Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
January 21, 2013
[20 Januari 2013 M]
1. حُسْنُ الْقَصْدِ (maksud dan niat yang baik), dan
2. سَلَامَةُ الْخُطُوْاتِ (langkah-langkah yang benar).
posted by Adimin
Point-Point Taujih Syekh Jum’ah Amin
Written By @Adimin on 21 January, 2013 | January 21, 2013
[20 Januari 2013 M]
Alhamdulillah, saya berkesempatan mendengarkan taujih beliau, yang “kebetulan” diajak oleh teman untuk mendengarkannya.
Diantara point-point yang saya catat adalah sebagai berikut:
Pertama:
لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بَتَنْفِيْذِنَا لِلتَّكَالِيْفِ، وَإِنَّمَا بِحُبِّنَا فِيْ تَنْفِيْذِ هَذِهِ التَّكَالِيْفِ
Yang menjadi ibrah (pandangan dan I’tibar) tidaklah terletak pada
pelaksanaan tugas, tetapi, didasarkan pada kecintaan kita kepada
tugas-tugas ini.
Sebab, jika terdapat mahabbah, maka akan terjadi مُضَاعَفَةُ الْجُهُوْدِ (pelipat gandaan daya dan upaya).
Kedua:
Apa yang terjadi di Mesir, kalau kita rujuk kepada khuththah (perencanaan) yang ada, sebenarnya adalah rencana dua puluh tahun ke depan, akan tetapi
لَعَلَّ اللهَ اِطَّلَعَ عَلَى قُلُوْبِنَا، فَطَوَى عِشْرِيْنَ عَامًا فِيْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا
Semoga karena Allah SWT melongok dan melihat hati kami, lalu Allah SWT gulung waktu 20 tahun itu menjadi hanya 18 hari.
Saat hati-hati kami dilihat oleh Allah SWT, semoga yang Allah SWT lihat
adalah keikhlasan, kecintaan, dan kesungguhan kami dalam meraih ridha
Allah SWT, amin.
Ketiga:
Kemenangan itu merupakan minnah (مِنَّةٌ) atau anugerah Allah SWT, namun, untuk mendapatkan minnah itu diperlukan “pancingan-pancingan”, yang diantaranya adalah:
1. Dengan upaya-upaya taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT, melalui ruku’, sujud, dan upaya-upaya taqarrub lainnya.
2. Ukhuwwah dan persatuan diantara sesama kaum muslimin.
3. Adanya daya upaya yang berlipat ganda yang kita lakukan, yang salah
satu rahasia untuk dapat bekerja seperti ini telah disebutkan rahasianya
di point pertama.
Keempat:
Mengutip dari Hasan Al-Banna:
Allah SWT tidak akan menghisab kita atas hasil, akan tetapi yang akan dihisab oleh Allah SWT adalah:
1. حُسْنُ الْقَصْدِ (maksud dan niat yang baik), dan
2. سَلَامَةُ الْخُطُوْاتِ (langkah-langkah yang benar).
posted by Adimin
January 18, 2013
posted by Adimin
Antusias warga kota Padang dalam menyambut safari dakwah DPP PKS
Written By @Adimin on 18 January, 2013 | January 18, 2013
PADANG - Safari Dakwah III DPP PKS yang dilakukan di
Sumatera kemarin mencapai puncaknya di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang,
Sumatera Barat (Rabu, 16/1).
Masyarakat menyambut dengan gegap gempita acara safari dakwah DPP PKS yang dihadiri oleh Presiden PKS Lutfhi Hasan
Ishaaq, apalagi pada acara tersebut disediakan doorprize bagi masyarakat kota Padang dengan hadiah utama Umroh, Sepeda motor, blackberry, dan lain lain. Hadiah umroh diperoleh oleh ibu ibu yang mengikuti acara safari dakwah sementara sepeda motor di peroleh salahsatu mahasiswi di kota Padang.
Meriah bukan main simpati warga kota
Padang saat kedatangan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfhi Hasan
Ishaaq bersama Tim Safari Dakwah III. Ribuan masyarakat berduyun-duyun
menghadiri acara apel 'PKS Siaga Pemilu 2014' dan Tabligh Akbar.
Pada kesempatan itu, Lutfhi Hasan
Ishaaq menyatakan secara nasional PKS sudah memasang target masuk tiga besar
pada Pemilu 2014. Namun untuk Sumatera Barat yang dipimpin oleh kadernya, Irwan
Prayitno, target PKS adalah menjadi partai nomor satu. Sumatera Barat pun
diharapkan menjadi provinsi terbanyak yang menghantarkan kadernya meraih kursi
DPR RI.
"Untuk menjadi partai terbesar
di Sumbar, PKS tidak membutuhkan kepala daerahnya, tetapi PKS membutuhkan
masyarakat Sumbar mendukung PKS agar tidak hanya menjadi partai Islam terbesar,
tetapi partai nomor satu secara nasional," tegas Presiden PKS Luthfi
Hasan Ishaaq.
Pak Luthfi juga menyatakan, Padang
adalah kota istimewa karena menjadi daerah yang pertama kali dikunjungi sejak
PKS ditetapkan menjadi nomor urut tiga pada Pemilu 2014 nanti. Pak Luthfi
mengatakan bahwa saat Safari Dakwah PKS sudah dimulai dan pencabutan nomor
Parpol dilaksanakan beliau balik ke Jakarta dan setelah dapat nomor langsung
terbang lagi ke Padang hanya untuk menemui dan memberitahukan kepada masyarakat
Minang.
