Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
January 11, 2013
posted by Adimin
Fahri Hamzah di DPR
Written By @Adimin on 11 January, 2013 | January 11, 2013
Label:
VID
January 09, 2013
posted by Adimin
Jadilah Bagian dari Dakwah
Written By @Adimin on 09 January, 2013 | January 09, 2013
Menjadi penolong agama Allah SWT,
bisa dilakukan siapa saja dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang
layak menjadi kader inti,
ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.
Rasulullah saw terkejut, hari itu
ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau
bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal
dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu.
Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele.
Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan
wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.
Kisah ini menunjukkan bahwa
sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah
semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama
Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya.
Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan
tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan
penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan,
tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menangnya
sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat
dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan
pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua
lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah
satu diantara tiga posisi.
1.
Kader
Inti
Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri
untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya
selain untuk menegakkan agama dan
mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter
orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya
hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan
perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam
firmannya
“Dan
diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan
Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).
Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era
Rasulullah saw, kita menemukan sosok Abu
Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang
tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan
Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi
beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”,
tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya
Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang
yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman
“sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau
terbunuh....(QS At Taubah 111).
Dalam ayat lain
Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah
terhadap mereka,
” Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula
yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al
Ahzab 23)
2.
Kader
Pendukung.
Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya
dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita
temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti.
Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik
dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan
Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan
perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang
didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh
Allah dalam firmannya:
“tidaklah
sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai
udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa
mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah
menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang
berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).
Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin
Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian
Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa
saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian,
penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus
segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw tetap menepati isi perjanjian, beliau
melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali
ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir
menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu
Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan
kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara
struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri
dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok
ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun
dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang
tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa
diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam
ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan
kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah
lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam
struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima
oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak
boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua
kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau
benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar
disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi
keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita
temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan
dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini jelas tak bisa disamakan dengan kader inti,
dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan
istri, demi terjun ke medan dakwah.
Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap
terjun ke medan Tabuk.
3.
Simpatisan.
Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi
simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut
tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil,
tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita
yang biasa mem- bersihkan
masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak
memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.
Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah
segera menurunkan firmannya,
”Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta
menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al
Kahfi: 28).
Dibanding kader inti dan pendukung
dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari
luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi
Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin
Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar
hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar
peranannya dalam melindungi Rasulullah saw
dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu
peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum
muslimin, khususnya juru dakwah, lebih
lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini.
Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada
perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini
justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada
syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali
kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas
juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader
pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini
harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah
kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas
dalam kaderisasi tetap bisa dijaga
posted by Adimin
Label:
HAROKAH
January 09, 2013
posted by Adimin
ANTARA JIMA DAN ZINA
Secara prilaku fisik, antara jima’ dengan
zina mungkin sama saja. Dan dari segi kepuasan badaniah pun mungkin demikian.
Tapi lantas kenapa ada sebagian orang yang memilih berjima’ sementara yang lain
memilih sebaliknya? Hal itu terkait erat dengan beberapa alasan yang di luar
masalah fisik. Inilah yang akan membedakan dua aktivitas yang serupa tapi tak samaini. Maka, mari kita pertimbangkan beberapa
perbedaan di bawah ini! Sehingga, ketika tiba waktunya, kita tidak salah dalam
memilih…
Ikatan yang Kuat
Menikah adalah syarat mutlak seseorang
melakukan jima’. Sementara zina menolak ikatan semacam ini. Proses pernikahan
tidak mudah dan seseorang harus bersungguh-sungguh untuk menempuhinya. Maka ia
tidak akan sembarangan memutuskan ikatan pernikahan begitu saja.
Sementara itu ikatan dua pezina sangat rapuh.
Di satu saat mereka saling mengatakan, “Aku akan mencintaimu selamanya dan hanya
ajal yang akan memisahkan kita…”. Tapi
sesaat kemudian dengan mudahnya mereka berkata, “Kita putus!”. Seorang wanita tidak akan bisa melakukan
tuntutan apapun terhadap pasangan zinanya jika terjadi hal-hal buruk yang tidak
diinginkan. Karena, “Bukankah kita melakukannya atas dasar suka
sama suka? Dan bukankah kita bukan suami istri?”
Pria Pemberani
Pernikahan hanya dilakukan oleh pria-pria
pemberani, Karena para penakut akan lebih memilih zina. Ingatlah bahwa dalam
pernikahan ada tanggung jawab. Ada tugas menafkahi bagi suami, ada ketaatan
bagi istri. Ditambah lagi merawat anak-anak yang lahir dari hasil hubungan itu.
Para pezina tidak berani seperti itu. Prianya
tidak ingin menafkahi, dan wanitanya tidak ingin merawat anak. Mereka tidak mau
berhubungan baik dengan keluarga pasangannya, karena mereka lebih senang
berduaan dan tidak ingin dipusingkan oleh segala hal yang dianggap merepotkan.
Kesetiaan Cinta
Ketika dua orang memutuskan untuk menikah,
maka mereka siap untuk saling setia. Istri akan menjaga kehormatan suaminya,
dan suami akan menyayangi istri sepenuhnya. Sedang jika seseorang memilih untuk
berzina, maka dia tidak tahu apakah pasangannya setia atau tidak. Dia tidak
akan tahu dengan siapa saja pasangannya pernah berzina, atau dengan siapa dia
akan selingkuh.
Bersih dan Aman
Ketika suami istri saling setia dengan
pasangannya, maka ia telah berperilaku hidup bersih. Ia tidak pernah takut akan
terkena penyakit ini dan itu, penyakit yang sangat ditakuti para pezina. Untuk
siapa kondom diproduksi? Untuk orang-orang yang takut tertulari penyakit ini
dan itu. Takut hubungan badannya “membekas dan meninggalkan jejak”. Karena apa?
Karena, meski rajin merawat tubuh dan rutin ke salon, para pelaku zina tetap
bermain-main di area yang kotor dan mengerikan. Tak ada sakinah—ketenangan dalam hubungan mereka.
Berbagi Kebahagiaan
Ketika dua orang menikah, maka kebahagiaan
tidak hanya dirasakan oleh pelakunya saja. Proses pernikahan dilaksanakan
secara terang-terangan, sehingga menciptakan kebahagiaan pada orang-orang di
sekelilingnya. Bahkan pernikahan seringkali memberikan berkah, membuka pintu
rizki, dan semua orang tersenyum puas atas proses pernikahan itu.
Sementaa itu, zina selalu dilakukan dengan
cara tertutup, sembunyi-sembunyi dan seringkali melahirkan musibah bagi banyak
orang. Orang tua berduka, kawan-kawan mencibir, dan tetangga saling
menggunjing.
Ibadah Paling Indah
Apakah perbedaan “seseorang yang makan
makanan hasil curian” dengan “orang yang ikut perlombaan makan”? Secara fisik
keduanya sama-sama kenyang. Tapi yang satu dicap penjahat, yang lain dapat
hadiah. Demikian pula dengan jima’. Selain mendapatkan kepuasan fisik, dua
orang yang berjima’ akan mendapatkan pahala yang besar tatkala dalam prosesnya
mereka niatkan untuk ibadah kepada Allah.
Adakah ibadah yang lebih indah selain melakukan hubungan semacam itu dengan
niat menggapai ridha Allah kemudian dibalas Allah dengan pahala yang
berlipat-lipat ganda?
Sementara zina, kenikmatannya bersifat semu
karena pelakunya selalu dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Dia akan membawa
beban dosa seumur hidupnya jika tidak mau bertaubat atas perbuatannya. Tidak
perlu menunggu adzab akhirat, pelaku zina akan mendapatkan banyak kemalangan
atas dosa yang telah ia perbuat.
posted by Adimin
Label:
OASE
January 07, 2013
Hasil Sidang Majlis Syuro: PKS Haramkan Politik Dinasti dan Studi Banding Ke Luar Negeri
Written By @Adimin on 07 January, 2013 | January 07, 2013
BANDUNG - Sabtu (5/1), Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq
menyampaikan hasil Sidang Musyawarah Majelis Syuro (MMS) VII Partai
Keadilan Sejahtera yang telah berlangsung di Lembang, Bandung, dengan
beberapa hasil keputusan, antara lain:
- PKS Melarang pencalegan istri pejabat publik dari PKS (menteri, gub/bup/walikota, DPR/DPRD) dlm Pemilu 2014. Pelarangan itu untuk menghindari konflik kepentingan (vested interest), serta menghindari politik dinasti.
- PKS Melarang pencalegan kader suami-istri dalam pemilu 2014. "Jika suami sudah dicalegkan maka sang istri tidak boleh dicalegkan," kata Luthfi.
- Terkait soal pencapresan, sidang MMS memutuskan PKS belum merasa perlu untuk memunculkan capres saat ini. PKS masih perlu mengamati dinamika yang terjadi. "Pada saatnya nanti kita akan umumkan," ujar Luthfi.
- PKS melarang Anggota Dewan melakukan studi banding ke luar negeri, jika melanggar, akan dikenai sanksi. "Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi organisasi," jelas Luthfi.
- Aleg PKS harus konsentrasi mengurus daerah pemilihannya. Menyerap aspirasi di dapilnya masing-masing dan mengadvokasinya hingga berhasil.
Label:
Bingkai Berita,
KIPRAH KAMI,
TOPIK PILIHAN
January 04, 2013
posted by Adimin
PKS Padang selenggarakan pengobatan Gratis
Written By @Adimin on 04 January, 2013 | January 04, 2013
Label:
VID
January 03, 2013
Kenapa ya, kalau Capek & Stres Jadi Kelihatan Jelek?
Written By @Adimin on 03 January, 2013 | January 03, 2013
Saat kecapekan setelah beraktivitas seharian atau kurang tidur, Anda
akan sering melihat kulit menjadi pucat, muncul semacam kantung di bawah
mata, lingkaran hitam di sekitar mata atau kerutan di kulit. Anda
mungkin bertanya-tanya, mengapa hal ini bisa terjadi.
Menurut Dr. Amit Sood, seorang profesor ilmu kedokteran dan ketua Mind Body Initiative dari Mayo Clinic, stres menyebabkan kemampuan kulit untuk melindungi dirinya sendiri menurun. Lagipula stres juga dapat mengakibatkan berkurangnya kadar melanin sehingga wajah Anda akan tampak kuyu dan berwarna kekuningan.
Menurut Dr. Amit Sood, seorang profesor ilmu kedokteran dan ketua Mind Body Initiative dari Mayo Clinic, stres menyebabkan kemampuan kulit untuk melindungi dirinya sendiri menurun. Lagipula stres juga dapat mengakibatkan berkurangnya kadar melanin sehingga wajah Anda akan tampak kuyu dan berwarna kekuningan.
"Dengan kata lain ketika mengalami stres, tubuh seseorang akan berperang
dengan dirinya sendiri. Anda akan kehilangan efisiensi tubuh, tidur
Anda takkan nyenyak, Anda jadi makan lebih banyak dari biasanya,
termasuk berat badan Anda akan bertambah, bahkan hubungan Anda pun bisa
terpengaruh karenanya," tambah Sood yang juga penulis buku Train Your
Brain, Engage Your Heart, Transform Your Life: A Course in Attention and
Interpretation Therapy.
Menanggapi studi Sood, pakar anestesi dan ilmu penyakit dalam Dr. Michael Roizen pun ikut menambahkan, "Normalnya, ketika tidur Anda akan mendistribusikan air yang ada di dalam tubuh. Itulah mengapa jika Anda kurang tidur maka air itu akan menumpuk di bawah mata dan memberi 'beban' ekstra pada kulit berupa kantung mata dan lingkaran hitam di sekitar mata."
Hal ini juga berarti jika seseorang tidak mendapatkan jam tidur yang memadai, kulitnya tak memiliki kesempatan untuk menyegarkan diri dan mengencangkan kondisinya kembali.
Roizen pun sepakat dengan Sood bahwa stres akan menyebabkan kurang tidur dan hal ini bisa menjadi 'lingkaran setan'. Bahkan stres tak hanya membuat wajah Anda menjadi aneh tapi juga kerutan kulit akibat penuaan. "Stres membuat Anda menjadi tua," tandas Roizen seperti dikutip dari nbcnews, Jumat (21/12/2012).
Bahkan menurut Roizen, stres tak hanya menyebabkan kerutan atau keriput di wajah tapi juga di pembuluh darah yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan penyakit serius, meski mungkin usia Anda masih sangat muda. (unik)
Menanggapi studi Sood, pakar anestesi dan ilmu penyakit dalam Dr. Michael Roizen pun ikut menambahkan, "Normalnya, ketika tidur Anda akan mendistribusikan air yang ada di dalam tubuh. Itulah mengapa jika Anda kurang tidur maka air itu akan menumpuk di bawah mata dan memberi 'beban' ekstra pada kulit berupa kantung mata dan lingkaran hitam di sekitar mata."
Hal ini juga berarti jika seseorang tidak mendapatkan jam tidur yang memadai, kulitnya tak memiliki kesempatan untuk menyegarkan diri dan mengencangkan kondisinya kembali.
Roizen pun sepakat dengan Sood bahwa stres akan menyebabkan kurang tidur dan hal ini bisa menjadi 'lingkaran setan'. Bahkan stres tak hanya membuat wajah Anda menjadi aneh tapi juga kerutan kulit akibat penuaan. "Stres membuat Anda menjadi tua," tandas Roizen seperti dikutip dari nbcnews, Jumat (21/12/2012).
Bahkan menurut Roizen, stres tak hanya menyebabkan kerutan atau keriput di wajah tapi juga di pembuluh darah yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan penyakit serius, meski mungkin usia Anda masih sangat muda. (unik)
posted by Adimin
Label:
FAKTA
January 03, 2013
DPR : “Pak Ustadz, kalau DPR sama Menteri…, Hebat yang mana?”
Ustadz : “Hebat Bapak…., Bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 Menteri” Ujarnya santun.
[si DPR nyengir seneng]
DPR: “Lhaa…, kalau saya sama ketua KPK hebat mana ??”
Ustadz : “Hebat bapak DPR juga lah…, kan Ketua KPK dipilih sama Bapak juga, DPR tidak dipilih dari KPK”
[si DPR nyengir nya makin lebar, ustadz bener juga nih kata dia]
DPR: “Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih ustadz, kalau saya dengan Nabi hebat mana?”
Ustadz : “Masih hebat bapak lah…”
DPR : “LAH?!! KOQ BISA..??” (KAGET)
Ustadz: “YA BISA LAH..” (Lalu melanjutkan ucapannya..) “Kalo Nabi masih takut sama ALLAH, sedangkan Bapak sudah gak ada takut- takutnya sama ALLAH” KORUPSI UANG RAKYAT MILYARAN, TANPA MERASA SALAH -,-”
DPR: [Cengar-cengir doank kaya kebo di sawah.. ]
posted by Adimin
PERCAKAPAN USTADZ DENGAN DPR
DPR : “Pak Ustadz, kalau DPR sama Menteri…, Hebat yang mana?”
Ustadz : “Hebat Bapak…., Bapak Menteri gak berani perintah2 anggota DPR. DPR bisa perintah2 Menteri” Ujarnya santun.
[si DPR nyengir seneng]
DPR: “Lhaa…, kalau saya sama ketua KPK hebat mana ??”
Ustadz : “Hebat bapak DPR juga lah…, kan Ketua KPK dipilih sama Bapak juga, DPR tidak dipilih dari KPK”
[si DPR nyengir nya makin lebar, ustadz bener juga nih kata dia]
DPR: “Nah ini pertanyaan di jawab dengan benar lagi nih ustadz, kalau saya dengan Nabi hebat mana?”
Ustadz : “Masih hebat bapak lah…”
DPR : “LAH?!! KOQ BISA..??” (KAGET)
Ustadz: “YA BISA LAH..” (Lalu melanjutkan ucapannya..) “Kalo Nabi masih takut sama ALLAH, sedangkan Bapak sudah gak ada takut- takutnya sama ALLAH” KORUPSI UANG RAKYAT MILYARAN, TANPA MERASA SALAH -,-”
DPR: [Cengar-cengir doank kaya kebo di sawah.. ]
posted by Adimin
Label:
HUMOR
January 02, 2013
Tawadhu Itu KEREN
Written By @Adimin on 02 January, 2013 | January 02, 2013
TAWADHU? Apa sih? Ketawa tapi merdu? Atau ketawa semanis madu? Hehehe
Eits… ini bukan masalah ketawa fren. Ini tentang kebaikan. Jadi, apa sih tawadhu?
Tawadhu artinya
rendah. Masa iya ada kebaikan tapi ‘rendah’?! tenang dulu, itu baru
arti secara harfiah atau secara bahasa. Nah, kalau secara istilah tawadhu
artinya kita nggak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan
hamba Allah yang lainnya, kalau disingkat sih rendah hati, nggak sombong
dan rajin menabung (rajin menabungnya sih enggak hehehe).
Tawadhu ini penting banget dimiliki ama kita, kenapa?
Hmm,
pernah nggak ketemu orang atau bahkan temen deket yang selalu dengerin
curhat kita selama bertahun-tahun tapi dia sendiri nggak terlalu banyak
bicara tentang prestasinya atau gaya berbicaranya sederhana, tau-tahu
kalian dapat info dari orang lain kalo temen kita itu sempat juara
olimpiade internasional, terus beberapa kali dapat tawaran beasiswa
keluar negeri?! Ya pasti kagumnya jadi double kan? Pertama kagum karena
prestasinya itu, kedua karena kerendah hatiannya yang nggak pernah
menyebutkan hal-hal yang pernah diraihnya. Sebenernya Rasulullah SAW.
udah ngasih sinyal ke kita tentang orang yang tawadhu akan Allah muliakan “Dan tiada seseorang yang bertawadhu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah.” (HR. Muslim).
Dahsyat banget kan? Selain itu juga tawadhu itu keren, karena banyak ulama yang keren karena ke tawadhu-annya, yah jangan jauh-jauh deh, Nabi Muhammad SAW. begitu tawadhu.
Beliau itu kan keturunan dari Bani Hasyim A.K.A keturunan dari
bangsawan Arab. Kakeknya aja presiden di zamannya, tapi beliau nggak
malu tuh buwat menggembala hewan atau bahkan jadi karyawannya Khodijah
yang jualin baju di pasar. Nabi Muhammad SAW. bahkan selalu menjaga
shalat malam sampai kaki beliau bengkak-bengkak padahal beliau udah
pasti dijamin masuk surga.
Kalau kita tau kita udah dijamin masuk
surga, pasti udah bikin pengumuman pake speaker dimesjid-mesjid rumah,
bikin status fb, ngetweet sambil mention semua orang yang udah follow
kita kalau kita dijamin masuk surga terus minta orang-orang yang kita
kasih tahu bilang ‘wow’sambil koprol. Haduh-haduh untung aja kita belum
tahu kalau kita akan masuk surga, jadi kita nggak akan coba
berani-berani ninggalin shalat, shaum, sedekah dll.
Nah fren,
tawadhu itu bukan hanya nggak ngomong tentang prestasi, harta dan
potensi yang kita punya ke orang lain biar diakui eksistensi kita. Tapi
penampilan dan sikap pun harus tawadhu. Nabi Muhammad SAW. n
friends kayak Abu Bakar padahal mampu buat beli pakaian dari sutra tapi
beliau dan shahabatnya itu selalu berpakaian sederhana, nggak berlebihan
tapi nggak kekurangan juga. Abu Bakar itu dikenal sebagai saudagar
paling kaya loh fren n orang paling berpengaruh juga dikalangan kaum
Quraisy. So, sederhana dalam penampilan itu bukan pake celana jeans
lubang-lubang, kaos belel, sepatu nganga atau pake baju yang sama selama
seminggu, jatuhnya malah jadi berlebihan bagian sisi negatifnya. Tapi
sederhana disini adalah penampilan yang sederhana, penampilan yang
sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, tanpa berlebih-lebihan tapi
sesuai syariat (hukum) Islam.
Sekarang jelas kan fren, kalau tawadhu itu keren?! Rata-rata orang besar n tokoh dunia itu selalu tawadhu
(rendah hati). Contohnya presiden di era reformasi kita yakni Pak
Habibi, nggak pernah tuh beliau menyebut-nyebut kebaikan selama beliau
menjabat jadi presiden atau Pak Ahmad Heryawan dari puluhan prestasinya
di skala nasional maupun internasional beliau nggak pernah nyempatin
diri repot-repot ngumumin daftar prestasinya, tapi pada akhirnya selalu
ada jalan bagi orang lain buwat mengetahui setiap celah kebaikan mereka
yang menyebabkan semakin bertambah kekaguman kita.
Tapi yang
harus dicatet nih, kalo kita melakukan kebaikan kemudian di sembunyikan
tapi berharap suatu saat nanti orang lain tau tentang kebaikan yang kita
lakukan, itu namanya bukan tawadhu, bisa jadi dosanya jadi
double. Jadi kita perlu hati-hati ya, biarlah Allah SWT. yang menilai
usaha kita dan malaikat turut menyaksikannya bukan makhluk yang
menyebabkan segala amal kebaikan itu dapat menjadi nggak berguna
(sia-sia) dan jangan lupa juga buwat tidak merasa diri lebih baik dari
orang lain karena itu ciri orang yang tawadhu.
So, yuk kita tawadhu… supaya Allah ridho ama kita, supaya keridhoan Allah bisa mengantarkan kita ke surga.Amiin
posted by Adimin
January 02, 2013
Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial
Tauhid Yang Membebaskan
Di negeri ini proses pemiskinan -- baik pemiskinan
secara kultural maupun struktural tengah terjadi menggusur bangsa ini
-- yang, kesemuanya itu berujung pada proses 'peyatiman' bangsa --
ketika nasib rakyat dan umat ditelantarkan oleh negara. Maka, negara
dan elit-elitnya sesungguhnya telah terlibat dalam proses pendustaan
dan pengkhianatan terhadap nilai2 agama. Tragis memang....
Kenyataan-kenyataan tersebut, telah menjungkirbalikkan rakyat dan
umat menjadi tersubordinasikan pada titik nadir yang memprihatinkan.
Bangsa ini yang mayoritas masyarakat Muslim menjadi terpingggirkan oleh
silang sengkarut dinamika reformasi yang mandeg dan jalan di tempat.
Sehingga tidaklah mengherankan bahwa posisi umat Islam di Indonesia
berada pada posisi pheripheral -- yang secara sosiologis, itu sudah
menjadi karakteristik negara berkembang termasuk Indonesia yang
ditandai oleh ketidakmerataan ekonomi yang makin melebar. Padahal kita
tahu, bahwa masyarakat menjadi miskin bukan disebabkan karena mereka
tidak memiliki aspek kultural yang dinamis dan kreatif, tapi kerena
mereka dimiskinkan oleh suatu sistem struktural -- di mana mereka tidak
diberi peluang yang sehat dan memadai.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa Islam itu bukan agama kebebasan
(sebagaimana orang-orang JIL menafsirkan). Tapi Islam itu adalah agama
pembebasan yang membebaskan dari ketidakadilan, kemiskinan dan kebodohan
serta pembebasan dari kesewenang-wenangan kekuasaan yang tiran. Dengan
missinya yang membebaskan tersebut, umat Islam diharapkan bisa ‘naik
kelas' posisinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Meskipun
dalam realitas sejarahnya, manusia modern saat ini kerap dihadapkan pada
problematikanya sendiri, di mana umat Islam berada di dalamnya.
Manusia yang asalnya merdeka dengan segala kemerdekaan dan
kebebasannya, yang selalu merasa menjadi pusat dari segala sesuatu,
kini telah diturunkan derajatnya oleh suatu sistem nilai kebudayaan
modern, manusia menjadi tak lebih sebagai bagian dari mesin. Dalam
masyarakat modern manusia tengah menghadapi dan mengalami mekanisasi
kerja. Proses seperti ini menyebabkan manusia kehilangan perspektifnya
(Kuntowijoyo, Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan,
1993).
Manusia di zaman modern ini -- telah terpasung oleh situasi zaman
yang menyertainya. Mereka mengalami keterpasungan dan keterbelengguan
oleh sistem kebudayaan modernitas itu sendiri. Dan ini terjadi pada
bangsa ini yang tengah mengalami fase akhir dari suatu masyarakat
agraris dan fase awal dari sebuah masyarakat industri. Di sini kerap
terjadi benturan antara nilai-nilai lama (Islam dan budaya) di satu
sisi, dan nilai-nilai baru di sisi yang lainnya. Yang pada ujungnya
manusia mengalami kegelisahan dan keterasingan.
Sedangkan pada sisi lainnya, pada bangsa ini pula -- sebagian besar
masyarakatnya tengah mengalami ketidakberdayaan oleh pelbagai sistem
struktural yang menyebabkan tidak memiliki daya tawar yang kuat. Mereka
menjadi masyarakat pinggiran yang terpinggirkan oleh sejarah dan
kekuasaan yang hampir tidak pernah berpihak kepada mereka.
Dari analisis tersebut, sesungguhnya kita menaruh harapan banyak pada
Islam. Tentu saja, di sini Islam mesti ditafsirkan secara cerdas dan
pintar oleh umatnya dengan tetap berpegang teguh pada diktum Islam
(Qur'an dan Sunnah) yang bersifat essensial dan eternal. Sejauhmana
Islam turut andil dalam memberikan perubahan dan pembebasan atas
pelbagai nasib manusia yang terhimpit oleh sistem ketidakadilan baik di
bidang politik, ekonomi, sosial, budaya maupun aspek-aspek lainnya.
Tauhid dan Pembebasan: Sebuah Redefinisi
Istilah Tauhid dalam wacana umat Islam Indonesia kerap disebut
‘tauhid'. Menurut Nurcholish kata-kata tersebut merupakan kata benda
kerja aktif yang secara harfiah mengandung makna ‘menyatukan' dan
‘mengesakan' yang oleh para mutakallim dipahami sebagai upaya untuk
‘me-Maha-Esa-kan Allah'. Yang dengan ini, semangat tauhid akan
memberikan dampak pembebasan dalam hidup dan kehidupan manusia.
Pandangan ini muncul sebagai bagian dari dambaan setiap insan --
khususnya umat Islam terhadap pandangan hidupnya yang mampu membawa
pembebasan dari pelbagai belenggu zaman modern.
Senada dengan pandangan di atas, menurut Amien Rais (1991:13) bahwa
kedudukan tauhid dalam ajaran Islam adalah paling sentral dan esensial.
Formulasi paling pendek dari kalimat tauhid adalah: laa ilaha illa
Allah -- sebuah kalimat dalam bentuk negasi-afirmasi(nafy-itsbat). Di
mana seorang manusia-tauhid hanya memutlakkan Allah Yang Esa sebagai
Khaliq-nya, dan menisbikan selain-Nya sebagai makhluk atau ciptaan-Nya.
Komitmennya kepada Allah adalah total, kukuh, tulus, mencakup cinta dan
pengabdian, dan kemauan yang keras untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Dalam Islam, kalimat tauhid sesungguhnya telah menjadi tauhid
pembebasan bagi umat Islam. Karena dengan kalimat tauhid sesungguhnya
harus meniadakan otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.
Yang menurut Amien, doktrin tauhid Islam sesungguhnya mengemban tugas
untuk melakukan tahrir al-nas min ‘ibadat al-'ibad ila ‘ibadatillah'
(membebaskan manusia dari menyembah sesama manusia kepada menyembah
Allah semata).
Dan hal itu sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Muhammad ‘Athiyah
al-'Ibrasyi (Ruh al-Islamy,Dar Ihya al-Kutub al-'Arabiah, 1969, hal.
172). bahwa, Islam itu merupakan agama pembebasan, persaudaraan dan
persamaan (Al-Islamu dien al-huriyati wa al-ukhuwwti wa
al-musawati....). Yang dalam sejarahnya Islam telah melakukan upaya
liberasi bagi para hamba sahaya untuk dimerdekakan dan diangkat
derajatnya menjadi manusia yang merdeka, sejajar dan terhormat.
Pembebasan Diri dan Pembebasan Sosial
Bahwa keengganan manusia untuk menerima kebenaran antara lain karena
sikap menutup diri dari keengganan untuk mengetahui kebenaran yang
diperkirakan nilainya akan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan oleh
keangkuhan yang sudah membelenggu diri manusia. Belenggu yang dimaksud
tiada lain adalah hawa nafsu atau vested interest (al-hawa). Inilah
sumber pribadi yang selalu menolak kebenaran. Hawa nafsu juga menjadi
sumber pandangan subyektif yang tidak berdasar (Lihat Qs. Al-Jatsiyah:
23).
Doktrin tauhid dalam Islam, menurut Cak Nur, sesungguhnya bisa
memberikan pembebesan diri (self-liberation). Hanya dengan dengan
self-liberation seorang manusia-tauhid akan mampu menangkap kebenaran,
dan hanya dengan menangkap kebenaran itulah seseorang akan bisa
membebaskan dirinya. Inilah sesungguhnya makna yang sangat esensial
dari kalimat tauhid. Di sinilah doktrin tauhid Islam memberikan
pembebesan pribadi, di mana seseorang menjadi merdeka sejati yang hanya
akan melihat setiap yang benar sebagai benar dan yang salah sebagai
salah.
Oleh karena itu, manusia tauhid akan dengan bebas menentukan sendiri
pandangan dan jalan hidupnya menurut pertimbangan akal sehat dan hati
nurani secara jujur tentang apa yang benar dan yang salah, ia tampil
berani dan elegan, penuh percaya diri, jujur dan adil serta memiliki
integritas yang kuat. Karena ia tidak terkungkung oleh keangkuhan
dirinya (lihat Qs. Al-Ma'idah: 8).
Dengan pembebasan diri yang kuat sebagai efek dari tauhid, maka
tauhid dalam Islam pula bisa memberikan efek bagi pembebasan sosial
sebagai kelanjutan dari pembebasan diri-individu. Dalam al-Qur'an
pandangan hidup bertauhid selalu berkaitan dengan penolakan terhadap
‘thagut' yang dipahami sebagai kekuatan sewenang-wenang atau apa-apa
yang melewati batas atau juga sebagai kekuatan tiranik. Yang menurutnya,
kesanggupan seorang pribadi untuk melepaskan diri dari belenggu
kekuatan tiranik -- itu dipahami sebagai efek dari pembebasan sosial
semangat tauhid (Qs. Al-Baqarah: 256).
Singkat kata, Islam sesungguhnya merupakan agama pembebasan bagi
manusia. Karena salah satu misi Islam yang paling besar adalah
melakukan pembebasan. Dalam konteks dunia modern, doktrin tauhid Islam
harus bisa membebaskan manusia dari kungkungan/belenggu pemikiran dan
juga dari sistem-sistem sosial, politik maupun ekonomi maupun
sistem-sistem lainnya yang menyebabkan manusia tidak bisa
mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk yang merdeka dan mulia.
Dengan demikian, bangunan tauhid Islam secara fungsional harus mampu
mentransformasikan setiap individu untuk melakukan upaya liberasi dari
pelbagai kungkungan sistem yang tidak manusiawi. Dan pada saat yang
bersamaan pula bangunan tauhid Islam mendorong kaum Muslimin untuk
menegakkan suatu tatanan sosial yang adil dan etis.
Dalam diktum Alquran, ketimpangan ekonomi, ketidakadilan sosial dan
politik -- ini sesuatu yang sangat dikecam keras (lihat Qs. Al-Ma'un:
1-6 dan Al-Humazah: 1-6). Karena manakala ketimpangan dan ketidakadilan
tersebut dibiarkan, maka bisa mengakibatkan manusia menjadi buta
terhadap nilai-nilai luhur (lihat Qs. Ali- ‘Imran: 14; Yunus: 23).
Internalisasi Tauhid Sebagai upaya Pembebasan
Dalam realitas empirisnya, kita kerap menyaksikan bahwa ada orang
yang rajin shalatnya tapi juga rajin korupsinya, ada yang sudah
berkali-kali melaksanakan ibadah haji tapi rajin pula menindas
rakyatnya. Dalam perspektif ini, orang tersebut sama sekali tidak
bertauhid. Padahal nilai-nilai tauhid itu selalu hadir dalam situasi
dan kondisi apapun.
Untuk itu, upaya membumikan Islam dalam konteks Islam sejarah secara
apa adanya menjadi bagian penting yang mesti diwujudkan. Karena boleh
jadi, doktrin tauhid Islam yang selama ini diyakini dan dipahami
dipandang tidak cukup memberi implikasi pada jiwa-jiwa pribadi muslim.
Di sini, makna tauhid perlu di-internalisasi pada wilayah yang lebih
konkret - sebagai upaya untuk men-substansiasi Islam dalam konteks
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bahkan bernegara. Dengan
pemaknaan tauhid seperti ini diharapkan lebih mencerahkan dan
mencerdaskan. Salah satu kepentingan yang cukup signifikan -- mengapa
tauhid perlu dikedepankan untuk melakukan transformasi dan pembebasan,
baik sosial maupun individual? Karena sebagai doktrin tauhid, bagimana
Islam mampu mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visi Islam
itu sendiri. Sehingga Islam memberikan insight moral bagi masyarakat.
Dengan kata lain, meminjam pernyataan Kuntowijoyo -- tidaklah Islami
misalnya, jika masyarakat muslim bersikap apriori terhadap kondisi
struktural dan kultural masyarakatnya, sementara kita tahu kondisi
tersebut penuh kemunkaran dan kezaliman. Wallahu a'lam bi al shawwab...
sumber : persis.or.id
posted by Adimin
Label:
AQIDAH






