pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

MAHYELDI termiskin, EMMA Terkaya

Written By @Adimin on 15 September, 2013 | September 15, 2013

 
pkspadang.com, Mahyeldi Ansharullah, menjadi calon walikota termiskin di antara 20 calon yang akan bertarung di Pilkada Padang, 30 Oktober mendatang. Ia hanya memiliki kekayaan sekitar Rp245 juta. Sementara, Emma Yohanna menjadi calon terkaya dengan jumlah harta mencapai Rp61 miliar. 
Hal itu diketahui dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) yang disampaikan Ketua KPU Padang, Alison, Jumat (13/9).
Meski telah menjabat sebagai wakil walikota selama lima tahun, kekayaan Mahyeldi hanya bertambah sekitar Rp112 juta. Peningkatan itu terlihat dari dua LHKPN yang pernah ia laporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 11 Agustus 2008 saat baru menjabat wakil walikota dan laporan pada 9 Juli 2013 sebagai syarat pencalonan ke KPU.
Pada 2008 lalu, total harta Mahyeldi hanya sebesar Rp132,6 juta. Sementara pada Juli 2013, kekayaannya menjadi Rp245,4 juta.
Dari rincian kekayaannya, ia memang memiliki harta tak bergerak berupa tanah dan bangunan Rp623,1 juta dan harta bergerak berupa kendaraan, perhiasan, surat berharga dan simpanan Rp495,7 juta. Namun calon nomor urut 10 itu justru menanggung hutang mencapai Rp873,5 juta.
Sementara yang paling tajir dipegang satu-satunya calon perempuan Emma Yohanna. Dia memiliki kekayaan mencapai Rp61 miliar lebih. Harta calon yang berpasangan dengan Wahyu Iramana Putra itu mengalami peningkatan cukup signifikan dari laporannya ke KPK pada 20 November 2009 lalu, ketika baru akan menjabat sebagai anggota DPD RI. Saat itu kekayaannya berada pada posisi Rp47 miliar.
Alison kepada wartawan mengatakan jumlah kekayaan itu diketahui dari LHKPN yang diserahkan KPK ke KPU sebagai syarat pencalonan. Total jumlah itu berdasarkan hasil rapat kelompok kerja (pokja) KPU Kota Padang terkait LHKPN yang telah diterima KPK.
Alison mengatakan hasil LHKPN baru berupa laporan bersifat administratif. Selanjutnya akan ditindaklanjuti KPK dalam bentuk klarifikasi langsung harta kekayaan yang dilaporkan di lapangan pada tanggal 23-26 September mendatang.
“LHKPN merupakan bagian dari tahapan yang ditetapkan dalam pencalonan walikota dan wakil walikota yang akan bertarung pada tanggal 30 Oktober mendatang. Setelah KPK melakukan klarifikasi ke pasangan calon (paslon) maka KPU akan mengumumkan kembali LHKPN ke masyarakat,” papar Alison
Kordinator Divisi Teknis dan Pencalonan Pemilu, M. Sjahbana Sjams mengatakan KPU juga akan bekerjasama dengan KPK untuk melaksanakan program Pemilu berintegritas. Program ini akan dilakukan pada 33 provinsi yang ada di Indonesia. Untuk Sumbar, Padang merupakan pilot project. Klarifikasi langsung ini merupakan bagian dari program pemilu berintegritas.
Selain itu, KPK melalui divisi lain juga akan melakukan kegiatan Pilkada berintegritas yang direncanakan 9 Oktober mendatang. Jadi akan dicanangkan pemilu bersih bagi tim sukses, calon, hingga masyrakat bersih dan bebas dari money politics. Selanjutnya akan ada deklarasi Pilkada damai dengan gelaran launching 10 Oktober mendatang. “Saat launching ini akan diumumkan LHKPN hasil klarifikasi ini. Bisa jadi bertambah atau sebaliknya berkurang,” kata Boim sapaan Sjahbana. (*)
 
Sumber : http://hariansinggalang.co.id/mahyeldi-termiskin-emma-terkaya/ 


posted by @Adimin

Mahyeldi Sosok yang Dinamis dan Supel

Written By @Adimin on 12 September, 2013 | September 12, 2013



pkspadang.com : Sosok Wakil Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansyarullah,SP yang ramah, lembut dalam berkomunikasi supel dan dinamis dalam setiap penampilannya, membuat mitra , kolega, sahabat dan wartawan media cetak dan elektronik menaruh simpatik pada tokoh ini, bahkan ketika menjadi Wakil Ketua DPRD Padang, pria ini dikenal ramah dengan semua kalangan dan bersedia hadir dalam setiap event di masyarakat baik itu berita duka ataupun berita sukacita.

Pria kelahiran Kota Bukittinggi itu, selalu menjawab ramah setiap pertanyaan wartawan sambil tersenyum kepada siapapun yang menyapa atau bertanya tentang berbagai hal yang terkait tanggung jawabnya sebagai Wakil Walikota Padang.

Saat ditanya soal kedekatannya dengan banyak wartawan, Mahyeldi hanya menjawab ramah, "wajar saya dekat dengan wartawan, karena saya orang lapangan dan biasa berurusan dengan wartawan," katanya

Baginya, jalinan silaturahmi yang baik dengan sesama manusia menjadi salah satu prioritas disamping senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Meski disibukkan dengan beban kerja, jalinan silaturahmi dengan sesama jangan sampai terganggu.

Selaku Wakil Walikota Padang yang mendampingi Walikota Padang DR H. H Fauzi Bahar itu bukan urusan yang mudah, dan beban kerjanya tentu sangat berat. Dituntut kedisiplinan tinggi dan sikap bermasyarakat yang dinamis. Sebab, bidang kerja berkaitan dengan peningkatan pelayanan dan reformasi birokrasi sangat menyentuh kepentingan masyarakat luas.

Tak hanya itu, sambil berlalu menggunakan mobilnya meninggalkan halaman kediamannya di Ahmad Yani, Mahyeldi tetap menyapa wartawan yang masih mengelilinginya sambil tersenyum.