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah
Sumatera, ustadz Chairul Anwar, juga memberikan orasinya. Ustadz Chairul
menyebutkan, bagi para kader dan simpatisan PKS jangan mau menjadi pemimpin
yang haus akan popularitas, kekayaan dan juga kepicikan karena semuanya akan
musnah, "ketiganya harus dihindari para kader dan momentum kali ini bagi
PKS di daerah Sumbar sangat luar biasa terutama dalam perolehan suara
terbanyak. Jika berlandaskan kepada Allah kita pasti menang," tegas Ustad
Chairul dihadapan ribuan para kader dan simpatisan PKS.
Hadir dalam acara tersebut kader PKS
yang menjadi pimpinan daerah seperti Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno,
Walikota Payakumbuh Riza Falepi, Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah,
dan sejumlah anggota DPR RI asal Sumatera seperti Hermanto, Refrizal, Ansori
Siregar, dan Muhammad Ghazali. Hadir juga Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan
Satria dan Ketua DPD PKS Padang Muhidi.
posted by Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
January 15, 2013
"PKS yakin masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar
nomor urut partai politik. Masyarakat pasti akan menilai parpol dari
rekam jejak parpol tersebut terutama aspek bersih dari korupsi, komitmen
penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat," ujar Ketua
Fraksi PKS Hidayat Nurwahid, Senin (14/1/2013).
Ketua KPU Husni Kamil Manik mengatakan, berdasarkan undian yang diambil setiap parpol, KPU kemudian menetapkan dalam Surat Keputusan Nomo 06/Kpts/KPU/2013 tentang penetapan nomor urut parpol, diputuskan urutan sepuluh parpol peserta pemilu, yaitu:
1. Partai Nasdem
2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
5. Partai Golongan Karya (Golkar)
6. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
7. Partai Demokrat
8. Partai Amanat Nasional
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
Selain itu, Komite Independen Pemilih (KIP) Aceh juga menetapkan nomor urut partai lokal Aceh. Yang terdiri dari,
11. Partai Damai Aceh (PDA)
12. Partai Nasional Aceh (PNA)
13. Partai Aceh (PA)
Dengan ditetapkannya nomor urut tersebut, parpol secara resmi diperbolehkan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui kampanye di ruang tertutup dan pemasangan atribut partai. (admpyg)
posted by Adimin
PKS nomor urut 3 dalam Pemilu 2014 | Langkah Menuju 3 Besar !!!
Written By @Adimin on 15 January, 2013 | January 15, 2013
Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan nomor urut 3
dalam Pemilu 2014 mendatang. Nomor urut ini pun sesuai dengan apa yang
telah diharapkan. PKS mengincar nomor urut di bawah 5.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan mengundi nomor urut parpol peserta Pemilu 2014 di Kantor KPU Pusat Jakarta, Senin (14/1). Penetapan nomor urut itu dilakukan dengan cara pengundian. Setiap perwakilan partai diberi kesempatan untuk mengambil nomor undian. Pengambilan secarik kertas yang disimpan dalam kotak kaca itu, dilakukan langsung oleh Ketua Umum dan Sekjen setiap parpol.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan mengundi nomor urut parpol peserta Pemilu 2014 di Kantor KPU Pusat Jakarta, Senin (14/1). Penetapan nomor urut itu dilakukan dengan cara pengundian. Setiap perwakilan partai diberi kesempatan untuk mengambil nomor undian. Pengambilan secarik kertas yang disimpan dalam kotak kaca itu, dilakukan langsung oleh Ketua Umum dan Sekjen setiap parpol.
Pengambilan nomor urut PKS dilakukan oleh Presiden PKS Luthfi Hasan
Ishaaq. Luthfi mengambil lintingan kertas dan ketika dibuka ternyata
nomor urut 3.
Pada Pemilu 2009 lalu PKS memperoleh nomor urut 8. Saat itu, PKS
mendapat 57 kursi (10 persen) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR
2009, setelah mendapat sebanyak 8.206.955 suara (7,9 persen) dan menjadi satu-satunya partai selain Demokrat yang mengalami kenaikan jumlah persentase perolehan suara.
Sebelum pengambilan nomor urut, Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid,
menyatakan masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan track
record bersih, bukan sekadar nomor urut.
Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berapapun nomor urut parpol yang
akan dipilih bukan masalah besar. Pasalnya yang terpenting, masyarakat
harus cerdas dalam memilih parpol dengan rekam jejak bersih, bukan
sekadar nomor urut.
Ketua KPU Husni Kamil Manik mengatakan, berdasarkan undian yang diambil setiap parpol, KPU kemudian menetapkan dalam Surat Keputusan Nomo 06/Kpts/KPU/2013 tentang penetapan nomor urut parpol, diputuskan urutan sepuluh parpol peserta pemilu, yaitu:
1. Partai Nasdem
2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
5. Partai Golongan Karya (Golkar)
6. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
7. Partai Demokrat
8. Partai Amanat Nasional
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
Selain itu, Komite Independen Pemilih (KIP) Aceh juga menetapkan nomor urut partai lokal Aceh. Yang terdiri dari,
11. Partai Damai Aceh (PDA)
12. Partai Nasional Aceh (PNA)
13. Partai Aceh (PA)
Dengan ditetapkannya nomor urut tersebut, parpol secara resmi diperbolehkan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui kampanye di ruang tertutup dan pemasangan atribut partai. (admpyg)
posted by Adimin
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
January 14, 2013
Balikpapan-Batuampar, 26 Shafar 1434H
*Ibnu Ismail, Kabid GMPro DPD PKS kota Balikpapan - Kaltim
posted by Adimin
Habis-habisan untuk Dakwah, Ikhwah ini Allah Berikan 'Hadiah'...
Written By @Adimin on 14 January, 2013 | January 14, 2013
Gludak....gluduk... kerompyang….
Beberapa waktu lalu datanglah utusan HAMAS ke Balikpapan, Syaikh Shiyam
dan Syaikh Abdul Azis bersama para pegiat peduli Palestina dari Komite
Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jakarta. Mereka datang dalam
rangka penggalangan dana untuk Palestina. Saat itu sedang terjadi perang
Hijaratus sijjil di bumi Gaza.
Siang itu terik tak terperi. Baling-baling kipas anginku sudah mematung
lantaran dinamonya telah tamat riwayatnya. Mati mendadak beberapa hari
silam terserang stroke hebat karena kebanyakan berputar sementara
terjadi penyumbatan-penyumbatan debu pada celah kumparannya. Kipas angin
itu tak ubahnnya hanya sebuah patung maniken yang tidak laku.
Aku dan isteriku duduk berhadapan sambil bercakap-cakap dalam suasana
rumah panas karena bias matahari yang mengurung rumah kami.
Aku: “Mi… kau tahu kan betapa kalau mendengar Palestina bergetar rasa
tubuhku ini. Mendidih darahku hendak pergi berperang melawan Israel
terlaknat. Tapi tak mungkin pula aku kesana. Paling-paling nanti
ngerepotin tentara HAMAS saja, mereka repot jagain aku karena tak paham
medan. Besok ada penggalangan dana untuk Palestina oleh KNRP. Masih
adakah uang kita?”
Isteriku: “Aih, tak ada uang lagi kita abi, kecuali buat makan 10 hari. Tahu kan ini bulan tua? Belum gajian”.
“Ah iya… kenapa pula bulan, kau ini cepat kali tuanya? Ini KNRP juga
tak pandailah cari momen. Masak menggalang dana bulan-bulan tua begini.
Tak punya almanak kah mereka ini bah? Ah memang kantor aja yang tidak
mau beda dikit. Coba gajian tiap hari aja, tak usah tunggu akhir bulan.”
Menggerutu aku cari kambing hitam. Padahal memang begitulah saban
bulan. Besar pasak daripada tiang.
Isteriku semakin cepat mengibas-ngibaskan potongan kardus aqua yang
dibuatnya kipas angin manual. Keringatnya mulai kering. Akhirnya aku
perintahkan ia untuk mengumpulkan semua uang yang tersisa untuk
disumbangkan ke Palestina dalam penggalangan dana besok. Kecuali hanya
sedikit untuk beli bensin kendaraan. Urusan makan nanti ajalah, Allah
yang atur ujarku. Isteriku yang solehah itu mengangguk saja menurut.
Singkat cerita esoknya ramailah manusia berdesakan menyaksikan konser
amal Opik, Sulis dan Grup Nasyid Shoutul Harokah di hotel Novotel
Balikpapan.
Setiap ada yang menyumbang atau membeli barang lelang amal dalam jumlah
besar, hatiku merinding. Ada yang membeli sorban Opik lima juta. Ada
yang menawar delapan juta. Airmataku bercucuran. Aku demi Allah iri
terhadap mereka. Seolah mereka berlomba memboking kamar di Surga. Aku
tersudut dalam jasad miskin nan papa ini melantunkan potongan ayat
Al-qur’an yang menurutku sangat cocok dengan kondisiku: “...lalu
mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan,
lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infaqan” (QS: At-Taubah :92).
Ketika tiba waktu melelang syal rajutan keluarga Ismail Haniya dan
ditandatangani oleh perdana menteri Hamas itu, suasana tegang. Dibuka
harga dua puluh juta. Lalu naik perlahan-lahan dua puluh delapan juta,
tiga puluh juta, enam puluh juta. Aku hampir pingsan tak berdaya.
Kembali surah at-taubah ayat 92 mengiang-ngiang di telingaku. Akhirnya
syal itu tutup harga tujuh puluh dua juta rupiah. Dibeli oleh sepasang
pengantin muda yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.
Lututku bergetar dan akhirnya jatuh terantuk ke atas lantai. Disusul
jatuhnya airmataku setetes demi setetes. Allah… betapa beruntungnya
orang kaya hari ini. Sungguh tak pernah aku iri kepada seorang kecuali
hari ini. Aku hancur lebur dalam keharuan dan penyesalan. Dadaku
berdegup kencang.
Belum selesai hatiku berdebam-debam dimumumkan pula kalau ada yang
menyumbangkan rumahnya di Samarinda dan ada yang menyumbangkan mobilnya.
Hampir saja aku pingsan. Kering kerontang tenggorokanku. Dehidrasi
menahan dahaga iman yang bergejolak. Sungguh Allah hadirkan aku dalam
suasana iman yang misterius ini dan menyaksikan iman orang berkelebatan
menyambut seruan jihad maali. Aku hanya ternganga menatap
langit-langit gedung. Hanya sanggup memancang niat, andai saja aku punya
sekarung emas, akan ku-infaq-an hari ini untuk jihad Al-Aqsa.
Sudahlah tak sanggup lagi bercerita banyak mengisahkan hari indah itu.
Aku dan isteriku beserta keempat anakku pulang kembali ke rumah.
Tiba di rumah aku kembali dalam suasana panas terik mengepung rumah. Aku
dan isteriku duduk berhadapan. Di samping mayat kipas angin. Isteriku
mengambil kembali potongan kardus untuk menjadi kipas angin manualnya.
Aku: “Umi aku lapar, ayo makan yok!”
Aku sedikit berteriak kepada isteriku yang beranjak sebentar
menghidupkan mesin cuci tua. Dari pagi pakaian itu disitu belum sempat
dicuci.
Isteriku: “Hendak makan apa kita bi? Tak ada beras. Tak ada lagi uang.”
Aku: “Astaghfirullah. Iya ya? Wah bagaimana ini? Kasihan anak-anak belum makan semua lagi.”
Suasana hening. Aku menepuk jidatku sendiri dan menggenggam rambut
berpikir keras cari akal untuk menghadirkan makanan. Aku butuh uang
paling tidak lima puluh ribu rupiah untuk beli beras lima kiloan cap
kura-kura. Supaya bisa hidup sepuluh hari dengan itu. Atau paling tidak
seminggu sampai gajian.
Lama aku terdiam buntu pikiran dan tak karuan rasa. Anak-anak sudah
bergelimpangan di lantai lemas lapar bercampur ngantuk. Tiba-tiba ada
suara gemuruh: “gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang….”
Aku saling bertatapan dengan isteriku. Lalu kami sama-sama berlari
menuju sumber suara. Ternyata berasal dari mesin cuci yang memutar
cucian tidak balance sehingga inner bucket-nya menyentuh housing tidak karuan menghasilkan suara ribut (noise) yang ekstrim.
Isteriku membuka penutup mesin cuci. Demi melihatnya kedalam betapa
terkejutnya kami berdua. Pakaian yang ada semua membentuk lingkaran
menempel pada dinding inner bucket dan membuat pola huruf O. Ini
wajar karena efek sentrifugal akan membuat pakaian itu terlempar ke
radius terluar dinding itu. Namun yang membuat kami terkesima adalah di
bagian tengah lingkaran pakaian itu tepat didasar bucket bercokol sebuah
lembaran kertas kumal berwarna kebiru-biruan.
Subhanallah. Maha suci Allah yang mengirimkan selembar uang lima
puluh ribu rupiah ke dalam mesin cuci kami. Secara spiritual tentu saja
Malaikat lah yang telah diperintahkan Allah untuk mengirim uang itu ke
dalam mesin cuci kami dan mendramatisirnya dengan senandung
“gludak-gluduk kerompyang….”. Tapi secara ilmiah tentu saja ini adalah
lembar uang yang terlupa di kantong celana dan ikut tercuci. Secara
tidak sengaja keluar dari kantong karena efek sentrifugal putaran mesin
cuci. Tapi entah kapan dan di kantong celana yang mana aku tak tahu.
Kami bersorak kegirangan. Aku tancap gas ke mini market membeli beras
cap kura-kura lima kilo. Kami pun hidup bertahan sampai gajian. Meski
hanya dengan lauk kerupuk dan kecap.
Balikpapan-Batuampar, 26 Shafar 1434H
*Ibnu Ismail, Kabid GMPro DPD PKS kota Balikpapan - Kaltim
posted by Adimin
Label:
FAKTA
January 14, 2013
posted by Adimin
PKS: Jangan Lihat Nomor Urut, Tapi Track Record
JAKARTA
(14/1) - Hari ini, 10 partai politik yang telah dinyatakan lolos
sebagai peserta Pemilu 2014 akan mengambil nomor urut parpol sebagai
peserta. Pelaksanaan pengundian akan dilakukan kantor Komisi Pemilihan
Umum (KPU).
Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berapapun nomor urut parpol yang akan dipilih bukan masalah besar. Yang terpenting, masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan track record bersih, bukan sekadar nomor urut.
"PKS yakin masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar nomor urut partai politik. Masyarakat pasti akan menilai parpol dari track record parpol tersebut terutama aspek bersih dari korupsi, komitmen penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat," ujar Ketua bidang Kebijakan publik DPP PKS Hidayat Nurwahid, Senin (14/1/2013).
Oleh karena itu, menurut ketua Fraksi PKS DPR RI ini, PKS merasa nyaman dengan nomor urut berapapun, meski secara pribadi dia berharap PKS mendapat nomor urut di bawah angka lima.
Hidayat juga berharap KPU memberi ruang jika tuntutan partai-partai yang tidak lolos verifikasi dipenuhi pihak-pihak berwenang. PKS sendiri merasa tidak nyaman dengan tidak lolosnya beberapa partai yang merupakan representasi wajah Indonesia sejak dulu. Dia mencontohkan Partai Damai Sejahtera yang ikut meramaikan Pemilu lalu, kini dinyatakan tidak lolos oleh KPU.
"Yang paling kami sesalkan adalah tidak lolosnya partai yg merupakan representasi umat kristiani yaitu PDS," tutur mantan Ketua MPR ini.
Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berapapun nomor urut parpol yang akan dipilih bukan masalah besar. Yang terpenting, masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan track record bersih, bukan sekadar nomor urut.
"PKS yakin masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar nomor urut partai politik. Masyarakat pasti akan menilai parpol dari track record parpol tersebut terutama aspek bersih dari korupsi, komitmen penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat," ujar Ketua bidang Kebijakan publik DPP PKS Hidayat Nurwahid, Senin (14/1/2013).
Oleh karena itu, menurut ketua Fraksi PKS DPR RI ini, PKS merasa nyaman dengan nomor urut berapapun, meski secara pribadi dia berharap PKS mendapat nomor urut di bawah angka lima.
Hidayat juga berharap KPU memberi ruang jika tuntutan partai-partai yang tidak lolos verifikasi dipenuhi pihak-pihak berwenang. PKS sendiri merasa tidak nyaman dengan tidak lolosnya beberapa partai yang merupakan representasi wajah Indonesia sejak dulu. Dia mencontohkan Partai Damai Sejahtera yang ikut meramaikan Pemilu lalu, kini dinyatakan tidak lolos oleh KPU.
"Yang paling kami sesalkan adalah tidak lolosnya partai yg merupakan representasi umat kristiani yaitu PDS," tutur mantan Ketua MPR ini.
Label:
KIPRAH KAMI,
TOPIK PILIHAN
January 14, 2013
Ilmuwan Muslim Pendiri Ilmu Kesetimbangan
Ilmuwan Muslim terpandang di zaman kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini
dikenal sebagai ahli matematika. Menurut JJ O'Connor dan EF Robertson,
matematikus Muslim dari abad ke-9 M itu telah berjasa dalam meletakkan
dasar-dasar matematika modern.
Ia memainkan peran penting dalam penemuan hitungan integral, geometri analitik, dalil trigonometri lingkaran serta konsep angka-angka riil.
“Dalam ilmu mekanik, dia adalah seorang pendiri ilmu statika (ilmu kesetimbangan),” ujar O'Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang biografi sang ilmuwan. Si jenius dari Harran, Mesopotamia (Turki) itu pun menguasai ilmu astronomi. Dalam bidang luar angkasa ini, sejarah mencatatnya sebagai salah seorang pembaharu pertama terhadap sistem ptolemeus.
Sang matematikus Muslim yang berotak encer itu bernama Thabit Ibnu Qurra. Nama lengkapnya Thabit Ibn Qurra Ibn Marwan al-Sabi’al-Harrani. Ia Terlahir pada tahun 836 di Harran, Mesopotamia – sekarang Turki. Awalnya, dia adalah anggota sekte Sabian – kelompok penyembah bintang. Lantaran menuhankan bintang, anggota sekte ini sangat termotivasi untuk mempelajari astronomi.
Pada zamannya, sekte ini telah melahirkan sederet astronom dan matematikus berkualitas. “Sekte ini memiliki hubungan yang kuat dengan Peradaban Yunani, sehingga mengadopsi kebudayaannya,” papar O'Connor dan Robertson. Ketika Islam berkembang makin meluas, sekte Sabian yang awalnya berbahasa Yunani akhirnya berada dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Perlahan namun pasti, anggota sekte Sabian pun mulai memeluk Islam. Mereka pun mulai menggunakan bahasa Arab mengganti bahasa Yunani. Sejumlah dokumen menyebutkan pada usia muda, Thabit berprofesi sebagai pedagang penukaran mata uang. Ini menunjukkan bahwa Thabit berasal dari keluarga berada dan berpengaruh di komunitasnya.
Sejak muda, Thabit dikenal sangat cerdas. Ia menguasai bahasa Arab, Yunani dan Syriac. Suatu hari, seorang ilmuwan terkemuda dari Baghdad Muhammad ibnu Musa ibnu Shakir berkunjung ke Harran. Ia sungguh terkagum-kagum dengan pengetahuan bahasa yang dikuasi Thabit muda. “Sungguh seorang anak muda yang sangat potensial,” cetus Ibnu Musa.
Sang ilmuwan pun kemudian menyarakan agar Thabit hijrah ke Baghdad – kota metropolis intelektual. Ibnu Musa memintanya agar mau belajar matematika pada dirinya dan saudaranya. Tawaran itu tak disia-siakan Thabit. Ia pun hijrah meninggalkan tanah ke lahirannya untuk menimba ilmu matematika dan belajar kedokteran di Baghdad.
Setelah menamatkan pendidikannya, dia sempat kembali ke kota kelahirannya Harran. Sayangnya, dia tak harus berhadapan dengan pengadilan lantaran pemikirannya yang dianggap berbahaya. Guna menghindari hukuman, Thabit pun lari ke Baghdad. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu dia mengaddikan dirinya sebagai astronom istana. Thabit pun berada dalam lindungan Khalifah Al-Mu'tadid – salah seorang khalifah Abasiyah yang terkemuka.
Kemampuan Thabit dalam bahasa Arab dan Yunani dimanfaatkan khalifah. Thabit diminta untuk menerjemahkan teks-teks berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagai ahli matematika, Thabit pun menerjemahkan dan merevisi karya-karya besar yang semat ditulis Peradaban Yunani.
Meski bertugas untuk menerjemahkan karya-karya besar, bukan berarti Thabit hanya menjiplak pengetahuan dari Yunani. Berbekal kecerdasannya, ilmuwan Muslim yang brilian ini justru telah menemukan sederet penemuan yang sangat penting bagi perkembangan ilmu matematika.
Selain itu, Thabit juga berjasa dalam mengembangkan ilmu astronomi. Karya Thabit dalam astronomi yang terkenal berjudul Concerning the Motion of the Eighth Sphere. Selain itu, sang ilmuwan juga mempublikasikan hasil pengamatannya tentang Matahari. Hingga kini, tak kurang dari delapan risalah yang ditulisnya pada abad ke-9 M tentang astronomi masih eksis.
Thabit pun telah memainkan peranan yang sangat penting dalam menjadikan astronomi sebagai ilmu eksak. Ia telah menteorisasi hubungan observasi dan teori, mematematisasi astronomi serta fokus pada pententangan hubungan antara astronomi matematika dengan astronomi fisik.
Ia didapuk sebagai pendiri Ilmu Keseimbangan berkat kitab penting yang ditulisnya bertajuk Kitab fi'l-qarastun (Buku Kesimbangan Balok). Inilah karyanya yang monumental dalam bidang Ilmu Mekanik. Salah satu adikaryanya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard of Cremona. Tak heran, jika karya Thabit itu menjadi sangat populer di dunia Barat. Melalui karyanya itu, Thabit mampu membuktikan asa-sas keseimbangan pengungkit.
Dalam bidang filsafat, Thabit pun banyak melahirkan risalah. Salah satu risalahnya yang masih eksis adalah hasil percakapannya dengan Abu Musa Isa ibnu Usayyid – muridnya yang beragam Kristen. Kepada Thabit Ibnu Usayyid banyak bertanya tentang berbagai hal dan semuanya dijawab Thabit. Risalah percakapan antara Thabit dengan muridnya itu hingga kini masih ada. Risalah itu masih jadi bahan diskusi dan perdebatan.
Meski terpengaruh dengan Plato dan Aristotels, namun Thabit pun kerap mengkritisi ide-ide ilmuwan asal Yunani itu. Thabit banyak mengoreksi pemikiran Plato dan Aristoteles, khususnya mengenai gerakan (motion). Hal itu tampak pada ide-denyanya yang didasarkan pada penerimaan penggunaan pendapat mengenai gerakan dalam argumen-argumen geometrikalnya.
Semasa hidupnya, Thabit juga menulis risalah tentang logika, psikologi, etika, klasifikasi ilmu, tata bahasa Syriac, politik, agama, serta kebudayaan Sabian. Jejaknya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dilanjutkan oleh puteranya, Sinan ibnu Thabit dan cucunya Ibrahim ibnu Sinan ibnu Thabit. Kedua buah hatinya itu juga menjelma sebagai ilmuwan besar yang juga berkontribusi dalam mengembangkan matematika.
Thabit meninggal pada 18 Februari 901 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam beragam ilmu hingga kini masih dikenang. Sosok dan kiprahnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan layak dijadikan contoh oleh generasi muda Muslim di era globalisasi ini. “Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah, Islam akan bangkit dan menguasai dunia,” ungkap Dr Youssef Chebli Phd, ketua World Islamic Mission Association. World Islamic Mission Association.
Ia memainkan peran penting dalam penemuan hitungan integral, geometri analitik, dalil trigonometri lingkaran serta konsep angka-angka riil.
“Dalam ilmu mekanik, dia adalah seorang pendiri ilmu statika (ilmu kesetimbangan),” ujar O'Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang biografi sang ilmuwan. Si jenius dari Harran, Mesopotamia (Turki) itu pun menguasai ilmu astronomi. Dalam bidang luar angkasa ini, sejarah mencatatnya sebagai salah seorang pembaharu pertama terhadap sistem ptolemeus.
Sang matematikus Muslim yang berotak encer itu bernama Thabit Ibnu Qurra. Nama lengkapnya Thabit Ibn Qurra Ibn Marwan al-Sabi’al-Harrani. Ia Terlahir pada tahun 836 di Harran, Mesopotamia – sekarang Turki. Awalnya, dia adalah anggota sekte Sabian – kelompok penyembah bintang. Lantaran menuhankan bintang, anggota sekte ini sangat termotivasi untuk mempelajari astronomi.
Pada zamannya, sekte ini telah melahirkan sederet astronom dan matematikus berkualitas. “Sekte ini memiliki hubungan yang kuat dengan Peradaban Yunani, sehingga mengadopsi kebudayaannya,” papar O'Connor dan Robertson. Ketika Islam berkembang makin meluas, sekte Sabian yang awalnya berbahasa Yunani akhirnya berada dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Perlahan namun pasti, anggota sekte Sabian pun mulai memeluk Islam. Mereka pun mulai menggunakan bahasa Arab mengganti bahasa Yunani. Sejumlah dokumen menyebutkan pada usia muda, Thabit berprofesi sebagai pedagang penukaran mata uang. Ini menunjukkan bahwa Thabit berasal dari keluarga berada dan berpengaruh di komunitasnya.
Sejak muda, Thabit dikenal sangat cerdas. Ia menguasai bahasa Arab, Yunani dan Syriac. Suatu hari, seorang ilmuwan terkemuda dari Baghdad Muhammad ibnu Musa ibnu Shakir berkunjung ke Harran. Ia sungguh terkagum-kagum dengan pengetahuan bahasa yang dikuasi Thabit muda. “Sungguh seorang anak muda yang sangat potensial,” cetus Ibnu Musa.
Sang ilmuwan pun kemudian menyarakan agar Thabit hijrah ke Baghdad – kota metropolis intelektual. Ibnu Musa memintanya agar mau belajar matematika pada dirinya dan saudaranya. Tawaran itu tak disia-siakan Thabit. Ia pun hijrah meninggalkan tanah ke lahirannya untuk menimba ilmu matematika dan belajar kedokteran di Baghdad.
Setelah menamatkan pendidikannya, dia sempat kembali ke kota kelahirannya Harran. Sayangnya, dia tak harus berhadapan dengan pengadilan lantaran pemikirannya yang dianggap berbahaya. Guna menghindari hukuman, Thabit pun lari ke Baghdad. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu dia mengaddikan dirinya sebagai astronom istana. Thabit pun berada dalam lindungan Khalifah Al-Mu'tadid – salah seorang khalifah Abasiyah yang terkemuka.
Kemampuan Thabit dalam bahasa Arab dan Yunani dimanfaatkan khalifah. Thabit diminta untuk menerjemahkan teks-teks berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagai ahli matematika, Thabit pun menerjemahkan dan merevisi karya-karya besar yang semat ditulis Peradaban Yunani.
Meski bertugas untuk menerjemahkan karya-karya besar, bukan berarti Thabit hanya menjiplak pengetahuan dari Yunani. Berbekal kecerdasannya, ilmuwan Muslim yang brilian ini justru telah menemukan sederet penemuan yang sangat penting bagi perkembangan ilmu matematika.
Selain itu, Thabit juga berjasa dalam mengembangkan ilmu astronomi. Karya Thabit dalam astronomi yang terkenal berjudul Concerning the Motion of the Eighth Sphere. Selain itu, sang ilmuwan juga mempublikasikan hasil pengamatannya tentang Matahari. Hingga kini, tak kurang dari delapan risalah yang ditulisnya pada abad ke-9 M tentang astronomi masih eksis.
Thabit pun telah memainkan peranan yang sangat penting dalam menjadikan astronomi sebagai ilmu eksak. Ia telah menteorisasi hubungan observasi dan teori, mematematisasi astronomi serta fokus pada pententangan hubungan antara astronomi matematika dengan astronomi fisik.
Ia didapuk sebagai pendiri Ilmu Keseimbangan berkat kitab penting yang ditulisnya bertajuk Kitab fi'l-qarastun (Buku Kesimbangan Balok). Inilah karyanya yang monumental dalam bidang Ilmu Mekanik. Salah satu adikaryanya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard of Cremona. Tak heran, jika karya Thabit itu menjadi sangat populer di dunia Barat. Melalui karyanya itu, Thabit mampu membuktikan asa-sas keseimbangan pengungkit.
Dalam bidang filsafat, Thabit pun banyak melahirkan risalah. Salah satu risalahnya yang masih eksis adalah hasil percakapannya dengan Abu Musa Isa ibnu Usayyid – muridnya yang beragam Kristen. Kepada Thabit Ibnu Usayyid banyak bertanya tentang berbagai hal dan semuanya dijawab Thabit. Risalah percakapan antara Thabit dengan muridnya itu hingga kini masih ada. Risalah itu masih jadi bahan diskusi dan perdebatan.
Meski terpengaruh dengan Plato dan Aristotels, namun Thabit pun kerap mengkritisi ide-ide ilmuwan asal Yunani itu. Thabit banyak mengoreksi pemikiran Plato dan Aristoteles, khususnya mengenai gerakan (motion). Hal itu tampak pada ide-denyanya yang didasarkan pada penerimaan penggunaan pendapat mengenai gerakan dalam argumen-argumen geometrikalnya.
Semasa hidupnya, Thabit juga menulis risalah tentang logika, psikologi, etika, klasifikasi ilmu, tata bahasa Syriac, politik, agama, serta kebudayaan Sabian. Jejaknya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dilanjutkan oleh puteranya, Sinan ibnu Thabit dan cucunya Ibrahim ibnu Sinan ibnu Thabit. Kedua buah hatinya itu juga menjelma sebagai ilmuwan besar yang juga berkontribusi dalam mengembangkan matematika.
Thabit meninggal pada 18 Februari 901 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam beragam ilmu hingga kini masih dikenang. Sosok dan kiprahnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan layak dijadikan contoh oleh generasi muda Muslim di era globalisasi ini. “Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah, Islam akan bangkit dan menguasai dunia,” ungkap Dr Youssef Chebli Phd, ketua World Islamic Mission Association. World Islamic Mission Association.
sumber : ROL
posted by Adimin
Label:
Ilmu dan Islam
January 11, 2013
Fahri Hamzah di ILC-2
Written By @Adimin on 11 January, 2013 | January 11, 2013
>
posted by Adimin
Label:
VID
January 09, 2013
posted by Adimin
Jadilah Bagian dari Dakwah
Written By @Adimin on 09 January, 2013 | January 09, 2013
Menjadi penolong agama Allah SWT,
bisa dilakukan siapa saja dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang
layak menjadi kader inti,
ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.
Rasulullah saw terkejut, hari itu
ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau
bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal
dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu.
Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele.
Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan
wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.
Kisah ini menunjukkan bahwa
sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah
semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama
Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya.
Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan
tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan
penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan,
tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menangnya
sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat
dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan
pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua
lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah
satu diantara tiga posisi.
1.
Kader
Inti
Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri
untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya
selain untuk menegakkan agama dan
mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter
orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya
hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan
perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam
firmannya
“Dan
diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan
Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).
Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era
Rasulullah saw, kita menemukan sosok Abu
Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang
tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan
Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi
beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”,
tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya
Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang
yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman
“sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau
terbunuh....(QS At Taubah 111).
Dalam ayat lain
Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah
terhadap mereka,
” Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang
telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula
yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al
Ahzab 23)
2.
Kader
Pendukung.
Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya
dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita
temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti.
Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik
dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan
Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan
perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang
didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh
Allah dalam firmannya:
“tidaklah
sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai
udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa
mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah
menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang
berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).
Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin
Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian
Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa
saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian,
penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus
segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw tetap menepati isi perjanjian, beliau
melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali
ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir
menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu
Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan
kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara
struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri
dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok
ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun
dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang
tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa
diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam
ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan
kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah
lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam
struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima
oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak
boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua
kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau
benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar
disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi
keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita
temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan
dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini jelas tak bisa disamakan dengan kader inti,
dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan
istri, demi terjun ke medan dakwah.
Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap
terjun ke medan Tabuk.
3.
Simpatisan.
Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi
simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut
tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil,
tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita
yang biasa mem- bersihkan
masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak
memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.
Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah
segera menurunkan firmannya,
”Dan
bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta
menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al
Kahfi: 28).
Dibanding kader inti dan pendukung
dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari
luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi
Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin
Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar
hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar
peranannya dalam melindungi Rasulullah saw
dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu
peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum
muslimin, khususnya juru dakwah, lebih
lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini.
Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada
perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini
justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada
syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali
kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas
juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader
pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini
harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah
kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas
dalam kaderisasi tetap bisa dijaga
posted by Adimin
Label:
HAROKAH
January 09, 2013
posted by Adimin
ANTARA JIMA DAN ZINA
Secara prilaku fisik, antara jima’ dengan
zina mungkin sama saja. Dan dari segi kepuasan badaniah pun mungkin demikian.
Tapi lantas kenapa ada sebagian orang yang memilih berjima’ sementara yang lain
memilih sebaliknya? Hal itu terkait erat dengan beberapa alasan yang di luar
masalah fisik. Inilah yang akan membedakan dua aktivitas yang serupa tapi tak samaini. Maka, mari kita pertimbangkan beberapa
perbedaan di bawah ini! Sehingga, ketika tiba waktunya, kita tidak salah dalam
memilih…
Ikatan yang Kuat
Menikah adalah syarat mutlak seseorang
melakukan jima’. Sementara zina menolak ikatan semacam ini. Proses pernikahan
tidak mudah dan seseorang harus bersungguh-sungguh untuk menempuhinya. Maka ia
tidak akan sembarangan memutuskan ikatan pernikahan begitu saja.
Sementara itu ikatan dua pezina sangat rapuh.
Di satu saat mereka saling mengatakan, “Aku akan mencintaimu selamanya dan hanya
ajal yang akan memisahkan kita…”. Tapi
sesaat kemudian dengan mudahnya mereka berkata, “Kita putus!”. Seorang wanita tidak akan bisa melakukan
tuntutan apapun terhadap pasangan zinanya jika terjadi hal-hal buruk yang tidak
diinginkan. Karena, “Bukankah kita melakukannya atas dasar suka
sama suka? Dan bukankah kita bukan suami istri?”
Pria Pemberani
Pernikahan hanya dilakukan oleh pria-pria
pemberani, Karena para penakut akan lebih memilih zina. Ingatlah bahwa dalam
pernikahan ada tanggung jawab. Ada tugas menafkahi bagi suami, ada ketaatan
bagi istri. Ditambah lagi merawat anak-anak yang lahir dari hasil hubungan itu.
Para pezina tidak berani seperti itu. Prianya
tidak ingin menafkahi, dan wanitanya tidak ingin merawat anak. Mereka tidak mau
berhubungan baik dengan keluarga pasangannya, karena mereka lebih senang
berduaan dan tidak ingin dipusingkan oleh segala hal yang dianggap merepotkan.
Kesetiaan Cinta
Ketika dua orang memutuskan untuk menikah,
maka mereka siap untuk saling setia. Istri akan menjaga kehormatan suaminya,
dan suami akan menyayangi istri sepenuhnya. Sedang jika seseorang memilih untuk
berzina, maka dia tidak tahu apakah pasangannya setia atau tidak. Dia tidak
akan tahu dengan siapa saja pasangannya pernah berzina, atau dengan siapa dia
akan selingkuh.
Bersih dan Aman
Ketika suami istri saling setia dengan
pasangannya, maka ia telah berperilaku hidup bersih. Ia tidak pernah takut akan
terkena penyakit ini dan itu, penyakit yang sangat ditakuti para pezina. Untuk
siapa kondom diproduksi? Untuk orang-orang yang takut tertulari penyakit ini
dan itu. Takut hubungan badannya “membekas dan meninggalkan jejak”. Karena apa?
Karena, meski rajin merawat tubuh dan rutin ke salon, para pelaku zina tetap
bermain-main di area yang kotor dan mengerikan. Tak ada sakinah—ketenangan dalam hubungan mereka.
Berbagi Kebahagiaan
Ketika dua orang menikah, maka kebahagiaan
tidak hanya dirasakan oleh pelakunya saja. Proses pernikahan dilaksanakan
secara terang-terangan, sehingga menciptakan kebahagiaan pada orang-orang di
sekelilingnya. Bahkan pernikahan seringkali memberikan berkah, membuka pintu
rizki, dan semua orang tersenyum puas atas proses pernikahan itu.
Sementaa itu, zina selalu dilakukan dengan
cara tertutup, sembunyi-sembunyi dan seringkali melahirkan musibah bagi banyak
orang. Orang tua berduka, kawan-kawan mencibir, dan tetangga saling
menggunjing.
Ibadah Paling Indah
Apakah perbedaan “seseorang yang makan
makanan hasil curian” dengan “orang yang ikut perlombaan makan”? Secara fisik
keduanya sama-sama kenyang. Tapi yang satu dicap penjahat, yang lain dapat
hadiah. Demikian pula dengan jima’. Selain mendapatkan kepuasan fisik, dua
orang yang berjima’ akan mendapatkan pahala yang besar tatkala dalam prosesnya
mereka niatkan untuk ibadah kepada Allah.
Adakah ibadah yang lebih indah selain melakukan hubungan semacam itu dengan
niat menggapai ridha Allah kemudian dibalas Allah dengan pahala yang
berlipat-lipat ganda?
Sementara zina, kenikmatannya bersifat semu
karena pelakunya selalu dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Dia akan membawa
beban dosa seumur hidupnya jika tidak mau bertaubat atas perbuatannya. Tidak
perlu menunggu adzab akhirat, pelaku zina akan mendapatkan banyak kemalangan
atas dosa yang telah ia perbuat.
posted by Adimin
Label:
OASE







