pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Fahri Hamzah di DPR

Written By @Adimin on 11 January, 2013 | January 11, 2013

posted by Adimin

Jadilah Bagian dari Dakwah

Written By @Adimin on 09 January, 2013 | January 09, 2013


 
Menjadi penolong agama Allah SWT, bisa dilakukan siapa saja dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.

Rasulullah saw terkejut, hari itu ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu. Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele. Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan, tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menangnya sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah satu diantara tiga posisi.

1.   Kader Inti

Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya selain untuk menegakkan agama dan mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam firmannya

Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).

Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era Rasulullah saw, kita menemukan  sosok Abu Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”, tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman

sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh....(QS At Taubah 111).

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah terhadap mereka,

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka  ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)


2.   Kader Pendukung.

Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti. Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:


tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).

Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian, penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw  tetap menepati isi perjanjian, beliau melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun  dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini  jelas tak bisa disamakan dengan kader inti, dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan istri, demi terjun  ke medan dakwah. Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap terjun ke medan Tabuk. 


3.   Simpatisan.

Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil, tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita yang biasa mem- bersihkan masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.

Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw  mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah segera menurunkan firmannya,

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al Kahfi: 28).

Dibanding kader inti dan pendukung dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar peranannya dalam melindungi Rasulullah saw  dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum muslimin, khususnya juru dakwah, lebih lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini. Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas dalam kaderisasi tetap bisa dijaga
 

posted by Adimin

ANTARA JIMA DAN ZINA






Secara prilaku fisik, antara jima’ dengan zina mungkin sama saja. Dan dari segi kepuasan badaniah pun mungkin demikian. Tapi lantas kenapa ada sebagian orang yang memilih berjima’ sementara yang lain memilih sebaliknya? Hal itu terkait erat dengan beberapa alasan yang di luar masalah fisik. Inilah yang akan membedakan dua aktivitas yang serupa tapi tak samaini. Maka, mari kita pertimbangkan beberapa perbedaan di bawah ini! Sehingga, ketika tiba waktunya, kita tidak salah dalam memilih…

Ikatan yang Kuat

Menikah adalah syarat mutlak seseorang melakukan jima’. Sementara zina menolak ikatan semacam ini. Proses pernikahan tidak mudah dan seseorang harus bersungguh-sungguh untuk menempuhinya. Maka ia tidak akan sembarangan memutuskan ikatan pernikahan begitu saja.
Sementara itu ikatan dua pezina sangat rapuh. Di satu saat mereka saling mengatakan, “Aku akan mencintaimu selamanya dan hanya ajal yang akan memisahkan kita…”. Tapi sesaat kemudian dengan mudahnya mereka berkata, “Kita putus!”. Seorang wanita tidak akan bisa melakukan tuntutan apapun terhadap pasangan zinanya jika terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Karena, “Bukankah kita melakukannya atas dasar suka sama suka? Dan bukankah kita bukan suami istri?”


Pria Pemberani

Pernikahan hanya dilakukan oleh pria-pria pemberani, Karena para penakut akan lebih memilih zina. Ingatlah bahwa dalam pernikahan ada tanggung jawab. Ada tugas menafkahi bagi suami, ada ketaatan bagi istri. Ditambah lagi merawat anak-anak yang lahir dari hasil hubungan itu.
Para pezina tidak berani seperti itu. Prianya tidak ingin menafkahi, dan wanitanya tidak ingin merawat anak. Mereka tidak mau berhubungan baik dengan keluarga pasangannya, karena mereka lebih senang berduaan dan tidak ingin dipusingkan oleh segala hal yang dianggap merepotkan.


Kesetiaan Cinta

Ketika dua orang memutuskan untuk menikah, maka mereka siap untuk saling setia. Istri akan menjaga kehormatan suaminya, dan suami akan menyayangi istri sepenuhnya. Sedang jika seseorang memilih untuk berzina, maka dia tidak tahu apakah pasangannya setia atau tidak. Dia tidak akan tahu dengan siapa saja pasangannya pernah berzina, atau dengan siapa dia  akan selingkuh.

Bersih dan Aman

Ketika suami istri saling setia dengan pasangannya, maka ia telah berperilaku hidup bersih. Ia tidak pernah takut akan terkena penyakit ini dan itu, penyakit yang sangat ditakuti para pezina. Untuk siapa kondom diproduksi? Untuk orang-orang yang takut tertulari penyakit ini dan itu. Takut hubungan badannya “membekas dan meninggalkan jejak”. Karena apa? Karena, meski rajin merawat tubuh dan rutin ke salon, para pelaku zina tetap bermain-main di area yang kotor dan mengerikan. Tak ada sakinah—ketenangan dalam hubungan mereka.


Berbagi Kebahagiaan

Ketika dua orang menikah, maka kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh pelakunya saja. Proses pernikahan dilaksanakan secara terang-terangan, sehingga menciptakan kebahagiaan pada orang-orang di sekelilingnya. Bahkan pernikahan seringkali memberikan berkah, membuka pintu rizki, dan semua orang tersenyum puas atas proses pernikahan itu.
Sementaa itu, zina selalu dilakukan dengan cara tertutup, sembunyi-sembunyi dan seringkali melahirkan musibah bagi banyak orang. Orang tua berduka, kawan-kawan mencibir, dan tetangga saling menggunjing.


Ibadah Paling Indah

Apakah perbedaan “seseorang yang makan makanan hasil curian” dengan “orang yang ikut perlombaan makan”? Secara fisik keduanya sama-sama kenyang. Tapi yang satu dicap penjahat, yang lain dapat hadiah. Demikian pula dengan jima’. Selain mendapatkan kepuasan fisik, dua orang yang berjima’ akan mendapatkan pahala yang besar tatkala dalam prosesnya mereka niatkan untuk ibadah kepada Allah.

Adakah ibadah yang lebih indah selain melakukan hubungan semacam itu dengan niat menggapai ridha Allah kemudian dibalas Allah dengan pahala yang berlipat-lipat ganda?

Sementara zina, kenikmatannya bersifat semu karena pelakunya selalu dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Dia akan membawa beban dosa seumur hidupnya jika tidak mau bertaubat atas perbuatannya. Tidak perlu menunggu adzab akhirat, pelaku zina akan mendapatkan banyak kemalangan atas dosa yang telah ia perbuat.
 


posted by Adimin

Hasil Sidang Majlis Syuro: PKS Haramkan Politik Dinasti dan Studi Banding Ke Luar Negeri

Written By @Adimin on 07 January, 2013 | January 07, 2013


BANDUNG - Sabtu (5/1), Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menyampaikan hasil Sidang Musyawarah Majelis Syuro (MMS) VII Partai Keadilan Sejahtera yang telah berlangsung di Lembang, Bandung, dengan beberapa hasil keputusan, antara lain:

  1. PKS Melarang pencalegan istri pejabat publik dari PKS (menteri, gub/bup/walikota, DPR/DPRD) dlm Pemilu 2014. Pelarangan itu untuk menghindari konflik kepentingan (vested interest), serta menghindari politik dinasti.

  2. PKS Melarang pencalegan kader suami-istri dalam pemilu 2014. "Jika suami sudah dicalegkan maka sang istri tidak boleh dicalegkan," kata Luthfi.

  3. Terkait soal pencapresan, sidang MMS memutuskan PKS belum merasa perlu untuk memunculkan capres saat ini. PKS masih perlu mengamati dinamika yang terjadi. "Pada saatnya nanti kita akan umumkan," ujar Luthfi.

  4. PKS melarang Anggota Dewan melakukan studi banding ke luar negeri, jika melanggar, akan dikenai sanksi. "Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi organisasi," jelas Luthfi.

  5. Aleg PKS harus konsentrasi mengurus daerah pemilihannya. Menyerap aspirasi di dapilnya masing-masing dan mengadvokasinya hingga berhasil.
sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2013/01/05/140439/PKS-Tidak-Calegkan-Istri-Pejabat-Publikposted by Adimin

PKS Padang selenggarakan pengobatan Gratis

Written By @Adimin on 04 January, 2013 | January 04, 2013

posted by Adimin

Bantuan PKS Padang

posted by Adimin

Dialog PKS Padang

posted by Adimin

Kenapa ya, kalau Capek & Stres Jadi Kelihatan Jelek?

Written By @Adimin on 03 January, 2013 | January 03, 2013


Saat kecapekan setelah beraktivitas seharian atau kurang tidur, Anda akan sering melihat kulit menjadi pucat, muncul semacam kantung di bawah mata, lingkaran hitam di sekitar mata atau kerutan di kulit. Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi.

Menurut Dr. Amit Sood, seorang profesor ilmu kedokteran dan ketua Mind Body Initiative dari Mayo Clinic, stres menyebabkan kemampuan kulit untuk melindungi dirinya sendiri menurun. Lagipula stres juga dapat mengakibatkan berkurangnya kadar melanin sehingga wajah Anda akan tampak kuyu dan berwarna kekuningan.

"Dengan kata lain ketika mengalami stres, tubuh seseorang akan berperang dengan dirinya sendiri. Anda akan kehilangan efisiensi tubuh, tidur Anda takkan nyenyak, Anda jadi makan lebih banyak dari biasanya, termasuk berat badan Anda akan bertambah, bahkan hubungan Anda pun bisa terpengaruh karenanya," tambah Sood yang juga penulis buku Train Your Brain, Engage Your Heart, Transform Your Life: A Course in Attention and Interpretation Therapy.

Menanggapi studi Sood, pakar anestesi dan ilmu penyakit dalam Dr. Michael Roizen pun ikut menambahkan, "Normalnya, ketika tidur Anda akan mendistribusikan air yang ada di dalam tubuh. Itulah mengapa jika Anda kurang tidur maka air itu akan menumpuk di bawah mata dan memberi 'beban' ekstra pada kulit berupa kantung mata dan lingkaran hitam di sekitar mata."

Hal ini juga berarti jika seseorang tidak mendapatkan jam tidur yang memadai, kulitnya tak memiliki kesempatan untuk menyegarkan diri dan mengencangkan kondisinya kembali.


Roizen pun sepakat dengan Sood bahwa stres akan menyebabkan kurang tidur dan hal ini bisa menjadi 'lingkaran setan'. Bahkan stres tak hanya membuat wajah Anda menjadi aneh tapi juga kerutan kulit akibat penuaan. "Stres membuat Anda menjadi tua," tandas Roizen seperti dikutip dari nbcnews, Jumat (21/12/2012).


Bahkan menurut Roizen, stres tak hanya menyebabkan kerutan atau keriput di wajah tapi juga di pembuluh darah yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan penyakit serius, meski mungkin usia Anda masih sangat muda. (unik

posted by Adimin

PERCAKAPAN USTADZ DENGAN DPR



DPR : “Pak Ustadz, kalau DPR sama Menteri…, Hebat yang mana?”
Ustadz : “Hebat Bapak…., Bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 Menteri” Ujarnya santun.
[si DPR nyengir seneng]

DPR: “Lhaa…, kalau saya sama ketua KPK hebat mana ??”
Ustadz : “Hebat bapak DPR juga lah…, kan Ketua KPK dipilih sama Bapak juga, DPR tidak dipilih dari KPK”
[si DPR nyengir nya makin lebar, ustadz bener juga nih kata dia]

DPR: “Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih ustadz, kalau saya dengan Nabi hebat mana?”
Ustadz : “Masih hebat bapak lah…”
DPR : “LAH?!! KOQ BISA..??” (KAGET)

Ustadz: “YA BISA LAH..” (Lalu melanjutkan ucapannya..) “Kalo Nabi masih takut sama ALLAH, sedangkan Bapak sudah gak ada takut- takutnya sama ALLAH” KORUPSI UANG RAKYAT MILYARAN, TANPA MERASA SALAH -,-”

DPR: [Cengar-cengir doank kaya kebo di sawah.. ]


posted by Adimin

Tawadhu Itu KEREN

Written By @Adimin on 02 January, 2013 | January 02, 2013


TAWADHU? Apa sih? Ketawa tapi merdu? Atau ketawa semanis madu? Hehehe
Eits… ini bukan masalah ketawa fren. Ini tentang kebaikan. Jadi, apa sih tawadhu?

Tawadhu artinya rendah. Masa iya ada kebaikan tapi ‘rendah’?! tenang dulu, itu baru arti secara harfiah atau secara bahasa. Nah, kalau secara istilah tawadhu artinya kita nggak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya, kalau disingkat sih rendah hati, nggak sombong dan rajin menabung (rajin menabungnya sih enggak hehehe).

Tawadhu ini penting banget dimiliki ama kita, kenapa?

Hmm, pernah nggak ketemu orang atau bahkan temen deket yang selalu dengerin curhat kita selama bertahun-tahun tapi dia sendiri nggak terlalu banyak bicara tentang prestasinya atau gaya berbicaranya sederhana, tau-tahu kalian dapat info dari orang lain kalo temen kita itu sempat juara olimpiade internasional, terus beberapa kali dapat tawaran beasiswa keluar negeri?! Ya pasti kagumnya jadi double kan? Pertama kagum karena prestasinya itu, kedua karena kerendah hatiannya yang nggak pernah menyebutkan hal-hal yang pernah diraihnya. Sebenernya Rasulullah SAW. udah ngasih sinyal ke kita tentang orang yang tawadhu akan Allah muliakan “Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah.” (HR. Muslim).

Dahsyat banget kan? Selain itu juga tawadhu itu keren, karena banyak ulama yang keren karena ke tawadhu-annya, yah jangan jauh-jauh deh, Nabi Muhammad SAW. begitu tawadhu. Beliau itu kan keturunan dari Bani Hasyim A.K.A keturunan dari bangsawan Arab. Kakeknya aja presiden di zamannya, tapi beliau nggak malu tuh buwat menggembala hewan atau bahkan jadi karyawannya Khodijah yang jualin baju di pasar. Nabi Muhammad SAW. bahkan selalu menjaga shalat malam sampai kaki beliau bengkak-bengkak padahal beliau udah pasti dijamin masuk surga.

Kalau kita tau kita udah dijamin masuk surga, pasti udah bikin pengumuman pake speaker dimesjid-mesjid rumah, bikin status fb, ngetweet sambil mention semua orang yang udah follow kita kalau kita dijamin masuk surga terus minta orang-orang yang kita kasih tahu bilang ‘wow’sambil koprol. Haduh-haduh untung aja kita belum tahu kalau kita akan masuk surga, jadi kita nggak akan coba berani-berani ninggalin shalat, shaum, sedekah dll.

Nah fren, tawadhu itu bukan hanya nggak ngomong tentang prestasi, harta dan potensi yang kita punya ke orang lain biar diakui eksistensi kita. Tapi penampilan dan sikap pun harus tawadhu. Nabi Muhammad SAW. n friends kayak Abu Bakar padahal mampu buat beli pakaian dari sutra tapi beliau dan shahabatnya itu selalu berpakaian sederhana, nggak berlebihan tapi nggak kekurangan juga. Abu Bakar itu dikenal sebagai saudagar paling kaya loh fren n orang paling berpengaruh juga dikalangan kaum Quraisy. So, sederhana dalam penampilan itu bukan pake celana jeans lubang-lubang, kaos belel, sepatu nganga atau pake baju yang sama selama seminggu, jatuhnya malah jadi berlebihan bagian sisi negatifnya. Tapi sederhana disini adalah penampilan yang sederhana, penampilan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, tanpa berlebih-lebihan tapi sesuai syariat (hukum) Islam.

Sekarang jelas kan fren, kalau tawadhu itu keren?! Rata-rata orang besar n tokoh dunia itu selalu tawadhu (rendah hati). Contohnya presiden di era reformasi kita yakni Pak Habibi, nggak pernah tuh beliau menyebut-nyebut kebaikan selama beliau menjabat jadi presiden atau Pak Ahmad Heryawan dari puluhan prestasinya di skala nasional maupun internasional beliau nggak pernah nyempatin diri repot-repot ngumumin daftar prestasinya, tapi pada akhirnya selalu ada jalan bagi orang lain buwat mengetahui setiap celah kebaikan mereka yang menyebabkan semakin bertambah kekaguman kita.

Tapi yang harus dicatet nih, kalo kita melakukan kebaikan kemudian di sembunyikan tapi berharap suatu saat nanti orang lain tau tentang kebaikan yang kita lakukan, itu namanya bukan tawadhu, bisa jadi dosanya jadi double. Jadi kita perlu hati-hati ya, biarlah Allah  SWT. yang menilai usaha kita dan malaikat turut menyaksikannya bukan makhluk yang menyebabkan segala amal kebaikan itu dapat menjadi nggak berguna (sia-sia) dan jangan lupa juga buwat tidak merasa diri lebih baik dari orang lain karena itu ciri orang yang tawadhu.

So, yuk kita tawadhu… supaya Allah ridho ama kita, supaya keridhoan Allah bisa mengantarkan kita ke surga.Amiin

posted by Adimin

Tauhid Yang Membebaskan


Di negeri ini proses pemiskinan -- baik pemiskinan secara kultural maupun struktural tengah terjadi menggusur bangsa ini -- yang, kesemuanya itu berujung pada proses 'peyatiman' bangsa -- ketika nasib rakyat dan umat ditelantarkan oleh negara. Maka, negara dan elit-elitnya sesungguhnya telah terlibat dalam proses pendustaan dan pengkhianatan terhadap nilai2 agama. Tragis memang....

Kenyataan-kenyataan tersebut, telah menjungkirbalikkan rakyat dan umat menjadi tersubordinasikan pada titik nadir yang memprihatinkan. Bangsa ini yang mayoritas masyarakat Muslim menjadi terpingggirkan oleh silang sengkarut dinamika reformasi yang mandeg dan jalan di tempat. Sehingga tidaklah mengherankan bahwa posisi umat Islam di Indonesia berada pada posisi pheripheral -- yang secara sosiologis, itu sudah menjadi karakteristik negara berkembang termasuk Indonesia yang ditandai oleh ketidakmerataan ekonomi yang makin melebar. Padahal kita tahu, bahwa masyarakat menjadi miskin bukan disebabkan karena mereka tidak memiliki aspek kultural yang dinamis dan kreatif, tapi kerena mereka dimiskinkan oleh suatu sistem struktural -- di mana mereka tidak diberi peluang yang sehat dan memadai.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam itu bukan agama kebebasan (sebagaimana orang-orang JIL menafsirkan). Tapi Islam itu adalah agama pembebasan yang membebaskan dari ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan serta pembebasan dari kesewenang-wenangan kekuasaan yang tiran. Dengan missinya yang membebaskan tersebut, umat Islam diharapkan bisa ‘naik kelas' posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Meskipun dalam realitas sejarahnya, manusia modern saat ini kerap dihadapkan pada problematikanya sendiri, di mana umat Islam berada di dalamnya. Manusia yang asalnya merdeka dengan segala kemerdekaan dan kebebasannya, yang selalu merasa menjadi pusat dari segala sesuatu, kini telah diturunkan derajatnya oleh suatu sistem nilai kebudayaan modern, manusia menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin. Dalam masyarakat modern manusia tengah menghadapi dan mengalami mekanisasi kerja. Proses seperti ini menyebabkan manusia kehilangan perspektifnya (Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, 1993).

Manusia di zaman modern ini -- telah terpasung oleh situasi zaman yang menyertainya. Mereka mengalami keterpasungan dan keterbelengguan oleh sistem kebudayaan modernitas itu sendiri. Dan ini terjadi pada bangsa ini yang tengah mengalami fase akhir dari suatu masyarakat agraris dan fase awal dari sebuah masyarakat industri. Di sini kerap terjadi benturan antara nilai-nilai lama (Islam dan budaya) di satu sisi, dan nilai-nilai baru di sisi yang lainnya. Yang pada ujungnya manusia mengalami kegelisahan dan keterasingan.

Sedangkan pada sisi lainnya, pada bangsa ini pula -- sebagian besar masyarakatnya tengah mengalami ketidakberdayaan oleh pelbagai sistem struktural yang menyebabkan tidak memiliki daya tawar yang kuat. Mereka menjadi masyarakat pinggiran yang terpinggirkan oleh sejarah dan kekuasaan yang hampir tidak pernah berpihak kepada mereka.

Dari analisis tersebut, sesungguhnya kita menaruh harapan banyak pada Islam. Tentu saja, di sini Islam mesti ditafsirkan secara cerdas dan pintar oleh umatnya dengan tetap berpegang teguh pada diktum Islam (Qur'an dan Sunnah) yang bersifat essensial dan eternal. Sejauhmana Islam turut andil dalam memberikan perubahan dan pembebasan atas pelbagai nasib manusia yang terhimpit oleh sistem ketidakadilan baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun aspek-aspek lainnya.

Tauhid dan Pembebasan: Sebuah Redefinisi

Istilah Tauhid dalam wacana umat Islam Indonesia kerap disebut ‘tauhid'. Menurut Nurcholish kata-kata tersebut merupakan kata benda kerja aktif yang secara harfiah mengandung makna ‘menyatukan' dan ‘mengesakan' yang oleh para mutakallim dipahami sebagai upaya untuk ‘me-Maha-Esa-kan Allah'. Yang dengan ini, semangat tauhid akan memberikan dampak pembebasan dalam hidup dan kehidupan manusia. Pandangan ini muncul sebagai bagian dari dambaan setiap insan -- khususnya umat Islam terhadap pandangan hidupnya yang mampu membawa pembebasan dari pelbagai belenggu zaman modern.
Senada dengan pandangan di atas, menurut Amien Rais (1991:13) bahwa kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan esensial. Formulasi paling pendek dari kalimat tauhid adalah: laa ilaha illa Allah -- sebuah kalimat dalam bentuk negasi-afirmasi(nafy-itsbat). Di mana seorang manusia-tauhid hanya memutlakkan Allah Yang Esa sebagai Khaliq-nya, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya. Komitmennya kepada Allah adalah total, kukuh, tulus, mencakup cinta dan pengabdian, dan kemauan yang keras untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Dalam Islam, kalimat tauhid sesungguhnya telah menjadi tauhid pembebasan bagi umat Islam. Karena dengan kalimat tauhid sesungguhnya harus meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan. Yang menurut Amien, doktrin tauhid Islam sesungguhnya mengemban tugas untuk melakukan tahrir al-nas min ‘ibadat al-'ibad ila ‘ibadatillah' (membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah Allah semata).
Dan hal itu sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad ‘Athiyah al-'Ibrasyi (Ruh al-Islamy,Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiah, 1969, hal. 172). bahwa, Islam itu merupakan agama pembebasan, persaudaraan dan persamaan (Al-Islamu dien al-huriyati wa al-ukhuwwti wa al-musawati....). Yang dalam sejarahnya Islam telah melakukan upaya liberasi bagi para hamba sahaya untuk dimerdekakan dan diangkat derajatnya menjadi manusia yang merdeka, sejajar dan terhormat.

Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial

Bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena sikap menutup diri dari keengganan untuk mengetahui kebenaran yang diperkirakan nilainya akan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan oleh keangkuhan yang sudah membelenggu diri manusia. Belenggu yang dimaksud tiada lain adalah hawa nafsu atau vested interest (al-hawa). Inilah sumber pribadi yang selalu menolak kebenaran. Hawa nafsu juga menjadi sumber pandangan subyektif yang tidak berdasar (Lihat Qs. Al-Jatsiyah: 23).
Doktrin tauhid dalam Islam, menurut Cak Nur, sesungguhnya bisa memberikan pembebesan diri (self-liberation). Hanya dengan dengan self-liberation seorang manusia-tauhid akan mampu menangkap kebenaran, dan hanya dengan menangkap kebenaran itulah seseorang akan bisa membebaskan dirinya. Inilah sesungguhnya makna yang sangat esensial dari kalimat tauhid. Di sinilah doktrin tauhid Islam memberikan pembebesan pribadi, di mana seseorang menjadi merdeka sejati yang hanya akan melihat setiap yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai salah.
Oleh karena itu, manusia tauhid akan dengan bebas menentukan sendiri pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat dan hati nurani secara jujur tentang apa yang benar dan yang salah, ia tampil berani dan elegan, penuh percaya diri, jujur dan adil serta memiliki integritas yang kuat. Karena ia tidak terkungkung oleh keangkuhan dirinya (lihat Qs. Al-Ma'idah: 8).
Dengan pembebasan diri yang kuat sebagai efek dari tauhid, maka tauhid dalam Islam pula bisa memberikan efek bagi pembebasan sosial sebagai kelanjutan dari pembebasan diri-individu. Dalam al-Qur'an pandangan hidup bertauhid selalu berkaitan dengan penolakan terhadap ‘thagut' yang dipahami sebagai kekuatan sewenang-wenang atau apa-apa yang melewati batas atau juga sebagai kekuatan tiranik. Yang menurutnya, kesanggupan seorang pribadi untuk melepaskan diri dari belenggu kekuatan tiranik -- itu dipahami sebagai efek dari pembebasan sosial semangat tauhid (Qs. Al-Baqarah: 256).

Singkat kata, Islam sesungguhnya merupakan agama pembebasan bagi manusia. Karena salah satu misi Islam yang paling besar adalah melakukan pembebasan. Dalam konteks dunia modern, doktrin tauhid Islam harus bisa membebaskan manusia dari kungkungan/belenggu pemikiran dan juga dari sistem-sistem sosial, politik maupun ekonomi maupun sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.

Dengan demikian, bangunan tauhid Islam secara fungsional harus mampu mentransformasikan setiap individu untuk melakukan upaya liberasi dari pelbagai kungkungan sistem yang tidak manusiawi. Dan pada saat yang bersamaan pula bangunan tauhid Islam mendorong kaum Muslimin untuk menegakkan suatu tatanan sosial yang adil dan etis.
Dalam diktum Alquran, ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial dan politik -- ini sesuatu yang sangat dikecam keras (lihat Qs. Al-Ma'un: 1-6 dan Al-Humazah: 1-6). Karena manakala ketimpangan dan ketidakadilan tersebut dibiarkan, maka bisa mengakibatkan manusia menjadi buta terhadap nilai-nilai luhur (lihat Qs. Ali- ‘Imran: 14; Yunus: 23).

Internalisasi Tauhid Sebagai upaya Pembebasan

Dalam realitas empirisnya, kita kerap menyaksikan bahwa ada orang yang rajin shalatnya tapi juga rajin korupsinya, ada yang sudah berkali-kali melaksanakan ibadah haji tapi rajin pula menindas rakyatnya. Dalam perspektif ini, orang tersebut sama sekali tidak bertauhid. Padahal nilai-nilai tauhid itu selalu hadir dalam situasi dan kondisi apapun.
Untuk itu, upaya membumikan Islam dalam konteks Islam sejarah secara apa adanya menjadi bagian penting yang mesti diwujudkan. Karena boleh jadi, doktrin tauhid Islam yang selama ini diyakini dan dipahami dipandang tidak cukup memberi implikasi pada jiwa-jiwa pribadi muslim.
Di sini, makna tauhid perlu di-internalisasi pada wilayah yang lebih konkret - sebagai upaya untuk men-substansiasi Islam dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bahkan bernegara. Dengan pemaknaan tauhid seperti ini diharapkan lebih mencerahkan dan mencerdaskan. Salah satu kepentingan yang cukup signifikan -- mengapa tauhid perlu dikedepankan untuk melakukan transformasi dan pembebasan, baik sosial maupun individual? Karena sebagai doktrin tauhid, bagimana Islam mampu mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visi Islam itu sendiri. Sehingga Islam memberikan insight moral bagi masyarakat. Dengan kata lain, meminjam pernyataan Kuntowijoyo -- tidaklah Islami misalnya, jika masyarakat muslim bersikap apriori terhadap kondisi struktural dan kultural masyarakatnya, sementara kita tahu kondisi tersebut penuh kemunkaran dan kezaliman. Wallahu a'lam bi al shawwab...


sumber : persis.or.id
posted by Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger