pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Kenapa ya, kalau Capek & Stres Jadi Kelihatan Jelek?

Written By @Adimin on 03 January, 2013 | January 03, 2013


Saat kecapekan setelah beraktivitas seharian atau kurang tidur, Anda akan sering melihat kulit menjadi pucat, muncul semacam kantung di bawah mata, lingkaran hitam di sekitar mata atau kerutan di kulit. Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi.

Menurut Dr. Amit Sood, seorang profesor ilmu kedokteran dan ketua Mind Body Initiative dari Mayo Clinic, stres menyebabkan kemampuan kulit untuk melindungi dirinya sendiri menurun. Lagipula stres juga dapat mengakibatkan berkurangnya kadar melanin sehingga wajah Anda akan tampak kuyu dan berwarna kekuningan.

"Dengan kata lain ketika mengalami stres, tubuh seseorang akan berperang dengan dirinya sendiri. Anda akan kehilangan efisiensi tubuh, tidur Anda takkan nyenyak, Anda jadi makan lebih banyak dari biasanya, termasuk berat badan Anda akan bertambah, bahkan hubungan Anda pun bisa terpengaruh karenanya," tambah Sood yang juga penulis buku Train Your Brain, Engage Your Heart, Transform Your Life: A Course in Attention and Interpretation Therapy.

Menanggapi studi Sood, pakar anestesi dan ilmu penyakit dalam Dr. Michael Roizen pun ikut menambahkan, "Normalnya, ketika tidur Anda akan mendistribusikan air yang ada di dalam tubuh. Itulah mengapa jika Anda kurang tidur maka air itu akan menumpuk di bawah mata dan memberi 'beban' ekstra pada kulit berupa kantung mata dan lingkaran hitam di sekitar mata."

Hal ini juga berarti jika seseorang tidak mendapatkan jam tidur yang memadai, kulitnya tak memiliki kesempatan untuk menyegarkan diri dan mengencangkan kondisinya kembali.


Roizen pun sepakat dengan Sood bahwa stres akan menyebabkan kurang tidur dan hal ini bisa menjadi 'lingkaran setan'. Bahkan stres tak hanya membuat wajah Anda menjadi aneh tapi juga kerutan kulit akibat penuaan. "Stres membuat Anda menjadi tua," tandas Roizen seperti dikutip dari nbcnews, Jumat (21/12/2012).


Bahkan menurut Roizen, stres tak hanya menyebabkan kerutan atau keriput di wajah tapi juga di pembuluh darah yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan penyakit serius, meski mungkin usia Anda masih sangat muda. (unik

posted by Adimin

PERCAKAPAN USTADZ DENGAN DPR



DPR : “Pak Ustadz, kalau DPR sama Menteri…, Hebat yang mana?”
Ustadz : “Hebat Bapak…., Bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 Menteri” Ujarnya santun.
[si DPR nyengir seneng]

DPR: “Lhaa…, kalau saya sama ketua KPK hebat mana ??”
Ustadz : “Hebat bapak DPR juga lah…, kan Ketua KPK dipilih sama Bapak juga, DPR tidak dipilih dari KPK”
[si DPR nyengir nya makin lebar, ustadz bener juga nih kata dia]

DPR: “Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih ustadz, kalau saya dengan Nabi hebat mana?”
Ustadz : “Masih hebat bapak lah…”
DPR : “LAH?!! KOQ BISA..??” (KAGET)

Ustadz: “YA BISA LAH..” (Lalu melanjutkan ucapannya..) “Kalo Nabi masih takut sama ALLAH, sedangkan Bapak sudah gak ada takut- takutnya sama ALLAH” KORUPSI UANG RAKYAT MILYARAN, TANPA MERASA SALAH -,-”

DPR: [Cengar-cengir doank kaya kebo di sawah.. ]


posted by Adimin

Tawadhu Itu KEREN

Written By @Adimin on 02 January, 2013 | January 02, 2013


TAWADHU? Apa sih? Ketawa tapi merdu? Atau ketawa semanis madu? Hehehe
Eits… ini bukan masalah ketawa fren. Ini tentang kebaikan. Jadi, apa sih tawadhu?

Tawadhu artinya rendah. Masa iya ada kebaikan tapi ‘rendah’?! tenang dulu, itu baru arti secara harfiah atau secara bahasa. Nah, kalau secara istilah tawadhu artinya kita nggak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya, kalau disingkat sih rendah hati, nggak sombong dan rajin menabung (rajin menabungnya sih enggak hehehe).

Tawadhu ini penting banget dimiliki ama kita, kenapa?

Hmm, pernah nggak ketemu orang atau bahkan temen deket yang selalu dengerin curhat kita selama bertahun-tahun tapi dia sendiri nggak terlalu banyak bicara tentang prestasinya atau gaya berbicaranya sederhana, tau-tahu kalian dapat info dari orang lain kalo temen kita itu sempat juara olimpiade internasional, terus beberapa kali dapat tawaran beasiswa keluar negeri?! Ya pasti kagumnya jadi double kan? Pertama kagum karena prestasinya itu, kedua karena kerendah hatiannya yang nggak pernah menyebutkan hal-hal yang pernah diraihnya. Sebenernya Rasulullah SAW. udah ngasih sinyal ke kita tentang orang yang tawadhu akan Allah muliakan “Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah.” (HR. Muslim).

Dahsyat banget kan? Selain itu juga tawadhu itu keren, karena banyak ulama yang keren karena ke tawadhu-annya, yah jangan jauh-jauh deh, Nabi Muhammad SAW. begitu tawadhu. Beliau itu kan keturunan dari Bani Hasyim A.K.A keturunan dari bangsawan Arab. Kakeknya aja presiden di zamannya, tapi beliau nggak malu tuh buwat menggembala hewan atau bahkan jadi karyawannya Khodijah yang jualin baju di pasar. Nabi Muhammad SAW. bahkan selalu menjaga shalat malam sampai kaki beliau bengkak-bengkak padahal beliau udah pasti dijamin masuk surga.

Kalau kita tau kita udah dijamin masuk surga, pasti udah bikin pengumuman pake speaker dimesjid-mesjid rumah, bikin status fb, ngetweet sambil mention semua orang yang udah follow kita kalau kita dijamin masuk surga terus minta orang-orang yang kita kasih tahu bilang ‘wow’sambil koprol. Haduh-haduh untung aja kita belum tahu kalau kita akan masuk surga, jadi kita nggak akan coba berani-berani ninggalin shalat, shaum, sedekah dll.

Nah fren, tawadhu itu bukan hanya nggak ngomong tentang prestasi, harta dan potensi yang kita punya ke orang lain biar diakui eksistensi kita. Tapi penampilan dan sikap pun harus tawadhu. Nabi Muhammad SAW. n friends kayak Abu Bakar padahal mampu buat beli pakaian dari sutra tapi beliau dan shahabatnya itu selalu berpakaian sederhana, nggak berlebihan tapi nggak kekurangan juga. Abu Bakar itu dikenal sebagai saudagar paling kaya loh fren n orang paling berpengaruh juga dikalangan kaum Quraisy. So, sederhana dalam penampilan itu bukan pake celana jeans lubang-lubang, kaos belel, sepatu nganga atau pake baju yang sama selama seminggu, jatuhnya malah jadi berlebihan bagian sisi negatifnya. Tapi sederhana disini adalah penampilan yang sederhana, penampilan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, tanpa berlebih-lebihan tapi sesuai syariat (hukum) Islam.

Sekarang jelas kan fren, kalau tawadhu itu keren?! Rata-rata orang besar n tokoh dunia itu selalu tawadhu (rendah hati). Contohnya presiden di era reformasi kita yakni Pak Habibi, nggak pernah tuh beliau menyebut-nyebut kebaikan selama beliau menjabat jadi presiden atau Pak Ahmad Heryawan dari puluhan prestasinya di skala nasional maupun internasional beliau nggak pernah nyempatin diri repot-repot ngumumin daftar prestasinya, tapi pada akhirnya selalu ada jalan bagi orang lain buwat mengetahui setiap celah kebaikan mereka yang menyebabkan semakin bertambah kekaguman kita.

Tapi yang harus dicatet nih, kalo kita melakukan kebaikan kemudian di sembunyikan tapi berharap suatu saat nanti orang lain tau tentang kebaikan yang kita lakukan, itu namanya bukan tawadhu, bisa jadi dosanya jadi double. Jadi kita perlu hati-hati ya, biarlah Allah  SWT. yang menilai usaha kita dan malaikat turut menyaksikannya bukan makhluk yang menyebabkan segala amal kebaikan itu dapat menjadi nggak berguna (sia-sia) dan jangan lupa juga buwat tidak merasa diri lebih baik dari orang lain karena itu ciri orang yang tawadhu.

So, yuk kita tawadhu… supaya Allah ridho ama kita, supaya keridhoan Allah bisa mengantarkan kita ke surga.Amiin

posted by Adimin

Tauhid Yang Membebaskan


Di negeri ini proses pemiskinan -- baik pemiskinan secara kultural maupun struktural tengah terjadi menggusur bangsa ini -- yang, kesemuanya itu berujung pada proses 'peyatiman' bangsa -- ketika nasib rakyat dan umat ditelantarkan oleh negara. Maka, negara dan elit-elitnya sesungguhnya telah terlibat dalam proses pendustaan dan pengkhianatan terhadap nilai2 agama. Tragis memang....

Kenyataan-kenyataan tersebut, telah menjungkirbalikkan rakyat dan umat menjadi tersubordinasikan pada titik nadir yang memprihatinkan. Bangsa ini yang mayoritas masyarakat Muslim menjadi terpingggirkan oleh silang sengkarut dinamika reformasi yang mandeg dan jalan di tempat. Sehingga tidaklah mengherankan bahwa posisi umat Islam di Indonesia berada pada posisi pheripheral -- yang secara sosiologis, itu sudah menjadi karakteristik negara berkembang termasuk Indonesia yang ditandai oleh ketidakmerataan ekonomi yang makin melebar. Padahal kita tahu, bahwa masyarakat menjadi miskin bukan disebabkan karena mereka tidak memiliki aspek kultural yang dinamis dan kreatif, tapi kerena mereka dimiskinkan oleh suatu sistem struktural -- di mana mereka tidak diberi peluang yang sehat dan memadai.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam itu bukan agama kebebasan (sebagaimana orang-orang JIL menafsirkan). Tapi Islam itu adalah agama pembebasan yang membebaskan dari ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan serta pembebasan dari kesewenang-wenangan kekuasaan yang tiran. Dengan missinya yang membebaskan tersebut, umat Islam diharapkan bisa ‘naik kelas' posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Meskipun dalam realitas sejarahnya, manusia modern saat ini kerap dihadapkan pada problematikanya sendiri, di mana umat Islam berada di dalamnya. Manusia yang asalnya merdeka dengan segala kemerdekaan dan kebebasannya, yang selalu merasa menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajatnya oleh suatu sistem nilai kebudayaan modern, manusia menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin. Dalam masyarakat modern manusia tengah menghadapi dan mengalami mekanisasi kerja. Proses seperti ini menyebabkan manusia kehilangan perspektifnya (Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1993).

Manusia di zaman modern ini -- telah terpasung oleh situasi zaman yang menyertainya. Mereka mengalami keterpasungan dan keterbelengguan oleh sistem kebudayaan modernitas itu sendiri. Dan ini terjadi pada bangsa ini yang tengah mengalami fase akhir dari suatu masyarakat agraris dan fase awal dari sebuah masyarakat industri. Di sini kerap terjadi benturan antara nilai-nilai lama (Islam dan budaya) di satu sisi, dan nilai-nilai baru di sisi yang lainnya. Yang pada ujungnya manusia mengalami kegelisahan dan keterasingan.

Sedangkan pada sisi lainnya, pada bangsa ini pula -- sebagian besar masyarakatnya tengah mengalami ketidakberdayaan oleh pelbagai sistem struktural yang menyebabkan tidak memiliki daya tawar yang kuat. Mereka menjadi masyarakat pinggiran yang terpinggirkan oleh sejarah dan kekuasaan yang hampir tidak pernah berpihak kepada mereka.

Dari analisis tersebut, sesungguhnya kita menaruh harapan banyak pada Islam. Tentu saja, di sini Islam mesti ditafsirkan secara cerdas dan pintar oleh umatnya dengan tetap berpegang teguh pada diktum Islam (Qur'an dan Sunnah) yang bersifat essensial dan eternal. Sejauhmana Islam turut andil dalam memberikan perubahan dan pembebasan atas pelbagai nasib manusia yang terhimpit oleh sistem ketidakadilan baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun aspek-aspek lainnya.

Tauhid dan Pembebasan: Sebuah Redefinisi

Istilah Tauhid dalam wacana umat Islam Indonesia kerap disebut ‘tauhid'. Menurut Nurcholish kata-kata tersebut merupakan kata benda kerja aktif yang secara harfiah mengandung makna ‘menyatukan' dan ‘mengesakan' yang oleh para mutakallim dipahami sebagai upaya untuk ‘me-Maha-Esa-kan Allah'. Yang dengan ini, semangat tauhid akan memberikan dampak pembebasan dalam hidup dan kehidupan manusia. Pandangan ini muncul sebagai bagian dari dambaan setiap insan -- khususnya umat Islam terhadap pandangan hidupnya yang mampu membawa pembebasan dari pelbagai belenggu zaman modern.
Senada dengan pandangan di atas, menurut Amien Rais (1991:13) bahwa kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan esensial. Formulasi paling pendek dari kalimat tauhid adalah: laa ilaha illa Allah -- sebuah kalimat dalam bentuk negasi-afirmasi(nafy-itsbat). Di mana seorang manusia-tauhid hanya memutlakkan Allah Yang Esa sebagai Khaliq-nya, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya. Komitmennya kepada Allah adalah total, kukuh, tulus, mencakup cinta dan pengabdian, dan kemauan yang keras untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Dalam Islam, kalimat tauhid sesungguhnya telah menjadi tauhid pembebasan bagi umat Islam. Karena dengan kalimat tauhid sesungguhnya harus meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan. Yang menurut Amien, doktrin tauhid Islam sesungguhnya mengemban tugas untuk melakukan tahrir al-nas min ‘ibadat al-'ibad ila ‘ibadatillah' (membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata).
Dan hal itu sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad ‘Athiyah al-'Ibrasyi (Ruh al-Islamy,Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiah, 1969, hal. 172). bahwa, Islam itu merupakan agama pembebasan, persaudaraan dan persamaan (Al-Islamu dien al-huriyati wa al-ukhuwwti wa al-musawati....). Yang dalam sejarahnya Islam telah melakukan upaya liberasi bagi para hamba sahaya untuk dimerdekakan dan diangkat derajatnya menjadi manusia yang merdeka, sejajar dan terhormat.

Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial

Bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena sikap menutup diri dari keengganan untuk mengetahui kebenaran yang diperkirakan nilainya akan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan oleh keangkuhan yang sudah membelenggu diri manusia. Belenggu yang dimaksud tiada lain adalah hawa nafsu atau vested interest (al-hawa). Inilah sumber pribadi yang selalu menolak kebenaran. Hawa nafsu juga menjadi sumber pandangan subyektif yang tidak berdasar (Lihat Qs. Al-Jatsiyah: 23).
Doktrin tauhid dalam Islam, menurut Cak Nur, sesungguhnya bisa memberikan pembebesan diri (self-liberation). Hanya dengan dengan self-liberation seorang manusia-tauhid akan mampu menangkap kebenaran, dan hanya dengan menangkap kebenaran itulah seseorang akan bisa membebaskan dirinya. Inilah sesungguhnya makna yang sangat esensial dari kalimat tauhid. Di sinilah doktrin tauhid Islam memberikan pembebesan pribadi, di mana seseorang menjadi merdeka sejati yang hanya akan melihat setiap yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.
Oleh karena itu, manusia tauhid akan dengan bebas menentukan sendiri pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat dan hati nurani secara jujur tentang apa yang benar dan yang salah, ia tampil berani dan elegan, penuh percaya diri, jujur dan adil serta memiliki integritas yang kuat. Karena ia tidak terkungkung oleh keangkuhan dirinya (lihat Qs. Al-Ma'idah: 8).
Dengan pembebasan diri yang kuat sebagai efek dari tauhid, maka tauhid dalam Islam pula bisa memberikan efek bagi pembebasan sosial sebagai kelanjutan dari pembebasan diri-individu. Dalam al-Qur'an pandangan hidup bertauhid selalu berkaitan dengan penolakan terhadap ‘thagut' yang dipahami sebagai kekuatan sewenang-wenang atau apa-apa yang melewati batas atau juga sebagai kekuatan tiranik. Yang menurutnya, kesanggupan seorang pribadi untuk melepaskan diri dari belenggu kekuatan tiranik -- itu dipahami sebagai efek dari pembebasan sosial semangat tauhid (Qs. Al-Baqarah: 256).

Singkat kata, Islam sesungguhnya merupakan agama pembebasan bagi manusia. Karena salah satu misi Islam yang paling besar adalah melakukan pembebasan. Dalam konteks dunia modern, doktrin tauhid Islam harus bisa membebaskan manusia dari kungkungan/belenggu pemikiran dan juga dari sistem-sistem sosial, politik maupun ekonomi maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.

Dengan demikian, bangunan tauhid Islam secara fungsional harus mampu mentransformasikan setiap individu untuk melakukan upaya liberasi dari pelbagai kungkungan sistem yang tidak manusiawi. Dan pada saat yang bersamaan pula bangunan tauhid Islam mendorong kaum Muslimin untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang adil dan etis.
Dalam diktum Alquran, ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial dan politik -- ini sesuatu yang sangat dikecam keras (lihat Qs. Al-Ma'un: 1-6 dan Al-Humazah: 1-6). Karena manakala ketimpangan dan ketidakadilan tersebut dibiarkan, maka bisa mengakibatkan manusia menjadi buta terhadap nilai-nilai luhur (lihat Qs. Ali- ‘Imran: 14; Yunus: 23).

Internalisasi Tauhid Sebagai upaya Pembebasan

Dalam realitas empirisnya, kita kerap menyaksikan bahwa ada orang yang rajin shalatnya tapi juga rajin korupsinya, ada yang sudah berkali-kali melaksanakan ibadah haji tapi rajin pula menindas rakyatnya. Dalam perspektif ini, orang tersebut sama sekali tidak bertauhid. Padahal nilai-nilai tauhid itu selalu hadir dalam situasi dan kondisi apapun.
Untuk itu, upaya membumikan Islam dalam konteks Islam sejarah secara apa adanya menjadi bagian penting yang mesti diwujudkan. Karena boleh jadi, doktrin tauhid Islam yang selama ini diyakini dan dipahami dipandang tidak cukup memberi implikasi pada jiwa-jiwa pribadi muslim.
Di sini, makna tauhid perlu di-internalisasi pada wilayah yang lebih konkret - sebagai upaya untuk men-substansiasi Islam dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bahkan bernegara. Dengan pemaknaan tauhid seperti ini diharapkan lebih mencerahkan dan mencerdaskan. Salah satu kepentingan yang cukup signifikan -- mengapa tauhid perlu dikedepankan untuk melakukan transformasi dan pembebasan, baik sosial maupun individual? Karena sebagai doktrin tauhid, bagimana Islam mampu mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visi Islam itu sendiri. Sehingga Islam memberikan insight moral bagi masyarakat. Dengan kata lain, meminjam pernyataan Kuntowijoyo -- tidaklah Islami misalnya, jika masyarakat muslim bersikap apriori terhadap kondisi struktural dan kultural masyarakatnya, sementara kita tahu kondisi tersebut penuh kemunkaran dan kezaliman. Wallahu a'lam bi al shawwab...


sumber : persis.or.id
posted by Adimin

10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru

Written By @Adimin on 31 December, 2012 | December 31, 2012


Alhamdulillah, Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.[1]
Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan tahun baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan tahun baru ini terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.
Berikut adalah beberapa kerusakan akibat seorang muslim merayakan tahun baru.
Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Perlu diketahui bahwa perayaan (‘ied) kaum muslimin ada dua yaitu ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Anas bin Malik mengatakan,
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’”[2]
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (‘ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
Perhatikan penjelasan Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’, komisi fatwa di Saudi Arabia berikut ini:
Al Lajnah Ad Da-imah mengatakan, “Yang disebut ‘ied atau hari perayaan secara istilah adalah semua bentuk perkumpulan yang berulang secara periodik boleh jadi tahunan, bulanan, mingguan atau semisalnya. Jadi dalam ied terkumpul beberapa hal:
  1. Hari yang berulang semisal idul fitri dan hari Jumat.
  2. Berkumpulnya banyak orang pada hari tersebut.
  3. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada hari itu baik berupa ritual ibadah ataupun non ibadah.
Hukum ied (perayaan) terbagi menjadi dua:
  1. Ied yang tujuannya adalah beribadah, mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan hari tersebut dalam rangka mendapat pahala, atau
  2. Ied yang mengandung unsur menyerupai orang-orang jahiliah atau golongan-golongan orang kafir yang lain maka hukumnya adalah bid’ah yang terlarang karena tercakup dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
    Barang siapa yang mengada-adakan amal dalam agama kami ini padahal bukanlah bagian dari agama maka amal tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya adalah peringatan maulid nabi, hari ibu dan hari kemerdekaan. Peringatan maulid nabi itu terlarang karena hal itu termasuk mengada-adakan ritual yang tidak pernah Allah izinkan di samping menyerupai orang-orang Nasrani dan golongan orang kafir yang lain. Sedangkan hari ibu dan hari kemerdekaan terlarang karena menyerupai orang kafir.”[3] -Demikian penjelasan Lajnah-
Begitu pula perayaan tahun baru termasuk perayaan yang terlarang karena menyerupai perayaan orang kafir.
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ » . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ « وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ »
Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“[4]
Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” [5]
An Nawawi -rahimahullah- ketika menjelaskan hadits di atas menjelaskan, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal) dan dziro’ (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh lika-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nashroni. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau ini adalah suatu mukjizat bagi beliau karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.”[6]
Lihatlah apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang beliau katakan memang benar-benar terjadi saat ini. Berbagai model pakaian orang barat diikuti oleh kaum muslimin, sampai pun yang setengah telanjang. Begitu pula berbagai perayaan pun diikuti, termasuk pula perayaan tahun baru ini.
Ingatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
Beliau bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [7]
Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[8]

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? Apalagi menunggu pergantian tahun pun akan mengakibatkan meninggalkan berbagai kewajiban sebagaimana nanti akan kami utarakan.
Jika ada yang mengatakan, “Daripada menunggu tahun baru diisi dengan hal yang tidak bermanfaat, mending diisi dengan dzikir. Yang penting kan niat kita baik.”
Maka cukup kami sanggah niat baik semacam ini dengan perkataan Ibnu Mas’ud ketika dia melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang melakukan dzikir yang tidak ada tuntunannya ini mengatakan pada Ibnu Mas’ud,
وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ.
Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.”
Ibnu Mas’ud lantas berkata,
وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ
Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya.” [9]
Jadi dalam melakukan suatu amalan, niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus juga mengikuti contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baru amalan tersebut bisa diterima di sisi Allah.

Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru 
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”[10]

Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari. Akhirnya, mereka tidur hingga pertengahan siang dan berlalulah kewajiban tadi tanpa ditunaikan sama sekali. Na’udzu billahi min dzalik.
Ketahuilah bahwa meninggalkan satu saja dari shalat lima waktu bukanlah perkara sepele. Bahkan meningalkannya para ulama sepakat bahwa itu termasuk dosa besar.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja termasuk dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[11]
Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”[12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengancam dengan kekafiran bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat lima waktu. Buraidah bin Al Hushoib Al Aslamiy berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13]

Oleh karenanya, seorang muslim tidak sepantasnya merayakan tahun baru sehingga membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Dengan merayakan tahun baru, seseorang dapat pula terluput dari amalan yang utama yaitu shalat malam. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ
Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[14] Shalat malam adalah sebaik-baik shalat dan shalat yang biasa digemari oleh orang-orang sholih. Seseorang pun bisa mendapatkan keutamaan karena bertemu dengan waktu yang mustajab untuk berdo’a yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Sungguh sia-sia jika seseorang mendapati malam tersebut namun ia menyia-nyiakannya. Melalaikan shalat malam disebabkan mengikuti budaya orang barat, sungguh adalah kerugian yang sangat besar.

Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[15]
Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[16] Apalagi dengan begadang, ini sampai melalaikan dari sesuatu yang lebih wajib (yaitu shalat Shubuh)?!
Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[17]


Kerusakan Kedelapan: Mengganggu Kaum Muslimin
Merayakan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Ketahuilah ini semua adalah suatu kemungkaran karena mengganggu muslim lainnya, bahkan sangat mengganggu orang-orang yang butuh istirahat seperti orang yang lagi sakit. Padahal mengganggu muslim lainnya adalah terlarang sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain.”[18]
Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[19] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah sangat banyak sekali jumlah uang yang dibuang sia-sia. Itulah harta yang dihamburkan sia-sia dalam waktu semalam untuk membeli petasan, kembang api, mercon, atau untuk menyelenggarakan pentas musik, dsb. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (Qs. Al Isro’: 26-27)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauh sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.
Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.” Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah tabdzir (pemborosan). Namun jika seseorang menginfakkan satu mud saja (ukuran telapak tangan) pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan tabdzir (pemborosan).” Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[20]

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” [21]
Ingatlah bahwa membuang-buang waktu itu hampir sama dengan kematian yaitu sama-sama memiliki sesuatu yang hilang. Namun sebenarnya membuang-buang waktu masih lebih jelek dari kematian.
Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.”[22]
Seharusnya seseorang bersyukur kepada Allah dengan nikmat waktu yang telah Dia berikan. Mensyukuri nikmat waktu bukanlah dengan merayakan tahun baru. Namun mensyukuri nikmat waktu adalah dengan melakukan ketaatan dan ibadah kepada Allah. Itulah hakekat syukur yang sebenarnya. Orang-orang yang menyia-nyiakan nikmat waktu seperti inilah yang Allah cela. Allah Ta’ala berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ
“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?” (Qs. Fathir: 37). Qotadah mengatakan, “Beramallah karena umur yang panjang itu akan sebagai dalil yang bisa menjatuhkanmu.

Marilah kita berlindung kepada Allah dari menyia-nyiakan umur yang panjang untuk hal yang sia-sia.”[23]
Inilah di antara beberapa kerusakan dalam perayaan tahun baru. Sebenarnya masih banyak kerusakan lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam tulisan ini karena saking banyaknya. Seorang muslim tentu akan berpikir seribu kali sebelum melangkah karena sia-sianya merayakan tahun baru. Jika ingin menjadi baik di tahun mendatang bukanlah dengan merayakannya. Seseorang menjadi baik tentulah dengan banyak bersyukur atas nikmat waktu yang Allah berikan. Bersyukur yang sebenarnya adalah dengan melakukan ketaatan kepada Allah, bukan dengan berbuat maksiat dan bukan dengan membuang-buang waktu dengan sia-sia. Lalu yang harus kita pikirkan lagi adalah apakah hari ini kita lebih baik dari hari kemarin? Pikirkanlah apakah hari ini iman kita sudah semakin meningkat ataukah semakin anjlok! Itulah yang harus direnungkan seorang muslim setiap kali bergulirnya waktu.
Ya Allah, perbaikilah keadaan umat Islam saat ini. Perbaikilah keadaan saudara-saudara kami yang jauh dari aqidah Islam. Berilah petunjuk pada mereka agar mengenal agama Islam ini dengan benar.
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Disempurnakan atas nikmat Allah di Pangukan-Sleman, 12 Muharram 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[1] Sumber bacaan: http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru
[2] HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[3] Fatawa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta‘, 3/88-89, Fatwa no. 9403, Mawqi’ Al Ifta’.
[4] HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.
[5] HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.
[6] Al Minhaj Syarh Shohih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, cetakan kedua, 1392.
[7] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.
[8] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H.
[9] HR. Ad Darimi. Dikatakan oleh Husain Salim Asad bahwa sanad hadits ini jayid (bagus).
[10] Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.
[11] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, Dar Al Imam Ahmad
[12] Al Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
[13] HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Misykatul Mashobih no. 574
[14] HR. Muslim no. 1163
[15] HR. Bukhari no. 568
[16] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/278, Asy Syamilah.
[17] HR. Muslim no. 6925
[18] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41
[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 1/38, Asy Syamilah
[20] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 5/69, pada tafsir surat Al Isro’ ayat 26-27
[21] HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[22] Al Fawa’id, hal. 33
[23] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6/553, pada tafsir surat Fathir ayat 37




posted by Adimin

Peringatan Hari Ibu PKS Kota Padang

Written By @Adimin on 25 December, 2012 | December 25, 2012


Sepanjang kehidupan manusia, sosok ibu memang tidak akan pernah bisa tergantikan dalam kehidupan kita sebagai seorang yang penuh kasih sayang yang memberikan segalanya kepada keluarga tanpa mengharapkan balas jasa. Di indonesia hari ibu jatuh pada tanggal 22 desember setiap tahunnya, PKS Kota Padang juga ikut mengapresiasikan Hari Ibu, melalui bidang Perempuan PKS kota Padang.

GOR Kompleks Yayasan Adzkia taratak paneh Kota padang Minggu 23 desember 2012, mulai ramai di datangi oleh ibu-ibu beserta keluarganya. Mereka yang datang penuh dengan kecerian dan senyuman, Hari ini bidang perempuan PKS kota padang menggelar acara semarak Hari Ibu, Kegiatan ini di buka pada pukul 09.30 wib. Acara ini juga di hadiri oleh ketua DPD PKS Kota Padang Drs. Muhidi, MM dan Wakil Walikota Padang H. Mahyeldi Ansyarullah, SPd.

Dalam sambutannya ketua Bidang Perempuan DPD PKS Padang, Ronna Rosa, SS mengatakan “dalam menyemarakkan hari ibu, kami dari bidang perempuan sangat mengapresiasikannya, untuk itu hari ini akan ada beberapa perlombaan seperti Lomba menggambar, tebak kata, dan lomba lari. Selain itu juga akan di kukuhkan pengurus Rumah Keluarga Indonesia Kota  Padang. 

Terakhir beliau sampaikan bahwa dalam kegiatan yang berlangsung hari ini, juga di buka kesempatan bagi seluruh kader kota padang yang memiliki anak untuk bisa mengikuti program bakat dan minat yang telah di bentuk bidang perempuan PKS Kota Padang, ini sesuai dengan follow up dari out bond anak kader beberapa waktu lalu. Program yang di buka adalah, Jurnalis, Renang dan sepak bola. Dan tak lupa ucapan terimakasih kepada panitia yang telah bekerja maksimal, sehingga acara hari ini bisa terlaksana dengan baik, imbuhnya.”

Pada saat lomba di mulai, para peserta sangat antusias mengikuti perlombaan. Seperti lomba menggambar dengan tema “ibu”, peserta lomba ini adalah ayah dan anak sedangkan ibu memberikan semangat kepada mereka. Tampak harmoni dan kompak sekali para keluarga yang mengikuti perlombaan. Dan tak kalah serunya pada saat lomba lari, pesertanya para ayah dan anak. Dengan menggendong anaknya para ayah saling berpacu untuk menjadi pemenang, 

Meski cuaca matahari cukup terik namun tidak menyulutkan para ayah untuk lari sekencang-kencangnya dengan anak yang digendongnya. Para ibu pun dengan semangatnya meneriakkan kepada para ayah yang sedang mengikuti lomba. Kegiatan yang diangkat bidang perempuan PKS Kota Padang ini sungguh berkesan bagi keluarga peserta, karena mereka bisa saling menyemangati, adanya kebersamaan kompak antara ayah, ibu, dan anak. Selain itu juga menambah eratnya silaturahim sesama kader dan simpatisan PKS Kota Padang

 

posted by Adimin

Sampah Sejarah

Written By @Adimin on 24 December, 2012 | December 24, 2012




وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ


Potongan ayat tsb menjadi acuan bahwa sejarah pasti akan terulang walau dg pelaku dan tokoh yg berbeda. Pertarungan ideologi antara Fir'aun dan Musa, pertempuran haq dan bathil yg ditokohkan Thalut dan Jalut atau yg kita kenal dg GOLIAT sedang terjadi dan akan terus terjadi selama panggung sejarah masih ada.

"Dan demikianlah hari-hari (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia...," kata Alloh (QS 3:140). 

Pertarungan ideologi dan pertempuran haq dan bathil kini Alloh perlihatkan di Mesir dg cara yg lain. Penguasa zhalim seperti Mubarak yg berkuasa selama 30th akhirnya tumbang dg kehinaan. Selama masa berkuasanya tidak pernah memihak kpd syariat Allah. Para pendakwah dan aktifis islam menjadi bulan bulanan kekejamannya. Jangankan ikhwanul muslimin yg menjadikan politik sbg salah satu bagian dari dakwahnya, gerakan islam macam jamaah tabligh yg menekankan pembinaan akhlak atau jamaah salafiah yg lebhi memfokuskan kajian kitab, saja tdk dibiarkan bebas oleh mubarak dalam menjalankan misi dakwahnya.

Kini, ketika skenario sejarah sdg berjalan, Sang Sutradara kehidupan mengharuskan Mubarak mengakhiri perannya dg kehinaan -watanzi'ul mulka, wa tudzillu man tasya-.

Kekuasaan yg dibanggakan, kini tak ada apa-apanya. Usianya uzur yg penyakitan harus mendekam dibalik jeruji besi. Itulah balasan bagi yg memenjarakan dan menyiksa hingga mati para pewaris nabi. Harta benda yg dikumpulkan dan dilarikan keluar negeri tdk ada artinya lagi, apalagi kini mulai dibekukan aset ilegal tsb.

Bisa jadi, skenario yg sama yang sedang dimainkan Sang Sutradara Kehidupan akan diberikan kpd pemeran utama bernama Mohamed El Baradei, mantan ketua IAEA PBB yg tlah membuka jalan bagi AS utk menjajah Irak dan mengeksekusi mati Saddam Hussein. Pemilik televisi swasta penebar fitnah dan ketua partai dustur yg sekuler inipun tidak segan-segan menjegal syariat Alloh ditegakkan dlm tataran negara. Bahkan Baradei tak segan-segan mengundang AS dan Eropa utk menjegal pemberlakuan konstitusi baru mesir yg pro syariah. Baradei berharap dapat menjadi presiden Mesir stelah Morsi dapat digulingkan melalui kudeta internasional.

Baradei tidak sendirian, tokoh sekuler, liberal, kroni mubarak, sosialis nasseris, hingga kafir koptik spt Hamden Sabbahi, Amr Mousa, Tovik Ukasyah bergandengan tangan menolak syariat islam.

Mereka bagaikan Haman dan para pembantu firaun lainnya yg terang-terangan menolak dialog dan mengabaikan kebaikan yg disampaikan Nabi Musa.

Sabtu 22 Desember 2012 (saat digelarnya Referendum terakhir) menjadi saksi bagi rakyat mesir dan dunia internasional, bahwa publik mesir masih menginginkan islam sbg aturan kehidupan bagi negaranya. Para penolak syariat islam akan menjadi Sampah Sejarah dan dihinakan generasi yg akan datang.

wallahu a'lam
Ahad, 23 Desember 2012

CATATAN (ed):

Hasil perhitungan Referendum tahap kedua: 6553 TPS dari total 6724 (97%) yang mendukung Konstitusi YES 71% (5,749,743) NO 29% (2,343,247). Pro Konstitusi dan Pro Mursi menang telak.


posted by Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger