi Keuangan, Industri, Teknologi dan Lingkungan Hidup (Ekuintek-LH) DPP PKS Handi Risza 

mengatakan saat ini Indonesia belum bisa mengambil manfaat dari pelemahan rupiah, untuk mendorong kinerja ekspor nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini telah menembus ambang batas psikologisnya, sebesar Rp14.800. Kondisi ini akan semakin terus berlanjut, jika Turki dan Argentina terus terperosok dalam krisis ekonomi.

"Defisit neraca perdagangan masih mengalami defisit. Pada bulan Juli 2018, defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$2,03 miliar sehingga secara kumulatif defisit neraca perdagangan sampai Juli 2018 sudah lebih dari US$3 miliar. Jika tidak ada kebijakan yang diambil Pemerintah, diperkirakan angka ini akan terus bertambah," kata Handi di DPP PKS Jakarta Selatan, Selasa (4/9/2108).

Saat ini, kata dia, nilai ekspor Indonesia memang mengalami kenaikan. Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2018 mencapai US$18,27%. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017, nilai ekspor Indonesia pada Juli 2018 naik 19,33%. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, nilai ekspor Indonesia ini mengalami peningkatan 25,19% yang terdiri dari kenaikan ekspor non-migas sebesar 31,18% dan penurunan ekspor migas sebesar 15,06%.

Di sisi lain, kenaikan nilai impor terus mengalami peningkatan, bahkan lebih tinggi dari ekspor. Data pada bulan Juli 2018 menunjukkan, Impor mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017, nilai impor Indonesia naik 31,56%. Kenaikan nilai impor ini akan terlihat jauh lebih besar lagi jika dibandingkan dengan bulan sebelumya (mtm). Bila dibandingkan dengan Juni, nilai impor Indonesia naik 62,17% yang terdiri dari kenaikan impor migas 22% dan non migas 71%. Kenaikan impor tersebut tidak hanya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah, tetapi juga akibat volume impor yang juga mengalami kenaikan sangat besar yaitu sekitar 51% dibanding satu bulan sebelumnya. Artinya permintaan terhadap barang Impor makin tinggi.

"Akibatnya kondisi neraca perdagangan terus tergerus. Bahkan kondisi ini telah dialami dalam beberapa tahun terakhir, semenjak tidak adanya kebijakan industri yang kuat. Bahkan boleh dikatakan kita mengalami deindrustrialisasi," kata Caleg DPR RI Dapil Sumbar 1 itu.

Oleh sebab itu, lanjut dia, tidak ada jalan lain bagi pemerintah selain membuat strategi yang akan mengefektifkan menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan menghilangkan defisit neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor.

Semenjak lemahnya kebijakan industri nasional, tidak berorientasi kepada ekspor, telah berdampak terhadap pertumbuhan ekspor Indonesia yang bisa dikatakan lamban. Bahkan 16 paket kebijakan yang sudah dikeluarkan Pemerintah kurang efektif untuk mendorong ekspor. Pemerintahan sepertinya lebih condong pada kebijakan ekonomi yang berorientasi pada pembatasan impor. Dikhawatirkan kebijakan yang berorientasi pada pembatasan impor justru akan menimbulkan inefisiensi pasar yang berdampak pada daya saing produk dalam negeri yang rendah.

"Kebijakan terakhir pemerintah juga terlihat akan memperlakukan pembatasan impor. Jika kita memiliki industri dalam negeri yang kuat maka kebijakan ini mungkin akan membantu, tetapi jika tidak didukung oleh industri yang kuat maka dikhawatirkan justru akan berdampak terhadap perekonomian nasional. Berbeda dengan China yang memiliki industri yang kuat dan murah sehingga siap menghadapi perang dagang (trade war)," ungkap dia.

Memang tidak mudah, menurutnya, tetapi dalam beberapa waktu ke depan, pemerintah seharusnya lebih memilih kebijakan yang berorientasi kepada pengembangan ekspor. Penguatan kebijakan industri, dengan melakukan pembangunan sektor industri dan perdagangan diarahkan pada pengembangan produk yang berorientasi pasar ekspor, sehingga diharapkan akan bisa mengurangi defisit perdagangan, bahkan juga akan memperkuat fundamental ekonomi nasional di masa yang akan datang.

posted by @Adimin

Anggota Komisi I DPR: BIN Jangan Jadi Alat Politik Jokowi

Written By neobattosai on 03 September, 2018 | September 03, 2018


Jakarta (28/08) -- Keterlibatan BIN dalam pengadangan aktivis #2019GantiPresiden, Neno Warisman, terus menuai kritikan dari berbagai pihak. BIN berkilah ikut campurnya Kepala BIN Daerah (Kabinda) Riau dalam mengamankan Neno sebagai bagian tugas kenegaraan.
Namun, anggota Komisi I dari Fraksi PKS, Sukamta, berpendapat BIN telah melampaui kewenangan yang telah diatur dalam UU Intelijen Negara. Ia berharap BIN tidak menjadi alat politik pemerintah demi melanggengkan kekuasaannya.
"Tugas BIN seperti diatur dalam Undang-Undang Intelijen Negara adalah penyelidikan, pengamanan dan penggalangan informasi. Dari sini kita secara gamblang mengetahui bahwa yang dilakukan Kabinda di daerah Pekanbaru telah melampaui kewenangannya. BIN harusnya tidak dijadikan alat politik pemerintah (Jokowi) untuk kelanggengan kekuasaannya," ujar Sukamta dalam keterangannya, Selasa (28/8).
Sukamta menjelaskan, seharusnya pemerintah tidak perlu panik dan berlebihan dalam menanggapi aksi #2019GantiPresiden. Sebab, gerakan tersebut murni hanya untuk penyampaian pendapat yang dilindungi oleh konstitusi, bukan gerakan makar seperti tudingan pemerintah.

Selama ini jika dicermati, menurutnya, gerakan #2019GantiPresiden lebih menyuarakan jeritan rakyat terkait kondisi perekonomian seperti harga-harga kebutuhan pokok yang semakin mahal hingga nilai tukar rupiah terhadap dollar yang terus melemah.

"Berangkat dari situlah banyak lapisan masyarakat yang menginginkan ganti kepemimpinan Republik Indonesia tahun 2019 dengan presiden yang insyaallah lebih baik. Ini konstitusional, sama sekali bukanlah tindakan makar. Rakyat ingin ganti presiden lewat pemilu, bukan dengan jalan kekerasan," ungkapnya.
Politikus PKS itu berharap, perbedaan pendapat tidak membuat pihak lain dibenarkan dalam menjalankan aksi persekusi terhadap seseorang.

"Ternyata kita masih sangat perlu belajar hidup di alam demokrasi, sehingga perbedaan pendapat dapat dilakukan secara sehat, bukan dengan cara menghadang dan memaksa pulang seorang ibu-ibu," ucap Sukamta.

posted by @Adimin

Presiden PKS: Perbanyak Kampanye Positif!

Written By neobattosai on 02 September, 2018 | September 02, 2018


Jakarta (31/8) - Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menyerukan kadernya untuk mengkampanyekan hal-hal positif atau positive campaign.

"Kampanyekan kelebihan-kelebihan diri kita maupun calon kita. Itu yang lebih penting. Kita harus terus mengeksploitasi kemampuan diri kita," kata Sohibul usai membuka Rakornas Humas PKS di Katulampa, Bogor, Jumat (31/8/2018).

Tugas kader, kata dia, harus memasarkan produk yang baik dan memasarkan produk sebaik mungkin. Jangan sampai menghasilkan hal yang bernilai kampanye hitam (black campaign).

"Jika tidak, akhirnya kita mengorek kelemahan orang lain, negative campaign, boleh asalkan ada buktinya. Lalukelebihan kita di mana?! Kita harus banyak positive campaign," ungkap dia.

Sohibul mengatakan jika dalam kampanye pasti akan menemui fitnah. Fitnah dalam perjuangan itu aksiomatik. Menurut dia tidak ada jalan yang mulus untuk berjuang. Biasa-biasa saja dalam menyikapi fitnah.

"Maka sikapi dengan proporsional dan logis. Jangan baperan hingga tak bisa tidur. Sebisa mungkin 80 persen kampanye kita adalah positive campaign," ungkap dia.

posted by @Adimin

Mayoritas Masyarakat Ingin Presiden Baru Tahun 2019

Written By neobattosai on 23 February, 2018 | February 23, 2018


Ketua Departemen Politik DPP PKS Pipin Sopian menjelaskan berdasarkan survei internal dan beberapa lembaga survei menunjukan mayoritas masyarakat Indonesia ingin Presiden RI baru pada Pilpres 2019.
 
"Berdasarkan hasil survei internal dan berbagai hasil lembaga survei menunjukan mayoritas masyarakat Indonesia ingin Presiden RI baru pada 2019," kata politisi muda PKS ini, Kamis (22/2/2018).
 
Alumnus Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menerangkan masyarakat Indonesia memandang Pemerintahan Jokowi-JK tidak berhasil meningkatkan kesejahteraan dan rasa aman bagi masyarakat.
 
"Masyarakat menilai hingga tahun keempat Pemerintahan Jokowi gagal mengentaskan kemiskinan, darurat gizi buruk, mengurangi lapangan pekerjaan, menaikkan daya beli masyarakat dan menegakkan hukum bagi semua," terangnya.
 
Bagi masyarakat bawah, menurut Pipin, yang sangat dirasakan adalah persoalan ekonomi dan penegakan hukum yang semakin terpuruk.
 
"Harga bahan pokok yang melonjak, tarif listrik tinggi, adanya kriminalisasi, penegakan hukum yang tidak adil dan ancaman orang gila dan isu PKI kepada para ulama menjadi penilaian masyarakat," ujarnya
 
Untuk itu menurut Pipin pandangan masyarakat ini akan menjadi pertimbangan PKS dalam menentukan arah koalisi pada Pilpres 2019.
 
"Tentu aspirasi dari masyarakat, simpatisan, ulama, tokoh, dan kader akan menjadi pertimbangan PKS dalam menentukan mitra koalisi dan pasangan capres pada Pilpres 2019," tegasnya.
 
Bagi masyarakat yang ingin pergantian kepemimpinan Indonesia pada 2019, kata Pipin, PKS menawarkan calon presiden hasil dari keputusan Majelis Syuro PKS.
 
"PKS menawarkan 9 calon presiden yang kapasitas dan integritasnya sudah teruji dan memiliki basis massa," katanya.
 
Bakal calon presiden dari PKS itu antara lain, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan; Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid; Mantan Presiden PKS, Anis Matta; Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno; Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman; Ketua Majelis Syuro PKS/Mantan Mensos, Habib Salim Segaf Al Jufrie; Mantan Presiden PKS/Mantan Menkominfo, Tifatul Sembiring; Pimpinan Fraksi PKS MPR RI, Almuzammil Yusuf dan Wakil Ketua Komisi ll DPR RI, Mardani Ali Sera


posted by @Adimin

PKS Dapat Nomor Urut Delapan

Written By NeoBee on 20 February, 2018 | February 20, 2018


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan nomor urut delapan (8) sebagai parpol peserta pemilu 2019 . Hal tersebut diumumkan di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta Pusat, Ahad (18/2/2018).

"Semua nomor bagus dan berkah. Dulu kita mendapat nomor yang sama yaitu 8. Sesuai dengan harapan yaitu nomor yang tidak terlalu besar," kata Sohibul.

Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman hadir di KPU bersama Sekjen Mustafa Kamal, Wasekjen Abdul Hakim, Ketua Wilda Banjabar Tate Komaruddin, legislator PKS Aboe Bakar Alhabsy dan pimpinan DPP lainnya.

Pengundian nomor urut partai politik peserta pemilu 2019 sekitar pukul 20.00 WIB. Sebelum nomor urut, PKS mengambil antrean dengan nomor sepuluh.


posted by @Adimin

Perjuangan Buya Hamka Memajukan Umat dan Bangsa

Written By NeoBee on 18 February, 2018 | February 18, 2018



Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK), barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat.
 
Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Buya Hamka bergerilya di hutan sekitar Medan. Kiprah Hamka dalam perjuangan nasional sepanjang 1945-1949 kian meningkat berbarengan dengan terjadinya perang revolusi menentang kembalinya penjajah Belanda yang terus kian merebak di seluruh Tanah Air.

Demikian dituturkan Guru Besar UIN Jakarta, Prof Azyumardi Azra dalam seminar nasional tentang Buya Hamka. Ia mengungkapkan, jasa-jasa Buya Hamka melewati batas-batas perjuangan politik dalam kehidupan umat dan bangsa Indonesia.

“Buya Hamka berjuang untuk memajukan umat dan negara-bangsa dalam berbagai lapangan kehidupan sejak dari kesusastraan, pemikiran keagamaan (terutama tasawwuf dan tafsir), pendidikan modern Islam, dakwah, politik, dan perjuangan melawan kebatilan kolonialisme pra dan pasca kemerdekaan,” tuturnya pada acara di Aula Buya Hamka, Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (15/02/2018) itu.

Azra menceritakan, pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional dengan anggota Chatib Sulaeman, Udin, Rangkayo Rasuna Said, dan Karim Halim.

Selain itu, lanjut Azra, Hamka juga diangkat Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai Sekretaris Front Pertahanan Nasional yang merupakan gabungan dari berbagai partai politik. Ketua Front ini adalah Bung Hatta sendiri.

Selanjutnya, Hamka membentuk Badan Pembela Negara dan Kota (BPNK) yang merupakan barisan perlawanan gerilya terbesar di wilayah Sumatera Barat. Hamka sendiri sangat aktif bergerilya dan hampir tidak pernah bisa ditemui di satu tempat tetap.

Sebagai sastrawan, kata Azra, Hamka memiliki intelektualisme yang kosmopolitan melalui bacaannya atas karya sastrawan, filsuf, sejarawan, ideolog, dan lain-lain seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Akkad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haykal, Albert Camus, William James, Sigmud Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, Pierre Loti, dan banyak lagi.
“Hamka dengan demikian memberikan contoh tentang keluasan bacaan, tanpa prasangka yang kemudian dia refleksikan secara kritis,” ucapnya.

Sikap intelektual Hamka seperti ini, menurutnya, sangat relevan dan sesuai dengan konteks tantangan kaum intelektual dan ulama Indonesia masa kini dan mendatang, yang harus terus membuka perspektif dan horizon intelektualisme kritis mereka di tengah lingkungan yang terus berubah dan berkembang sangat cepat


hidayatullah.com

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger