Powered by Blogger.
Humas PKS Ikuti Worshop Jurnalistik Pada Rapat Koordinasi
Humas PKS se-Sumatera Barat melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang berlangsung pada tanggal 4 - 6 November 2022 di Padang, Senin (5/11) ...
Search This Blog
Latest Post
April 03, 2013
Apakah Senyummu Bernilai Sedekah ?
Written By @Adimin on 03 April, 2013 | April 03, 2013
Bersedekah
yang paling murah adalah dengan memberi senyum kepada saudaranya saat
bertemu. Senyum sedekah tentunya berbeda dengan senyum yang bukan
sedekah. Senyum sedekah muncul dari innerbeuty Illahiyah (kebersihan hati), senyum sedekah diberikan untuk semua (rahmatal lil ‘alamin). Tidak di batasi oleh perbedaan pendidikan, jabatan, kecantikan, kekayaan dan status sosial. Senyum sedekah akan menghadirkan ta’liful qulub dan senyum sedekah mempererat persaudaraan(ukhuwah).
Sedangkan
senyum yang bukan sedekah muncul bukan dari ketulusan tapi punya niat
yang lain, tersenyum agar dagangannya laris, tersenyum untuk memberikan
pelayanan yang baik bagi customer agar tidak kecewa (karena sudah
membayar mahal), tersenyum agar dapat pujian dari lawan jenis, tersenyum
agar dibilang ramah. Dan senyum yang bukan sedekah hanya bisa tersenyum
untuk orang-orang tertentu saja.
Misalnya,
dia bisa tersenyum kepada atasannya tidak kepada bawahannya (karena
tidak memberi pengaruh apa-apa), ia hanya mampu tersenyum hanya kepada
yang sama-sama kaya, sama-sama punya jabatan, sama-sama terkenal
sedangkan kepada yang miskin, yang tidak punya jabatan dan yang tidak
berpendidikan senyum itu menjadi mahal dan sulit untuk dilakukan
kalaupun dilakukan bisa jadi setengah hati.
Dan yang saya maksud senyum
yang bukan sedekah bisa jadi ia bisa tersenyum manis saat berdagang,
saat melayanicustomer dan saat meeting dengan atasan,
tetapi kepada anak, suam/istri, pembantu dan sopir yang mestinya yang
pertama mendapatkan senyum sedekah menjadi terabaikan.
Sebaliknya
senyum sedekah karena diawali dengan ketulusan dimanapun dan kapanpun
senyum sedekah mudah terwujud baik saat bekerja melayani customer, saat meeting dengan
atasan atau saat bertemu anak, suami/istri, pembantu dan sopir tak ada
perbedaan.
Tentu yang saya maksud senyum sedekah disini adalah
keberadaan kita dimanapun membuat orang ada di dekat kita merasa
tentram, tenang dan tidak ada jarak walaupun ada perbedaan pendidikan,
usia, popularitas dan status sosial.
Semoga kita bisa merealisaiskan makna ayat “ukuran kemulian pada ketakwaan (bukan keduniaan)” dan juga makna ayat “kita hadir untuk memberi rahmat bukan laknat.”
Oleh : Ustadzah Nurjanah Hulwani
posted by Adimin
Label:
OASE
April 03, 2013
posted by @A.history
Mahyeldi, Penghuni Rusunawa tak Tepat Sasaran
Purus, Padek—Pemko Padang akan
mengevaluasi kembali peruntukan rumah susun sewa (rusunawa) di kawasan Purus.
Evaluasi itu dilakukan karena penghuninya banyak dari masyarakat kelas menengah,
sedangkan masyarakat kurang mampu tidak diakomodir.
“Rusunawa
itu dibangun untuk keluarga kurang mampu agar bisa menempati rumah yang layak.
Dengan harga sewa murah, tentu akan mempermudah masyarakat menempati rumah
yang nyaman,” kata Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, kepada Padang Ekspres,
kemarin.
Mahyeldi
menegaskan bagi keluarga mampu yang menyewa di rusunawa adalah perbuatan salah.
“Keluarga yang merasa mampu, coba sadar diri agar tidak menghuni rumah di rusunawa
tersebut. Ini didbangun untuk saudara-saudara kita yang tidak mampu,” sarannya.
Mahyeldi
juga menyorot penataan kamar di rusunawa Purus. “Saya minta ada batasan dan
pengaturan kamar. Penghuni harus mematuhi norma-norma. Jangan sampai rusunawa
malah jadi tempat asusila. Pengelola harus selektif. Jangan sampai pasangan
yang belum memiliki ikatan atau hubungan bisa tinggal serumah. Sesama penghuni
juga harus saling menghormati dan menjaga kenyamanan,” saran Mahyeldi.
Ketua
Komisi III DPRD Padang, Asrizal meminta Dinas Pekerjaan Umum Kota Padang dan
UPTD Rusunawa mengevaluasi peruntukan rusunawa. Ia menduga peruntukan rusunawa
yang tidak tepat sasaran.
“Peruntukan
rusunawa itu untuk masyarakat sekitar yang berpenghasilan rendah. Tapi kenapa
juga disewakan ke mahasiswa. Jadi saya minta peruntukannya harus dievaluasi
lagi,” ujarnya.
Ketua
Komisi IV, Azwar Siri menyayangkan penempatan rusunawa yang tidak tepat sasaran.
“Saya meminta kepada instansi terkait jeli dan selektif menyewakannya pada
orang yang tepat,” ujarnya.
Parahnya
lagi, jelasnya, kontrakan mahasiswa laki-laki dengan perempuan berdekatan.
“Ini jelas sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan pembangunan rusunawa itu,”
tegas Azwar Siri.
Wakil
Ketua Komisi IV, Muharlion menegaskan, peruntukan rusunawa untuk masyarakat
berpenghasilan rendah, terutama mereka yang tergusur akibat pembangunan
rusunawa dan masyarakat sekitarnya.
“Ini
perlu dilahirkan perdanya. Sehingga pemanfaatannya betul-betul efektif dan
juga ada sanksi yang dibebani kepada pelanggar itu sendiri. Tujuannya untuk
memberikan efek jera kepada mereka yang memanfaatkan rusunawa untuk kepentingan
pribadi,” tegasnya.
Dihuni Mahasiswa
Secara
terpisah, Awi, 28, penghuni Rusunawa mengatakan, selain orang yang sudah
berkeluarga, mahasiswa juga banyak menyewa tempat ini. “Banyak mahasiswa yang
tinggal di sini, laki-laki dan perempuan,” ujar pribumi Purus itu.
Dia
juga mengatakan, untuk pengamanan Satpol PP setiap hari hingga pagi selalu
berjaga-jaga. Namun, penerimaan tamu tidak dibatasi. “Mau tamu cewek, atau
cowok boleh masuk kamar. Tapi, lewat dari pukul 22.00 harus pulang.
Intinya harus tahu aturan juga, kalau tidak pemuda sini juga siap mengusir,”
tuturnya.
Rahmat,
24, mahasiswa yang tinggal di sana turut membenarkan, jika kebanyakan mahasiswa
yang tinggal di rusunawa itu. “Kalau di lantai empat ini rata-rata mahasiswa
yang tinggal,” ujar pemuda asli Jawa yang sudah satu bulan numpang di kamar
temannya itu.
Untuk
pembagian tempat tinggal, dia mengaku tidak ada pengelompokan. “Semuanya sama,
tidak ada gang ini mahasiswa, gang lain orang sudah beekeluarga. Kadang
bersebelahan dengan mahasiswa cewek, atau bertetangga dengan orang
berkeluarga. Pokoknya bebaslah,” ujarnya.
Sebelumnya,
Kepala UPTD Rusunawa Adlinsyah menegaskan, rusunawa bukan untuk masyarakat
miskin, tapi untuk orang berpenghasilan rendah dan warga RT 03 dan 04 yang
rumahnya dibongkar saat pembangunan rusunawa tersebut.
“Jika
sampai saat ini masih ada warga yang rumahnya dibongkar belum memiliki rumah,
mereka tetap diprioritaskan. Tapi jika sudah memiliki rumah, mereka tidak jadi
prioritas lagi,” tegasnya.
Rusunawa
terdiri dari blok A dan B. Setiap gedung terdiri dari 96 kamar. Biaya sewa
kamar di lantai I Rp 290 ribu, lantai II Rp 275 ribu, lantai III Rp 260 ribu
dan lantai empat Rp 245 ribu.
Persyaratannya,
warga Padang yang memiliki KTP Padang, kemudian warga luar Padang yang
bertugas di Padang dan memiliki surat keterangan domisili dari kelurahan
tempat tinggal mereka. Terakhir surat berpenghasilan rendah. (ek/zul/cr4)
*Padang Ekspres
Label:
TOPIK PILIHAN
April 03, 2013
Menarik jika menilik sejarah pemilu Indonesia di era reformasi, diantaranya adalah fakta bahwa dari tiga kali penyelenggaraan pemilu ketiganya selalu melahirkan juara baru, pemenang pemilu 1999 PDIP (33,74%), pemilu 2004 Partai Golkar (21,58%), pemilu 2009 Partai Demokrat (20,85%).
Maka pemilu 2014 sangat menarik untuk ditunggu apakah ia akan melahirkan lagi juara baru, atau untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di era reformasi akan ada partai yang memenangkannya untuk kedua kali atau bahkan Demokrat bisa mengulang kesuksesan menjadi juara bertahan?
Dengan analisa yang sederhana sebenarnya kita bisa melihat kemungkinan mana yang akan terjadi di pemilu 2014. Diantara yang mudah untuk dilihat adalah kemungkinan yang terakhir sepertinya sulit untuk terjadi, dengan seabreg kasus korupsi yang melilit kader-kadernya hingga penetapan Anas Urbaningrum sang ketua umum saat itu sebagai tersangka oleh KPK berlanjut dengan prahara rumah tangga yang seolah mengobrak abrik bangunan Demokrat sebagai partai pemenang, rasanya sulit dibayangkan dengan cara apa demokrat harus mengatrol suara.
Dari ketiga partai yang pernah memenangkan pemilu legislatif di era reformasi, presentase kemenangan partai Demokrat paling sedikit yakni hanya 20,85% dibanding PG 21,58% dan PDIP 33,74%. Kemenangan di 2004 itu pun disinyalir lebih karena pesona Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada tahun 2014 nanti akan berakhir masa jabatannya sebagai presiden RI dan tak mungkin mencalonkan lagi, tragisnya popularitas pemerintahannya memperlihatkan trend menurun akibat beberapa kebijakan yang dianggap kontroversial serta teka-teki Century yang suka tidak suka telah menyerempet penghuni istana, dengan kondisi seperti itu rasanya Demokrat butuh banyak keajaiban untuk kembali menang.
Apakah mungkin diantara PDIP dan PG bisa menjadi pemenang untuk yang kedua kalinya?
Hal itu mungkin terjadi jika dua syarat ini terpenuhi, pertama, jika PDIP dan PG begitu mempesona rakyat Indonesia sehingg berhasil melonjakan suara sedikitnya 7% saja. Dari 14,45% suara di pemilu 2004 PG bisa jadi 21,45% suara di pemilu 2014, dan PDIP dari 14,03% suara pemilu 2009 menjadi 21,03% di pemilu 2014 yang itu berarti sedikit melampaui suara pemenang pemilu 2009 PD (20,85%). Tetapi untuk memenuhi syarat pertama ini saja bukanlah pekerjaan yang mudah mengingat di tiga pemilu era reformasi kedua partai ini malah memperlihatkan trend menurun.
Lihatlah PDIP dari posisi juara pertama di pemilu 1999, periode pemilu berikutnya langsung menurun tajam tinggal 18,53% saja dan di pemilu 2009 hanya tersisa 14,03%. Demikian pula dengan PG di pemilu 1999 dia memperoleh 22,44%, pada pemilu berikutnya tahun 2004 meskipun saat itu dinobatkan sebagai pemenang tetapi sesungguhnya PG mengalami penurunan suara, tinggal 21,58% yang masih memilihnya, dan di pemilu 2009 turun lagi menjadi tinggal 14,45% saja. Sekali lagi jangankan menaikkan 7%, sekedar mempertahankan suara saja, sulitnya luar biasa.
Kedua, PDIP dan PG mungkin saja memenangkan pemilu 2014 jika PD benar-benar dihukum rakyat Indonesia dan suaranya merosot hingga 8% dan begitu buruknya partai-partai lain di luar the big three sehingga tak jua mampu memanfaatkan kekecewaan yang telah nampak di tiga pemilu terhadap tiga partai besar ini sehingga suaranya tak jua melonjak, dan PDIP serta PG cukup mempertahankan suaranya saja.
Lalu bagaimana terhadap kemungkinan munculnya juara baru di 2014?
Dari sederet partai peserta pemilu yang menguntit dibawah the big three, seharusnya pemilu 2014 adalah milik peringkat ke empat yakni PKS, tapi bisakah PKS meraihnya? Mari kita lihat kemungkinannya.
Pertama, dari sisi kemampuan melonjakan suara. Dari semua partai peserta pemilu di era reformasi, hanya ada tiga partai besar yang mampu melonjakkan suara secara luar biasa, yang pertama PDIP dari posisi nothing di pemilu terakhir era orde baru, langsung melejit menjadi pemenang dengan 33,74%, tapi siapapun tahu bahwa kemanangan PDIP ini lebih diakibatkan, “maaf” keajaiban cinderella dengan Megawati Soekarno Putri sebagai Cinderella nya, terbukti di pemilu berikutnya suara PDIP langsung rontok kembali. Partai kedua adalah Partai Demokrat, hanya butuh dua kali pemilu bagi mereka untuk menjadi pemenang, pada awal kesertaannya di pemilu 2004 PD langsung menyedot 10,36% suara pencapaian yang luar biasa untuk partai yang baru pertama kali muncul, dan pada pemilu berikutnya dia berhasil melipatgandakannya menjadi 20, 85% suara.
Partai ketiga yang mampu melakukannya ya PKS, tidak lolos ET di pemilu pertama yang mereka ikuti tahun 1999 saat mereka hanya memperoleh 1,36% suara, PK yang kemudian berubah menjadi PKS langsung mendobrak dengan kenaikan suara 600% menjadi 7,34% Pada pemilu berikutnya di 2004, sayangnya pada pemilu 2009 suara PKS stagnan di 7,88%.
Maka jika melihat histori perolehan suara seperti ini, PKS masihlah menyimpan beberapa misteri yang membuat partai-partai lain tak kan nyenyak tidur bersaing dengan PKS. Benar bahwa pada pemilu ke tiga suara PKS stagnan di 7,88% tetapi siapapun mengetahui bahwa PKS masih menyimpan kekuatan besar yang sulit ditandingi partai manapun, yakni kekuatan pengkaderan yang nyaris tak mampu dilakukan partai manapun. Jika seiring waktu PKS terus menerus mengokohkan pengkaderannya maka infrastruktur partai ini akan semakin lengkap merata, dan jika sudah demikian bisa dipastikan tak ada amunisi politik yang mampu mengalahkan jaringan kader yang tertata dengan baik. Sebagian partai bertumpu pada citra media untuk melonjakan suara, tapi hal tersebut bisa lemah saja jika menemui jaringan kader yang mengakar di masyarakat, demikian pula dengan amunisi money politics atau negatif campaign dan memainkan kecurangan pemilu, diyakini akan terkulai lemah menghadapi jaringan sadar kader PKS.
Faktor kedua, biasanya kemenangan pemilu legislatif selalu berhubungan dengan isu besar tingkat nasional yang mencuri perhatian publik, baik itu berhubungan dengan figur besar atau peristiwa besar, persis seperti yang terjadi pada kemenangan PDIP lewat figur Megawati di pemilu 1999, kemunculan Golkar Barunya Akbar Tanjung dan konvensi capres PG yang mencuri perhatian publik di 2004 dan SBY sang Presiden flamboyan dengan program BLT nya yang semakin dicintai rakyat hingga mengerek Demokrat sebagai pemenang di 2009.
Adakah sesuatu yang menyedot perhatian publik pada PKS menjelang 2014 ini? Saya yakin anda tersenyum seperti saya, drama penangkapan mantan presiden PKS LHI yang super cepat, kemunculan Presiden baru bernama Anis Matta bak Soekarno katanya, dan gencarnya KPK menggali begitu dalam borok PKS dari suap impor sapi-pencucian uang-sampai urusan AD-ART PKS sepertinya menjadi tema yang paling hot untuk seluruh media di Indonesia, dan saya kira semakin seru dramanya, akan semakin menaikan rating PKS di 2014.
Jadi apakah PKS akan memenangkan pemilu legislatif 2014?
#salam 3 BESAR ...
Mungkinkah Giliran PKS?
Menarik jika menilik sejarah pemilu Indonesia di era reformasi, diantaranya adalah fakta bahwa dari tiga kali penyelenggaraan pemilu ketiganya selalu melahirkan juara baru, pemenang pemilu 1999 PDIP (33,74%), pemilu 2004 Partai Golkar (21,58%), pemilu 2009 Partai Demokrat (20,85%).
Maka pemilu 2014 sangat menarik untuk ditunggu apakah ia akan melahirkan lagi juara baru, atau untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di era reformasi akan ada partai yang memenangkannya untuk kedua kali atau bahkan Demokrat bisa mengulang kesuksesan menjadi juara bertahan?
Dengan analisa yang sederhana sebenarnya kita bisa melihat kemungkinan mana yang akan terjadi di pemilu 2014. Diantara yang mudah untuk dilihat adalah kemungkinan yang terakhir sepertinya sulit untuk terjadi, dengan seabreg kasus korupsi yang melilit kader-kadernya hingga penetapan Anas Urbaningrum sang ketua umum saat itu sebagai tersangka oleh KPK berlanjut dengan prahara rumah tangga yang seolah mengobrak abrik bangunan Demokrat sebagai partai pemenang, rasanya sulit dibayangkan dengan cara apa demokrat harus mengatrol suara.
Dari ketiga partai yang pernah memenangkan pemilu legislatif di era reformasi, presentase kemenangan partai Demokrat paling sedikit yakni hanya 20,85% dibanding PG 21,58% dan PDIP 33,74%. Kemenangan di 2004 itu pun disinyalir lebih karena pesona Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada tahun 2014 nanti akan berakhir masa jabatannya sebagai presiden RI dan tak mungkin mencalonkan lagi, tragisnya popularitas pemerintahannya memperlihatkan trend menurun akibat beberapa kebijakan yang dianggap kontroversial serta teka-teki Century yang suka tidak suka telah menyerempet penghuni istana, dengan kondisi seperti itu rasanya Demokrat butuh banyak keajaiban untuk kembali menang.
Apakah mungkin diantara PDIP dan PG bisa menjadi pemenang untuk yang kedua kalinya?
Hal itu mungkin terjadi jika dua syarat ini terpenuhi, pertama, jika PDIP dan PG begitu mempesona rakyat Indonesia sehingg berhasil melonjakan suara sedikitnya 7% saja. Dari 14,45% suara di pemilu 2004 PG bisa jadi 21,45% suara di pemilu 2014, dan PDIP dari 14,03% suara pemilu 2009 menjadi 21,03% di pemilu 2014 yang itu berarti sedikit melampaui suara pemenang pemilu 2009 PD (20,85%). Tetapi untuk memenuhi syarat pertama ini saja bukanlah pekerjaan yang mudah mengingat di tiga pemilu era reformasi kedua partai ini malah memperlihatkan trend menurun.
Lihatlah PDIP dari posisi juara pertama di pemilu 1999, periode pemilu berikutnya langsung menurun tajam tinggal 18,53% saja dan di pemilu 2009 hanya tersisa 14,03%. Demikian pula dengan PG di pemilu 1999 dia memperoleh 22,44%, pada pemilu berikutnya tahun 2004 meskipun saat itu dinobatkan sebagai pemenang tetapi sesungguhnya PG mengalami penurunan suara, tinggal 21,58% yang masih memilihnya, dan di pemilu 2009 turun lagi menjadi tinggal 14,45% saja. Sekali lagi jangankan menaikkan 7%, sekedar mempertahankan suara saja, sulitnya luar biasa.
Kedua, PDIP dan PG mungkin saja memenangkan pemilu 2014 jika PD benar-benar dihukum rakyat Indonesia dan suaranya merosot hingga 8% dan begitu buruknya partai-partai lain di luar the big three sehingga tak jua mampu memanfaatkan kekecewaan yang telah nampak di tiga pemilu terhadap tiga partai besar ini sehingga suaranya tak jua melonjak, dan PDIP serta PG cukup mempertahankan suaranya saja.
Lalu bagaimana terhadap kemungkinan munculnya juara baru di 2014?
Dari sederet partai peserta pemilu yang menguntit dibawah the big three, seharusnya pemilu 2014 adalah milik peringkat ke empat yakni PKS, tapi bisakah PKS meraihnya? Mari kita lihat kemungkinannya.
Pertama, dari sisi kemampuan melonjakan suara. Dari semua partai peserta pemilu di era reformasi, hanya ada tiga partai besar yang mampu melonjakkan suara secara luar biasa, yang pertama PDIP dari posisi nothing di pemilu terakhir era orde baru, langsung melejit menjadi pemenang dengan 33,74%, tapi siapapun tahu bahwa kemanangan PDIP ini lebih diakibatkan, “maaf” keajaiban cinderella dengan Megawati Soekarno Putri sebagai Cinderella nya, terbukti di pemilu berikutnya suara PDIP langsung rontok kembali. Partai kedua adalah Partai Demokrat, hanya butuh dua kali pemilu bagi mereka untuk menjadi pemenang, pada awal kesertaannya di pemilu 2004 PD langsung menyedot 10,36% suara pencapaian yang luar biasa untuk partai yang baru pertama kali muncul, dan pada pemilu berikutnya dia berhasil melipatgandakannya menjadi 20, 85% suara.
Partai ketiga yang mampu melakukannya ya PKS, tidak lolos ET di pemilu pertama yang mereka ikuti tahun 1999 saat mereka hanya memperoleh 1,36% suara, PK yang kemudian berubah menjadi PKS langsung mendobrak dengan kenaikan suara 600% menjadi 7,34% Pada pemilu berikutnya di 2004, sayangnya pada pemilu 2009 suara PKS stagnan di 7,88%.
Maka jika melihat histori perolehan suara seperti ini, PKS masihlah menyimpan beberapa misteri yang membuat partai-partai lain tak kan nyenyak tidur bersaing dengan PKS. Benar bahwa pada pemilu ke tiga suara PKS stagnan di 7,88% tetapi siapapun mengetahui bahwa PKS masih menyimpan kekuatan besar yang sulit ditandingi partai manapun, yakni kekuatan pengkaderan yang nyaris tak mampu dilakukan partai manapun. Jika seiring waktu PKS terus menerus mengokohkan pengkaderannya maka infrastruktur partai ini akan semakin lengkap merata, dan jika sudah demikian bisa dipastikan tak ada amunisi politik yang mampu mengalahkan jaringan kader yang tertata dengan baik. Sebagian partai bertumpu pada citra media untuk melonjakan suara, tapi hal tersebut bisa lemah saja jika menemui jaringan kader yang mengakar di masyarakat, demikian pula dengan amunisi money politics atau negatif campaign dan memainkan kecurangan pemilu, diyakini akan terkulai lemah menghadapi jaringan sadar kader PKS.
Faktor kedua, biasanya kemenangan pemilu legislatif selalu berhubungan dengan isu besar tingkat nasional yang mencuri perhatian publik, baik itu berhubungan dengan figur besar atau peristiwa besar, persis seperti yang terjadi pada kemenangan PDIP lewat figur Megawati di pemilu 1999, kemunculan Golkar Barunya Akbar Tanjung dan konvensi capres PG yang mencuri perhatian publik di 2004 dan SBY sang Presiden flamboyan dengan program BLT nya yang semakin dicintai rakyat hingga mengerek Demokrat sebagai pemenang di 2009.
Adakah sesuatu yang menyedot perhatian publik pada PKS menjelang 2014 ini? Saya yakin anda tersenyum seperti saya, drama penangkapan mantan presiden PKS LHI yang super cepat, kemunculan Presiden baru bernama Anis Matta bak Soekarno katanya, dan gencarnya KPK menggali begitu dalam borok PKS dari suap impor sapi-pencucian uang-sampai urusan AD-ART PKS sepertinya menjadi tema yang paling hot untuk seluruh media di Indonesia, dan saya kira semakin seru dramanya, akan semakin menaikan rating PKS di 2014.
Jadi apakah PKS akan memenangkan pemilu legislatif 2014?
#salam 3 BESAR ...
Oleh : Lutfi Rachman
Aktif di LENGKAP (Lembaga Pengembangan dan Kajian Politik)
Aktif di LENGKAP (Lembaga Pengembangan dan Kajian Politik)
posted by Adimin
Label:
Bingkai Berita,
TOPIK PILIHAN
April 03, 2013
posted by @A.history
Elektabilitas Mahyeldi Masih yang Tertinggi
Padang - Jelang
ditabuhnya tahapan pemilu kepala daerah (pilkada) Padang oleh KPU 2 April,
lembaga survei Institute for Community Studies (InCoSt) merelis hasil survei
terbaru mereka. Dalam survei yang digelar 24-27 Maret 2013, inCoSt mendapatkan
dua kandidat utama, yang akan bersaing dalam pilkada langsung kedua sepanjang
sejarah Kota Padang itu.
Direktur
InCoSt Erizal menyebutkan, dua orang tersebut adalah, tokoh muda perubahan Kota
Padang Andre Rosiade, dan wakil wali Kota Padang yang akan menjadi calon
incumbent pilkada, Mahyeldi Ansharullah. Dua pria beda latar belakang ini,
menempati urutan pertama dan kedua, dengan selisih persentase elektabiltias
(tingkat keterpilihan) sebagai bakal calon wali kota (bacawako) hanya 2,3
persen saja.
”Berdasarkan
hasil survei kami terhadap 29 orang yang disebut akan maju pilkada, menyatakan
diri maju pilkada, dan mendaftar ke partai politik atau perseorangan, terdapat
25 nama yang dipilih responden. Sisanya, 6,3 persen belum menentukan pilihan.
Dua nama teratas adalah, Mahyeldi Ansharullah dengan elektabilitas 25,1 persen,
dan Andre Rosiade 22,8 persen,” kata Erizal dalam keterangan persnya kepada
wartawan, kemarin.
Menurut
pria yang juga telah melakukan survei akurat untuk pemilihan gubernur (pilgub)
dan pemilihan bupati/wali kota 2010 (Pasbar, Pasaman, Dharmasraya dan
Payakumbuh 2012 ini), nama-nama lain yang mengekor, berselisih lebih dari 15
persen dari dua kandidat terkuat. Seperti, anggota DPR RI M Ichlas el Qudsi
(Michel) hanya di angka 7,5 persen, mantan Wakil Wali Kota Padang Yusman Kasim
(6,6 persen), dan Ketua Baznas Padang Maigus Nasir (4,5 persen).
”Sementara
Asnawi Bahar yang sudah mulai bekerja sejak beberapa waktu terakhir telah mulai
merangkak naik di angka 3,2 persen, diikuti dua anggota DPD RI Emma Yohana 2,9
persen dan Afrizal 2,5 persen. Yendril dan Alkudri, berada di 10 besar dengan
persentase elektabilitas di bawah 3 persen (lihat grafis),” kata Erizal yang
juga seorang konsultan politik dan kolumnis media massa ini.
Dia
menyebutkan, mengacu kepada popularitas (tingkat keterkenalan) sebenarnya ada
ketimpangan antara popularitas Mahyeldi yang mencapai 84,8 persen dengan
elektabiltas 22,1 persen. Artinya, banyak responden yang mengaku kenal, tapi
tidak menjatuhkan pilihan kepadanya. Berbeda dengan Andre yang hanya memiliki
popularitas 65,3 persen, tapi elektabiltasnya mencapai 22,8 persen. Sementara,
popularitas ketiga dimiliki Yusman Kasim (51,3 persen), Michel (46,1 persen),
dan Emma Yohana (40,7 persen). Sedangkan Maigus Nasir (28,3 persen), Alkudri
(26,0 persen).
Menurutnya,
survei tersebut menggunakan responden sebanyak 801 orang, dengan margin eror
2,5 persen. Jumlah pemilih, tersebar di 11 kecamatan meliputi 104 kelurahan di
Kota Padang, sesuai dengan persentase kepadatan penduduk. Survei juga dilakukan
berdasarkan pekerjaan responden, yang didominasi oleh ibu rumah tangga 34,0 persen,
wiraswasta/pengusaha (16,5 persen), pegawai swasta (10 persen), pensiunan (6
persen), buruh (5,6 persen), pelajar/mahasiswa (5,1 persen), guru (4,7 persen),
pengangguran (4,2 persen), dan lainnya. Semuanya diambil berdasarkan skala
penduduk Kota Padang dari sisi pekerjaan.
Konsistensi
pemilih dibagi tiga, yaitu 31,1 persen bertahan dengan pilihan (tetap sama),
ada kemungkinan berubah 56,8 persen dan tidak tahu 12,1 persen. ”Dari sisi ini,
Andre Rosiade mengungguli Mahyeldi. Karena, pemilih loyalnya mencapai 41
persen, sementara Mahyeldi hanya 26,4 persen. Ini adalah salah satu alasan,
Andre disebut-sebut bisa melewati Mahyeldi,” katanya.
Perubahan
Alasan
memilih yang ditawarkan surveyor dijawab responden paling banyak karena
berpengalaman 20,0 persen, ingin perubahan (16,6 persen), dekat dengan
masyarakat (15,9 persen), hubungan keluarga/pertemanan (6,4 persen), religius
dan paham adat (5,7 persen). ”Dua kandidat juga mendominasi di pertanyaan ini.
Andre mayoritas dipilih karena perubahan, dan dekat dengan masyarakat.
Sementara Mahyeldi, karena berpengalaman,” sebut Erizal menyebut salah satu
kesimpulan dan rekomendasi surveinya.
Kecenderungan
dua kali survei InCoSt ini, kata Erizal, Mahyeldi dan Andre memiliki tren naik.
Saat melakukan survei 6-13 Januari 2014, kedua kandidat ini berada pada angka
17,5 persen, dan 15,4 persen. Sementara, Michel memiliki kecenderungan
penurunan elektabilitas dari 9,2 persen, menjadi 7,5 persen. Yusman Kasim
disebut stabil, dan Maigus Nasir sedikit naik.
Kesimpulan
Menurur
Erizal, dari dua kali survei InCoSt, sepertinya yang baru telihat bersaing
ketat dan serius dalam pilkada Padang adalah Mahyeldi dengan Andre Rosiade.
Belum tampak kandidat lain yang bersaing, meski telah memasukkan 29 kandidat
yang bakal maju.
Sebagai
incumbent, katanya, Mahyeldi tidak terlalu kuat (2,51 persen), sebaliknya
sebagai pendatang baru dan tokoh muda Andre Rosiade cukup berhasil membangun
popularitas dan elektabilitasnya di Padang. Andre berpeluang mengalahkan
Mahyeldi, meski tidak mudah, karena faktor incumbent. Strategi memilih pasangan
menjadi sangat penting, untuk meningkatkan popularitas-elektabilitas masing-masing,
jika nantinya bertarung.
”Pertarungan
Mahyeldi dan Andre Rosiade sepertinya bertemakan lanjutkan (berpengalaman)
melawan perubahan, atau kemapanan melawan perubahan. Satu hal yang menarik,
tingkat konsistensi pemilih Padang masih relatif rendah (31,1 persen). Artinya,
dinamika politik Pilkada masih tinggi” katanya. Dibandingkan dengan Mahyeldi,
tingkat konsistensi pemilih Andre relatif lebih baik,” sebutnya.
*pkssumbarnews.blogspot.com
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 03, 2013
Gubernur Sumbar Serukan Pilkada Damai
Padang- Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyerukan warga di empat daerah yang sedang
menggelar pilkada, mengedepankan nilai-nilai (demokrasi dan kekeluargaan.
Khusus pada para kandidat Wali Kota/Wakil Walikota, Gubernur mewanti-wanti agar
mengingatkan massa pundukung masing-masing menjaga suasana kondusif.
Para kandidat
kepala daerah dan pendukungnya diserukan menerapkan pilkada badunsanak, Jika
ada dugaan kecuragan, Gubernur mengingatkan jangan sampai bertindak anarkis,
tapi diselesaikan melalui jalur hukum, “Empat daerah yang akan menggelar
pilkada, saya ingatkan jangan sampai kekisruhan pilakada di daerah lain terjadi
pula di sini," ujar Irwan Prayitno, kemarin (2/4).
Gubernur tidak
menafikan maraknya gangguan keamanan di seantero Indonesia, termasuk di Sumbar,
dapat memacu konflik sosial. Perebutan sumber daya alam, sengketa tanah atau
berbagai bentuk perselisihan yang dapat menggunggu keamanan dalam negeri.
“Kondisi kemnunan Sumbar relatif lebih kondusif. Kendati begitu, kewaspdaaan
terhadap ancaman yang dapat mengganggu situasi keamanan patut diwaspadai.
Sekecil apapun permasalahan yang terjadi harus diselesaikan sesegera mungking,”
tegas Irwan Prayitno.
Dia
menjelaskan, Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Ganguan
Keamanan Dalam Negeri, memberikan perintah kepada Gubernur menciptakan
keamanan. Untuk memudahkan koordinasi itu di bentuklah tim terpadu di tingkat
Provinsi, kabupaten/kota di Sumbar.
Inpres ini dapat menjadi panduan kita untuk dapat
memahami dan mengambil langkah-langkah tertentu, terhadap hal-hal yang dapat
mengganggu keamanan seperti teroris, perkelahian antarkampung, perebutan lahan
dan sebagainya. Namun penanganannya tetap berpedoman pada HAM serta aturan
hukum yang ada,” ucapnya.
Meski situasi dan kondisi keamanan di Sumbar kondusif,
Gubernur tidak menampik potensi gangguan keamanan dapat terjadi kapan saja.
Sekecil apa pun potensi itu, tambah Irwan Prayitno, tetap menjadi perhatian,
termasuk masalah BBM. Selain itu, persiapan calon legislatif atau masalah
agama, perlu dijadikan perhatian yang serius,“Itulah peran dari Forkompinda
sesuai tugasan
kewenangan, dalam penanganannya kita bentuk tim,
bagaimana mengambil langkah cepat dan mengurangi jatuh korban serta menangani
secara dini setiap ada peristiwa," tuturnya.
Pengamat politik dari Unand, Asrinaldi menambahkan,
pilkada damai harus tercipta di Sumbar sesuai pencanangan “pilkada badunsanak”.
Komitmen para elite politik yang paling diutamakan dalam mewujudkan pilkada
damai ini. Jika elitenya punya komitmen, saya yakin pendukungnya nurut. Jika
dicurigai ada kecurangan, laporkan ke lembaga berwenang, Mahkamah Konstitusi
(MK),” ujarnya.
Konflik pilkada umumnya akibat ulah elite politik itu
sendiri yang tidak memiliki komitmen. Bahkan, elite politik itu yang
menyebabkan pendukungnya bergejolak hingga membuat kerusuhan," tambahnya.
Untuk itu, dia menyaran-
kan para elite politik intens berkomunikasi dengan
pendukungnya. Jangan sebatas komunikasi ketika pilkada saja tapi melakukan
pendidikan dan pendewasaan politik. Aturanya sudah jelas, kalau tidak bisa
menerima kekalahan karena melihat ada indikasi yang salah, laporkan ke MK,”
ulasnya.
Untuk menjaga komunikasi dan komitmen ini, elite harus
mampu menggandeng tim sukses. Pasalnya, tim sukses bisa dijadikan penghubung
dengan pendukung. “Saya menilai MK merupakan lembaga yang masih bersih dan
keputusanya memang objektif tanpa ada intertensi dari pihak manapun,"
tuturnya. (ayu/ek)
*Padang Ekspres
posted by @A.history
posted by @A.history
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 02, 2013
Dibalik ujian yang diterima ternyata PKS malah mendapat berkah. Secara mengejutkan banyak sekali masyarakat yang mendaftar menjadi kader PKS. Kita bisa ambil contoh ratusan warga Sumatra Utara yang berjumlah sekitar 405 orang berbondong bondong mendaftar menjadi kader PKS. Tidak hanya itu berkah yang diterima PKS, sikap simpati dan pujian pun tidak tanggung tanggung datang dari orang Non Muslim yang mengatakan PKS luar biasa karena memiliki kader kader yang tangguh.
Dalam study ilmu politik yangs saya pelajari, cara melihat sehat, bagus, hebat atau tidak paartai politik bisa dilihat dari beberapa hal. Hal tersebut antara lain:
Struktural Internal partai adalah derajat kesisteman suatu partai. Jika kita lihat PKS, PKS memliki derajat kesisteman partai yang menurut saya baik. Karena PKS berhasil menunjukan bahwa sistem yang dibangun baik sistem pembangunan kader dan partai terealisasi dengan baik. Terbukti sistem PKS tidak goyah walau kasus suap menimpa pentolannya.
posted by @A.history
ANALIS POLITIK: KADER PARTAI TERTANGGUH ADA DI PKS
Written By Unknown on 02 April, 2013 | April 02, 2013
PKS (Partai Keadilan Sejahtera) merupakan partai kader terbesar di Indonesia. Partai ini pun dikatakan partai dakwah karena para kadernya terus berdakwa baik di lingkungan dan parlemen. Dari dakwah yang tidak pernah kenal lelah tersebut akhirnya rakyat Indonesia mulai berfikir untuk mendukung partai dakwah ini. Rakyat mendukung bukan tanpa alasan, mereka mendukung karena PKS selalu dekat dan melayani masyarakat. Di saat bencana menimpa bumi pertiwi seperti banjir, gempa bumi, tsunami, gunung meletus, dan lain lain kader dan simpatisan PKS selalu menjadi garda terdepan, dan hal inilah yang mungkin membuat rakyat mulai simpati dan mendukung partai ini.
Dari dukungan dan sikap simpati yang diberikan rakyat Indonesia kepada PKS, membuat partai dakwah ini merasa yakin bahwa Indonesia bisa ditaklukan oleh dakwah partai ini. Tapi keyakinan partai dakwah tersebut pun seketika meredup sejenak karena nampaknya PKS menerima ujian yang sangat berat. Ujian tersebut adalah penetapan tersangka kasus suap impor daging sapi yang tidak tanggung menyeret nama Presiden PKS. Kejadian tersebut pun membuat kader dan simpattisan bertanya tanya dan galau.
Kasus suap yang menyeret nama Presiden PKS tersebut ternyata menimbulkan pertanyaan besar, apakah kader kader PKS tetap akan solid atau kader kader PKS akan meninggalkan Partai dakwah tersebut? Pertanyaan itu pun dengan cepat direspon oleh pengurus partai dan kader kader PKS yang menyatakan kader PKS tetap solid walau ditimpa bencana seperti ini, karena kekuatan PKS berada di kader bukan di satu orang. Pembenahan pembenahan pun dilakukan di internal PKS. Anis Mata sebagai Presiden baru PKS pun terus menyemakati hati kader kader PKS agar kuat terhadap ujian.
Menurut saya sebagai penulis PKS benar benar bersyukur memiliki kader kader yang solid. Karena kader kader ini mampu mengeluarkan PKS dari lubang yang sangat dalam. Dari fenomana berkah yang diterima PKS tersebut timbul pertanyaan lagi, apakah PKS akan ditinggalkan simpatisannya yang pada pemilu 2009 memilih PKS? Untuk pertanyaan ini saya akan mengajak pembaca menganilisis sedikit apakah dengan berkurangnya simpatan PKS akan membuat PKS hancur di pemilu 2014 ?!
PKS kemungkinan akan ditinggalkan beberapa simpatisannya, tapi menurut saya pribadi itu semua tidak menjadi masalah. Karena PKS juga mendapat tambahan kader yang ingin bergabung bersama PKS. Dari bertambahnya kader kader tersebut PKS akan bisa menambah suara setianyanya dipemilu. Karena dalam konsep kaderisasi partai seorang kader pasti akan mendukung partainya dan tidak akan mendukung partai selain partainya. Sebaliknya simpatisan, simpatisan memang kemungkinan besar akan mendukung partainya dipemilu, tapi mereka bisa dipengaruhi untuk tidak mendukung partainya seperti isu isu politik yang bisa menyebabkan mereka bsia menarik dukungannganya. Jadi menurut saya lebih baik simpatisan berkurang tapi diikuti banyaknya masyarakat yang menjadi kader sebuah partai.
Pertama, Struktural Internal
Kedua, Struktural Eksternal
Jika kita ingin melihat derajat kesisteman partai, kita bisa melihat struktural eksternal partai yang dimana segala kebijakan dan kebputusa partai tidak dipengaruhi oleh luar. PKS telah membuktikan bahwa segala keputusannyadan kebijaknnya berasal dari internal PKS. Majelis Syuro PKS berhasil membangun struktural eksternal yang kuat sehingga PKS di mendapat invansi dari luar dalam mengeluarkan kebijakan atau keputusan. Karena Majelis Syuro lah majelis tertinggi di PKS yang dimana memutuskan segala kebijakan partai
Ketiga, Kultural Eksternal
Kultural Ekstrenal suatu partai adalah nilai nilai ideologi yang dianut oleh suatu aprtai politik. Jika kita lihat fenomena partai politik di Indonesia banyak sekali partai politik yang ideologinya tidak jelas. Hampir semua partai politik di Indonesia ideologinya sama seperti yang lain. Ada aprtai nasionalis yang seperti keislam islaman, dan ada partai Islam yang ingin seperti nasionlis nasionalisan. Tapi berbeda dengan PKS, PKS tetap konskuen dengan ideologi yang dianut yaitu Islam yang tidak ada penambahan dan pengurangan sama sekakali. Khususnya saya sebagai mahasiswa Ilmu Politik melihat hanya ada 2 partai politik di Indonesia yang memiliki ideologi yang jelas yakni PDI dengan Ideologi Nasionalisnya, dan PKS dengan ideologi Islamnya.
Dan yang Keempat, Opini Publik
Opini publik sangant menentukan apakah citra yang didapat suatu partai bisa buruk atau bagus dimata masyarakat. Baru baru ini memang PKS mendapat opini kurang baik dari berbagai kalangan karena kasus suap yang menimpa mantan Presiden partainya. Tapi setelah kasus tersebut seakan PKS bangkit dengan cepat sehingga setiap hari malah mendapat opini bagus dari berbagai kalangan. Masyarakat menilai PKS bagus karena tata cara kelola partainya cukup baik. Dalam jangka waktu kuran dari 24 jam, PKS berhasil memiliki Presiden baru. Pergantian yang sangat cepat ini pun membuat terkejut masyarakat dan menunjukan bahwa PKS adalah partai yang cepat dalam mengatasi masalah. Ditambah lagi banyak sekali masyarakat yang berbondong bondong datang untuk menjadi kader PKS karena mereka menganggap PKS adalah memiliki kaderisasi yang bersih.
Kesimpulan dari analaisis dan opini diatas adalah jika partai bisa memenuhi 4 hal tersebut berarti partai tersebut sehat dan pantas menjadi memimpin bangsa ini. PKS telah membuktikannya dengan konsep kakderisasi yang solid PKS mampu kuat ditengah badai tsunami politik yang menimpanya. dari opini diatas pula bisa dilihat PKS berhasil membangun sebuah derajat kesisteman yang cukup tangguh yang dimana memiliki kader kader yang solid sehingga kader kader tersebut bisa menjalankan mesin partai dengan semestinya.
Pandu Wibowo
*pks-jakarta.or.id
Label:
SEPUTAR PKS
April 02, 2013
posted by Adimin
"Dihina, Difitnah, Dicemooh, Biarkan Saja!!!" | Nasihat Hasan Al Banna
Berbagai organisasi
akan membicarakan kalian. Jika mereka membicarakan kalian dgn baik maka
bersyukurlah kepada Allah dan hendaklah omongan-omongan tersebut jangan
sampai mengaburkan kalian dari kebenaran serta hakikat kalian. Adapun
jika pembicaraan tersebut tidak sesuai dan tidak baik maka minta
maaflah, dan tunggulah hingga zaman membuka hakikat yg sebenarnya.
Janganlah
kalian balas dosa itu dengan dosa yang sama. Sekali-kali janganlah
kalian disibukkan untuk membalas omongan-omongan tersebut, karena hanya
akan menyia-nyiakan kesungguhan kalian. Yakinlah bahwa semua itu tidak
akan membuat kalian gentar dan mundur, juga tidak akan merusak kalian,
jika kalian bersabar dan bertakwa. Yang demikian itu termasuk urusan
yang patut diutamakan.
Kalian
juga akan mendengar berbagai organisasi menuduh kalian berhubungan
dengan organisasi-organisasi yang kalian benci dan musuhi. Tidak usah
diperhatikan semua itu, dan janganlah kalian berusaha untuk menanggapi
atau mengklarifikasinya, karena seorang penuduhlah yang harus
memperlihatkan bukti kebenaran tuduhannya. Dalam hal ini,
permasalahannya tidak keluar dari dua kondisi.
Pertama, jika tuduhan itu benar dan sungguh-sungguh maka mereka akan berusaha membuktikannya. Dan
dalam rangka mencari pembuktian itulah mereka justru akan mengetahui
hakikat dakwah kalian; bahwa kalian hanya berhubungan dengan Allah dan
Rasul-Nya, dan kalian hanya beramal demi Islam serta penganutnya.
Kedua, adapun jika tuduhan itu hanya main-main maka hal itu sedikit pun tidak akan merusak kalian. Biarkanlah mereka dengan tuduhan itu, lalu mohonlah agar Allah memberikan kita semua hidayah dan kemenangan.*
*Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah Mu'tamar As-Sadis
posted by Adimin
April 02, 2013

Ormas Berperan Bantu Program Pemerintah
PADANG
- Wakil Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah, SP membuka kegiatan
pemberdayaan Ormas oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik di Hotel Grand Sari,
Kamis (28/3/2013). Kegiatan pembinaan tersebut diikuti sekitar 125 orang, satu
hari. Peran ormas ini sangat diperlukan pemerintak sebagai perpajnagn tangan
dalam berbagai kegiatan dan informasi pada masyarakat. Namun ada juga ormas
yang disalahgunakan untuk mendukung kegiatan separatis yang mengancam
disintegrasi bangsa. Belum lagi pemanfaatan ormas sebagai sarana legalisasi
gerakan kelompok - kelompok penekan dan gerakan massa yang melanggar hukum.
Keberadaan
organisasi kemasyarakatan (Ormas) seharusnya membantu program pemerintah
dalam pembangunan bangsa dan negara. Jangan sampai menciptakan kekacauan
di tengah masyarakat. Terkada malah ormas dijadikan sarana persemaian
ideologi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila, menjadi alat dalam proses
liberalisasi sistem sosial kemasyarakatan Indonesia, sebut Mahyeldi.
Jadi, terdapat beberapa masalah penyalahgunaan
dan penyimpangan organisasi kemasyarakatan, diantaranya dijadikan sarana tindak
pidana lainnya seperti korupsi, penyelundupan, pemerasan, penipuan, penggelapan
dan lain sebagainya. Malahan ada pula ormas/LSM menjelma menjadi
lembaga nirlaba yang tidak lagi sesuai dengan tujuan dibentuknya,
misalnya bertindak sebagai penegak hukum, premanisme, melakukan penyelidikan di
kantor - kantor instansi pemerintahan, sehingga mengganggu keamanan dan
ketertiban umum, kata Mahyeldi.
Lemahnya manajemen organisasi kemasyarakatan itu,
sehingga akan mudah dirasuki kepentingan tertentu yang tidak relevan dengan
tujuan mulia sebuah Lembaga Sosial Kemasyarakatan. Untuk mengatasi masalah
tersebut, pemerintah telah menyiapkan langkah strategi, menata kehidupan ormas.
Cara memperbaikinya melalui sistem prosedur pendaftaran ormas dengan
Permendagri No 33 tahun 2012 tentang pedoman pendaftaran ormas. Dan
mengembangkan sistem pengawasan, monitoring dan evaluasi terhadap ormas serta
mengevaluasi kinerja ormas serta mengembangkan program kemitraaan
dengan pemerintah, masyarakat dan ormas itu sendiri. (*)
*padang.go.id
posted by @A.history
Label:
TOKOH,
TOPIK PILIHAN
April 02, 2013
posted by @A.history
PKS Siapkan 15.462 Bakal Calon Legislatif
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah menyiapkan 15.462 bakal calon legislatif untuk pusat maupun provinsi dan kabupaten/kota. Sebelum didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), para bakal caleg tersebut akan terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk uji kelayakan.
"Seluruh caleg tersebut saat ini tengah menyiapkan berbagai persyaratan administratif untuk didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) baik tingkat pusat maupun daerah secara serentak pada tanggal 9 April 2103 mendatang," ujar Presiden PKS Anis Matta dalam keterangan pers, Selasa (2/4/2013).
Dalam rapat DPP yang diperluas dengan menyertakan pengurus wilayah dari 33 provinsi, Anis menyatakan seluruh bakal caleg PKS tersebut sebelumnya telah melalui tahapan verifikasi internal partai yang cukup ketat. Dari total jumalh bakal caleg tersebut, sebanyak 476 orang merupakan bakal caleg DPR; 1,816 orang untuk DPRD Provinsi; dan 13,170 untuk Kabupaten/kota.
Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini juga mengatakan caleg PKS merupakan usulan kader dari tingkat bawah yang disertai dengan penilaian atas penguasaan dasar perjuangan partai serta penerimaan bakal caleg tersebut di tengah masyarakat.
"Nantinya melalui KPU kami juga meminta masukan masyarakat atas caleg asal PKS. Inilah saatnya menguji komitmen para caleg terhadap kepentingan rakyat," imbuhnya.
Dalam rapat pleno tersebut, Anis meminta seluruh struktur untuk mendaftarkan bakal caleg ke KPU di hari pertama pendaftaran yaitu tanggal 9 April pekan depan. Secara umum, menurut Anis, PKS tidak menemui kendala dalam memenuhi persyaratan caleg yang ditetapkan KPU.
"Stock kader PKS melimpah ditambah dengan unsur-unsur tokoh yang sejalan dengan garis perjuangan partai, maka kami tidak kesulitan memenuhi jumlah maksimal dengan kualitas caleg yang mumpuni pula," ujar Anis.
Terkait keterwakilan perempuan, Anis menyatakan PKS sudah memenuhi kuota 30% caleg perempuan dan dalam urut zipper seperti arahan KPU.
"Sejak Pemilu 1999, PKS selalu memenuhi kuota perempuan, maka Pemilu 2014 pun tetap terpenuhi kuota tersebut," pungkas Anis.
posted by @A.history
Label:
SEPUTAR PKS,
TOPIK PILIHAN
April 01, 2013
Konsolidasi Pengurus, DPC PKS Padang Selatan Siap Menangkan Dakwah
Written By Unknown on 01 April, 2013 | April 01, 2013
Untuk menjadi pemenang serta mencapai
target menjadi tiga besar pada pemilu 2014 nanti bukanlah hal yang mudah.
Target PKS dari pusat
ini harus ditopang oleh semangat dan kerja keras kader di seluruh pelosok
negeri.
Kader dituntut untuk selalu bekerja,
berbaur serta berkontribusi untuk masyarakat. Sebagai partai dakwah tentu
kontribusi nyata di tengah masyarakatlah yang akan membawa kemenangan PKS dalam
kancah persaingan perpolitikan di tanah air.
Dalam mewujudkan itu semua perlu disusun
rencana strategis agar program yang dijalankan benar-benar dirasakan oleh
masyarakat luas. Selain itu penyerapan aspirasi masyarakat mutlak dilakukan
guna memenuhi kebutuhan masyarakat kepada Partai Dakwah ini.
DPC PKS Padang Selatan dan jajaran DPRa yang merupakan penyokong
gerakan dakwah PKS Kota Padang menggelar acara silaturrahim bersama anggota DPR RI Fraksi PKS,
Ust. Hermanto dan Ketua DPD PKS Padang Ust. Muhidi. Acara ini dilaksanakan
Minggu (31/03) di Kantor DPC PKS Padang Selatan Jl. Pasar Mudik No. 4.
Kegiatan yang digelar setelah Shalat Ashar ini adalah untuk berdiskusi dan menampung
aspirasi dari pengurus DPC dan DPRa se-Padang Selatan.
Dalam sambutannya, Ust.
Hermanto menyampaikan bahwa “kegiatan hari ini adalah untuk mewujudkan program
DPP, pada akhir pekan anggota dewan pusat diminta untuk aktif turun kedaerah
pemilihannya guna menyerap aspirasi dan juga memberikan info-info terbaru
terkait PKS di pusat. Selain itu, agar struktur di daerah, baik di tingkat kecamatan
dan ranting agar tetap solid dan semangat meski dengan berbagai terpaan isu
yang menimpa PKS di pusat sekarang,” imbuhnya.
Setelah penyampaian dari Ust. Hermanto, kemudian dilanjutkan sambutan
oleh ketua DPD PKS Padang, Ust. Muhidi, di hadapan seluruh pengurus DPC dan DPRa
beliau menyampaikan dua point penting. Pertama, tentang
Pemilukada
Bulan Oktober 2013, PKS Padang Insya Allah mengusung kadernya sendiri Ust.
Mahyeldi sebagai calon Walikota Padang. Kedua, untuk
Pemilu 2014 nanti PKS menetapkan target 13 kursi atau 30 persen dari total 45 kursi DPRD
Padang. “Targetan-targetan ini akan tercapai tentunya dengan kerjasama kita bersama,
untuk itu perlu kerja ikhlas dan usaha yang maksimal, selebihnya kita serahkan
kepada Allah SWT”, ujar beliau.
Sambutan yang disampaikan oleh Ust.
Hermanto dan Ust. Muhidi membakar semangat pengurus yang hadir. Acara
konsolidasi dilanjutkan dengan sesi diskusi, dalam sesi ini berbagai pertanyaan
disampaikan pengurus DPC dan DPRa. Salah satu saran dari pengurus DPRa kelurahan Rawang yang
menyampaikan terkait Pemilukada yang berlangsung Oktober nanti, karena
jadwalnya juga dekat dalam bulan ramadhan, maka kegiatan-kegiatan keislaman
yang menghidupkan masjid agar lebih semarak dilakukan.
Selain itu dari DPRa kelurahan Pasar Gadang,
menyampaikan bagaimana agar Ust. Mahyeldi bisa lebih aktif turun di kelurahan
tersebut supaya masyarakat mengenal sosok beliau yang akan maju sebagai calon
Walikota Padang. Acara konsolidasi yang digelar hingga pukul 18.00 WIB
oleh DPC PKS Padang Selatan membawa semangat agar terus bekerja bagi seluruh
pengurus untuk memenangkan pertarungan dakwah.
Insya Allah...
PKS Menang... PKS Menang... PKS Menang...
Tiga Besar.. Tiga Besar... Tiga Besar...
posted by @A.history
Label:
Bingkai Berita,
KIPRAH KAMI,
TOPIK PILIHAN
April 01, 2013
posted by @A.history
Hidayat Nur Wahid: PKS Siap Aturan Baru KPU
TRIKNEWS.com – Inilah aturan baru dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Aturan itu terkait Penerapan KPU tentang keterwakilan perempuan minimal 30 persen di tiap daerah pemilihan (dapil) menuai polemik. Sanksinya pun tak tanggung-tanggung, langsung dibatalkannya parpol di dapil tersebut.
Para tokoh partai ada yang pro kontra soal aturan baru KPU. Tapi bagi PKS, siap jalankan aturan KPU tersebut. Kesiaan PKS ini dilansir Ketua Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid (HNW) di gedung DPR Senayan, Jakarta.
"Secara prinsip kita siap, bahkan tahun lalu dan sejak Pemilu 2004 sampai 2009 kami bisa penuhi 34-35 persen. Bagi kami tak masalah," kata HNW optimis, Senin (1/4).
Bagi Hidayat, aturan KPU tersebut memang rentan gugatan. Pertama, sambung HNW, tidak secara definitif diatur dalam undang-undang, juga belum tentu semua parpol siap memenuhi.
"Sanksi pembatalan di satu dapil itu tidak definitif diatur dalam Undang-undang, dan itu mengugurkan kedaulatan rakyat. Saya khawatir parpol yang tak mampu penuhi syarat itu menggugat KPU, akhirnya KPU tidak konsen," ungkapnya.
Aturan keterwakilan minimal 30 persen perempuan bagi tiap parpol di dapil tertuang dalam Peraturan KPU (PKPU) nomor 7 tahun 2013. Aturan ini menuai polemik soal sanksi yang diberlakukan yaitu parpol tak bisa mengajukan caleg pada dapil yang tak memenuhi syarat tersebut.
Komisi II DPR merekomendasikan agar KPU mengubah aturan yang dinilai tidak secara eksplisit diatur dalam undang-undang nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilu itu. Tampaknya ini pekerjaan rumah para elit partai, agar siap menerima aturan main KPU. (RAM)
posted by @A.history
Label:
SEPUTAR PKS,
TOKOH