"InsyaAllah saya siap diminta untuk hadir kapanpun, apalagi untuk berita duka,” kata Mahyeldi

Mahyeldi,ingin memberikan pengabdian terbaiknya. Sebab, bila pekerjaan tuntas dan tanpa masalah, maka akan dirasakan kepuasan batin yang luar biasa. Apalagi masyarakat dan daerah merasakan azas manfaat dari apa yang dikerjakan. (004)

 
Sumber : http://minangkabaunews.com/artikel-4070-mahyeldi-sosok-yang-dinamis-dan-supel.html 
 



posted by @Adimin

Dua Karakter Da’i: “Cerdas dan Bersih”

Written By @Adimin on 10 September, 2013 | September 10, 2013



Agar da’wah kita berhasil maka seorang da’i harus memiliki dua sifat ini: “cerdas dan bersih.”

Yang saya maksud adalah cerdas akalnya dan bersih hatinya. Saya tidak mensyaratkan kecerdasan yang brilian. Cukuplah apabila dapat memandang segala sesuatu secara proporsional, tidak ditambah atau diku-rangi. Sebab, saya menyaksikan sebagian orang memiliki pola pikir yang kacau. Tidak tepat ketika mempersepsi realita, sehingga menganggap adat sebagai ibadah, sunah sebagai hal wajib, dan penampilan fisik sebagai hal yang utama. Hal inilah yang dapat mengacaukan terapi penyelesaian kasus-kasus yang timbul dan menyebabkan da’wah mengalami kegagalan yang serius.

Sifat “bersih” menyangkut kondisi hati yang saya kehendaki bukanlah seperti “bersihnya malaikat” tetapi hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain. Tidak bersuka ria di atas kesalahan dan penderitaan orang lain. Bahkan, merasa sedih atas kesalahan mereka dan berharap agar mereka mendapat jalan kebenaran.

Saya pernah didatangi oleh seorang mahasiswa yang memberitahukan bahwa beberapa orang akan mengada-kan pentas musik. ia bersama teman-temannya akan mencegah pentas ini dengan jalan apa pun, termasuk dengan cara kekerasan. Saya katakan padanya, “Saya sepakat dengan kalian dalam menghentikan pesta ini.

Tetapi, sampaikanlah pendapat dan nasihatku ini kepada mereka. Tidak pantas bersuka ria di saat banyak peristiwa menyedihkan, baik lokal maupun internasional.

Bagaimana kita bernyanyi-nyanyi sementara puluhan ribu kaum Muslimin terbunuh, terluka, dan terusir. Bencana Palestina dan Afghanistan masih terus berlangsung dan masa depan Islam di kedua negara tersebut masih suram. Sementara itu perang saudara di Somalia telah menelan korban ratusan kali lipat daripada perang saudara di Yugoslavia. Musibah banjir besar telah merenggut korban di Iskan-daria, serta musibah-musibah lain di berbagai tempat. Lalu untuk apa kita bernyanyi-nyanyi?  Apakah hati kita sekeras batu?”
“Mereka tidak akan menerima saran ini!” ujar mahasiswa tersebut.

Lalu saya katakan, “Coba tanya mereka, apa yang akan dinyanyikan? Apakah syair cinta murahan dan lagu selera rendah? Kalau memang demikian berarti masyarakat ini sedang sakit perasaannya dan tidak akan memunculkan sesuatu kecuali keburukan. Seharusnya pada masa-masa krisis yang sedang mengepung kita ini, kita menjauhi suara-suara yang tidak berguna.”

“Saya tidak akan mengatakan seperti yang Anda anjurkan tadi, tetapi akan saya katakan kepada mereka, bahwa Allah telah mengharamkan nyanyian dan kami akan bubarkan pesta itu di depan panitia penyeleng-gara!” jawab mahasiswa tersebut.

Kemudian saya katakan kepadanya, “Kamu ini masih tergolong baru di kancah da’wah, mengapa tidak mengambil pelajaran dari pengalaman para pendahulumu? Apalagi Islam banyak mempunyai musuh yang sedang menanti, jadi jangan tunjukkan kepada mereka kekurangpahaman dan keburukan tmdakan kita!”

Ternyata ia menolak dan tetap pada prinsip semula. Akhirnya mereka ditangkap polisi dan sebagian masuk penjara.

Saya selalu memberi nasihat kepada aktivis Islam untuk senantiasa bersikap bijaksana dalam da’wah. Saya tekankan agar tidak memberi peluang kepada musuh-musuh Islam untuk menyerang dan memojok-kan Islam maupun para da’i hanya gara-gara semangat yang dibarengi sikap ceroboh.

Hendaklah tujuan utamanya adalah pembinaan aqidah, akhlak, dan ibadah. Adapun masalah-masalah khilafiyah, tidak ada hubungannya dengan da’wah dan prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Nabi Daud ‘Alaihis Salam dan Sulaiman ‘Alaihis Salam saja tidak berselisih dalam masalah tanaman yang dirusak dan dimakan kambing.

Sebagian ulama, ada yang berpendapat bahwa menyusui sewaktu besar sama hukumnya dengan ketika masih kecil. Bila timbul khilaf, hendaknya dibahas pada bidangnya (pada masalah fiqihnya saja). Adapun menga-lihkannya ke bidang da’wah merupakan kesalahan besar.

Seorang da’i yang tidak memiliki kecerdasan akal dan kebersihan hati, akan membuat problem yang rumit di tengah perkembangan Islam. Saya pernah pergi ke Kanada dan Amerika Serikat —ketika saya menjadi utusan Rabithah Alam Islami— . Di sana banyak da’i yang meletakkan “bebatuan” di tengah-tengah jalan Islam, yang mereka ambil dari lingkungan hidup zaman dahulu agar laju perkembangan da’wah berhenti di tengah-tengah dunia baru. Mereka marah karena membela madzhab dan kepentingannya dengan mengatasnamakan Islam. Tetapi Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka memperlukan orang yang dapat menyinari akal pikiran mereka dan membersihkan hatinya.

Muhammad Al Ghazali

posted by @Adimin

Jika Akhirnya Harus Dikenal

Menyembunyikan amal tidaklah mudah. Karena keinginan manusia agar eksistensinya diakui, dikenal banyak orang, apalagi dizaman informasi dimana kepopuleran atau keterkenalan seseorang sering berbanding lurus dengan kemakmuran seseorang. Ditambah lagi dengan rongrongan hawa nafsu. Tetapi ini bukan berarti kita harus meninggalkan amal shalih dan kebaikan karena takut diketahui orang lain. 

Fudhail bin iyadh mengatakan beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah syirik, Ikhlas adalah engkau selamat dari keduanya. Maka selama niat di awal sudah benar setiap orang harus berusaha meluruskan niat itu sepanjang amal dan setelahnya. Bukan dengan cara meninggalkannya. Orang yang meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas, maka ia meninggalkan keikhlasan dan meninggalkan amal itu sendiri. Karena itu mungkin saja ada amal-amal shalih yang terlihat dan akhirnya dikenal atau bahkan terkenal dengan keshalihannya. Dan ini sebenarnya juga bukan suatu kekurangan. Karena tak mungkin pula semua amal shalih harus disembunyikan tanpa publikasi dan tidak diketahui orang lain.

Amal-amal baik dalam kondisi tertentu bahkan harus dilakukan secara massif dan massal bersama sama. Ini terjadi ketika kita berada dalam situasi dimana gema dan arus amal-amal shalih dituntut untuk bisa menyaingi gelombang amal-amal keburukan. Bahkan bila perlu arus amal baik bisa melahap dan menelan gelombang amal amal keburukan. Kita memerlukan gerakan massal dan dan kekuatan besar untuk menghadang serangan keburukan yang merajalela. 

Perjuangan personal saja tidak cukup. Kebaikan harus terhimpun dalam sebuah kekuatan massal yang dapat menggetarkan lawan lawannya. Artinya amal kebaikan harus tampil dan turut mempengaruhi masyarakat untuk meminimalisir keburukan yang juga tampil dan mempengaruhi masyarakat. Beribadah bsecara rahasia dan sembunyi sembunyi adalah untuk memperkaya batin dan ruhani kita. Agar lebih kokoh dan tegar, sehingga tidak terombang ambing oleh pesona dan gemerlapnya dunia. Tapi sekali lagi itu hukaan berarti kita tidak diperbolehkan mendeklarasikan dan menampilkan amal amal Islami dihadapan banyak orang. Terlebih pada saat arus keburukan makin menggelombang dan arus kebaikan masih sangat lemah. Memang sudah tabiat manusia setiap orang lebih membutuhkan contoh langsung dan ajakan konkrit yang sudah disaksikan prakteknya ketimbang hanya slogan dan pidato belaka. Manusia memerlukan dorongan utk melakukan kebaikan melihat orang melakukan amal shalih akan menumbukan semangat kompetisi yang positif dalam kebaikan.

Tentu saja orang yang dikenal dengan amal baiknya menjadi harus lebih hati hati memelihara dan menjaga diri dari berbagai penyimpangan niat. Salahsatu penyeimbang hati utk tidak terjerumus pada ketidakikhlasan adalah adalah denagn tetap memelihara amal-amal rahasia lainnya kepada ALLAH SWT. Seperti banyak dilakukan para sahabat ra.
 

Drs. Muhidi, MM

posted by @Adimin

Mahyeldi (PKS) Berpeluang Memenangi Pilkada Kota Padang



Pilkada Kota Padang sudah di depan mata, hanya beberapa hari saja yang tersisa bagi para kandidat untuk menarik simpati dari masyarakat. Sepuluh pasangan bertarung, bersaing untuk menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat Kota Padang. Sebentar lagi, setelah 30 Oktober Padang akan memiliki walikota yang baru.
 
Dari segi jumlah pasangan calon, maka ini menjadi pilkada paling ramai. Ada duapuluh wajah dengan senyum manis yang akan terpampang di kertas suara. Semuanya ingin menjadi walikota-wakil walikota, tapi tidak semuanya yang akan menang. Mari kita baca peluang mereka berdasarkan nomor urut, dan pada akhirnya hanya akan tersisa satu pemenang.
 
 
1. Emma Yohana-Wahyu Iramana Putra
Emma Yohana adalah anggota DPD RI dari Sumatera Barat sedangkan Wahyu Iramana Putra adalah Ketua DPD Partai Golkar Kota Padang. Mereka diusung oleh koalisi Partai Golkar dan PBB.
Peluang pasangan ini tidak terlalu besar untuk menang, kemungkinan hanya akan memperoleh peringkat 3 atau 4. Hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab :
 
 
  • Meskipun diusung partai sebesar Golkar, diyakini suara Golkar tidak akan bulat untuk pasangan ini karena Asnawi Bahar dan Kandris Asrin yang juga merupakan fungsionaris Golkar juga akan maju sebagai calon walikota dari jalur independen. Suara Golkar dipastikan akan terpecah-pecah.
  •  
  • Emma Yohana belum menunjukkan prestasi yang gemilang sebagai anggota DPD RI.
  •  
  • Wahyu Iramana Putra tidak terlalu menonjol dalam perpolitikan Kota Padang.
  •  
  • Kepemimpinan seorang perempuan belum bisa diterima dalam kultur mingkabau (Padang)
 
2. Muhammad Ichlas El Qudsi-Januardi Sumka
 
Muhammad Ichlas El Qudsi (michel) merupakan anggota DPR RI, sama seperti Emma Yohana ia juga turun gunung untuk mengelola Kota Padang. Sedangkan Januardi Sumka adalah Ketua Partai Demokrat Kota Padang. Mereka diusung oleh koalisi Partai Demokrat dan PAN. Kemungkinan pasangan ini akan menjadi runner-up, mereka sulit untuk menjadi pemenang pertama karena :
 
 
  • Selama menjadi anggota DPR RI, tidak banyak kiprah Michel yang kita dengar. Kalaupun namanya muncul di televisi itu hanya saat Dahlan Iskan meminta maaf kepadanya, selain itu tidak ada.
  •  
  • Suara PAN akan terpecah dalam mendukung pasangan ini karena Maigus Nasir mantan ketua DPRD Kota Padang dari PAN juga maju sebagai calon walikota dari jalur independen. Maigus Nasir juga akan mengantongi banyak suara dari Muhammadiyah, sehingga suara PAN untuk Michel tidak akan bulat lagi.
  •  
  • Januardi Sumka yang menjadi pasangan Michel bukanlah tokoh yang bisa menarik banyak suara, satu-satunya kekuatannya hanyalah Partai Demokrat. Tapi sayang, kita sama-sama tahu Partai Demokrat adalah bintang yang sedang meredup dan menunggu mati.

 
3. Desri Ayunda-James Hellyward
 
Desri Ayunda dan James Hellyward maju dari jalur independen, tetapi didukung oleh PDI-P. Pasangan ini berpeluang menjadi kuda hitam yang akan melangkahi banyak pasangan lain dari jalur independen. Diantara nama-nama dari jalur independen, pasangan ini cukup top. Beberapa waktu lalu PDI-P juga telah mendatangkan Jokowi, sekalian untuk menjadi “maskot” bagi pasangan ini. Strategi yang sama dengan yang PDI-P lakukan di daerah lain, namun jarang berhasil. Kemungkinan pasangan ini akan menjadi peringkat 3 atau 4 dalam Pilkada Kota Padang.
 
 
4. Asnawi Bahar-Surya Budhi
 
5. Ibrahim-Nardi Gusman
 
6. Kandris Asrin-Indra Dwipa
 
7. Maigus Nasir-Armalis
 
8. Indra Jaya-Jefri Hendri Darmi
 
9. Syamsuar Syam-Mawardi Nur
 
Dari nomor urut 4-9 semuanya merupakan pasangan calon dari jalur independen. Dalam sejarah Pilkada di Indonesia calon dari jalur independen sangat sulit untuk memenangi Pilkada karena berbagai keterbatasan, hanya satu dua yang menang seperti aceng fikri. Kalaupun ada calon independen yang menang dalam Pilkada pastilah calon itu sangat populer, punya rekam jejak yang baik, didukung oleh dana yang memadai dan tidak ada calon dari parpol benar-benar buruk sekali.
 
 
Dalam Pilkada Kota Padang, nama-nama dari calon independen tidak ada yang populer. Rekam jejak mereka juga tidak ada yang terlalu membanggakan, semua biasa-biasa saja. Satu hal lagi, dalam Pilkada Kota Padang, masih ada calon dari Parpol dengan kualitas yang bagus, seperti pasangan calon dari nomor urut 10.
 
10. Mahyeldi-Emzalmi 
 
Mahyeldi merupakan kader PKS yang sekarang sedang menjabat sebagai Wakil Walikota Padang. Sedangkan Emzalmi adalah mantan Sekretaris Daerah Kota Padang. Mereka diusung oleh koalisi PKS dan PPP. Pasangan ini berpeluang untuk memenangi Pilkada Kota Padang karena:
 
  • Pasangan ini lebih berpengalaman dalam memimpin Kota Padang dibanding calon yang lain, sehingga masyarakat lebih menaruh kepercayaan kepada mereka. Hal ini juga dikarenakan isu perubahan yang diusung oleh calon lain tidak begitu jelas.
  •  
  • Pasangan ini lebih dekat dengan masyarakat, bandingkan dengan calon lain yang selama ini berada jauh di pulau sana.
  •  
  • Meskipun diterpa badai ditingkat pusat, kader-kader PKS di Kota Padang tetap solid. Kita tahu bahwa kekuatan kader PKS yang militan ini sangat berperan dalam memenangkan setiap calon PKS.
  •  
  • Suara PKS Kota Padang dijamin akan bulat untuk Mahyeldi, tidak akan terpecah seperti partai-partai lain.
 
Dalam beberapa poster dan baliho yang terakhir beredar di Kota Padang, ada tulisan 10 M. 10 M dapat berarti nomor 10 untuk Mahyeldi-Emzalmi. 10 M dapat juga diartikan sebagai: 1 untuk Satu, 0 untuk Putaran dan M untuk Menang. Satu Putaran Menang untuk Mahyeldi-Emzalmi

Sumber : http://politik.kompasiana.com/2013/09/09/mahyeldi-pks-berpeluang-memenangi-pilkada-kota-padang-591080.html 

posted by @Adimin

Bersatu Memenangkan MAHYELDI-EMZALMI

Written By @Adimin on 09 September, 2013 | September 09, 2013



pkspadang.com - Seluruh kader dan simpatisan serius untuk memenangkan pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Padang Mahyeldi dan Emzalmi. Ini terlihat di posko utama Jalan Sudirman sabtu malam.(7/9)
 
Seluruh kader mulai dari struktur DPC hingga DPRa turun untuk memasang tanda gambar. Hal ini disampaikan oleh Ketua Tim Pemenangan,Muharlion.
 
Muharlion juga mengatakan malam ini seluruh kader akan turun di seluruh kecamatan “Malam ini Insya Allah kader semua akan turun keseluruh kecamatan di Padang. Semua kader yang hadir saat ini sekitar 200 orang,” ujarnya.
 
“Target kita malam ini di seluruh Kecamatan sudah terpasang gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urutnya, karena memang semenjak pengundian nomor urut di Inna Muara kemarin Gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urut belum terpasang, jadi malam ini kita serentak bersama kader, pengurus DPC hingga DPRa memasang tanda gambar tersebut,” tambahnya. (Rm/Adm)


posted by @Adimin

MAHYELDI Ikut Serta Dalam Persiapan Pemasangan Tanda Gambar



pkspadang.com – Mahyeldi Calon Walikota Padang nomor urut sepuluh turut serta bersama Pengurus DPC,  DPRa PKS dan kader serta juga simpatisan dalam kegiatan pemasangan tanda gambar pada seluruh kecamatan di Posko Utama Mahyeldi Emzalmi Jalan Sudirman, sabtu (7/9).
 
Mahyeldi didampingi Ibu Nely mahyeldi tiba sekitar pukul 21:00 Wib di Posko dan langsung bergabung bersama kader dan simpatisan yang tengah bersiap untuk turun di masing-masing kecamatan. Mahyeldi juga berdiskusi bersama kader yang sedang bekerja mempersiapkan tanda gambar.
 
Selain Mahyeldi, tampak hadir Ketua DPD PKS Muhidi dan Ketua Tim Pemenangan Mahyeldi Emzalmi Muharlion. Muharlion menyampaikan bahwa, “Seluruh kader mulai dari struktur DPC hingga DPRa turun untuk memasang tanda gambar,” ujarnya.
 
Muharlion juga mengatakan malam ini seluruh kader akan turun di seluruh kecamatan. “Malam ini Insya Allah kader semua akan turun keseluruh kecamatan di Padang. Semua kader yang hadir saat ini sekitar 200 orang,” katanya.
 
“Target kita malam ini di seluruh Kecamatan sudah terpasang gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urutnya, karena memang semenjak pengundian nomor urut di Inna Muara kemarin Gambar Mahyeldi Emzalmi yang sudah dengan nomor urut belum terpasang, jadi malam ini kita serentak bersama kader, pengurus DPC hingga DPRa memasang tanda gambar tersebut,” tambahnya. (Rm/Adm)

mahyeldi-emzalmi.com 



posted by @Adimin

Pendidikan yang Melembutkan Hati Anak-anak Kita! (1)

Written By @Adimin on 07 September, 2013 | September 07, 2013

 


pkspadang.com, Pendidikan modern kata Mohammad Iqbal, tidak mengajarkan air mata pada mata dan kesejukan di hati, inilah prahara dunia pendidikan kontemporer, kata Iqbal
ADA pesan orang bijak, "pandai-pandailah melihat masa lalu." Menengok masa lalu kita perlukan untuk mencermati timbul dan tenggelamnya pendahulu kita. Dengan cara demikian, kita mengambil referensi (rujukan) kehidupan untuk meraih keberhasilan masa sekarang dan masa depan. Dan kita bisa menyikapi diri kita dan memandang jasa pendahulu kita. Sesungguhnya kehidupan manusia hanya dibingkai oleh masa lalu, kini dan hari esok.

Jika kita tidak berhasil mengambil ibrah pada masa silam, kita kehilangan rujukan kehidupan dan kita akan memulai kehidupan ini dari nol. Alangkah sulitnya jika kita memulai kehidupan dari awal. Demikian pula kita tidak tepat dalam menempatkan diri dan menyikapi orang lain. Sedangkan ilmu, pengalaman, umur seseorang memiliki masa ajal. Setiap person dan umat diliputi oleh berbagai keterbatasan.

Ada ungkapan Arab berbunyi: Al Afdhalu lil mubtadi walau ahsanal muqtadi (keutamaan itu bagi perintis, sekalipun pelanjut itu lebih baik). Pun dalam ungkapan lain disebutkan: Al Bidayatu ahsanu min kulli syaiin (perintis itu lebih baik dari setiap aspek, karena telah memulai separo perjalanan lebih).

Karena itu Rasulullah bersabda, ”Tidak termasuk golongan kami yang tidak menghormati generasi tua dan tidak menyayangi yang kecil.”

Di lembaga pendidikan informal India ada kejadian menarik, seorang guru menegur dengan menjewer muridnya dan kabur pulang, namun yang menarik, bapak-ibunya bersikeras mengantarkan putranya untuk kembali ke lembaga pendidikan tersebut. Ia tidak memilih untuk memprotes gurunya. Ia tunjukkan hubungan yang akrab, dekat dan erat dengan guru anaknya. Terkadang, anak usia 10 tahun tidak shalat, boleh dipukul dengan pukulan yang mendidik. Ia menyadari pendidikan bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya tidak berjalan tanpa pendidikan.

Selain India, ada kisah dari Singapura, negara kecil tapi paling maju di Asia. SIngapura sangat konsern dengan bidang pendidikan. Sekalipun seorang perdana mentri dan pejabat tinggi Negara,  tetap antri di ATM. Bahkan jika mereka bersamaan dengan seorang guru ia mendahulukan guru. Dan public telah memaklumiknya. Ia sadar, sekiranya guru terlambat masuk sekolah, bagaimanakah nasib anak-anaknya.

Kontak Batin Orangtua Dan Guru

Bercermin dari kisah diatas, betapa penting  mengambil ‘ibrah, hikmah di balik keberhasilan santri tadi dalam meniti karir kehidupannya setelah dewasa. Dan betapa besar pengaruh pendidikan yang diserap dari pola transaksi spiritual  (mu’asyarah bil ma'ruf) yang menyejukkan, yang pernah dibangun antara orangtuanya dengan  gurunya serta pengasuh anak-anaknya. Tidak sekedar transaksi administratif, formal, yang kering dari makna kehidupan.  Pola hubungan al Mawaddah fil Qurab (kedekatan kekeluargaan) ini dibangun karena tugas kita dalam mendidik anak tidak sekedar menttransfer ilmu tetapi mentransformasikan nilai.

Alangkah ironisnya, karena merasa bisa membayar mukafaah/bisyarah  kepada guru, kemudian mengecilkan pola interaksi yang baik, dengan cara bersikap tidak patut kepada pahlawan tanpa tanda jasa itu.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ .
 قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf [menolak dengan cara yang baik dan memaafkan perilaku yang kurang sopan dari penerima] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS: Al Baqarah (2) : 262-263)

Hubungan kedua orangtua dengan anak, juga santri/murid dengan guru, sesungguhnya berpijak/bertumpu pada nilai-nilai adab islami yang saling memuliakan.  Sayangnya, itu kurang terjadi di zaman seperti ini.

Banyak kita temukan seorang santri yang cerdas di pondok, setelah lulus menjadi orang biasa. Kiprah yang diperankan di tengah-tengah masyarakat tidak menonjol. Sedangkan banyak pula santri yang belajarnya tidak teratur, bahkan sering remidi, dia hanya mengabdikan diri secara all out (mati-matian) berkhidmat untuk kebutuhan pondok, patuh dan hormat kepada para guru, memelihara nilai-nilai keikhlasan, berorientasi pada amal shalih, bukan jabatan, setelah pulang ke kampungnya hidup di tengah-tengah masyarakat berhasil mendirikan pondok sendiri dan memiliki ilmunya begitu bermanfaat. Salah satu di antara rahasia keberkahan rizki dan kehidupnya adalah ikatan batin orangtua dengan para gurunya.

Pentingnya Ilmu

Adalah Khalifah Islam ke-4, Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu yang menyadari betapa pentingnya ilmu. Begitu pentingnya menjaga dan menghormati para pendahulu kita yang mengajarkan ilmu, hingga Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:  “Ana ‘abdun liman ‘allamani harfan.” (saya siap menjadi budak kepada orang yang mengajariku satu huruf).

Jika  tidak mengerti huruf, maka tidak mengerti kata, jika tidak mengerti kata, maka tidak mengerti kalimat. Jika ketiganya tidak dimengerti secara baik, berarti tidak mendapatkan ilmu sedikitpun. Padahal ilmu memiliki arti sesuatu yang jelas dan terang.  

Jika kehidupan ini tanpa disinari oleh ilmu, maka akan tetap dalam keadaan gelap. Penghuninya gelap mata dan gelap pikiran dan hatinya. Bukankah perilaku yang buruk berawal dari pikiran yang buruk pula. Karena tidak trampil memililah-milah, memetakan, mengurai masalah dan memutuskan. Orang bodoh biasanya menyelesaikan problem dengan adu otot, bukan adu otak. Orang bodoh suka mengamuk dan mengkambinghitamkan orang lain. Maka kehadiran orang bodoh bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi. 

Banyak santri selalu mendoakan guru-gurunya dalam sujud terakhirnya untuk kebaikan para gurunya setelah meninggal.

Adalah Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H), salah satu ulama madzhab 4, berasal dari Bagdad, ulama yang dikenal amat tegas terhadap hukum ini  sangat tawadhu’ dan hormat dengan gurunya, Imam Syafi’i. Meski banyak berbeda pendapat, beliau terus mendoakan gurunya sampai 40 tahun lama di setiap doanya. Subhanallah.

Untuk mempunyai keturunan yang shalih, kita harus menjadi anak yang shalih terhadap orangtua kita. Mustahil kita dikaruniai anak shalih jika kita tidak berhasil menjadi anak shalih untuk bapak ibu kita. Dan Bapak dan Ibu mertua kita. Jadi, keberhasilan dan keberkahan kehidupan kita berbanding lurus dengan hubungan yang baik dengan sesepuh kita.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda: “ Jadilah kamu orang ‘alim, atau pelajar, atau senang mendengarkan kajian keilmuan, atau mencintai orang berilmu dan pelajar, janganlah kamu menjadi orang nomer lima, maka kamu kelak akan hancur.”  (al Hadits).

Ada ungkapan pendidikan yang menarik, ”Qaddimil khidmah qablal ‘ilmi (dahulukan pengabdian sebelum berilmu). Ada proses spiritual yang dijalankan sebelum otaknya diisi dengan ilmu pengetahuan.

Itulah sebabnya para ulama dan kiai punya cara untuk ‘menjinakkan’ hatinya santri-santrinya dengan riyadhoh, mujahadah (latihan batin), dengan menunjukkan pengabdian tanpa pamrih. Sehingga ketia mereka siap diterjunkan di tengah umat, ia sudah siap bekerja tanpa pamrih apapun, kecuali ridho Allah Subhanahu wata’ala.

Banyak santri di pondok pesantren  mendapatkan tambahan “Ta’limul Muta’allim” (Kode Etik Pelajaran), dan kitab-kitab akhlak karya ulama mashur.  Bacaan mereka adalah Safinatun Najah (perahu keselamatan),  Sullamut Taufiq (tangga menuju taufiq),  Tafsirul Jalalain (Tafsir Kebahasaan Disusun Dua Imam Jalaluddin), ‘Uqudul Lajin (Ikatan Suami Istri), Tanbigul Ghafilin (peringatan bagi yang lalai), Ta’limul Muta’allim dan masih banyak lagi yang isi sebenarnya adalah untuk ‘melembut’ kan hati mereka.

Pelajaran seperti ini selalu  diulang-ulang dengan niat mengamalkan agar setelah lulus ilmu mereka bisa lebih barakah (menambah kebaikan). Agak berbeda dengan pendidikan di sekolah-sekolah jaman sekarang. Bergantu menteri dan berganti kurikulum, tetap tidak bisa melahirkan generasi yang memeliki hati yang “lembut”. Banyak sekolah dengan gedung-gedung bagus, namun hasilnya ternyata menyimpan prahara (tsunami) agama. Yakni, miskinnya adab, akhlaq dan krisis moralitas.

Bedakan dengan referensi yang diterima murid-murid zaman sekarang, kemungkinan niat mencari ilmu supaya nanti dapat kerjaan yang layak dan dapat ijazah, ilmu hanya sebagai kekayaan kognitif. Boleh jadi karena ini kehidupan mereka kurang barakah.

Pendidikan modern, kata Mohammad Iqbal tidak mengajarkan air mata pada mata dan kesejukan di hati. Inilah prahara dunia pendidikan kontemporer.
Murid-murid yang lahir oleh pendidikan modern, tidak berdaya meluluskan pelajar yang salimul aqidah (aqidahnya steril dari syirik), shahihul ibadah (ibadahnya benar dan lurus), karimul akhlak (mulia akhlaknya), mujahid lidinihi (pejuang bagi agamanya), multazimun bil Imamah wal Jama’ah (memiliki keterikatan yang kuat dengan pola kepemimpinan imamah dan jama’ah), shalihun linafsihi wa nafi’un lighoirihi (sholih untuk dirinya dan memberikan manfaat untuk orang lain).*

Oleh: Sholih Hasyim

posted by @Adimin

Muliakan Istrimu agar Engkau Dimuliakan!

Written By @Adimin on 06 September, 2013 | September 06, 2013

 


Saling menjaga dan memuliakan pasangan, 
adalah kunci utama keutuhan rumah-tangga

pkspadang.com, Perceraian di negeri ini kecenderungannya masih meningkat. Data perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) tahun 2012 mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen. Data Badilag,  tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya. (Republika online, Selasa 24/1/2012).

Data tersebut hanya sampel sederhana dari data seluruh negeri. Tetapi, hal itu sudah cukup untuk menjadi warning, pelajaran, dan pengalaman bagi keluarga Indonesia untuk membina keutuhan rumah tangga. Sebab hakikat dasar perceraian bukan semata-mata ekonomi. Terbukti, kalangan menengah ke atas juga tidak ada yang selamat dari badai perceraian ini.

Apalagi, di kalangan selebriti. Perceraian seolah menjadi bagian dari gaya hidup.
Dalam beberapa kasus, faktor utama yang melatarbelakangi kasus perceraian selain ekonomi adalah  rendahnya komitmen untuk membina rumah tangga sebagaimana diajarkan Baginda Nabi.

Padahal, perceraian adalah perkara halal namun sangat dibenci oleh-Nya.

Sempurnakan Akhlak

Di tahun-tahun belakangan ini, kasus perceraian pasangan di Indonesia ternyata lebih banyak diajukan atas inisiatif sang istri dibandingkan oleh suami. Hal ini terlihat dari data 346.446 pasangan yang bercerai di sepanjang 2012 yang diambil dari pengadilan agama di seluruh Indonesia.

"Tahun 2012 pengadilan agama termasuk mahkamah syariah menangani perkara 476.961 kasus. Perkara ini naik 11,52 persen dari tahun sebelumnya yang menerima 363.041 perkara," demikian lansir Mahkamah Agung (MA) dalam siaran persnya. (Detiknews.com, Kamis, 14/3/2013).
Banyaknya angka perceraian akibat gugatan dari pihak istri sungguh mengherankan.  Dari bentuk sifat wanita yang lembut,  sangat kecil kemungkinan istri menggugat suami jika istri merasakan kelembutan dan keindahan akhlak suami.

Kecil kemungkinan sang istri menggungat sang suami, manakala suaminya orang tidak bermasalah. Oleh karena itu, banyak disebutkan dalam nash, tugas utama suami adalah menyempurnakan akhlaknya, terkhusus terhadap istri dan keluarga. Jika suami tidak bermasalah, kecil kemungkinan istri dan anak-anak mereka bermasalah.

Rasulullah pernah bersabda, "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya." (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian maka pencegahan terbaik dari terjadinya perceraian adalah dengan menyempurnakan akhlak. Suami dan istri hendaknya berlomba-lomba untuk kesempurnaan akhlak, sehingga akan tercipta suasa cinta penuh kebahagiaan. Misalnya, suami dan istri berlomba untuk selalu berkata benar, peduli dan peka terhadap pasangan.

Dengan cara seperti itu maka tidak akan ada ruang bagi egoisme, apalagi buruk sangka yang merupakan akar dari segala keburukan. Sebaliknya akan tercipta budaya saling jaga dan saling bela antara suami dan istri, sehingga benih cinta yang tertanam kuat pada saat ijab qabul akan semakin menghujam ke dalam hati seiring dengan perjalanan waktu hingga tiba saat perpisahan abadi yakni kematian.

Hal itulah yang terjadi pada rumah tangga Nabi bersama Siri Khadijah. Perbedaan dalam umur dan status tak membuat keduanya gagal membina keharmonisan rumah tangga.

Sebaliknya, justru kian harmonis, mesra dan membahagiakan. Rasul berkata, Khadijah adalah wanita terbaik. Ia mempercayai Nabi ketika orang mendustakanya. Ia membela Nabi ketika orang mencacinya.

Khadijah juga sangat mulia akhlaknya. Terhadap Nabi ia selalu hadir sebagai obat. Ia selalu mampu hadir menenangkan kegelisahan suami, bahkan meneuhkan keyakinan dan langkah-langkah suami. Khadijah selalu menyebut kebaikan-kebaikan suaminya kala bertatap muka. Maka, wajar jika Nabi tak pernah bisa lupa dengan Khadijah meskipun telah ada Aisyah. Mengapa, lebih karena akhlaknya.

Jika kesempurnaan akhlak keluarga Muslim negeri mewujud sedemikian rupa, tentu perceraian tidak akan terjadi seperti jamur di musim hujan. Ali adalah suami yang tidak memiliki kekayaan materi, malah sangat kekurangan. Tetapi Fatimah tak pernah menggugat suaminya apalagi untuk bercerai.

Demikian pula dengan Salman Al-Farisi. Beliau juga orang yang hidup sangat sederhana. Tetapi istrinya tidak pernah menggugat cerai. Mengapa, karena keduanya sebagai suami senantiasa menyempurnakan akhlaknya. Jadi, jelas tangkal segala keburujan dengan akhlak mulia. "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak," demikian ungkap Nabi.

Berkata Baik
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan, "Berkata baik atau diam." Hadits ini wajib diterapkan dalam kehidupan rumah tangga sebagai media awal selalu mampu berkata baik dalam pergaulan masyarakat.

Dalam hal memanggil nama saja Rasulullah selalu memanggil dengan sebutan Ya humairah (wahai yang kemerah-merahan pipinya, red). Berbeda dengan kebanyakan suami yang memanggil istrinya dengan sekedar menyebut nama pendeknya. Tetapi setidaknya, sebagai suami hendaknya kita tidak memanggil istri sendiri seperti teman-teman memanggilnya.

Dalam konteks lebih umum, suami-istri hendaknya membiasakan diri berkata baik. Misalnya selalu mengucapkan perkataan yang membahagiakan pasangan. Dan, jika memang benar-benar tidak suka, sebaiknya diam dan bersegera berkata baik pada hal lainnya.

Lebih dari itu suami istri wajib berkata baik kepada orang lain perihal pasangan sendiri. Tidak berkata buruk tentang pasangan kita kepada siapa pun. Karena selain akan merugikan pasangan sebenarnya hal semacam itu sama sekali tidak memberi manfaat apa pun. Kecuali kita bercerita untuk kepentingan membina keluarga menjadi lebih harmonis kepada orang yang ahli dalam soal keluarga.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh seseorang, "Apa hak istri salah seorang di antara kita?" Beliau menjawab, 'Wa la Tuqobbih (janganlah engkau menjelek-jelekkannya) (HR. Ahmad).

Allah berfirman
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu [246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 59)

Artinya seorang istri tidak boleh dihina, dicaci, atau dikatakan kepadanya perkataan yang buruk. Termasuk dilarang berkata, 'Semoga Allah memburukkanmu'. Istri haruslah dimuliakan agar ia juga memuliakan kita.

Dengan demikian maka tidak pantas suami istri yang sudah saling percaya menerapkan perilaku buruk dalam berumah tangga. Sebaliknya, suami istri harus berlomba memperbaiki akhlak dan selalu berkata baik terhadap pasangan. Jika itu dapat direalisasikan, Insya Allah pertengkaran apalagi perceraian akan jauh dari tali pernikahan yang lama dibina dan didamba membahagiakan.*/Imam Nawawi



posted by @Adimin

Fathanah: Uang 1M untuk Bayar Cicilan Mobil, Bukan untuk LHI




Terdakwa perkara suap dan pencucian uang, Ahmad Fathanah menegaskan bahwa uang sejumlah Rp 1 miliar yang dibawanya ketika tertangkap oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Hotel Le tanggal 29 Januari 2013 lalu, bukan diperuntukkan ke eks Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq.
Sebaliknya, Fathanah menegaskan bahwa uang tersebut untuk membayar cicilan mobil mewah yang dibelinya dari PT William Mobil, yaitu Mercy seri C 200 sekitar seharga Rp 760 juta, pada Desember 2012.

"Saya hanya menegaskan uang yang Rp 1 miliar bukan untuk ustad Lutfhi Hasan Ishaaq tetapi untuk cicilan Mercy," kata Fathanah ketika menanggapi keterangan saksi Felix dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/9).

Dalam kesaksiannya, Felix memang mengakui bahwa diminta datang ke Hotel Le Meredien pada tanggal 29 Januari 2013 oleh Fathanah yang berniat untuk membayar cicilan mobil Mercy.

Tetapi, ditunggu sekitar lima sampai enam jam, Fathanah tidak terlihat. Namun, Felix mengaku tidak tahu bahwa saat itu Fathanah ditangkap oleh penyidik KPK.

Sebelumnya, saksi Felix mengakui bahwa Fathanah membeli tiga buah mobil dari showroom mobil tempatnya dulu bekerja.

Tiga mobil tersebut adalah Toyota Alphard yang dibayar tunai seharga Rp 800 juta yang dibeli bulan September 2012, Mercy C 200 seharga Rp 760 juta yang dibayar melalui leasing (kredit) pada Desember 2012, FJ Cruiser seharga Rp 1,1 miliar yang dibeli melalui leasing juga pada bulan Januari 2013.

Seperti diketahui, Fathanah yang orang swasta didakwa melakukan tindak pidana korupsi karena menerima uang Rp 1,3 miliar dari PT Indoguna Utama, uang yang tak pernah sampai ke tangan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq. (suarapembaruan.com)

posted by @Adimin

Kasih Sayang Orang Tua, Kebutuhan Terpenting Anak

Written By @Adimin on 05 September, 2013 | September 05, 2013



pkspadang.com, Kebutuhan seorang anak dalam sebuah keluarga adalah kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Perempuan DPD PKS Kota Semarang Rini Tri Utami, Rabu (24/07)

Rini mengungkapkan jika anak merupakan titipan dari Allah swt yang harus dijaga dan di rawat. Maka menjaga dan merawat anak melalui kasih sayang yang tulus merupakan wujud menunaikan amanah dari Allah SWT tersebut.

"Anak adalah titipan dari Allah swt, dengan menyayanginya dengan tulus maka sebenarnya kita sedang menunaikan amanah yang Allah titipkan," kata Rini Tri Utami

Selanjutnya Rini menjelaskan kasih sayang dapat diwujudkan dengan sering memanjakan anak berupa memberikan pelukan, kecupan sayang serta penghargaan kepada sang anak.
Menurutnya dengan memberikan kemanjaan seperti ini dapat mempengaruhi kesehatan jiwa sang anak. Pernyataan beliau ini berdasar atas penelitian dari Psikolog AS Prof. Darcia Narvaes.
"Menurut Pakar Psikologi dari Amerika Darcia Narvaes dengan memanjakan anak dengan cara yang baik maka akan mempengaruhi kesehatan jiwa dan otak anak, sehingga anak dapat tumbuh lebih cerdas" jelas istri dari Djohan Rifai ini.
Lebih lanjut Rini menyampaikan kasih sayang juga dapat diwujudkan dengan menerima anak dengan apa adanya. Baik menerima kelebihannya ataupun menerima kekurangannya.
"Memberikan kasih sayang dapat juga diwujudkan dengan menerima mereka apa adanya baik itu kelebihan ataupun kekurangannya" lanjut Rini.
Selain itu, menurut Rini Tri Utami orang tua juga diharapkan dapat memberikan teladan yang baik bagi anak. Hal ini dikarenakan perilaku sang anak pada dasarnya mengikuti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bahkan, kadang orangtua sendiri tidak sadar setiap tindakan yang dilakukan orang tua diamati serta ditiru oleh anaknya.
"Maka dari itu orang tua tetap harus hati-hati dan senantiasa menjaga perilaku dihadapan anak-anaknya" himbau Rini.
Lebih lanjut Rini menyampaikan jika pola pendidikan anak bisa berhasil ketika orang tua berhasil memberikan keteladanan yang baik bagi anak-anaknya. (suaramerdeka)



posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger