pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Point-Point Taujih Syekh Jum’ah Amin

Written By @Adimin on 21 January, 2013 | January 21, 2013



  [20 Januari 2013 M]


Alhamdulillah, saya berkesempatan mendengarkan taujih beliau, yang “kebetulan” diajak oleh teman untuk mendengarkannya.

Diantara point-point yang saya catat adalah sebagai berikut:

Pertama:

لَيْسَتِ الْعِبْرَةُ بَتَنْفِيْذِنَا لِلتَّكَالِيْفِ، وَإِنَّمَا بِحُبِّنَا فِيْ تَنْفِيْذِ هَذِهِ التَّكَالِيْفِ

Yang menjadi ibrah (pandangan dan I’tibar) tidaklah terletak pada pelaksanaan tugas, tetapi, didasarkan pada kecintaan kita kepada tugas-tugas ini.

Sebab, jika terdapat mahabbah, maka akan terjadi مُضَاعَفَةُ الْجُهُوْدِ (pelipat gandaan daya dan upaya).

Kedua:

Apa yang terjadi di Mesir, kalau kita rujuk kepada khuththah (perencanaan) yang ada, sebenarnya adalah rencana dua puluh tahun ke depan, akan tetapi

لَعَلَّ اللهَ اِطَّلَعَ عَلَى قُلُوْبِنَا، فَطَوَى عِشْرِيْنَ عَامًا فِيْ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ يَوْمًا

Semoga karena Allah SWT melongok dan melihat hati kami, lalu Allah SWT gulung waktu 20 tahun itu menjadi hanya 18 hari.

Saat hati-hati kami dilihat oleh Allah SWT, semoga yang Allah SWT lihat adalah keikhlasan, kecintaan, dan kesungguhan kami dalam meraih ridha Allah SWT, amin.

Ketiga:

Kemenangan itu merupakan minnah (مِنَّةٌ) atau anugerah Allah SWT, namun, untuk mendapatkan minnah itu diperlukan “pancingan-pancingan”, yang diantaranya adalah:

1. Dengan upaya-upaya taqarrub (pendekatan) kepada Allah SWT, melalui ruku’, sujud, dan upaya-upaya taqarrub lainnya.

2. Ukhuwwah dan persatuan diantara sesama kaum muslimin.

3. Adanya daya upaya yang berlipat ganda yang kita lakukan, yang salah satu rahasia untuk dapat bekerja seperti ini telah disebutkan rahasianya di point pertama.

Keempat:

Mengutip dari Hasan Al-Banna:

Allah SWT tidak akan menghisab kita atas hasil, akan tetapi yang akan dihisab oleh Allah SWT adalah:

1.       حُسْنُ الْقَصْدِ (maksud dan niat yang baik), dan

2.       سَلَامَةُ الْخُطُوْاتِ (langkah-langkah yang benar).


posted by Adimin

Antusias warga kota Padang dalam menyambut safari dakwah DPP PKS

Written By @Adimin on 18 January, 2013 | January 18, 2013

 

PADANG - Safari  Dakwah III DPP PKS yang dilakukan di Sumatera kemarin mencapai puncaknya di Lapangan Imam Bonjol, Kota Padang, Sumatera Barat (Rabu, 16/1).



Masyarakat menyambut dengan gegap gempita acara safari dakwah DPP PKS yang dihadiri oleh Presiden PKS Lutfhi Hasan Ishaaq, apalagi pada acara tersebut disediakan doorprize bagi masyarakat kota Padang dengan hadiah utama Umroh, Sepeda motor, blackberry, dan lain lain. Hadiah umroh diperoleh oleh ibu ibu yang mengikuti acara safari dakwah sementara sepeda motor di peroleh salahsatu mahasiswi di kota Padang.
 
Meriah bukan main simpati warga kota Padang saat kedatangan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfhi Hasan Ishaaq bersama Tim Safari Dakwah III. Ribuan masyarakat berduyun-duyun menghadiri acara apel 'PKS Siaga Pemilu 2014' dan Tabligh Akbar.



Pada kesempatan itu, Lutfhi Hasan Ishaaq menyatakan secara nasional PKS sudah memasang target masuk tiga besar pada Pemilu 2014. Namun untuk Sumatera Barat yang dipimpin oleh kadernya, Irwan Prayitno, target PKS adalah menjadi partai nomor satu. Sumatera Barat pun diharapkan menjadi provinsi terbanyak yang menghantarkan kadernya meraih kursi DPR RI.



"Untuk menjadi partai terbesar di Sumbar, PKS tidak membutuhkan kepala daerahnya, tetapi PKS membutuhkan masyarakat Sumbar mendukung PKS agar tidak hanya menjadi partai Islam terbesar, tetapi partai nomor satu secara nasional,"  tegas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq.



Pak Luthfi juga menyatakan, Padang adalah kota istimewa karena menjadi daerah yang pertama kali dikunjungi sejak PKS ditetapkan menjadi nomor urut tiga pada Pemilu 2014 nanti. Pak Luthfi mengatakan bahwa saat Safari Dakwah PKS sudah dimulai dan pencabutan nomor Parpol dilaksanakan beliau balik ke Jakarta dan setelah dapat nomor langsung terbang lagi ke Padang hanya untuk menemui dan memberitahukan kepada masyarakat Minang.



Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah Sumatera, ustadz Chairul Anwar, juga memberikan orasinya. Ustadz Chairul menyebutkan, bagi para kader dan simpatisan PKS jangan mau menjadi pemimpin yang haus akan popularitas, kekayaan dan juga kepicikan karena semuanya akan musnah, "ketiganya harus dihindari para kader dan momentum kali ini bagi PKS di daerah Sumbar sangat luar biasa terutama dalam perolehan suara terbanyak. Jika berlandaskan kepada Allah kita pasti menang," tegas Ustad Chairul dihadapan ribuan para kader dan simpatisan PKS.



Hadir dalam acara tersebut kader PKS yang menjadi pimpinan daerah seperti Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Walikota Payakumbuh Riza Falepi, Wakil Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah, dan sejumlah anggota DPR RI asal Sumatera seperti Hermanto, Refrizal, Ansori Siregar, dan Muhammad Ghazali. Hadir juga Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan Satria dan Ketua DPD PKS Padang Muhidi.
 


posted by Adimin

PKS nomor urut 3 dalam Pemilu 2014 | Langkah Menuju 3 Besar !!!

Written By @Adimin on 15 January, 2013 | January 15, 2013


Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mendapatkan nomor urut 3 dalam Pemilu 2014 mendatang. Nomor urut ini pun sesuai dengan apa yang telah diharapkan. PKS mengincar nomor urut di bawah 5.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan mengundi nomor urut parpol peserta Pemilu 2014 di Kantor KPU Pusat Jakarta, Senin (14/1). Penetapan nomor urut itu dilakukan dengan cara pengundian. Setiap perwakilan partai diberi kesempatan untuk mengambil nomor undian. Pengambilan secarik kertas yang disimpan dalam kotak kaca itu, dilakukan langsung oleh Ketua Umum dan Sekjen setiap parpol.
Pengambilan nomor urut PKS dilakukan oleh Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Luthfi mengambil lintingan kertas dan ketika dibuka ternyata nomor urut 3.
Pada Pemilu 2009 lalu PKS memperoleh nomor urut 8. Saat itu, PKS mendapat 57 kursi (10 persen) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009, setelah mendapat sebanyak 8.206.955 suara (7,9 persen) dan menjadi satu-satunya partai selain Demokrat yang mengalami kenaikan jumlah persentase perolehan suara.
Sebelum pengambilan nomor urut, Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid, menyatakan masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan track record bersih, bukan sekadar nomor urut.
Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berapapun nomor urut parpol yang akan dipilih bukan masalah besar. Pasalnya yang terpenting, masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan rekam jejak bersih, bukan sekadar nomor urut.
"PKS yakin masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar nomor urut partai politik. Masyarakat pasti akan menilai parpol dari rekam jejak parpol tersebut terutama aspek bersih dari korupsi, komitmen penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat," ujar Ketua Fraksi PKS Hidayat Nurwahid, Senin (14/1/2013).

Ketua KPU Husni Kamil Manik mengatakan, berdasarkan undian yang diambil setiap parpol, KPU kemudian menetapkan dalam Surat Keputusan Nomo 06/Kpts/KPU/2013 tentang penetapan nomor urut parpol, diputuskan urutan sepuluh parpol peserta pemilu, yaitu:

1. Partai Nasdem
2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
3. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
4. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
5. Partai Golongan Karya (Golkar)
6. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
7. Partai Demokrat
8. Partai Amanat Nasional
9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
10. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)

Selain itu, Komite Independen Pemilih (KIP) Aceh juga menetapkan nomor urut partai lokal Aceh. Yang terdiri dari,

11. Partai Damai Aceh (PDA)
12. Partai Nasional Aceh (PNA)
13. Partai Aceh (PA)

Dengan ditetapkannya nomor urut tersebut, parpol secara resmi diperbolehkan menyosialisasikannya kepada masyarakat melalui kampanye di ruang tertutup dan pemasangan atribut partai. (admpyg)
posted by Adimin

Habis-habisan untuk Dakwah, Ikhwah ini Allah Berikan 'Hadiah'...

Written By @Adimin on 14 January, 2013 | January 14, 2013

 
Gludak....gluduk... kerompyang….
 
Beberapa waktu lalu datanglah utusan HAMAS ke Balikpapan, Syaikh Shiyam dan Syaikh Abdul Azis bersama para pegiat peduli Palestina dari Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Jakarta. Mereka datang dalam rangka penggalangan dana untuk Palestina. Saat itu sedang terjadi perang Hijaratus sijjil di bumi Gaza.

Siang itu terik tak terperi.  Baling-baling kipas anginku sudah mematung lantaran dinamonya telah tamat riwayatnya. Mati mendadak beberapa hari silam terserang stroke hebat karena kebanyakan berputar sementara terjadi penyumbatan-penyumbatan debu pada celah kumparannya. Kipas angin itu tak ubahnnya hanya sebuah patung maniken yang tidak laku.

Aku dan isteriku duduk berhadapan sambil bercakap-cakap dalam suasana rumah panas karena bias matahari yang mengurung rumah kami.

Aku: “Mi… kau tahu kan betapa kalau mendengar Palestina bergetar rasa tubuhku ini. Mendidih darahku hendak pergi berperang melawan Israel terlaknat. Tapi tak mungkin pula aku kesana. Paling-paling nanti ngerepotin tentara HAMAS saja, mereka repot jagain aku karena tak paham medan. Besok ada penggalangan dana untuk Palestina oleh KNRP. Masih adakah uang kita?”

Isteriku: “Aih, tak ada uang lagi kita abi, kecuali buat makan 10 hari. Tahu kan ini bulan tua? Belum gajian”.

“Ah iya… kenapa pula bulan, kau  ini cepat kali tuanya? Ini KNRP juga tak pandailah cari momen. Masak menggalang dana bulan-bulan tua begini. Tak punya almanak kah mereka ini bah? Ah memang kantor aja yang tidak mau beda dikit. Coba gajian tiap hari aja, tak usah tunggu akhir bulan.” Menggerutu aku cari kambing hitam. Padahal memang begitulah saban bulan. Besar pasak daripada tiang.

Isteriku semakin cepat mengibas-ngibaskan potongan kardus aqua yang dibuatnya kipas angin manual. Keringatnya mulai kering. Akhirnya aku perintahkan ia untuk mengumpulkan semua uang yang tersisa untuk disumbangkan ke Palestina dalam penggalangan dana besok. Kecuali hanya sedikit untuk beli bensin kendaraan. Urusan makan nanti ajalah, Allah yang atur ujarku. Isteriku yang solehah itu mengangguk saja menurut. Singkat cerita esoknya ramailah manusia berdesakan menyaksikan konser amal Opik, Sulis dan Grup Nasyid Shoutul Harokah di hotel Novotel Balikpapan.

Setiap ada yang menyumbang atau membeli barang lelang amal dalam jumlah besar, hatiku merinding. Ada yang membeli sorban Opik lima juta. Ada yang menawar delapan juta. Airmataku bercucuran. Aku demi Allah iri terhadap mereka. Seolah mereka berlomba memboking kamar di Surga. Aku tersudut dalam jasad miskin nan papa ini melantunkan potongan ayat Al-qur’an yang menurutku sangat cocok dengan kondisiku: “...lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infaqan” (QS: At-Taubah :92).

Ketika tiba waktu melelang syal rajutan keluarga Ismail Haniya dan ditandatangani oleh perdana menteri Hamas itu, suasana tegang. Dibuka harga dua puluh juta. Lalu naik perlahan-lahan dua puluh delapan juta, tiga puluh juta, enam puluh juta. Aku hampir pingsan tak berdaya. Kembali surah at-taubah ayat 92 mengiang-ngiang di telingaku. Akhirnya syal itu tutup harga tujuh puluh dua juta rupiah. Dibeli oleh sepasang pengantin muda yang tengah menanti kelahiran anak pertama mereka.

Lututku bergetar dan akhirnya jatuh terantuk ke atas lantai. Disusul jatuhnya airmataku setetes demi setetes. Allah… betapa beruntungnya orang kaya hari ini. Sungguh tak pernah aku iri kepada seorang kecuali hari ini. Aku hancur lebur dalam keharuan dan penyesalan. Dadaku berdegup kencang.

Belum selesai hatiku berdebam-debam dimumumkan pula kalau ada yang menyumbangkan rumahnya di Samarinda dan ada yang menyumbangkan mobilnya. Hampir saja aku pingsan. Kering kerontang tenggorokanku. Dehidrasi menahan dahaga iman yang bergejolak. Sungguh Allah hadirkan aku dalam suasana iman yang misterius ini dan menyaksikan iman orang berkelebatan menyambut seruan jihad maali. Aku hanya ternganga menatap langit-langit gedung. Hanya sanggup memancang niat, andai saja aku punya sekarung emas, akan ku-infaq-an hari ini untuk jihad Al-Aqsa.

Sudahlah tak sanggup lagi bercerita banyak mengisahkan hari indah itu. Aku dan isteriku beserta keempat anakku pulang kembali ke rumah.

Tiba di rumah aku kembali dalam suasana panas terik mengepung rumah. Aku dan isteriku duduk berhadapan. Di samping mayat kipas angin. Isteriku mengambil kembali potongan kardus untuk menjadi kipas angin manualnya.

Aku:  “Umi aku lapar, ayo makan yok!”

Aku sedikit berteriak kepada isteriku yang beranjak sebentar menghidupkan mesin cuci tua. Dari pagi pakaian itu disitu belum sempat dicuci.

Isteriku: “Hendak makan apa kita bi? Tak ada beras. Tak ada lagi uang.”

Aku: “Astaghfirullah. Iya ya? Wah bagaimana ini? Kasihan anak-anak belum makan semua lagi.”

Suasana hening. Aku menepuk jidatku sendiri dan menggenggam rambut berpikir keras cari akal untuk menghadirkan makanan. Aku butuh uang paling tidak lima puluh ribu rupiah untuk beli beras lima kiloan cap kura-kura. Supaya bisa hidup sepuluh hari dengan itu. Atau paling tidak seminggu sampai gajian.

Lama aku terdiam buntu pikiran dan tak karuan rasa. Anak-anak sudah bergelimpangan di lantai lemas lapar bercampur ngantuk. Tiba-tiba ada suara gemuruh:  “gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang…. gludak-gluduk kerompyang….”

Aku saling bertatapan dengan isteriku. Lalu kami sama-sama berlari menuju sumber suara. Ternyata berasal dari mesin cuci yang memutar cucian tidak balance sehingga inner bucket-nya menyentuh housing tidak karuan menghasilkan suara ribut (noise) yang ekstrim.

Isteriku membuka penutup mesin cuci. Demi melihatnya kedalam betapa terkejutnya kami berdua. Pakaian yang ada semua membentuk lingkaran menempel pada dinding inner bucket dan membuat pola huruf O. Ini wajar karena efek sentrifugal akan membuat pakaian itu terlempar ke radius terluar dinding itu. Namun yang membuat kami terkesima adalah di bagian tengah lingkaran pakaian itu tepat didasar bucket bercokol sebuah lembaran kertas kumal berwarna kebiru-biruan.

Subhanallah. Maha suci Allah yang mengirimkan selembar uang lima puluh ribu rupiah ke dalam mesin cuci kami. Secara spiritual tentu saja Malaikat lah yang telah diperintahkan Allah untuk mengirim uang itu ke dalam mesin cuci kami dan mendramatisirnya dengan senandung “gludak-gluduk kerompyang….”. Tapi secara ilmiah tentu saja ini adalah lembar uang yang terlupa di kantong celana dan ikut tercuci. Secara tidak sengaja keluar dari kantong karena efek sentrifugal putaran mesin cuci. Tapi entah kapan dan di kantong celana yang mana aku tak tahu.

Kami bersorak kegirangan. Aku tancap gas ke mini market membeli beras cap kura-kura lima kilo. Kami pun hidup bertahan sampai gajian. Meski hanya dengan lauk kerupuk dan kecap.


Balikpapan-Batuampar, 26 Shafar 1434H

*Ibnu Ismail, Kabid GMPro DPD PKS kota Balikpapan - Kaltim

posted by Adimin

PKS: Jangan Lihat Nomor Urut, Tapi Track Record



JAKARTA (14/1) - Hari ini, 10 partai politik yang telah dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2014 akan mengambil nomor urut parpol sebagai peserta. Pelaksanaan pengundian akan dilakukan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), berapapun nomor urut parpol yang akan dipilih bukan masalah besar. Yang terpenting, masyarakat harus cerdas dalam memilih parpol dengan track record bersih, bukan sekadar nomor urut.

"PKS yakin masyarakat nantinya tidak akan bisa dibodohi dengan sekedar nomor urut partai politik. Masyarakat pasti akan menilai parpol dari track record parpol tersebut terutama aspek bersih dari korupsi, komitmen penegakan hukum dan kerja nyata di tengah masyarakat," ujar Ketua bidang Kebijakan publik DPP PKS Hidayat Nurwahid, Senin (14/1/2013).

Oleh karena itu, menurut ketua Fraksi PKS DPR RI ini, PKS merasa nyaman dengan nomor urut berapapun, meski secara pribadi dia berharap PKS mendapat nomor urut di bawah angka lima.

Hidayat juga berharap KPU memberi ruang jika tuntutan partai-partai yang tidak lolos verifikasi dipenuhi pihak-pihak berwenang. PKS sendiri merasa tidak nyaman dengan tidak lolosnya beberapa partai yang merupakan representasi wajah Indonesia sejak dulu. Dia mencontohkan Partai Damai Sejahtera yang ikut meramaikan Pemilu lalu, kini dinyatakan tidak lolos oleh KPU.

"Yang paling kami sesalkan adalah tidak lolosnya partai yg merupakan representasi umat kristiani yaitu PDS," tutur mantan Ketua MPR ini.

posted by Adimin

Ilmuwan Muslim Pendiri Ilmu Kesetimbangan



Ilmuwan Muslim terpandang di zaman kekuasaan Dinasti Abbasiyah ini dikenal sebagai ahli matematika. Menurut JJ O'Connor dan EF Robertson, matematikus Muslim dari abad ke-9 M itu telah berjasa dalam meletakkan dasar-dasar matematika modern.

Ia memainkan peran penting dalam penemuan hitungan integral, geometri analitik, dalil trigonometri lingkaran serta konsep angka-angka riil.

“Dalam ilmu mekanik, dia adalah seorang pendiri ilmu statika (ilmu kesetimbangan),” ujar O'Connor  dan Robertson dalam tulisannya tentang biografi sang ilmuwan.  Si jenius dari Harran, Mesopotamia (Turki) itu pun menguasai ilmu astronomi. Dalam bidang luar angkasa ini,  sejarah mencatatnya sebagai salah seorang pembaharu pertama terhadap sistem ptolemeus.

Sang matematikus Muslim yang berotak encer itu bernama Thabit Ibnu Qurra.  Nama lengkapnya Thabit Ibn Qurra Ibn Marwan al-Sabi’al-Harrani. Ia Terlahir pada tahun 836 di Harran, Mesopotamia – sekarang Turki. Awalnya, dia adalah anggota sekte Sabian – kelompok penyembah bintang.  Lantaran menuhankan bintang, anggota sekte ini sangat termotivasi untuk mempelajari astronomi. 

Pada zamannya, sekte ini telah melahirkan sederet astronom dan matematikus berkualitas. “Sekte ini memiliki hubungan yang kuat dengan Peradaban Yunani, sehingga mengadopsi kebudayaannya,” papar O'Connor dan Robertson. Ketika Islam berkembang makin meluas, sekte Sabian yang awalnya berbahasa Yunani akhirnya berada dalam kekuasaan Dinasti Abbasiyah.

Perlahan namun pasti, anggota sekte Sabian pun mulai memeluk Islam. Mereka pun mulai menggunakan bahasa Arab mengganti bahasa Yunani.  Sejumlah dokumen menyebutkan pada usia muda, Thabit berprofesi sebagai pedagang penukaran mata uang. Ini menunjukkan bahwa Thabit berasal dari keluarga berada dan berpengaruh di komunitasnya.

Sejak muda, Thabit dikenal sangat cerdas. Ia menguasai bahasa Arab, Yunani dan Syriac. Suatu hari, seorang ilmuwan terkemuda dari Baghdad Muhammad ibnu Musa ibnu Shakir berkunjung ke Harran. Ia sungguh terkagum-kagum dengan pengetahuan bahasa yang dikuasi Thabit muda. “Sungguh seorang anak muda yang sangat potensial,” cetus  Ibnu Musa.

Sang ilmuwan pun kemudian menyarakan agar Thabit hijrah ke Baghdad – kota metropolis intelektual.  Ibnu Musa memintanya agar mau belajar matematika pada dirinya dan saudaranya. Tawaran itu tak disia-siakan Thabit. Ia pun hijrah meninggalkan tanah ke lahirannya untuk menimba ilmu matematika dan belajar kedokteran di Baghdad.

Setelah menamatkan pendidikannya, dia sempat kembali ke kota kelahirannya Harran. Sayangnya, dia tak harus berhadapan dengan pengadilan lantaran pemikirannya yang dianggap berbahaya. Guna menghindari hukuman, Thabit pun lari ke Baghdad. Di pusat pemerintahan Abbasiyah itu dia mengaddikan dirinya sebagai astronom istana. Thabit pun berada dalam lindungan Khalifah Al-Mu'tadid – salah seorang khalifah Abasiyah yang terkemuka.

Kemampuan Thabit dalam bahasa Arab dan Yunani dimanfaatkan khalifah. Thabit diminta untuk menerjemahkan teks-teks berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Sebagai ahli matematika, Thabit pun menerjemahkan dan merevisi  karya-karya besar yang semat ditulis Peradaban Yunani.

Meski bertugas untuk menerjemahkan karya-karya besar, bukan berarti  Thabit hanya menjiplak pengetahuan dari Yunani.  Berbekal kecerdasannya, ilmuwan Muslim yang brilian ini justru telah menemukan sederet  penemuan yang sangat penting bagi perkembangan ilmu  matematika.

Selain itu,  Thabit juga berjasa dalam mengembangkan ilmu astronomi.  Karya Thabit dalam astronomi yang terkenal berjudul Concerning the Motion of the Eighth Sphere. Selain itu, sang ilmuwan juga mempublikasikan hasil pengamatannya tentang Matahari. Hingga kini, tak kurang dari delapan risalah yang ditulisnya pada abad ke-9 M tentang astronomi masih eksis.

Thabit pun  telah memainkan peranan yang sangat penting  dalam menjadikan astronomi sebagai ilmu eksak. Ia telah menteorisasi hubungan observasi dan teori, mematematisasi astronomi serta fokus pada pententangan hubungan antara astronomi matematika dengan astronomi fisik.

Ia didapuk sebagai pendiri Ilmu Keseimbangan berkat kitab penting yang ditulisnya bertajuk Kitab fi'l-qarastun (Buku Kesimbangan Balok). Inilah karyanya yang monumental dalam bidang Ilmu Mekanik. Salah satu adikaryanya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gherard of Cremona. Tak heran, jika karya Thabit itu menjadi sangat populer di dunia Barat. Melalui karyanya itu, Thabit mampu membuktikan asa-sas keseimbangan pengungkit.

Dalam bidang filsafat, Thabit pun banyak melahirkan risalah. Salah satu risalahnya yang masih eksis adalah hasil percakapannya dengan Abu Musa Isa ibnu Usayyid – muridnya yang beragam Kristen. Kepada Thabit Ibnu Usayyid banyak bertanya tentang berbagai hal dan semuanya dijawab Thabit. Risalah percakapan antara Thabit dengan muridnya itu hingga  kini masih ada. Risalah itu masih jadi bahan diskusi dan perdebatan.

Meski terpengaruh dengan Plato dan Aristotels, namun Thabit pun kerap mengkritisi ide-ide ilmuwan asal Yunani itu.  Thabit banyak mengoreksi pemikiran Plato dan Aristoteles, khususnya mengenai gerakan (motion). Hal itu tampak pada ide-denyanya yang didasarkan pada  penerimaan penggunaan pendapat mengenai gerakan dalam argumen-argumen geometrikalnya.

Semasa hidupnya, Thabit juga menulis risalah tentang logika,  psikologi, etika, klasifikasi ilmu, tata bahasa Syriac, politik, agama, serta kebudayaan  Sabian.  Jejaknya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dilanjutkan oleh  puteranya,  Sinan ibnu Thabit dan cucunya  Ibrahim ibnu Sinan ibnu Thabit. Kedua buah hatinya itu juga menjelma sebagai ilmuwan besar yang juga berkontribusi dalam mengembangkan matematika.

Thabit meninggal pada 18 Februari 901 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam beragam ilmu hingga kini masih dikenang.  Sosok dan kiprahnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan layak dijadikan contoh oleh generasi muda Muslim di era globalisasi ini.  “Hanya dengan menguasai ilmu pengetahuanlah, Islam akan bangkit dan menguasai dunia,”  ungkap Dr Youssef Chebli Phd, ketua World Islamic Mission Association. World Islamic Mission Association.
 

sumber : ROL
 
posted by Adimin

Fahri Hamzah di ILC-2

Written By @Adimin on 11 January, 2013 | January 11, 2013

> posted by Adimin

Fahri Hamzah di ILC

> posted by Adimin

Fahri Hamzah di DPR

posted by Adimin

Jadilah Bagian dari Dakwah

Written By @Adimin on 09 January, 2013 | January 09, 2013


 
Menjadi penolong agama Allah SWT, bisa dilakukan siapa saja dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.

Rasulullah saw terkejut, hari itu ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu. Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele. Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan, tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menangnya sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah satu diantara tiga posisi.

1.   Kader Inti

Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya selain untuk menegakkan agama dan mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam firmannya

Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).

Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era Rasulullah saw, kita menemukan  sosok Abu Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”, tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman

sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh....(QS At Taubah 111).

Dalam ayat lain Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah terhadap mereka,

Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka  ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)


2.   Kader Pendukung.

Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti. Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:


tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).

Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian, penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw  tetap menepati isi perjanjian, beliau melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun  dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini  jelas tak bisa disamakan dengan kader inti, dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan istri, demi terjun  ke medan dakwah. Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap terjun ke medan Tabuk. 


3.   Simpatisan.

Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil, tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita yang biasa mem- bersihkan masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.

Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw  mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah segera menurunkan firmannya,

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al Kahfi: 28).

Dibanding kader inti dan pendukung dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar peranannya dalam melindungi Rasulullah saw  dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum muslimin, khususnya juru dakwah, lebih lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini. Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas dalam kaderisasi tetap bisa dijaga
 

posted by Adimin

ANTARA JIMA DAN ZINA






Secara prilaku fisik, antara jima’ dengan zina mungkin sama saja. Dan dari segi kepuasan badaniah pun mungkin demikian. Tapi lantas kenapa ada sebagian orang yang memilih berjima’ sementara yang lain memilih sebaliknya? Hal itu terkait erat dengan beberapa alasan yang di luar masalah fisik. Inilah yang akan membedakan dua aktivitas yang serupa tapi tak samaini. Maka, mari kita pertimbangkan beberapa perbedaan di bawah ini! Sehingga, ketika tiba waktunya, kita tidak salah dalam memilih…

Ikatan yang Kuat

Menikah adalah syarat mutlak seseorang melakukan jima’. Sementara zina menolak ikatan semacam ini. Proses pernikahan tidak mudah dan seseorang harus bersungguh-sungguh untuk menempuhinya. Maka ia tidak akan sembarangan memutuskan ikatan pernikahan begitu saja.
Sementara itu ikatan dua pezina sangat rapuh. Di satu saat mereka saling mengatakan, “Aku akan mencintaimu selamanya dan hanya ajal yang akan memisahkan kita…”. Tapi sesaat kemudian dengan mudahnya mereka berkata, “Kita putus!”. Seorang wanita tidak akan bisa melakukan tuntutan apapun terhadap pasangan zinanya jika terjadi hal-hal buruk yang tidak diinginkan. Karena, “Bukankah kita melakukannya atas dasar suka sama suka? Dan bukankah kita bukan suami istri?”


Pria Pemberani

Pernikahan hanya dilakukan oleh pria-pria pemberani, Karena para penakut akan lebih memilih zina. Ingatlah bahwa dalam pernikahan ada tanggung jawab. Ada tugas menafkahi bagi suami, ada ketaatan bagi istri. Ditambah lagi merawat anak-anak yang lahir dari hasil hubungan itu.
Para pezina tidak berani seperti itu. Prianya tidak ingin menafkahi, dan wanitanya tidak ingin merawat anak. Mereka tidak mau berhubungan baik dengan keluarga pasangannya, karena mereka lebih senang berduaan dan tidak ingin dipusingkan oleh segala hal yang dianggap merepotkan.


Kesetiaan Cinta

Ketika dua orang memutuskan untuk menikah, maka mereka siap untuk saling setia. Istri akan menjaga kehormatan suaminya, dan suami akan menyayangi istri sepenuhnya. Sedang jika seseorang memilih untuk berzina, maka dia tidak tahu apakah pasangannya setia atau tidak. Dia tidak akan tahu dengan siapa saja pasangannya pernah berzina, atau dengan siapa dia  akan selingkuh.

Bersih dan Aman

Ketika suami istri saling setia dengan pasangannya, maka ia telah berperilaku hidup bersih. Ia tidak pernah takut akan terkena penyakit ini dan itu, penyakit yang sangat ditakuti para pezina. Untuk siapa kondom diproduksi? Untuk orang-orang yang takut tertulari penyakit ini dan itu. Takut hubungan badannya “membekas dan meninggalkan jejak”. Karena apa? Karena, meski rajin merawat tubuh dan rutin ke salon, para pelaku zina tetap bermain-main di area yang kotor dan mengerikan. Tak ada sakinah—ketenangan dalam hubungan mereka.


Berbagi Kebahagiaan

Ketika dua orang menikah, maka kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh pelakunya saja. Proses pernikahan dilaksanakan secara terang-terangan, sehingga menciptakan kebahagiaan pada orang-orang di sekelilingnya. Bahkan pernikahan seringkali memberikan berkah, membuka pintu rizki, dan semua orang tersenyum puas atas proses pernikahan itu.
Sementaa itu, zina selalu dilakukan dengan cara tertutup, sembunyi-sembunyi dan seringkali melahirkan musibah bagi banyak orang. Orang tua berduka, kawan-kawan mencibir, dan tetangga saling menggunjing.


Ibadah Paling Indah

Apakah perbedaan “seseorang yang makan makanan hasil curian” dengan “orang yang ikut perlombaan makan”? Secara fisik keduanya sama-sama kenyang. Tapi yang satu dicap penjahat, yang lain dapat hadiah. Demikian pula dengan jima’. Selain mendapatkan kepuasan fisik, dua orang yang berjima’ akan mendapatkan pahala yang besar tatkala dalam prosesnya mereka niatkan untuk ibadah kepada Allah.

Adakah ibadah yang lebih indah selain melakukan hubungan semacam itu dengan niat menggapai ridha Allah kemudian dibalas Allah dengan pahala yang berlipat-lipat ganda?

Sementara zina, kenikmatannya bersifat semu karena pelakunya selalu dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Dia akan membawa beban dosa seumur hidupnya jika tidak mau bertaubat atas perbuatannya. Tidak perlu menunggu adzab akhirat, pelaku zina akan mendapatkan banyak kemalangan atas dosa yang telah ia perbuat.
 


posted by Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger