pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Ibu dan Karakter Bangsa

Written By Anonymous on 22 December, 2015 | December 22, 2015


Edisi Selasa, 22 Desember 2015, Hal 5 Kolom Opini*


Setiap 22 Desember kita memperingati Hari Ibu. Peringatan ini kita pahami sebagai bentuk pengakuan sekaligus penghormatan terhadap peran dan arti penting ibu dalam membangun bangsa.

Tentu saja peringatan ini tidak boleh sekadar seremonial dan simbolisasi, tapi harus menjadi momentum untuk lebih membuka ruang bagi optimalisasi peran ibu sebagai pendidik utama (dan pertama) dalam ”sekolah” pertama yang bernama keluarga. Ibu merupakan jantung kehidupan karena setiap orang lahir dari rahim seorang ibu.

Secara hakiki rahim seorang ibu memberikan pelajaran yang luar biasa bagi seorang anak. Rahimnya tidak saja memberikan nutrisi yang menumbuhkan janin, tapi juga menghadirkan ikatan (bonding ) cinta dan kasih sayang pada diri anak. Ketika seorang anak lahir di dunia, cinta dan kasih sayang ibulah yang membesarkannya.

Cara ibu menyusui dan menyapih adalah pelajaran tentang menumbuhkan masa depan. Sementara cara ibu menggendong dan menatahnya berjalan adalah pelajaran tentang memeluk dan mewujudkan harapan. Dalam ajaran agama posisi dan kedudukan seorang ibu tak terbantahkan.

Bahkan disebutkan dalam sebuah Hadits Nabi bahwa keridaan Allah terletak pada keridaan orang tua. Ibu adalah orang tua yang utama karena dalam Hadits yang lain disebutkan bahwa surga itu di bawah telapak kaki ibu. Pun, Rasulullah SAW memuliakan seorang ibu tiga kali lebih besar dari seorang ayah.

Dalam sebuah Hadits sahih yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim disebutkan ”Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan berkata, alaihi wasallam dan berkata, Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbaktipertamakali?

Nabishalallaahu Nabi shalallaahu alaihi wasallam menjawab, alaihi wasallam menjawab, Ibumu!Ibumu! Dan, orang tersebut kembali bertanya, Dan, orang tersebut kembali bertanya, Kemudian siapa lagi?Kemudian siapa lagi? Nabi shalallaahu Nabi shalallaahu alaihi wasallam menjawab, alaihi wasallam menjawab, Ibumu!Ibumu!

Orang tersebut bertanya kembali, Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi?Kemudian siapa lagi? Beliau menjawab, Beliau menjawab, Ibumu. Ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, Orang tersebut bertanya kembali, Kemudian siapa lagi, Kemudian siapa lagi, Nabi shalallahu Nabi shalallahu alaihi wasallam menjawab, alaihi wasallam menjawab, Kemudian ayahmu.”

Ibu dan Visi Kebangsaan
Melihat kedudukan strategis seorang ibu tersebut, sudah seharusnya upaya pemuliaan, penghormatan, serta pengakuan terhadap peran-peran ibu dalam mendidik generasi diafirmasi dalam kebijakankebijakan pemerintah dan negara. Negara harus menciptakan lingkungan yang kondusif bagi optimalisasi peran tersebut serta bagi pemuliaan dan penghormatan ibu sebagai jantung kehidupan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dibangun di atas fondasi nilai dan karakter kemanusiaan yang hakiki dan nilai-karakter itu ditransformasikan sejak dini melalui peranperan pengasuhan seorang ibu dalam sekolah keluarga. Bukan saja membangun bangsa, seorang ibu sejatinya juga mencetak pemimpin bangsa yang unggul melalui pendidikan kepribadian yang ditanamkan sejak dini. Ahli psikologi menyatakan bahwa seorang manusia melewati masa-masa perkembangan kemampuan dan internalisasi nilai-karakter sepanjang hidupnya.

Usia emas (the golden age ) manusia itu ada pada masa anak-anak (khususnya fase usia 0-4 tahun) karena kecerdasannya terbangun 50% dari total kecerdasan yang akan dicapai pada usia 18 tahun. Jadi, by scientific masa tersebut sangat menentukan tumbuh kembangnya sebagai generasi yang akan mengisi masa depan bangsa ini. Fase tersebut ada dalam peran pengasuhan seorang ibu (bersama ayah tentu saja).

Jika kita menyadari bukti ilmiah (scientific evidence ) tersebut dikaitkan dengan upaya membangun kebangsaan yang berkarakter, sudah semestinya kita memfokuskan energi dan kebijakan negara pada upaya optimalisasi peran ibu (orang tua) sebagai pendidik generasi. Artinya, harus ada keberpihakan negara untuk melindungi dan mempromosikan peran ibu dan keluarga, dan itu dituangkan dalam kebijakan yang konkret dan bersifat masif menjadi sebuah gerakan kolektif.

Realitas hari ini bangsa kita menghadapi tantangan (sekaligus ancaman) nilai-karakter yang pada gilirannya akan mengoyak identitas kita sebagai sebuah bangsa. Masifnya budaya liberal telah menggeser sendi-sendi kehidupan sosial, bahkan negara. Masyarakat menjadi permisif, abai pada nilai-nilai luhur, yang berekses luas pada maraknya pergaulan bebas, kelahiran di luar nikah, aborsi, pornografi dan pornoaksi, narkoba, dan berbagai penyakit sosial lainnya seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kemampuan keluarga untuk mentransformasi nilai-nilai luhur dan karakter kebangsaan nyatanya kalah cepat dengan masifnya budaya yang merusaknya. Hal ini harus menjadi peringatan keras bagi para pemimpin dan guru bangsa bahwa jika kita tidak mampu menghadirkan solusi yang efektif, akan menjadi ancaman serius bagi visi kebangsaan kita ke depan. Solusi itu ada pada revitalisasi peran ibu dan keluarga.

Tawaran Kebijakan

Bagaimana model kebijakan negara yang mempromosikan optimalisasi peran ibu/orang tua/keluarga dalam mewujudkan generasi yang berkarakter? Bagi penulis, hal itu dapat dilakukan jika negara fokus dan berpihak pada upaya untuk memperkuat ketahanan keluarga. Secara elementer ketahanan keluarga menempatkan ibu (orang tua) sebagai pendidik dan pengasuh utama bagi anakanaknya.

Konsep ini akan memanggil setiap ibu Indonesia untuk kembali dan mengambil peran tanggung jawab penuh atas pengasuhan anak-anak mereka. Artinya, para ibu dan orang tua harus mengikuti, mendampingi, mengupayakan, dan tidak bisa abai pada perkembangan anak-anak mereka. Konsepsi tersebut secara tegas merupakan upaya mengarusutamakan keluarga (family mainstreaming ) dalam kehidupan, yang secara implementatif membutuhkan transformasi kebijakan negara terhadap dunia pendidikan secara luas.

Tanggung jawab pendidikan anak tidak bisa lagi dilepas begitu saja pada institusi pendidikan formal tanpa melibatkan orang tua. Sebaliknya, orang tua diberikan ruang dan peran-peran yang optimal dalam mengetahui, mendampingi, serta mengupayakan peningkatan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka.

Konsepsi ini juga membutuhkan lingkungan yang kondusif bagi terlaksananya peran-peran orang tua, khususnya ibu, secara optimal. Antara lain diwujudkan dengan pemberian hak cuti hamil dan menyusui bagi ibu bekerja yang memadai untuk memberikan hak-hak anak di masamasa golden age mereka.

Perusahaan atau kantor ibu bekerja juga harus terus didorong untuk menciptakan lingkungan yang kondusif agar ikatan (bonding ) antara ibu dan anakanak mereka tetap terjaga antara lain dengan mengupayakan tempat pengasuhan anak (day care ) di lingkungan perusahaan/ kantor mereka.

Terakhir, secara luas negara harus terus hadir mengampanyekan family mainstreaming ini dengan menyosialisasikan dan memberikan bekal pengetahuan dan wawasan kepada para ibu (dan calon ibu) tentang pentingnya pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

Argumentasinya sederhana: negara harus menjamin terwujudnya generasi bangsa yang berkarakter, dan itu lahir dari ibu yang memahami dan melaksanakan peran sebagai pendidik dan pengasuh utama generasi. Semoga keberpihakan negara ini ke depan akan menjadi kado indah bagi ibu Indonesia. Selamat Hari Ibu!

H Jazuli Juwaini, MA
Ketua Fraksi PKS DPR RI




posted by @Adimin

Silaturahim ke Presiden RI, PKS Ingin Komunikasi Politik Kuatkan Kebijakan Prorakyat

JAKARTA (21/12) - Pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melakukan silaturahim ke Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo sebagai bagian dari menjalin komunikasi politik PKS dengan berbagai elemen bangsa.

Presiden PKS Sohibul Iman didampingi Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Mardani Ali Sera, Bendahara Umum Mahfudz Abdurrahman, Ketua Bidang Politik, Hukum, dan HAM (Polhukam) Al-Muzzammil Yusuf, Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Wirianingsih, dan Ketua Bidang Pekerja, Petani dan Nelayan (BPPN) Ledia Hanifah Amalia. Jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS bertemu Presiden Jokowi, Senin (21/12) di Istana Negara, Jakarta.

Menurut Sohibul Iman, rencana untuk bersilaturahim ke berbagai elemen politik merupakan program kepengurusan PKS periode 2015-2020 sebagai bagian dari upaya membangun suasana kondusif dalam politik dan kenegaraan.

“Jika parpol punya hubungan yang baik dengan berbagai elemen politik bangsa, maka banyak hal terkait kepentingan rakyat yang bisa diselesaikan dengan baik dengan mengutamakan kepentingan rakyat,” ujar Sohibul Iman.

Silaturahim ini, lanjut Sohibul, tidak akan mengubah posisi PKS sebagai partai oposisi loyalis. PKS akan tetap bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, dan mendukung program-program pemerintah yang dibuat untuk kebaikan bangsa.

Silaturahim ini juga tidak akan mengubah posisi PKS di Koalisi Merah Putih (KMP). “PKS tetap berada dan terikat dengan kesepakatan-kesepakatan yang ada di KMP,” tandas Sohibul.

Selain bersilaturahim, ujar Sohibul Iman, PKS juga menyampaikan pemikiran terkait dua hari besar yang diperingati secara nasional maupun internasional dalam waktu dekat ini. Kedua hari besar tersebut adalah Hari Buruh Migran Internasional dan Hari Ibu.

“Terkait pekerja migran, kami meminta Pak Jokowi dan kabinet dapat menekan tingkat pengabaian hak-hak pekerja migran. Sementara terkait Hari Ibu, PKS juga meminta pemerintah dapat terus meningkatkan perhatian pada upaya pengarusutamaan keluarga dan ketahanan keluarga,” ungkap pria kelahiran Tasikmalaya, 50 tahun lalu ini.

Terakhir, Sohibul Iman juga menyampaikan tentang rencana PKS menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada pertengahan bulan Januari 2016 mendatang, sebagai bagian dari konsolidasi kepengurusan baru PKS. [pks.id]

Keterangan Foto: Suasana silaturahim


posted by @Adimin

Sohibul Iman Menangis Bacakan Puisi untuk Ibunda


JAKARTA (21/12) – Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman membaca puisi dalam peringatan Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Suasana haru memenuhi ruang acara saat ia menitikkan air mata dan terbata membacakan puisi yang ditulis sendiri olehnya untuk sang Almarhumah Ibunda.

“Puisi ini saya tulis persis di hari wafat Ummi, tepatnya setelah pemakaman. Saya masuk kamar dan mulai menuliskannya,” kata pria yang akrab disapa Kang Iman itu sebelum membacakan puisinya.

Kang Iman menuturkan pada bait keenam puisinya menceritakan proses wafat sang Ibu. Kala itu pertengahan November 2005, Kang Iman terus menerima telepon yang mengabarkan kondisi Ibunda. Sekitar pukul 10 pagi, Kang Iman menerima kabar duka saat berkantor di Universitas Paramadina.

“Ummi wafat dengan cara yang indah. Almarhumah tersenyum dengan Al Quran terbuka di sisinya. Saat itu di samping Almarhumah juga terdapat telepon rumah yang sering digunakan untuk menelepon putra-putrinya di pagi hari. Ummi dimakamkan selepas Ashar. Kami semua iri,” lirihnya.

UMMI

Semakin terasa nilai seorang Ibu,

rahimnya melingkupi denyut nadi dunia,
ada rasa hambar hidup tanpa dia

Ibulah yang membisikiku dengan suara hatinya

senantiasalah empati dan simpati pada penderitaan orang lain

Dia yang mengajariku dengan contohnya

bertegur sapa dan bermurah senyumlah kepada semua orang

Dia yang selalu mengingatkanku dengan bijak tentang kemuliaan

bukan harta, tapi ilmu dan kesahajaan

Di atas semua itu,

do'a-do'anya setiap saatlah yang mendatangkan kebaikan-kebaikan Allah kepada putra-putrinya

Dan kemarin, Allah melaluinya mengajariku tentang cara menjemput ajal yang baik

dengan senyum dan Alquran di sisinya

Ummi,
 
rehatlah di sisi Sang Kekasih,
kau telah menuntaskan tugas muliamu,
nikmatilah dekapan hangat Kekasih kita bersama

Tunggulah di surga-Nya,

putra-putri, menantu, cucu, cicit, handai taulan, dan karib-kerabat akan datang menyusulmu walau dengan bekal yang jauh lebih sedikit dari milikmu
Ummi,

kami akan berusaha meniru kebaikan-kebaikanmu, agar dapat berkumpul lagi di surga-Nya,
Amiin..

Tasikmalaya, 13 Syawal 1426 H / 15 Nopember 2005
 
Kami, yang kehilanganmu
Namun Ikhlas, karna kau bahagia di sisi-NYA

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menangis saat membacakan puisi dalam peringatan Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (21/12/2015).
 




posted by @Adimin

Ibu, Kunci Tanamkan Antikorupsi kepada Anak-anak

Written By Anonymous on 21 December, 2015 | December 21, 2015

JAKARTA (21/12) - Sosok Ibu ternyata bisa menghentikan dampak buruk penyakit akhlak semisal korupsi. Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman menegaskan sosok Ibu sangat sentral dalam menanamkan semangat antikorupsi di kalangan anak-anak.

Sohibul menyebut para Ibu sangat bisa memberikan pemahaman kepada anaknya agar tidak mencederai ruang publik dengan perilaku buruk.

“Saya kira, anak-anak kita sedari dini harus dipahamkan tentang ruang publik. Artinya, ruang milik bersama. Ibu harus menanamkan hal tersebut kepada anak-anak, agar kelak ketika besar di mana pun posisinya tidak akan mencederai ruang publik, termasuk mengambil yang bukan haknya (korupsi),” papar Sohibul dalam Peringatan Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Ayah dari lima orang anak ini meminta peringatan Hari Ibu yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember dijadikan momen refleksi peran Ibu terhadap pembinaan akhlak anak-anak.

“Dan kepada Ibu-ibu muda sadarilah bahwa mereka punya peran yang luar biasa, maka jadilah Ibu yang baik buat anak-anak yang agar kelak menjadi generasi terbaik,” papar suami dari Uswindraningsih Titus ini.

Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga Dewan Pengurus Pusat (BPKK DPP) menggelar puncak peringatan Hari Ibu dengan Talkshow yang dihadiri tokoh-tokoh perempuan nasional, para pegiat keluarga dari lintas agama, lintas partai maupun lintas profesi dan organisasi.

Hadir diantaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai Golkar Dr Ulla Nuchrawaty, Komisioner KPI Azimah Soebagijo, Direktur Pemberdayaan Informatika Ditjen Aplikasi Telematika Kemenkominfo RI Septiana Tangkari, serta Pakar Ketahanan Keluarga dan Dosen IPB Prof Euis Sunarsih. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman memberikan sambutan dalam pembukaan Talkshow Memaknai Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

posted by @Adimin

PKS: Jadikan Keluarga Tempat Pertama dan Utama Pembinaan Anak

JAKARTA (21/12) – Keluarga merupakan unit terkecil dalam elemen sosial yang menjadi tempat pertama dan utama pembinaan anak. Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman mengatakan hal ini dalam pembukaan Talkshow Memaknai Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

“Kecintaan anak-anak kepada keluarga menunjukkan ada perhatian mereka sehingga betah di keluarga. Anggota keluarga saling menyayangi dan menjadi sumber inspirasi. Kalau anak tidak demikian, dia akan cari tempat lain, baik itu referensinya baik atau tidak,” kata Sohibul Iman.

Pria yang akrab disapa Kang Iman ini sangat mendukung pentingnya penguatan ketahanan keluarga. Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil penelitian Prof Mochtar Naim dari Universitas Andalas, hebatnya Negara Jepang karena peran kaum Ibunya.

“Kaum Ayah di Jepang sangat sibuk, bekerja dari pagi hingga larut malam. Ibu-lah yang berperan membesarkan anak. Bahkan hal-hal kecil, seperti anak yang selalu bertanya, Ibu-ibu pun selalu mau menjawab. Meskipun saat Ibu dan anak berdesak-desakan di dalam kereta,” cerita Kang Iman yang belasan tahun menuntut ilmu di Negeri Sakura.

Menurut Kang Iman, apabila keluarga Indonesia ingin memiliki anak-anak yang baik, maka perlu menghidupkan suasana dialogis di rumah. Ia memberikan kisah teladan Nabi Ibrahim, yang meskipun paham bahwa perintah Allah selalu jelas, namun tetap mengajak putranya, Nabi Ismail untuk berdialog.

“Kehidupan saling menghargai di rumah dapat menumbuhkan makhluk sosial yang rendah hati dan berani dalam menyampaikan pendapat. Anak-anak pun perlu diberi pemahaman makna ruang publik. Sehingga mereka terhindar dari perbuatan yang kurang menghargai ruang publik, seperti vandalisme,” ujarnya.

Kang Iman juga berpesan, membangun keluarga yang baik sangat penting sebagai penopang bangsa dan negara. Sesuai dengan cita-cita dalam konstitusi, yaitu Pasal 28B UUD 1945 mengenai hak setiap warga negara membentuk keluarga, kekompakan Ibu dan Ayah sangat diperlukan oleh anak-anak.

“Saya di sini mewakili Bapak-bapak, sangat menghargai jerih payah dari kaum Ibu. Tidak mungkin anak-anak dan keluarga menjadi kokoh tanpa peran besar Ibu. Maafkan kami, Bapak-bapak, kalau dalam keluarga bersikap egois. Jadikan kekurangan ini untuk membangun keluarga yang semakin kompak dan positif bagi Indonesia,” pungkasnya. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman memberikan sambutan dalam pembukaan Talkshow Memaknai Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

posted by @Adimin

Pentingnya Peran Ibu, PKS Siap Perkuat Ketahanan Keluarga Indonesia

JAKARTA (21/12) – Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Dewan Pengurus Pusat Partai Keadilan Sejahtera (DPP PKS) memandang penting peringatan Hari Ibu. Berkontribusi di jalur politik, perempuan PKS akan memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara melalui penguatan ketahanan keluarga.

“Kami memandang ada korelasi antara peran Ibu dengan ketahanan keluarga dan ketahanan nasional. Rapuhnya keluarga akan mendorong rapuhnya ketahanan nasional,” ujar Ketua BPKK DPP PKS Wirianingsih dalam pembukaan Talkshow Memaknai Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Perempuan yang akrab disapa Wiwi itu mengatakan kata 'Ibu' mengingatkan kita akan dua hal. Pertama, perjuangan kaum Ibu untuk bangsa dan negara. Kedua, mengingatkan kita akan rahim Ibu.

“Siapapun kita pasti punya hubungan emosional dengan Ibu. Sebagai subjek, kaum Ibu memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Sedangkan sebagai objek, kita sebagai anak harus memperlakukan Ibu dengan khidmat,” kata Wiwi.

BPKK PKS menyelenggarakan peringatan Hari Ibu secara nasional dengan melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari pemasangan spanduk di sudut-sudut kota, bersilaturahim ke panti lansia dan tokoh pejuang perempuan. Sementara BPKK DPP PKS merayakan Hari Ibu bersama Ibu-Ibu Rutan Pondok Bambu, Jakarta, Kamis (17/12) lalu.

Talkshow Hari Ibu DPP PKS juga dihadiri tokoh-tokoh perempuan nasional, para pegiat keluarga dari lintas agama, lintas partai maupun lintas profesi dan organisasi. Hadir diantaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai Golkar Dr Ulla Nuchrawaty, Komisioner KPI Azimah S, Direktur Pemberdayaan Informatika Ditjen Aplikasi Telematika Kemenkominfo RI Septiana Tangkari, serta Pakar Ketahanan Keluarga dan Dosen IPB Prof Euis Sunarsih. [pks.id]

Keterangan Foto:  Ketua BPKK DPP PKS Wirianingsih memberikan sambutan dalam pembukaan Talkshow Memaknai Hari Ibu di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

posted by @Adimin

PKS Hadirkan Tokoh Ibu Nasional dalam Puncak Peringatan Hari Ibu

JAKARTA (21/12) - Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS mengadakan puncak peringatan Hari Ibu lewat Talkshow bertema "Penguatan Peran Ibu dalam Mengokohkan Ketahanan Keluarga Guna Mengokohkan Ketahanan Nasional" di Aula Kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang, Jakarta, Senin (21/12/2015).

Acara yang dihadiri oleh tokoh perempuan nasional, para pegiat keluarga dari lintas agama, lintas partai maupun lintas profesi dan organisasi tersebut bertujuan sebagai ajang silaturahim.

Ketua BPKK DPP PKS Wirianingsih menyebutkan agenda diskusi juga digelar guna membahas dan menggagas rekomendasi penting terkait peran Ibu dalam mewujudkan ketahanan bangsa.

Perempuaan yang akrab disapa Wiwi ini menjelaskan dalam talkshow akan dipertajam pembahasan tentang peran Ibu dalam menciptakan lingkungan kondusif terkait media ramah anak. 

"Mengingat begitu derasnya arus teknologi informasi yang telah secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi eksistensi ketahanan keluarga," kata Wiwi.

Wiwi berharap puncak peringatan Hari Ibu oleh BPKK DPP PKS ini menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah dan pihak terkait untuk mendukung penyediaan media ramah anak.

"Kedua, muncul kesamaan persepsi bahwa isu keluarga adalah isu utama yang harus diprioritaskan oleh pemerintah," papar dia.

Pemateri pertama Talkshow Hari Ibu DPP PKS adalah Direktur Pemberdayaan Informatika Ditjen Aplikasi Telemetika Kemenkominfo RI Septiana Tangkari, SE, MM yang akan mengulas soal "Regulasi Konten Permainan Interaktif Anak".

Kemudian disambung oleh Pakar Ketahanan Keluarga dan Dosen IPB Prof Euis Sunarsih yang akan memaparkan pembahasan tentang "Optimalisasi Social Marketing dalam Penguatan Keluarga".

Pembicara terakhir adalah Ketua BPKK DPP PKS Dra Wirianingsih MSi yang menguraikan tentang "Peran Ibu dalam Membangun Lingkungan yang Kondusif bagi Ketahanan Keluarga". [pks.id]


posted by @Adimin

HNW Dorong Pekerja Migran Sampaikan Aspirasi secara Komplit

JAKARTA (20/12) – Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid meminta para pekerja migran menyampaikan aspirasinya secara tertulis agar advokasi yang dilakukan Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera lebih komplit.

“Aspirasi tertulis itu akan kami sampaikan secara faktual melalui kader kami di Komisi IX. Sudah banyak masalah di luar negeri, namun perlu pendataan yang jelas agar bisa ditindaklanjuti lebih komplit,” pesan Hidayat kepada para pekerja migran Indonesia yang mengikuti video conference dalam acara Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015).

Wakil Ketua MPR RI itu mengaku upaya memperjuangkan nasib pekerja migran menghadapi berbagai tantangan. Dari sisi legislatif, suara pemilih dari dapil luar negeri saat pemilu tergolong rendah. Salah satu alasannya, pemilih di luar negeri kurang merasa terwakili dengan aleg terpilih.

“Perhatian atas nasib para pekerja migran ini belum tersambung. Sempat ada usulan bahwa pada aturan pemilu, pekerja migran seharusnya memilih wakil dengan dapil sesuai daerah asalnya. Sehingga masalah pekerja migran juga menjadi perhatian alegnya. Namun, ini masih perlu kajian mendalam,” jelas Hidayat.

Hidayat mendorong para pekerja migran menyampaikan aspirasi dengan data tertulis dan lengkap. Hal ini perlu dilakukan agar terjalin komunikasi yang lebih mudah antarpihak yang mengurus persoalan pekerja migran.

“Adanya data faktual mengenai masalah-masalah pekerja migran memudahkan komunikasi pemerintah, DPR, KBRI, dan agar lebih terpetakan. Kalau mereka menolak atau malah menelantarkan, sampaikan kepada kami,” tegasnya.

Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) DPP PKS menggelar peringatan Hari Pekerja Migran Internasional bersama kelompok purna pekerja migran yang berasal dari Cirebon, Indramayu, Karawang, Sukabumi, dan Purwakarta.

Bersama pimpinan DPP PKS, mereka melakukan video conference dengan para pekerja migran Indonesia di lima negara, antara lain Hongkong, Korea, Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi.

Selain Hidayat, hadir pada kesempatan itu, Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, Ketua Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) DPP PKS Ledia Hanifa Amaliah, serta Ketua Badan Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri DPP PKS Taufik Ramlan Wijaya. 

Hadir pula purna pekerja migran yang sukses setelah kembali dari luar negeri. Diantaranya, Ribut yang menjadi anggota legislatif dari Dapil Ponorogo, Jawa Timur serta Ali yang sukses menjadi pengusaha oleh-oleh di rest area KM 97 Tol Cipularang, Jawa Barat. [pks.id]

Keterangan Foto: Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid berdialog dengan para buruh migran lewat video conference dalam Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015)

posted by @Adimin

Tiga Nasihat Habib Salim Segaf Agar Hidup Berkah

JAKARTA (19/12) – Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Aljufri menyampaikan nasihat agar setiap manusia hendaknya terus ingat tentang tiga hal sepanjang 24 jam penuh dalam hidupnya agar keberkahan selalu menaungi. 

Nasihat tersebut disampaikan oleh Habib Salim dalam Pengajian Bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Askar di Perumahan Town House, Pondok Bambu, Jakarta Timur, Jumat (18/12/2015) malam.

“Pertama, kenikmatan dari Allah SWT yang harus selalu disyukuri. Karena, sudah terlalu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah, termasuk dengan cara memuliakan orang tua,” tutur lembut Habib Salim.

Kedua, kata mantan Duta Besar Ri untuk Arab Saudi ini, memperbanyak istighfar, minta ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuat. Habib Salim lenajutkan, manusia tempatnya khilaf dan dosa, maka istighfar adalah sarana untuk menggugurkan dosa.

“Ketiga, hendaknya manusia banyak bersabar dalam menghadapi segala cobaan. Karena, sejatinya, Allah akan senantiasa memberikan cobaan kepada para hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 286,” pesan doktor Bidang Fiqh Universitas Madinah ini.

Habib Salim menyampaikan tausiyah ini di hadapan tidak kurang dari 50 orang jamaah yang rutin menggelar pengajian bulanan.

Diketahui, Majelis Taklim Askar rutin mengadakan pengajian bulanan pada Jumat pekan ketiga dengan mengundang tokoh-tokoh nasional sebagai penceramah, seperti Habib Salim Segaf Aljufri dan Hidayat Nur Wahid.
Keterangan Foto: Ketua Majelis Syuro PKS Habib Salim Segaf Al-Jufri, saat menyampaikan tausiyah di hadapan jama'ah Majelis Taklim Al-Askar, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Jum'at (18/12) malam.
Sumber: DPW PKS Jakarta


posted by @Adimin

PKS Desak Amandemen UU Penempatan dan Perlindungan TKI

Written By Anonymous on 20 December, 2015 | December 20, 2015

JAKARTA (20/12) – Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri dinilai tidak mampu menjawab berbagai macam permasalahan pekerja migran Indonesia. 

Presiden PKS Mohamad Sohibul menekankan amandemen UU 39 Tahun 2004 perlu segera dilakukan dan meningkatkan aspek perlindungan pekerja di luar negeri.

“Saat ini sebagian besar substansi UU 39 Tahun 2004 mengatur tentang penempatan. Supaya aspek-aspek perlindungan pekerja migran lebih dominan, perlu ada atase sosial di luar negeri,” kata Sohibul Iman dalam acara Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015).

Pria yang akrab disapa Kang Iman ini meyakini pada dasarnya seorang warga negara Indonesia ingin bekerja di negerinya sendiri. Ia menyebut keputusan bekerja di luar negeri bukan keterpaksaan, tetapi karena ada pilihan. 

“Kalau terpaksa, pekerjaan seadanya diterima. Tetapi kalau pilihan, berarti ada kesempatan lebih baik yang bisa diambil. Namun sayang, kesempatan itu biasanya pekerjaan di sektor-sektor yang kurang skill, seperti menjadi asisten rumah tangga,” ujar Kang Iman.

Kang Iman menegaskan PKS siap melakukan pendampingan bagi para pekerja migran di luar negeri melalui Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP). PIP PKS, lanjut Kang Iman, tersebar di berbagai negara, termasuk negara dengan jumlah pekerja migran Indonesia yang cukup besar.

“PIP PKS siap melakukan pendampingan TKI yang purna. Masalah tiap negara beragam, perlu pendampingan pemerintah, kedutaan termasuk PKS untuk memberikan pemahaman,” jelasnya.

Mengenai hukuman mati di Arab Saudi, Kang Iman menilai nasib pekerja migran merupakan tanggung jawab pemerintah. Tidak hanya menghormati hukum di negara yang bersangkutan, tetapi pemerintah juga wajib mempertanggungjawabkan nasib pekerja migran Indonesia disana.

“Asal kita tidak terlambat, dasarnya kasus-kasus hukuman mati itu kita bisa bebas. Tetapi kalau pembelaan terlalu dekat dengan waktu eksekusi, maka wakil pemerintah di negara yang bersangkutan pun sulit melakukan lobi.Quick a lot, perlu kesiapan jauh-jauh hari,” papar Kang Iman.

Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) DPP PKS menggelar peringatan Hari Pekerja Migran Internasional bersama kelompok purna pekerja migran yang berasal dari Cirebon, Indramayu, Karawang, Sukabumi, dan Purwakarta.

Bersama pimpinan DPP PKS, mereka melakukan video conference dengan para pekerja migran Indonesia di lima negara, antara lain Hongkong, Korea, Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi. [pks.id]
Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman memberikan paparan dalam Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015).


posted by @Adimin

Sohibul Iman: PKS Siap Perjuangkan Pekerja Migran

JAKARTA (20/12) -- Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman menegaskan pihaknya siap berkhidmat untuk para pekerja migran. Ia mengungkapkan tiga masalah utama yang dihadapi pekerja migran Indonesia di luar negeri. 

“49 persen masalah pekerja migran di luar negeri karena gaji, 16 persen masalah penempatan, dan 11 persen karena sakit. PR kita bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan itu,” kata Sohibul Iman saat memberikan arahan dalam acara Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015).

Sohibul Iman menjelaskan makna berkhidmat pada tagline PKS mengandung tiga level. Pertama, terkait pelayanan (charity) kepada para pekerja migran agar masalah bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya. 

“Kedua adalah pemberdayaan, dengan memberdayakan purna pekerja migran agar tidak muncul masalah baru sekembalinya dari luar negeri. Ketiga adalah advokasi atau pembelaan. Ini masuk ranah hukum dan kebijakan,” jelasnya.

Terkait advokasi, Sohibul Iman berharap kader-kader PKS di dalam struktur, legislatif, dan eksekutif betul-betul memperjuangkan para pekerja migran. Supaya pelayanan dan pemberdayaan yang dilakukan PKS dapat memiliki payung kebijakan.

Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) DPP PKS menggelar peringatan Hari Pekerja Migran Internasional bersama kelompok purna pekerja migran yang berasal dari Cirebon, Indramayu, Karawang, Sukabumi, dan Purwakarta.

Bersama pimpinan DPP PKS, mereka melakukan video conference dengan para pekerja migran Indonesia di lima negara, antara lain Hongkong, Korea, Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi.

Selain Sohibul Iman, hadir pada kesempatan itu, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Ketua Bidang Pekerja, Petani, dan Nelayan (BPPN) DPP PKS Ledia Hanifa Amaliah, serta Ketua Badan Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri DPP PKS Taufik Ramlan Wijaya. 

Hadir pula purna pekerja migran yang sukses setelah kembali dari luar negeri. Diantaranya, Ribut yang menjadi anggota legislatif dari Dapil Ponorogo, Jawa Timur serta Ali yang sukses menjadi pengusaha oleh-oleh di rest area KM 97 Tol Cipularang, Jawa Barat. [pks.id]

Keterangan Foto: Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman memberikan paparan dalam Peringatan Hari Buruh Migran Internasional di Kantor DPP PKS, MD Building Jakarta, Ahad (20/12/2015).

posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger