pic

Powered by Blogger.

Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi

Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...

Search This Blog

Latest Post

Melalui 'SILAGNAS', PKS Kokohkan Visi Dakwah Parlemen

Written By Anonymous on 21 September, 2014 | September 21, 2014


JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengokohkan visi dakwah parlemen kepada seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) seluruh Indonesia. Sebagai partai berazas Islam, anggota legislatif (DPR dan DPRD) PKS diharapkan mampu menjalankan fungsi kedewanan sebagai alat untuk menyampaikan dakwah bagi kebaikan dan mencegah kerusakan bagi umat dan bangsa Indonesia (amar ma’ruf, nahyi munkar).

Untuk itulah PKS menggelar acara Silaturahim Anggota Legislatif Nasional (SILAGNAS) yang akan dihadiri lebih dari seribu anggota DPR/D dari total 1.217 kader PKS yang duduk di lembaga legislatif mulai tingkat DPR (40 anggota), DPRD tingkat I (160 anggota) dan DPRD tingkat 2 (1.017 anggota).

Sekretaris Bidang Kebijakan Publik (BKP) DPP PKS Abdul Hakim menyatakan, seluruh anggota dewan akan mendapatkan penguatan visi dakwah parlemen dari pimpinan partai seperti Ketua Majelis Syuro PKS KH. Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS Untung Wahono, Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) PKS KH. Surahman Hidayat dan juga Presiden PKS Anis Matta.

Dakwah parlemen, menurut Abdul Hakim, bisa mendatangkan kebaikan yang besar karena perjuangan di lembaga legislatif akan memengaruhi kehidupan rakyat secara langsung, baik di nasional maupun daerah.

“Cara yang kita gunakan sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dakwah dengan hikmah, kebijaksanaan, mauizhoh hasanah dan juga wajadilhum billati hiya ahsan, seperti diskusi lewat fakta dan data yang kuat,” ujar Hakim yang juga Sekretaris Fraksi PKS DPR RI ini.

Kegiatan Silagnas diselenggarakan selama dua hari, Sabtu-Minggu (20-21 September 2014), di Hotel Sahid, Jakarta dan akan dibuka secara resmi pada Sabtu siang oleh pimpinan BKP DPP PKS.

“Pada penutupan acara besok sore (21/9), seluruh peserta akan menandatangani Pakta Integritas anggota legislatif PKS untuk bekerja keras demi kepentingan rakyat dan menjauhi hal-hal yang tidak pantas dan melanggar hukum agama maupun hukum negara,” pungkas Abdul Hakim. [pks.or.id]

posted by @Adimin

Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin

Written By Sjam Deddy on 20 September, 2014 | September 20, 2014



Pertama : Niat Ikhlas.
 
Seorang pemimpin dalam memegang jabatannya itu harus diniatkan semata-mata hanya untuk menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ia akan memperoleh yang dijanjikan Allah kepadanya, jika melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik. Karena setiap amal tergantung niat pelakunya, dan keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada niatnya dalam memegang kepemimpinan itu; apakah untuk memperkaya diri atau semata-mata Lillahi Ta'ala.
Kedua : Pemimpin Harus Dari Kaum Laki-Laki.
Seorang wanita tidak boleh diangkat menjadi pemimpin, baik untuk komunitas tertentu, skala kecil, apalagi untuk masyarakat yang lebih luas. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوا أَمْرَهُمْ اِمْرَأََةٌ.

"Tidak akan berjaya suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang wanita".[1]


Salah satu hikmahnya, karena wanita memiliki beberapa kelemahan dan kondisi yang dapat menghalanginya untuk melaksanakan tugas. Wanita memiliki akal dan fisik yang lemah, serta tidak terlepas dari kondisi tertentu, misalnya haidh, nifas, melahirkan, menyusui, dan lain-lain.

Ketiga : Tidak Meminta Jabatan.
Secara syar'i, meminta jabatan adalah dilarang kecuali dalam kondisi tertentu. Seseorang yang menginginkan suatu jabatan dan berusaha dengan sungguh untuk mendapatkan jabatan atau kedudukan terhormat dalam pemerintahan, kemungkinan besar ia akan mengorbankan agamanya demi mencapai keinginannya itu. Dia pun rela melakukan apa saja, meskipun merupakan perbuatan maksiat demi mendapatkan atau untuk mempertahankan kedudukan yang telah ia raih. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita meminta jabatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan, betapa berat tanggung-jawab jabatan tersebut pada hari Kiamat nanti. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ.

"Kalian selalu berambisi untuk menjadi penguasa, padahal akan membuat kalian menyesal pada hari Kiamat kelak. Sungguh hal itu (ibarat) sebaik-baik susuan dan sejelek-jelek penyapihan" [2]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan seorang sahabatnya yang bernama Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu akan bahayanya memegang sebuah jabatan pemerintahan serta berat dan besarnya tanggung jawab yang akan dipikul. Beliau bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ.

"Ya Abu Dzar, aku lihat engkau seorang yang lemah dan aku suka engkau mendapatkan sesuatu yang aku sendiri menyukainya. Janganlah engkau memimpin dua orang dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim".[3]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada 'Abdur-Rahmân bin Samurah Radhiyallahu 'anhu.

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بن سمرة لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا. وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ.

Ya 'Abdur-Rahmân, janganlah engkau meminta jabatan pemerintahan. Apabila jabatan itu diberikan kepadamu dikarenakan engkau memintanya, maka jabatan itu sepenuhnya akan dibebankan kepadamu. Namun apabila jabatan itu diberikan bukan karena permintaanmu, maka engkau akan dibantu dalam mengembannya. Jika engkau bersumpah atas suatu perkara, setelah itu engkau melihat ada yang lebih baik dari sumpahmu, maka tunaikan kafaratnya dan lakukan apa yang lebih baik".[4]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menolak pemintaan salah seorang sahabat yang datang meminta agar diberi sebuah jabatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّا- والله- لَا نُوَلِّي هَذَا الأمرَ أحدًا سَأَلَهُ وَلَا أحدًا حَرَصَ عَلَيْهِ.

"Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya." [5]

Alasan penolakan ini, karena setiap orang yang berambisi tentu berani melakukan apa saja demi mendapat jabatan atau demi mempertahankannya. Oleh karena itu, selayaknya jangan berambisi dan berusaha untuk mendapatkan jabatan pemerintahan. Sebab hal itu dapat menghalangi taufiq Allah Azza wa Jalla, sehingga sepenuhnya akan dibebankan kepadanya. Sikap ambisius akan mendorongnya berbuat aniaya dan dosa besar demi mendapatkan dan mempertahankannya. Namun, bila jabatan itu diberikan kepada orang yang tidak menginginkannya bahkan tidak menyukainya, maka Allah akan memberinya taufiq dan akan membantunya dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Sebagian orang berdalih bolehnya meminta jabatan dengan mendasarkan kepada kisah Nabi Yûsuf Alaihissallam yang meminta kedudukan kepada Raja Mesir, sebagaimana diceritakan oleh Allah:

"Yusuf berkata: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir)". [Yûsuf/12:55].

Untuk membantah dalih di atas, berikut ini kami nukilkan bantahan dari Syikh 'Abdul-Malik ar- Ramadhani dalam kitab Madârikun-Nazhar: "Padahal sebenarnya beliau meminta jabatan itu setelah memperoleh kesaksian dari Allah, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". [Yûsuf /12:55].

Ahli sastra Arab dapat membedakan antara kata al-hâfîzh (dalam arti orang yang bisa menjaga) dengan kata al-hâfîzh (dalam arti orang yang pandai menjaga). Begitu juga kata al-'Âlîm (orang yang mengetahui) dengan kata al-'Âlîm (orang yang sangat mengetahui).Perhatikan benar-benar perbedaan ini, karena merupakan salah satu rahasia Al-Qur`ânul-Hakim!

Sungguh mengherankan melihat segelintir orang yang mempersilakan dirinya menerima jabatan-jabatan politik -meski sistem parlemen tersebut kafir dan keji- lantas menjadikan perbuatan Nabi Yûsuf Alaihissallam tadi sebagai alasannya. Mereka lupa bahwa Nabi Yûsuf Alaihissallam tidak pernah meminta jabatan, akan tetapi penguasalah yang menawarkan jabatan kepadanya. Tawaran itupun baru diterima setelah sang penguasa memberikan jaminan keamanan dan kebebasan, tanpa ada pemaksaan, penyingkiran, pemecatan, jebakan, tawar-menawar dan tuntutan-tuntutan!

Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan kisah Nabi Yûsuf tersebut:

"Dan Raja berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku," maka tatkala Raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". [Yûsuf/12:54-55].

Sedangkan para aktifis politik dewasa ini hanya mengandalkan keimanan dan terlalu percaya diri. Sehingga setan datang melukiskan khayal, seolah-olah mereka adalah orang yang kuat dalam memegang kebenaran. Padahal hakikatnya mereka telah melebur dalam undang-undang produksi manusia. Wallahul-Musta'an. Adapun Nabi Yûsuf Alaihissallam, ia sama sekali tidak mengorbankan agamanya demi kepentingan politik. Nabi Yûsuf Alaihissallam tidak mengerahkan kemampuan dalam berpolitik secara syar'i, dan tidak menerapkan undang-undang rajanya yang kafir itu dengan mengatasnamakan kepentingan dakwah. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya:

"Tiadalah patut Yûsuf menghukum saudaranya menurut undang-undang Raja, kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui". [Yûsuf/12:76].[7]

Anggaplah alasan-alasan mereka itu kita terima, maka kita bantah dengan kaidah Ushul Fiqih: "Syariat sebelum kita tidak lagi menjadi syariat bagi kita, jika bertentangan dengan syariat kita". Dalam masalah ini perbuatan Nabi Yûsuf Alaihissallam itu bertentangan dengan syariat kita. Karena kita dilarang meminta jabatan, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Abdur-Rahmân bin Samurah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: "Wahai Abdur-Rahmân, janganlah meminta jabatan. Jika engkau diberi jabatan karena memintanya, niscaya engkau akan dibebani. Jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong dalam melaksanakannya". Muttafaqun 'alaihi.

Kita bantah pula, sesungguhnya Nabi Yûsuf Alaihissallam telah mendapat rekomendasi dari Allah, dan beliau Alaihissallamhanya melaksanakan yang diperintahkan Allah. Artinya, seluruh manusia pasti terkena hukum: "Karena, jika engkau diberi jabatan karena memintanya, niscaya engkau akan dibebani" kecuali orang-orang yang dijaga oleh wahyu sehingga bisa terhindar dari kesalahan.

Adapun orang-orang berlagak pintar itu tunduk kepada undang-undang yang sedang atau akan berlaku. Bahkan sebelum menduduki jabatan, mereka harus bersumpah untuk menjunjung tinggi konstitusi yang berlaku. Begitulah kenyataannya! Kita tidak pernah melihat kenyataan selain itu. Sungguh aneh orang yang ingin menyingkirkan kekufuran dengan membawa kekufuran baru.

Secara singkat, dalam hal ini dapat kita simpulkan lima jawaban.
1. Nabi Yûsuf Alaihissallam tidak meminta jabatan, namun hanya ditawari, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Adapun perkataan "jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir)", ini merupakan penjelasan tentang spesialisasi yang beliau miliki dan pilihan secara pribadi.

2. Nabi Yûsuf Alaihissallam terhindar dari tekanan Raja dan dapat melaksanakan syariat Islam secara baik. Dua hal ini mustahil dapat diterapkan pada undang-undang sekuler sekarang ini.

3. Nabi Yûsuf Alaihissallam mendapat rekomendasi dari Allah karena kedudukan beliau selaku rasul. Beliau terhindar dari gangguan-gangguan yang bisa menimpa orang lain.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin: Bahwa Amirul-Mukminin 'Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu 'anhu mengangkat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menjadi Gubernur Bahrain. Lalu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu pulang dengan membawa uang sebesar 10.000 dinar. Maka Umarpun berkata kepadanya: "Hai musuh Allah dan kitab-Nya, apakah engkau telah mengumpulkan kekayaan sebanyak ini?"
Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menjawab: "Aku bukan musuh Allah dan kitab-Nya, akan tetapi aku musuh terhadap orang yang memusuhi Allah dan kitab-Nya!
"Lalu dari mana harta sebanyak itu?" selidik Umar.
"Dari ternak kuda-kudaku beranak pinak, dari hasil bumiku, dan dari hadiah yang datang terus-menerus," jawab Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. Merekapun menyelidikinya dan mendapati kebenaran pengakuan Abu Hurairah Radhiyalahu 'anhu tadi.

Setelah itu 'Umar Radhiyallahu 'anhu memanggilnya kembali untuk diserahi jabatan, namun Abu Hurairah menolaknya. Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: "Apakah engkau tidak suka pekerjaan ini, padahal orang yang lebih baik daripadamu menerima tawaran seperti ini, yakni Nabi Yûsuf Alaihissallam?!"

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu menjawab: "Yûsuf Alaihissallam adalah seorang nabi, putera seorang nabi, dan cucu seorang nabi. Sedangkan aku, hanyalah Abu Hurairah putera Umaimah. Aku takut terhadap tiga kesulitan sebagai akibat dari dua perkara".

"Mengapa tidak engkau katakan lima perkara saja!" sergah Umar Radhiyallahu 'anhu.

Jawab Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu "Saya takut berkata tanpa ilmu dan memutuskan perkara tanpa belas kasih, akibatnya aku dipukul, hartaku dirampas dan kehormatanku dicemarkan!"[8]

4. Syariat sebelum kita bukanlah syariat bagi kita bila bertentangan dengan syariat kita. Dalam masalah ini meminta jabatan seperti yang dilakukan Nabi Yûsuf Alaihissallam bertentangan dengan syariat kita.

5. Nabi Yûsuf Alaihissallam menduduki jabatannya untuk menjalankan misi kerasulan. Sekiranya ada yang boleh mengikuti perbuatan Nabi Yûsuf Alaihissallam tersebut, maka ia harus seorang pewaris nabi, yaitu ulama mujtahid.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata: "Jika tindakan semacam itu dibenarkan, maka seorang alim boleh merekomendasikan dirinya untuk menempati kedudukan yang sesuai dengan kapasitasnya sebagai ulama. Hal itu termasuk menceritakan nikmat-nikmat Allah kepadanya sebagai ungkapan rasa syukur terhadap nikmat yang telah dianugerahkan itu" [9]. Wallahu a'lam.

Keempat : Berhukum dengan Hukum Allah.
Ini merupakan kewajiban terbesar yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan penguasa. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah". [al-Mâ`idah/5:49].

Memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan seorang pemimpin. Jika ternyata ia menyimpang dari hukum Allah, maka ia bukanlah orang yang pantas untuk mengemban jabatan itu.

Kelima : Menjatuhkan Hukum Secara Adil Diantara Manusia.
Ini juga termasuk kewajiban terbesar yang harus diemban oleh seorang penguasa. Allah Subhanhu wa Ta'ala berfirman:

"Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan". [Shâd/38:26].

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"...dan (menyuruh kamu) agar senantiasa bersikap apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil .." [an-Nisâ`/4:58].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا.

"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, pada hari Kiamat kelak, ia berada di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla yang Maha pengasih. Kedua tangan Allah sebelah kanan. (Mimbar tersebut) diberikan untuk orang yang bersikap adil dalam berhukum mereka, keluarga mereka, dan yang mereka kuasai" [10]

Oleh karena itu, seorang pemimpin wajib bersikap adil terhadap rakyatnya dan memberikan perlakuan yang sama di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"... Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..." [al-Mâ`idah/5:8].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَمْيرٍ عَشَرَةٍ إِلَّا وَهُوَ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَغْلُولًا حَتَّى يَفُكَّهُ العَدْلُ أَوْ يُوْبِقَهُ الجورِ.

"Tidaklah seorang lelaki memimpin sepuluh orang, kecuali ia akan didatangkan dalam keadaan tangan yang terbelenggu pada hari Kiamat. Kebaikan yang ia lakukan akan melepaskannya dari ikatan, atau dosanya akan membuat dirinya celaka" [11].

Keenam : Siap Memenuhi Kebutuhan Rakyat dan Mendengar Keluhannya.
Seorang pemimpin harus membuka pintunya untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat, mendengarkan pengaduan orang-orang yang teraniaya dan keluhan mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ إِمَامٍ أَوْ وَالٍ يُغْلِقُ بَابَهُ دُونَ ذَوِي الْحَاجَةِ وَالْخَلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ إِلَّا أَغْلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَبْوَابَ السَّمَاءِ دُونَ خَلَّتِهِ وَ حَاجَتِهِ وَمَسْكَنَتِهِ.

"Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan, keperluan serta orang-orang fakir, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan dan hajatnya" [12]

Hadits ini merupakan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap pemimpin yang menutup pintu dari rakyat yang dipimpinnya.

Ketujuh : Memberi Nasihat Kepada Rakyatnya dan Tidak Mengkhianatinya.
Seorang pemimpin harus selalu memberi nasihat yang baik kepada rakyatnya tentang segala perkara berkaitan dengan urusan dunia maupun agama. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ.

"Tak seorang pemimpinpun yang mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian ia tidak pernah letih dari mengayomi dan menasihati mereka, kecuali pemimpin itu akan masuk ke dalam surga bersama mereka" [13].

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ.

"Tidaklah seorang hamba yang mendapat amanah dari Allah untuk mengayomi rakyat, lantas ia meninggal pada hari meninggalnya dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah telah haramkan surga baginya". [14]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.

"Dari Tamim ad-Daari, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Diin (agama) itu adalah nasihat," kami bertanya: "Untuk siapa?" Beliau menjawab: "Untuk Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya".[15]

Masyarakat juga harus memberikan nasihat kepada pemimpin dan tetap mentaatinya, selama mereka tidak disuruh kepada perkara yang dilarang Allah. Jangan sampai mereka melepaskan diri dari ketaatan dan melakukan pemberontakan walau bagaimanapun buruknya penguasa itu. Kecuali bila terlihat kekufuran yang nyata, dan ada dalil yang jelas tentang pengkafiran tersebut dari Allah.

Kedelapan : Pemimpin Jangan Menerima Hadiah.
Jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin, hampir bisa dipastikan, dibalik itu mereka ingin agar sang pemimpin dekat dengannya dan menyukai dirinya. Maka seorang pemimpin janganlah menerima hadiah-hadiah semacam ini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الهَدِيَّةُ إِلَى الإِمَامِ غَلُوْلٌ

"Hadiah yang diberikan kepada seorang pemimpin adalah pengkhianatan" [6].

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

هَدَايَا العُمَّالِ غَلُوْلٌ

"Hadiah-hadiah yang diberikan kepada penguasa adalah pengkhianatan".[17]

Demikian juga, semua orang yang bertugas melayani urusan kaum muslimin, ia tidak boleh menerima hadiah dan jangan ada sedikitpun yang disembunyikannya. Berapapun hadiah yang diterimanya, harus ia serahkan kepada pemerintah. Jangan ada sedikitpun yang dijadikan sebagai milik pribadi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمْنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

"Barang siapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk mempimpin lalu ia menyembunyikan satu jarum atau lebih, maka pada hari Kiamat nanti ia akan datang membawanya" [18]

Salah seorang gubernur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ada yang berkata: "Yang ini untuk kalian dan yang ini dihadiahkan untukku," lantas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَمَا بَالُ الْعَامِلِ نَسْتَعْمِلُهُ فَيَأْتِينَا فَيَقُولُ هَذَا مِنْ عَمَلِكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي أَفَلَا قَعَدَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَنَظَرَ هَلْ يُهْدَى لَهُ أَمْ لَا.

"Amma ba'du, mengapa pejabat yang kami angkat berkata: "Yang ini dari hasil pekerjaan kalian, sementara yang ini khusus dihadiahkan untukku?" Mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, lalu ia tunggu, apakah masih ada orang yang mau memberikan hadiah untuknya ataukah tidak?" [19]

Kesembilan : Seorang Pemimpin Harus Mengambil Penasihat dari Kalangan Orang-Orang Shâlih.
Seorang pemimpin harus mengambil penasihat dari kalangan orang-orang shâlih yang mampu mengingatkannya saat ia lupa, dan membantunya saat teringat, selalu mengawasinya agar bersikap baik dan berlaku adil, memberinya nasihat dan pengarahan, serta mendorongnya untuk berbuat baik dan menjaga ketakwaan. Dengan cara ini, maka semua urusan pasti lurus.

Adapun penasihat yang buruk, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Karena mereka tidak dapat membantu untuk berbuat kebajikan, bahkan akan membantu setan untuk menggelincirkan si pemimpin. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ وَلَا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى.

"Tidak ada nabi yang Allah utus, dan tidak pula ada seorang pemimpin yang Dia angkat, kecuali mereka mempunyai dua jenis teman dekat. Teman yang menyuruhnya untuk berbuat baik serta selalu membantunya dalam berbuat baik, dan teman yang menyuruhnya berbuat untuk jahat serta selalu mendorongnya untuk melakukan tindak kejahatan. Orang yang selamat, ialah orang yang memang dijaga Allah Subhanahu wa Ta'ala" [20].

Kesepuluh : Seorang Pemimpin Harus Bersikap Ramah Terhadap Rakyat.
Sebagaimana dikatakan para ulama salaf, seorang pemimpin harus bersikap sebagai anak terhadap orang-orang tua, sebagai saudara untuk yang sebaya, dan sebagai orang tua terhadap anak-anak. Ia harus bersikap lembut, ramah serta menyayangi mereka, dan tidak membebaninya dengan urusan yang tidak mereka sanggupi. Dengan sikap ini, sebagai pemimpin, ia berhak mendapat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Ya Allah, bagi siapa yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyulitkan mereka, maka timpakanlah kesulitan kepadanya. Dan barang siapa yang menjadi penguasa umatku, lalu ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia.". [21]

Kesebelas : Jujur Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum Muslimin.
Dalam hal ini, seorang pemimpin harus membantu ahli sunnah serta membasmi ahli bid'ah dan pelaku kerusakan, mengibarkan panji amr ma'ruf nahi mungkar serta panji-panji jihad fi sabilillah, berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan, agama, harta kaum muslimin dan lain-lain.

Ia juga harus mengevaluasi kinerja para pejabat dan pegawainya secara kontinyu, memperhatikan cara mereka menjalankan tugas, dan sikap mereka terhadap rakyat. Ia juga harus memilih jalan terbaik dalam menyelesaikan semua problem masyarakat. Para bawahan juga diharuskan memberi laporan-laporan secara jujur dan rinci mengenai tugas yang telah dilakukan. Sesungguhnya ia akan mempertangungjawabkan semua tugas dan kewajibannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

posted by @Adimin

Karena LHI Adalah PKS



Mereka menghukum Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tanpa hati dan rasa, hanya karena beliau adalah salah satu petinggi dari PKS. Padahal sudah sangat jelas kesaksian demi kesaksian yang menyatakan bahwa Ustadz LHI tidak bersalah, tidak pernah menerima satu sen pun uang dari Fathonah. Dan ini juga telah banyak dikemukakan oleh para pengamat hukum dan politik yang profesional, bukan yang amatiran alias abal-abal. Bahwa tak ada satu pun pasal pidana korupsi yang telah dilanggar oleh Ustadz LHI.

Namun, hukum di negeri ini menutup mata, menutup nurani dari fakta dan kebenaran yang tersajikan secara kasat mata serta tak terbantahkan di depan persidangan. Tampaknya KPK punya dendam kesumat terhadap Ustadz LHI (baca : PKS). Begitupun dengan MA yang tak jelas kemana arah dan tujuannya, ikut-ikutan "latah" memvonis Ustadz LHI dan PKS...!!!

Sangat berbeda perlakuan yang mereka tunjukkan dan mainkan terhadap beberapa terpidana kasus korupsi lainnya. Contoh yang paling anyar dan menyakitkan adalah vonis yang dijatuhkan kepada Gubernur Banten (Ratu Atut Chosyiah) beserta adiknya Wawan. Padahal sudah jelas sekali melakukan suap kepada Ketua MK, Akil Muchtar dengan membawa barang bukti uang 2 Miliar didalam koper.

Namun vonis yang mereka terima sangatlah ringan dan jauh dari rasa keadilan. Alangkah sadis dan bobroknya hukum di negeri ini. Keadilan bisa mereka permainkan dan perjual-belikan seenak perutnya. Tak peduli terhadap apapun juga. Yang penting mereka senang, kenyang dan terbang bersama bintang-bintang ketidakjujuran.

Ya...beginilah potret buram hukum di negeriku tercinta. Bahwa hukum memang tak pernah memberikan ruang kepada mereka yang dibenci. Bahwa hukum memang bukan teman sejati mereka yang berbudi. Hukum hanya tunduk kepada mereka yang berpundi.

Dan, Ustadz LHI adalah salah satu bukti. Akan tetapi bukan semata-mata karena beliau secara pribadi, namun lebih dari itu. Karena beliau adalah lokomotif dari sebuah gerbong da'wah yang sedang melaju kencang membawa berjuta mimpi dan harapan untuk Indonesia, yaitu Partai Keadilan Sejahtera...!!! Namun mimpi dan harapan itu banyak yang tidak suka, sehingga harus dimatikan "kuncupnya sebelum dia berkembang".(*)

Oleh: Ria Dahlia


posted by @Adimin

DPR : Pastikan Jamaah Haji Mendapat Tempat Yang Layak

Written By Sjam Deddy on 19 September, 2014 | September 19, 2014

 

Jakarta - Komisi VIII DPR RI meminta Kementerian Agama (Kemenag) untuk memastikan jamaah haji di Madinah mendapat tempat yang layak. Hal itu menyusul adanya sembilanMajmuah (penyedia akomodasi dari pihak Arab Saudi) melakukan wanprestasi atau ingkar janji.

Wakil Ketua Komisi VIII Ledia Hanifa Amaliah mengatakan, hal mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah menyediakan pemondokan yang layak dan berada di area markaziah bagi jamaah. “Pastikan jamaah mendapat tempat yang layak, secepatnya,” katanya kepada ROL, Rabu (17/9).

Ledia mengatakan, pihak DPR beberapa kali mengingatkan tentang kemungkinan terjadinya hal tersebut. Beberapa persoalan yang biasanya terjadi di Madinah salah satunya adalah pemondokan. Kejadian ini, kata dia, harusnya bisa diantisipasi dilakukan sejak awal.

Menurutnya, dengan adanya kejadian ini jamaah kembali dirugikan. Kemenag harus mengevaluasimajmuah yang tidak komitmen dalam menjalankan kesepakatan. Kalau perlu mem-black list mereka sehingga tahun depan majmuah tersebut tak lagi diajak kerjasama.

Tetapi, kata dia, hal itu baru bisa dilakukan tahun depan. Yang terpenting saat ini adalah memberi pelayanan yang semaksimal mungkin kepada jamaah haji. “Yang mendesak sekarang penyediaan tempat untuk para jamaah,” ujarnya.

posted by @Adimin

Tidur Yang Indah



Pergilah ke tempat tidur, agar Anda bias beristirahat untuk melakukan aktifitas baru. Sebelum tidur, duduklah sejenak sekitar sepuluh menit bersama jiwamu untuk bermuhasabah atas kegagalan dalam melakukan ketaatan, atau karena dosa yang dilakukan.

Ahnaf bin Qais mendekati sebuah lentera pada suatu malam, lalu ia meletakkan jarinya diatasnya, nyaris tangannya terbakar. Lalu ia berkata kepada dirinya: “Rasakan, rasakan. Kemudian ia berkata: “Wahai jiwa, dosa apakah yangsudah kau perbuat hari ini, apa yang menjadikanmu berbuat seperti itu hari ini”.

Setelah Anda mengevaluasi diri atas kelalaian dan dosa yang dilakukan hari itu, perbaharuilah taubat dengan Allah. Tidurlah dalam kondisi taubat, bertekadlah kuat untuk tidak mengulanginya lagi.

Pelajaran itu bukan dari banyaknya Anda jatuh ke tanah. Namun berapa banyak Anda bisa bangkit lagi.

Perbaharuilah taubatmu. Ingatlah kalimat ini setiap malam; “Bila Anda wafat maka Anda akan wafat dalam keadaan bertaubat. Bila Anda bangun dan menjemput hari baru, Anda gembira karena ajal yang ditunda sehingga Anda dapat memperbanyak kebaikan dan mengakui kesalahan.”

Tidur seperti inilah yang paling bermanfaat bagi seorang hamba. Apalagi bila diikuti dengan zikrullah dan sebagian sunah nabi. Seperti riwayat yang bersumber dari Jabir bin Abdillah secara marfu’, sesungguhnyaRasulullah tidak tidur hingga membacasurat Sajadah dan Surat Al Mulk.


posted by @Adimin

Mari Bersama-sama Mengamalkan Wasiat ini

Written By Sjam Deddy on 18 September, 2014 | September 18, 2014



Biasakan Dzikrullah Sepanjang Hari.

Berkata Abu Hamzah Al Baghdadi: “Sesuatu yang mustahil bila engkau mencintai Allah kemudian tidak mengingat- Nya, mustahil kau mengingat Allah namun tidak merasakan kenikmatanberzikir, mustahil pula engkau merasakan kenikmatan berzikir kemudian disibukkan dengan selain-Nya.”

Firman Allah:
“Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An- Nisaa: 103)

Perbanyak Istighfar Siang Dan Malam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin bergembira melihat catatan amalnya, maka perbanyaklah istighfar. (Hadits Shahih)

Dalam sabda yang lain:
“Barangsiapa yang memohonkan ampun kepada kaum muslimin dan muslimat maka Allah akan menuliskan setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan.”

Allah berfirman:
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10 )

Baca Al Qur’an dengan Kehadiran Hati

Abdullah Bin Mas’ud berkata:
“Janganlah membaca Al Qur’an seperti membaca syair atau puisi, namun renungkanlah setiap keajaibannya dan gerakkanlah hatimu. Jangan jadikan tujuanmu membaca hanya akhir surat”.

Allah berfirman:
“Bacalah Al Qur’an dengan tartil ( perlahanlahan) ( QS. Al Muzamil: 4 )

Hadir di Masjid Sebelum Adzan

Sofyan Bin Uyainah telah berkata kepada Anda, “Janganlah seperti hamba yang buruk , dia tidak datang kecuali bila dipanggil, datangilah shalat sebelum adzan.

Firman Allah:
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103 )

Evaluasi Amal yang Telah Dilakukan

Hasan Al Bashri berkata kepadamu,
“Instrospeksilah dirimu ketika malam menjelang, lihatlah dosa apa yang telah engkau perbuat, bertaubatlah kepada Allah, tidaklah seseorang meninggalkan qiyamullail kecuali karena dosa yang belum ditaubatinya”

Firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( QS. Al Hasyr: 18 )

Perbanyaklah Sedekah
Adalah Syaikhul Islam Abu Mu’tamar At Taimy tidak berlalu sejenak kecuali ia sudah bersedekah meski dengan sedikit hartanya, bila ia tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan maka ia akan mengerjakan shalat dua rekaat karena Allah.
“Berinfaklah dari rezeki kalian.” (QS. Al- Munafiqun: 10 )

Enyahkan Kata “Nanti”

Karena Anda tidak dapat menjamin hidup hingga esok hari, jika Anda masih hidup esok, mungkin ada halangan yang merintangimu untuk melakukan kebaikan.

Seseorang berkata kepada Umar Bin Abdul Aziz ketika melihat raut wajahnya tersirat kelelahan beraktifitas, “Tunda saja sisa pekerjaanmu hingga esok,”

Umar Bin Abdul Aziz kemudian berkata, “Pekerjaan satu hari saja sudah menyibukkanku, bagaimana lagi bila berkumpul dalam dua hari”
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi.” (QS. Al Kahfi: 23 )

Tidaklah penting berapa kali Anda terjatuh dalam dosa, namun yang lebih penting adalah berapa kali Anda bertaubat dan berusaha meninggalkan dosa. 

Oleh karena itu Abul Jauza memberi kabar gembira kepada kita seraya berkata:
“Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa hingga ia menyesali perbuatannya itu hingga ia dimasukkan ke dalam surga. Kemudian syaithan berkata: “ Celakalah aku, seandainya aku tidak menjerumuskannya kedalam dosa,

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (QS. Az Zumar: 53)


posted by @Adimin

Karena ALLAH Mencintaimu


Ketahuilah bahwa apa yang Anda baca merupakan hujah bagi Anda, atas dasar bacaan yang Anda baca. Allah telah berfirman:

“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” ( QS. Az Zumar: 9 )

Tanyakanlah kepada diri Anda sendiri mengapa Allah memilih Anda, dan bukan orang lain untuk membaca. Tak diragukan lagi karena Allah mencintai Anda. Dia menghendaki kebaikan kepada Andadan menghendaki Anda untuk membaca.

Beramallah, Anda akan mendapat balasan, Anda akan masuk syurga.

Berkata Yahya Bin Muadz, “Perkataan itu baik, namun yang lebih baik dari sekedar kata adalah maknanya, yang lebih baik dari maknanya adalah praktiknya, yang lebih baik dari praktik adalah balasannya, yang lebih baik dari balasan adalah keridhaan Allah yang karenanya kamu beramal”.

Jangan lupa Anda membeli buku kecil ini untuk Anda hadiahkan kepada tetangga, kawan atau untuk Anda sumbangkan ke perpustakaan masjid. Bukan merupakan sifat orang pemurah yang menahan memberi kebaikan kepada tetangga.

Perjanjian

“Aku berjanji kepada Allah, akan menempuh jalan yang diridhai-Nya dengan segenap kemampuanku, hingga aku ridha surga menjadi gantinya. Aku akan bersabar dengan syahwat dunia untuk aku nikmati kelak di akherat. Aku rela lapar hari ini untuk kenyak hari esok, dan aku akan menjadikan hari-hari yang terbilang di bulan Ramadhan ini sebagai titik tolak menuju surga Firdaus yang tinggi, dan lompatanku menuju surga untuk menjadi tetangga para Nabi, para sahabat dan syahid,”

Inilah janjiku kepada Rabb-ku, aku berjanji tak akan ingkar dan menunda selama aku hidup. Sungguh Allah Dialah sebaik-baik penolong dan Maha Pengabul doa. Ya Allah janganlah Engkau lupakan aku dengan janji ini, dan ingatkan aku bila terlupa. Tetapkan aku dalam nikmat hidayah, dan bersegera dalam amal kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, yang Engkau berikan kepadaku di bulan Ramadhan”.

Sebuah Ajakan

Wahai orang yang sekian lama menghilang
Wahai orang yang bertambah jauh dari Allah
Wahai orang yang bergumul dengan dosa
Padahal hari kiamat kian mendekat
Wahai orang yang panjang angan
Wahai orang yang buruk perbuatan
Wahai orang yang manis ucapan namun buruk perbuatan
Wahai orang yang menyia-nyiakan usia, padahal itu yang paling berharga
Wahai orang yang tenggelam dalam dunia, di sanalah berawal dan di sanalah berakhir kiamat

Mari berjanji bersama kepada Allah, dan jangan kita ingkari

Saling mengingatkan, selalu dalam kebaikan dan kesabaran


posted by @Adimin

HNW: PKS Tetap Solid Dukung RUU Pilkada

Written By Sjam Deddy on 16 September, 2014 | September 16, 2014



JAKARTA - Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) menegaskan partainya tetap solid dan tidak ada anggota yang menentang Rancangan Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada).

RUU Pilkada menyebutkan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

"PKS akan tetap solid dalam konteks formal," kata Hidayat saat dijumpai di kompleks Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat (12/9/2014).

Terkait Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail yang tidak setuju dengan RUU Pilkada, ia mengatakan hal tersebut merupakan pendapat pribadi dan orang yang bersangkutan memahami konstitusi bahwa yang membuat undang-undang adalah DPR.

"Bahwa orang, pribadi punya wacana boleh saja. Tapi setiap orang pasti akan punya keputusan dan kader akan melaksanakan keputusan," katanya.

Anggota Komisi I DPR RI itu mengatakan adalah misinformasi bila pendapat Nur Mahmudi disebut sebagai penentangan terhadap partai.

Menurut Hidayat, anggota DPRD adalah wakil yang dipilih sendiri oleh rakyat sehingga seharusnya rakyat percaya dengan wakil yang telah dipilihnya.

Ia juga membantah dengan dipilih oleh DPRD akan menutup kemungkinan keberadaan tokoh independen untuk maju ke pemilihan kepala daerah.

"Tetap terbuka, dicalonkan oleh anggota DPRD melalui parpol atau mereka mencalonkan diri kemudian didukung parpol, semuanya serba terbuka," katanya.

Ia juga menjelaskan akan melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk memaksimalkan pengawasan agar tidak terjadi korupsi di DPRD.

Bila kandidat terbukti melakukan politik uang, lanjutnya, ia akan didiskualifikasi, termasuk ketika ia sudah terpilih menjadi bupati atau gubernur.

Selain itu, ia juga mengatakan pemilihan kepala daerah oleh DPRD menghemat anggaran belanja negara sehingga dapat dipakai untuk program nasiona
l.

posted by @Adimin

Sumbar Terima Penghargaan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Written By Sjam Deddy on 15 September, 2014 | September 15, 2014



Provinsi Sumatera Barat mendapat penghargaan atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2013 dengan capaian standar tertinggi dalam akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah .
 
Penghargaan  diserahkan langsung Wakil Presiden Budiono kepada Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, pada pembukaan acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Tahun 2014, di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, di Jakarta, Jumat lalu.

Gubernur Irwan Prayitno di sela-sela kegiatanny menyampaikan, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja semua komponen di pemerintahan, DPRD, dan masyarakat.

“Kita berharap dengan simbol kebanggaan penghargaan ini mampu membangunan sinergitas yang lebih baik lagi di masa-masa mendatang,” urainya.

Penghargaan ini juga diharapkan mampu memotivasi semuanya untuk berkerja lebih keras dan sungguh-sungguh dalam upaya memajukan penyelenggaraan dan pembangunan yang lebih baik lagi di Sumbar dari waktu ke waktu.

posted by @Adimin

Mahfudz: Penuntasan Kasus Munir Tanggung Jawab Pemerintah

Written By Anonymous on 11 September, 2014 | September 11, 2014


Komisi I DPR menilai penuntasan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib merupakan persoalan konstitusi. Karena itu, pemerintah bertanggung jawab untuk menuntaskannya.

"Karena Konstitusi menjamin hak hidup setiap warga negara, Negara tidak bisa memiliki keabsahan menggunakan kekerasan," ujar Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/9/2014).

Kata dia, yang terpenting pemerintah Indonesia harus memiliki keinginan kuat untuk mau menyelesaikan persoalan hukum terhadap kematian Munir itu.

"Kalau Pemerintah sekarang tidak bisa, diselesaikan pemerintah yang akan datang. Siapapun pemerintahan berkuasa (harus menyelesaikan kasus hukum Munir), baik Pak SBY dan Jokowi, dan saya berharap DPR sebagai alat kontrol," tuntasnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat John Kerry ikut bersuara terkait 10 tahun kematian Munir. Namun, politikus PKS itu tak mau ambil pusing terkait pernyataan yang disampaikan Kerry terhadap persoalan hukum kematian Munir.

"Kalau Amerika kan biasa, ketika memposisikan global corp atau polisi dunia, mereka melakukan hal itu," ucapnya. [pks.or.id]


posted by @Adimin

Membangun #DesaOtonom | by @Fahrihamzah

Written By Anonymous on 10 September, 2014 | September 10, 2014




Tweet @Fahrihamzah
Senin, (8/9/2014)


Sekarang sudah ada otonomi tingkat 3 yaitu desa. #DesaOtonom adalah mimpi kita semua.

Dengan berlakunya UU No. 06/2014 tentang Desa maka mimpi #DesaOtonom akan segera terwujud.

Upaya DPR membangun #DesaOtonom dengan mendengar aspirasi rakyat desa bukan mudah dan lancar.

Otonomi, sebagai kosa kata baru Pasca reformasi adalah perjuangan kita semua. #DesaOtonom

Muncullah konsep #OtonomiDaerah yang ditandai oleh lahirnya berbagai aturan yg aspiratif.#DesaOtonom

Maksud regulasi baru itu adalah mengalihkan semua dominasi pusat yang tidak perlu ke daerah.#DesaOtonom

Muncullah pula 2 tingkat daerah otonomi. Tingkat 1 di propinsi dan tingkat dua di kabupaten/kota.#DesaOtonom

Sekarang sudah muncul otonomi tingkat 3 yang berbasis di desa. #DesaOtonom

Sebetulnya, otonomi tingkat 3 ini lebih awal lahir dalam perspektif pemilihan kepala desa. #DesaOtonom

Maka fondasi bagi demokrasi kita sebagai sistem pemilihan sudah cukup kuat selama ini. #DesaOtonom

Sebetulnya yang belum kuat adalah pembagian kewenangan pada tingkat yang lebih besar, Bupati/Walikota dan Gubernur. #DesaOtonom

Karena itulah UU pemerintahan daerah direvisi untuk memperkuat sistem kerja antara tiga tingkatan otonomi. #DesaOtonom

Dalam kerangka itulah pemerintah SBY - BOEDIONO juga ingin melakukan moratorium pada pilkada langsung. #DesaOtonom

Hal ini dianggap penting karena sistem ini tidak saja melahirkan otonomi korupsi tetapi konflik yang meluas.#DesaOtonom

Memang banyak yang protes karena pilkada juga sumber kehidupan bagi banyak pihak. #DesaOtonom

Tapi demi mendengar Suara publik yang paling bawah maka proposal pemerintah perlu didukung.#DesaOtonom

Kita perlu mendengar keinginan agar otonomi kita produktif. Bukan konflik tapi pembagian peran.#DesaOtonom

Memang tak ada lagi survey dan konsultan politik...tapi banyak penghematan yang bisa dibuat.#DesaOtonom

Jika nanti sudah tertata kembali. .Maka kita bisa atur pemilih langsung yg lebih murah dan sehat.#DesaOtonom

Terutama bagi desa. Karena nanti daerah otonomi 1 dan 2 hanya facilitator bagi pembangunan desa.#DesaOtonom

Indonesia terdiri dari 73.000-an #DesaOtonom. Merekalah tujuan dari pembangunan itu. Pilkada dan pemda harus amankan itu.

Semoga sukses...biar bupati/Walikota dan gubernur gak perlu korupsi untuk biaya kampanye di tv nasional...#DesaOtonom

Semoga sukses membangun #DesaOtonom. ...tks.


posted by @Adimin

Pesan

More on this category »

Popular Post

 
Support : Creating Web | PKS Padang | Mas Temp
Copyright © 2011. PKS KOTA PADANG - All Rights Reserved
Template Created by PKS Padang Published by Mas Temp
Proudly powered by Blogger